cover
Contact Name
Yulianti
Contact Email
yuliatibora@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
teknologihasilpertanianug@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota gorontalo,
Gorontalo
INDONESIA
Gorontalo Agriculture Technology Journal
Published by Universitas Gorontalo
ISSN : 26141140     EISSN : 26142848     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Gorontalo Agriculture Technology Journal (GATJ) adalah media aplikasi bagi akademisi, peneliti dan praktisi untuk menerbitkan hasil-hasil penelitian dan artikel penelitian yang berhubungan dengan teknologi pertanian.
Arjuna Subject : -
Articles 66 Documents
Ekstraksi Beta Karoten Dari Buah Kelapa Sawit (Elaeis Guineensis) Dengan Dua Jenis Pelarut I Made Widiantara; Yulianti Yulianti; Bayu Setiawan Basri
Gorontalo Agriculture Technology Journal Volume 3 Nomor 1 April 2020
Publisher : Universitas Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (237.932 KB) | DOI: 10.32662/gatj.v3i1.1198

Abstract

Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui perbandingan volume heksana dan petroleum eter yang tepat untuk mengekstrak beta karoten dari buah kelapa sawit. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap dengan tiga perlakuan dan tiga kali ulangan, perlakuan ini dilakukan dengan membedakan jumlah dari dua pelarut yang digunakan. Hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa total padatan tertinggi yaitu pada perlakuan pelarut campuran antara heksana 250 ml: petroleum eter 250 ml dengan jumlah 96,28%, rendemen tertinggi diperoleh pada campuran heksana 250 ml : petroleum eter 250 ml dengan jumlah 2,73%, kandungan beta karoten tertinggi yaitu pada campuran heksana 125 ml : petroleum eter 375 ml dengan jumlah 0,71 ppm. Dan efektivitas pelarut heksana dan petroleum eter yang terbaik dalam melarutkan beta karoten adalah perlakuan ketiga dengan pencampuran heksana 125 ml : petroleum eter 375 ml menghasilkan 0,71 ppm kadar beta karoten.
Tingkat Kesukaan Sambal Ikan Teri (Stolephorus sp) Secara Organoleptik Mariani Haji Mansyur
Gorontalo Agriculture Technology Journal Volume 4 Nomor 2 Oktober 2021
Publisher : Universitas Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (526.892 KB) | DOI: 10.32662/gatj.v4i2.1815

Abstract

Sambal merupakan produk olahan dari cabai (Capsicum sp) yang menyerupai bubur dan  biasanya ditambahkan bahan – bahan tambahan lainnya seperti garam, bawang merah, bawang putih, dan gula pasir. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat kesukaan panelis terhadap sambal ikan teri (Stolephorus sp) selama penyimpanan secara organoleptik. Perlakuan pada penelitian ini adalah penambahkan ikan teri dengan berbagai tingkat konsentrasi, (A) Konsentrasi ikan teri 10%, (B) Konsentrasi ikan teri 15%, (C) Konsentrasi ikan teri 20%, (D) Konsentrasi ikan teri 25%, dan (E) Konsentrasi ikan teri 30%. Hasil uji penerimaan panelis berdasarkan organoleptik sambal ikan teri yang disimpan selama 3 minggu berdasarkan tingkat warna berkisar 1,32-1,55 atau mulai dari sangat suka hingga suka, tingkat aroma berkisar 1,41-1,85 atau mulai dari sangat suka hingga suka dan tingkat rasa berkisar 1,52-176, atau mulai dari sangat suka hingga suka. Berdasarkan data tersebut dapat disimpulkan bahwa tingkat penerimaan panelis pada produk sambal ikan teri selama 3 minggu penyimpanan masih. Kesimpulan dari penelitian ini adalah hasil analisa tingkat kesukaan panelis terhadap sambal yang disimpan selama 3 minggu berdasarkan organoleptik baik tingkat warna, aroma maupun rasa  menunjukan hasil yang sangat disukai hingga suka.
Analisis Fisikokimia Sambal Ikan Teri (Stelephorus sp) Mariani Haji Mansyur; Sri Hajriani A.R
Gorontalo Agriculture Technology Journal Volume 3 Nomor 2 Oktober 2020
Publisher : Universitas Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (257.614 KB) | DOI: 10.32662/gatj.v3i2.1210

Abstract

Sambal adalah produk olahan dari cabai (Capsicum sp) yang dilumatkan dan ditambahkan bahan tambahan lainnya yang memiliki cita rasa pedas dan berfungsi sebagai pelengkap dalam menyantap makanan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui formulasi sambal ikan teri yang terbaik, berdasarkan karakteristik fisikokimia (kadar air, vitamin C, dan pH) produk sambal ikan teri yang disimpan selama 3 minggu Tahapan metodologi penelitian ini dimulai dengan melakukan formulasi produk sambal yang ditambahkan ikan teri kemudian di lakukan analisis fisikokimia. Formulasi perlakuan yang dilakukan adalah : A. Konsentrasi ikan teri 10%, B. Konsentrasi ikan teri 15%, C. Konsentrasi ikan teri 20%, D. Konsentrasi ikan teri 25%, dan E. Konsentrasi ikan teri 30%. Hasil dari penelitian Formulasi sambal ikan teri yang terbaik berdasarkan hasil analisa vitamin C, pH dan kadar air adalah pada formulasi (A) yaitu penambahan ikan teri 10% yang disimpan selama 3 minggu. Rata-rata hasil analisa karakteristik vitamin C adalah 0,12%, pH adalah 5,96 dan kadar air adalah  35,16% yang disimpan selama 3 minggu.
Mi Kering Subtitusi Ubi Jalar Ungu (Ipomoea batatas) dengan Penambahan Meniran (Phyllanthus niruri) Aleta Pirena Andannari; Seveline Seveline; Indri Indrawan
Gorontalo Agriculture Technology Journal Volume 4 Nomor 1 April 2021
Publisher : Universitas Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (335.01 KB) | DOI: 10.32662/gatj.v4i1.1501

Abstract

Konsumsi mi di Indonesia terbilang cukup tinggi. Salah satu bahan pengganti tepung terigu adalah ubi jalar ungu,dengan kandungan antosianin yang dapat memberikan pigmen warna ungu serta menangkal radikal bebas. Meniran merupakan tanaman liar yang banyak tumbuh di Indonesia. Meniran digunakan sebagai obat-obatan tradisional, dikarenakan adanya senyawa aktif berupa flavonoid yang berfungsi sebagai immunomodulator.Rancangan penelitian yang digunakan merupakan rancangan acak lengkap (RAL) pola faktorial dengan 2 faktor dan 2 kali ulangan. Pengujian dilanjutkan dengan uji analisis jika berbeda nyata dilanjutkan dengan uji Duncan misalnya. Pembuatan mi kering substitusi pasta ubi jalar ungu : tepung terigu sebesar 30 : 70, 40 : 60 dan 50 : 50 serta penambahan bubuk meniran sebesar 1,5 g dan 4,5 g. Analisis mi kering dilakukan pengujian berupa organoleptik, rendemen, kadar air dan daya kembang. Mi kering yang dihasilkan berbeda nyata terhadap warna, aroma, rasa, dan keseluruhan pada analisis organoleptik. Analisis fisiko-kimia penggunaan pasta ubi jalar ungu dan penambahan bubuk meniran pada mi kering berbeda nyata pada kadar air dan daya kembang produk.
Aplikasi Kitosan Cangkang Bekicot (Achatina Fulica F) Pada Tahu Putih Terhadap Organoleptis, Bobot Susut, Dan Lama Simpan Syukrianto Syukrianto; Umarudin Umarudin
Gorontalo Agriculture Technology Journal Volume 3 Nomor 2 Oktober 2020
Publisher : Universitas Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (305.361 KB) | DOI: 10.32662/gatj.v3i2.1172

Abstract

Kandungan protein dan kadar air yang tinggi membuat tahu putih memiliki masa simpan yang pendek. Perlu adanya biomaterial alam yaitu kitosan cangkang bekicot untuk memperlama umur simpan tahu putih. Tujuan penelitian ini adalah mengaplikasikan kitosan cangkang bekicot (Achatina fulica F) pada tahu putih terhadap organoleptic, bobot susut, dan lama simpan. Metode penelitian ini dengan true experimental. Tahapan isolasi kitosan cangkang bekicot deproteinasi, demineralisasi, depigmentasi, dan deasetilasi, serta analisis mutu kitosan. Kitosan cangkang bekicot dilakukan pengenceran 1%, 1,5%, dan 2% untuk digunakan mencelupkan tahu putih dan amati nilai organoleptik, bobot susut, dan lama simpan. Analisa data yang diolah dengan cara desktiptif kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bobot susut yang paling kecil pada konsentrasi 2% sebesar 44,74% jika dibandingkan dengan 1,5% dan 1%. Nilai organoleptik warna dan tekstur yang disukai oleh panelis pada kosentrasi 1,5% dan 2%. Lama simpan tahu putih lebih baik yang diberi kitosan cangkang bekicot 1,5 % dan 2% selama 4 hari. Peran kitosan cangkang bekicot dapat memperlama umur simpan tahu putih pada suhu ruang.
Tingkat Kesukaan Puree Ikan Oci (Rastrelliger kanagurta) Dengan Penambahan Gelatin Ikan Komersial Anto Anto; Deyvie Xyzquolyna; Asniwati Zainuddin
Gorontalo Agriculture Technology Journal Volume 5 Nomor 1 April 2022
Publisher : Universitas Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (592.869 KB) | DOI: 10.32662/gatj.v5i1.1976

Abstract

Puree ikan oci (Rastrelliger kanagurta) merupakan pengembangan produk olahan ikan oci yang ditambahkan bahan pengikat berupa tepung terigu, tepung tapioka, dan gelatin ikan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat penerimaan produk puree ikan oci. Penelitian ini menggunakan rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 3 kali ulangan dengan formulasi daging ikan oci, tepung terigu, tepung tapioka dan gelatin ikan sebagai perlakuan yaitu (300 g,150 g, 150 g) dan gelatin ikan (0 g, 10 g, 15 g, dan 20 g). Hasil penelitian menunjukkan perlakuan yang paling disukai panelis adalah P3 dengan gelatin ikan 20 g. Dari kadar protein, yang paling tinggi adalah perlakuan P3 dengan nilai 16,29 %.
Prospek Pengembangan Usaha Putu Jagung Aneka Rasa di Kecamatan Tilamuta Kabupaten Boalemo Andi Lelanovita Sardianti; Nur Rahmi
Gorontalo Agriculture Technology Journal Volume 4 Nomor 1 April 2021
Publisher : Universitas Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (266.468 KB) | DOI: 10.32662/gatj.v4i1.1201

Abstract

Penelitian ini dilaksanakan di Kecamatan Tilamuta Kabupaten Boalemo dengan tujuan untuk mengetahui dan menganalisis prospek pengembangan usaha putu jagung aneka rasa di Kecamatan Tilamuta Kabupaten Boalemo. Penelitian ini dianalisis dengan menggunakan analisis pendapatan, analisis B/C dan BEP. Prosedur penelitian ini terbagi atas beberapa tahap yaitu : 1) persiapan bahan, 2) Pembuatan putu jagung aneka rasa, 3) Pengemasan, 4) Pemasaran, 5) analisis keuntungan dan pendapatan, 6) analisis prospek pengembangan usaha putu jagung aneka rasa. Hasil penelitian yang telah dilakukan diketahui bahwa usaha Putu Jagung Aneka rasa di Kecamatan Tilamuta Kabupaten Boalemo menguntungkan, dengan total keuntungan adalah sebesar Rp.64.400,-. Dari besarnya keuntungan yang diperoleh usaha putu jagung berdasarkan perhitungan nilai BEP diperoleh BEP produksi 74,94/kotak, BEP harga Rp. 5.246/kotak, nilai B/C rasio sebesar 0,18, sehingga dapat disimpulkan bahwa Prospek usaha Putu Jagung Aneka Rasa di Kecamatan Tilamuta Kabupaten Boalemo memiliki prospek untuk dikembangkan.
Karakteristik Fisik Proses Pengeringan Biji Sorgum (Sorghum Bicolor L. Moench) dengan Menggunakan Pengering Hybrid Tipe Rak Siti Mariyam; Yasin Helyartha Utama; Devi Yuni Susanti; Ratna Rosita Dewi
Gorontalo Agriculture Technology Journal Volume 4 Nomor 2 Oktober 2021
Publisher : Universitas Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (825.945 KB) | DOI: 10.32662/gatj.v4i2.1780

Abstract

Proses pengeringan biji sorgum secara konvensional menggunakan sinar matahari memiliki beberapa kendala, seperti ketergantungan terhadap kondisi cuaca, lahan yang luas, dan kemungkinan pencemaran bahan. Sehingga penting untuk dimodifikasi dengan menggunakan teknologi pengeringan yang tepat. Inovasi dari penelitian ini adalah pengembangan pengering tipe rak dengan sumber energi dari kombinasi sinar matahari dan biomassa. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perubahan suhu, kadar air dan menentukan konstanta laju pengeringan. Tray dryer dilengkapi dengan lubang pemanas yang berfungsi untuk memasak sari buah sorgum. Dalam penelitian ini digunakan tiga variasi debit udara, yaitu 0,124m3/s, 0,158 m3/s, dan 0,192m3/s. Proses pengeringan ini dilakukan selama 6 jam dengan kapasitas bahan 30 kg. Kayu yang digunakan dalam proses ini adalah kayu melinjo (Gnetum gnemon Linn.). Hasil analisis data menunjukkan bahwa semakin besar debit/aliran udara, menyebabkan suhu udara dan suhu bahan menjadi lebih rendah. Kadar air sorgum yang dapat dikeringkan dari kadar air awal (wb) 16,04% sampai 7,89%. Sedangkan di kondisi lingkungan/kontrol kadar air awal 16,85% sampai mencapai 7,86%. Kedua proses ini tidak memiliki perbedaan signifikan. Dalam proses pengeringan biji sorgum ini terdapat dua periode, yaitu laju pengeringan konstan dan laju pengeringan menurun. Nilai laju pengeringan konstan berturut-turut adalah 0,00037%/menit, 0,00046%/menit, dan 0,00038%/menit. Sedangkan periode laju pengeringan menurun adalah 0,01348%/menit; 0,01541%/menit, dan 0,01557%/menit. Metode pengeringan hybrid yang dikembangkan mempunyai kelebihan dapat mengeringkan bahan dengan stabil dan menggunakan sumber panas yang tersedia secara berkelanjutan. Penelitian ini dapat bermanfaat sebagai referensi alternatif teknologi pengeringan biji sorgum.
Analisis Rantai Nilai Cabai Di Sentra Produksi Kabupaten Majalengka Jawa Barat Nur Setiawati; Sutrisno Sutrisno; Y Aris Purwanto
Gorontalo Agriculture Technology Journal Volume 3 Nomor 2 Oktober 2020
Publisher : Universitas Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (225.881 KB) | DOI: 10.32662/gatj.v3i2.1101

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk 1) mengidentifikasi rantai nilai cabai di Kabupaten Majalengka, 2) menganalisis rantai nilai yang dilakukan para pelaku dan distribusi nilai tambah diantara para pelaku tersebut di Kabupaten Majalengka dan 3) menghitung nilai tambah yang dihasilkan pengolahan cabai menjadi produk turunannya di Kabupaten Majalengka. Metode penelitian menggunakan analisis nilai tambah dan R/C rasio. Responden penelitian adalah 75 petani cabai dari kecamatan terpilih sentra pertanaman cabai di Kabupaten Majalengka, Jawa Barat yaitu 15 petani di Ligung, Banjaran, Cikijing, Talaga, dan Argapura. Adapun rincian dari pedagang pengumpul adalah 2 pengumpul kecil dari Kecamatan Argapura, 2 pengumpul besar Kecamatan Argapura, Kecamatan Banjaran, Kecamatan Ligung, 1 Koperasi dari Kecamatan Argapura dan Kecamatan Banjaran, 1 Bank dari Kecamatan Argapura, serta industri 1 dari Kecamatan Banjaran sedangkan pasar induk yang merupakan tujuan dari cabai berada di Kota Jakarta. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pasca panen cabai di Kabupaten Majalengka umumnya dilakukan secara manual oleh petani. Para petani menjual cabai mereka untuk skala kecil kolektor, skala besar kolektor atau mereka menjual langsung ke pasar lokal dan pasar grosir. Petani cabai di Majalengka belum dalam kemitraan dengan industri skala besar tetapi mereka telah berkumpul dalam bentuk kelompok tani dan koperasi. Kecil kolektor biasanya datang langsung ke petani untuk membeli cabai secara tunai. Tujuan dari rantai pasokan cabai di Majalengka tidak hanya pasar tradisional lokal atau pasar grosir lokal, tetapi juga pasar grosir nasional seperti Kramatjati (Jakarta), Caringin (Bandung), dan supermarket. Para aktor dalam rantai pasokan adalah petani, skala kecil kolektor, skala besar kolektor, pedagang di pasar antar-pulau, pedagang di pasar grosir, pedagang pasar tradisional setempat, dan koperasi. Biaya total produksi cabai besar adalah Rp 75.000.000 per hektar, sementara, cayenne cabai adalah Rp 70.000.000 per hektar. Rasio R / C adalah 1,33 untuk besar dan cabai rawit 1,71 untuk cabai sebagai nilai tambah cabai.
Substitusi Tepung Sagu dan Modified Cassava Flour (Mocaf) pada Produk Makanan Tradisional Ilepa’o Asniwati Zainuddin; Deyvie Xyzquolyna; Asriani I Laboko; Anto Anto; Sri Yuniati Mokoginta
Gorontalo Agriculture Technology Journal Volume 5 Nomor 1 April 2022
Publisher : Universitas Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (582.764 KB) | DOI: 10.32662/gatj.v5i1.1975

Abstract

Tujuan penelitian ini untuk menganalisis kadar air, kadar abu, kadar  protein dan tingkat penerimaan panelis terhadap produk tradisional Ilepa’o yang diolah dengan mensubstitusi tepung mocaf pada tepung sagu. Penelitian ini menggunakan  rancangan acak lengkap atau (RAL) dengan 4 perlakuan dan 3 ulangan. Perlakuan penelitian diperoleh yaitu P1 = 50g tepung sagu, P2 = 50g tepung mocaf, P3= 10g tepung sagu+40g tepung mocaf, dan P4=25g tepung sagu+25g tepung mocaf.  Hasil analisa yang di peroleh adalah kadar air P1= 50,41%, P2= 58,90%, P3= 57,86%, dan P4= 55,02%. Kadarabu P1= 1,16%, P2= 2,15%, P3=2,38%, dan P4=2,33%. Kadar protein P1= 11,84%, P2= 11,87%, P3= 9,16%, dan P4= 9,56%. Hasil uji organoleptikpada makanan tradisional ilepao yang paling di sukai oleh panelis (dari segi rasa, aroma, dan tekstur)    adalah perlakuan P4 yaitu dengan formulasi 25gtepung sagu+25g tepung mocaf. Penambahan tepung mocaf memberikan pengaruh yang tidak nyata terhadap kadar air dan kadar protein, sedangkan pada kadar abu memberikan pengaruh yang nyata pada produk ilepa’o.