cover
Contact Name
Amalia Setiasari
Contact Email
jkpi.puslitbangkan@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jkpi.puslitbangkan@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Kebijakan Perikanan Indonesia
ISSN : 19796366     EISSN : 25026550     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Indonesian Fisheries Policy Journal present an analysis and synthesis of research results, information and ideas in marine and fisheries policies.
Arjuna Subject : -
Articles 198 Documents
OPTIMALISASI PENGELOLAAN PERIKANAN DI DANAU GEGAS KABUPATEN MUSI RAWAS SUMATERA SELATAN Agus Djoko Utomo; Siti Nurul Aida; Taufiq Hidayah
Jurnal Kebijakan Perikanan Indonesia Vol 12, No 1 (2020): (Mei) 2020
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (331.624 KB) | DOI: 10.15578/jkpi.12.1.2020.1-10

Abstract

Danau Gegas (500 ha) merupakan danau buatan (waduk) dari pembendungan sungai gegas, diresmikan oleh Menteri Pekerjaan Umum pada 1987. Perubahan ekosistem yang mengalir menjadi ekosistem tergenang tentunya akan mempunyai dampak terhadap sumber daya perikanan. Permasalahan utama Danau gegas yaitu yang semula tujuan utama pembuatan danau buatan tersebut untuk keperluan irigasi ternyata tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya, pintu air tidak berfungsi sehingga sirkulasi air tidak berjalan dengan baik menyebabkan kualitas air menjadi jelek. Tujuan penelitian adalah mengoptimalkan peran perikanan di Danau gegas untuk kesejahteraan masyarakat yaitu dengan cara melakukan budidaya ikan yang sesuai dengan daya dukung perairan, penebaran ikan yang sesuai bagi jenis dan jumlah ikan yang ditebar, konservasi sumber daya ikan melalui penetapan suaka perikanan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa daya dukung perairan untuk budidaya ikan pada keramba jaring apung adalah 20 ton/tahun, untuk jaring sekat 40 ton ikan/tahun, untuk penebaran benih ikan sebanyak 142.440 benih, penentuan suaka perikanan yang tepat adalah di inlet Gegas dan beberapa cekungan.Gegas Lake (500 ha) is an artificial lake (reservoir) from damming the gegas river, inaugurated by the Minister of Public Works in 1987. Changes in lotic ecosystems into lentic ecosystems will have an impact on fisheries resources. The main problem with the Gegas Lake is that it cannot function as an irrigation reservoir due to failure of water gate, so that the circulation of water does not work well causing worst water quality. The research objective is to optimize the fisheries function in Gegas Lake for the welfare of the community. For this reason, it is necessary to do fish culture in accordance with the carrying capacity of the waters and fish stocking and conservation through the establishment of fish reserves. The results showed that the carrying capacity of the waters for fish culture in floating cages and set net was 20 tons/year and 40 tons/year respectively. It was also suggested to conduct restocking as much as 120,000 juveniles. In addition, it was found that inlet and several concave areas were as correct places to conduct conservation activity.
ANALISIS TINDAKAN SOSIAL DALAM PEMBANGUNAN SENTRA KELAUTAN DAN PERIKANAN TERPADU DI SABANG Armen Zulham; Rani Hafsaridewi; Freshty Yulia Arthatani; Mira Mira
Jurnal Kebijakan Perikanan Indonesia Vol 11, No 2 (2019): (November) 2019
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (241.074 KB) | DOI: 10.15578/jkpi.11.2.2019.113-123

Abstract

Tindakan sosial adalah perilaku pelaku usaha perikanan terhadap pelaku lain dengan tujuan dan motivasi tertentu. Permasalahannya, tindakan sosial pelaku usaha pada kawasan Sentra Kelautan dan Perikanan Terpadu (SKPT) Sabang tidak responsif mendukung beroperasinya SKPT Sabang. Tujuan tulisan ini mempelajari karakteristik aspek sosial budaya masyarakat perikanan Sabang serta tindakan sosial yang terkait dengan hal itu agar SKPT Sabang dapat berfungsi. Data dan informasi diperoleh dari Focus Group Discussion (FGD). Observasi langsung (aktuelles verstehen), dan pemahaman motif tindakan (eklarendes verstehen) digunakan sebagai teknik untuk mendalami infomasi hasil FGD tersebut. Pengumpulan data dilakukan pada Oktober 2018. Hasil penelitian ini menunjukkan: tindakan sosial tradisional mendominasi keputusan pelaku usaha dalam penangkapan ikan. Pelaku usaha perikanan tersebut harus taat hukum adat laot yang dipantau Panglima Laot; tindakan sosial rasional instrumental mendominasi tindakan pelaku usaha pada kegiatan penanganan hasil tangkapan serta distribusi dan pemasaran ikan. Motif tindakan sosial yang terakhir ini mempengaruhi pelaku usaha lain, agar pasokan ikan dapat diperoleh atau mengoptimalkan manfaat karena tindakan pelaku usaha lain. Tulisan ini merekomendasikan agar di SKPT Sabang dilakukan perubahan sosial melalui transformasi 30% - 40% dari 684 unit armada perikanan <3 GT menjadi armada >10 GT. Transformasi ini akan mendorong tindakan sosial pada trip penangkapan ikan, peningkatan permintaan tenaga kerja trampil (pawang) dan penggunaan teknologi dalam penanganan serta pemasaran/distribusi ikan.Social action is defined as the action among business actors for specific purposes or motives. The problem of social action in the SKPT (integrated marine and fisheries center) Sabang is that the business actors in fisheries are not responsive to support the operationalization of SKPT Sabang. The purpose of this paper is to learn the characteristics of business actors on socio-cultural aspects and social action to support the daily operation of SKPT Sabang. Data and information were collected from the Focus Group Discussion (FGD). Direct observation (aktuelles verstehen) and Empathetic Understanding (eklarendes verstehen) were used as techniques to collect advanced information. Data were collected in October 2018. The research findings are: traditional social actions dominate fishing actors’ activities. The business actors remain to obey on the local traditional rule (adat laot rule) observed by Panglima Laot; instrumental rational social actions are always carried out by business actors on the post-harvest fishing activities as well as distribution and fish marketing. The last social action motives are to influence others to provide fish and to reach optimal benefit due to other business actor action. This paper recommends preparing the social change through transformation 30% - 40% of < 3 GT fishing vessel to > 10 GT in Sabang. It will then change the duration of fishing activity, increase demand for skilled labor (pawang), and the application of technology in post-harvest as well as marketing/fish distribution.
STATUS STOK UDANG JERBUNG (PENAEUS MERGUIENSIS) DI PERAIRAN BENGKALIS DAN SEKITARNYA SERTA KEMUNGKINAN PENGELOLAANNYA SECARA BERKELANJUTAN Ali Suman; Duranta D Kembaren; Andina Ramadhani Putri Pane; Muhammad Taufik
Jurnal Kebijakan Perikanan Indonesia Vol 12, No 1 (2020): (Mei) 2020
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (192.279 KB) | DOI: 10.15578/jkpi.12.1.2020.11-22

Abstract

Pemanfatatan sumber daya udang jerbung (Penaeus merguiensis) di perairan Bengkalis dan sekitarnya sudah berlangsung cukup lama dan dilakukan sangat intensif. Untuk menjaga kelestariannya, dibutuhkan opsi pengelolaan agar sumber daya ini dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji status stok dan kemungkinan pengelolaan udang jerbung di perairan Bengkalis dan sekitarnya. Penelitian dilakukan pada periode survei 2013-2017 dengan metode survei dan diperkaya dengan sintesis hasil-hasil penelitian di perairan Bengkalis. Hasil analisis menunjukkan bahwa struktur ukuran udang berkisar antara 12-58 mm dengan perbadingan kelamin didominasi udang betina, sementara pola pertumbuhannya bersifat allometrik negatif. Ukuran udang jerbung yang tertangkap pada umumnya belum memijah. Laju pertumbuhan (K) udang jerbung sebagai 1,0/tahun dengan panjang karapas maksimum (L) 58,1 mm. Laju kematian total (Z) dan laju kematian alamiah (M) masing-masing 5,43/tahun dan 1,51/tahun. Laju kematian karena penangkapan (F) sebagai 3,92/tahun dan laju pengusahaan (E) sekitar 0,72/tahun, sementara spawning potential ratio (SPR) adalah 8%. Dengan demikian status stok udang jerbung sudah berada pada penangkapan berlebih (overfishing). Untuk menjamin kelestariannya, maka perlu dilakukan opsi-opsi pengelolaan meliputi penutupan daerah/musim penangkapan pada bulan April, melakukan pengurangan upaya penangkapan sekitar 44% dari kondisi saat ini dan penetapan ukuran udang jerbung terkecil yang boleh ditangkap yaitu pada ukuran panjang karapas 29,8 mm.The exploitation level of banana prawn (Penaeus merguiensis) resources in Bengkalis and surrounding waters has been done very intensive for a long time and until now. To preserve the banana prawn resources, it needs management options to sustain the use of these resources. The aim of this study was to identify the stock status and management of banana prawn in Bengkalis and surrounding waters. The research was conducted during 2013 to 2017 using survey methods and supplemented by the synthesis of investigation results from Bengkalis waters. Results show that the prawn’s size structure ranged between 12-58 mm, the sex ratio was dominated by female and the growth pattern was negative allometric. Most of the prawn were caught in immature condition. The growth rate (K) was 1.0/year with maximum carapace length (L) of 58.1 mm. Total mortality (Z) and natural mortality (M) was 5.43/year and 1.51/year respectively. The fishing mortality (F) was at 3.92/year and exploitation level (E) was around 0.72/year, while the spawning potential ratio (SPR) was 8%. Hence the banana prawn stock in Bengkalis and surrounding waters is in overfishing condition. Management options are proposed in order to keep the sustainability of the resources, such as : closed area/season in April, reducing effort to 44% from current condition, and legal size catch limitation at 29,8 mm.
DAMPAK PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN NOMOR 74 TAHUN 2016 TERHADAP IMPOR PRODUK PERIKANAN (Studi Kasus Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya) Eka Aprianti; Yaser Krisnafi; Arpan Nasri Siregar
Jurnal Kebijakan Perikanan Indonesia Vol 12, No 2 (2020): (November) 2020
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jkpi.12.2.2020.109-122

Abstract

Seiring dengan meningkatnya permintaan akan produk perikanan  membuat produsen dalam negeri harus memiliki stok ikan secara kontinyu, Keterbatasan stok ikan dalam negeri membuat produsen mengambil tindakan untuk mengimpor bahan baku dari luar indonesia. Meningkatnya permintaan produk perikanan menyebbkan pemerintah menetapkan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 74 Tahun 2016 untuk menjaga produk perikanan yang masuk di Indonesia aman terbebas dari hama dan penyakit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran pelaksanaan dan dampak Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 74 Tahun 2016 Tentang Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan yang masuk ke dalam wilayah negara Republik Indonesia. Analisis dampak regulasi menggunakan metode RIA (Regulatory Impact Assessment), yang terdiri dari 7 tahapan. Permasalahan yang terjadi dilapangan diduga terkait dengan keluarnya Permen-Dag No.66 Tahun 2018 pada saat masih berjalannya Permen-Kp No.74 Tahun 2016 sehingga menyebabkan ketidakjelasan kewenangan ranah kerja, mengingat beberapa konten dari regulasi tersebut diatur secara bersamaan. Dari hasil pengamatan terhadap 7 tahapan RIA diperoleh opsi untuk mengatasi permasalahan yang ada yaitu: 1). do-nothing/pemerintah tetap menjalankan regulasi yang ada; dan 2). Merevisi Permen-KP No.74 Tahun 2016. Alternatif rekomendasi opsi terbaik adalah opsi ke 2 yaitu merevisi Permen-KP No.74 Tahun 2016 agar dapat berjalan bersama dengan regulasi yang lainnya. Rekomendasi opsi kedua berasal dari hasil pertimbangan rasio positif dan negatif dengan menggunakan metode soft cost benefit analysis.Along with the increasing demand for fish products, thus making domestic manufacturers must have a continuous fish stock, limited fish stocks in the country making manufacturers take measure to import raw materials from abroad. Growing demand for fishery products, so that the Government issued Minister of Marine Affairs and Fisheries Product Regulation Number 74 of 2016 to keep the fisheries products in Indonesia safe free from pests and diseases. This research aims to determine the overview of the implementation and the impact of Minister of Marine Affairs and Fisheries Product Regulation Number 74 of 2016 regarding quality control and safety of fishery products imported into the territory of the Republic of Indonesia. Analyse the impact of a regulation using the RIA (Regulatory Impact Assessment) method consisting of 7 stages. Problem that occur in the field allegedly related to the issuance of Trade Minister Regulation Number 66 Of 2018 while still in the course of Minister Of Marine Affairs And Fisheries Product Regulation Number 74 Of 2016 causing the obscurity of the working realm, considering that some of the regulatory content is governed simultaneously. From the observation of the 7 stages of RIA obtained the option to overcome the problem that is: 1). Do nothing/the government continues to carry out existing regulation; and 2). Government revised the Minister of Marine Affairs and Fisheries Product Regulation Number 74 of 2016. Alternative recommendation option is the 2nd option to revise the Minister of Marine Affairs and Fisheries Product Regulation Number 74 Of 2016 that it can run along with other regulations. The second option recommendation comes from the positive and negative ratio consideration using the soft cost benefit analysis method.
ANALISIS JAMINAN MUTU DAN KEAMANAN PANGAN SEPANJANG RANTAI PASOK UDANG BUDIDAYA Rizki Dewi Kristikareni; Abdul Rokhman; Achmad Poernomo
Jurnal Kebijakan Perikanan Indonesia Vol 12, No 1 (2020): (Mei) 2020
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jkpi.12.1.2020.23-33

Abstract

 Udang merupakan komoditas unggulan ekspor Indonesia yang memerlukan bahan baku yang berkualitas dan aman. Untuk mendapatkan bahan baku udang yang sesuai, seluruh anggota rantai pasok harus menerapkan persyaratan jaminan mutu dan keamanan hasil perikanan sesuai Kepmen KP Nomor: 52A/KEPMEN-KP/2013. Tujuan penelitian ini adalah mengevaluasi penerapan persyaratan jaminan mutu dan keamanan hasil perikanan sepanjang rantai pasok bahan baku udang untuk unit pengolahan ikan (UPI) di Jakarta Utara. Dua UPI telah dipilih menjadi responden untuk dirunut ke hulu mengenai pemenuhan persyaratan dimaksud. Pengumpulan data dilakukan melalui survei, observasi dan wawancara kepada UPI, pengumpul/pemasok, pembudidaya dan pembenih. Analisis kesenjangan dan uji korelasi berganda digunakan untuk menilai kesesuaian penerapan persyaratan jaminan mutu dan keamanan hasil perikanan. Hasil identifikasi menunjukkan masih terdapat kesenjangan penerapan yang dilakukan oleh pembudidaya dan pengumpul/pemasok dengan standar yang ada. Tingkat kesesuaian pada pembudidaya 58% (kurang sesuai) dan pemasok 48% (tidak sesuai). Apresiasi UPI terhadap mutu dan keamanan hasil perikanan masih belum memadai, diduga karena permintaan di pasar global sangat tinggi sedangkan pasokannya tidak sesuai. Penerbitan sertifikat yang terpisah-pisah di antara rantai pasok diduga menjadi salah satu penyebab. Diperlukan perubahan strategi kebijakan dalam pelaksanaan sistem sertifikasi udang budidaya untuk ekspor yang terintegrasi dalam satu sertifikat.Shrimp is Indonesia's leading export commodity that requires quality and safe raw materials. To get appropriate shrimp raw materials, all members of the supply chain must apply the quality assurance and safety requirements of fishery products in accordance with Ministerial Decree KP Number: 52A/KEPMEN-KP/2013. This study aimed to evaluate the implementation of quality assurance and safety requirements for fishery products along the supply chain of cultured shrimp raw material suppliers for fish processing units (UPI) in North Jakarta. Two UPIs have been selected as respondents whose suppliers were evaluated regarding the fulfillment of the specified requirements. Data collection was carried out through surveys, observations, and interviews with UPI, collectors/suppliers, farmers, and breeders. Gap analysis and multiple correlation tests were used to assess the appropriateness of the implementation of quality assurance and fishery product safety requirements. The results show that gaps existed between the implementation of the requirement by farmers and suppliers compared with existing standards. The implementation level for farmers is 58% (less according) and the supplier 48% (not according). It was observed that UPI's appreciation of the quality and safety of fishery products was inadequate, allegedly because demand in the global market is very high while the supply does not meet the demand. Issuance of separate quality and safety certificates along the supply chain are believed to be one of the causes. There is a need to change the policy strategy in implementing the shrimp culture certification system for export which can be integrated into one certificate.
UPAYA PENCEGAHAN DAN PENANGGULANGAN KEMATIAN MASSAL IKAN DI DANAU DAN WADUK Priyo Suharsono Sulaiman; Puput Fitri Rachmawati; Reny Puspasari; Ngurah Nyoman Wiadnyana
Jurnal Kebijakan Perikanan Indonesia Vol 12, No 2 (2020): (November) 2020
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jkpi.12.2.2020.59-73

Abstract

Degradasi kualitas perairan di danau dan waduk semakin meningkat menyebabkan terjadinya kasus kematian ikan secara massal. Untuk itu dilakukan kajian yang bertujuan untuk merumuskan upaya pencegahan dan penanganan kematian massal ikan di danau dan waduk, terutama bagi ikan-ikan budidaya, melalui telaah dan analisis berbagai literatur. Hasil kajian menunjukkan bahwa kasus kematian massal ikan dapat disebabkan oleh berbagai faktor, diantaranya: i) perairan kekurangan oksigen; ii) ikan mengalami keracunan akibat gas-gas beracun; iii) serangan penyakit pada ikan; iv) kelebihan daya dukung perairan; v) perubahan suhu perairan; serta vi) lokasi keramba jaring apung (KJA) berada di perairan waduk yang dangkal. Untuk meminimalkan kasus kematian massal ikan, upaya pencegahannya antara lain: (a) memahami penyebab kematian ikan; (b) fokus pada pencegahan; (c) perhatikan sanitasi ikan yang dibudidayakan; (d) pengecekan rutin kesehatan ikan; (e) memahami jenis parasit/pathogen, dan perlunya diagnosa dan perlakukan terhadap penyakit ikan yang diketahui; (f) pengurangan kepadatan ikan budidaya; (g) pemberian pakan ikan tidak berlebihan untuk meminimalkan buangan limbah organik ke perairan; (h) pemasangan sistem aerasi darurat; dan (i) pemindahan unit KJA ke perairan yang lebih dalam. Langkah-langkah penanganan jika terjadi kematian massal ikan diuraikan dalam tulisan ini. Diperlukan kolaborasi diantara pemangku kepentingan dalam upaya penanganan kematian ikan untuk mencegah terjadinya dampak yang lebih buruk pada ikan yang belum mengalami kematian massal.Water quality degradation which caused mass fish mortality has increased in lakes and reservoirs. This study aimed to provide information on efforts of prevention and to handle the fish mass mortality through reviewing and analyzing various literatures. Results showed that the mass mortality of fish was caused by several factors, including: i) oxygen-deficient waters; ii) fish poisoning due to toxic gases; iii) disease attack on fish; iv) excess waters carrying capacity; v) water temperature changes; and vi) the location of floating net cages (KJA) in shallow waters reservoir. To minimize the fish mass mortality, preventive measures that can be taken include: (a) understanding the causes of fish mass mortality; (b) focus on prevention; (c) paying attention on sanitation of cultivated fish; (d) routine checks on the fish health; (e) understanding the types of parasites or pathogens and the need for diagnosis and treatment of the typed fish diseases; (f) reduction in the abundance of cultivated fish; (g) reduction in fish feeding for minimizingorganic waste disposal; (h) installation of emergency aeration systems; and (i) transferring the cages net to other deeper water areas. Furthermore, handling efforts in the event of a mass mortality occurrence of fish are described in this paper. Collaboration and coordination among stakeholders are needed in efforts to deal with the mass mortality of fish in lakes and reservoirs, to prevent a worse impact for fish which are still alive in cages net.
STATUS PEMANFAATAN DAN UPAYA PENANGANAN HIU PAUS (Rhincodon typus) TERDAMPAR DI PERAIRAN INDONESIA Budi Nugraha; Dharmadi Dharmadi; Ngurah N. Wiadnyana
Jurnal Kebijakan Perikanan Indonesia Vol 12, No 1 (2020): (Mei) 2020
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jkpi.12.1.2020.47-57

Abstract

Hiu paus merupakan salah satu jenis hiu berukuran terbesar yang ada di dunia dan sudah masuk dalam daftar merah (Red List) untuk spesies terancam IUCN yaitu berstatus terancam punah (endangered). Untuk menjaga agar sumber daya hiu paus tetap terjamin populasinya, maka perlu adanya upaya pengelolaan untuk mendukung pelestarian spesies ini. Dalam makalah ini dibahas tentang strategi pemanfaatan dan penanganan hiu paus yang terdampar di perairan Indonesia. Metode penelitian yang digunakan adalah survei lapang dan wawancara yang dilakukan di Probolinggo dan Situbondo, Jawa Timur. Data dan informasi dihimpun dari penelusuran, dan penelahaan data dan informasi hasil penelitian serta laporan kegiatan yang terkait dengan hiu paus terdampar maupun keberadaannya di beberapa wilayah perairan di Indonesia. Hasil kajian menunjukkan bahwa terdapat enam wilayah perairan kemunculan hiu paus di Indonesia, baik yang menetap maupun yang tinggal sementara yaitu di perairan Teluk Cendrawasih, Talisayan, Kaimana, Teluk Gorontalo, Probolinggo, dan Banggai Kepulauan. Jumlah hiu paus yang berada di perairan Indonesia dan tersebar di beberapa wilayah perairan diperkirakan mencapai 253 ekor. dan teramati terbanyak berada di perairan Teluk Cendrawasih sebanyak 131 ekor. Kemunculan hiu paus maupun yang terdampar hampir terjadi setiap tahun dalam kondisi hidup terkadang keadaan mati. Koordinasi antara instansi terkait dan masyarakat dalam menangani dan menyelamatkan hiu paus yang terdampar maupun terjerat jaring saat ini sudah berjalan dengan baik. Terdapat 7 tahapan tata cara penanganan hiu paus terdampar dan ada 4 tahapan dalam rangka menunjang ekowisata hiu paus.Whale shark is one of the largest sharks in the world and on the red list IUCN for endangered species. To ensure that the population of whale sharks remains guaranteed, management efforts are needed to support the conservation of this species. The utilization and handling strategy of the whale sharks that stranded down in several Indonesian waters should be discussed seriously. Field survey method was applied and interview was done in Probolinggo and Situbondo, East Java. Data and information were collected and had been analyzed as well as activities reported that related to whale sharks stranded and their presence in several territorial waters Indonesia waters. The results of the study showed that there were six Indonesia waters area in which whale sharks appeared, both permanent and temporary, namely in Cendrawasih Bay, Talisayan, Kaimana, Gorontalo, Probolinggo, and Banggai Islands. The whale shark number that found in several Indonesian waters had been estimated about 253  individuals and the highest number was found 131 in Cendrawasih Bay. The appearances of whale shark and stranded in Indonesian waters has been almost every year and found in living or in such cases been in dead conditions that trapped in the shallow area. Coordination between related agencies and the community to carry out and rescuing whale sharks stranded or entangled in nets, has been in good progress. There were 7 stages of procedures for handling stranded whale sharks and 4 stages in order to support the ecotourism activities that related with appearances of whale sharks.
STATUS PERIKANAN BELIDA (CHITALA LOPIS) DI PROPINSI RIAU DAN STRATEGI PENGELOLAANNYA SECARA BERKELANJUTAN Estu Nugroho; Raden Roro Sri Pudji Sinarni Dewi; Aisyah Aisyah; Bambang Priono
Jurnal Kebijakan Perikanan Indonesia Vol 12, No 2 (2020): (November) 2020
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jkpi.12.2.2020.87-99

Abstract

Berbagai ancaman terhadap populasi belida di alam, seperti rendahnya nilai indikator ketersediaan induk di alam (15%), tingkat pemanfaatan yang tinggi, dan beberapa aturan perlindungan sebagai bukti adanya kekhawatiran kepunahan belida, menunjukkan perlunya upaya pelestarian tertentu menuju pengelolaan belida yang berkelanjutan. Kajian bertujuan untuk memformulasikan upaya menjaga keberlanjutan populasi belida di alam dan mendukung upaya peningkatan produksi, dengan melihat kondisi terkini perikanan belida baik dari aktifitas penangkapan maupun budidaya. Analisis sederhana dilakukan terhadap produksi dan hasil tangkapan belida di wilayah Propinsi Riau serta perkembangan kegiatan budidaya. Hasil menunjukan bahwa terdapat beberapa hal positif yang mendukung pemanfaatan belida sebagai komoditi budidaya. Dari sisi penangkapan, kontribusi belida terhadap total produksi perikanan perairan darat baik secara lokal (Riau) maupun nasional adalah relatif kecil, namun sampai dengan saat ini kebutuhan pasar dan industri lokal Riau hingga luar Riau masih bisa dipenuhi. Di samping itu, terdapat mekanisme pasar yang memberlakukan harga tinggi pada ukuran besar serta keberadaan lubuk larangan sebagai daerah yang dilindungi. Hal positif lainnya adalah latar belakang genetik yang memungkinkan pemanfaatan benih dan indukan dari lokasi Kampar dan Palembang untuk keperluan pemulihan di alam. Serta telah dikuasainya teknologi pemijahan belida dalam lingkungan terkontrol di luar habitat alaminya. Di sisi lain masih terdapat kondisi yang tidak mendukung keberlanjutan sumber daya ikan belida antara lain kondisi alami habitatnya yang sudah mengalami degradasi. Degradasi yang lebih nyata terlihat diduga lebih cepat berdampak jika dibandingkan dengan upaya pemulihannya. Budidaya diyakini mampu menjembatani percepatan pemulihan tersebut guna meningkatkan produksi ikan belida dalam hal ini.Various threats occurred to clown knifefish (belida) populations in wild nature, such as the low value of indicators for the availability of broodstock in nature (15%), high utilization rates, and several protection regulations as evidence of clown knifefish extinction concerns, indicate the need for certain conservation efforts towards sustainable clown knifefish management. The study aims to formulate efforts to maintain the sustainability of clown knifefish populations to population also the needs in increasing production, by looking at the current conditions of clown knifefish fisheries both from fishing and aquaculture activities. A simple analysis was carried out on the production and catch of clown knifefish in Riau Province as well as aquaculture. The results show that there are several positive things that support the use of clown knifefish as an aquaculture commodity. In terms of fishing, the contribution of clown knifefish to total inland fishery production both locally (Riau) and nationally is small relatively, however until now the market and industrial needs of local Riau to outside Riau can still be met. In addition, there is a market mechanism that imposes a high price on large sizes as well as the existence of ‘lubuk larangan’ as a protected area. Other positive is the genetic background that allows the use of seeds and broodstock from Kampar and Palembang locations for recovery purposes in nature. Also technological developments of spawning in a controlled environment outside their natural habitat. On the other hand, there is unsupported condition to the sustainability of clown knifefish resources, including the degradation of habitat. The more obvious degradation is seen having a faster impact than the recovery effort. Aquaculture is believed to be able to bridge the acceleration of the recovery in order to increase the production of clown knifefish in this case.
KAJIAN TINGKAT EFEKTIFITAS PERIKANAN UNTUK PENGEMBANGAN SECARA BERKELANJUTAN DI PROVINSI BANTEN Yonvitner Yonvitner; Mennofatria Boer; Rahmat Kurnia
Jurnal Kebijakan Perikanan Indonesia Vol 12, No 1 (2020): (Mei) 2020
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jkpi.12.1.2020.35-46

Abstract

Efektifitas pengelolaan perikanan harus mempertimbangkan pola produksi dan produktivitas usaha penangkapan. Untuk itu penilaian terhadap efektivitas alat perlu dilakukan untuk menjamin keberlanjutan pengelolaan perikanan. Penelitian ini dilakukan di Provinsi Banten pada tahun 2018 dengan menggunakan data tahun 2003-2017. Analisis efektivitas penangkapan dengan mengunakan matrik analisis antara produksi dan produktivitas. Dan juga didukung dengan analisis statistik deskriptif terhadap sebaran hasil tangkapan. Hasil penelitian untuk kategori alat tangkap yang lebih efektif adalah Payang, Pukat Cincin, Jaring Insang, dan Bagan Perahu. Payang memiliki tingkat produksi 280.560 kg per tahun dan produktivitas 31.612 ton per tahun, Pukat Cincin memiliki produksi sebesar 517,341 ton per tahun dan produktivitas 44.986 per tahun, dan Jaring Insang pada tingkat produksi sebesar 1074.311 ton per tahun dan produktivitas 9.231 ton per tahun. Alat tangkap yang termasuk kategori tidak efektif adalah Sero, Jaring Udang, Rawai Hanyut dan Perangkap. Program rekonstruksi alat tangkap penting untuk mengurangi kapasitas penangkapan ikan dan meningkatkan ekonomi. Dalam hal ini, penelitian ini belum melibatkan skala ekonomi nelayan dalam aktivitas operasi sehari-hari.The effectiveness of fisheries management must consider the pattern of production and productivity of fishing businesses. For this reason, an assessment of the effectiveness of the tools needs to be carried out to ensure the sustainability of fisheries management. This research was conducted in Banten Province in 2018 using data from 2003-2017. Fishing effectiveness analysis using a matrix analysis between production and productivity. And also supported by using statistical analysis of the average value and distribution of catches. The results of the research for the more effective categories of fishing gear were Payang, Pure Seine, Gillnet Drift, and Boat Liftnet. Payang has a production rate of 280,560 kg per year and productivity of 31,612 tons per year, Purse seine has a production of 517,341 tons per year and productivity of 44,986 per year, and Gillnet Drift at a production rate of 1074,311 tons per year and productivity of 9,231 tons per year. The fishing gear included in the ineffective category is Sero, Shrimp net, Drifting Rawai and traps. The reconstruction program is important to reduce fishing capacity and improve the economic community. In this case, this study has not involved the economies of scale of fishermen in daily operations.
PENGEMBANGAN PERIKANAN PERKOTAAN BERBASIS PARIWISATA: MINA WISATA TIDAR DUDAN Kurnia Hardjanto
Jurnal Kebijakan Perikanan Indonesia Vol 12, No 2 (2020): (November) 2020
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jkpi.12.2.2020.75-85

Abstract

Pengembangan sektor perikanan dapat diintegrasikan dengan sektor pariwisata (mina wisata), dengan ragam kegiatan wisata di dalamnya. Mina Wisata merupakan aktifitas wisata yang berbasis pada kegiatan perikanan, seperti penangkapan, budidaya, pengolahan dan pemasaran. Tidar Dudan merupakan salah satu wilayah di Kota Magelang dengan keberadaan potensi perikanan yang dapat diintegrasikan dengan pariwisata dan menjadi tujuan (destinasi) Mina Wisata. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil kegiatan mina wisata yang dapat dimunculkan di Tidar Dudan beserta pengembangan produknya. Selain itu, dapat dirumuskan strategi pengembangan mina wisata di Tidar Dudan. Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif, dengan strategi pengembangan dianalisis menggunakan matriks SWOT. Data diperoleh melalui observasi, wawancara, dan diskusi terarah dengan responden penelitian. Hasil penelitian menunjukkan Mina Wisata di Tidar Dudan menjadi paket wisata minat khusus dengan daya tarik utama berupa outbond bertema perikanan, didukung keberadaan kompleks kolam budidaya dan alam perairan sungai yang ada. Produk mina wisata dapat dikembangkan dalam paket wisata Agro Education dan Susur Kampung Wisata. Strategi pengembangan mina wisata di Tidar Dudan antara lain dengan pengembangan paket mina wisata berbasis tematik dan lintas wilayah, pembenahan kelengkapan fasilitas dan aksesibilitas, pemasaran dan promosi produk mina wisata yang atraktif dan efektif, peningkatan investasi serta penguatan kapasitas pengelola wisata dan kelembagaan yang ada. The development of the fisheries sector can be integrated with the fisheries tourism sector (mina wisata), with a variety of tourism activities in it. Mina Wisata is a tourism activity based on fishery activities, like catching, aquaculturing, processing and marketing. Tidar Dudan is one of the areas in Magelang with the existence of fishery potential which can be integrated with tourism and to become the destination of fisheries tourism. This study aimed to determine the profile of tourism activities that can be raised in Tidar Dudan and its product development. In addition, this can be formulated a tourism development strategy in Tidar Dudan. The research was conducted using a qualitative descriptive method with the development strategy analyzed using the SWOT matrix. The data were obtained through observation, interviews and focused discussions group with respondents. The results show that Mina Wisata in Tidar Dudan became a special interest tour package, with the main atraction in the form of outbound tourism with the theme of fisheries, supported by the existence of fish farming complex and existing rivers. Mina Wisata product can be developed in Agro Education and village exploration tour. The strategy for developing mina wisata in Tidar Dudan includes a development of thematic and cross-regional based tourism packages, improving facilities and accessibility, marketing and promoting attractive and effective tourism products, increasing investment and strengthening the capacity of tourism managers and existing institutions.