cover
Contact Name
Elmansyah
Contact Email
ealharamain@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
ealharamain@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota pontianak,
Kalimantan barat
INDONESIA
Al-Hikmah
ISSN : 19785011     EISSN : 25028375     DOI : -
Core Subject : Social,
Jurnal Al-Hikmah (ISSN: 1978-5011 dan E-ISSN: 2502-8375) merupakan Jurnal Nasional yang diterbitkan oleh Fakultas Usuluddin Adab dan Dakwah di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Pontianak. Jurnal ini khusus pada kajian Dakwah dalam studi tertentu dan komunikasi Islam pada umumnya, dan Al-hikmah akan mengkombinasikan antara hasil penelitian dengan artikel pada kajian-kajian terkini dari para kontributor yang ahli dibidangnya. Al-Hikmah, terbit perdana pada volume I edisi 1 pada bulan Juni 2007, Al-Hikmah telah terbit 16 kali (8 volume), dengan memulai mempublikasikan artikel tentang Dakwah dan Komunikasi, diprakarsai oleh Dr. Wajidi Sayadi yang merupakan doktor tafsir hadis. Al-Hikmah hadir karena tuntutan kebutuhan intelektual dalam merespon isu-isu actual terkait berbagai problematika Dakwah dalam konteks kekinian, tidak hanya dibatasi pada hasil karya penulis lokal tetapi juga mengakomodir karya penulis dalam skala nasional dan internasional. dengan kata lain jurnal Al-Hikmah membuka akses seluas-luasnya bagi siapa saja yang ingin berkiprah dan memberikan kontribusi ilmiah bagi pengayaan wacana pemahaman Dakwah dalam rangka menjawab tantangan intelektual yang kian hari semakin berkembang. Al-hikmah, menjadi media komunikasi ilmiah antarapeminat ilmu Dakwah yang terdiri dari dosen, pakar dan praktisi dakwah, mahasiswa dan lainya. disamping itu jurnal Al-Hikmah menyediakan tempat khusus berupa review terhadap masalah-masalah terkini yang berkenaan dengan dakwah dan komunikasi.
Arjuna Subject : -
Articles 224 Documents
MENGELOLA KERUKUNAN ETNIS BERBASIS KEARIFAN LOKAL: BELAJAR DARI MASYARAKAT KOTA SINGKAWANG Munawar Munawar
Jurnal Al-Hikmah: Jurnal Dakwah Vol 14, No 1 (2020)
Publisher : INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI PONTIANAK

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (159.466 KB) | DOI: 10.24260/jhjd.v14i1.1792

Abstract

This study aims to see how the "Singkawang People" manages ethnic harmony by using the local wisdoms. This research uses descriptive method for the phenomenon of caring for the harmony of the pluralist society in the City of Singkawang. They succeeded in caring for the harmony of their communities by: 1) "Singkawang People" succeeded in caring for harmony because they were bound by identity; 2) The existence of a new idea about the model of caring for harmony, which was born through the social process of "Singkawang people" in Singkawang City, such as through social movements and peace as a line of struggle in caring for harmony; 3) "People of Singkawang" are capable and smart in reading the socio-geography of the City of Singkawang, so that Singkawang is designated as a homebase for managing ethnic diversity. This paper concludes that the success of the "Singkawang people" in managing harmony in the City of Singkawang stems from its ability to accommodate various local forces, both inherent to the "Singkawang people" and the local forces that exist in the City of Singkawang. Penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana “Orang Singkawang” mengelola kerukunan etnis dengan menggunakan kearifan lokal. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif atas fenomena merawat kerukunan masyarakat pluralis di Kota Singkawang. Mereka berhasil merawat kerukunan masyarakatnya dengan cara: 1) “Orang Singkawang” berhasil merawat kerukunan karena diikat oleh identitas; 2) Adanya sebuah gagasan baru tentang model merawat kerukunan, yang lahir lewat proses sosial pada “orang Singkawang” di Kota Singkawang, seperti melalui gerakan sosial dan damai sebagai garis perjuangan dalam merawat kerukunan; 3) “Orang Singkawang” mampu dan cerdas dalam membaca sosio-geografi Kota Singkawang, sehingga Singkawang ditetapkan sebagai homebase pengelolaan keragaman etnis. Tulisan ini menyimpulkan bahwa keberhasilan “orang Singkawang” mengelola kerukunan di Kota Singkawang bersumber dari kemampuannya dalam mengakomodasi berbagai kekuatan lokal, baik yang melekat pada “orang Singkawang” maupun kekuatan lokal yang ada di Kota Singkawang.
STRATEGI WALIKOTA PONTIANAK DALAM MEWUJUDKAN PONTIANAK MENJADI KOTA RELIJIUS Suhra Wardi
Jurnal Al-Hikmah: Jurnal Dakwah Vol 14, No 1 (2020)
Publisher : INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI PONTIANAK

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (740.58 KB) | DOI: 10.24260/jhjd.v14i1.1482

Abstract

Each leader has mision to carry out his leadership. Mayor of Pontianak in suitable with his mision will build quality of human resourses and well characters because Pontianak have not natural resources. The quality of human resources hopefully will be able to do inovation for doing initiative, creative in science and technology. The quality of human resources that will create is not in intelectual only but also well characters and obey to Allah Subhanahuwataala is supported by invironment of Islam atmosphere. Islam atmosphere is meaning Pontianak City will become Religious city that It will give peace for all society. For Getting that hope, The Goverment creates kinds of religon activities. Pontianak goverment Builds good and representative mosque until 90%, Mass Reading Al Qur’an and make Madrasah Diniyah Takmiliyah education cooperate with minister of Religious Affarir and institution of state Islam religion in Pontianak. Setiap pemimpin memiliki misi masing-masing dalam melaksanakan kepemimpinannya. Walikota Pontianak sesuai dengan misinya yang akan membangun sumber daya manusia yang berkualitas dan berakhlak mulia karena Pontianak tidak memiliki sumber daya alam. Sumber daya manusia yang berkualitas diharapkan mampu berinovasi untuk melakukan berbagai inisiatif, kreatif di berbagai bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Kualitas sumber daya manusia yang ingin diwujudkan bukan hanya cerdas intelektual akan tetapi juga cerdas akhlaknya dan bertaqwa kepada Allah SWT yang didukung oleh suasana lingkungan yang Islami. Lingkungan Islami yang dimaksudkan adalah menjadikan Kota Pontianak sebuah Kota Relijius yang akan memberikan kedamaian bagi seluruh warganya. Untuk meraih harapan tersebut Pemerintah berupaya melakukan berbagai kegiatan keagamaan. Membangun masjid-masjid hingga 90% layak dan representatif, melakukan acara Khataman Al Qur’an massal setiap tahun dan membentuk pendidikan Madrasah Diniyah takmiliyah bekerja sama dengan Kementerian Agama Kota Pontianak dan Institut Agama Islam Negeri(IAIN) Pontianak. Kata Kunci: Strategi, Khataman Al Qur’an, Madrasah Diniyah Takmiliyah
HAK ASASI MANUSIA: INSTRUMEN FATWA KONTEMPORER Al Fakhri Zakirman
Jurnal Al-Hikmah: Jurnal Dakwah Vol 14, No 1 (2020)
Publisher : INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI PONTIANAK

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24260/jhjd.v14i1.1739

Abstract

Human Rights (HAM) in recent decades is very much discussed, written, and disseminated. This is also a concern of researchers related to the correlation of human rights in the process of the birth of a fatwa. This research is a library research that uses materials in the form of books, journals and other documents. The researcher found that in the context of fatwas in contemporary fiqh, understanding the mufti of human rights as a whole would help in producing an appropriate fatwa. This is because Human Rights have a basis in the study of Islamic law, while the maqashid shari'ah is an important instrument in devoting the fatwa. The human rights are also inseparable in the considerations of contemporary fatwas. Hak Asasi Manusia (HAM) beberapa dekade ini sangat banyak diperbincangkan, ditulis, dan diseminarkan. Hal ini juga menjadi perhatian peneliti terkait korelasi HAM dalam proses lahirnya sebuah fatwa. Penelitian ini adalah penelitian kepustakaan yang menggunakan bahan-bahan berupa buku, jurnal dan dokumen lain. Peneliti menemukan bahwa dalam konteks fatwa pada fiqh kontemporer pemahaman mufti tentang HAM secara utuh akan membantu dalam menghasilkan fatwa yang tepat. Hal ini dikarenakan Hak Asasi Manusia memiliki basis pada kajian maqashid syariah. Sedangkan maqashid syari’ah adalah instrumen penting dalam berfatwa. Sehingga Hak Asasi Manusia juga tidak dapat dipisahkan dalam pertimbangan-pertimbangan fatwa kontemporer.
MANTRA MELAYU KETAPANG DALAM DIALEKTIKA DAKWAH ISLAMIYAH DAN BUDAYA LOKAL Zaenuddin Hudi Prasojo; Putri Wulansari
Jurnal Al-Hikmah: Jurnal Dakwah Vol 14, No 1 (2020)
Publisher : INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI PONTIANAK

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (662.782 KB) | DOI: 10.24260/jhjd.v14i1.1576

Abstract

This article examines the use of mantra as a form of local wisdom within Ketapang Malay community. Meaning of mantra is found in the practices of daily life in the community. To explore the meaning, this work begins with analyzing the description of the form of mantra and its structure normally found in the Ketapang Malay community. Employing qualitative analysis, this paper presents the relevance of mantra as a form of local wisdom in its dialectic with the development of Islam within the Ketapang Malay community. The results of the analysis show that the mantra tradition in the Ketapang Malay community is apart of an oral tradition that has long been practiced before Islam. Religioous values can be seen in the oral tradition of mantra used by the Malay people of Ketapang which exist to date. To a certain extent, this tradition of mantrafuctions as an alternative in accommodating the interests of the community in the frame of local wisdom. The use of mantra for various purposes is a portrait of people's life patterns of the Ketapang Malay people who still believe in magical powers in their religious practices. Keywords: Dialectic, mantra, Local Wisdom, Malay, Ketapang Artikel ini mengkaji tentang penggunaan mantra sebagai bentuk kearifan lokal masyarakat Melayu Ketapang. Pemaknaan mantra ditemukan dalam praktik kehidupan sehari-hari pada masyarakat Melayu di wilayah Ketapang ini. Untuk mendalami pemaknaan tersebut, artikel ini memulai dengan deskripsi bentuk mantra yang digunakan dan struktur mantra yang biasanya ditemui pada masyarakat Melayu Ketapang. Dengan analisis kualitatif, tulisan ini menyajikan relevansi mantra tersebut sebagai kearifan lokal dalam dialektikanya dengan perkembangan agama Islam pada masyarakat Melayu Ketapang.Hasil analisis menunjukkan bahwa tradisi mantra pada masyarakat Melayu Ketapang merupakan bagian dari tradisi lisan yang sejak lama telah dipraktikkan sebelum Islam.Unsur-unsur agama dapat dilihat pada tradisi lisan mantra yang digunakan oleh masyarakat melayu Ketapangyang eksis sampai saat ini.Dalam batas tertentu, tradisi mantra ini menjadi sebuah alternatif dalam mengakomodasi kepentingan-kepetingan masyarakat dalam bingkai kearifan lokal.Pemanfaatan mantra untuk beragam tujuan ini menjadi potret pola kehidupan masyarakat Melayu Ketapang yang masih mempercayai kekuatan magis dalam praktik keagamaannya. Kata Kunci: Dialektika, mantra, kearifan lokal, Melayu, Ketapang
Disorientasi Seksual dari Perspektif Psikologi dan Agama Islam : Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender Fitri Sukmawati; Sari Eka Pratiwi
Jurnal Al-Hikmah: Jurnal Dakwah Vol 14, No 1 (2020)
Publisher : INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI PONTIANAK

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (745.43 KB) | DOI: 10.24260/jhjd.v14i1.1772

Abstract

Homosexual is a sexual behavior with same-sex attraction or interest. Meanwhile, other group is biseksual, a sexual orientation towards both genders. The last LGBT group is transgender or transsexual, a group of people with sex-identity problems. This study aims to analize the factors which are influenced the formation of sexual disorientation, LGBT. The study started with literatures searching related with the teories of sexual disorientation in psychology and Islamic aspects. LGBT is not only a behavior that naturally occur, but it is formed by socio-cultural process in the early phase of human creation. There are three main factors which are basically form the LGBT behavior, including biologic, psychologic and sosio-cultural factors. Abstrak Homoseksual adalah perilaku seks dengan ketertarikan pada sesama jenis kelamin.Sementara itu kelompok lainnya yaitu biseksual adalah penyaluran dan orientasi seks pada dua jenis kelamin. Kelompok yang merupakan bagian dari LGBT yang terakhir adalah transgender atau transeksual, yaitu sekelompok orangdengan masalah identitas gender. Telaah literatur ini ditulis dengan tujuan untuk menelaah faktor-faktor yang mempengaruhi terbentuknya disorientasi seksual yaitu LGBT.Telaah artikel dilakukan dengan menelusuri berbagai literatur ilmiah yang berkaitan dengan teori-teori mengenai disorientasi seksual dari sudut pandang psikologi dan agama Islam. Perilaku LGBT bukan hanya sesuatu yang bersifat alami atau dibentuk oleh suatu proses sosial budaya pada awal penciptaan manusia. Terdapat tiga faktor utama yang melatarbelakangi terbentuknya perilaku LGBT, yaitu faktor biologis, psikologis dan sosial budaya.
AMTSÂL AL-QUR’AN DALAM PERSPEKTIF SOSIAL Hepni Putra; Amalia Irfani
Jurnal Al-Hikmah: Jurnal Dakwah Vol 14, No 1 (2020)
Publisher : INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI PONTIANAK

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24260/jhjd.v14i1.1761

Abstract

الملخص التغيير الاجتماعي الذي يحدث في المجتمع هو نتيجة للتأثيرات الإيجابية والسلبية ، لذلك يجب أن يكون هناك دليل يمكن أن يوجه الناس لمتابعة التغيير الاجتماعي في اتجاه إيجابي. وفي القرآن الكريم هناك أساليب فى الأمثال لها دور كبير فعال في جعل الناس يميلون إلى فعل الخير ، ويبتعدوا عن الأشياء السلبية والتى تبين لنا أيضا ما حقيقة الهدف فى هذه الحياة الدنيا وكيفية التطبيق لهذه الأمثال على أرض الواقع ،وهذا الأسلوب أيضا أنسب طريقة ليمثل صورة عن حياة المجتمع ، سواء العادات الشخصية أو الأفكار أو الثقافة المتوفرة في المجتمع.بحيث يساهم هذا الأسلوب مساهمة كبيرة في توجيه الناس لمتابعة التغيرات الاجتماعية الصحيحة،والتي ترتبط بدورها بتفاعلاتهم فيما بينهم في المجتمع والبيئة الإجتماعية التي تقوم على الأخلاق النبيلة. الكلمات المفتاحية: الأمثال و الاجتماعية و المجتمعية Perubahan sosial yang terjadi dimasyarakat merupakan konsekuensi dari pengaruh positif dan negatif,sehingga perlu adanya pertunjuk yang bisa mengarahkan manusia dalam mengikuti perubahan socialke arah yang positif.Sebagai bagian dari uslûb (gaya bahasa) al-Qur’an, amtsâl memilik peran strategis menjadikan manusia untuk selalu cenderung melakukan kebaikan,serta mencegah dari hal-hal negatif, dengan cara memvisualisasikan secara jelas materi yang dibicarakan, sekaligus meniscayakan hakikat atau realitas yang hendak dikemukakan mewujud secara nyata. Amtsâl juga merupakan cara yang paling tepat untuk memberikan gambaran kehidupan suatu masyarakat, baik tabiat, kebiasaan, pemikiran, serta budaya yang terdapat dalam masyarakat tersebut. Sehingga amtsâl dengan berbagai bentuknya dalam al-Qur'an, mimiliki kontribusi yang cukup besar dalam mengarahkan manusia dalam mengikuti perubahan social yang bernilai positif, yang pada akhirnya berkorelasi pada interaksinya dengan sesama manusia dan alam sekitar yang berlandas pada akhlak mulia. Kata Kunci: Amtsâl, Sosial, Kemasyarakatan
PENYEMBUHAN ISLAM DAN OTORITAS KEAGAMAAN: STUDI KASUS USTAZ DHANU Siti Mupida
Jurnal Al-Hikmah: Jurnal Dakwah Vol 14, No 1 (2020)
Publisher : INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI PONTIANAK

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (168.139 KB) | DOI: 10.24260/jhjd.v14i1.1755

Abstract

ABSTRACT This paper will examine the healing authority of the Ustaz Dhanu. The phenomenon of Islamic healing is important to study becouse of the rise of various alternative healing practices that are developing, both on television (TV), radio, pamphets, Islamic herbs, and also Islamic magazines. In addition, this research aims to raise a larger academic issue about healing Islam in Indonesia. And it is also expected to help the reader how to understand the practice of healing Islam in Indonesia which has undergone a process of commodification and religification. Tulisan ini akan mengkaji tentang otoritas penyembuhan Ustaz Dhanu. Fenomena penyembuhan Islami ini penting dikaji karena melihat maraknya berbagai praktik penyembuhan alternatif yang berkembang, baik itu di televisi (TV), radio, pamphlet, herbal Islam, dan juga majalah Islam. Selain itu, penelitian ini bertujuan untuk mengangkat isu akademis yang lebih besar tentang penyembuhan Islam di Indonesia. Diharapkan bisa membantu pembaca bagaimana memahami praktik penyembuhan Islam di Indonesia yang telah mengalami proses komodifikasi dan religifikasi.
ZAKAT DISTRIBUTION MANAGEMENT OF NATIONAL AMIL ZAKAT AGENCY OF WEST KALIMANTAN PROVINCE RAZIKI WALDAN
Jurnal Al-Hikmah: Jurnal Dakwah Vol 14, No 1 (2020)
Publisher : INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI PONTIANAK

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24260/jhjd.v14i1.1535

Abstract

The potential of zakat is quite significant in National Amil Zakat Agency (BAZNAS) West Kalimantan Province. In addition to the obligation to distribute, the BAZNAS West Kalimantan Province is also expected to make efforts to empower mustahiq so that the purpose of zakat to improve people's lives is achieved. The research question posed is: How is the zakat distribution management of the BAZNAS of the West Kalimantan Province? The method used in this research is a descriptive method with a qualitative approach. Data sources in this study are the management and staff of the BAZNAS of West Kalimantan Province and the recipients of zakat recipients. The data collection techniques used are observation, in-depth interviews, and documentation. Data analysis used is data collection, data reduction, data display (display data), and concluding (verification). The final step taken is checking the validity of the data using the triangulation of data, member checking, and adequacy of references. In general, the results of this study concluded that the implementation of the empowerment of mustahiq zakat at the BAZNAS of West Kalimantan province had gone well according to management theory, although there were a few shortcomings. Potensi zakat cukup signifikan pada Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Provinsi Kalimantan Barat. Selain kewajiban mendistribusikan, BAZNAS Provinsi Kalimantan Barat juga diharapkan melakukan upaya pemberdayaan mustahiq, sehingga tujuan zakat untuk meningkatkan kehidupan masyarakat dapat tercapai. Pertanyaan penelitian yang diajukan adalah: Bagaimana manajemen distribusi zakat BAZNAS Provinsi Kalimantan Barat? Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Sumber data dalam penelitian ini adalah manajemen dan staf BAZNAS Provinsi Kalimantan Barat dan penerima penerima zakat. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Analisis data yang digunakan adalah pengumpulan data, reduksi data, tampilan data (display data), dan penarikan kesimpulan (verifikasi). Langkah terakhir yang diambil adalah memeriksa validitas data menggunakan triangulasi data, pengecekan anggota, dan kecukupan referensi. Secara umum, hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa pelaksanaan pemberdayaan zakat mustahiq di BAZNAS provinsi Kalimantan Barat telah berjalan dengan baik menurut teori manajemen, meskipun ada beberapa kekurangan.
HUMANISME GUS DUR: PERGUMULAN ISLAM DAN KEMANUSIAAN, SEBAGAI JAWABAN DEHUMANISASI DI ERA DISRUPSI Wahyudi Fatah
Jurnal Al-Hikmah: Jurnal Dakwah Vol 14, No 1 (2020)
Publisher : INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI PONTIANAK

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (197.367 KB) | DOI: 10.24260/jhjd.v14i1.1780

Abstract

This paper will explore about Gur Dur's thoughts of humanism.It has become important as an offer of dehumation that is increasingly prevalent in this era. Starting from the aspect of education, socio-humanitarian, culture, and the power of the capitalist bureaucracy, Gus Dur's humanism is not a secular western hunterism born of a critique of religious hegemony, but a birth of Islamic upbringing. The construction of Gus Dur's thought was built on three values that support and complement each other, namely Islamic universalism, Islamic cosmopolitanism, and the indigenization of Islam. This paper is a library research. By reading Gus Dur's Humanism, we will find the confidence of a Muslim who understands the task of humanity as a divine god. Tulisan ini akan mengupas, menggali, dan mengekplorasi pemikiran Gur Dur pada sisi humanism.Pemikiran Presiden ke-4 RI ini menjadi penting sebagai tawaran dehumasinasi yang kian marak di era sekarang ini. Mulai dari aspek pendidikan yang mulai direduksi, sosial budaya yang nir-kemanusiaan, dan berkuasanya birokrasi kapitalis.Humanisme Gus Dur bukanlah hunamisme barat sekular yang lahir dari kritik atas hegemoni agama, melainkan lahir dari pemuliaan islam atas manusia. Kontruksi pemikiran Gus Dur dibangun berdasarkan tiga nilai yang saling menopang dan melengkapi, yaitu universalisme islam, kosmopolitanisme islam, dan pribumisasi islam. Tulisan ini merupakan penelitian kepustakaan (library research). Dengan membaca Humanisme Gus Dur, kita akan menemukan keyakinan seorang muslim yang memahami tugas kemanusian sebagai tuhan ketuhanan.
MENGHIDUPKAN DAKWAH PROFETIK DI ERA MILLENIAL Alfiana Yuniar Rahmawati
Jurnal Al-Hikmah: Jurnal Dakwah Vol 14, No 1 (2020)
Publisher : INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI PONTIANAK

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24260/jhjd.v14i1.1567

Abstract

Da’wah activities become the obligation of all mankind after the death of the Prophet Muhammad SAW. Contemporary da’wah should be able to replace the classic da’wah because of the sophistication of technology that provides convenience in the process of spreading Islamic da’wah. But unfortunately, this convenience triggers a decline in the quality of propaganda. Some of the da’wah content that is more prioritizing the utterance of hatred, public lies (hoaxes), to the spread of the issue of radicalism and terrorism. For this reason, the presence of millennial generation that is synonymous with technology has become a major asset in carrying out missionary mission. In the ethics of da’wah, millennials must begin to be directed to prophetic preaching or preaching in the style of Rosulullah SAW, namely to call for goodness (amar ma’ruf), prevent munkar (nahi munkar), and believe fully in Allah SWT as the all powerful Essence. It aims to restore the essence of the teachings of islam as taught in the time of the Prophet Muhammad SAW. Aktivitas dakwah menjadi kewajiban seluruh umat manusia setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW.Dakwah kontemporer seharusnya bisa menggantikan dakwah klasik karena adanya kecanggihan teknologi yang memberikan kemudahan dalam proses penyebaran dakwah Islam. Namun sayangnya, kemudahan ini memicu menurunnya kualitas dakwah.Beberapa konten dakwah yang ada lebih mengedepankan ujaran kebencian, kebohongan publik (hoax), sampai pada penyebaran isu radikalisme dan terorisme.Untuk itu, hadirnya generasi milenial yang identik dengan teknologi, menjadi aset utama dalam menjalankan misi dakwah.Dalam etika berdakwah,para milenialharus mulai diarahkan pada dakwah profetik atau dakwah ala Rasulullah SAW, yaitu menyeru kepada kebaikan (amar ma’ruf), mencegah kemungkaran (nahi munkar), serta percaya sepenuhnya kepada Allah SWT sebagai Dzat yang maha segala-galanya. Hal ini bertujuan untuk mengembalikan esensi dari ajaran agama islam seperti yang diajarkan pada masa Rasulullah SAW.