cover
Contact Name
I Gusti Ayu Apsari Hadi
Contact Email
apsari.hadi@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
apsari.hadi@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan Undiksha
ISSN : 25992694     EISSN : 25992686     DOI : -
Core Subject : Education, Social,
Jurnal Jurusan Pendidikan Kewarganegaraan Undiksha adalah jurnal ilmiah yang diterbitkan oleh Jurusan Pendidikan Kewarganegaraan, Fakultas Hukum dan Ilmu Sosial, Universitas Pendidikan Ganesha. Jurnal ini bertujuan untuk mewadahi artikel-artikel hasil penelitian dan hasil pengabdian masyarakat dibidang pendidikan dan sosial pembelajaran. Pada akhirnya Jurnal ini dapat memberikan deskripsi tentang perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang pendidikan kewarganegaraan bagi masyarakat akademik. Jurnal ini terbit 3 kali setahun.
Arjuna Subject : -
Articles 896 Documents
DAMPAK PERKAWINAN DI BAWAH UMUR DITINJAU DARI HUKUM ADAT BALI DI DESA KAMASAN, KECAMATAN KLUNGKUNG, KABUPATEN KLUNGKUNG I MADE JUNIARTA
Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan Undiksha Vol. 1 No. 2 (2013): Mei
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpku.v1i2.403

Abstract

ABSTRAKSecara umum perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami istri untuk membentuk keluarga yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Untuk dapat melangsungkan perkawinan yang bahagia dan kekal, menurut undang-undang perkawinan nomor 1 tahun 1974 pasal 2 ayat (1), “sah atau tidak suatu perkawinan ditentukan oleh hukum agamanya dan kepercayaan masing-masing. Selain itu didalam undang-undang nomor 1 tahun 1974 telah dengan tegas menentukan umur seseorang untuk dapat melangsungkan perkawinan, karena perkawinan juga mempunyai hubungan erat dengan masalah kependudukan, ternyata makin muda seseorang menikah, laju kelahiran akan bertambah tinggi secara biologis perkawinan usia muda lebih menyuburkan, akibatnya pertambahan penduduk yang meledak, belum lagi masalah kesehatan, perumahan, makanan dan lapangan pekerjaan. Soal umur dalam perkawinan, bukan semata-mata urusan peraturan undang-undang yang mengaturnya, yang lebih mendasar adalah peran keluarga dan masyarakat. Agar tidak terjadi perkawinan di bawah umur, undang-undang perkawinan telah menentukan umur seseorang untuk dapat melangsungkan perkawinan, namun dalam hukum adat tidak menentukan secara tegas umur seseorang untuk dapat melakukan perkawinan, hanya ada suatu patokan saja, tetapi tetap menjunjung tinggi dan mendukung adanya undang-undang yang berlaku. Dengan demikian penelitian ini bertujuan untuk (1) Mengetahui faktor yang menyebabkan terjadinnya perkawinan di bawah umur di Desa Kamasan, Kecamatan Klungkung, Kabupaten Klungkung (2) Mengetahui dampak hukum perkawinan di bawah umur ditinjau dari hukum adat Bali. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskripsi kualitatif. Penentuan subjek dalam penelitian ini menggunakan teknik Purposive Sampling, dan yang menjadi subjek penelitian yaitu : (1) kepala desa, (2) bendesa adat, (3) kelian dines serta tokoh-tokoh masyarakat yang mengerti tentang perkawinan di lingkungan Desa Kamasan. Pengumpulan data dalam penelitian ini berupa: 1) metode wawancara; 2) metode observasi; 3) metode dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis data deskriptif kulitatif. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa: (1) penyebab perkawinan di bawah umur dalam masyarakat adalah akibat terjadinya kehamilan si wanita, yang disebabkan oleh pegaulan bebas seperti kumpul kebo, seks bebas dan lain sebagainya. Guna menghindari lahirnya anak yang tidak sah terpaksa anaknya dikawinakan belum cukup umur untuk menghindari aib yang menimpa; (2) Perkawinan merupakan suatu hal yang paling penting dalam kehidupan manusia dalam hal menurunkan keturunan yang sah, perkawinan merupakan suatu jalan untuk meringankan atau melepaskan derita orang tua atau leluhur setelah meninggal. Suatu perkawinan telah dianggap selesai setelah dilaksanakan upacara mabyakala. Sebelum dilaksanakan upacara tersebut perkawinan belum mempunyai akibat hukum, adanya akibat hukum ini penting sekali hubungannya dengan sahnya perbuatan hukum itu. Suatu perkawinan yang menurut hukum dianggap tidak sah, maka anak yang dilahirkan dari perkawinan tersebut adalah anak yang tidak sah.Kata Kunci: Perkawinan di bawah umur
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN PBL BERBANTUAN POWER POINT UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR PKN NI WAYAN WIDYA YANTI
Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan Undiksha Vol. 1 No. 2 (2013): Mei
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpku.v1i2.404

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar siswa dengan penerapan model pembelajaran PBL berbantuan power point. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas XI IPS SMA Bhaktiyasa Singaraja tahun pelajaran 2012/2013. Data hasil belajar diperoleh dari tes akhir Siklus yang dianalisis dengan metode deskriptif kuantitatif dan untuk hambatan-hambatan yang ditemui dalam penelitian dianalisis dengan metode deskriptif kualitatif. Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas yang dilakukan dalam dua Siklus pembelajaran dengan tahapan meliputi perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, observasi/evaluasi tindakan, dan refleksi. Hasil penelitian menunjukan adanya peningkatan hasil belajar siswa yaitu dari 75,90 dengan ketuntasan klasikal 54% pada Siklus I menjadi 81,13 dengan ketuntasan klasikal 100% pada siklus II, hambatan-hambatan yang ditemui dalam proses pembelajaran yaitu siswa belum sepenuhnya dapat mengikuti model pembelajaran yang diterapkan, fasilitas yang masih terbatas untuk penggunaan media power point di SMA Bhaktiyasa Singaraja, alokasi waktu yang terbatas untuk setiap pertemuan, keterbatasan buku penunjang yang dimiliki siswa, adapun solusi yang dapat diberikan untuk mengatasi hambatan-hambatan tersebut yaitu menekankan kembali langkah-langkah pembelajaran yang diterapkan, menyusun jadwal untuk penggunaan ruangan multimedia, menyusun RPP dengan baik, dan setiap akhir pertemuan guru memberikan siswa tugas untuk mencari materi di internet maupun buku penunjang lainnya.Kata Kunci: Model pembelajaran problem based learning, media power point, Hasil belajar.
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN DISCOVERY LEARNING UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR PKN SISWA Ni Luh Rismayani
Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan Undiksha Vol. 1 No. 2 (2013): Mei
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpku.v1i2.405

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar PKn siswa kelas X4 SMA Negeri 1 Sukasada melalui penerapan model pembelajaran discovery learning. Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas yang dilakukan dengan dua siklus yang terdiri dari tahap perencanaan, pelaksanaan, observasi atau evaluasi dan refleksi yang dilakukan di setiap siklus. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas X4 SMA Negeri 1 Sukasada yang berjumlah 24 orang. Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan metode observasi, wawancara, dan tes hasil belajar. Data yang diperoleh melalui metode observasi dan wawancara dianalisis dengan teknik deskriptif-kualitatif sedangkan data yang diperoleh melalui tes hasil belajar dianalisis dengan teknik deskriptif-kuantitatif. Hasil penelitian ini menunjukkan peningkatan rata-rata hasil belajar siklus I ke siklus II sebesar 9,2%. Peningkatan ketuntasan klasikal siklus I ke siklus II sebesar 33,4%. Kendala yang dihadapi dalam penerapan model discovery learning yaitu siswa belum terbiasa dengan penerapan model discovery learning sehingga sangat sulit bagi guru untuk mengeksplorasi respon-respon siswa. Solusi yang dilakukan adalah memberikan permasalahan di awal pertemuan supaya siswa membaca dan menemukan sendiri pemecahan masalah dalam buku atau sumber belajar yang dia milikiKata Kunci: Discovery learning, Hasil Belajar PKn.
EKSISTENSI HUKUM ADAT DALAM MENJAGA KEHARMONISAN MASYARAKAT BALI (Penerapan Pararem di Desa Pakraman Jumpai, Kecamatan Klungkung, Kabupaten Klungkung) I Made Mardika
Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan Undiksha Vol. 1 No. 2 (2013): Mei
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpku.v1i2.406

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini bertujuan (1) Untuk mengetahui hal-hal apa saja yang melatarbelakangi Warga Desa Pakraman Jumpai membuat pararem, (2) Untuk mengetahui efektivitas penerapan pararem di Desa Pakraman Jumpai.Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif berbentuk deskriptif. Lokasi penelitian dilakukan di Desa Pakraman Jumpai. Penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling dalam menentukan subyek penelitian. Adapun subyek dalam penelitian ini adalah Prajuru Desa Pakraman Jumpai dan Masyarakat Desa Pakraman Jumpai. Metode pengumpulan data menggunakan metode observasi, metode pencatatan dokumen, metode wawancara sebagai metode yang utama, dan metode kuisioner sebagai data komplementer, sedangkan dalam mengolah data dilakukan secara kualitatif.Hasil penelitian menunjukkan, (1) Warga Desa Pakraman Jumpai membuat pararem dilatarbelakangi karena sering terjadi tindakan kekerasan, keonaran, perkelahian, serta konflik yang dilakukan oleh warga Desa Pakraman Jumpai. Tidak jarang konflik yang terjadi meluas menjadi konflik adat yang melibatkan desa pakraman dan atau banjar adat. Sebagai rekasi dari peristiwa tersebut, maka dalam Paruman/Rapat Desa Pakraman Jumpai pada tanggal 2 November 2007 disepakati dan disahkan pararem yang mengatur masalah kekerasan, perkelahian, konflik dan perilaku menyimpang lainnya. (2) Penerapan pararem di Desa Pakraman Jumpai sudah efektif. Hal ini dapat dilihat dari substansi pararem yang sudah disesuaikan dengan perubahan masyarakat saat ini, sehingga dapat menyentuh kehidupan masyarakat. Dilihat dari penegakkannya, para Prajuru Desa Pakraman Jumpai yang dibantu Pecalang sudah menjalankannya dengan bijak dan adil. Kemudian dilihat dari dukungan masyarakatnya, kesedaran akan pararem ini telah dijalankan dan dipatuhi dengan baik oleh masyarakat. Indikasi yang membuktikannya adalah intensitas kekerasan, perkelahian, konflik dan perilaku menyimpang lainnya yang signifikan berkurang.Kata Kunci : Konflik, Efektivitas Pararem
PERGESERAN FUNGSI DAN PERANAN PECALANG TERHADAP PELAKSANAAN SWADHARMANYA DALAM DESA ADAT (Studi Kasus di Desa Adat Besakih, Kecamatan Rendang, Kabupaten Karangasem) I Wayan Gede Suarnata
Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan Undiksha Vol. 1 No. 2 (2013): Mei
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpku.v1i2.407

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini dilaksanakan pada lingkungan Desa Adat Besakih yang bertujuan untuk mengetahui (1) terjadi pergeseran fungsi dan peranan pecalang di Desa Adat Besakih, (2) dampak dari terjadinya pergeseran fungsi dan peranan pecalang terhadap masyarakat Desa Adat maupun Desa Dinas. Subyek penelitian ini adalah: Masyarakat Desa Adat Besakih yang meliputi: Perbekel Desa Besakih, kelihan adat, ketua pecalang Desa Adat, anggota masyarakat yang menjadi anggota pecalang Desa Adat. Penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif dan pengumpulan data menggunakan teknik observasi, wawancara, dan pencatatan dokumen. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan analisis data kualitatif, yaitu sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskripsi berupa kata-kata tertulis dan lisan dari orang-orang dan perilaku yang teramati. Secara keseluruhan proses analisis data dalam penelitian akan dilakukan dengan langkah-langkah secara siklus yaitu: pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, pengambilan keputusan. Hasil penelitian ini adalah: (1) terjadi pergeseran fungsi dan peranan pecalang, karena adanya tiga faktor yang mempengaruhi yaitu faktor pertama petugas pembantu pemungut distribusi dibawah tim penataan dan pengawasan pura agung Besakih, kedua bertugas untuk mengatur keamanan dan ketertiban kendaraan bermotor yang berada diterminal, ketiga mengatur ketertiban harus wisatawan. (2) dampak dari terjadinya pergeseran fungsi dan peranan pecalang terhadap masyarakat Desa Adat yaitu dilihat dari segi pencitraan artinya citra Desa Adat Besakih terangkat dengan pecalang mengalami pergeseran fungsi dan peranan di Desa Adat Besakih sedangkan untuk Desa Dinas tidak begitu merasakan adanya dampak yang signifikan, karena Desa Dinas hanya mengatur dan mengurus masalah-masalah administrasi pemerintahan dan pembangunan dalam lingkup dibawah kecamatan.Kata-kata kunci: Pecalang, Pergeseran Fungsi dan Peranan, Desa Adat
KEDUDUKAN WANITA BALU DALAM HUKUM ADAT BALI (Sudi Kasus Hak dan Kewajiban Wanita Balu dalam Hukum Adat Di Desa Belega, Kecamatan Blahbatuh, Kabupaten Gianyar) I Gede Eva Janu Yudiantara
Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan Undiksha Vol. 1 No. 2 (2013): Mei
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpku.v1i2.408

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk (1) Mengetahui kedudukan wanita balu dalam hukum adat Bali (2) Mengetahui hak dan kewajiban yang dimiliki wanita balu. (3) Untuk mengetahui nilai-nilai yang mendasari terjadinya harmonisasi dalam hak dan kewajiban yang dimiliki wanita balu. Penelitian ini dilakukan di Desa Adat Belega, Kecamatan Blahbatuh, Kabupaten Gianyar. Penelitian ini termasuk Penelitian Deskriptif Kualitatif. Subyek dalam penelitian ini adalah para wanita balu yang ada di Desa Belega, Bendesa Adat, aparatur desa, Kelian banjar, tokoh adat, tokoh agama dan pihak-pihak lain yang bisa membantu memberikan data. Penentuan responden ditentukan dengan metode Purposive Sampling. Pengumpulan data menggunakan metode wawancara, observasi, pencatatan dokumen, kepustakaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1) Kedudukan wanita balu dari segi yuridis, wanita balu memiliki kedudukan yang sama dengan ketika ia masih bersuami, dalam artian walaupun wanita tersebut berstatus sebagai balu, dari hukum adat yang berlaku di Desa Belega tidak mengurangi atau merendahkan seseorang ketika menyandang status balu. Dalam pewarisan, kedudukan wanita balu bukan ahli waris dari suaminya, tetapi wanita balu berhak menikmati hasil dari harta warisan. 2) Hak-hak yang dimiliki wanita balu yaitu a) Hak untuk menjadi wali dan mengurus anak-anaknya, b) Hak untuk tetap tinggal dirumah almarhum suami, c) Berhak menikmati dan mendapatkan pengidupan dari harta almarhum suaminya, d) Berhak melakukan perbutan hukum untuk dirinya sendiri maupun untuk almarhum suaminya, dan sebagainya. Sedangkan kewajiban wanita balu yaitu : a) Kewajiban untuk mengabenkan almarhum suaminya, b) Kewajiban untuk menjadi wali anak-anaknya dan mengurus segala keperluan anak-anaknya, c) Kewajiban untuk mengurus dan menjaga rumah almarhum suami, d) Kewajiban untuk membayar segala hutang yang dimiliki almarhum suaminya, dan sebagainya. 3) Nilai-nilai yang mendasari terjadinya harmonisasi dalam pelaksanaan hak dan kewajiban wanita balu di Desa Belega yaitu a) Nilai welas asih, b) Nilai Tat Twam Asi, c) Nilai paras paros sarpanaya salunglung sabayantaka, d) Nilai menyama brayeKata Kunci: Wanita Balu, Kedudukan, Hak dan Kewajiban, Nilai Harmonisasi
PENERAPAN KOOPERATIF TIPE GROUP INVESTIGATION UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR DAN MENUMBUHKAN RESPON POSITIF SISWA DALAM PELAJARAN PKN DWI ANA PERTIWI
Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan Undiksha Vol. 1 No. 3 (2013): September
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpku.v1i3.485

Abstract

Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan di SMA Negeri 1 Pekutatan pada siswa kelas XI IPS 1. Tujuan penelitian ini adalah : (1) Meningkatkan hasil belajar, (2) Mengetahui respon siswa terhadap penerapan model pembelajaran     kooperatif tipe  Group Investigation dalam pelajaran PKn, dan (3) Mengetahui kendala-kendala yang  mungkin terjadi dalam penerapan model pembelajaran kooperatif tipe  Group Investigation. Prosedur kerja dalam pelaksanaan  tindakan     dilakukan melalui empat tahap kegiatan, yakni : perencanaan, pelaksanaan,  evaluasi, dan refleksi. Empat tahap kegiatan tersebut dilakukan dalam dua siklus.     Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah : (1) observasi, (2) tes, dan (3)     angket. Analisis data dengan deskriptif kuantitatif dan kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan : (1) Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation dapat meningkatkan hasil belajar dari rata-rata 73,4 dengan daya serap 73,4%, dan ketuntasan belajar 57,1% pada siklus I, meningkat menjadi rata-rata 76,1 dengan daya serap 76,1%, dan ketuntasan belajar 82,8% pada siklus II, (2) Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation dapat menumbuhkan respon positif siswa dengan rata-rata  respon siswa 36,8 pada  siklus I, menjadi 38,7 pada siklus II, (3) Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation dalam pelajaran PKn mengalami beberapa kendala pada siklus I yaitu terdapat anggota kelompok yang kurang aktif dan ragu dalam mengemukakan pendapat.     Kata kunci : Kooperatif, Group Investigation, Hasil Belajar, Respon Positif    
PENERAPAN METODE PROBLEM SOLVING DALAM PEMBELAJARAN PKn DI KELAS VIII.6 SMP NEGERI 3 BANJAR UNTUK MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA TAHUN AJARAN 2012/2013 NYOMAN WIDYANI
Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan Undiksha Vol. 1 No. 3 (2013): September
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpku.v1i3.486

Abstract

Penelitian ini adalah Penelitian tindakan kelas yang bertujuan untuk meningkatkan     aktivitas belajar siswa di kelas dan meningkatkan hasil belajar siswa dengan penggunaan     metode problim solving pada pembelajaran PKN  di Kelas VIII.6 Semester Genap SMP     Negeri 3 Banjar Kabupaten Buleleng. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas VIII.6 yang     berjumlah 32 orang siswa, yang terdiri dari 19 orang laki-laki dan 13 orang perempuan.     Penelitian tindakan kelas  ini dilaksanakan dalam dua siklus dan setiap siklus terdiri dari     empat tahapan yaitu : perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi/evaluasi dan refleksi.     Analisis data yang digunakan yaitu menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif.      Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran PKN dengan penggunaan Metode     problim solving pada pada siswa kelas VIII.6 SMP Negeri 3 Banjar Semester Genap tahun     pelajaran 2012/2013.dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar. Aktivitas belajar siswa     pada siklus I sebesar 3,94 dan termasuk dalam kategori cukup aktif, sedangkan aktivitas     belajar siswa pada siklus II yaitu sebesar 6,31 dengan katagori sangat aktif. Jadi dapat     disimpulkan peningkatan aktivitas belajar siswa dari siklus I ke siklus II sebesar 2,37      Hasil belajar siswa pada siklus I adalah rata-rata 76,25 ada di atas KKM yang     ditetapkan sekolah dengan nilai 70. Hasil belajar itu berada kategori cukup baik dengan     ketuntasan klasikal sebesar 65,6 %.  Sedangkan hasil belajar pada siklus II sebesar 86,88 dan     termasuk kategori baik dengan ketuntasan klasikal 100%. Dengan demikian dapat     disimpulkan bahwa peningkatan hasil belajar siswa dari siklus I ke siklus II dengan     penggunaan Metode problim solving  sebesar 10,63. Kendala-kendala yang dihadapi dalam     penggunaan Metode problim solving  selama penelitian antara lain : (1) masih melekatnya     kebiasaan siswa  menerima pelajaran dari guru dengan metode cermah, dan mengerjakan     tugas-tugas yang berpatokan pada LKS, sehingga keberanian siswa untuk mengemukakan     pendapat relatif masih kurang. (2) Relatif masih kurangnya buku pelajaran yang dimiliki oleh     siswa, siswa hanya belajar materi pelajaran dari materi ringkas yang ada pada LKS.      Kata-Kata Kunci : Metode Problim Solving, Aktivitas belajar dan Hasil Belajar    
ORGANISASI PEMUDA SEBAGAI WAHANA KADERISASI PEMIMPIN BANGSA BERJIWA PANCASILA Gusti Ngurah Agus Andi Mulya
Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan Undiksha Vol. 1 No. 3 (2013): September
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpku.v1i3.487

Abstract

Pemuda merupakan agen of change  dimana dalam sejarah perjuangan     bangsa Indonesia memiliki peran yang sangat penting. Upaya nyata yang     dilakukan oleh Pemuda Indonesia bisa dirasakan sejak tahun 1928 dimana tercetus     Sumpah Pemuda sebagai ikrar tertinggi yang kemudian disusul dengan     dikumandangkannya Proklamasi Kemerdekaan pada tahun 1945. Pemuda     memiliki banyak keunggulan dimana salah satunya untuk mempersiapkan     kaderisasi kepemimpinan. Kaderisasi kepemimpinan dilaksanakan dalam upaya     menciptakan pemimpin yang mampu memajukan bangsa dan negara. Tentunya     kaderisasi ini tercipta melalui proses yang panjang. Dalam kehidupan berbangsa     dan bernegara seorang pemimpin harus mampu menerapkan prinsip-prinsip     kepemimpinan berdasarkan asas Ideologi Bangsa Indonesia yaitu Pancasila.      Melihat kondisi bangsa yang sarat dengan kasus penyelewengan     penyelenggaraan negara seperti praktik KKN (Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme),     maraknya konflik sosial kemasyarakatan, perkelahian di lembaga legislatif,     anarkisme oleh sekelompok masyarakat, dan masih banyak lagi kasus sejenis     lainnya menjadikan kepemimpinan yang mewujudkan asas-asas Pancasila     sangatlah urgen. Kepemimpinan Pancasila merupakan produk asli bangsa     Indonesia yang memiliki nilai kaitan dengan sejarah perjuangan Bangsa.     Kepemimpinan yang unggul dicetak berdasarkan proses panjang dalam     sebuah organisasi. Organisasi mampu menciptakan kondisi sedemikian rupa     sehingga orang yang berada dalam organisasi memiliki sikap, pandangan, maupun     pemikiran untuk mencapai tujuan organisasi yang tertuang dalam visi dan misi     organisasi. Organisasi Pemuda salah satunya sudah terbukti sangat efektif untuk     menciptakan kader pemimpin bangsa yang akan melanjutkan tapuk     kepemimpinan bangsa kedepannya. Semangat juang pemuda dan segala     keunggulannya jika dikaitkan dengan nilai-nilai Pancasila akan melahirkan     pemimpin yang benar-benar didambakan di masa depan oleh Bangsa Indonesia.     Kata kunci : Kepemimpinan, Pancasila, Pemuda, Organisasi.   
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE GROUP INVESTIGATION (GI) UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR PKn PADA SISWA KELAS VIII H DI SMP NEGERI 1 SUKASADA TAHUN PELAJARAN 2012/2013 GUSTI AYU RISKA DEWI
Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan Undiksha Vol. 1 No. 3 (2013): September
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpku.v1i3.488

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran     Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) dikelas VIII H SMP Negeri 1 Sukasada  tahun     pelajaran 2012/2013 dengan menerapkan model pembelajaraan kooperatif tipe GI     (Group Investigation).      Rancangan Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (PTK) yang     dilaksanakan sebanyak dua siklus. Setiap siklus terdiri dari perencanaan, pelaksanaan,     observasi/evaluasi, dan refleksi. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas VIII H SMP     Negeri 1 Sukasada dengan jumlah 32 siswa yang terdiri dari 15 orang laki-laki dan 17     orang perempuan, dan metode pengumpulan data yang digunakan adalah metode tes,     observasi, dan dokumentasi. Analisis data yang digunakan yaitu menggunakan analisis     deskriptif kualitatif dan  kuantitatif.     Hasil penelitian ini menujukan bahwa hasil belajar siswa pada siklus I     mencapai 61,3% termasuk ke dalam kategori kurang dengan nilai rata-rata sebesar     72,70, sedangkan pada siklus II yaitu sebesar 100% termasuk ke dalam kategori tinggi     dengan nilai rata-rata 83,43. Jadi dengan demikian dapat disimpulkan hasil belajar     siswa mengalami peningkatan dari siklus I ke siklus II sebesar 38,7%. Kendala-     kendala yang dihadapi dalam menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe GI     (Group Investigation) antara lain: (1) Siswa belum terbiasa dengan model     pembelajaran kooperatif tipe GI (Group Investigation), karena model pembelajaran ini     pertama kali diterapkan dalam kelas tersebut jadi dalam penerapannya siswa masih     bingung dan ragu dalam mengemukan pendapatnya, (2) Masih ada kelompok yang     belum mampu menyelesaikan tugas kelompok tepat pada waktunya, , (3) Masih ada     siswa yang ragu dan takut untuk mengemukakan pendapatnya pada saat diskusi     berlangsung, (4) Masih ada kelompok yang belum dapat mempersentasikan hasil     diskusinya. Bagi calon peneliti lain yang ingin meneliti lebih lanjut dengan     menggunakan model pembelajaran yang sama hendaknya mempertimbangkan hal-hal     lain yang dapat mempengaruhi penelitian ini.     Kata-kata kunci : Hasil belajar, dan model pembelajaran kooperatif tipe GI (Group      Invetigation)   

Filter by Year

2013 2024


Filter By Issues
All Issue Vol. 12 No. 3 (2024): September, Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan Undiksha Vol. 12 No. 2 (2024): Mei, Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan Undiksha Vol. 12 No. 1 (2024): Februari, Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan Undiksha Vol. 11 No. 3 (2023): September, Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan Undiksha Vol. 11 No. 2 (2023): Mei, Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan Undiksha Vol. 11 No. 1 (2023): Februari, Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan Undiksha Vol. 10 No. 3 (2022): September, Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan Undiksha Vol. 10 No. 2 (2022): Mei, Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan Undiksha Vol. 10 No. 1 (2022): Februari, Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan Undiksha Vol 10, No 1 (2022): Februari, Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan Undiksha Vol. 9 No. 3 (2021): September, Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan Undiksha Vol 9, No 3 (2021): September, Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan Undiksha Vol 9, No 2 (2021): Mei, Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan Undiksha Vol. 9 No. 2 (2021): Mei, Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan Undiksha Vol 9, No 1 (2021): Februari, Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan Undiksha Vol. 9 No. 1 (2021): Februari, Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan Undiksha Vol. 8 No. 3 (2020): September, Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan Undiksha Vol 8, No 3 (2020): September, Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan Undiksha Vol 8, No 2 (2020): Mei, Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan Undiksha Vol. 8 No. 2 (2020): Mei, Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan Undiksha Vol. 8 No. 1 (2020): Februari, Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan Undiksha Vol 8, No 1 (2020): Februari, Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan Undiksha Vol. 7 No. 3 (2019): September Vol 7, No 3 (2019): September Vol. 7 No. 2 (2019): Mei Vol 7, No 2 (2019): Mei Vol 7, No 1 (2019): Februari Vol. 7 No. 1 (2019): Februari Vol 6, No 3 (2018): September Vol. 6 No. 3 (2018): September Vol 6, No 2 (2018): Mei Vol. 6 No. 2 (2018): Mei Vol. 6 No. 1 (2018): Februari Vol 6, No 1 (2018): Februari Vol 5, No 3 (2017): September Vol. 5 No. 3 (2017): September Vol. 5 No. 2 (2017): Mei Vol 5, No 2 (2017): Mei Vol. 5 No. 1 (2017): Februari Vol 5, No 1 (2017): Februari Vol. 4 No. 3 (2016): September Vol 4, No 3 (2016): September Vol. 4 No. 2 (2016): Mei Vol 4, No 2 (2016): Mei Vol 4, No 1 (2016): Februari Vol. 4 No. 1 (2016): Februari Vol 3, No 3 (2015): September Vol. 3 No. 3 (2015): September Vol. 3 No. 2 (2015): Mei Vol 3, No 2 (2015): Mei Vol 3, No 1 (2015): Februari Vol. 3 No. 1 (2015): Februari Vol. 2 No. 3 (2014): September Vol 2, No 3 (2014): September Vol 2, No 2 (2014): Mei Vol. 2 No. 2 (2014): Mei Vol. 2 No. 1 (2014): Februari Vol 2, No 1 (2014): Februari Vol. 1 No. 3 (2013): September Vol 1, No 3 (2013): September Vol. 1 No. 2 (2013): Mei Vol 1, No 2 (2013): Mei Vol. 1 No. 1 (2013): Februari Vol 1, No 1 (2013): Februari More Issue