cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota medan,
Sumatera utara
INDONESIA
Jurnal Ibn Abbas
ISSN : -     EISSN : 26207885     DOI : -
Core Subject : Social,
JURNAL IBN ABBAS MERUPAKAN JURNAL PROGRAM STUDI MAGISTER ILMU ALQURAN DAN TAFSIR (S2) FAKULTAS USHULUDDIN DAN STUDI ISLAM YANG SECARA KOMPREHENSIF MENGKAJI BIDANG ALQURAN DAN ILMU-ILMU ALQURAN BERBASIS TURATS, ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI.
Arjuna Subject : -
Articles 7 Documents
Search results for , issue "VOL 5, NO 1 (2022): APRIL-SEPTEMBER" : 7 Documents clear
KEBANGKITAN DAN MAHSYAR PRESPEKTIF ALQURAN DAN HADIS Sri Ulfa Rahayu; Muhammad Akbar Rosyidi Datmi; Idris Siregar
Ibn Abbas : Jurnal Ilmu Alquran dan Tafsir VOL 5, NO 1 (2022): APRIL-SEPTEMBER
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Studi Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30821/jia.v5i1.12554

Abstract

abstrakhari kiamat adalah hari yang sudah ditentukan oleh Allah swt akan kejadiannya namun disembunyikan terhadap manusia hingga hari itu tiba. Serangkaian peristiwa yang terjadi setelah hari kiamat tiba diantaranya adalah hari kebangkitan dan berkumpulnya manusia di Padang Mahsyar. Hal tersebut adalah peristiwa-peristiwa gahibiyat yang wajib kita imani dan percaya sekarang. Dengan menggunakan metode kualitatif telaah pustaka, artikel ini menyajian data-data konkrit dari dalil-dalil alquran dan Sunnah akan kebenaran peristiwa hari kebangkitan dan berkumpulnya manusia di Padang Mahsyar.Keynote: kebangkitan, Mahsyar
TAFSIR JALÂL AL-DÎN AL-SUYÛTÎ & IBN JARÎR AL-TABARÎ PADA AL-MÂIDAH: 51 (Studi Tafsir Muqâran) komarudin komarudin
Ibn Abbas : Jurnal Ilmu Alquran dan Tafsir VOL 5, NO 1 (2022): APRIL-SEPTEMBER
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Studi Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30821/jia.v5i1.12555

Abstract

 Abstract  This article aims to reveal the interpretation of Jalaladdîn al-Suyûtî and Ibn Jarîr al-Tabarî about making Jews and Christians as leaders through their interpretation of the Qur'an in Surah al-Mâidah verse 51 and introduce the interpretation of muqāran. In fact, much literacy regarding to interpretations of al-Maidah verse 51 have been found, but among these literacy do not show the main source so that it feels far from substance. Helmy Zakaria for example, he wrote “VARIETY OF NETIZEN'SINTERPRETATIONS    ABOUT    NON-MUSLIM    LEADERS;    Study    on    theInterpretation of Surah al-Maidah verse 51 " This article is packaged using a qualitative method which is began by dissecting the works of al-Suyûtî and al-Tabarî; al-Dârr al-Mantsûr fî Tafsr al-Mantsûr and Jâmi' al-bayân fî Tawîl al-Qurân. Then it is compared, analyzed, and conluded. This article concludes that Ibn Jarîr al-Tabarî and Jalâluddîn al-Suyûtî condemned the prohibition of making Jews and Christians as guardians/meeting friends/leaders on the grounds of following qâ'idah al-Ashl fi al-Nahy li al-Tahrim  Keywords: al-Mâidah, al-Suyûtî, al-Tabarî, Leader, Jews, Christians
Analisis Terhadap Penafsiran Ahmad Hassan Tentang Azab Kubur dalam Tafsir Al-Furqan Husnel Anwar; Sugeng Wanto; Muslim Muslim
Ibn Abbas : Jurnal Ilmu Alquran dan Tafsir VOL 5, NO 1 (2022): APRIL-SEPTEMBER
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Studi Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30821/jia.v5i1.12559

Abstract

ABSTACTAhmad Hassan walaupun bukan orang pribumi Indonesia namun kontribusinya terkait bidang agama untuk nusantara ini sangatlah banyak. Diantaranya usahanya adalah bergerak mempelopori perbaikan kehidupan keislaman masyarakat. Tafsir al-Furqan adalah salah satu tafsir nusantara karya Ahmad Hassan yang terbit pada tahun 1928 dan di terima masyarakat dengan baik dan dengan antusias tinggi. Tafsir ini menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an menggunakan metode Ijmali /secara umum atau global.Inti dan pokok-pokok yang membangun ajaran Islam dikategorikan sebagai persoalan akidah yang memiliki konsekuensi-konsekuensi signifikan dalam kehidupan beragama seseorang. Di antara perkara akidah yang harus diyakini seorang muslim adalah berkaitan dengan azab kubur dan ia merupakan bagian dari keimanan dengan hari kiamat. Masalah yang akan dikaji dalam penelitian ini dipusatkan pada aspek akidah tentang azab kubur, bertujuan untuk menganalisa secara mendalam penafsiran Ahmad Hassan terhadap ayat-ayat yang berkaitan tentang  azab kubur dalam Tafsir al-Furqan.Penelitian ini merupakan jenis penelitian kualitatif dengan menggunakan pendekatan sejarah (historical approach). Metode pengumpulan data yang digunakan yaitu metode penelitian kepustakaan (library research). Penelitian ini dalam menganalisis data yang telah terkumpul dengan menggunakan analisis isi (content analysis).Hasil penelitian menunjukkan bahwa penafsiran Ahmad Hassan tentang azab kubur dalam Tafsir al-Furqan adalah Ahmad Hassan tidak meyakini adanya azab kubur. Ahmad Hassan mengatakan: Di dalam hadis-hadis ada disebut azab kubur dan nikmat kubur. Azab dan nikmat itu bukan sebenarnya, karena manusia tidak diberi nikmat atau disiksa sebelum pemeriksaan amal di hari kiamat. Ringkasnya, dari keterangan agama bahwa azab kubur dan nikmat kubur itu ialah gambaran azab dan nikmat yang dipertunjukkan kepada orang yang di dalam kubur. Ahmad Hassan memahami bahwa azab yang dijanjikan untuk orang-orang yang durhaka adalah azab di akhirat bukan di alam barzakh, siksaan hanya ada setelah hari pembalasan.Kata Kunci: Tafsir al-Furqan, Azab Kubur, Akidah, Muslim
Al-Qira’at Al-‘Ashrah: Sejarah, Kedudukan dan Karakteristiknya Ahmad Faizal Basri
Ibn Abbas : Jurnal Ilmu Alquran dan Tafsir VOL 5, NO 1 (2022): APRIL-SEPTEMBER
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Studi Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30821/jia.v5i1.12556

Abstract

الملخصالقراءات العشرة هي القراءات المتواترة ولوكانت الثلاثة الأخرى مختلفة على اطلاق صحتها يعني امام يعقوب (130-205) وامام خلف (150-227) وامام ابو جعفر (...-128) بل عند الرأي الصحيح صحتها بالمتواترة. هؤلاء العشرة متفقة بالقراءات المتواترة وإنّ الباقي متفق بالقراءات الشاذات. واذا يطلع التاريخي فيوجد البحث الدقيق بل كانت التعارض بين الناس وانما القراءات السبعة المتعلقة بسبعة احرف هى كلام خطاء لأن السبعة المضاف بالأحرف هي التيسير والتسهيل  لمشقة من قرأ بحرف واحد كالشيخ الكبير والعجوز والغلام. وانما القراءات تنمو بعد وجود المصحف العثماني هي متعلقة بوجه قراءة المصحف المتفق على تواتره ولكن ذالك المصحف عدم النطقة تتميز بين الراء والزاي مثلا وبين الحركات تتميز بين الفتحة والكسرة مثلا حتى توجد القراءات المختلفة ولكنه على كون الشرط الا تخالف خط مصاحف العثماني المتفقة والمروي بالرواية الصحيحة
Sighnifikansi Ayat Tentang Konsep Demokrasi di Indonesia dalam Qs. Ali Imran Ayat 159 (Pendekatan Pembacaan Kontekstual Nashr Hamid Abu Zayd) Nur Azizah; Khoirul Umami
Ibn Abbas : Jurnal Ilmu Alquran dan Tafsir VOL 5, NO 1 (2022): APRIL-SEPTEMBER
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Studi Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30821/jia.v5i1.12557

Abstract

ABSTACTPenelitian ini membahas mengenai sighnifikansi ayat tentang konsep demokrasi di Indonesia dalam QS. Al-Imra>n ayat 159 dengan melalui pendekatan pembacaan kontekstual Nas}r Hamid Abu Zayd. Cara kerja pendekatan tersebut yaitu lebih menekankan pada asba>b al-nuzul dengan melihat permasalahan dari sudut pandang yang lebih luas, yaitu dengan leseluruhan konteks sosial-historis (mujmal al-siya>q al-tarikh al-ijtima’i) turunnya wahyu. Di sisi lain juga membuat perbedaan antara makna historis (al-dala>la>t al-tarikhiyyat) yang diperoleh dari suatu konteks pada satu sisi serta sighnifikansi (al-maghza) yang di indikasikan oleh makna dalam konteks sosio-historis penafsiran pada sisi yang lain. Karenanya, dengan menggunakan pendekatan ini peneliti mengharapkan dapat mengetahui sighnifikansi mengenai konsep demokrasi dalam ayat tersebut, sebab mengingat bahwa inti daripada ayatnya hanya berbicara mengenai syura, sementara kata demokrasi sendiri tidak disebut secara ekplisit. Pada kesimpulannya, konsep syura yang terdapat dalam ayat tersebut memiki relasi dengan konsep demokrasi, meskipun secara historis ayat tersebut kaitannya erat dengan peristiwa perang badar, tetapi implikasinya terhadap pemerintahan memiliki posisi daan peran yang utama dan terpenting seperti perihal strategi dalam sebuah pemerintahan untuk kemaslahatan umat (musyawarah).Kata Kunci: Sighnifikansi, Konsep Demokrasi, Pembacaan Kontekstual, Nas}r Hamid Abu Zayd.
Penerjemahan Al-Qur’an ke dalam Bahasa Nusantara (Telaah terhadap larangan Penerjemahan Al-Qur’an dalam Naskah Sayyid Usman dan Abdul Hamid) Muhammad Roihan Nasution; Nuraisah Simamora; Bayu Satria Damanik
Ibn Abbas : Jurnal Ilmu Alquran dan Tafsir VOL 5, NO 1 (2022): APRIL-SEPTEMBER
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Studi Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30821/jia.v5i1.12558

Abstract

ABSTRAKAl-Qur’an adalah kitab suci umat Islam yang menggunakan bahasa Arab sebagai medianya, dalam sejarah Islam telah tercatat bahwa agama Islam menyebar ke berbagai penjuru dunia, tetapi ketika Islam menyebar ke berbagai wilayah yang mana wilayah-wilayah tersebut memiliki bahasa daerah masing-masing. Maka dari itu kebutuhan akan penerjemahan Al-Qur’an memang dirasakan sangat penting sebagai upaya agar umat Islam dapat memahami dan mengamalkan ajaran yang terdapat di dalam Al-Qur’an. Meskipun penerjemahan Al-Qur’an sangat dibutuhkan tetapi dalam prosesnya tidak semulus yang dibayangkan, di Indonesia sendiri terdapat berbagai macam polemik tentang kebolehan dan larangan dalam penerjemahan Al-Qur’an. Adapun beberapa ulama nusantara yang melarang penerjemahan Al-Qur’an di antaranya adalah Sayyid Usman dan Abdul Hamid.Penelitian ini merupakan jenis penelitian kualitatif dengan menggunakan pendekatan sejarah (historical approach). Metode pengumpulan data yang digunakan yaitu metode penelitian kepustakaan (library research). Sedangkan metode analisis data yang digunakan adalah metode analisis deksriptif melalui pendekatan filologi dengan mengkaji naskah-naskah lama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat larangan dalam penerjemahan Al-Qur’an dengan menelaah naskah Sayyid Usman dan Abdul Hamid. Menurut Sayyid Usman dalam naskahnya “Hukm al-Rahmân bi al-Nahyi ‘an Tarjamat al-Qur`ân” bahwa untuk mengambil hukum langsung dari Al-Qur’an dengan cara diterjemahkan seseorang tidak akan mampu melakukannya karena syarat dan rukunnya yang sangat berat, tetapi menurut beliau dalam memahami Al-Qur’an harus bersandar pada mazhab-mazhab hukum serta mengambil anutan dari ulama salaf. Sedangkan menurut Abdul Hamid dalam naskahnya “Tuhfat al-Mardhiyah fatwa fii jawaaz tafsir Al-Qur’an bi al-‘Ajamiyah” memahami bahwa, terjemahan itu mengganti lafaz Al-Qur’an dengan makna terjemahan tanpa mencantumkan ayat yang diterjemahkan, maka itu akan menghilangkan kemukjizatan Al-Qur’an yang terletak pada ayatnya bukan pada maknanya.Pemikiran Sayyid Usman dan Abdul Hamid dalam melarang penerjemahan Al-Qur’an bahwa kedua ulama ini, sangat berhati-hati dalam penerjemahan Al-Qur’an disebabkan karena Al-Qur’an adalah pedoman hidup bagi umat Islam, maka jika seorang mutarjim memberikan makna yang tidak sesuai dengan bahasa yang ada di dalam Al-Qur’an, maka itu adalah sebuah kesesatan. Kata kunci: Penerjemahan Al-Qur’an, Sayyid Usman, Abdul Hamid, Perspektif.
Pemikiran Fazlur Rahman Tentang Eskatologi Abdul Fatah
Ibn Abbas : Jurnal Ilmu Alquran dan Tafsir VOL 5, NO 1 (2022): APRIL-SEPTEMBER
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Studi Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Studi tentang alam metafisika merupakan salah satu kajian yang rumit dan kaku. Dalam keyakinan Islam, kehidupan setelah kematian menjadi semacam suatu doktrin. Iman terhadap hal-hal gaib yang berkaitan erat dengan kehidupan akhirat adalah wajib. Persoalan mengenai kehidupan pasca kematian, alam barzakh, perhitungan amal dan hari pembalasan yang ditutup dengan hari akhir selalu terbuka untuk dikaji lebih dalam di era sekarang. Fazlur Rahman mencoba melihat eskatologi dari perspektif berbeda yang dikaitkan langsung dengan al-Qur’an. Karena pentingnya, Ia menjadikannya sebagai kajian tersendiri dalam satu tema penting bukunya, Major Themes of The Quran. Sehingga, eskatologi menjadi satu keilmuan penting untuk dikaji sebagai bekal muslim untuk mencapai tujuan hakiki, berupa kebahagiaan abadi di akhirat.Kata Kunci: Eskatologi, Pemikiran, Metafisika, Fazlur Rahman.

Page 1 of 1 | Total Record : 7