cover
Contact Name
Sugeng Santoso
Contact Email
sugeng.santoso@mercubuana.ac.id
Phone
+6281370112922
Journal Mail Official
fery.endang@um-tapsel.ac.id
Editorial Address
Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan Jl. Stn Mhd Arief N0 32 Kota Padangsidimpuan, Sumatera Utara
Location
Kota padangsidimpuan,
Sumatera utara
INDONESIA
JURNAL AGROHITA
ISSN : 25415956     EISSN : 2615336X     DOI : http://dx.doi.org/10.31604/jap.v5i2.2143
Teknologi adalah hal yang lumrah di era ini. Teknologi telah mengikat setiap aspek kehidupan manusia. Teknologi sendiri merupakan salah satu cara untuk memudahkan pekerjaan manusia agar dapat menghasilkan keluaran yang efisien. Teknologi juga memberikan banyak kemudahan, sekaligus cara baru dalam menjalankan aktivitas manusia. Salah satu teknologi yang biasa digunakan manusia adalah mesin yang dapat membantu manusia dalam melakukan pekerjaannya, seperti mesin pengupas testa misalnya. Desain mesin pengupas testa yang telah dirancang oleh (Putra et al. 2020), merupakan sesuatu yang baru di bidang pertanian. Mesin yang sudah dibuat perlu dikaji terkait kesiapan teknologinya sebelum digunakan oleh petani kelapa. Hal ini dilakukan agar risiko penerapan dan penerapan mesin pengupas kelapa testa dapat dikurangi sehingga pada akhirnya prototipe yang telah dirancang dapat digunakan oleh pengguna.
Articles 479 Documents
APLIKASI PUPUK KOTORAN SAPI DAN PUPUK ORGANIK CAIR PADA PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI TANAMAN CABAI MERAH ( Capcisum Annum L.) Erti Kumala Indah, Erty indah
Jurnal AGROHITA: Jurnal Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan Vol 9, No 4 (2024): Jurnal Agrohita
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jap.v9i4.19164

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui Aplikasi Pupuk Kotoran Sapi Dan Pupuk Organik Cair Pada Pertumbuhan Dan Produksi Tanaman Cabai Merah ( Capcisum Annum L.). Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktorial dengan dua faktor dengan 9 kombinasi perlakuan dan 3 ulangan. Faktor pemberian kotoran sapi (K) terdiri dari 3 taraf, yaitu: K0 = Tanpa pemberian pupuk kotoran sapi, K1 = 250 g/plot, dan K2 = 350 g/plot. Faktor Pemberian pupuko rganik cair (C) terdiri dari 3 level yaitu : C0 = Tanpa Perlakuan (kontrol), C1 = 250 ml/ plot, dan C2 = 350 ml/ tanaman. adapun parameter yang diamati adalah Tinggi Tanaman (cm), Jumlah Daun, dan Hasil Keseluruhan. Menurut hasil analisis sidik ragam pada paramater berat keseluruhan dengan perlakuan kotoran sapi menunjukkan pengaruh tidak nyata, pada paramater berat keseluruhan dengan perlakuan pemberian pupuk organik cair menunjukkan pengaruh tidak nyata sedangkan pada paramater berat keseluruhan dengan interaksi kedua perlakuan menunjukkan pengaruh tidak nyata.
PERAN KELOMPOK TANI TERUBUS DALAM MENINGKATKAN PENDAPATAN PETANI SAYUR DI DESA KUNDUR KECAMATAN TEBING TINGGI BARAT KABUPATEN KEPULAUAN MERANTI Ilmi, Arif; Syahza, Almasdi; Riyantama Isjoni, M. Yogi
Jurnal AGROHITA: Jurnal Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan Vol 9, No 3 (2024): Jurnal Agrohita
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jap.v9i3.19741

Abstract

The aim of this research is to determine the increase in welfare created by the activities of the Terubus farmer group on the income level of vegetable farmers in Kundur Village. The method used is a mixed method. This research is a combination of qualitative methods and quantitative methods. The results of this research are that the Terubus farmer group plays a role in increasing the income of vegetable farmers in Kundur Village, Tebing Tinggi Barat District by increasing vegetable production from 2019 to 2023. The cooperation of members in vegetable production activities contributes to the average income of members of the Terubus farmer group . The Terubus farmer group has a significant relationship with increasing the income of vegetable farmers. This was proven through Chi-Square calculations with the total questionnaire score and income obtained with results <0.001, which means it was significant and the research hypothesis was accepted and there was an increase in income as a result of the role of the Terubus Farmer group.
PENGARUH KOMBINASI PELEPAH DAN TEMPURUNG KELAPA SEBAGAI INSEKTISIDA ASAP CAIR TERHADAP SERANGAN WALANG SANGIT (Leptocorisa Oratorius F.) Istiqomah, Ayunia; Wardana, Rudi
Jurnal AGROHITA: Jurnal Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan Vol 9, No 4 (2024): Jurnal Agrohita
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jap.v9i4.11694

Abstract

Serangan hama merupakan salah satu kendala yang dapat menurunkan produktivitas tanaman. Pada budidaya padi, walang sangit merupakan hama yang menyerang ketika bulir berada pada fase masak susu. Penggunaan insektisida sintetik yang memiliki tingkat racun tinggi, namun berdampak kurang baik bagi tanaman sehingga diperlukan adanya insektisida nabati yang lebih ramah lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kombinasi pelepah dan tempurung kelapa sebagai insektisida asap cair terhadap serangan walang sangit pada tanaman padi. Percobaan dilakukan menggunakan uji laboratorium dan uji lapang. Uji laboratorium dilakukan menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) yang terdiri dari 6 perlakuan yaitu P0 : kontrol (aquades), P1 : konsentrasi 7 mL/100 mL air, P2 : konsentrasi 12 mL/100 mL air, P3 : konsentrasi 17 mL/100 mL air, P4 : konsentrasi 22 mL/100 mL air, dan P5 : konsentrasi 27 mL/100 mL air. Adapun percobaan di lapang dilakukan dengan membandingkan penggunaan insektisida nabati dan sintetik. Hasil menunjukkan bahwa insektisida asap cair kombinasi pelepah dan tempurung kelapa memiliki tingkat toksisitas LC50 sebesar 12% dan LC95 sebesar 47% dengan hasil yang tidak signifikan dengan penggunaan insektisida sintetik pada semua parameter pengamatan.
IDENTIFIKASI KEBERAGAMAN DAN DOMINANSI GULMA DI AREAL PEKEBUNAN KOPI (Coffea arabica) PADA KETINGGIAN TEMPAT YANG BERBEDA Mamud, Amir; Siregar, Elda Sari
Jurnal AGROHITA: Jurnal Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan Vol 9, No 4 (2024): Jurnal Agrohita
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jap.v9i4.20320

Abstract

Penelitian bertujuan untuk mengidentifikasi keanekaragaman dan dominansi gulma pada perkebunan kopi di Kabupaten Tapanuli Selatan Provinsi Sumatra Utara Pada ketinggian tempat berbeda.Penelitian ini di laksanakan pada bulan April sampai bulan Juni tahun 2024. Penelitian dilakukan dengan mengamati langsung gulma pada perkebunan kopi pada 3 lokasi di Kabupaten Tapanuli Selatan Yaitu 800 mdpl di daerah Sipirok, 900 mdpl di daerah Sitaratoit, dan 1.000 mdpl di daerah Aek Sabaon. Pengambilan sampel dilakukan dengan metode Kuadrat dengan petak sampel (1 m2) pada setiap lokasi pengamatan. Data yang berhasil dikumpulkan kemudian diolah menggunakan secara kuantitatif untuk menilai dominansi gulma dan keberagaman gulma dalam komunitas berdasarkan parameter Frekuensi Mutlak (FM), Frekuensi Relatif (FR), Kerapatan Mutlak (KM), Kerapatan Relatif (KR), Dominansi Mutlak (DM), Dominansi Relatif (DR), Berat Basah (BB), Berat Kering (BK), Indek Nilai Penting (INP), Summed Dominance Ratio (SDR). Hasil penelitian terdapat 25 famili gulma budidayah kopi arabica yang terdiri dari 14 jenis gulma Berdaun Lebar, 9 jenis gulma Rumput-rumputan, 1 jenis gulma Teki-tekian, 1 jenis gulma Paku-pakuan. Gulma yang dominan pada perkebunan kopi di kabupaten Tapanuli Selatan adalah Agratum Conyzoides (Babandotan) dan Browallian Americana (Bunga Violet Buch). Gulma golongan Teki-tekian dan Paku-pakuan yaitu gulma Clidemia Hirta (Senduduk Bulu) dan Selagi Nella (Cakar Ayam) gulma ini gulma ini hanya tumbuh dan  mendominansi di ketinggian  800 Mdpl.
RESPON PERTUMBUHAN STEK TANAMAN JERUK NIPIS (Citrus X Aurantifolia) MENGGUNAKAN EKSTRAK BAWANG MERAH DENGAN MEDIA TANAM ARANG SEKAM Hilmiyah Hrp, Qorry
Jurnal AGROHITA: Jurnal Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan Vol 9, No 4 (2024): Jurnal Agrohita
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jap.v9i4.20479

Abstract

Kebutuhan Jeruk nipis selalu meningkat, sehingga berbagai upaya dan cara dilakukan untuk perkembangbiakan dan budidaya tanaman jeruk nipis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pengaruh ekstrak bawang merah terhadap pertumbuhan akar dan arang sekam sebagai campuran top soil pada media tanam. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan november 2023 sampai bulan februari 2024. Rancangan percobaan dalam penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) dengan dua faktor yang diteliti, yaitu : Faktor 1 : Uji coba pemberian bawang merah pada stek tanaman jeruk dengan 3 taraf, yaitu : B0 = Tanpa pemberian ekstrak bawang merah. B1 = Pemberian bawang merah dengan cara di ekstrak lalu direndam selama 15 menit dengan dosis ¼ kg bawang merah/1 liter air. B2 = Pemberian ekstrak bawang merah dengan cara ditancapkan pada pangkal ranting stek.Faktor 2 : Uji coba pemberian arang sekam pada stek tanaman jeruk dengan 3 taraf, yaitu :A0 = Tanpa pemberian arang sekam, A1= Menggunakan arang sekam + top soil 1:1. Berdasarkan hasil analisis sidik ragam dapat diketahui bahwa pemberian ekstrak bawang merah berpengaruh nyata terhadap parameter jumlah daun dan diameter batang namun tidak berpengaruh nyata terhadap parameter jumlah tunas, waktu tumbuh tunas, dan panjang akar. Perlakuan terbaik terdapat pada (B1). Untuk perlakuan ekstrak bawang merah dan media tanam arang sekam berpengaruh nyata terhadap parameter jumlah daun, sedangkan pengaruh tidak nyata terhadap parameter jumlah tunas, waktu tumbuh tunas, diameter batang dan panjang akar. Perlakuan terbaik terdapat pada (A0). Dan hasil interaksi pemberian bawang merah dan media tanam arang sekam berpengaruh nyata terhadap parameter jumlah daun, namun tidak berpengaruh nyata terhadap parameter jumlah tunas, waktu tumbuh tunas, diameter batang, dan panjang akar.
RESPON VEGETATIF TANAMAN TEMBAKAU VARIETAS LOKAL PAYAKUMBUH DENGAN PEMBERIAN KONSENTRASI NAA (Naphthalene acetic acid) DS, Fefriyanti
Jurnal AGROHITA: Jurnal Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan Vol 9, No 4 (2024): Jurnal Agrohita
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jap.v9i4.20456

Abstract

Produksi tembakau nasional berasal dari perkebunan rakyat, tahun 2022 berkisar 99,6%. Produksi tembakau rakyat digunakan untuk pabrik rokok keretek, selebihnya untuk rokok lintingan dan diekspor. Indonesia merupakan salah satu Negara penghasil tembakau terbesar keenam setelah Cina, Brazil, India, USA dan Malawi. Permasalahan dalam mengembangkan agribisnis tanaman tembakau  masih banyak mengalami masalah. Hambatan-hambatan tersebut dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu teknis dan nonteknis. Salah satu pada non teknis yaitu Proses budidaya yang terutama aspek teknologi dalam produksi tanaman tembakau diperlukan sedikit inovasi yang dapat membantu perkembangan tanaman tembakau salah satu yang dapat di gunakan adalah dengan pemberian Zat Pengatur Tumbuh (ZPT). Tujuan penelitian ini adalah melihat pertumbuhan vegetatif tanaman tembakau dengan pemberian NAA. Penelitian ini dilaksanakan di Kebun percobaan kampus politeknik pertanian negeri payakumbuh bulan Mei sampai dengan Agustus 2024. Rancangan percobaan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak lengkap adalah Konsentrasi NAA (NA) yang terdiri dari 4 taraf yaitu NA0 = 0 mg/l Kontrol, NA1 = 10 mg/l air, NA2 = 20 mg/l air dan NA3 = 30 mg/l air. Uji lanjut yang digunakan adalah Uji Tukey.  Variabel pengamatan meliputi tinggi tanaman, panjang daun, lebar daun, diameter batang dan jumlah daun tanaman tembakau. Pemberiaan NAA secara garis besar terhadap pada tanaman tembakau hanya berdampak pada panjang dan lebar daun tanaman tembakau. pemberiaan NAA untuk pertambahan panjang daun dan lebar daun adalah 30 mg/l dibandingkan dengan panjang dan lebar daun tanpa pemberian NAA. Parameter tinggi tanaman, jumlah daun dan diameter barang tidak menunjukkan perbedaan dengan pemberian NAA pada berbagai konsentrasi
PENDUGAAN EROSI TANAH PADA LAHAN KEBUN CAMPURAN DENGAN METODE Universal Soil Loss Equation (USLE) Permata Sari, Via
Jurnal AGROHITA: Jurnal Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan Vol 10, No 2 (2025): Jurnal Agrohita
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jap.v10i2.20553

Abstract

Erosi tanah dapat menyebabkan terjadinya degradasi lahan dan lingkungan. Pendugaan erosi tanah sudah banyak dilakukan dengan tujuan untuk menentukan banyaknya tanah yang terangkut erosi sehingga dapat dilakukan pencegahan untuk meminimalisir terjadinya erosi. Penelitian ini bertujuan untuk memprediksi besarnya erosi pada lahan dengan kemiringan tertentu, dengan memperhatikan berbagai faktor utama yang berpengaruh, yaitu tekstur tanah, kandungan karbon organik (C-organik), tingkat permeabilitas, intensitas curah hujan, derajat kemiringan lereng, jenis tutupan lahan, serta penerapan tindakan konservasi. Penelitian ini dilakukan mulai April 2025 yang dimulai dengan melakukan survei pendahuluan di lapangan yaitu meninjau dan menentukan lokasi serta melakukan penentuan titik-titik pengamatan pada masing-masing penggunaan lahan. Pengumpulan data dan analisis data dilakukan di laboratorium Fakultas Pertanian Universitas Riau, prediksi erosi tanah dilakukan dengan menggunakan metode Universal Soil Loss Equation (USLE) sebagai alat prediksi erosi. Berdasarkan hasil analisis, tanah diklasifikasikan sebagai bertekstur lempung berdebu (silt loam), memiliki kandungan C-organik sebesar 3,394% dan bahan organik 5,84% (termasuk kategori tinggi), serta permeabilitas sebesar 3,56 cm/jam (masuk kategori agak lambat). Nilai faktor erosivitas sebesar 6,56 MJ mm/ha/hr menunjukkan potensi erosi yang rendah, sedangkan faktor erodibilitas sebesar 0,2065 tergolong sedang. Nilai LS adalah 1,351, nilai C sebesar 0,200, dan nilai P sebesar 0,75. Dengan parameter tersebut, tingkat erosi aktual dikategorikan ringan, yaitu berkisar antara 15 hingga 60 ton/ha/tahun. Temuan ini menekankan pentingnya penerapan strategi konservasi seperti penanaman mengikuti kontur, peningkatan kandungan bahan organik tanah, dan menjaga tutupan vegetasi sebagai langkah mitigasi erosi dan upaya menjaga kelestarian produktivitas lahan secara berkelanjutan.
ANALISIS RANTAI PASOK KOMODITI BERAS DI KECAMATAN PADANGSIDIMPUAN TENGGARA KOTA PADANGSIDIMPUAN PROVINSI SUMATERA UTARA Harahap, Selvia Nora
Jurnal AGROHITA: Jurnal Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan Vol 10, No 2 (2025): Jurnal Agrohita
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jap.v10i2.20579

Abstract

Salah satu komoditi pertanian yang bernilai ekonomis serta mempunyai peluang yang besar untuk dikembangkan karena kedudukannya sebagai sumber utama karbohidrat ialah beras yang menjadi tujuan utama pembangunan nasional. Rantai pasok beras, yang mencakup aliran produk, keuangan, dan informasi, melibatkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari petani hingga konsumen, yang masing-masing berkontribusi pada proses penambahan nilai. Penelitian ini menganalisis rantai pasok beras di Kecamatan Padangsidempuan Tenggara, mencakup aliran produk, keuangan, dan informasi, serta struktur pihak-pihak yang terlibat dalam rantai pasok gabah dan beras. Proses dimulai dari petani padi yang menjual gabah seharga Rp6.000/kg, yang kemudian diolah menjadi beras di kilang beras dan dijual seharga Rp13.000/kg. Pedagang besar membeli beras seharga Rp13.500/kg, kemudian pedagang kecil seharga Rp14.000/kg, sebelum sampai ke konsumen. Penelitian ini menjawab: (1) struktur rantai pasok beras, (2) saluran pemasaran beras, dan (3) nilai tambah beras pada penggilingan padi di Padangsidempuan Tenggara. Dengan menggunakan analisis deskriptif kualitatif melalui kerangka Food Supply Chain Network (FSCN), penelitian ini mengungkap efisiensi pemasaran sebesar 6% dari gabah ke kilang beras, 13% dari kilang ke pedagang besar, 13,5% dari pedagang besar ke pedagang kecil, dan 14% dari pedagang kecil ke konsumen. Semua saluran pemasaran dalam rantai pasok beras dikategorikan efisien karena memiliki tingkat efisiensi di bawah 50%. Penelitian ini memberikan wawasan tentang struktur dan efisiensi rantai pasok beras di wilayah tersebut.
INSIDENSI PENYAKIT TANAMAN JAGUNG (Zea may L.) PADA POLA TANAM MONOKULTUR DAN TUMPANGSARI Waruwu, Arifda Ayu Swastini
Jurnal AGROHITA: Jurnal Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan Vol 10, No 2 (2025): Jurnal Agrohita
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jap.v10i2.20571

Abstract

Jagung merupakan tanaman pangan yang menjadi salah satu komoditas penting di Indonesia. Produksi jagung di Indonesia belum dapat dikatakan memenuhi semua kebutuhan penduduk Indonesia, impor adalah salah satu cara untuk menanggulanginya. Salah satu penghambat produksi jagung di Indonesia ialah adanya organisme pengganggu tanaman. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan insidensi penyakit tanaman jagung dengan pola tanam secara monokultur dan tumpangsari. Penelitian ini dilaksanakan di kebun percobaan Kampus III Universitas Andalas, Sumatera Barat di bulan Desember 2024. Metode yang dilakukan dalam penelitian ini dengan cara pengamatan tanaman secara langsung dalam suatu lahan dengan menghitung insidensi penyakit pada lahan monokultur dan tumpangsari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyakit tanaman jagung yang ditumpangsari dengan tanaman kedelai dan lahan monokultur jagung yang diamati ditemukan penyakit yang menyerang antara lain penyakit hawar daun, karat daun, serta penyakit bercak daun. Insidensi penyakit hawar daun di lahan monokultur yaitu 100% dan pada lahan tumpangsari yaitu 83%. Pada penyakit karat daun, insidensi sebesar 45% di lahan monokultur, 30% di lahan tumpangsari. Intensitas penyakit bercak daun sebesar 10% di kedua lahan. Insidensi dan keparahan penyakit lebih besar di lahan monokultur dibandingkan dengan tumpangsari. Hal ini menunjukkan bahwa budidaya tanaman jagung lebih baik di lahan tumpangsari dibandingkan monokultur.
PENGARUH POC REBUNG BAMBU DAN PUPUK NPK 16-16-16 TERHADAP PERTUMBUHAN BIBIT KELAPA SAWIT (Elaeis guineensis Jacq.) DI PEMBIBITAN UTAMA Pardede, Fadel Muhammad Ramadhan
Jurnal AGROHITA: Jurnal Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan Vol 10, No 2 (2025): Jurnal Agrohita
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jap.v10i2.20580

Abstract

Penggunaan pupuk anorganik secara berlebihan dalam pembibitan kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.) dapat menurunkan kualitas lingkungan, sehingga diperlukan alternatif seperti pupuk organik cair (POC) rebung bambu yang mengandung zat pengatur tumbuh dan mikroorganisme bermanfaat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian POC rebung bambu dan pupuk NPK 16-16-16 terhadap pertumbuhan bibit kelapa sawit di pembibitan utama. Penelitian dilakukan di lahan percobaan Institut Teknologi Sawit Indonesia pada Februari–Mei 2025 menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktorial dua faktor, yaitu dosis POC (0, 100, 200, dan 300 ml/polibag) dan NPK (0, 5, 7,5, dan 10 g/polibag). Hasil penelitian menunjukkan bahwa POC rebung bambu secara tunggal tidak berpengaruh nyata terhadap parameter pertumbuhan, sedangkan NPK 16-16-16 berpengaruh nyata terhadap diameter batang, jumlah daun, serta berat basah dan kering tajuk dan akar, dengan hasil terbaik pada dosis 7,5 g/polibag. Interaksi POC dan NPK juga berpengaruh nyata terhadap jumlah daun dan berat basah tajuk, di mana kombinasi A2P2 (200 ml POC + 7,5 g NPK) menghasilkan pertumbuhan terbaik. Dengan demikian, kombinasi pupuk organik dan anorganik dapat meningkatkan efisiensi pemupukan dan menjadi strategi berkelanjutan dalam pembibitan kelapa sawit.