cover
Contact Name
Teguh Pribadi
Contact Email
teguh@malahayati.ac.id
Phone
+6282282204653
Journal Mail Official
holistik@malahayati.ac.id
Editorial Address
Universitas Malahayati Bandar Lampung, Indonesia Jl Pramuka No. 27 Kemiling Bandar Lampung, Indonesia
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
Holistik Jurnal Kesehatan
Published by Universitas Malahayati
ISSN : 19783337     EISSN : 26207478     DOI : 10.33024/hjk
Core Subject : Health,
Berisi kumpulan karya ilmiah dari peneliti diberbagai perguruan tinggi di Indonesia, di bidang ilmu kesehatan khususnya bidang ilmu keperawatan yang berdasarkan kepada kebutuhan pasien secara total meliputi: kebutuhan fisik, emosi, sosial, ekonomi dan spiritual. Adapun penelitiannya mencakup 4 aspek pokok, yakni: promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif.
Articles 624 Documents
Tingkat pengetahuan, sikap, dan perilaku kepala keluarga terhadap pemberantasan sarang nyamuk Wahyudi Wahyudi; Riski Dwi Prameswari; Indra Surya Permana; Devin Mahendika; Matheus Aba
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 17, No 3 (2023)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v17i3.10282

Abstract

Background: Bandung City is a dengue-endemic city and one of the cities with the highest morbidity rate in Indonesia. Human behavior contributes greatly in controlling these mosquito breeding sites and reducing the number of mosquito populations.Purpose: To determine the level of knowledge, attitude, and behavior of head of household about mosquito nest eradicationMethod: The study design was cross-sectional and conducted at the Public health Center Ujungberung. Samples of 47 heads of household were taken using purposive sampling techniques with inclusion criteria: aged 18-60 years. The instrument used is a questionnaire, and data analysis using a chi-square test.Results: The variable that was significantly related to mosquito nest eradication behavior (p = 0.024). POR=5.6, good knowledge heads of households are 5.6 times more likely to engage in mosquito nest eradication behavior. The attitude (p = 0.001). POR=11.4, of heads of household who have a supportive attitude, are 11.4 times more likely to engage in the behavior of mosquito nest eradication.Conclusion: Lack of knowledge and poor attitude f the head of the household can cause bad behavior of the head of the household about mosquito nest eradicationSuggestion: It is also recommended that regular health education programs to promote and promote mosquito nest eradication activities as a control vector for dengue transmission.Keywords: Eradication of Mosquito Nests; Dengue; Knowledge; Attitude; Behaviour.Pendahuluan: Kota Bandung merupakan kota endemik dengue dan salah satu Kota dengan angka keterjangkitan tertinggi di Indonesia. Perilaku dan pola hidup manusia berkontribusi besar dalam pengendalian perkembangbiakan yang dapat mengurangi jumlah populasi nyamuk.Tujuan: Untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan dan sikap dengan perilaku pemberantasan sarang nyamuk.Metode: Desain studi adalah cross-sectional dilakukan di Puskesmas Ujungberung. Sampel sebanyak 47 kepala keluarga diambil menggunakan Teknik purposive sampling dengan kriteria inklusi: berumur 18-60 tahun tanpa riwayat penyakit mental, dan tinggal menetap di wilayah kerja Puskesmas Ujungberung. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner. Analisis data menggunakan uji chi-square.Hasil: Variabel yang berhubungan signifikan dengan perilaku pemberantasan sarang nyamuk adalah pengetahuan (p=0,024). POR=5,6, kepala keluarga yang berpengetahuan baik berpeluang 5,6 kali melakukan perilaku PSN dibandingkan dengan kepala keluarga yang memiliki pengetahuan kurang. Sikap berhubungan dengan pemberantasan sarang nyamuk (p=0,001). POR=11,4, kepala keluarga yang memiliki sikap mendukung berpeluang 11,4 kali melakukan perilaku PSN dibandingkan dengan kepala keluarga yang memiliki sikap kurang mendukung.Simpulan: Berprilaku yang buruk terhadap pemberantasan sarang nyamuk dapat disebabkan kurangnya pengetahuan dan didukung oleh sikap kepala keluarga yang negatif.Saran:Direkomendasikan juga agar program pendidikan kesehatan secara rutin kepada masyarakat dan menggalakkan kegiatan pemberantasan sarang nyamuk sebagai pengendalian vector penularan dengue. 
Ketakutan terhadap Covid-19, agreeableness, dan neuroticism sebagai anteseden psychological distress selama pandemi Covid-19 Rahma Dianti; Marselius Sampe Tondok
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 17, No 5 (2023)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v17i5.10420

Abstract

Background: Covid-19 is an infectious disease caused by the SARS-CoV-2 virus. On March 11 2020, the World Health Organization (WHO) officially declared Covid-19 a pandemic. In Indonesia, the first positive case was detected on March 2 2020. Covid-19 can cause several symptoms in infected individuals such as fever, cough, difficulty breathing, fatigue, loss of sense of smell and taste, headaches, etc. One of the psychological impacts caused by the Covid-19 pandemic is psychological distress. Psychological distress is an individual's emotional state when facing something that is perceived as threatening, which is characterized by depression and anxiety.Purpose: To determine the effect of fear of Covid-19 and personality traits on psychological distress during the Covid-19 pandemic.Method: Quantitative cross-sectional survey using a questionnaire as a means of collecting data. Respondents were obtained using convenience sampling, which is a non-probability sampling method that takes respondents who are easy to access. Respondent criteria are individuals who are at least 18 years old and express consent through informed consent. The research was conducted on 8 November - 2 December 2021 using Google forms which were distributed via various social media with 337 respondents.Results: The average age of respondents in the study was 27.37 years with an SD value = 7.787, most of the respondents were in the 18-30 year age range, 264 people (78.3%). Fear of Covid-19 and neuroticism have a unidirectional influence on psychological distress, which means that the higher the fear of Covid-19 and the more dominant the individual's neuroticism personality, the higher the psychological distress felt during the Covid-19 pandemic. On the other hand, the agreeableness dimension has an inverse effect, so that the more dominant the individual's agreeable personality, the lower the psychological distress felt.Conclusion: Fear of Covid-19, personality trait agreeableness, and personality trait neuroticism are factors that can predict individual psychological distress during the Covid-19 pandemic. Meanwhile, the personality traits extraversion, conscientiousness, and openness do not have a significant influence on psychological distress during the pandemic. Apart from that, demographic factors such as age, who the individual lives with, monthly income, and history of comorbidities can cause differences in levels of psychological distress.Keywords: Covid-19; Fear; Neuroticism; Psychological Distress Pendahuluan: Covid-19 merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh virus SARS-CoV-2. Pada tanggal 11 Maret 2020, World Health Organization (WHO) resmi menetapkan Covid-19 sebagai sebuah pandemi. Di Indonesia, kasus positif yang pertama dideteksi pada tanggal 2 Maret 2020. Covid-19 dapat menimbulkan beberapa gejala pada individu yang terinfeksi seperti demam, batuk, kesulitan bernafas, kelelahan, kehilangan indera penciuman dan perasa, sakit kepala, dan lain-lain. Salah satu dampak psikologis yang diakibatkan oleh pandemi Covid-19 adalah psychological distress. Psychological distress merupakan keadaan emosi individu ketika menghadapi sesuatu yang dipersepsi mengancam, yang ditandai dengan depresi dan kecemasan.Tujuan: Untuk mengetahui pengaruh dari ketakutan terhadap Covid-19 dan personality traits terhadap psychological distress selama pandemi Covid-19.Metode: Penelitian kuantitatif survei cross-sectional dengan penggunaan kuesioner sebagai alat untuk mengumpulkan data. Responden diperoleh menggunakan convenience sampling yaitu metode sampling non-probabilitas mengambil responden yang mudah untuk diakses. Kriteria responden adalah individu yang sudah berusia minimal 18 tahun dan menyatakan persetujuan melalui informed consent. Penelitian dilakukan pada tanggal 8 November - 2 Desember 2021 menggunakan google forms yang disebarkan melalui berbagai media sosial dengan responden sebanyak 337 orang.Hasil: Rata-rata usia responden pada penelitian adalah 27.37 tahun dengan nilai SD = 7.787, sebagian besar responden berada pada rentang usia 18-30 tahun sebanyak 264 orang (78.3%). Fear of Covid-19 dan neuroticism memiliki pengaruh yang searah terhadap psychological distress, yang artinya semakin tinggi ketakutan terhadap Covid-19 dan semakin dominan kepribadian neuroticism dari individu, semakin tinggi pula psychological distress yang dirasakan selama pandemi Covid-19. Sebaliknya, dimensi agreeableness memiliki pengaruh yang terbalik, sehingga semakin dominan kepribadian agreeableness dari individu, semakin rendah psychological distress yang dirasakan.Simpulan: Ketakutan terhadap Covid-19, personality trait agreeableness, dan personality trait neuroticism merupakan faktor-faktor yang dapat memprediksi psychological distress individu selama pandemi Covid-19. Sedangkan personality trait extraversion, conscientiousness, dan openness tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap psychological distress selama pandemi. Selain itu, faktor demografi seperti usia, dengan siapa individu tinggal, pendapatan per bulan, serta riwayat penyakit penyerta dapat menimbulkan perbedaan tingkat psychological distress.
Dukungan keluarga dan kualitas hidup pada pasien dengan Skizofrenia Bayu Ahya Dinata; Teguh Pribadi; Triyoso Triyoso
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 17, No 4 (2023)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v17i4.9190

Abstract

Background: Based on data World Health Organization (WHO) in 2022 schizophrenia is a severe mental disorder that affects about 7 per thousand of the adult population, especially in the age group 15-35 years. Although the incidence is low (3-10,000), a high prevalence is due to chronicity. Based on data obtained from the Lampung Provincial Mental Hospital in 2021, 27,490 outpatient visits were recorded, 2,606 were new patients and 24,884 were old patients, of which 17,924 were male and 9,566 were female.Purpose: To identify the relationship between family support and quality of life among patients with schizophrenia.Method: This type of research uses quantitative, the research design uses an analytical survey with a cross-sectional approach, the population and sample in this study were outpatient patients at the Lampung Provincial Mental Hospital, accidental sampling technique, univariate and bivariate data analysis using chi square. The research will be conducted at the Regional Mental Hospital of Lampung Province in February 2022.Results: Most of the family support is a poor category as many as 29 respondents (58.0%). Most quality of life among patients with schizophrenia is a poor category as many as 29 respondents (58.0%).Conclusion: There is a relationship between family support and quality of life in schizophrenic patients at the Lampung Provincial Mental Hospital in 2022 with a p-value = 0.000 (< 0.05)Keywords:  Family Support; Quality of Life; Patients; SchizophreniaPendahuluan: Skizofrenia merupakan gangguan mental yang berat yang mempengaruhi sekitar 7 per seribu dari populasi orang dewasa, terutama di kelompok usia 15-35 tahun. Meskipun insiden rendah (3-10.000), prevalensi yang tinggi terjadi karena kronisitas. Berdasarkan data yang diperoleh dari Rumah Sakit Jiwa Provinsi Lampung tahun 2021 tercatat 27.490 kunjungan pasien jiwa yang rawat jalan, 2.606 merupakan pasien baru dan 24.884 merupakan pasien lama, dimana 17.924 laki dan 9.566 perempuan, dari data 24.884 pasien lama terdapat 19.907 pasien mengalami kekambuhan.Tujuan: Diketahui hubungan antara dukungan keluarga dengan kualitas hidup pada pasien skizofrenia  Metode: Jenis penelitian menggunakan kuantitatif, rancangan penelitian menggunakan survey analitik dengan pendekatan cross sectional,  populasi dan sampel dalam penelitian ini adalah pasien melakukan rawat jalan di Rumah Sakit Jiwa Daerah Provinsi Lampung, teknik sampling  accidental , analisa data univariat dan bivariat menggunakan chi square. Penelitian akan dilakukan di Rumah Sakit Jiwa Daerah Provinsi Lampung pada bulan Februari 2022.Hasil : Sebagian besar dukungan keluarga kategori buruk sebanyak 29 responden (58,0%). Sebagian besar kualitas hidup pasien skizofrenia kategori buruk sebanyak 29 responden (58,0%). Simpulan: Ada hubungan antara dukungan keluarga dengan kualitas hidup pada pasien skizofrenia di rumah sakit jiwa daerah provinsi Lampung tahun 2022 dengan nilai p-value = 0,000 (< α 0,05)
Konsumsi gula pasir dan konsumsi serat terhadap kejadian Diabetes Melitus Rima January Putri Ridwan Gani; Rahmah Rahmah; Nini Niatullah Aliyati; Juandri Seprianto Tusi; Priyo Sasmito
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 17, No 3 (2023)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v17i3.10289

Abstract

Background: The incidence of diabetes in Bandung City was 43,761 cases. The high number of cases can be caused by an unhealthy lifestyle, one of which is a bad diet.Purpose: To determine the effect of sugar consumption and fiber consumption on the incidence of diabetes mellitus.Method: A case-control research design with the population of cases was people with diabetes mellitus, while the control population was people with other non-communicable diseases. The number of samples in this study was 50 case groups and 50 control groups. The sampling technique used is systematic random sampling. The data collection instrument used is a questionnaire. Data analysis using chi-square test.Results: The study respondents were excessive in consuming sugar at 58%, and more than half of respondents were consuming enough fiber at 53%. There is an effect of sugar consumption on the incidence of diabetes mellitus (p = 0.008). And there is an effect of fiber consumption on the incidence of diabetes mellitus (p = 0.005).Conclusion: The incidence of diabetes mellitus can be influenced by excessive sugar consumption and low fiber consumption.Suggestion: It is recommended to health workers to further increase education about the importance of a healthy diet.Keywords: Diabetes Mellitus; Diet; Sugar Consumption; Fiber Consumption.Pendahuluan: Kejadian diabetes di Kota Bandung sebanyak 43.761 kasus. Tingginya jumlah kasus dapat disebabkan oleh gaya hidup yang tidak sehat, salah satunya adalah pola makan yang tidak baik.Tujuan: Untuk mengetahui kebiasaan konsumsi gula pasir berlebih dan konsumsi serat terhadap kejadian diabetes melitus.Metode: Penelitian case control. Populasi kasus adalah penderita diabetes melitus, sedangkan populasi kontrolnya adalah penderita penyakit tidak menular lainnya. Jumlah sampel dalam penelitian ini adalah 50 kelompok kasus dan 50 kelompok kontrol. Teknik sampling yang digunakan adalah systematic random sampling. Instrumen pengumpulan data yang digunakan adalah kuesioner. Analisis data menggunakan uji chi square.Hasil: Sebagian besar responden penelitian berlebih dalam mengkonsumsi gula yaitu 58%, dan lebih dari setengah responden yang cukup konsumsi serat yaitu 53%. Kebiasaan konsumsi gula berlebih dengan kejadian diabetes melitus (p=0,008). Dan ada konsumsi serat dengan kejadian diabetes melitus (p=0,005).Simpulan: Kejadian diabetes melitus dapat dipengaruhi oleh konsumsi gula yang berlebih dan konsumsi rendah serat.Saran: Kepada tenaga kesehatan untuk lebih meningkatkan edukasi tentang pentingnya pola makan sehat.
Slow deep breathing exercise untuk mengurangi nyeri selama pelepasan water seal-drainage (WSD) pada pasien pneumothorax Novia Wulansari; Fitrian Rayasari; Dewi Anggraini
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 17, No 6 (2023)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v17i6.11933

Abstract

Background: Health problems are one of the big problems that result in an increase in the death rate in the world. One of them is a case of pneumothorax, especially spontaneous pneumothorax. Pneumothorax is defined as the presence of air in the chest cavity and specifically in the pleural cavity. WSD is a special tube that is inserted into the pleural cavity using a trocar or surgical clamp. Insertion of a WSD is a painful and frustrating experience for the patient. Studies show that patients who undergo installation experience pain ranging from moderate to severe. Slow deep breathing can stimulate autonomic nervous responses through the release of endorphin neurotransmitters which have an effect on reducing sympathetic nerve responses which function to increase body activity and increase parasympathetic responses to reduce body activity. Non-pharmacological slow deep breathing exercise therapy can be given in 5 to 10 minutes per day. Providing slow deep breathing relaxation therapy for 15 minutes can reduce the intensity of pain.Purpose: To know effectiveness EBNP Slow Deep Breathing Exercise (SDBRE) to reduce pain during and during the release of Water Sealed Drainage (WSD)Method: Quantitative research using quasi-experimental with a repeated-measures design on respiratory disorder intervention patients who had water sealed drainage (WSD) installed at the Persahabatan General Hospital, East Jakarta in May - June 2023 with a sample size of 20 participants. The instruments in this research are educational media in the form of leaflets and learning videos about the slow deep breathing exercise intervention and the pre and post assessment instruments for EBNP implementation, namely the Visual Analogue Scale (VAS), which is to measure participants' pain levels before (pre) intervention and after (post) slow intervention deep breathing exercise.Results: Shows that the intervention and control groups have differences in the mean pain levels. In the intervention group it was 2,366 while in the control group it was 3,100, so the mean difference between the two groups was 0.734, which means there is a large difference between the two groups. This is caused by the treatment given. The p-value is 0.001 < 0.005, so according to the basis of decision making in the test it can be concluded that Ho is rejected, which means that there is an effect of giving slow deep breathing exercise intervention which can affect pain.Conclusion: Independent nursing intervention in the form of deep and slow breathing exercises for patients with respiratory disorders who have installed water sealed drainage (WSD) at Persahabatan General Hospital has a significant effect in reducing pain.Keywords: Pain Intensity, Pneumothorax; Relaxation Therapy; Water Sealed Drainage (WSD).Pendahuluan: Masalah kesehatan merupakan salah satu permasalahan besar yang mengakibatkan terjadinya peningkatan angka kematian di dunia. Salah satunya ialah kasus pneumothorax terutama pneumothorax spontan. Pneumothorax diartikan sebagai adanya udara di rongga dada dan secara spesifik berada pada rongga pleura. WSD adalah pipa khusus yang dimasukkan ke rongga pleura dengan perantaraan trokar atau klem penjepit bedah. Pemasangan WSD merupakan hal yang menyakitkan dan pengalaman yang membuat frustasi bagi pasien. Studi menunjukkan bahwa pasien yang menjalani pemasangan mengalami nyeri mulai dari skala sedang sampai berat. Slow deep breathing dapat merangsang respon saraf otonom melalui pelepasan neurotransmiter endorfin yang berpengaruh terhadap penurunan respon saraf simpatis yang berfungsi meningkatkan aktivitas tubuh dan meningkatkan respon parasimpatis untuk menurunkan aktivitas tubuh. Terapi non farmakologi slow deep breathing exercise dapat diberikan dalam waktu 5 sampai 10 menit perhari. Pemberian terapi relaksasi nafas dalam lambat selama 15 menit dapat menurunkan intensitas nyeri.Tujuan: Untuk mengetahui efektivitas Slow Deep Breathing Exercise (SDBRE) untuk mengurangi nyeri  selama dan saat pelepasan  Water Sealed Drainage (WSD)Metode: Penelitian kuantitatif menggunakan quasi-experimental dengan desain repeated-measures pada pasien intervensi gangguan respirasi yang terpasang water sealed drainage (WSD) di Rumah Sakit Umum Persahabatan Jakarta Timur pada bulan Mei - Juni 2023 dengan jumlah sampel 20 partisipan. Instrumen dalam penelitian ini yaitu media edukasi berupa leaflet dan video pembelajaran intervensi slow deep breathing exercise dan instrumen penilaian pre dan post pelaksanaan EBNP yaitu Visual Analogue Scale (VAS) yaitu untuk mengukur tingkat nyeri partisipan sebelum (pre) intervensi dan setelah (post) intervensi slow deep breathing exercise.Hasil: Menunjukkan kelompok intervensi dan kontrol terdapat selisih nilai rerata tingkat nyeri. Pada kelompok intervensi 2.366 sedangkan pada kelompok kontrol 3.100, sehingga nilai beda mean kedua kelompok 0.734 yang artinya terdapat selisih yang jauh antara kedua kelompok. Hal ini disebabkan oleh sebuah perlakuan yang diberikan. Nilai p-value sebesar 0.001 < 0.005, maka sesuai dasar pengambilan keputusan dalam uji dapat disimpulkan Ho ditolak yang artinya terdapat pengaruh pemberian intervensi slow deep breathing exercise  dapat mempengaruhi nyeri.Simpulan: Intervensi keperawatan mandiri berupa latihan nafas dalam dan lambat  pada pasien gangguan respirasi yang terpasang water sealed drainage (WSD) di Rumah Sakit Umum Persahabatan mempunyai pengaruh yang signifikan dalam menurunkan nyeri.
Penurunan kecemasan dan nyeri melahirkan secara normal melalui penerapan deep breathing exercise dan musik relaksasi Melicha Kristine Simanjuntak; Dwi Iryani
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 17, No 6 (2023)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v17i6.12164

Abstract

Background: Childbirth is a process that a woman must go through to become a mother. The birthing process often causes feelings of fear and anxiety about the pain that is felt, resulting in the mother not being calm about childbirth and hampering the birthing process itself. Many non-pharmacological treatments for anxiety and pain have been developed to create a pleasant birth experience, such as hypnotherapy, massage, hot and cold compresses, relaxation techniques.Purpose: To determine the effect of deep breathing exercise and relaxation music on reducing anxiety levels and intensity of delivery pain.Method: Quasi experiment with two group comparison pretest-posttest design approach with 30 respondents taken based on consecutive sampling technique and divided in 2 groups, 15 respondents for the deep breathing exercise group and 15 respondents for the relaxation music group. Research location at BPM Pelita Kasih in March-June 2023. Statistical tests use the Dependent sample T-Test. Data collection used the STAI instrument to assess anxiety levels and the VAS instrument to assess pain intensityResults: Research shows that there is an effect of deep breathing exercise and relaxation music on reducing the intensity of delivery pain with a p-value in the deep breathing exercise group = 0.03 and in the relaxation music group <0.01. Meanwhile, analysis of anxiety levels showed that there was no effect of deep breathing exercise and relaxation music with a p-value = 0.475 for the deep breathing exercise group and 0.359 for the relaxation music group.Conclusion: Deep breathing exercise and relaxation music can reduce the intensity of delivery pain so that when applied to every pregnant woman, it is hoped that it can provide a pleasant labour experience.Keyword: Anxiety; Deep Breathing Exercise; Delivery Pain; Relaxation MusicPendahuluan: Melahirkan secara normal merupakan suatu proses yang harus dilalui oleh seorang wanita untuk menjadi seorang ibu. Proses melahirkan secara normal tidak jarang menimbulkan perasaan takut dan cemas akan nyeri yang dirasakan sehingga mengakibatkan ibu tidak tenang menghadapi melahirkan secara normal dan menghambat proses melahirkan secara normal itu sendiri. Penanganan cemas dan nyeri secara non farmakologi sudah banyak dikembangkan untuk mewujudkan pengalaman bersalin yang menyenangkan seperti hipnoterapi, massage, kompres panas dan dingin, teknik relaksasi.Tujuan: Untuk mengetahui pengaruh deep breathing exercise dan musik relaksasi terhadap penurunan tingkat kecemasan dan intensitas nyeri melahirkan secara normal.Metode: Quasi eksperimen dengan pendekatan two group comparison pre-test dan post-test design dengan 30 responden yang diambil berdasarkan teknik consecutive sampling dan ke dalam 2 kelompok, 15 responden untuk kelompok deep breathing exercise dan 15 responden untuk kelompok musik relaksasi. Lokasi penelitian di BPM Pelita Kasih pada Maret-Juni 2023. Uji statistik menggunakan uji T-Test Dependen. Pengumpulan data menggunakan instrument STAI untuk menilai tingkat kecemasan dan instrument VAS untuk menilai intensitas nyeri.Hasil: Penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh deep breathing exercise dan musik relaksasi terhadap penurunan intensitas nyeri melahirkan secara normal dengan nilai p-value pada kelompok deep breathing exercise yaitu 0.03 dan pada kelompok musik relaksasi yaitu <0.01. Sedangkan analisis terhadap tingkat kecemasan menunjukkan tidak ada pengaruh deep breathing exercise dan musik relaksasi dengan nilai p-value yaitu 0.475 untuk kelompok deep breathing exercise dan 0.359 untuk kelompok musik relaksasi. Simpulan: Deep breathing exercise dan musik relaksasi dapat menurunkan intensitas nyeri melahirkan secara normal sehingga apabila diterapkan pada setiap ibu hamil diharapkan dapat memberikan pengalaman melahirkan secara normal yang menyenangkan.
Hubungan usia dan jenis kelamin dengan kadar malondialdehid dengan pemberian aktivitas fisik: scoping review Nasya Adelia Putri; Yuliani Setyaningsih; Daru Lestyanto
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 17, No 6 (2023)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v17i6.12585

Abstract

Background: Oxidative stress is the careless production of free radicals and antioxidants in the body due to heavy activity. The end result of oxidative stress is MDA (Malondialdehyde) levels.Purpose: To determine the relationship between age and gender and MDA levels by providing physical activity treatment.Method: Search for sources of evidence in this scoping review using 5 data bases, namely Science Direct, Scopus, Springer Link, EBSCOhost, and Pubmed with a period of 2013-2023 in English. The process of selecting sources of evidence in the initial identification of 2045 then goes through a selection process according to feasibility, suitability of the topic and assessment of the final results of three sources of evidence through five stages of selection. Feasible and selected data sources are presented in a charting table.Results: The findings of this scoping review show that there is a relationship between age and gender and MDA levels in human subjects given physical activity.Conclusion: Normal physical activity is beneficial in improving body health, but if done to an extreme or excessive level it can cause an increase in free radicals and reduce antioxidants in the body. So that oxidative stress occurs which produces the final result in the form of MDA levels. Age and gender factors are related to MDA levels in the body. Keywords: Age; Gender; Malondialdehyde; Physical Activity. Pendahuluan: Stres oksidatif merupakan ketidak seimbangan antara produksi radikal bebas dan antioksidan yang ada di dalam tubuh akibat aktivitas yang berat. Hasil akhir stress oksidatif adalah kadar MDA (Malondialdehid).Tujuan: Untuk mengetahui hubungan usia dan jenis kelamin dengan kadar MDA dengan pemberian perlakuan aktivitas fisik.Metode: Pencarian sumber bukti pada scoping review ini menggunakan 5 data base yaitu Science Direct, Scopus, Springer Link, EBSCOhost, dan Pubmed dengan jangka waktu 2013-2023 yang berbahasa inggris. Proses pemilihan sumber bukti pada identifikasi awal 2045 kemudian melalui proses pemilihan sesuai dengan kelayakan, kesesuain topik dan penilaian hasil akhir sebanyak tiga sumber bukti melalui lima tahap pemilihan. Sumber data yang layak dan terpilih disajikan dalam tabel charting.Hasil: Hasil temuan scoping review ini bahwa ada hubungan antara usia dan jenis kelamin dengan kadar MDA pada subjek manusia yang diberikan aktivitas fisik.Simpulan: Aktivitas fisik yang sewajarnya dilakukan bermanfaat dalam meningkatkan kesehatan tubuh, namun apabila dilakukan secara ekstrem atau berlebihan dapat menyebabkan terjadinya peningkatan radikal bebas dan menurunkan antioksidan di dalam tubuh. Sehingga terjadinya stress oksidatif yang menghasilkan hasil akhir berupa kadar MDA. Faktor usia dan jenis kelamin berhubungan dengan kadar MDA di dalam tubuh.  
Buah naga (hylocereus polyrhizus) dan buah bit (beta vulgaris) terhadap peningkatan kadar hemoglobin Rohanah Rohanah; Ratumas Ratih Puspita; Rafika Dora Wijaya; Rita Dwi Pratiwi; Jelika Avelia Hareva
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 17, No 6 (2023)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v17i6.11800

Abstract

Background: Adolescents experience menstruation, have unhealthy eating habits, and cannot provide enough nutrients needed by the body to maintain Hb formation. If this happens for a long time, it will reduce Hb levels and cause anemia. So it can be seen that young women are the group most at high risk of experiencing anemia.Purpose:  To determine the effectiveness of giving dragon fruit and beetroot juice on hemoglobin levels in anemic adolescents.Method: A quasi-experimental design with a two-group pre-test and post-test design. We collected data through Hb examination before and after the intervention—the sample of 60 early adolescent participants who experienced anemia. The collecting sample was by purposive sampling.Results: Statistical test using the Wilcoxon test obtained an average hemoglobin level after administration of Dragon Fruit juice 13.03 ± 1.27g/dl and an average hemoglobin level after administration of beetroot juice 12.03 ± 0.32g/dl and difference in the difference in hemoglobin levels after administration of Dragon Fruit juice and Beet Fruit juice 1 ± 0.95 g/dl. Statistical test results obtained p-value = 0.001, ɑ: 0.05) p-value (0.001) < (0.05), its means that there is an effect of giving dragon fruit and beetroot juice to anemic adolescents.Conclusion: Dragon fruit and beetroot juice can increase Hb levels in anemic adolescents.Suggestion: For early adolescents is essential to prevent anemia, including consuming foods high in hemoglobin, such as dragon fruit and beetroot.Keywords: Adolescent; Anemia; Beetroot; Dragon Fruit; HaemoglobinPendahuluan: Remaja putri pada dasarnya mengalami menstruasi dan memiliki perilaku kebiasaan makan yang tidak sehat dan tidak mampu mencukupi zat makanan yang di butuhkan oleh tubuh untuk proses sistensis pembentukan Hb. Jika terjadi dalam waktu yang lama akan mengakibatkan kadar Hb berkurang dan menyebabkan anemia. Maka dapat dilihat bahwa remaja putri merupakan kelompok yang paling berisiko tinggi mengalami anemia.Tujuan: Mengetahui efektivitas pemberian jus buah naga dan buah bit terhadap kadar hemoglobin pada remaja anemia.Metode: Quasi eksperiment dengan rancangan two group pre-test and post-test design, data yang dikumpulkan dengan cara pemeriksaan Hb sebelum dan sesudah intervensi. Jumlah sampel sebanyak 60 partisipan remaja awal yang mengalami anemia diambil dengan tehnik purposive sampling.Hasil: Uji statistic dengan menggunakan uji Wilcoxon diperoleh rata-rata kadar hemoglobin sesudah pemberian jus Buah Naga 13,03 ± 1,27g/dl dan rata-rata kadar hemoglobin sesudah pemberian jus Buah Bit 12,03 ± 0,32g/dl dan perbedaan selisih kadar hemoglobin sesudah pemberian jus Buah Naga dan jus Buah Bit 1 ± 0,95g/dl. Hasil uji statistic diperoleh nilai (p-value=0,001, ɑ: 0,05) nilai p (0,001)< (0,05), sehingga dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh pemberian jus buah naga dan buah bit terhadap peningkatan kadar HB  pada remaja anemiaSimpulan: Jus buah naga dan buah bit dapat meningkatkan kadar Hb pada remaja anemia.Saran: Bagi remaja awal penting untuk mencegah anemia salah satunya dengan mengkonsumsi zat makanan yang tinggi haemoglobin seperti buah naga dan buah bit.
Perbedaan pengaruh peregangan dan pemulihan pasif terhadap kadar asam laktat: A scoping review Eli Sahiroh; Hanifa Maher Denny; Suroto Suroto
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 17, No 6 (2023)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v17i6.12412

Abstract

Background: Humans are living creatures who always carry out physical activity to fulfill their needs. After physical activity, an increase in metabolites such as lactic acid (LA) can reduce muscle cell vitality, affect enzyme activity and reduce energy production, resulting in fatigue. The impact of fatigue can result in decreased motivation and increased stress. This situation can influence performance to decrease.Purpose: Identify gaps and make suggestions about the effect of stretching as active recovery or passive recovery on fatigue.Method: The author used the PRISMA checklist to guide the scoping review. The databases used are Scopus, ScienceDirect, ProQuest, EBSCOhost, SpringerLink, Pubmed, JSTORE, Willey Online, Google Scholar to search for academic articles published in English between 2013 and 2023 that meet predetermined content criteria regarding the effect of stretching as active recovery or passive recovery of lactic acid levels. The process of selecting evidence sources based on screening and suitability of evidence from initially 24,116 sources of evidence identified in the search database was reduced to seventeen sources of evidence. The contents of these sixteen sources of evidence are mapped on charting tables where the data are summarized and synthesized first individually and then collectively by the authors. Repetitive and irrelevant data were collectively removed by the authors from the charting tables.Results: The findings of a scoping review from various research results that have been carried out previously stated that stretching as an active recovery is more effective in reducing lactic acid levels than passive recovery.Conclusion: The gap identified is the lack of research that focuses specifically on workers, even though their population in the world is larger than athletes. The research methodology (data collection and data analysis) of the article only includes quantitative methods, not accompanied by qualitative methods (mixed methods). Future research directions are suggested and limitations of this scoping review are also discussed.Keywords: Lactic Acid; Motivation; Muscle Cell Vitality; Physical ActivityPendahuluan: Manusia merupakan makluk hidup yang selalu melakukan aktivitas fisik untuk memenuhi kebutuhan mereka. Setelah aktivitas fisik, terjadi peningkatan metabolit seperti asam laktat (LA) dapat menurunkan vitalitas sel otot, mempengaruhi aktivitas enzim dan dan mengurangi produksi energi, mengakibatkan kelelahan. Dampak dari terjadinya kelelahan dapat berpengaruh terhadap motivasi yang menurun, dan stress yang semakin meningkat. Keadaan tersebut dapat mempengaruhi kinerja yang semakin menurun.Tujuan: Mengidentifikasi kesenjangan dan membuat saran tentang pengaruh pemberian peregangan sebagai recovery aktif maupun melakukan recovery pasif terhadap kelelahan.Metode: Penulis menggunakan daftar periksa PRISMA untuk memandu melakukan scoping review.  Basis data yang digunakan yaitu Scopus, ScienceDirect, ProQuest, EBSCOhost, SpringerLink, pubmed, JSTORE, Willey Online, Google Scholar untuk mencari artikel akademik yang diterbitkan dalam Bahasa Inggris antara tahun 2013 dan 2023 yang memenuhi kriteria konten yang telah ditentukan tentang pengaruh pemberian peregangan sebagai recovery aktif maupun melakukan recovery pasif terhadap kadar asam laktat. Proses pemilihan sumber bukti berdasarkan penyaringan dan kelayakan bukti yang awalnya 24.116 sumber bukti teridentifikasi dalam database pencarian berkurang menjadi tujuh belas sumber bukti. Isi dari enam belas sumber bukti ini dipetakan pada tabel charting di mana data dirangkum dan disintesis pertama secara individual dan kemudian secara kolektif oleh penulis.  Data berulang dan tidak relevan telah dihapus secara kolektif oleh penulis dari tabel charting.Hasil: Temuan scoping review dari berbagai hasil penelitian yang telah dilakukan sebelumnya menyebutkan bahwa peregangan sebagai recovery aktif lebih efektif menurunkan kadar asam laktat daripada recovery pasif.Simpulan: Kesenjangan yang diidentifikasi adalah kurangnya penelitian yang memfokuskan secara khusus kepada pekerja, padahal poulasinya di dunia lebih banyak daripada atlet. Metodologi penelitian (pengumpulan data dan analisis data) dari artikel hanya mencakup metode kuantitatif tidak dibarengi dengan metode kualitatif (metode campuran). Arahan penelitian selanjutnya telah disarankan dan batasan scoping review ini juga dibahas.
Light‐emitting diode phototherapy for neonatal hyperbilirubinemia: A literature review Widhiastuti, Erma
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 17, No 9 (2024)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v17i9.13064

Abstract

Background: Neonatal hyperbilirubinemia is a problem that often occurs in newborns who must be separated between mother and baby due to phototherapy. Clinically, jaundice or symptoms of changes in the sclera, mucous membranes and skin becoming yellow can be seen if there is an increase in the bilirubin concentration of more than 5 mg/dl. In most infants, the development of unconjugated hyperbilirubinemia is a normal transition. However, in some babies plasma levels can increase excessively, this can be a concern because bilirubin is not conjugated so it is neurotoxic and can cross the blood brain barrier, causing brain damage.Purpose: To provide an overview of the results of a literature review regarding the effectiveness of light emitting diode (LED) phototherapy in reducing total serum bilirubin (TSB) levels.Method: The literature review study used the preferred reporting items for systematic reviews and meta-analyses (PRISMA) to conduct systematic observations, a prospective comparative study, a randomized controlled trial, a retrospective chart review, and two prospective studies. Based on article searches, 1.270 articles were successfully extracted, resulting in 12 full text articles that were relevant to the topic of discussion.Results: Various research results show that LED lights have better effectiveness in reducing TSB levels. All phototherapy methods are effective in reducing TB within safe limits. Mounting evidence suggests that dual LED phototherapy is effective for the management of hyperbilirubinemia in neonates.Conclusion: Phototherapy using LED lights in the form of bags or blankets is more effective in reducing bilirubin levels more quickly compared to compact fluorescent lights or conventional phototherapy. Keywords: Hyperbilirubin; Newborn; Phototherapy Light Emitting Diodes. Pendahuluan: Hiperbilirubinemia neonatal merupakan masalah yang sering terjadi pada bayi yang baru lahir, yang terpaksa memisahkan  ibu dan bayi karena dilakukan fototerapi. Secara klinis, ikterik atau suatu gejala perubahan sklera, membran mukosa, dan kulit menjadi kuning dapat dilihat ketika terjadi kenaikan konsentrasi bilirubin lebih dari 5 mg/dl. Pada sebagian besar bayi, kejadian hiperbilirubinemia tidak terkonjugasi merupakan transisi normal. Namun, pada beberapa bayi kadar plasma mungkin meningkat berlebihan, hal ini dapat menjadi perhatian karena bilirubin tidak terkonjugasi sehingga bersifat neurotoksik dan dapat melewati sawar darah ke otak yang menyebabkan kerusakan otak.Tujuan: Untuk memberikan gambaran dari hasil review literatur tentang efektifitas fototerapi light emitting diode (LED) dalam mengurangi kadar total serum bilirubin (TSB).Metode: Penelitian literature review menggunakan preferred reporting items for systematic reviews and meta-analysis (PRISMA) untuk melakukan tinjauan sistematis, prospective comparative study, randomized controlled trial, retrospective chart review, dan two prospective study. Berdasarkan pencarian artikel didapatkan sebanyak 1.270 artikel yang diekstraksi hingga mendapatkan 12 artikel full text yang relevan dengan topik pembahasan.Hasil: Berbagai hasil penelitian menunjukkan sinar LED memiliki efektivitas lebih baik untuk menurunkan kadar TSB. Semua metode fototerapi efektif menurunkan TSB dalam batas aman. Banyak bukti menunjukkan bahwa fototerapi LED ganda adalah efektif untuk penatalaksanaan hyperbilirubinemia pada neonates.Simpulan: Fototerapi yang menggunakan sinar LED dan berbentuk kantong atau selimut lebih efektif lebih cepat dalam menurunkan kadar bilirubin dibandingkan dengan fototerapi compact fluorescent light atau konvensional. Kata Kunci : Bayi Baru Lahir; Fototerapi Light Emitting Diode; Hiperbilirubin.