cover
Contact Name
Amalia Setiasari
Contact Email
jkpi.puslitbangkan@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jkpi.puslitbangkan@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Kebijakan Perikanan Indonesia
ISSN : 19796366     EISSN : 25026550     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Indonesian Fisheries Policy Journal present an analysis and synthesis of research results, information and ideas in marine and fisheries policies.
Arjuna Subject : -
Articles 198 Documents
PENGEMBANGAN BUDIDAYA KEPITING BAKAU (Scylla sp) SISTEM SILVOFISHERY UNTUK MELESTARIKAN HUTAN BAKAU DI KABUPATEN KEPULAUAN MERANTI PROVINSI RIAU Budijono Parni; Eko Prianto; Muhammad Hasbi; Andri Hendrizal
Jurnal Kebijakan Perikanan Indonesia Vol 12, No 2 (2020): (November) 2020
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jkpi.12.2.2020.101-108

Abstract

Hutan mangrove merupakan salah satu ekosistem pesisir yang berperan penting dalam mendukung kehidupan biota laut. Keberadaan hutan mangrove di Kabupaten Kepulauan Meranti saat ini terus mengalami degradasi yang berimplikasi terhadap menurunnya fungsi ekologis, sosial dan ekonomi masyarakat lokal. Upaya meminimalisir kerusakan hutan mangrove terus dilakukan oleh pemerintah daerah dan masyarakat lokal hingga saat ini. Salah satu upaya yang dapat dilakukan melalui budidaya kepiting bakau dengan sistem sylvofishery. Metode penelitian yang digunakan adalah eksperimen dan wawancara yang dilakukan di Kelurahan Teluk Belitung dan Desa Bandul Kabupaten Meranti. Data dan informasi dihimpun dari penelusuran, dan penelahaan data dan informasi hasil penelitian serta laporan kegiatan yang terkait dengan budidaya kepiting bakau dengan sistem silvofishery. Hasil kajian menunjukkan potensi pengembangan budidaya laut di Kabupaten Kepulauan Meranti tersebar di beberapa pulau seperti Pulau Padang, Tebing Tinggi dan Pulau Rangsang dengan luas lahan sebesar 438 ha. Luasnya lokasi budidaya didukung pula dengan kualitas perairan yang cukup bagus dan cocok untuk dikembangkan budidaya kepiting dengan sistem sylvofishery. Ujicoba penerapan sylvofishery kepiting bakau model kurungan tancap diperoleh tingkat survival rate mencapai 70 % dan pertumbuhan rata-rata berkisar 100 – 140 g per bulan. Pemeliharaan kepiting bakau dengan sistem sylvofishery selama 3 bulan dapat memberikan keuntungan dan tambahan penghasilan per bulan sebesar Rp. 1.070.150. Dalam satu siklus pembesaran jika kondisi normal dapat mengembalikan investasinya sehingga sylvofishery kepiting bakau layak dijadi usaha alternatif bagi masyarakat pesisir.Mangrove forest is one of the coastal ecosystems were plays a role in supporting marine life. Existence of mangrove forests in the Meranti Kepulauan district is experiencing degradation which has implications for the decline to ecological, social and economic functions of the local community. The efforts for minimize damage of mangrove forests have been carried out by local governments and local communities. One of the effort could be done through the cultivation of mud crabs with sylvofishery system. Experiment method was applied and interview was done in Teluk Belitung and Bandul villages, Meranti Regency. Data and information were collected and had been analyzed and activities reported that related to mud crab culture using the silvofishery system. The resut of the study showed that potential development of marine culture in the Kepulauan Meranti district is spread across several islands such as Padang Island, Tebing Tinggi and Pulau Rangsang with an area of 438 ha. The extent of the aquaculture site is also supported by good waters quality and suitable for developing mud crab culture with the sylvofishery system. The trial application of the mud crab silvofishery model of fixed confinement obtained a survival rate of up to 70% and an average growth of around 100-140 g per month. Maintenance of mangrove crabs with the sylvofishery system for 3 months can provide benefits and additional income per month of IDR. 1,070,150. In one cycle of enlargement if normal conditions, it’s can return the investment so the mangrove crab sylvofishery deserves to be an alternative effort for coastal communities.
SISTEM PENGETAHUAN DAN KEARIFAN LOKAL “DABOM” DI KAMPUNG MURIS, DISTRIK DEMTA KABUPATEN JAYAPURA PAPUA Yunus Pajanjan Paulangan; Barnabas Barapadang; Muh. Arsyad Al. Amin
Jurnal Kebijakan Perikanan Indonesia Vol 13, No 1 (2021): (Mei) 2021
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jkpi.13.1.2021.1-8

Abstract

Kearifan lokal merupakan pengetahuan yang mengandung nilai-nilai luhur dan dipedomani, diterapkan dan ditaati oleh masyarakat secara turun-temurun dan telah terbukti berhasil dalam pengelolaan sumber daya pesisir dan laut, sehingga masih sangat relevan digali dan diadopsi dalam sistem pengelolaan modern yang seringkali tidak dapat menjawab tujuan dari pengelolaan tersebut. Tujuan penelitian ini adalah untuk menggali sistem kearifan lokal di Kampung Muris Besar, guna mendukung pengelolaan sumber daya pesisir dan laut berkelanjutan sebagai model pengelolaan. Penelitian ini menggunakan tiga metode pendekatan, yakni studi literatur, survei, dan wawancara mendalam. Berdasarkan hasil penelitian, didapatkan bahwa sistem kearifan lokal Dabom memiliki nilai-nilai yang sangat tinggi terkait dengan pengelolaan sumber daya pesisir dan laut, yang masih dipegang teguh oleh masyarakat Kampung Muris Besar. Oleh karena itu, praktik Dabom tidak hanya menjadi model pengelolaan di kampung Muris guna mempertahankan sumber daya pesisir dan laut yang ada, tetapi juga telah menjaga eksistensi masyarakat Kampung Muris Besar sebagai Masyarakat Adat dalam mengelola sendiri sumber daya yang dimilikinya.Local wisdom is knowledge that contains noble values and is guided, applied and adhered to by the community from generation to generation and has been proven to be successful in managing coastal and marine resources so that it is still very relevant to be explored and adopted in modern management systems. The purpose of this study is to explore the local wisdom system in Muris Besar Village in order to support sustainable coastal and marine resource management as a management model. This research uses three approach methods, namely literature study, survey, and in-depth interviews. Results indicated that the Dabom local wisdom system had very high values related to the management of coastal and marine resources which the people of Muris Besar Village still adhere to. Therefore, the practice of Dabom has not only become a management model in Kampung Muris Besar to maintain existing coastal and marine resources, but has also maintained the existence of the people of Kampung Muris Besar as Indigenous Peoples in managing their own resources.
ANALISIS KESESUAIAN KAWASAN EKOWISATA BAHARI DI TANJUNG WAEROLE DAN NUSATELU Achmad Jais Elly; Alex SW Retraubun; Dicky Sahetapy; Renold Papilaya
Jurnal Kebijakan Perikanan Indonesia Vol 13, No 1 (2021): (Mei) 2021
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jkpi.13.1.2021.17-30

Abstract

Dalam perumusan penentuan kawasan ekowisata bahari perlu digunakan analisis kesesuaian secara spasial khususnya parameter-parameter hidrooseanografi atau ekologi (parameter biologi dan fisik) dalam penentuan lokasi kawasan wisata. Tanjung Waerole dan Nusatelu memiliki potensi pariwisata yang ditetapkan melalui RZWP3K dan telah dimanfaatkan sehingga diperlukan pengelolannya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis kesesuaian Tanjung Waerole dan Nusatelu sebagai kawasan ekowisata bahari dilihat dari aspek ekologi di . Data dikumpulkan melalui proses pengamatan, pengukuran serta foto dan sensus bawah air. Analisis data menggunakan indeks kesesuaian wisata yang dianalisis secara spasial dengan menggunakan perangkat lunak Quantum GIS. Hasil Analisis yang dihasilkan menunjukkan bahwa kawasan Tanjung Waerole dan Nusatelu sangat sesuai untuk dimanfaatkan sebagai kawasan ekowisata bahari, diantaranya wisata pantai dengan potensi ekologis sebesar 968,05 m, kategori wisata snorkeling dengan potensi ekologis sebesar 0,07 Ha, kategori wisata diving/selam dengan potensi ekologis sebesar 0,14 Ha, kategori wisata pancing pantai dengan potensi ekologis sebesar 0,69 Ha, dan kategori wisata pancing perairan dengan potensi ekologis sebesar 34,97 Ha.In determining the marine ecotourism area, it is necessarily to use suitability analysis in spatial using hydroseanography parameter or ecology (biological and physical parameter) in determining the location of tourism area. Tanjung Waerole and Nusatelu have tourism potential which is determined through the RZWP3K and has been utilized so that management is needed. This research aimed to analyze the suitability of ecological side in Tanjung Waerole and Nusatelu as the areas of marine ecotourism. The data were collected through observation process, measurement, and underwater photography and census. The data analysis used tourism suitability index analyzed by spatial of Quantum GIS software. The result of analysis revealed that the areas of Tanjung Waerole and Nusatelu that suitable to be utilized as the marine ecotourism area are beach tourism with ecological potency around 968.05 m, snorkeling tour category with ecological potency 0.07 Ha, diving category with ecological potency 0.14 Ha, beach fishing with ecological potency 0.69 Ha, and water fishing with ecological potency 34, 97 Ha.
“PANGLIMA DANAU” SEBAGAI MODEL PENGELOLAAN SUMBERDAYA PERIKANAN BERKELANJUTAN BERBASIS KEARIFAN LOKAL DI DANAU ANEUK LAOT Rudy Masuswo Purwoko; Husnah Husnah; Aisyah Aisyah; Setiya Tri Haryuni; Kamaluddin Kasim; Eko Prianto
Jurnal Kebijakan Perikanan Indonesia Vol 13, No 1 (2021): (Mei) 2021
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jkpi.13.1.2021.%p

Abstract

Perikanan di perairan daratan bersifat open access di mana setiap orang atau kelompok nelayan memanfaatkan sumberdaya ikan untuk memaksimalkan manfaat ekonomi, namun mengabaikan manfaat ekologi dan sosial. Pemanfaatan perikanan yang demikian dapat memperburuk stok sumberdaya ikan, menjadi tidak berkelanjutan dalam jangka panjang. Pemanfaatan perikanan di Danau Aneuk Laot bersifat rentan sehingga diperlukan model pengelolaan perikanan yang tepat. Kearifan lokal seperti “Panglima Danau” merupakan salah satu model pengelolaan perikanan berbasis komunitas yang dapat digunakan untuk mengatur upaya penangkapan ikan di Danau Aneuk Laot. Penulisan ini bertujuan untuk mengetahui peran Panglima Danau sebagai instrumen pengelolaan sumberdaya perikanan perairan daratan berbasis kearifan lokal di Danau Aneuk Laot Kota Sabang. Berdasarkan hasil wawancara dan literature review, kearifan lokal “Panglima Danau” yang berbasis komunitas menunjukkan performa yang baik menjaga keberlanjutan sumberdaya ikan nila di Danau Aneuk Laot dan mampu meningkatkan pendapatan nelayan lokal. Danau Aneuk Laot memiliki keanekaragaman jenis ikan yang rendah, dan didominasi spesies introduksi. Potensi tangkapan diperkirakan 315 kg/ha/tahun, dengan potensi hasil tangkapan maksimum lestari 33.49 ton/tahun. Upaya pemulihan stok ikan di Aneuk Laot dilakukan oleh nelayan dan pemerintah melalui kegiatan restocking secara regular. Kearifan lokal “Panglima Danau” dinilai berhasil karena dilengkapi dengan aturan pengelolaan yang cukup jelas dalam hal kapan dan bagaimana cara yang baik menangkap ikan, serta adanya denda yang diberikan kepada nelayan yang melanggar kesepakatan bersama. The inland fishery generally practices open access where an individual or a fisher group may extract the resources to maximize the economic rent but disobeying the ecological and social benefits. Extracting the Nile tilapia resources that exceed its Maximum Sustainable Yield may increase the fishers’ income in the short run, but it could also exacerbate those resources; end up in unsustainable stock in the long run. Since Aneuk Laot fishery is vulnerable, its management approach should consider a proper management model. The local wisdom “Panglima Danau” is a well-known local management approach that regulates fishing efforts with community right-based model. This research evaluates the role of the “Panglima Danau” local wisdom by collecting the related information through questionnaires interviews and reviewing the related previous studies and research projects. The results show that Panglima Danau performs well in maintaining the fish stock sustainability while leveraging the local income. We found that Aneuk Laot Lake has low fish species diversity, but abundance in introduced fishes. The potential catch is about 315 kg/ha/year, with a sustainable catch potential is about 33.49 tons/year. The government and fishers restored the fish stock in Lake Aneuk Laot by conducting regular fish stocking. It is concluded that this local wisdom seems to be useful since it is community-based fishery management approached, equipped with clear guidance on when and how to fish and the penalties that might be imposed on the fishers who break the responsibility. 
EFISIENSI PERIKANAN PANCING ULUR TUNA-SKALA KECIL DI GUGUS PULAU 7 MALUKU Ilham Tauda; Johanis Hiariey; Yoisye Lopulalan; Dionisius Bawole
Jurnal Kebijakan Perikanan Indonesia Vol 13, No 1 (2021): (Mei) 2021
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jkpi.13.1.2021.%p

Abstract

Tuna merupakan salah satu komoditas unggulan sektor perikanan di Provinsi Maluku. Produksi tuna Maluku sebagian besar dikontribusi oleh nelayan tuna pancing ulur skala kecil yang tersebar pada beberapa wilayah di Maluku termasuk di Gugus Pulau 7 yang meliputi Pulau Ambon dan Pulau Lease sebagai fokus lokasi kajian. Salah satu masalah yang dihadapi nelayan tuna skala kecil yakni belum efisien dalam penggunaan variabel input seperti investasi, biaya total (biaya tetap dan biaya variabel) serta jam kerja untuk mendapatkan output baik produksi maupun pendapatan. Hasil analisis DEA dengan pendekatan model Variabel Return to Scale (VRS) terdapat 3 desa sebagai Decision Making Unit (DMU) menunjukkan score efisiensi teknis 100% yaitu di Desa Asilulu, Latuhalat dan Noloth sedangkan 2 desa yaitu Tial dan Laha dengan efisiensi dibawah 100%. Hasil yang sama juga dengan analisis DEA terhadap 75 usaha nelayan sebagai DMU diperoleh hasil unit usaha 1-15 (Desa Asilulu), 46-65 (Latuhalat) dan 66-75 (Noloth) score efisiensi 100%, sedangkan unit usaha 16-30 Desa Tial dan unit usaha 31-45 (Desa Laha) tingkat efisien dibawah 100%.Tuna is one of the leading commodities in the fisheries sector in Maluku, most of which is contributed by small-scale handline tuna fishermen. These fishermen are scattered in several areas in Maluku, including the 7 Island Cluster (Ambon Island and Lease Island) as the focus of the study location. Some problems in fishermen of small-scale tuna fisheries are inefficient in using input variables such as investment, fixed costs, variable costs, and working hours to get production and income as output. The results of DEA analysis using Variable Return to Scale (VRS) model there are three villages as DMU show a technical efficiency score of 100% Asilulu, Latuhalat, and Noloth. While two villages of Tial and Laha with an efficiency level of below 100%. At the same time, a DEA analysis was carried out on 75 fishermen as DMU. The results show that fishermen business units 1 - 15 (Asilulu Village), 46-65 (Latulahat Village), and 66-75 (Noloth Village) were the most efficient compared to 16-30 fishermen business units (Tial Village) and 31-45 (Laha Village) which have an efficiency level of below 100%.
PENGELOLAAN UDANG MANTIS (Harpiosquilla raphidea) DI PERAIRAN TANJUNG JABUNG BARAT DAN SEKITARNYA, JAMBI Ali Suman; Pratiwi Lestari; Adrian Damora
Jurnal Kebijakan Perikanan Indonesia Vol 13, No 1 (2021): (Mei) 2021
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jkpi.13.1.2021.43-58

Abstract

Pemanfaatan sumber daya udang mantis (Harpiosquilla raphidea) di perairan Tanjung Jabung Barat dan sekitarnya sudah berlangsung cukup lama dan dilakukan sangat intensif. Dalam kaitan kelestariannya, dibutuhkan opsi pengelolaan agar sumber daya ini dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji status stok dan kemungkinan opsi pengelolaan udang mantis di perairan Tanjung Jabung Barat dan sekitarnya. Penelitian dilakukan pada periode survei tahaun 2015-2019 dengan metode survey dan diperkaya dengan sintesis hasil-hasil penelitian di perairan Tanjung Jabung Barat. Hasil analisis menunjukkan bahwa alat tangkap udang mantis yang utama adalah jaring insang hanyut dan mini trawl dengan struktur udang berkisar antara 14-30 mm dengan perbadingan kelamin seimbang antara jantan dan betina, sementara pola pertumbuhannya bersifat allometrik negatif. Ukuran udang mantis yang tertangkap pada umumnya belum memijah. Laju pertumbuhan (K) udang mantis sebagai 1,53nm/tahun dengan panjang total maksimum (Loo) 34,1 cm. Laju kematian total (Z) dan laju kematian alamiah (M) masing-masing 11,27/tahun dan 2,16/tahun. Laju kematian karena penangkapan (F) sebagai 9,11/tahun dan laju pengusahaan (E) sekitar 0,81/tahun, sementara analisis usaha menunjukkan pendapatan bersih alat tangkap udang mantis adalah Rp 125.193.000/tahun untuk alat tangkap jaring insang hanyut dan Rp 260.316.000/tahun untuk alat tangkap mini trawl Status stok udang mantis sudah berada pada penangkapan berlebih (overfishing). Untuk menjamin kelestariannya, maka perlu dirumuskan opsi-opsi pengelolaan meliputi penutupan daerah/musim penangkapan pada bulan Mei, penetapan ukuran udang mantis terkecil yang boleh ditangkap yaitu pada ukuran panjang total 22,0 cm dan melakukan pengurangan upaya penangkapan sekitar 62 % dari kondisi tahun 2019. Keseluruhan opsi kebijakan ini harus ditunjang dengan peningkatan pemantauan, pengawasan dan penegakan hukum.The exploitation level of mantis shrimp (Harpiosquilla raphidea) resources in West Tanjung Jabung and surrounding waters is very intensive and has been going on for a long time. Management options are needed to preserve and sustain the mantis shrimp resources. The aim of this study was to identify the stock status and management of mantis shrimp in West Tanjung Jabung and surrounding waters. The research was conducted from 2015 to 2019 using survey methods and supplemented by the synthesis of investigation results from West Tanjung Jabung waters. Results showed that the mainly fishing gear of mantis shrimp in West Tanjung Jabung and surrounding waters was gillnet monofilament and mini trawl,meanwhile the shrimp’s size structure ranged between 14,0-30 cm, the sex ratio was balanced between male and female and the growth pattern was negative allometric. Most of the mantis shrimp were caught in immature condition. The growth rate (K) was 1.53/year with maximum carapace length (L∞) of 34.1 cm (in total length0. Total mortality (Z) and natural mortality (M) werewere 11.27/year and 2.16/year respectively. The fishing mortality (F) was at 9.11/year and exploitation level (E) was around 0.81/year, while the financial analyses shows net income was Rp125,.193,.000.-IDR/year for gillnet monofilament gear and.260,316,000.IDR/year for mini trawl gear. Hence the mantis shrimp stock in West Tanjung Jabung and surrounding waters is in overfishing condition. Managements options proposed in order to keep sustainability of the resources are applied closed season in May, legal size catch limitation at 22,0 cm (in total length) and reducing of catch effort to 62%  in 2019. All of these policy options must be supported by conducting continues monitoring, supervision and law enforcement activities.
DISEMINASI PROGRAM PEMBERDAYAAN INOVASI PENGOLAHAN IKAN DAN DAYA TAWAR PEREMPUAN PESISIR DI KABUPATEN BATUBARA Anita Syafitri; Muhadjir Darwin; Umi Listyaningsih
Jurnal Kebijakan Perikanan Indonesia Vol 13, No 2 (2021): (November) 2021
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jkpi.13.2.2021.%p

Abstract

Persoalan kemiskinan dan ketidakberdayaan menjadi gambaran umum masyarakat pesisir, terlebih yang terjadi pada perempuan pesisir. Isu rendahnya daya tawar pada perempuan pesisir hampir dirasakan di seluruh wilayah pesisir di Indonesia, dimana salah satunya di Kabupaten Batubara. Maka dari itu Dinas Perikanan Kabupaten Batubara membuat program pemberdayaan perempuan melalui pelatihan pengolahan ikan dan hasil laut yang inovatif. Penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana diseminasi program pemberdayaan tersebut dilaksanakan, serta melihat apakah terjadi perubahan kondisi daya tawar perempuan setelah pelaksanaan program. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan studi kasus. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan observasi serta wawancara mendalam. Hasilnya menunjukkan bahwa program pemberdayaan ini belum berhasil mengubah kondisi daya tawar perempuan pesisir. Perubahan yang terjadi hanya pada peningkatan keterampilan dan menambah pilihan pekerjaan saja, sedangkan perempuan belum mampu berdaya mandiri secara ekonomi. Perubahan yang belum begitu terlihat diakibatkan dari struktur agensi dan struktur kesempatan yang belum memihak mereka. Terlebih perempuan harus memainkan tiga peran sekaligus yaitu peran reproduktif, produktif, dan komunitas yang membuat mereka tidak memiliki waktu yang cukup untuk mengikuti arahan dari Dinas Perikanan agar mendirikan usaha sesuai yang telah dilatih. Akibatnya mereka kembali lagi memilih bekerja sebagai penyisik ikan karena pengerjaannya tidak memakan waktu seharian dan setelah selesai langsung memperoleh uang di hari yang sama.The problems of poverty and powerlessness have become a general description of coastal communities, especially those of coastal women. The issue of low bargaining power among coastal women is almost felt in all coastal areas in Indonesia, one of which is in Batubara District. Therefore, the fisheries Service makes a woman empowerment program through innovative fish processing training. This study aims to see how empowerment programs are disseminated through training based on fish and marine product innovation-based processing, as well as to see whether there has been a change in women’s bargaining power after program implementation. This research uses a qualitative approach with case studies. The data collection technique was carried out by observation and in-depth interviews. The results show that this empowerment program has not been very successful in changing the conditions of the bargaining power of coastal women. Changes that occur are only increasing skills and increasing job options, while women are not able to be economically independent, and women’s awareness has not changed. Unseen changes also result from agency structures and opportunity structures that have not taken their side. Moreover, women must play three roles at once, namely a reproductive role, a productive role, and a community role that makes them not have enough time to follow directions from the Batubara Regency Fisheries Service to set up a business according to what has been trained. As a result, they returned to choosing to work as fish scrapers because it did not take all day and after they were finished they immediately earned money on the same day.
KAJIAN DAN IMPLIKASI KEBIJAKAN PENGELOLAAN BUDIDAYA IKAN SIDAT (Anguilla bicolor) Lies Emmawati Hadhie; Endhay Kusnendar; Kusdiarti Kusdiarti
Jurnal Kebijakan Perikanan Indonesia Vol 13, No 2 (2021): (November) 2021
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jkpi.13.2.2021.71-84

Abstract

Komoditas ikan sidat memiliki keunggulan kompetitif yang berpeluang besar dalam berkompetisi di pasar internasional. Namun permasalahan yang krusial mendominasi upaya pengembangan teknologi budidaya sidat. Keterbatasan data dan informasi terkait dengan ketersediaan glass eel di alam, teknologi pendederan I untuk menghasilkan elver merupakan masalah krusial yang belum dapat diatasi. Selain hal itu kualitas ikan sidat hasil budidaya sebagian besar belum memenuhi standar kualitas yang dikehendaki konsumen. Perdagangan glass eel ikan sidat secara ilegal untuk di ekspor juga mempercepat tekurasnya sumberdayanya dialam. Regulasi tingkat internasional, nasional dan kabupaten sehubungan dengan pengelolaan dan pemanfaatan sidat telah di formalkan secara jelas. Namun implementasi regulasi dari Pemerintah Pusat maupun Daerah masih belum optimal. Hasil analisis SWOT menunjukkan beberapa strategi yang dapat di kombinasikan dalam pengelolaan budidaya ikan sidat. Opsi rekomendasi kebijakan jangka pendek yang dikemukakan dari hasil kajian yaitu: 1). Peningkatan efisiensi teknologi budidaya ikan sidat perlu di optimalkan melalui riset terintegrasi; 2). Urgensi inovasi teknologi reproduksi ikan sidat mendesak untuk segera dimulai oleh Lembaga Riset Nasional; 3). Pola kemitraan inti-plasma antara perusahaan swasta dan pembudidaya skala kecil perlu di fasilitasi; 4). Keunggulan kompetitif ikan sidat dalam bentuk beku yang dapat di tingkatkan sebagai komoditas ekspor andalan. The eel commodities have a competitive advantage that is a great opportunity to compete internationally. However, the crucial problems dominate the development efforts of eel culture technology. Limitation data and information related to the availability of glass eel in nature, the technology of the first nursery to produce elver is a crucial problem that can not be overcome. Besides, the quality of the eel cultivation result does not meet with standard consumers. Trading glass eel illegally for export also accelerate the drain of natural resources. International, national, and county-level regulation in connection with the management and utilization of the eel has been formalized. But the regulatory implementation of both central and regional government is still not optimal. The SWOT analysis result showed some strategies that can be combined to manage eel culture. The short-term policy recommendation option suggested from the study this result is : 1). The improvement of efficiency of eel culture technologies needs to be optimized through integrated research; 2). The urgency of innovation of eel reproductive technology is important to start immediately by the National Research Institute; 3). The pattern of a core partnership between private companies and small-scale cultivator needs to be facilitated; 4). The competitive advantage of eel in frozen form can be improved as a mainstay export commodity.
EVALUASI AWAL PENGGUNAAN E-LOG BOOK SEBAGAI DATA DASAR PENGELOLAAN PERIKANAN TUNA YANG BERKELANJUTAN Bram Setyadji; Sri Patmiarsih; Syahril Abd.Raup
Jurnal Kebijakan Perikanan Indonesia Vol 13, No 2 (2021): (November) 2021
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jkpi.13.2.2021.%p

Abstract

Log book penangkapan ikan merupakan salah satu elemen penting dalam usaha pengelolaan perikanan, namun terdapat permasalahan dalam pelaksanaannya, antara lain rendahnya kesadaran pelaku usaha/nelayan, formulir berbahan dasar kertas, sehingga mudah rusak, adanya potensi bias/kesalahan input data serta jeda waktu dari data dipindahkan dari bahan cetak ke format elektronik. Hal ini mendorong Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap melakukan pengembangan internal sejak 2018 berupa aplikasi e-log book berbasis android yang dapat diisi secara daring maupun luring, dan terkoneksi langsung ke Sistem Informasi Log Book Penangkapan Ikan (SILOPI). Studi ini terbatas pada evaluasi awal penggunaan aplikasi pada armada rawai tuna yang berbasis di Pelabuhan Benoa, Bali periode 2018-2019, dengan tujuan utama memberikan gambaran mengenai kelayakannya sebagai data dasar pengelolaan perikanan yang berkelanjutan Hasil kajian menunjukkan bahwa frekuensi pelaporan meningkat hampir dua kali lipat sejak implementasi tahun 2018. Tingkat adopsi oleh armada rawai tuna meningkat pesat pada tahun kedua, di mana lebih dari dua pertiga armada rawai tuna yang melaporkan LBPI telah menggunakan format elektronik. Beberapa parameter spasio-temporal menunjukkan bahwa data e-log book sangat potensial untuk digunakan sebagai data utama, selain data tambahan dari institusi riset maupun direktorat teknis lainnya.
STRATEGI PENINGKATAN NILAI TUKAR NELAYAN TRADISIONAL DI KABUPATEN SAMBAS Aditya Nugraha; Bambang Kurniadi; Nia Permatasari
Jurnal Kebijakan Perikanan Indonesia Vol 13, No 2 (2021): (November) 2021
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jkpi.13.2.2021.%p

Abstract

The Indonesian government has committed to supporting the Sustainable Development Goals. One indicator is poverty reduction. In 2020, the agricultural sector was the primary source of income for 46.3% of poor households in Indonesia, and the 16.2 million fishermen are below the poverty line. West Kalimantan Province is the province with the highest number of fishers on the island of Kalimantan. The welfare of fishers does not follow the significant fishery potential in West Kalimantan Province. Sambas Regency is the second Regency in West Kalimantan Province which has the most considerable number of capture fisheries production and the most significant number of fishers. The fisherman's exchange rate concept compares the value of fisherman's output against the goods and services needed for fishing business purposes and the consumption fisherman households. One way to provide optimal benefits to capture fisheries business is to manage risk. The purpose of this study is to identify the welfare of traditional fishing fishers based on the fisherman's exchange rate and the risks that affect the fishermen's capture fisheries business and formulate strategies to increase the fisherman's exchange rate. The research was design using qualitative and quantitative approaches. As many as 54% of respondents have a fisherman's exchange rate of 0 1. Risks with a high category are damage to fishing gear, unpredictable weather, and the length of time it takes to recede in the fishing area. The risk in the medium type is the low selling price and the decrease in the number of fish resources. Risk can be control by increasing the ability to capture fisheries business management, increasing the use of information technology in the fishing business, and increasing the accessibility of capital for fishers facilitated by the government.Pemerintah Indonesia telah berkomitmen untuk mendukung Sustainable Development Goal’s. Salah satu indikatornya adalah penurunan angka kemiskinan. Pada tahun 2020, sektor pertanian merupakan sumber penghasilan utama dari 46,3% rumah tangga miskin di Indonesia dan 16,2 juta nelayan berada di bawah garis kemiskinan. Provinsi Kalimantan Barat merupakan provinsi dengan jumlah nelayan terbanyak di Pulau Kalimantan. Besarnya potensi perikanan di Provinsi Kalimantan Barat tidak diikuti oleh kesejahteraan dari Nelayan. Kabupaten Sambas merupakan Kabupaten kedua di Provinsi Kalimantan Barat yang memiliki jumlah produksi perikanan tangkap terbesar dan jumlah nelayan terbanyak. Konsep nilai tukar nelayan adalah membandingkan nilai produksi nelayan terhadap barang dan jasa yang diperlukan untuk usaha penangkapan dan konsumsi rumah tangga nelayan. Salah satu cara untuk memberikan keuntungan optimal pada usaha perikanan tangkap adalah dengan mengelola risiko. Tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi kesejahteraan nelayan tangkap tradisional berdasarkan nilai tukar nelayan, serta risiko yang berpengaruh terhadap usaha perikanan tangkap nelayan dan merumuskan strategi guna meningkatkan nilai tukar nelayan. Penelitian didesain dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan  kuantitatif. Sebanyak 54% responden memiliki nilai tukar nelayan sebesar 0 ≤ 1. Risiko dengan kategori tinggi adalah kerusakan alat tangkap, cuaca sulit diprediksi, serta lamanya waktu surut di area penangkapan. Risiko dengan kategori sedang adalah rendahnya harga jual dan penurunan jumlah sumberdaya ikan. Pengendalian risiko dapat dilakukan dengan cara meningkatkan kemampuan manajemen usaha perikanan tangkap, meningkatkan penggunaan teknologi dalam usaha tangkap dan peningkatan aksesibilitas permodalan bagi nelayan yang difasilitasi oleh pemerintah