cover
Contact Name
Amalia Setiasari
Contact Email
jkpi.puslitbangkan@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jkpi.puslitbangkan@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Kebijakan Perikanan Indonesia
ISSN : 19796366     EISSN : 25026550     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Indonesian Fisheries Policy Journal present an analysis and synthesis of research results, information and ideas in marine and fisheries policies.
Arjuna Subject : -
Articles 198 Documents
KEBERLANJUTAN PERIKANAN TANGKAP SKALA KECIL DI KOTA BENGKULU Yuniarti, Nita; Mulyasari, Gita; Windirah, Nola; Irnad, Irnad; Trisusilo, Agung
Jurnal Kebijakan Perikanan Indonesia Vol 16, No 2 (2024): (November) 2024
Publisher : Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumberdaya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sektor perikanan yang memiliki peran penting secara sosial dan ekonomi, sangat dipengaruhi oleh berbagai perubahan kondisi alam yang kini terus menekan hasil tangkapan ikan di laut. Tujuan penelitian yaitu menganalisis status keberlanjutan usaha perikanan tangkap skala kecil di Kota Bengkulu dan menganalisis dimensi keberlanjutan usaha perikanan tangkap skala kecil di Kota Bengkulu. Metode penentuan lokasi dilakukan secara sengaja (purposive) yaitu di Kota Bengkulu. Metode penentuan sampel digunakan metode accidental sampling dengan kriteria nelayan tradisional skala kecil dengan kegiatan one day fishing dan pemilik kapal yang ikut melaut. Multidimensional Scalling (MDS) dengan teknik Rapfish menggunakan 5 dimensi (ekologi, ekonomi, sosial, teknologi dan kelembagaan) digunakan untuk menganalisis status keberlanjutan perikanan tangkap skala kecil. Hasil penelitian menunjukkan bahwa status keberlanjutan perikanan tangkap skala kecil di Kota Bengkulu dengan meninjau secara multidimensi yaitu berstatus kurang berkelanjutan dengan nilai indeks sebesar 46,25%. Untuk dimensi ekologi dan sosial berstatus cukup berkelanjutan sedangkan untuk dimensi ekonomi, teknologi dan kelembagaan berstatus kurang berkelanjutan. Untuk meningkatkan status keberlanjutan perikanan skala kecil di Kota Bengkulu diperlukan pemberian bantuan berbagai macam alat tangkap, bantuan modal usaha, komunikasi intensif antar pemerintah dan nelayan, pengembangan kemampuan nelayan dalam penanganan produk serta ketegasan aparat terhadap pelanggaran di perairan Kota Bengkulu.The fisheries sector, which has an important role socially and economically, is greatly influenced by various changes in natural conditions which currently continue to put pressure on fish catches in the sea. The research objectives were to analyze the sustainability status of small-scale capture fisheries businesses in Bengkulu City and analyze the dimensions of sustainability of small-scale capture fisheries businesses in Bengkulu City. The location determination method was carried out purposively and the selected location was Bengkulu City. The method of determining the sample used accidental sampling method with the criteria of small-scale traditional fishermen with one day fishing activities and boat owners who go to sea. Multidimensional Scaling (MDS) with the Rapfish technique uses 5 dimensions (ecological, economic, social, technological and institutional) to analyze the sustainability status of small-scale capture fisheries. The results showed that the sustainability status of small-scale capture fisheries in Bengkulu City was viewed in a multidimensional manner, namely the status was less sustainable with an index value of 46.25%. The ecological and social dimensions are quite sustainable, while the economic, technological and institutional dimensions are less sustainable. To improve the sustainability status of small-scale fisheries in Bengkulu City, it is necessary to provide assistance with various types of fishing gear, business capital assistance, intensive communication between the government and fishermen, developing the ability of fishermen to handle products and the firmness of officials against violations in the waters of Bengkulu City.
CORAL BOND: STRATEGI PENDANAAN UNTUK KEBERLANJUTAN TERUMBU KARANG Kusdiantoro, Kusdiantoro; Firdaus, Maulana
Jurnal Kebijakan Perikanan Indonesia Vol 17, No 2 (2025): (November) 2025
Publisher : Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumberdaya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jkpi.17.2.2025.77-90

Abstract

Indonesia memiliki ekosistem terumbu karang terluas di dunia dengan perkiraan sekitar 51.020 km² atau sekitar 17,95% dari total terumbu karang dunia. Namun faktanya, 71,2% terumbu karang Indonesia berada dalam kondisi buruk hingga cukup akibat perubahan iklim dan aktivitas manusia. Coral bond merupakan instrumen pendanaan inovatif berbasis pasar yang dirancang untuk mengatasi kesenjangan pembiayaan (financing gap) konservasi terumbu karang. Penelitian ini menggunakan pendekatan studi literatur dan analisis komparatif terhadap berbagai publikasi ilmiah, laporan kebijakan, serta studi kasus internasional terkait penerapan coral bond dan instrument blue finance lainnya. Melalui metode ini, dilakukan gap analysis untuk mengidentifikasi tantangan utama dalam penerapan mekanisme pendanaan berkelanjutan bagi konservasi terumbu karang di Indonesia. Berdasarkan hasil kajiam dirumuskan solusi konseptual dan usulan kebijakan yang berfokus pada penguatan tata kelola blue financing, pengembangan kerangka regulasi yang mendukung, dan peningkatan kapasitas kelembagaan dalam implementasi instrumen keuangan berbasis hasil (outcome-based financing). Hasil analisis menunjukkan bahwa Indonesia Coral Bond dengan nilai US$10 juta dapat menjadi instrumen non-sovereign dan non-debt yang efektif untuk mendukung target pencapaian 30% kawasan konservasi laut pada 2045. Strategi implementasi memerlukan penguatan baseline data, kapasitas kelembagaan, dan keterlibatan multi-stakeholder dengan menggunakan standar verifikasi IUCN Green List dan outcome-based payment mechanism.Indonesia possesses the largest coral reef ecosystem in the world, covering approximately 51,020 km², or around 17.95% of global coral reef coverage. However, 71.2% of Indonesia’s coral reefs are in fair to poor condition due to climate change and anthropogenic pressures. The coral bond is an innovative market-based financing instrument designed to address the financing gap in coral reef conservation efforts. This study employs a literature review and comparative analysis, drawing on scientific publications, policy reports, and international case studies on the implementation of coral bonds and other blue finance instruments. Through a gap analysis, the research identifies the main challenges and limitations in applying sustainable financing mechanisms for coral reef conservation in Indonesia. Based on the findings, the study proposes conceptual solutions and policy recommendations to strengthen blue finance governance, develop a supportive regulatory framework, and enhance institutional capacity to implement innovative, outcome-based financing mechanisms. The analysis indicates that an Indonesia Coral Bond valued at US$10 million could serve as an effective non-sovereign and non-debt instrument to support the national target of achieving 30% marine protected areas by 2045. The proposed implementation strategy emphasizes strengthening baseline data, institutional capacity-building, and multi-stakeholder engagement, using the IUCN Green List verification standard and an outcome-based payment mechanism.
STRATEGI PENINGKATAN EKSPOR HASIL LAUT MELALUI KEBIJAKAN PERIKANAN TERUKUR MENGGUNAKAN RANDOM FOREST ALGORITHM Anugrahnu, Joannes Fregis Philosovio; Etika, Ezra; Sumarni, Sania Lina; Debataraja, Naomi Nessyana; Lestyowati, Yoke; Priyanto, Dwi Ari
Jurnal Kebijakan Perikanan Indonesia Vol 17, No 2 (2025): (November) 2025
Publisher : Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumberdaya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jkpi.17.2.2025.105-113

Abstract

 Penelitian ini bertujuan menyusun strategi dalam menerapkan eco-preservation fishing dalam kerangka kebijakan Penangkapan Ikan Terukur (PIT) di PPN Pemangkat, Kabupaten Sambas. Dengan menggunakan data sekunder mengenai produksi ikan tahun 2020, peneliti mengidentifikasi faktor-faktor penting yang perlu dijadikan dasar dalam penyusunan kebijakan agar penerapan eco-preservation fishing dapat berjalan efektif sekaligus mendukung kinerja ekspor setelah masa pandemi. Variabel yang dianalisis mencakup berat hasil tangkapan (Y), ukuran kapal/gross tonnage (X1), jenis alat penangkapan (X2), waktu pembongkaran (X3), jumlah hari perjalanan (X4), jumlah ABK (X5), dan frekuensi penangkapan (X6). Algoritma random forest digunakan untuk mengklasifikasikan serta mengevaluasi tingkat pengaruh masing-masing variabel. Model yang dihasilkan memiliki akurasi prediksi sebesar 81,32% (kategori baik). Frekuensi penangkapan (X6) menunjukkan penurunan rataan Gini terbesar, sehingga menjadi variabel yang paling berpengaruh, diikuti oleh ukuran kapal (X1), jenis alat (X2), dan hari perjalanan (X4). Dari temuan tersebut, ditemukan strategi prioritas, yaitu : (1) penetapan kuota berdasarkan effort (per trip/kapal) dan ukuran kapal, (2) pembatasan serta penggantian alat tangkap yan glebih ramah lingkungan, (3) pengaturan durasi dan jumlah hari operasi, serta (4) peningkatan kepatuhan melalui pengawasan waktu bongkar. Hasil penelitian ini memberikan strategi untuk penerapan eco-preservation fishing dalam skema PIT di PPN Pemangkat yang didasarkan pada bukti empiris dari data tahun 2020. Measured fisheries management (PIT) is a policy of capturing marine products accompanied by control over its quotas and areas. Compliance with this policy should be increased along with the sustainability of the marine product exports sector amidst the decline in the economic sector due to the covid-19 pandemic. Eco-preservation fishing is one of the solutions that can be offered. This study uses secondary data on marine products production in 2020 obtained from Archipelago Fishing Port (AFP) of Pemangkat, Sambas Regency. Random forest algorithm is used to classify randomly selected subsets of the sample and training variables to produce several decision trees. The results of the data testing test show the predicted value of 81.32% and is included in the good category. The variable in this research is weight of catches (Y), gross tonnage (X1), fishing gear type (X2), ship unloading time (X3), number of travel days (X4), number of crew members (X5), and the number of catches (X6). X6 has the largest mean decrease gini value than the other variables, so it has the biggest contribution in classifying the causes of catches in Pemangkat AFP as per 2021.
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI IMPLEMENTASI KEBIJAKAN PENANGKAPAN IKAN TERUKUR DI PELABUHAN PERIKANAN PANTAI TAMPERAN, PACITAN, JAWA TIMUR Nugroho, Prasetyo Catur; Suherman, Agus; Jayanto, Bogi Budi; Hernuryadin, Yayan; Suroso, Wawi; Kurohman, Faik
Jurnal Kebijakan Perikanan Indonesia Vol 17, No 2 (2025): (November) 2025
Publisher : Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumberdaya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jkpi.17.2.2025.91-104

Abstract

Penangkapan ikan terukur (PIT) merupakan kebijakan pemerintah untuk mengelola perikanan secara berkelanjutan dengan mengatur zona penangkapan (penetapan pelabuhan perikanan) dan menyesuaikan jumlah tangkapan dengan potensi sumber daya ikan. PPP Tamperan-Pacitan berada di Zona IV merupakan pelabuhan perikanan dibawah pengelolaan Pemerintah Provinsi Jawa Timur sebagai Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD), aktivitas pendaratan ikan tertinggi di Selatan Jawa Timur. Penelitian ini bertujuan menganalisis faktor keberhasilan implementasi PIT, menilai persepsi dan pengalaman pelaku perikanan, serta menguji hubungan keduanya. Metode yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif dengan purposive sampling dan sensus, melibatkan 33 responden dari pemilik kapal, pengurus, petugas pelabuhan, dan pengawas. Hasil penelitian menunjukkan persepsi pelaku perikanan cenderung positif, pengalaman cukup baik meski terkendala fasilitas, modal, dan literasi digital. Uji Chi-Square menghasilkan nilai Pearson 57,433 (sig. 0,000 < 0,05) dengan koefisien kontingensi 0,66, yang menandakan hubungan kuat antara persepsi dan pengalaman. Faktor yang memengaruhi keberhasilan PIT meliputi komunikasi, sarana prasarana, sikap pelaksana, struktur pengelola, dan pelaksanaan kebijakan. Disimpulkan bahwa semakin positif persepsi nelayan, semakin baik pengalaman mereka, sehingga diperlukan peningkatan sosialisasi, penyediaan fasilitas, dan penguatan kapasitas nelayan agar PIT berjalan efektif dan berkelanjutan.Quota-Based Fishing (QBF) is a government policy that aims to maintain the sustainability of fish resources by determining fishing zones and quotas. PPP Tamperan-Pacitan is a fishing port with the highest landing activity in South East Java and is located in Zone IV PIT. This study aims to analyze the factors influencing the successfull implementation of QBF, assess the perceptions and experiences of fishery actors, and examine their relationship. A quantitative descriptive method was employed, utilizing purposive sampling, with 33 respondents comprising vessel owners, managers, port officers, and field supervisors. The results show that the factors influencing the successful implementation of QBF include communication, infrastructure, implementers’ attitudes, management structure, and policy execution, all of which were generally rated as good by respondents. Furthermore, the perception of fisheries actors toward the QBF policy tends to be positive. At the same time, their experiences fall into the moderate category, although challenges remain, such as limited facilities, capital, and digital literacy. The Chi-Square test yielded a Pearson value of 57.433 (p < 0.05) with a contingency coefficient of 0.66, indicating a strong and significant relationship between the perceptions and experiences of fisheries actors regarding the implementation of the QBF policy.
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERFORMA PENGELOLAAN SUMBER DAYA TERUMBU KARANG DI PULAU PAHAWANG, KABUPATEN PESAWARAN Marietadewi, Astrid; Taryono, Taryono; Kurniawan, Fery
Jurnal Kebijakan Perikanan Indonesia Vol 17, No 2 (2025): (November) 2025
Publisher : Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumberdaya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jkpi.17.2.2025.115-125

Abstract

 Ekosistem terumbu karang banyak dimanfaatkan sebagai destinasi wisata bahari khususnya snorkeling. Ekosistem terumbu karang di Pulau Pahawang menghadapi tekanan akibat aktivitas wisata yang tidak ramah lingkungan. Kerangka kerja Institutional Analysis Development (IAD) digunakan sebagai pendekatan untuk mengevaluasi pengaruh variabel eksogen yaitu kondisi biofisik, atribut komunitas dan aturan yang digunakan (rules-in-use) terhadap interaksi antar aktor dan pengelolaan ekowisata dengan menggunakan metode analisis structural equation modeling-partial least square (SEM-PLS) untuk menguji hubungan kausal antar variabel laten. Hasil menunjukkan bahwa pengelolaan ekowisata dan rules-in-use memiliki pengaruh signifikan terhadap performa pengelolaan, sedangkan peran aktor belum menunjukkan kontribusi signifikan. Atribut komunitas terbukti mempengaruhi aktor, terutama melalui kesamaan karakteristik dan tingkat pemahaman masyarakat. Meskipun terdapat inisiasi konservasi antara pihak akademisi dan masyarakat, implementasi pengelolaan masih terkendala oleh minimnya koordinasi antar pihak, dominasi aktor eksternal, serta keterbatasan kapasitas lokal. Edukasi dan pemberdayaan masyarakat menjadi kunci untuk penguatan pengelolaan ekowisata berkelanjutan. Penelitian ini menekankan pentingnya sinergi antar stakeholder dan penerapan aturan yang efektif dalam mendukung pelestarian terumbu karang serta peningkatan kesejahteraan masyarakat pesisir.Pahawang Island, Pesawaran Regency, Lampung Province has a coral reef ecosystem and is used as a primary resource for marine tourism, especially for snorkeling. The coral reef ecosystem on Pahawang Island faces pressure from environmentally unfriendly tourism. The Institutional Analysis Development (IAD) framework is used as an approach to evaluate the influence of exogenous variables, namely biophysical conditions, community attributes and rules-in-use on interactions between actors and ecotourism management using the structural equation modeling-partial least square (SEM-PLS) analysis method to test the causal relationship between latent variables. The results show that ecotourism management and rules-in-use have a significant influence on management performance, whereas the role of actors does not. Community attributes have been shown to influence actors, especially through similarities in their characteristics and levels of community understanding. Although there is a conservation initiative between academics and the community, its implementation is still constrained by limited coordination among parties, the dominance external actors, and limited local Capacity. Community education and empowerment are the keys to strengthening sustainable ecotourism management. This study emphasizes the importance of synergy between stakeholders and the implementation of effective regulations to support coral reef conservation and improving the welfare of coastal communities
BUDIDAYA PERIKANAN BERKELANJUTAN: PEMBELAJARAN DARI DAMPAK PANDEMI COVID-19 DI PERAIRAN BARAT INDONESIA Ramadhani, Dian Eka; Kusumanti, Ima; Hendriana, Andri; Iskandar, Andri; Ulzanah, Nida
Jurnal Kebijakan Perikanan Indonesia Vol 17, No 2 (2025): (November) 2025
Publisher : Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumberdaya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jkpi.17.2.2025.127-137

Abstract

Penelitian ini memberikan gambaran dampak COVID-19 terhadap kegiatan budidaya perikanan dengan menggunakan analisis mendalam dari International Futures Forum (IFF). Perairan di wilayah barat Indonesia dipilih sebagai lokasi penelitian karena banyak nelayan kecil yang masih mengandalkan ikan sebagai sumber penghidupan sehari-hari. Sehingga kebijakan penanganan pandemi COVID-19 memberikan dampak signifikan terhadap kegiatan ekonomi di sektor perikanan. Gambaran yang berbeda ini di setiap lokasi penelitian memberikan informasi baik secara umum ataupun dari versi model sebelumnya, misalnya dalam perencanaan bisnis, untuk mengadaptasi dan memperdalam analisis sehingga menjadi berguna sebagai kerangka kerja untuk memikirkan perubahan sosial jangka panjang. Upaya berkelanjutan selama pandemi COVID-19 mencakup pengembangan strategi pemasaran digital untuk perusahaan guna meningkatkan penjualan produk akuakultur, pembangunan fasilitas penyimpanan berpendingin atau ruang penyimpanan untuk menampung kelebihan pasokan sehingga harga tidak jatuh terlalu tajam, serta pelatihan pemasaran digital bagi karyawan untuk memperkuat pemasaran dan menghadapi persaingan bisnis yang semakin kompetitif.This study provides an overview of the impact of COVID-19 on fisheries cultivation activities using in-depth analysis from the International Futures Forum (IFF). The waters in the western region of Indonesia were chosen as the research location because many small fishermen still rely on fish as a source of daily livelihood. So that the policy of handling the COVID-19 pandemic has a significant impact on economic activities in the fisheries sector. This different picture in each research location provides information both in general and from previous versions of the model, for example in business planning, to adapt and deepen the analysis so that it becomes useful as a framework for thinking about long-term social change. Ongoing efforts during the COVID-19 pandemic include developing digital marketing strategies for companies to increase sales of aquaculture products, building cold storage facilities or storage space to accommodate excess supply so that prices do not fall too sharply, and digital marketing training for employees to strengthen marketing and face increasingly competitive business competition.
KEBIJAKAN INOVASI TEKNOLOGI AERATOR PORTABEL UNTUK MENINGKATKAN DAYA TAHAN HIDUP RAJUNGAN DAN PENDAPATAN NELAYAN BUBU DI TELUK JAKARTA Alamsyah, Majid; Sudrajat, Danu; Wahyudin, Rudi Alek
Jurnal Kebijakan Perikanan Indonesia Vol 17, No 2 (2025): (November) 2025
Publisher : Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumberdaya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jkpi.17.2.2025.139-149

Abstract

Rajungan (Portunus pelagicus) merupakan komoditas perikanan bernilai ekonomi tinggi yang memiliki peran strategis dalam meningkatkan pendapatan nelayan kecil di Indonesia. Salah satu tantangan utama dalam rantai nilai rajungan adalah rendahnya tingkat kelangsungan hidup hasil tangkapan sebelum tiba di pelabuhan, yang berdampak pada penurunan nilai jual. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas teknologi aerator portabel dalam meningkatkan daya tahan hidup rajungan pada kapal bubu sebagai upaya kebijakan inovatif yang berdampak pada ekonomi nelayan. Metode eksperimen dilakukan dengan membandingkan dua perlakuan: bak kontrol tanpa aerator dan bak perlakuan dengan aerator, selama lima trip penangkapan di Perairan Teluk Jakarta. Hasil analisis statistik menunjukkan terdapat perbedaan signifikan (p = 0,007) dalam tingkat kelangsungan hidup rajungan antara dua perlakuan, dengan angka survival mencapai 100% pada perlakuan aerator. Temuan ini menunjukkan bahwa teknologi aerator portabel dapat diadopsi sebagai bagian dari strategi kebijakan peningkatan kualitas pasca-tangkap dan peningkatan kesejahteraan nelayan rajungan. Diperlukan dukungan kebijakan dalam bentuk penyuluhan teknologi dan bantuan akses peralatan bagi nelayan kecil. The blue swimming crab (Portunus pelagicus) is a high-value fishery commodity that plays a strategic role in enhancing the income of small-scale fishers in Indonesia. One of the key challenges in the crab value chain is the low survival rate of catches before landing, which significantly reduces market value. This study aims to evaluate the effectiveness of portable aerator technology in improving the survival rate of crabs on trap boats, as part of an innovative policy effort to enhance fisher livelihoods. An experimental method was employed, comparing two treatment groups: a control tank without an aerator and a treatment tank equipped with a portable aerator, over five fishing trips in Jakarta Bay. Statistical analysis revealed a significant difference in survival rates between the two treatments (p = 0.007), with the aerated group achieving a 100% survival rate. These findings suggest that portable aerator technology can be adopted as a viable strategy for improving post-harvest quality and supporting the economic resilience of blue swimming crab fishers. Policy support in the form of technology outreach and improved access to equipment for small-scale fishers is recommended.
PENDEKATAN SPASIOTEMPORAL DALAM MENILAI DINAMIKA IKAN KARANG UNTUK MENDUKUNG KEBIJAKAN KONSERVASI LAUT DI KAWASAN PULAU PIEH (2021–2024) Muslim, Ryan Adhitia; Subhan, Beginer; Bengen, Dietriech G; Adriani, Adriani; Manafi, Efi Noferya; Rahmat, Fadhlan Basiluddin; Ilham, Yuwanda; Kahar, Fauzi Abdul; Samsuardi, Samsuardi; Yennafri, Yennafri; Miswandi, Muhammad
Jurnal Kebijakan Perikanan Indonesia Vol 17, No 2 (2025): (November) 2025
Publisher : Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumberdaya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jkpi.17.2.2025.151-161

Abstract

Terumbu karang merupakan ekosistem penting yang mendukung keanekaragaman hayati laut, dengan ikan karang memainkan peran kunci dalam menjaga keseimbangan ekosistem tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara kelimpahan ikan karang dan struktur komunitas terumbu karang secara spasial dan temporal di Kawasan Konservasi Pulau Pieh, Sumatera Barat. Penelitian menggunakan data primer yang didapatkan dari 16 stasiun pengamatan yang tersebar di berbagai zonasi konservasi (zona inti, pemanfaatan, dan rehabilitasi) pada kedalaman 5–10 meter, menggunakan metode Underwater Visual Census (UVC) untuk ikan karang dan Underwater Photo Transect (UPT) untuk terumbu karang. Data sekunder didapatkan dari hasil monitoring pengelola kawasan konservasi selama tahun 2021-2024 pada periode yang sama setiap tahun. Hasil menunjukkan bahwa keanekaragaman ikan karang berada pada kategori sedang (1 ≤ H’ ≤ 3), keseragaman komunitas sedang hingga tinggi (E > 0,5), dan dominansi rendah (C < 0,5), yang mengindikasikan kondisi ekosistem yang sehat. Hasil Component Analysis (CA) kelimpahan ikan karang dan tutupan karang menunjukan adanya keterkaitan antara stasiun pengamatan, tutupan karang dan kelimpahan ikan. Penurunan tutupan karang dan kelimpahan ikan pada tahun 2024 menandakan adanya pengaruh dari tekanan ekologis maupun aktivitas antropogenik sehingga pengelolaan yang optimal dan pengetahuan masyarakat perlu ditingkatkan. Hasil penelitian ini dapat menjadi dasar ilmiah dalam pengelolaan kawasan konservasi secara efektif dan berkelanjutan.Coral reefs are vital ecosystems that support marine biodiversity, with reef fishes playing a key role in maintaining the balance of these ecosystems. This study aims to analyze the spatial and temporal relationship between reef fish abundance and coral reef community structure in the Pieh Island Marine Conservation Area, West Sumatra. The research used primary data conducted at 16 observation stations across different conservation zones (core, utilization, and rehabilitation zones) at depths of 5–10 meters, using the Underwater Visual Census (UVC) method for reef fish and the Underwater Photo Transect (UPT) method for coral reefs. Secondary data was obtained from monitoring conducted by conservation area managers during the same period each year from 2021 to 2024. The results showed that reef fish diversity was in the moderate category (1 ≤ H’ ≤ 3), community evenness was stable in moderate to high (E > 0.5), and dominance was low (C < 0.5), indicating a healthy ecosystem condition. The Component Analysis (CA) of reef fish abundance and coral cover revealed a correlation between observation stations, coral cover, and fish abundance. A decline in coral cover and fish abundance in 2024 indicates the influence of ecological stress and anthropogenic activities, highlighting the need for improved management and increased community awareness. The results of this study can serve as a scientific basis for effective and sustainable marine conservation area management.