JURNAL PENDIDIKAN TAMBUSAI
Jurnal Pendidikan Tambusai is Jurnal Electronic which contains the results of research and literature studies related to the field of education, including; regulation of education, learning activities, learning strategies, teacher professionalism, students, education and education personnel, issues of educational institutions, educational environment and parenting.
Articles
26,490 Documents
Makna Mangulosi dalam Pernikahan Batak Toba: Kajian Wacana Kritis
Sinulingga, Jekmen;
Simarmata, Tioara Monika;
Tampubolon, Juwita Paramita
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 2 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Analisis terhadap tradisi mangulosi dalam pernikahan Batak Toba menyoroti ketaatan beragama dan sikap masyarakat Batak Toba terhadap tradisi tersebut. Bagi mereka, mangulosi bukan sekedar wali upacara, tapi juga bagian penting dari identitas keagamaan mereka. Tradisi ini disajikan secara ringan dan dipahami sebagai ungkapan cinta dan pengabdian. Selain itu, mangulosi juga menghilangkan nilai-nilai seperti kesetiaan, kerjasama tim, dan kepentingan diri sendiri dalam hubungan interpersonal dan komunitas. Permasalahan utama yang diangkat dalam penelitian ini antara lain pentingnya pemahaman tradisi mangulosi, dampak pelaksanaan ritual terhadap hubungan keluarga, dan nilai-nilai keagamaan yang terkandung dalam ritual yang dimaksud. Dalam analisis ini, kami juga menggunakan teknik berpikir kritis untuk menyelidiki aspek signifikansi keagamaan, perspektif partisipasi, dinamika keluarga, dan perubahan sosial terkait kepercayaan tradisional dalam pernikahan Batak Toba. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mangulosi merupakan tradisi yang dilestarikan dengan baik dari nenek moyang. Ini merupakan bagian penting dalam persiapan pernikahan Batak Toba di Desa Hatoguan, Kecamatan Palipi, Kabupaten Samosir. Tradisi ini dilakukan setelah upacara pemakaman orang yang meninggal. Sebelum memasuki tahap mangulosi, acara diawali dengan penandatanganan kedua utusan dari masing-masing kedua pihak atau dengan menggunakan hukum kuno yang dikenal dengan Raja Parhata. Penyambutan ini dilakukan dengan menggunakan bahasa Batak Toba yang berisi ucapan salam dari keluarga pria dan ucapan terima kasih dari kelompok wanita kepada keluarga pria karena dianggap mempunyai rasa kesetiaan dan persahabatan yang kuat. Setelah itu, ada “jambar” (upacara inisiasi daging dimana anggota keluarga pria diperkenalkan kepada wanita. Setelah itu, ritual ini dilakukan dengan mangulosi, yaitu yang lebih tua memberikan yang lebih muda sebagai tanda hormat dan tetua memberikan sisanya kepada kedua tetua.
Makna Ulos Saput dalam Upacara Kematian Adat Batak Toba di Kecamatan Palipi : Kajian Semiotika
Sinulingga, Jekmen;
Simarmata, Tioara Monika;
Tampubolon, Juwita Paramita
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 2 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan identitas suku Batak Ulos Toba, yang menggunakan ulos dalam semua upacara adat mereka. Studi ini berfokus pada Ulos Saput, yang digunakan dalam upacara kematian di wilayah Palipi, dan meminta generasi milenial untuk memperhatikan budaya mereka. Penelitian semiotika menggunakan data langsung dari lapangan. Penulis menggunakan pendekatan Charles Sanders Pierce untuk menganalisis makna semiotika Ulos Saput. Seperti yang ditunjukkan oleh hasil penelitian, jalan-jalan tidak lepas dari kehidupan suku Batak Toba di Kecamatan Palipi. Dalam upacara kematian Batak Toba, ulos saput digunakan untuk menutupi jenazah hingga liang kubur. Di wilayah Palipi, Ulos Saput mengandung nilai-nilai keberkahan, kasih sayang, rasa hormat, iman, dan harapan. Ulos Saput juga merupakan nilai-nilai luhur dan tradisi yang dihormati dan dihormati oleh masyarakat Batak Toba dan merupakan penanda identitas budaya yang membedakan mereka dari suku lain di Indonesia.
Analisis Wacana Konteks dalam Upacara Mambosuri pada Etnik Batak Toba
Sinulingga, Jekmen;
Sinaga, Boy Dapot Ganda Tua;
Sitinjak, Willy Panahatan
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 2 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Pada etnis batak toba ada banyak sekali upacara adat yang dapat kita temukan, salah satunya yaitu upacara mambosuri. tradisi Mambosuri adalah upacara adat saat hamil yang masih sering dilakukan dalam tradisi Batak Toba. Istilah Mambosuri 'membuat kenyang' adalah ritual pemberian makanan kepada orang tua istri kepada calon ibu yang kandungannya telah memasuki usia tujuh bulan. Secara simbolis, tradisi ini memberi makna untuk menjaga kesehatan dan keselamatan calon ibu dan bayi yang dikandungnya, serta anggota keluarga lainnya yang ditampilkan dalam berbagai upacara adat. Penelitian ini bermaksud untuk memaparkan unsur unsur konteks wacana yang terdapat pada upacara mambosuri dalam adat batak toba. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif. Metode ini adalah metode yang berfokus pada pengamatan yang lebih mendalam. Sehingga penggunaan metode kualitatif pada penelitian ini dapat memperoleh kajian dari suatu fenomena yang lebih komprehensif. Penelitian kualitatif yang megamati humanisme atau individu manusia dan kebiasaan perilaku manusia adalah hasil kesadran bahwa semua akibat Tindakan manusia berpengaruh pada aspek aspek internal individu. Adapun aspeknya yaitu seperti kepercayaan, pandangan politik dan latar belakang sosial dari individu yang terlibat. Pada penelitian ini mengunakan teori yang dikemukakan oleh Dell Hymes. Dell Hymes merupakan seorang ahli Bahasa dan antropologi yang terkenal karena kontribusinya terhadap teori Bahasa dan teori konteks sosial yang terkait dengan Bahasa. Dell mengemukakan salah satu teori yang banyak digunakan sampai saat ini yaitu teori konteks yang dikenal dengan SPEAKING, (Sudarsono, 2023) SPEAKING berfungsi sebagai kajian untuk memperluas konsep Bahasa menjadi konsep yang lebih menyeluruh dan lebih luas. Hasil dari penelitian ini yaitu adanya delapan unsur unsur konteks wacana yang terdapat dalam upacara mambosuri dalam adat batak toba . Adapun unsur unsur konteks wacana tersebut yaitu latar (setting), peserta (participants), hasil (end), rangkaian tindakan (Act), cara (key), alat (Instrumentalities), norma (norms), jenis (genre).
Konteks Upacara Maholi dalam Etnik Batak Toba
Sinulingga, Jekmen;
Hutajulu, Bella Angelica Br;
Nurbi, Nurbi
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 2 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Penelitian ini menganalisis konteks Upacara Maholi dalam Etnik Batak Toba. Selain itu, penelitian ini bertujuan membahas lebih dalam proses dan makna tersirat dalam Upacara Maholi dalam Etnik Batak Toba. Upacara Maholi merupakan salah satu ritual adat dalam pernikahan Batak Toba dan memiliki sakral dan penting dalam kehidupan masyarakat etnik Batak Toba. Penelitian ini menyoroti tujuan, proses, dan makna budaya dari upacara Maholi sebagai bagian tak terpisahkan dari identitas masyarakat Batak Toba. Penelitian ini menggunakan Teori Dell Hymes serta melibatkan wawancara mendalam dengan tokoh adat dan anggota masyarakat Batak Toba yang terlibat dalam pelaksanaan upacara Maholi. Penelitian ini akan mengungkapkan makna budaya yang terkandung dalam setiap tahapan upacara Maholi, termasuk simbol-simbol, makna, dan aturan yang dijunjung tinggi oleh masyarakat Batak Toba. Dengan memahami makna budaya dari upacara Maholi, penelitian ini diharapkan dapat memberikan wawasan dan pengetahuan yang bermanfaat serta turut menjaga keberlangsungan warisan budaya suku Batak Toba. Dalam era kemajuan zaman dan globalisasi saat ini, penelitian ini juga bertujuan untuk memberikan pemahaman yang mendalam tentang upacara Maholi dalam konteks budaya suku Batak Toba, sekaligus memperkaya literatur mengenai keragaman budaya di Indonesia.
Konteks Upacara Erdemu Bayu dalam Etnik Batak Karo
Sinulingga, Jekmen;
Sinulingga, Theresia Margaretta;
Hutauruk, Yesika
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 2 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Upacara adat Erdemu Bayu merupakan bagian penting dari tradisi etnik Batak Karo di Indonesia. Erdemu Bayu merupakan upacara perkawinan dalam suku batak karo. Upacara ini memiliki nilai yang mendalam dan menjadi landasan bagi sistem sosial di kehidupan masyarakat Batak Karo dan mencerminkan kekayaan budaya mereka. Studi analisis wacana Batak terhadap upacara ini memberikan pemahaman yang dalam tentang makna simbolik, nilai budaya, dan peran sosial dari upacara adat ini. Melalui analisis wacana, dapat dipelajari bagaimana simbol-simbol dalam upacara ini menggambarkan hubungan antara manusia, alam, dan roh leluhur. Simbol-simbol seperti tarian, pakaian adat, dan persembahan memiliki makna mendalam yang menghubungkan masyarakat Batak Karo dengan warisan leluhur dan alam sekitar. Analisis wacana Batak juga mengungkapkan nilai budaya yang terkandung dalam upacara Erdemu Bayu. Nilai-nilai seperti kebersamaan, kejujuran, dan keterhubungan dengan alam menjadi bagian integral dari upacara ini. Seperti pengendesen luah yang melibatkan sistem kekerabatan yang terdiri dari 3 kelompok yaitu senina,kalimbubu, dan anak beru . Selain itu, dimensi spiritualitas dalam upacara ini juga tercermin melalui doa, mantra, dan praktik keagamaan yang dilakukan selama acara.
Kajian Masakan Khas Batak Toba Naniura dari Sudut Pandang Semiotik Sosial
Sinulingga, Jekmen;
Sitinjak, Ornelia;
Sinaga, Angelica
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 2 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Penelitian ini berjudul kajian masakan khas batak toba naniura dari sudut pandang semiotik sosial. Naniura, yang popular sebegai hidangan ikan mentah yang dimarinasi dengan asam dan bumbu-bumbu tradisional tanpa proses memasak dengan panas, mempunyai makna dan simbolisme yang mendalam dalam budaya batak toba. Penelitian ini merumuskan apa saja bahan yang digunakan dalam memasak naniura, apa saja fungsi bahan tersebut, apa saja makan ikan naniura dalam acara adat batak toba, dan apa saja fungsi ikan naniura. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan semiotik sosial, yaitu Ferdinand Se Sausure. Teori f.d sausure membahas tentang tanda- tanda. Metodologi penelitian ini juga melibatkan analisis deskriptif kualitatif terhadap berbagai sumber, termasuk literatur, observasi, wawancara dengan para ahli kuliner tradisi batak, dan pengamatan langsung dalam acara-acara adat dan ritual di mana naniura disajikan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa naniura tidak hanya merupakan bagian integral dari budaya kuliner budaya batak toba, tetapi juga berperan dalam memperkuat ikatan sosial dan tradisi komunitas. Simbolis untuk penggunaaan bahan-bahan seperti andaliman, asam, dan rempah-rempah tradisional serta metode persiapan yang melibatkan ritus tertentu, menjelaskan hubungan yang mendalam antara masakan dan nilai dari budya. Dalam penelitian ini menjelaskan pemahaman tentang bagaimana makanan tradisional dapat digunakan sebagai wadah untuk mempertahankan warisan budaya dan bagaimana simbolisme yang ada di dalam masakan dapat merefleksikan struktur sosial dan dinamika komunitas. Hasil dari penelitian ini semoga dapat meningkatkan wawasan bagi orang-orang, terlebih bagi studi lintas budaya.
Status Sosial dalam Rumah Adat Siwaluh Jabu Batak Karo
Sinulingga, Jekmen;
Sitepu, Natanael;
Siregar, Slamet Halomoan
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 2 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Rumah adat siwaluh jabu merupakan salah satu rumah adat yang ada dalam etnis atau suku batak karo, rumah adat tersebut biasanya dihuni oleh 8 keluarga, seperti namanya rumah siwaluh jabu yang berarti delapan ruangan, rumah adat ini terdiri dari 8 ruangan atau jabu yang dihuni berdasarkan aturan yang sudah ditetapkan, rumah adat ini sangat erat dengan hubungan atau interaksi sosialnya yang sangat tertata rapi sehingga dapat menciptakan hubungan sosial yang sulit untuk diterapkan, rumah adat ini biasanya tidak memiliki kamar dan semua anggota keluarga tidur di bagian jabu atau ruangan tanpa penyekat atau dinding, tetapi khusus untuk tempat tidur ayah dan ibu diberi penyekat berupa kain panjang yang biasanya bisa dilepas. Karena ruangan di dalam rumah adat ini tidak memiliki kamar, maka dari itu setiap keluarga memiliki satu ruangan untuk menyimpan harta benda mereka, ruangan tersebut mirip seperti gudang untuk menyimpan barang berharga. di dalam kasus ini peneliti menganalisis bagaimana status sosial didalam rumah siwaluh jabu dan bagaimana jika terjadi permasalahan di dalam rumah adat siwaluh jabu ini.
Peranan Gordang Sambilan sebagai Musik Pengiring dalam Upacara Horja Godang Mandailing
Sinulingga, Jekmen;
Nst, Nia Masniari;
Harahap, Cory Amelia
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 2 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Penelitian ini mengeksplorasi peranan gordang sambilan sebagai musik pengiring dalam upacara adat horja godang Mandailing. Gordang sambilan, yang terdiri dari sembilan gendang dengan ukuran berbeda, biasanya dimainkan sebagai musik pengiring pada rangkaian upacara horja godang. Horja godang merupakan upacara perkawinan bagi keturunan raja-raja Mandailing Julu ( kini disebut Kotanopan) dalam adat Mandailing. Melalui metode kualitatif yang melibatkan observasi, wawancara, serta analisis literatur terkait, penelitian ini mengungkapkan bahwa gordang sambilan tidak hanya berfungsi sebagai hiburan tetapi juga memiliki makna simbolis yang mendalam dalam konteks budaya dan spiritual. Musik yang dihasilkan dari gordang sambilan diyakini mampu menghubungkan dunia manusia dengan alam gaib, memperkuat solidaritas komunitas, serta meneguhkan identitas budaya Mandailing. Hasil penelitian ini menegaskan pentingnya pelestarian gordang sambilan dalam menghadapi arus modernisasi dan globalisasi yang dapat mengancam keberlanjutan tradisi ini.
Peran Pemuda dalam Meningkatkan Partisipasi Politik pada Pemilu Tahun 2024 di Desa Sampali Dusun 21 Kecamatan Percut Sei Tuan
Pasaribu, Nopi Yanti Ar Rahma;
Tarigan, Fandy Franata;
Sembiring, Putri Juliani Br;
Ivanna, Julia
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 2 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran pemuda dalam meningkatkan partisipasi politik pada Pemilu 2024 di Desa Sampali Dusun 21. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan analisis dokumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemuda di Desa Sampali Dusun 21 secara aktif terlibat dalam memperjuangkan isu-isu politik yang penting bagi masyarakat Indonesia. Mereka turut serta dalam menyuarakan Pemilu 2024 dan mengambil berbagai peran di Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) serta panitia penyelenggara (PPS, PPK, KPPS, dan KPU). Selain itu, mereka juga menggunakan berbagai platform media sosial untuk menyuarakan isu-isu terkait Pemilu. Ini menunjukkan bahwa pemuda di Desa Sampali Dusun 21 masih memiliki kepedulian terhadap proses demokrasi yang terjadi pada Pemilu serentak tahun 2024.
Analisis Akibat Hukum Wanprestasi Ingkar Janji Sengketa Tanah Berdasarkan Putusan Nomor 5/PDT.G/2023/PN BJR
Yankusy, Abror Jilan;
Rahman, Facthur;
Farhan, Fien Naufal Zaim;
Tarina, Dwi Desi Yayi
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 2 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis wanprestasi kasus sengketa tanah berdasarkan putusan Nomor 5/Pdt.G/2023/PN Bjr serta akibat hukumnya dan untuk mengetahui bagaimana proses penjatuhan putusan termasuk didalamnya mengenai pertimbangan hakim dalam menjatuhkan putusan perkara tersebut. Dalam menganalisis, penelitian ini menggunakan metode penelitian yuridis normatif, yaitu menggunakan teknik pengumpulan data melalui studi pustaka dengan menggunakan data sekunder. Dalam analisisnya, penelitian ini menggunakan teknik analisis deskriptif kualitatif dengan menggunakan deskripsi kajian pada peraturan perundang-undangan yang berlaku, yang selanjutnya dikaitkan dengan praktik dan teori-teori hukum. Sedangkan pada teknik pengumpulan data, penelitian ini menggunakan kajian literatur pada data sekunder yang berkaitan dengan masalah yang akan diteliti serta menggunakan hasil pada studi dokumen pada data yang diteliti. Sehingga, hasil dari penelitian ini diketahui bahwa terdapat proses putusan berdasarkan pertimbangan hakim dalam memutuskan perkara perdata pada kasus ini. Pertimbangan tersebut didasarkan pada fungsi hukum melalui ketetapan hukum dan manfaat serta keadilan hukum yang mengikutinya. Dalam putusan Mahkamah Agung Nomor 5/Pdt.G/2023/PN Bjr diketahui bahwa wanprestasi yang terjadi dapat mengakibatkan sengketa yang mendasari adanya putusan-putusan yang bersifat normatif sehingga dapat digunakan untuk memenuhi perlindungan dan penegakan hukum bagi pihak-pihak terkait. keterbaruan analisis dalam penelitian ini diharapkan dapat menjadi rujukan mengenai putusan hukum serupa yang berkaitan dengan kajian mengenai wanprestasi beserta proses hukum yang mengikutinya.