cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
jurnal.biotika@unpad.ac.id
Editorial Address
Departemen Biologi FMIPA Unpad Jl. Raya Bandung Sumedang Km 21. Jatinangor
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Biotika: Jurnal Ilmiah Biologi
ISSN : 14124297     EISSN : 26214180     DOI : https://doi.org/10.24198/biotika
BIOTIKA Jurnal Ilmiah Biologi adalah Jurnal terbuka yang diterbitkan oleh Departemen Biologi Universitas Padjadjaran yang berdiri sejak tahun 2002. Artikel yang diterbitkan di Jurnal Biotika meliputi semua artikel penelitian asli (original article) yang relevan dengan bidang Biologi dan akan ditelaah secara tertutup oleh mitra bestari. Dalam era interdisipliner ini, Biotika berperan sebagai media komunikasi ilmiah untuk bidang Biologi dan aplikasi terapannya yang relevan, seperti mikrobiologi, genetika dan molekuler, biologi struktur, biologi fungsi, biologi lingkungan maupun biologi terapan. Biotika juga berperan dalam menerbitkan hasil penelitian yang berkualitas dari peneliti muda untuk dapat dijadikan informasi ilmiah bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan penelitian. Para kontributor Jurnal Biotika terbuka untuk peneliti dari bidang-bidang terkait, akademisi dan mahasiswa berbagai strata (S1, S2, dan S3). Jurnal BIOTIKA diterbitkan setiap 6 bulan sekali yaitu bulan Juni dan Desember.
Articles 257 Documents
SIKLUS HIDUP KUPU-KUPU Euploea mulciber (CRAMER, 1777) Nurullia Fitriani; Muhamad Azahar Bin Abas; Budiawati Supangkat; Wawan Hermawan; Johan Iskandar
BIOTIKA Jurnal Ilmiah Biologi Vol 19, No 1 (2021): BIOTIKA JUNI 2021
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/biotika.v19i1.32583

Abstract

Kupu-kupu merupakan serangga yang mengalami metamorphosis sempurna dengan siklus hidup terdiri dari telur, ulat,pupa dan dewasa. Salah satu kupu-kupu yang banyak ditemukan di Indonesia adalah Euploea mulciber dari Family Nympalidae. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan lamanya siklus hidup kupu-kupu Euploea mulciber dari telur hingga menjadi dewasa. Metode penelitian adalah survey dan observasi dengan lokasi penelitian di wilayah pemukiman Kota Bandung. Survey dilakukan untuk mencari dan mengamati kupu-kupu yang meletakkan telurnya pada tumbuhan inang. Sedangkan observasi dilakukan untuk mengamati siklus hidup kupu-kupu (karakter morfologi dan lama siklus hidupnya). Analisis data dilakukan secara deskriptif. Pada saat survey ditemukan tiga kupu-kupu dewasa yang baru meletakkan telurnya. Telur ini, diletakkan oleh kupu-kupu pada bagian batang dan daun bagian bawah dari tumbuhan oleander (Nerium Oleander L.). Telur ini kemudian diambil dan dipelihara dalam kandang percobaan yang memiliki ratarata intensitas cahaya sekitar 26,321 Lux dan rata-rata suhu sekitar 27ᵒC. Berdasarkan hasil penelitian diketahui lamanya siklus hidup Euploea mulciber dari telur sampai menjadi dewasa adalah 25 - 27 hari dengan lama fase telur adalah 4 hari, lama fase ulat selama 15 – 16 hari dan fase pupa membutuhkan waktu selama 6-7 hari.
KEANEKARAGAMAN DAN KELIMPAHAN MAKROALGA DAN TUMBUHAN MANGROVE DI KAWASAN GEOPARK, CILETUH, PELABUHAN RATU, KABUPATEN SUKABUMI Tri Saptari Haryani; Triastinurmiatiningsih Triastinurmiatiningsih; Dede Giwang Maelani; Zulkhoir Zulkhoir
BIOTIKA Jurnal Ilmiah Biologi Vol 18, No 2 (2020): BIOTIKA DESEMBER 2020
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/biotika.v18i2.31034

Abstract

Ciletuh merupakan salah satu kawasan ekowisata yang menerapkan pendekatan based tourism yaitu masyarakat berperan penting dalam menunjang pembangunan pariwisata. Makroalga dan tumbuhan mangrove merupakan sumberdaya hayati yang memiliki peranan penting secara ekologi, terutama karena daya dukungnya bagi kawasan pesisir, serta sebagai sumber makanan dan habitat bagi berbagai biota laut, Penelitian bertujuan untuk mengidentifikasi jenis-jenis, keanekaragaman dan kelimpahan makroalga dan tumbuhan mangrove di kawasan Geopark Ciletuh, Kabupaten Sukabumi. Pengambilan sampel menggunakan metode line transect dilakukan di pantai Cikadal, Mandrajaya. Keanekaragaman makroalga dan mangrove dianalisis berdasarkan perhitungan indeks keanekaragaman dan kelimpahan relatif. Hasil penelitian diperoleh makroalga sebanyak 25 spesies yang terbagi ke dalam 12 famili, dan tumbuhan mangrove diperoleh sebanyak 13 spesies terbagi ke dalam 5 famili.  Indeks Keanekaragaman jenis makroalga didominasi oleh jenis Gracillaria gracilis dengan nila Indeks Kelimpahan Relatif (IKR) sebesar 3,34, dan tumbuhan mangrove didominasi oleh jenis Avicennia officinalis dengan nilai IKR sebesar 2,89. Hal ini menunjukkan bahwa wilayah Geopark Ciletuk masih didominasi oleh makroalga, khususnya jenis Gracillaria gracilis (Famili gracillariaceae). Kesimpulan penelitian menunjukkan bahwa keanekaragaman makroalga tergolong tinggi dan kenaekaragaman tumbuhan mangrove tergolong rendah, sehingga diperlukan pengendalian terhadap biota laut akibat aktivitas manusia.
KERAGAMAN JENIS ANGGREK DI GUNUNG BONGKOK, CIAMIS, JAWA BARAT Inama Inama; Muslim Abdurahman; Reza Raihandhany; Firman Heru Kurniawan; Ahmad Sahab
BIOTIKA Jurnal Ilmiah Biologi Vol 19, No 1 (2021): BIOTIKA JUNI 2021
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/biotika.v19i1.31458

Abstract

Tumbuhan anggrek (Suku: Orchidaceae) merupakan salah satu tumbuhan yang memiliki tingkat keanekaragaman yangsangat tinggi dengan jumlah anggota jenis terbanyak serta distribusinya hampir tersebar di seluruh belahan dunia. JawaBarat merupakan provinsi penting sebagai habitat anggrek dengan jumlah jenis terbanyak di Pulau Jawa (642 jenis).Sebagai tumbuhan yang terbilang unik dan menarik, anggrek memiliki nilai potensi ekonomi yang begitu tinggi, terutamasebagai tanaman hias. Salah satu isu besar yang dihadapi oleh jenis-jenis dalam suku ini adalah tingkat kepunahannyayang cukup tinggi, dikarenakan rusaknya ekosistem hutan akhir-akhir ini dalam bentuk alih fungsi lahan. Di samping itu,bentuk ancaman terhadap tumbuhan anggrek lainnya yaitu eksploitasi yang berlebihan tanpa mempertimbangkankelestariannya. Tujuan dari penelitian ini adalah menginventarisasi dan mendeskripsikan jenis-jenis tumbuhan anggrekyang terdapat di kawasan Gunung Bongkok, Kabupaten Ciamis. Sepanjang jalur pendakian Gunung Bongkok sampai saatini belum pernah dilakukan pendataan jenis anggreknya. Penelitian ini dilakukan menggunakan metode jelajah.Berdasarkan hasil penjelajahan di sepanjang jalur pendakian, sebanyak tujuh jenis anggrek ditemukan di kawasan GunungBongkok, terdiri dari empat jenis dengan bentuk hidup terestrial dan tiga jenis lainnya merupakan epifit. Ketujuh jenistersebut antara lain Cymbidium lancifolium, Lepidogyne longifolia, Liparis rheedei, Odontochilus hasseltii,Agrostophyllum stipulatum subsp. bicuspidatum, Dendrobium montanum, dan Pholidota globosa.
ANALISIS STRUKTUR DAN PENAPISAN FITOKIMIA DAUN SEMBUNG (Blumea balsamifera L.) PADA KELEMBABAN UDARA YANG BERBEDA DI PANGANDARAN Anggita Leviastuti; Tia Setiawati
BIOTIKA Jurnal Ilmiah Biologi Vol 18, No 1 (2020): BIOTIKA JUNI 2020
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/biotika.v18i1.24832

Abstract

Tanaman sembung (Blumea balsamifera  L.) banyak ditemukan  di daerah terbuka kawasan Cagar Alam Pananjung Pangandaran. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui morfologi, anatomi, fisiologi dan kandungan  saponin  pada  daun  sembung  berdasarkan  perbedaan  kelembaban  udara  di Padang  Rumput Cikamal dan Nanggorak Cagar Alam Pananjung Pangandaran. Penentuan lokasi penelitian menggunakan metode survey berdasarkan keberadaan Blumea balsamifera L. pada daerah dengan kelembaban udara yang berbeda. Sampel daun diambil sebanyak 2 helai dari satu individu pohon di lokasi penelitian yang berbeda. Parameter  penelitian  meliputi  tebal daun, luas permukaan  daun, kerapatan  stomata,  kadar klorofil,  dan kandungan saponin. Hasil peneltiian menunjukkan bahwa rata-rata ketebalan daun, luas permukaan daun, kerapatan stomata, kadar klorofil, dan kandungan saponin berturut-turut  yaitu 0,33 mm; 54 cm2; 152,86 sel/mm2; 7,36 CCI dan kandungan saponin (uji kualitatif) menunjukkan positif (busa terlihat samar). Pada lokasi penelitian kelembaban udara 76% menunjukkan rata-rata parameter secara berturut-turut yaitu 0,17 mm; 120 cm2; 132,48 sel/mm2; 8,11 CCI dan kandungan saponin (uji kualitatif) menunjukkan positif (busa terlihat jelas).
UJI VIRULENSI BAKTERI Aeromonas hydrophila PADA IKAN KOMET (Carrasius auratus auratus Linnaeus, 1758) Rico ‎Rico; Mia Miranti Rustama; Ujang Subhan
BIOTIKA Jurnal Ilmiah Biologi Vol 19, No 1 (2021): BIOTIKA JUNI 2021
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/biotika.v19i1.34411

Abstract

Ikan komet (Carrasius auratus auratus Linnaeus, 1758) merupakan ikan hias yang banyak dibudidayakan. Salah satukendala dalam budidaya ikan komet adalah serangan penyakit yang disebabkan oleh bakteri Aeromonas hydrophila.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui virulensi bakteri A. hydrophila pada ikan komet. Penelitian menggunakanmetode deskriptif eksploratif. Data hasil dianalisis secara deskriptif. Kepadatan bakteri yang digunakan pada uji perendaman sebesar 1,58×10⁷ cfu/ml dan 5,08×10¹¹ cfu/ml. Pengamatan tanda klinis dan mortalitas ikan dilakukan setiap12 jam selama 96 jam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ikan komet yang terinfeksi A. hydrophila dengan kepadatanberbeda akan menunjukkan tanda klinis dengan tingkat keparahan yang berbeda. Bakteri A. hydrophila dengan kepadatan5,08×10¹¹ cfu/ml mengakibatkan kemunculan tanda klinis yang parah dan bakteri dengan kepadatan 1,58×10⁷ cfu/mlmengakibatkan tingkat kelangsungan hidup (survival rate) yang rendah. Pada penelitian ini bakteri A. hydrophila yangmenginfeksi ikan komet memiliki tingkat virulensi yang tinggi.
UJI KUALITAS AIR DAN DETEKSI BAKTERI PATOGEN DARI SUNGAI CIRENGGANIS DAN AIR LAUT PANTAI TIMUR PANGANDARAN Mia Miranti; Fadilasani Tyas Utami; Grem Packo
BIOTIKA Jurnal Ilmiah Biologi Vol 18, No 2 (2020): BIOTIKA DESEMBER 2020
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/biotika.v18i2.30588

Abstract

Sungai Cirengganis dan Pantai Timur Pangandaran merupakan tempat tujuan wisata air. Keberadaan mikroorganisme patogen berpengaruh terhadap kualitas air tersebut. Uji kualitas air Sungai Cirengganis dan Pantai Timur Pangandaran secara mikrobiologis ini telah dilakukan tahun 2019. Penelitian ini bertujuan mendapatkan informasi mengenai kualitas air dari sungai dan laut daerah wisata ini. Sampel air tersebut dianalisis menggunakan metode Most Probable Number(MPN) yang terdiri dari tiga tahapan yaitu Uji Pendugaan, Uji Lanjutan, dan Uji Penyempurnaan. Selanjutnya, perhitungan koloni bakteri menggunakan Total Plate Count(TPC) dilakukan pada medium spesifik Salmonella shigella Agar (SSA), Thiosulfate Citrate bile salts sucrose(TCBS), Eosin Methylen Blue (EMB), dan Pseudomonas agar. Hasil penelitian uji kualitas air di hulu dan hilir Sungai Cirengganis menunjukkan nilai keberadaan bakteri koliform yang jumlahnya lebih tinggi (1.100 dan 150 sel/100 ml) dibandingkan di air laut (Goa Parat dan Goa Panggung) Pantai Timur Pangandaran (23 dan 43 sel/ml). Keberadaan bakteri koliform dan Escherichia colijuga lebih banyak di air Sungai Cirengganis daripada di air laut Pantai Timur Pangandaran. Adapun bakteri patogen Shigellasp., Pseudomonassp., Vibriosp.dan bakteri Coliformditemukan di air Sungai Cirengganis dan Pantai Timur Pangandaran sedangkan Escherichia coli hanya ditemukan pada hulu Sungai Cirengganis. Bakteri patogen Shigellasp., Pseudomonas sp., dan Vibriosp., ditemukan paling sedikit berada di hulu Sungai Cirengganis (hanya masing-masing 3,2,dan 18 sel/100 ml) dan jumlah paling banyak ditemukan di air laut Pantai Timur Pangandaran (Vibriosp.sebanyak 540 sel/100 ml dan Pseudomonas sp.sebesar 61 sel/ml). Hal ini menunjukkan bahwa kualitas air Sungai Cirengganis maupun air laut Pantai Timur Pangandaran tidak sesuai untuk wisata air sesuai standarPP Menteri Kehutanan dan Lingkungan hidup No. 51 Tahun 2001.
STRUKTUR DAN KOMPOSISI VEGETASI DI PLTP GUNUNG SALAK, JAWA BARAT Teguh Husodo; Randi Hendrawan; Sya Sya Shanida; Erri Noviar Megantara
BIOTIKA Jurnal Ilmiah Biologi Vol 19, No 2 (2021): BIOTIKA DESEMBER 2021
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/biotika.v19i2.33514

Abstract

Tingginya faktor antropogenik akan berdampak pada keanekaragaman hayati, sehingga perlu dilakukan pengelolaan danpembangunan yang berwawasan lingkungan. Gambaran struktur dan komposisi vegetasi di suatu wilayah dapat menjadiinformasi dasar dalam pengelolaan lingkungan. Tujuan studi ini dilakukan untuk memberikan gambaran mengenaikondisi struktur dan komposisi vegetasi di unit PLTP Gunung Salak, Jawa Barat.Pengumpulan data kualitatif dilakukandengan inventarisasi jenis-jenis tumbuhan, sedangkan data kuantitatif didapatkan melalui metode kuadrat. Komposisitumbuhan di kawasan unit PLTP Gunung Salak diketahui sebanyak 120 jenis dari 56 famili. Moraceae ditemukan palingbanyak dengan jumlah 11 spesies. Sebagian besar tersusun oleh stratifikasi A, B, C, D, dan E. Nilai indeks kesamaantertinggi berada pada ekosistem hutan alam-1 dan riparian sebesar 100%. Nilai keanekaragaman tertinggi berada padaekosistem ekoton pada kategori anakan (4,74), lalu diikuti dengan ekosistem hutan alam-1 pada kategori anakan (3,77),riparian pada kategori anakan (3,66), dan hutan alam-3 pada kategori pancang (3,03).
OPTIMASI MEDIA BIBIT INDUK JAMUR TIRAM COKLAT (Pleurotus leorotus O.K. MILLER) Betty Mayawatie Marzuki; Suryana Suryana; Joko Kusmoro; Budi Irawan; Yulianti Naziah
BIOTIKA Jurnal Ilmiah Biologi Vol 19, No 2 (2021): BIOTIKA DESEMBER 2021
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/biotika.v19i2.37654

Abstract

Jamur Tiram Coklat (Pleurotus cystidiosus O.K. Miller) merupakan salah satu jenis jamur edible dengan tudung buahberwarna coklat. Jamur ini memiliki keunggulan yaitu teksturnya tebal, memiliki cita rasa enak, berkadar air rendah,begizi tinggi, berkhasiat obat dan bernilai ekonomi. Oleh karena itu jamur ini mempunyai prospek yang baik untukdikembangkan, namun permasalahannya adalah ketersediaan bibit unggul di pasaran susah didapatkan. Tujuan daripenelitian ini adalah mendapatkan takaran optimal campuran biji jagung dan daun pisang kering guna mendapatkan bibitinduk jamur tiram coklat unggul. Metode yang digunakan adalah metode eksperimental dengan rancangan acak lengkapsatu faktor yaitu media bibit induk jagung (MBIJ) dan daun pisang kering (DPK), terdiri dari enam taraf perlakuan danempat kali pengulangan. Parameter yang diamati adalah (1) pertumbuhan miselium yaitu rata-rata pertambahan panjangmiselium per hari (%) dan rata-rata waktu miselium mencapai 100% hari setelah inokulasi (HSI), (2) produksi myceliumyaitu rata-rata bobot bibit induk (g). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan daun pisang kering (DPK)berpengaruh terhadap semua parameter yang diukur. Perlakuan P3 (100% MBIJ + 6% DPK) merupakan hasil terbaikdengan rata-rata pertambahan panjang miselium per hari tertinggi yaitu 3,51%, waktu pertumbuhan miselium mencapai100% tercepat yaitu 22 HSI dan bobot bibit induk terberat yaitu 363,13 g.
PENGGUNAAN ASAM ASKORBAT DAN ARANG AKTIF SEBAGAI ANTI-BROWNING PADA INISIASI KULTUR IN VITRO BAMBU PETUNG (Dendrocalamus asper (Schult.)) Anggel Christia Dolonseda; Ratih Restiani; Dwi Aditiyarini
BIOTIKA Jurnal Ilmiah Biologi Vol 19, No 2 (2021): BIOTIKA DESEMBER 2021
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/biotika.v19i2.34733

Abstract

Peningkatan perbanyakan bibit bambu petung dilakukan dengan teknik kultur in vitro, akan tetapi sering terjadi pencokelatan (browning) pada tahap inisiasi yang menghambat pertumbuhan eksplan. Browning biasanya terjadi karena senyawa fenolik yang muncul saat eksplan dilukai. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui metode yang efektif mencegah dan menurunkan intensitas browning dengan penggunaan senyawa anti-browning yaitu asam askorbat dan arang aktif yang diinkubasi pada kondisi terang dan gelap. Dalam penelitian ini digunakan 3 metode pencegahan browning yaitu : metode perendaman anti-browning, metode penambahan anti-browning di dalam media, dan metode kombinasi perendaman dan penambahan anti-browning di dalam media. Media yang digunakan adalah Murashige and Skog (MS) dengan penambahan zat pengatur tumbuh kinetin 2 mg/L dan penambahan konsentrasi perlakuan asam askorbat (0, 150, 200, 250, 300) mg/L dan arang aktif (0,5) g/L. Pengamatan meliputi hari munculnya browning, persentase browning, dan pertumbuhan tunas eksplan bambu petung yang diamati selama 14 Hari Setelah Tanam (HST). Data hasil pengamatan setiap parameter dianalisis secara deskriptif khususnya pada persentase browning diamati berdasarkan skoring intensitas browning yang dihasilkan. Hasil menunjukkan bahwa metode kombinasi dengan perendaman dan penambahan di dalam media asam askorbat 150 mg/L dan arang aktif 0,5 g/L optimal dengan persentase browning yang muncul sebesar 11% pada kondisi gelap. Metode kombinasi juga meningkatkan pertumbuhan tunas eksplan bambu petung hingga 67% pada kondisi terang.
ISOLASI BAKTERI RESISTEN TEMBAGA DARI TELUK JAKARTA Wahyu Irawati; Candra Yulius Tahya
BIOTIKA Jurnal Ilmiah Biologi Vol 19, No 2 (2021): BIOTIKA DESEMBER 2021
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/biotika.v19i2.35200

Abstract

Perairan Teluk Jakarta merupakan perairan yang telah tercemar tembaga sehingga perlu dipikirkan metode pengolahan limbah yang dapat menurunkan konsentrasi tembaga. Bioremediasi dengan menggunakan bakteri resisten tembaga merupakan metode pengolahan limbah logam yang ekonomis, efektif dan efisien dengan memanfaatkan isolat bakteri indigen yang dari tempat tercemar. Tujuan penelitian ini adalah melakukan isolasi dan karakterisasi bakteri resisten tembaga dari Teluk Jakarta serta menguji resistensi isolat bakteri terhadap tembaga. Penelitian meliputi tiga tahapan. Tahapan pertama adalah melakukan isolasi bakteri resisten tembaga dengan cara menginokulasikan 100 µL sampel limbah Teluk Jakarta dengan metode pengenceran ke dalam medium padat Luria Bertani yang mengandung CuSO4 pada berbagai konsentrasi kemudian menginkubasikan pada 37˚C selama 24 jam. Isolat bakteri yang tumbuh diberi kode isolat kemudian dilakukan pemurnian. Tahapan yang ketiga adalah melakukan pengujian resistensi isolat bakteri terhadap tembaga dengan cara menumbuhkan bakteri di dalam medium Luria Bertani Agar yang mengandung 5 mM CuSO4. Penelitian ini berhasil mendapatkan 13 isolat bakteri yang terbukti resisten terhadap 5 mM CuSO4. Semua isolat bakteri yang diperoleh tergolong bakteri Gram negatif. Penelitian lanjutan perlu dilakukan untuk melakukan karakterisasi molekular untuk mengetahui nama bakteri serta melihat potensi isolat bakteri untuk menurunkan konsentrasi tembaga di lingkungan.