cover
Contact Name
Dani Saepuloh
Contact Email
danie_saepuloh@yahoo.com
Phone
-
Journal Mail Official
lydiadesmaniarirwan@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Kelautan Nasional
ISSN : 1907767X     EISSN : 26154579     DOI : -
Core Subject : Science, Social,
Jurnal Kelautan Nasional (JKN) ISSN 1907-767X, e-ISSN 2615-4579 adalah jurnal yang diterbitkan oleh Pusat Riset Kelautan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia (BRSDM), Kementerian Kelautan dan Perikanan. Pusat Riset Kelautan (Pusriskel) adalah nomenklatur baru, sejak tahun 2017, untuk Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Laut dan Pesisir (P3SDLP). Jurnal Kelautan Nasional, sebelum dikelola oleh Pusriskel maupun P3SDLP, adalah dikelola oleh Pusat Pengkajian dan Perekayasaan Teknologi Kelautan dan Perikanan (P3TKP). Pada tahun 2016, P3TKP kemudian merger ke P3SDLP.
Arjuna Subject : -
Articles 229 Documents
Ancaman Gelombang Ekstrim dan Abrasi pada Penggunaan Lahan di Pesisir Kepulauan Karimunjawa (Studi Kasus: Pulau Kemujan, Pulau Karimunjawa, Pulau Menjangan Besar dan Pulau Menjangan Kecil) Dini Purbani; Hadiwijaya Lesmana Salim; Luh Putu Ayu Savitri Chitra Kusuma; Armyanda Tussadiah; Joko Subandriyo
Jurnal Kelautan Nasional Vol 14, No 1 (2019): April
Publisher : Pusat Riset Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (256.432 KB) | DOI: 10.15578/jkn.v14i1.7207

Abstract

Kepulauan Karimunjawa yang terletak di lepas pantai Kabupaten Jepara, Provinsi Jawa Tengah, merupakan gugus pulau-pulau kecil yang terdiri dari 27 pulau. Sebagian kawasan Kepulauan Karimunjawa seluas 1.116,25 km2 telah ditetapkan sebagai Taman Nasional Karimunjawa. Secara geografis wilayah kepulauan Indonesia, termasuk Kepulauan Karimunjawa, berada pada kawasan rawan bencana, dengan potensi tinggi terjadinya berbagai bencana hidrometeorologi, seperti gelombang ekstrim dan abrasi. Kepulauan Karimunjawa rawan bencana terutama karena kondisi alam dan geografi setempat. Gelombang ekstrim dapat mengakibatkan terjadinya gelombang pasang dan abrasi di Kepulauan Karimunjawa. Mengukur tingkat ancaman gelombang ekstrim dan abrasi di pesisir pantai merupakan bagian dari suatu kajian risiko bencana di daerah rawan bencana. Penelitian ini dilakukan di Kepulauan Karimunjawa menggunakan metode penghitungan indeks ancaman gelombang ekstrim dan abrasi berdasarkan Peraturan Kepala Badan Nasional Penangulangan Bencana No. 2/2012 tentang Pedoman Umum Pengkajian Risiko Bencana, dengan parameter tinggi gelombang, arus, tutupan vegetasi, bentuk garis pantai dan tipologi pantai, difokuskan di daerah sempadan pantai. Proses analisis data menggunakan perangkat lunak keruangan ArcGIS dan ER Mapper. Hasil analisis menunjukkan terdapat tiga kelas ancaman gelombang ekstrim dan abrasi di daerah sempadan pantai di lokasi studi, yaitu rendah (0,01%), sedang (19,33%) dan tinggi (80,67%). Penggunaan lahan yang terkena ancaman gelombang ekstrim dan abrasi yaitu perkebunan (48,33%), hutan mangrove (23,28%) dan vegetasi (13,05%).
Karakteristik Oseanografis Teluk Senggrong Banyuwangi Bambang Sukresno; Denny Wijaya Kusuma; Dinarika Jatisworo; Eko Susilo; Komang Iwan Suniada
Jurnal Kelautan Nasional Vol 14, No 3 (2019): DESEMBER
Publisher : Pusat Riset Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (76.177 KB) | DOI: 10.15578/jkn.v14i3.7247

Abstract

Penelitian ini ditujukan untuk mengetahui karakteristik oseanografis teluk Senggrong.  Data yang digunakan meliputi suhu permukaan laut, konsentrasi klorofil-a,  salinitas dan pH baik musim barat maupun musim timur.  Data time series suhu permukaan laut dan klorofil-a menggunakan data dari satelit Aqua dan Terra dengan sensor Moderate Resolution Imaging Spectroradiometer (MODIS) tahun 2007 hingga 2018. Data insitu teluk Senggrong diperoleh dari pengukuran langsung yang dilakukan pada bulan April  dan bulan September  dengan menggunakan water quality checker (WQC). Untuk menampilkan distribusi spasial masing-masing variabel dilakukan interpolasi Krigging. Hasil penelitian menunjukan bahwa karakteristik oseanografis teluk Senggrong dipengaruhi oleh perubahan musim baik musim barat maupun musim timur.  Suhu permukaan laut pada musim barat relatif lebih tinggi dibandingkan pada musim timur. Konsentrasi klorofil-a pada musim barat lebih rendah daripada musim timur. Salinitas pada musim barat lebih rendah dibandingkan pada musim timur, sedangkan pH pada musim barat lebih tinggi daripada musim timur. Pada musim barat teluk Senggrong memiliki suhu permukaan laut antara 28,1 ℃ – 31,6 ℃, konsentrasi klorofil-a sekitar 0,2 mg/m3– 0,5 mg/m3, salinitas sebesar 32 ppm – 33 ppm dan pH berkisar 8,4 – 8,7. Sedangkan pada musim timur suhu permukaan laut berkisar antara 24,9 ℃ – 30,7℃, konsentrasi klorofil-a sebesar 0,1 mg/m3 – 3,5 mg/m3, salinitas antara 34 ppm – 35 ppm dan pH sekitar 7,5 – 8,3. 
Distribusi Kapal Ikan pada Fase Bulan Gelap dan Terang Berdasarkan Data Sensor Visible Infrared Imaging Radiometer Suite (VIIRS) di Laut Jawa Jonson Lumban-Gaol; Risti Endriani Arhatin; Achmad Fachrudin Syah; Dony Kushardono; Jordan Tito Lubis; Nabilla Dhani Amanda; Yustie Amanda; Widya Octavia
Jurnal Kelautan Nasional Vol 14, No 3 (2019): DESEMBER
Publisher : Pusat Riset Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2548.684 KB) | DOI: 10.15578/jkn.v14i3.7569

Abstract

Kami menggunakan data harian sensor satelit Visible Infrared Imaging Radiometer Suite (VIIRS) Day/Night Band (DNB) untuk pemetaan distribusi kapal-kapal ikan yang menggunakan cahaya untuk operasi penangkapan ikan selama periode 2015-2017 di Laut Jawa. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis perbedaan distribusi kapal-kapal ikan yang menggunakan cahaya untuk operasi penangkapan ikan antara fase bulan terang dan fase bulan gelap. Survei lapangan dilakukan untuk mengetahui jenis kapal ikan yang menggunakan cahaya lampu untuk operasi penangkapan ikan. Kami menganalisis perbedaan distribusi kapal penangkap ikan antara bulan terang dan bulan gelap di Laut Jawa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis kapal yang menggunakan lampu pada saat operasi penangkapan ikan adalah Pures seine dan Buoke ami.   Jumlah rata-rata kapal penangkap ikan menggunakan lampu untuk operasi penangkapan ikan di fase bulan terang adalah 230 unit sedangkan fase bulan gelap adalah 1.118 unit. Analisis statistik uji-t menunjukkan ada perbedaan yang signifikan secara statistik antara rata-rata jumlah kapal ikan pada fase bulan terang dan bulan gelap.
Pemanfaatan Teknologi Mikrokontroler Untuk Pengukuran Evaporasi dan Suhu pada Produksi Garam Rikha Bramawanto; Hariyanto Triwibowo; Rizal Fadlan Abida
Jurnal Kelautan Nasional Vol 14, No 3 (2019): DESEMBER
Publisher : Pusat Riset Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (504.425 KB) | DOI: 10.15578/jkn.v14i3.7126

Abstract

Proses evaporasi/penguapan merupakan hal yang sangat penting dalam produksi garam. Evaporasi dapat diketahui menggunakan metode pengukuran langsung maupun menggunakan perhitungan matematis. Teknologi mikrokontroler yang telah berkembang untuk berbagai keperluan berpotensi untuk dimanfaatkan sebagai alat pengukuran evaporasi secara otomatis. Penelitian ini merancang dan menguji alat ukur evaporasi berbasis mikrokontroler ATMega328 yang dilengkapi sensor ultrasonic US-100, sensor suhu ds18b20 dan data logger. Kelengkapan tersebut untuk mengukur sekaligus merekam data ketinggian muka air, suhu udara dan air. Selisih perubahan tinggi muka air diasosiasikan sebagai jumlah air yang diuapkan, sedangkan data suhu menggambarkan pengaruh lingkungan yang mendukung terjadinya penguapan. Sebagai pembanding, ketinggian air juga diukur secara manual, suhu udara dan air diukur menggunakan thermohygrometer dan environment meter. Alat diujicoba dua kali, hasilnya menunjukkan bahwa alat bekerja dengan baik. Sistem pembacaan oleh sensor-sensor dan perekaman pada data logger berjalan sempurna. Setelah dilakukan perbaikan pada ujicoba kedua, terjadi peningkatan performa alat. Selisih rata-rata pengukuran jarak antara alat yang dibuat dengan alat ukur standar berkurang menjadi 1,2 mm dari sebelumnya 4 mm. Selisih rata-rata pengukuran suhu air sebesar 0,2 0C, dari sebelumnya 0,3 0C. Dan selisih rata-rata pengukuran suhu udara sebesar 0,3 0C, dari sebelumnya 0.9 0C. Selanjutnya perlu pengujian performa dan endurance alat pada lingkungan penguapan di tambak garam. Alat ini dapat dikembangkan dengan menambahkan sensor kelembaban dan kecepatan/arah angin, panel surya sebagai sumber catudaya serta modul ethernet agar perekaman data dapat dimonitor dan dimanfaatkan secara daring.
Dampak Fluktuasi Suhu Permukaan Laut Terhadap Kematian Karang di Perairan Pulau Weh, Indonesia Ulung jantama wisha; try Al Tanto; Nia Naelul Hasanah Ridwan; Ruzana Dhiauddin
Jurnal Kelautan Nasional Vol 14, No 2 (2019): AGUSTUS
Publisher : Pusat Riset Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (231.248 KB) | DOI: 10.15578/jkn.v14i2.6979

Abstract

Pulau Weh merupakan salah satu pulau terluar yang menjadi wilayah yang sangat penting di Indonesia sebagai pusat kawasan maritim, dipengaruhi oleh kondisi dipole mode di Samudera Hindia dan beberapa lautan seperti Laut Andaman dan Selat Malaka. Pada waktu tertentu terjadi anomali suhu yang berubah drastis yang menyebabkan tingginya level kematian karang yang diawali dengan kejadian bleaching. Studi ini bertujuan untuk mengidentifikasi kematian karang disebabkan oleh anomali suhu yang dibangkitkan oleh Indian Ocean Dipole (IOD) dan faktor antropogenik. Suhu permukaan laut regional dianalisis secara spasial dan statistik dalam bentuk data deret waktu. Metode Line Intercept Transect (LIT) untuk menilai tutupan dan kondisi karang dalam bentuk persen tutupan, indeks mortalitas, dan juga dokumentasi pemutihan karang, yang dilakukan di tiga (3) stasiun observasi (Keunekai, Ie Meulee, dan Batee Glah). Selama 5 tahun, tren suhu meningkat sebesar ±3 0C karena kondisi dipole mode sepanjang tahun. Pada Tahun 2016, dipole mode menunjukkan nilai negatif yang menyebabkan suhu hangat melalui Laut Andaman dan berdampak pada perairan Pulau Weh. ENSO memiliki peran dalam mendukung sebaran suhu yang lebih tinggi di pesisir barat Sumatera. Persen tutupan karang pada tiga (3) stasiun observasi mencapai 9,1 %, 34,4 %, dan 14,7 % yang dikategorikan buruk hingga sedang. Berdasarkan perhitungan indeks mortalitas, dikategorikan tinggi hingga sangat tinggi. Dampak paling berbahaya adalah kejadian bleaching yang sangat mengkhawatirkan di perairan Keunekai dan Batee Glah, mengindikasikan bahwa karang telah terancam oleh degradasi suhu.
Zonasi dan Struktur Komunitas Mangrove di Pesisir Kabupaten Merauke Sunarni Sunarni; Modesta Ranny Maturbongs; Taslim Arifin; Rinny Rahmania
Jurnal Kelautan Nasional Vol 14, No 3 (2019): DESEMBER
Publisher : Pusat Riset Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (18448.761 KB) | DOI: 10.15578/jkn.v14i3.7961

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui zonasi dan struktur ekosistem mangrove di wilayah pesisir Kabupaten Merauke tepatnya di Pantai Payumb Distrik Merauke, Pantai Nasem Distrik Naukenjerai dan muara sungai Kumbe Distrik Semangga pada bulan Oktober 2015. Pantai Nasem dan Pantai Payumb dibagi menjadi 2 zona pengambilan sampling sedangkan stasiun muara Sungai Kumbe dibagi menjadi 3 zona. Ukuran transek 100-150m tegak lurus garis pantai dengan ukuran plot 10x10m2. Pada setiap plot sampling dilakukan perhitungan kerapatan jenis, frekuensi jenis dan indeks dominansi. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh 15 jenis mangrove yang tersebar di ketiga stasiun yaitu Pantai Nasem 7 spesies, Pantai Payumb 9 spesies dan muara Sungai Kumbe 13 spesies. Vegetasi mangrove di kawasan penelitian disusun oleh 8 genus dan 15 jenis mangrove. Berdasarkan dominansi jenis vegetasi mangrove,   kondisi komunitas di stasiun Pantai Nasem dan Pantai Payumb termasuk dalam kriteria labil dengan tipe substrat berpasir dan dominansi genus Avicennia. Sebaliknya stasiun muara Sungai Kumbe memiliki kondisi komunitas vegetasi yang stabil dengan tipe substrat berlumpur dan dominansi genus Rhizophora. Zonasi ekosistem mangrove pada area pesisir Kabupaten Merauke terdiri dari dua tipe zonasi. Pada daerah pesisir yang berhadapan langsung dengan laut, genus Avicennia merupakan pioneer dalam membentuk zonasi vegetasi mengrove. Sebaliknya pada daerah sungai, genus Rhizophora menjadi pioneer membentuk zonasi pada kedua sisi badan sungai.
Model Ruang Wilayah Pendaratan Amfibi Pulau Batam Menggunakan Teknologi Penginderaan Jauh dan Sistem Informasi Geografi Agus Iwan Santoso; Hartono Hartono; Sunarto Sunarto
Jurnal Kelautan Nasional Vol 14, No 2 (2019): AGUSTUS
Publisher : Pusat Riset Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (632.583 KB) | DOI: 10.15578/jkn.v14i2.7646

Abstract

Indonesia merupakan negara kepulauan dengan 2/3 wilayahnya merupakan lautan. Posisi Pulau Batam sangat strategis karena selain berada pada Selat Malaka yang merupakan choke point, juga tepat berada pada jalur komunikasi dan perdagangan dunia. Hal ini merupakan potensi ancaman karena akan mendorong hadirnya kekuatan asing untuk mengamankan kepentingan negaranya. Perlu adanya sistem pertahanan negara yang dipersiapkan untuk operasi militer perang. Wilayah pendaratan amfibi merupakan bagian dari wilayah pertahanan dinamis yang digunakan untuk operasi militer perang. Teknologi penginderaan jauh mampu memberikan informasi berupa parameter-parameter yang berpengaruh terhadap penentuan model ruang wilayah pendaratan amfibi, yaitu : 1) Gradien pantai depan; (2) Jenis/bentuk garis pantai pendaratan; (3) Panjang garis pantai pendaratan; (4) Komposisi dasar laut; (5) Medan belakang pantai; (6) Rintangan pantai; (7) Jaringan jalan; (8) Penggunaan lahan. Sistem informasi geografi melalui pendekatan kuantitatif berjenjang tertimbang digunakan untuk menghasilkan model ruang wilayah pendaratan amfibi. Hasil dari penelitian ini adalah Pada Pulau Batam terdapat 5 (lima) lokasi yang dapat digunakan untuk pendaratan amfibi yaitu : (1) Pada kecamatan Nongsa, posisi 104° 7’ 34,100” BT - 1° 10’ 51,986” LU, (2) Pada kecamatan Sungaibedug, posisi 104° 3’ 52.505” BT - 0° 59’ 8.187” LU, (3) Pada kecamatan Sagulung, posisi 104⁰ 2’ 31.032” BT - 0⁰ 59’ 7.444” LU, (4) Pada kecamatan Sagulung, posisi 104° 1’ 53.793” BT - 0° 58’ 55.908” LU dan (5) Pada kecamatan Sekupang, posisi 103° 55’ 11.385” BT - 1° 8’ 10.207” LU.
Kajian Kerentanan Pesisir Terhadap Kenaikan Muka Air Laut di Kabupaten Subang-Jawa Barat Dian Noor Handiani; Soni Darmawan; Aida Heriati; Yohanes D. Aditya
Jurnal Kelautan Nasional Vol 14, No 3 (2019): DESEMBER
Publisher : Pusat Riset Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (403.662 KB) | DOI: 10.15578/jkn.v14i3.7583

Abstract

Akresi dan erosi di sepanjang garis pantai merupakan salah satu masalah di pesisir Kabupaten Subang-Jawa Barat. Kondisi tersebut digabungkan dengan kenaikan muka air laut akibat perubahan iklim global mengakibatkan wilayah pesisir tersebut rentan mengalami bencana. Penelitian ini bertujuan menentukan indeks kerentanan wilayah pesisir Kabupaten Subang berdasarkan parameter fisik pesisir, yaitu geomorfologi, rentang pasang surut, rata-rata ketinggian gelombang dan permukaan air laut, jenis batuan geologi, serta perubahan garis pantai (akresi dan erosi). Data-data spasial pesisir diklasifikasikan berdasarkan tingkat kerentanan, dan nilai kerentanan total dihitung dengan rumusan coastal vulnerability index. Hasilnya menunjukkan parameter fisik oseanografi (pasut dan tinggi gelombang) memiliki tingkat kerentanan sangat rendah. Sedangkan, ketinggian permukaan air laut dan jenis batuan geologi di sekitar pantai menunjukkan kerentanan tinggi dan sangat tinggi. Adapun klasifikasi perubahan garis pantai di sepanjang kecamatan bervariasi dan kerentanannya berkorealsi dengan tingkat akresi dan erosinya. Hasil perhitungan indeks kerentanan total CVI di semua kecamatan pesisir di Kabupaten Subang dikategorikan sangat rendah, akan tetapi kajian indeks secara lokal menunjukkan Kecamatan Sukasari dan Blanakan memiliki kerentanan sangat tinggi. Variasi indeks ini menunjukkan perubahan lokal di pesisir Kabupaten Subang berkorelasi dengan perubahan global yang terjadi, dimana kenaikan permukaan air laut lokal merupakan dampak perubahan laut dan iklim secara global.
Dinamika Struktur Komunitas Lamun Kepulauan Karimunjawa, Kabupaten Jepara Agustin Rustam; Yusmiana Puspita Rahayu Ningsih; Devi Dwiyanti Suryono; August Daulat; Hadwijaya Lesmana Salim
Jurnal Kelautan Nasional Vol 14, No 3 (2019): DESEMBER
Publisher : Pusat Riset Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (881.095 KB) | DOI: 10.15578/jkn.v14i3.7761

Abstract

Salah satu faktor yang mempengaruhi struktur komunitas lamun adalah kondisi lingkungan tempat lamun tumbuh yang dipengaruhi musim. Penelitian ini dilakukan tahun 2016 dan 2018 di perairan kepulauan Karimunjawa, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah. Tujuan penelitian ini mendapatkan dinamika kondisi eksisting ekosistem lamun melalui pendekatan struktur komunitas di empat pulau dan monitoring di dua pulau pada dua musim yang berbeda. Metode penelitian dilakukan dengan survei lapangan, penentuan titik sampling secara purposive sampling dan dianalisis struktur komunitas lamun serta metode skoring/bobot untuk mengestimasikan kondisi lamun. Hasil penelitian ada sepuluh spesies lamun yang ditemukan di empat pulau dengan 15 titik sampling. Dua pulau dilakukan monitoring terlihat adanya kecenderungan penurunan prosentase penutupan lamun dan berkurangnya spesies lamun namun ada peningkatan keanekaragaman lamun berdasarkan jumlah individu yang ditemukan. Jenis lamun yang berperan penting di Kepulauan Karimunjawa adalah jenis Thalassia  hemprichii, Cymodocea rotundata dan Enhalus acoroides. Peningkatan jumlah individu lamun dikarenakan adanya pergantian peran lamun di lokasi monitoring dengan lamun yang  berukuran lebih kecil dari sebelumnya. Berdasarkan sistem pembobotan dan baku mutu kondisi lingkungan  ekosistem lamun rata-rata menunjukkan kondisi dalam keadaan rusak, kurang kaya dan kurang sehat. Hal ini dapat disebabkan ada potensi pencemaran limbah domestik yang  terperangkap di ekosistem lamun sehingga terjadi penurunan struktur komunitas lamun, ditunjukkan dengan adanya hamparan makro alga di beberapa lokasi, mengindikasikan adanya pengayaan nutrien. Diperlukan pemantauan yang berkelanjutan untuk ekosistem lamun, dan kesadaran masyarakat untuk tidak membuang sampah ke laut, sehingga lingkungan perairan terjaga dengan baik. 
Cadangan Karbon Ekosistem Mangrove di Sulawesi Utara dan Implikasinya Pada Aksi Mitigasi Perubahan Iklim Terry Louise Kepel; Restu Nur Afi Ati; Agustin Rustam; Yusmiana Puspitaningsih Rahayu; Mariska Astrid Kusumaningtyas; August Daulat; Devi D. Suryono; Nasir Sudirman; Novi Susetyo Adi; Desy Maria Helena Mantiri; Andreas Albertino Hutahaean
Jurnal Kelautan Nasional Vol 14, No 2 (2019): AGUSTUS
Publisher : Pusat Riset Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (455.705 KB) | DOI: 10.15578/jkn.v14i2.7711

Abstract

Sulawesi Utara adalah salah satu provinsi yang menerapkan kebijakan rencana aksi nasional/daerah (RAN/RAD) gas rumah kaca sebagai bagian dari usaha nasional dalam mitigasi perubahan iklim. Salah satu kegiatan mitigasi berbasis lahan di Sulawesi Utara adalah pengukuran dan monitoring biomas dan stok karbon di hutan termasuk hutan pantai yang luasan pengukuran masih terbatas. Pada tahun 2013-2015, Tim Penelitian Karbon Biru melakukan penelitian di empat lokasi di Sulawesi Utara yang bertujuan untuk menganalisis kondisi ekologis dan kemampuan ekosistem pesisir terutama mangrove dalam menyimpan karbon serta implikasi pada mitigasi gas rumah kaca. Lokasi penelitian terletak di Ratatotok – Kabupaten Minahasa Tenggara, Kema – Kabupaten Minahasa Utara, Pulau Lembeh – Kota Bitung dan  Pulau Sangihe – Kabupaten Sangihe. Jenis mangrove yang teridentifikasi adalah 17 spesies dan 3 spesies diantaranya yaitu B. gymnorrhiza, R. mucronata dan S. alba ditemukan di semua lokasi. Keanekaragaman spesies berkisar dari rendah sampai sedang dan penyebaran spesies tidak merata.  Kapasitas penyimpanan karbon adalah sebesar 343,85 Mg C ha-1 di Ratatotok, 254,35 Mg C ha-1 di Lembeh, 387,95 Mg C ha-1 di Kema, dan 594,83 Mg C ha-1 di Sangihe. Lebih dari 59% simpanan karbon berada pada sedimen. Nilai rata-rata simpanan karbon di keempat lokasi penelitian sebesar 456,86 M C ha-1 atau 5,70 Tg C setelah dikonversi dengan luas total ekosistem mangrove Sulawesi Utara. Nilai ini setara dengan penyerapan CO2 dari atmosfer sebesar 20,70 Tg CO2e. Potensi emisi akibat perubahan lahan mangrove mencapai 0,42 Tg CO2e. Upaya meningkatkan kontribusi penurunan emisi Sulawesi Utara dapat dicapai dengan melakukan intervensi pengurangan emisi melalui rehabilitasi dan konservasi ekosistem mangrove.

Page 11 of 23 | Total Record : 229