cover
Contact Name
Teguh Pribadi
Contact Email
teguh@malahayati.ac.id
Phone
+6282282204653
Journal Mail Official
holistik@malahayati.ac.id
Editorial Address
Universitas Malahayati Bandar Lampung, Indonesia Jl Pramuka No. 27 Kemiling Bandar Lampung, Indonesia
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
Holistik Jurnal Kesehatan
Published by Universitas Malahayati
ISSN : 19783337     EISSN : 26207478     DOI : 10.33024/hjk
Core Subject : Health,
Berisi kumpulan karya ilmiah dari peneliti diberbagai perguruan tinggi di Indonesia, di bidang ilmu kesehatan khususnya bidang ilmu keperawatan yang berdasarkan kepada kebutuhan pasien secara total meliputi: kebutuhan fisik, emosi, sosial, ekonomi dan spiritual. Adapun penelitiannya mencakup 4 aspek pokok, yakni: promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif.
Articles 624 Documents
Pemberian ASI eksklusif dan kelengkapan vaksinasi dasar terhadap kejadian stunting Irwan Ashari; Eddy Silamat; Arifah Septiane Mukti; Lea Ingne Reffita; Diki Prayugo Wibowo
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 17, No 3 (2023)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v17i3.10242

Abstract

Background: One of the health problems is the high prevalence of stunting in toddlers. The main cause of stunting is nutrition. Early prevention efforts are needed to overcome stunting.Purpose: To determine the effect of exclusive breastfeeding and complete basic vaccination on the incidence of stunting.Method: A cross-sectional design was used in this study. Samples were taken from 80 respondents with purposive sampling techniques. Questionnaires are used as research instruments. The analysis used is the chi-square test.Results: Showed that there was a significant effect between exclusive breastfeeding on the incidence of stunting in toddlers (p = 0.001 and OR = 7.050 CI 95% = 2.150-23.117). There was a significant effect between complete basic vaccination on the incidence of stunting in toddlers (p = 0.039 and OR = 3.667 CI 95% = 1.191-11.285).Conclusion: Toddlers who are stunted are caused by the non-provision of exclusive breastfeeding at the age of 0-6 months and incomplete basic vaccination.Suggestion: To health workers to further educate cadres and the public about the importance of exclusive breastfeeding and complete basic vaccination, as an effort to prevent stunting.Keywords: Stunting; Exclusive Breastfeeding; Basic vaccination; Toddlers.Pendahuluan: Permasalahan kesehatan salah satunya adalah tingginya prevalensi kejadian stunting pada balita. Penyebab utama stunting adalah gizi. Upaya pencegahan sejak dini sangat diperlukan untuk penanggulangan stunting.Tujuan: Untuk mengetahui pengaruh pemberian ASI eksklusif dan kelengkapan vaksinasi dasar terhadap kejadian stunting.Metode: Desain cross-sectional digunakan pada penelitian ini dengan sampel diambil sebanyak 80 responden dengan teknik purposive sampling. Kuesioner yang digunakan sebagai instrument penelitian. Analisis yang digunakan adalah uji chi-square.Hasil: Didapatkan ada pengaruh signifikan antara ASI eksklusif terhadap kejadian stunting pada balita (p=0,001 dan POR=7,050 CI 95%=2,150-23,117). Ada pengaruh signifikan antara kelengkapan vaksinasi dasar terhadap kejadian stunting pada balita (p=0,039 dan POR=3,667 CI 95%=1,191-11,285).Simpulan: Balita yang mengalami stunting disebabkan oleh tidak diberikannya ASI eksklusif saat berumur 0-6 bulan dan tidak lengkapnya vaksinasi dasar.Saran: Disarankan kepada tenaga kesehatan untuk lebih meningkatkan edukasi kepada kader dan masyarakat tentang pentingnya memberikan ASI eksklusif dan memberikan vaksinasi dasar secara lengkap, sebagai upaya pencegahan stunting.
Analisis distres psikologis mahasiswa keperawatan pada era pandemi Covid-19 Priscillia Merylin Saluy; Ferdy Lainsamputty
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 17, No 5 (2023)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v17i5.11284

Abstract

Background: Psychologicalproblemsuch as stress is prevalent among student, especially those in nursing major who had a high contact intensity with patients.This can be worsen due to Covid-19 pandemic which may triggered fear of infected diseases.Purpose: To identify the relationships of sociodemographic factors, Covid-19 related data, and stress among professional nursing student during pandemic.Method: The study used a descriptive correlation and cross-sectional design involving 105 samples selected using purposive sampling technique. The main instrument was the Depression Anxiety Stress Scale-42 (DASS-42), specifically for stress domain. Independent T-Test, One-Way ANOVA, and Pearson Correlation were utilized to test the relationship between study variables.Results: The was a significant difference regarding stress score based on semester (t=1,02;p=0,02). Age was correlated significantly with stress score (r=-0,20; p=0,03).Conclusion: Respondents with younger age and study in the second semestersuffered a more severe level of stress.Keywords: Covid-19; Nursing Student; Psychological DistressPendahuluan: Masalah psikologis seperti stres sering ditemukan pada mahasiswa, terutama mahasiswa keperawatan yang memiliki intensitas kontak yang tinggi dengan pasien. Hal ini diperparah dengan keadaan pandemi Covid-19 yang menimbulkan ketakutan akan terinfeksi penyakit.Tujuan: Untuk mengidentifikasi hubungan antara faktor sosiodemografi, data terkait Covid-19, dan stres pada mahasiswa profesi ners di masa pandemi.Metode: Penelitian ini berdesain deskriptif korelasi dan cross-sectional yang melibatkan 105 sampel yang diseleksimenggunakan teknik purposive sampling. Kuesioner utama yang digunakan yaitu Depression Anxiety Stress Scale-42 (DASS-42), khususnyauntuk domain stres. Uji T tidak berpasangan, ANOVA satu arah, dan Korelasi Pearson digunakan dalam menguji hubungan antar variabel penelitian.Hasil: Ada perbedaan skor stres yang signifikan berdasarkan semester (t=1,02;p=0,02). Umur berkorelasi negatif dan signifikan dengan skor stres (r=-0,20; p=0,03).Simpulan: Responden yang berusia lebih muda dan berada di semester kedua menderita stres yang lebih parah. 
Riwayat penyakit infeksi dan kejadian stunting pada balita usia 24 – 60 bulan Siti Horidah; Riski Dwi Prameswari; Noor Diah Erlinawati; Priyo Sasmito; Muntasir Muntasir
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 17, No 4 (2023)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v17i4.11206

Abstract

Background: The problem of malnutrition, especially stunting in toddlers in Bandung City is quite high at 6.63%. The main cause of stunting is malnutrition. Lack of nutritional intake can be caused by a history of infectious diseases.Purpose: To determine the relationship between a history of infectious diseases and the incidence of stunting in toddlers aged 24-60 months.Method: This study used a Cross Sectional design. The population in this study was toddlers aged 24 months – 60 months. The study sample was 41 toddlers, taken using a simple random sampling technique. The inclusion criteria of the study sample were toddlers aged 24-60 months, living in the working area of the Cidadung Health Center. The instrument used is a questionnaire. Data analysis using chi-square test.Results: The small percentage of toddlers in this study who were stunted was 29.3%. There is a significant relationship between history of diarrhea and the incidence of stunting in toddlers (p = 0.037), and there is a significant relationship between history of ARI and the incidence of stunting in toddlers (p = 0.038).Conclusion: The incidence of stunting can be caused by a history of infectious diseases such as a history of diarrheal diseases and a history of ARI.Suggestion: It is recommended for health workers to be able to help provide health counseling, especially about the prevention of infectious diseases such as diarrhea and ARI.Keywords: Stunting; History of Diarrhea; History of ARI; Toddlers Pendahuluan: Masalah kekurangan gizi terutama stunting pada balita di Kota Bandung cukup tinggi yaitu 6,63%. Penyebab utama stunting adalah kekurangan gizi. Kekurangan asupan gizi dapat disebabkan oleh riwayat penyakit infeksi.Tujuan: Untuk mengetahui hubungan riwayat penyakit infeksi dengan kejadian stunting pada balita umur 24-60 bulan.Metode: Penelitian ini menggunakan desain Cross Sectional. Populasi pada penelitian ini adalah balita berumur 24–60 bulan, sampel penelitian sebanyak 41 balita, diambil menggunakan teknik simple random sampling. Kriteria Inklusi sampel penelitian adalah balita yang berumur 24-60 bulan, tinggal di wilayah kerja Puskesmas Cipadung. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner. Analisis data menggunakan uji chi-square.Hasil: Pada penelitian ini balita yang mengalami stunting sebanyak 29.3%. Terdapat hubungan antara riwayat diare dengan kejadian stunting pada balita (p=0,037), dan juga terdapat hubungan antara riwayat ISPA dengan kejadian stunting pada balita (p=0,038).Simpulan: Kejadian stunting dapat disebabkan oleh adanya riwayat penyakit infeksi seperti riwayat penyakit diare dan riwayat penyakit ISPA.Saran: Disarankan kepada tenaga kesehatan agar dapat membatu memberikan penyuluhan kesehatan khususnya tentang pencegahan penyakit infeksi seperti diare dan ISPA. 
Dukungan keluarga terhadap kemandirian anak usia dini dengan retardasi mental Iwal Iwal; Rahma Elliya; Teguh Pribadi
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 17, No 3 (2023)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v17i3.9228

Abstract

Background: Mentally retarded children need training and guidance so they can carry out activities independently. Families encourage training and guidance from formal education and informal education. Family support provided is very important because it can help independence in fulfilling their needs according to their age level, although it is much different compared to children who have no mental retardation.Purpose: To identify family support for the independence of children with mental retardationMethod: This research was conducted at the Dharma Bhakti Dharma Pertiwi Beringin Raya Bandar Lampung SLB Foundation, and this research was conducted in January 2022, with a total population of 78 respondents whose parents (mothers or fathers) from early childhood (4-6 years) have mental retardation. The questionnaire is as family support and several levels of parental observation of the child's independence in carrying out his daily activities. Data analysis using univariate and bivariate using chi-square tests.Results: Most family support with the good family category is 52 respondents (66.7%). The most independent in the category of doing it right 49 respondents (62.8%).Conclusion: There is a relationship between family support for the independence of children with mental retardation in SLB Dharma Bakti Dharma Pertiwi Kemiling, Bandar Lampung City in 2022 with a p-value of 0.000 (<0.05).Keywords: Family Support; Children; Independence; Mental RetardationPendahuluan: Anak dengan retardasi mental membutuhkan pelatihan dan bimbingan agar mereka dapat melakukan aktivitas secara mandiri. Keluarga mendorong pelatihan dan bimbingan dari pendidikan formal dan pendidikan informal. Dukungan keluarga yang diberikan sangat penting karena dapat membantu kemandirian dalam memenuhi kebutuhannya sesuai dengan tingkat usianya, walaupun jauh berbeda dengan anak yang tidak mengalami retardasi mental.Tujuan: Mengidentifikasi dukungan keluarga terhadap kemandirian anak dengan retardasi mentalMetode: Penelitian ini dilakukan di SLB Yayasan Dharma Bhakti Dharma Pertiwi Beringin Raya Bandar Lampung, dan penelitian ini dilakukan  pada bulan Januari 2022, dengan jumlah populasinya  78 respondennya orangtua (ibu atau ayah) dari anak usia dini (4-6 tahun) yang mengalami mental retardasi. Kuesioner berupa dukungan keluarga dan beberapa tingkat observasi orangtua terhadap kemandirian anak tersebut dalam melakukan aktifitas hariannya. Analisa data menggunakan univariat dan bivariat menggunakan uji chi square.Hasil: Dukungan keluarga terbanyak dengan kategori keluarga baik 52 responden (66,7%).Kemandirian terbanyak dengan kategori melakukan dengan tepat 49 responden (62,8%).Simpulan: Terdapat hubungan dukungan keluarga terhadap kemandirian anak dengan retardasi mental di slb dharma bakti dharma pertiwi kemiling kota bandar lampung tahun 2022 dengan nilai p-value 0,000 (<0.05).
Hubungan konsumsi gula dan konsumsi garam dengan kejadian diabetes mellitus Dewi Sartika MS; Devin Mahendika; Rony Setianto; Fidrotin Azizah; Belinda Arbitya Dewi
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 17, No 5 (2023)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v17i5.12007

Abstract

Background: Diabetes Mellitus (DM) or often called diabetes is a metabolic disease caused by an increase in blood glucose levels above normal values. This can occur due to impaired glucose metabolism due to a relative or absolute lack of insulin. The World Health Organization (WHO) states that the prevalence of DM in the world has reached 9%, while the proportion of deaths caused by DM accounts for 4% of all deaths due to non-communicable diseases. The death rate due to DM is more common in low and middle income countries, namely 80%. It is estimated that by 2030 DM will be the seventh cause of death in the world.Purpose: To determine the relationship between sugar consumption and salt consumption on the incidence of diabetes mellitus.Method: Quantitative research with a cross-sectional design to examine the relationship between sugar consumption and salt consumption on the incidence of DM. This research was conducted on all patients who visited and underwent treatment at the general polyclinic recorded in the report register at the Garuda Health Center in September – December 2022, totalling 110 respondents. The sampling technique used was systematic random with inclusion criteria, namely patients who visited regularly and were able to communicate well. Meanwhile, the exclusion criteria are patients who are seriously ill and are not willing to provide medical record data.Results: The results of the chi square test showed a p value of 0.009, meaning there is a significant relationship between excessive sugar consumption and the incidence of DM. The OR test obtained a value of 3.143, indicating that people who consume excessive sugar have a 3.1 times greater risk of suffering from DM compared to people who consume not excessive sugar. The results of the chi square test showed a p value of 0.004, meaning that there is a significant relationship between excessive salt consumption and the incidence of DM. The OR test obtained a value of 3.143, indicating that people who consume excessive salt have a 3.5 times greater risk of suffering from DM compared to people who consume not excessive salt.Conclusion: There is a significant relationship between excessive sugar and salt consumption and the incidence of DM cases with a 3.1 and 3.5 times greater risk of suffering from DM compared to people who do not consume excessive sugar and salt. Keywords: Diabetes Mellitus; Salt Consumption; Sugar Consumption.Pendahuluan: Diabetes Mellitus (DM) atau sering disebut kencing manis merupakan penyakit metabolic yang disebabkan oleh peningkatan kadar glukosa darah diatas nilai normal. Hal ini dapat terjadi karena gangguan metabolisme glukosa akibat kekurangan insulin baik secara relatif ataupun absolut. World Health Organization (WHO) menyebutkan prevalensi DM di dunia mencapai 9%, sedangkan proporsi kematian disebabkan DM menyumbang 4% dari seluruh kematian akibat penyakit  tidak menular. Angka kematian akibat DM lebih banyak terjadi pada negara-negara yang berpenghasilan rendah dan menengah yaitu sebesar 80%. Diperkirakan pada tahun 2030 DM menempati urutan ketujuh penyebab kematian di dunia.Tujuan: Untuk mengetahui hubungan konsumsi gula dan konsumsi garam terhadap kejadian diabetes mellitus.Metode: Penelitian kuantitatif dengan desain cross-sectional untuk mengkaji hubungan konsumsi gula dan konsumsi garam terhadap kejadian DM. Penelitian ini dilakukan pada seluruh pasien yang berkunjung dan melakukan pengobatan ke Poli umum yang tercatat dalam register laporan di Puskesmas Garuda pada bulan September – Desember 2022 sebanyak 110 responden. Teknik sampel yang digunakan adalah acak tersistematis dengan kriteria inklusi yaitu pasien yang berkunjung rutin dan mampu berkomunikasi dengan baik. Sedangkan kriteria eksklusi adalah pasien yang sedang sakit berat dan tidak bersedia memberikan data rekam medis.Hasil: Hasil uji chi square didapatkan p value sebesar 0.009 artinya ada hubungan yang signifikan antara konsumsi gula berlebih dengan kejadian DM. Uji OR didapatkan nilai sebesar 3.143 menunjukkan orang yang konsumsi gula berlebih memiliki risiko 3.1 kali lebih besar menderita DM dibandingkan dengan orang yang konsumsi gula tidak berlebih. Hasil uji chi square didapatkan p value sebesar 0.004, artinya ada hubungan yang signifikan antara konsumsi garam berlebih dengan kejadian DM. Uji OR didapatkan nilai sebesar 3.143 menunjukkan bahwa orang yang konsumsi garam berlebih memiliki risiko 3.5 kali lebih besar menderita DM dibandingkan dengan orang yang konsumsi garam tidak berlebih.Simpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara konsumsi gula dan garam berlebih terhadap kejadian kasus DM dengan risiko 3.1 dan 3.5 kali lebih besar menderita DM dibandingkan dengan orang yang konsumsi gula dan garam tidak berlebih. 
Faktor – faktor yang berhubungan dengan gejala depresi di kalangan perempuan yang melakukan pernikahan dini Suryani Tan; Machrumnizar Machrumnizar; Rina Kusumaratna; Jipri Suyanto
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 17, No 4 (2023)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v17i4.11052

Abstract

Background: In general, the role of the mother in family life is to be responsible for taking care of the family. Mother has to handle all aspects of household management, including childcare, money management, food preparation, etc. Requires mental readiness to carry out its role which has the potential to cause depression.Purpose: To identify factors correlated with depression symptoms among women in early married.Method: Using a stratified random sampling procedure, 488 participants were selected for the interview and questionnaire in this cross-sectional study. Married women experience pressure because of the condition of their marriage, especially those who marry at a young age. The dependent variable, depression, was divided into two groups: the group with depressive symptoms with a score range of >60, and the group without depressive symptoms with a score range of 0 to 60. The fourteen independent variables were age of marriage, religion, education, ethnicity, area of residence in Bengkulu Province, occupation, place of residence, household income per month, poor living conditions, social influence on depression, family influence on depression, and stress. This study also includes three types of tests: univariate, logistic regression, and multiple logistic regression. Logistic regression and multiple logistic regression were used as data analysis to find the relationship between the independent factors and the dependent variable.Results: The prevalence of depression was 77.87% (95% CI: 73.95-81.34). The factors that are significantly related to depression are; < 18 years (AOR = 6.19; 95% CI: 2.98 - 12.88), household income < Rp. 122.72.000 (OR = 7.01; 95% CI: 3.62 - 13.57), poor living conditions (OR = 2.16; 95% CI: 1.11 - 4.18), have a community influence on depression (OR = 3.68; 95% CI: 1.91 - 7.06) and experience stress (OR = 9.85; 95% CI: 5.24 - 18.24).Conclusion: Marriage age, household income, poor living conditions, community depression, and stress are all associated with depression among married women in Bengkulu Province.Keywords: Depression; Early Married; Stress; WomenPendahuluan: Karena wanita dianggap lebih sensitif daripada pria, ini adalah masalah hak bagi mereka. Mayoritas penduduk berpikir bahwa wanita harus menangani semua aspek manajemen rumah tangga, termasuk pengasuhan anak, pengelolaan uang, persiapan makanan, dll. Mereka mungkin mengalami berbagai masalah mental sebagai akibat dari penyakit ini, yang dapat menyebabkan depresi.Tujuan: Untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang berhubungan dengan gejala depresi pada wanita menikah dini.Metode: Dengan menggunakan prosedur sampel acak bertingkat, 488 partisipan dipilih untuk wawancara dan kuesioner dalam penelitian cross-sectional ini. Perempuan yang sudah menikah adalah salah satu responden. Perempuan yang sudah menikah berada di bawah tekanan karena kondisi pernikahan mereka, terutama mereka yang menikah di usia muda. Variabel dependen, depresi, dibagi menjadi dua kelompok: mereka yang memiliki gejala depresi dengan rentang skor >60, dan mereka yang tidak memiliki gejala depresi dengan rentang skor 0 hingga 60. Empat belas variabel independen adalah usia pernikahan, agama, pendidikan, etnis, wilayah tempat tinggal di Provinsi Bengkulu, pekerjaan, tempat tinggal, pendapatan rumah tangga per bulan, kondisi tempat tinggal yang buruk, pengaruh komunitas terhadap depresi, pengaruh keluarga terhadap depresi, dan stres. Penelitian ini juga mencakup tiga jenis uji yang berbeda: univariat, regresi logistik, dan regresi logistik berganda. Regresi logistik dan regresi logistik berganda digunakan sebagai data analisis untuk menemukan hubungan antara faktor independen dan variabel dependen.Hasil: Prevalensi depresi adalah 77,87% (95% CI: 73,95-81,34). Faktor-faktor yang secara signifikan berhubungan dengan depresi adalah; < 18 tahun (AOR = 6,19; 95% CI: 2,98 - 12,88), memiliki pendapatan rumah tangga < Rp. 122.72.000 (OR = 7,01; 95% CI: 3,62 - 13,57), kondisi tempat tinggal yang buruk (OR = 2,16; 95% CI: 1,11 - 4,18), memiliki pengaruh komunitas terhadap depresi (OR = 3,68; 95% CI: 1,91 - 7,06) dan mengalami stres (OR = 9,85; 95% CI: 5,24 - 18,24). Simpulan: Usia pernikahan, pendapatan rumah tangga, kondisi kehidupan yang buruk, depresi di masyarakat, dan stres semuanya berhubungan dengan depresi di antara perempuan yang sudah menikah di Provinsi Bengkulu.
Faktor genetik dan kebiasaan merokok terhadap kejadian hipertensi Sumarni Sumarni; Lisa Mustika Sari; Haidir Syafrullah; Nurul Jannatul Wahidah; Antonius Rino Vanchapo
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 17, No 3 (2023)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v17i3.10246

Abstract

Background: Hypertension is still a health problem in Indonesia, especially in Bandung. The increase in hypertension cases can be caused by unhealthy lifestyles.Purpose: To determine the genetic factors and smoking habits on the incidence of hypertension.Method: This study used a cross-sectional design. The population of this study is a productive age community, which is between 15-60 years. The sample technique in this study used accidental sampling techniques and obtained samples of 67 people. The instrument used is a questionnaire. Data analysis using chi-square test.Results: More than half of respondents smoke (53.7 percent), most respondents have no family history of hypertension (55.2 percent), and more than half of respondents suffer from hypertension (52.2 percent). The variables that affect the incidence of hypertension are smoking (p = 0.005 and OR = 4.773 (1.696-13.427) and history of hypertension (p = 0.033 and OR = 2.933 (1.075-8.001).Conclusion: Smoking habits are at risk of suffering from hypertension by 4.7 times greater than people who do not smoke and people who have a genetic  of hypertension are at risk of suffering from hypertension by 2.9 times greater than people who have no family history of hypertension.Suggestion: It is recommended to people who smoke in order to stop smoking. Mainly are those who have a family history of hypertension.Keywords: Hypertension; Smoking; History of Hypertension.Pendahuluan: Hipertensi masih menjadi masalah kesehatan di Indonesia, khususnya di Kota Bandung. Peningkatan kasus hipertensi dapat disebabkan oleh gaya hidup masyarakat yang tidak sehat.Tujuan: Untuk mengetahui pengaruh faktor genetik dan kebiasaan merokok terhadap kejadian hipertensiMetode: Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dan populasinya adalah masyarakat usia produktif yaitu antara 15-60 tahun. Teknik sampel pada penelitian ini menggunakan Teknik accidental sampling dan didapatkan sampel sebanyak 67 orang. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner. Analisis data menggunakan uji chi-square.Hasil: Lebih dari setengah responden merokok (53,7 persen), sebagian besar responden tidak memiliki faktor genetik  hipertensi dalam keluarga (55,2 persen), dan lebih dari setengah responden menderita hipertensi (52,2 persen). Variabel yang berpengaruh terhadap kejadian hipertensi adalah merokok (p=0,005 dan OR=4,773 (1,696-13,427) dan faktor genetik  hipertensi (p=0,033 dan OR=2,933 (1,075-8,001).Simpulan: Orang merokok berisiko menderita hipertensi sebesar 4,7 kali lebih besar dibandingkan dengan orang yang tidak merokok dan orang yang ada faktor genetik  berisiko menderita hipertensi sebesar 2,9 kali lebih besar dibandingkan dengan orang yang tidak ada faktor genetik  hipertensi pada keluarga.Saran: Disarankan kepada masyarakat yang merokok agar dapat berhenti merokok. Utamanya adalah mereka yang memiliki faktor genetik  hipertensi pada keluarga.
Riwayat status gizi, pemberian ASI eksklusif dan kejadian diare pada balita Priyo Sasmito; Destiana Setyosunu; Irmawati Sadullah; Ramdhani Muhammad Natsir; Agung Sutriyawan
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 17, No 5 (2023)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v17i5.12409

Abstract

Background: The incidence of diarrhea is the second cause of death in children under 5 years. Emergency diarrhea events are caused by nutritional status and not exclusive breastfeeding of children, so the incidence of diarrhea in toddlers is still a problem.Purpose: To determine the relationship between nutritional status and exclusive breastfeeding with emergency diarrhea events in toddlersMethod: Using a correlational descriptive design with a retrospective, with cases and a control. The cases population is toddlers who have diarrhea and the control population there are toddlers who do not have diarrhea. Samples were taken as many as 70 toddlers. The instrument used is a questionnaire. The existing collection technique used is purposive sampling. Data analysis using chi-square test.Results: The results of this study showed that there was a relationship between nutritional status and the incidence of diarrhea in toddlers (p=0.007, OR=6.1), and there was an exclusive relationship between breastfeeding and the incidence of diarrhea in toddlers (p=0.001, OR=8.0).Conclusion: The case group had more toddlers with abnormal nutritional status than the control group, and toddlers who did not get exclusive breastfeeding were higher than the control group, so toddlers with abnormal nutritional status and did not get exclusive breastfeeding were more likely to suffer from diarrhea as toddlers.Suggestion: It is recommended to health workers to conduct health education to the community, especially efforts to improve nutrition in children and exclusive breastfeeding.Keywords: Diarrhea; Exclusive Breastfeeding; Nutritional Status; ToddlerPendahuluan: Kejadian diare menjadi penyebab kematian kedua pada anak di bawah 5 tahun. Kegawatdaruratan kejadian diare disebabkan oleh status gizi dan tidak diberikannya ASI eksklusif pada anak, sehingga kejadian diare pada balita masih menjadi permasalahan.Tujuan: Untuk mengetahui hubungan status gizi dan ASI eksklusif dengan kegawatdaruratan kejadian diare pada balita.Metode: Menggunakan desain diskriktif korelational dengan retrospektif, menggunakan kasus and control. Populasi kasus adalah balita yang mengalami diare dan populasi kontrol ada balita yang tidak mengalami diare. Sampel diambil sebanyak 70 balita. Instrument yang digunakan adalah kuesioner. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah purposive sampling. Analisis data menggunakan uji chi-square.Hasil: Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ada hubungan status gizi dengan kejadian diare pada balita (p=0.007, OR=6.1), dan ada hubungan ASI eksklusif dengan kejadian diare pada balita (p=0.001, OR=8.0).Simpulan: Kelompok kasus lebih banyak balita dengan status gizi tidak normal dibandingkan kelompok kontrol, dan balita yang tidak mendapatkan ASI eksklusif lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok kontrol, sehingga balita dengan status gizi tidak normal dan tidak mendapatkan ASI eksklusif lebih berpeluang menderita diare saat balita.Saran: Disarankan kepada tenaga kesehatan untuk melakukan pendidikan kesehatan kepada masyarakat khususnya upaya perbaikan gizi pada anak dan pemberian ASI eksklusif.
Analisis tingkat masa kerja terhadap motivasi kerja tenaga kesehatan pada masa pandemi Covid-19 Sudirman Sudirman; Subardin AB; Sitti Fajrah; Fitri Arni HR; Desak Eka Susianawati; Fitiriani Fitiriani; Sri Purwiningsih
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 17, No 4 (2023)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v17i4.11218

Abstract

Background: The Covid-19 pandemic has increased workload, length of service largely determines the workload received by health workers at the public health center, workload has a high risk of work errors due to standard demands that must be met. High motivation of health workers contributes to the success of their performance, creating good work motivation, will increase the work performance of health workers.Purpose: To analyze the relationship and influence of years of service on the level of work motivation of health workers during the Covid-19 pandemic.Method: This type of research is a quantitative descriptive with a cross-sectional approach, through an observational process. The study population was all health workers who worked at the Anutoluwu Health Center as many as 47 people. The sample is 47 people. The data analysis used is Chi-Square and F test.Results: The study showed that the level of tenure of health workers had a significant relationship to the level of motivation (p-value = 0.050), while the effect of years of service on the motivation of health workers did not directly influence each other where F value = 3.88 (< value of F table 4.05) with a significant level that is not strong (sig. = 0.55).Conclusion: The majority of health workers at the Anutoluwu Health Center, Petasia Barat District, North Morowali Regency are women and have senior service status, the level of service has a relationship with the performance of health workers, but has no direct effect.Keyword: Years of Service; Work Motivation; Health Workers; Covid-19 PandemicPendahuluan: Pandemi Covid-19 meningkatkan beban kerja, masa kerja sangat menentukan beban kerja yang diterima tenaga kesehatan di Puskesmas, beban kerja memiliki risiko kesalahan kerja yang tinggi karena tuntutan standar yang harus dipenuhi. Motivasi tinggi petugas kesehatan berkontribusi pada keberhasilan kinerja mereka, terciptanya motivasi kerja yang baik, akan meningkatkan prestasi kerja petugas kesehatan.Tujuan: Untuk menganalisis hubungan dan pengaruh tingkatan masa kerja terhadap tingkat motivasi kerja petugas kesehatan dimasa pandemi Covid-19. Metode: Jenis penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif dengan pendekatan crossectional, melalui proses observasional. Populasi penelitian adalah seluruh petugas kesehatan yang bekerja di Puskesmas Anutoluwu sebanyak 47 orang. Sampel sebanyak 47 orang. Analisis data yang digunakan yaitu Chi-Square dan Uji F.Hasil: Penelitian menunjukkan bahwa tingkatan masa kerja petugas kesehatan memeiliki hubungan yang signifikan terhadap tingkat motivasinya (p-value = 0.050), sementara pengaruh tingkatan masa kerja terhadap motivasi petugas kesehatan tidak secara langsung saling mempengaruhi di mana nilai F = 3.88 (< nilai F tabel 4.05) dengan tingkat signifikan yang tidak kuat (sig.= 0.55).Simpulan: Mayoritas petugas kesehatan di Puskesmas Anutoluwu, Kecamatan Petasia Barat, Kabupaten Morowali Utara adalah perempuan dan memiliki status masa kerja senior, tingkatan masa kerja memiliki hubungan dengan kinerja petugas kesehatan, tetapi tidak berpengaruh secara langsung.
Promosi kesehatan pencegahan TRIAD Kesehatan Reproduksi Remaja (TRIAD KRR) dalam meningkatkan pengetahuan dan sikap remaja kota Bandung Tetti Solehati; Azalia Melati Putri; Nia Ratnasari; Fitriani Rahayu; Noviani Megatami; Ilham Taufik Nurilhami; Cecep Eli Kosasih
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 17, No 4 (2023)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v17i4.11235

Abstract

Background: The current dynamic development of technology and information makes youth more vulnerable to the three basic threats to adolescent reproductive health (Triad ARH). Therefore, prevention efforts are needed so that adolescents avoid the Triad ARH, one of which is by carrying out health promotion.Purpose: to determine the effect of health promotion on the level of knowledge and attitudes of adolescents regarding Triad Adolescent Reproductive Health.Method: One group pretest and posttest pre-experimental research design was used. Data analysis used paired t-test. The Triad ARH promotion was carried out in December 2020 at their respective homes online through the Google Hangout Meet platform with a two-way lecture and question and answer method, powerpoint slide media, and videos. The number of respondents in this health promotion activity were 30 adolescents aged 12-18 years living in the city of Bandung who were obtained by accident.Results: There was an increase in the mean value of adolescent knowledge before and after health promotion with a difference of 19.474 (p=0.0001), and an increase in the mean value of attitudes of adolescents before and after health promotion with a difference of 8.111 (p=0.0001).Conclusions: the results of the study show that there is an effect of providing health promotion regarding the Triad ARH on increasing the knowledge and attitudes of adolescents. It is hoped that Triad ARH health promotion can be carried out for adolescents in the community or in education, whether given offline or online.Keywords: Health Promotion; Knowledge; Attitudes; TRIAD; Adolescent; Reproductive HealthPendahuluan: Perkembangan teknologi dan informasi yang dinamis saat ini membuat remaja semakin rentan terhadap tiga ancaman dasar kesehatan reproduksi remaja (Triad KRR). Oleh karena itu, diperlukan upaya pencegahan agar remaja terhindar dari Triad KRR, salah satunya adalah dengan melakukan promosi kesehatan. Tujuan: untuk mengetahui pengaruh promosi kesehatan terhadap tingkat pengetahuan dan sikap remaja terkait Triad Kesehatan Reproduksi Remaja.Metode: Desain penelitian pre-eksperimental one group pretest dan posttest. Analisis data menggunakan paired t test. Promosi Triad KRR dilakukan pada Desember 2020 di rumah masing-masing secara daring melalui platform Google Hangout Meet dengan metode ceramah dan tanya jawab dua arah, media slide power point, dan video. Jumlah responden dalam kegiatan promosi kesehatan ini adalah 30 remaja usia 12-18 tahun berdomisili di Kota Bandung yang diperoleh secara aksidental.Hasil: Terjadi peningkatan nilai mean pengetahuan remaja sebelum dan sesudah promosi kesehatan dengan selisih 19.474 (p=0.000), serta terjadi peningkatan nilai mean sikap remaja sebelum dan sesudah promosi kesehatan dengan selisih 8.111 (p=0.000).Simpulan: hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat pengaruh pemberian promosi kesehatan tentang Triad KRR terhadap peningkatan pengetahuan dan sikap remaja. Promosi kesehatan Triad KRR diharapkan dapat dilakukan pada remaja di lingkungan masyarakat ataupun di dunia pendidikan, baik diberikan secara luring ataupun daring.