Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search

TINGKAH LAKU SEKSUAL DAN UJI KAWIN MENCIT (MUS MUSCULUS) JANTAN YANG DIINDUKSI STREPTOZOTOCIN Desak Made Malini; Dea Rahman Khairunnisa; Nurullia Fitriani; Nining Ratningsih
BIOTIKA Jurnal Ilmiah Biologi Vol 19, No 1 (2021): BIOTIKA JUNI 2021
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/biotika.v19i1.32703

Abstract

Diabetes melitus (DM) merupakan salah satu penyakit degeneratif yang dapat menyebabkan terjadinya impotensi, gangguan ejakulasi, spermatogenesis dan fungsi kelenjar seks aksesori serta libido. Streptozotocin (STZ) merupakan salah satu diabetogenik yang banyak dimanfaatkan sebagai metode untuk merangsang DM pada hewan percobaan.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh STZ terhadap tingkah laku seksual dan kemampuan kawin mencit (Mus musculus). Penelitian ini dilakukan secara rancangan eksperimental dengan 2 kelompok perlakuan dan 5 ulangan, yaitu perlakuan non diabetes (ND) yang tidak diinduksi STZ dan diabetes (D) yang diinduksi STZ. Hewan uji yang digunakan adalah mencit jantan dan betina. Parameter yang diamati adalah tingkah laku seksual mounting dan kissing vagina oleh mencit jantan, berat badan mencit betina dan jumlah fetus yang dihasilkan oleh mencit betina. Hasil pengamatan dianalisis dengan Uji Chi-Square dan uji lanjut Kruskall Wallis (uji lanjut Mann-Whitney). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada mencit jantan yang diinduksi STZ terjadi penurunan tingkah laku seksual, dan tidak ditemukan adanya implantasi pada uterus betina pasangan kawinnya. Dapat disimpulkan bahwa induksi STZ dapat menurunkan tingkah laku seksual mencit jantan dan tidak mampu mengawini mencit betina.
SIKLUS HIDUP KUPU-KUPU Euploea mulciber (CRAMER, 1777) Nurullia Fitriani; Muhamad Azahar Bin Abas; Budiawati Supangkat; Wawan Hermawan; Johan Iskandar
BIOTIKA Jurnal Ilmiah Biologi Vol 19, No 1 (2021): BIOTIKA JUNI 2021
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/biotika.v19i1.32583

Abstract

Kupu-kupu merupakan serangga yang mengalami metamorphosis sempurna dengan siklus hidup terdiri dari telur, ulat,pupa dan dewasa. Salah satu kupu-kupu yang banyak ditemukan di Indonesia adalah Euploea mulciber dari Family Nympalidae. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan lamanya siklus hidup kupu-kupu Euploea mulciber dari telur hingga menjadi dewasa. Metode penelitian adalah survey dan observasi dengan lokasi penelitian di wilayah pemukiman Kota Bandung. Survey dilakukan untuk mencari dan mengamati kupu-kupu yang meletakkan telurnya pada tumbuhan inang. Sedangkan observasi dilakukan untuk mengamati siklus hidup kupu-kupu (karakter morfologi dan lama siklus hidupnya). Analisis data dilakukan secara deskriptif. Pada saat survey ditemukan tiga kupu-kupu dewasa yang baru meletakkan telurnya. Telur ini, diletakkan oleh kupu-kupu pada bagian batang dan daun bagian bawah dari tumbuhan oleander (Nerium Oleander L.). Telur ini kemudian diambil dan dipelihara dalam kandang percobaan yang memiliki ratarata intensitas cahaya sekitar 26,321 Lux dan rata-rata suhu sekitar 27ᵒC. Berdasarkan hasil penelitian diketahui lamanya siklus hidup Euploea mulciber dari telur sampai menjadi dewasa adalah 25 - 27 hari dengan lama fase telur adalah 4 hari, lama fase ulat selama 15 – 16 hari dan fase pupa membutuhkan waktu selama 6-7 hari.
IDENTIFIKASI DAN HUBUNGAN KEKERABATAN BEBERAPA SPESIES KUPUKUPU FAMILIA NYMPHALIDAE BERDASARKAN PENANDA MOLEKULER RANDOM AMPLIFIED POLYMORPHIC DNA (RAPD) Mirda Sylvia; Grem Packo Borsalino; Dede Sumiyati; Nurullia Fitriani; Annisa Annisa
BIOTIKA Jurnal Ilmiah Biologi Vol 16, No 2 (2018): BIOTIKA DESEMBER 2018
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/bjib.v16i2.19905

Abstract

KARAKTERISTIK SAYAP Graphium agamemnon Linnaeus Nurullia Fitriani; Dini Primadiani
BIOTIKA Jurnal Ilmiah Biologi Vol 14, No 1 (2016): BIOTIKA JUNI 2016
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/bjib.v14i1.14410

Abstract

Kupu-kupu merupakan serangga ordo lepidoptera yang dapat ditemui di berbagai wilayah di Indonesia. Sayap kupu-kupu memiliki bentuk, ukuran dan warna yang berbeda-beda. Karakteristik sayap kupu-kupu merupakan salah satu penciri utama dalam mengidenti
POTENSI REGENERASI SEL SERTOLI DAN SEL LEYDIG TIKUS (Rattus norvegicus) MODEL DIABETES PASCA PEMBERIAN EKSTRAK ETANOL KULIT BUAH JENGKOL (Archidendron pauciflorum) Desak Made Malini; Nining Ratningsih; Nurullia Fitriani; Dwi Rahmi
Jurnal Pro-Life Vol. 7 No. 2 (2020): Juli
Publisher : Program Studi Pendidikan Biologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33541/jpvol6Iss2pp102

Abstract

Diabetes mellitus (DM) is a metabolic disease that causes disruption of spermatogenesis due to decreased numbers of Sertoli cells and Leydig cells. The aim of this study was to determine the potency of ethanol extract of Jengkol fruit peel (JFPEE) on increasing the regeneration of Leydig cells and Sertoli cells in diabetic rat models. This type of research is experimental research using a completely randomized design (CRD)with 5 treatments and 5 replications. Treatment was given orally for 54 consecutive days consisting of negative control (NC), positive control (PC), comparison (Glibenclamide dose 10 mg/kg BW), P1 and P2 (JFPEE dose 385 and 770 mg/kg BW). Diabetic induction was performed with streptozotocin dose 65 mg/kg BW in male Wistar rat except for NC group. The parameters observed were the number of Sertoli cells and Leydig cells in 25 seminiferous tubules.The results of histological structured showed that the highest number of Sertoly cells and Leydig cells were obtained in group P2 (4.40±0.55; 9.80±0.84) and it was not significantly different from the NC group (5.00±1.41; 12.20±2.77). It can be concluded that 770 mg/kg BW was the effective dose of JFPEE that can increase the regeneration of Sertoli cells and Leydig cells in diabetic rat models.Keywords: Jengkol Fruit Peel Ethanol Extract, Leydig Cells, Regeneration, Sertoli Cells.
Ketahanan Kayu Meranti Merah dan Kayu Kamper terhadap Serangan Rayap Tanah Fitriani, Nurullia; Kasmara, Hikmat; Maulana, Jimmy
Prosiding SNPBS (Seminar Nasional Pendidikan Biologi dan Saintek) 2016: Prosiding SNPBS (Seminar Nasional Pendidikan Biologi dan Saintek)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (593.056 KB)

Abstract

Rayap merupakan salah satu organisme perusak kayu, bangunan dan bahan berlignoselulosa yang dapat menimbulkan kerugian ekonomi cukup besar dalam kehidupan manusia. Jenis kayu yang banyak digunakan sebagai bahan bangunan di Indonesia adalah Kayu Meranti Merah dan Kayu Kamper. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan ketahanan Kayu Meranti Merah dan Kayu Kamper terhadap serangan rayap tanah dan mengidentifikasi jenis rayap yang menyerang kayu di sekitar Gedung Program Studi Biologi Universitas Padjadjaran. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode pengumpanan. Analisis data dilakukan dengan menggunakan rumus Sornnuwat et al. (1995) dan uji ANAVA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kayu Meranti Merah dan Kayu Kamper diserang dan dirusak oleh rayap tanah yang dikenal sebagai Macrotermes gilvus Hagen dari familia Termitidae. Kayu yang dirusak rayap mengalami penyusutan massa kayu. Rata – rata penyusutan Kayu Meranti Merah yang diakibatkan oleh M. gilvus Hagen sebesar 15,91% pada bulan I, pada bulan ke II sebesar 17,99% dan bulan ke III sebesar 20,53%. Sedangkan pada Kayu Kamper rata –rata penyusutan sebesar 5,66% pada bulan I, bulan ke II sebesar 3,72% dan bulan ke III sebesar 19,23%.. Rata – rata penyusutan Kayu Meranti Merah selama 3 bulan sebesar 23,86%, sedangkan penyusutan rata – rata Kayu Kamper sebesar 16,2%, hal ini menunjukan bahwa Kayu Kamper lebih tahan terhadap serangan rayap tanah Macrotermes gilvus Hagen dibandingkan Kayu Meranti Merah.
Aplikasi Helicoverpa Armigera Nuclear Polyhedrosis Virus Subkultur (Hanpv1) pada Ectropis Burmitra Miranti, Mia; Safitri, Ratu; Melanie, M; Fitriani, Nurullia
Prosiding SNPBS (Seminar Nasional Pendidikan Biologi dan Saintek) 2016: Prosiding SNPBS (Seminar Nasional Pendidikan Biologi dan Saintek)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (477.241 KB)

Abstract

Helicoverpa armigera Nuclear Polyhedrosis Virus (HaNPV) telah diproduksi pada larva Spodoptera litura. Virus hasil produksi tersebut adalah Helicoverpa armígera Nuclear Polyhedrosis Virus Subkultur atau HaNPV1. Penelitian dilakukan menggunakan metode deskriptif eksplorasi dengan menginfeksikan larva instar dua, tiga dan empat Ectropis burmitra (ulat jengkal daun teh) dengan sediaan HaNPV1 yang dioleskan pada pakan larva dengan konsentrasi virus yang digunakan sebesar 4 x 102, 4 x 104 dan 4 x 106 polihedra/ml. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kematian larva instar dua, tiga dan empat Ectropis burmitra yangdiinfeksi virus dengan konsentrasi 4 x 102, 4 x 104 dan 4 x 106 polihedra/ml antara 80%-100%. Efektivitas infeksi HaNPV1 hingga 100% pada larva E. burmitra instar dua untuk semua konsentrasi infeksi. Akan tetapi semakin tua instar larva, tingkat kematian turun menjadi 80% pada larva instar tiga dan empat yang diinfeksi HaNPV1 dengan konsentrasi sebesar 4 x 102 polihedra/ml. Pada konsentrasi virus sebesar 4 x 106 polihedra/ml seluruh larva instar dua, tiga dan empat mencapai tingkat kematian 100%. Tingkat kematian yang tinggi terjadi pada larva ini karena E. burmitra masih satu ordo dengan H. armigera (sebagai inang utama HaNPV) dan S. litura yaitu Ordo Lepidoptera
BACTERIAL CONTAMINATION TEST IN POWDER-FORMULATED Helicoverpa armige-ra NUCLEAR POLYHEDROSIS VIRUS (HaNPV1) SUBCULTURE Miranti, Mia; Kasmara, Hikmat; Fitriani, Nurullia; Melanie, Melanie; A'yun, Inas Qurrata; Syaputri, Yolani; Doni, Febri; Madihah, Madihah; Rahayuningsih, Sri Rejeki; Azizah, Nabilah Sekar; Hermawan, Wawan
Jurnal Bioteknologi & Biosains Indonesia (JBBI) Vol. 10 No. 2 (2023)
Publisher : BRIN - Badan Riset dan Inovasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55981/jbbi.2023.2947

Abstract

The Helicoverpa armigera Nuclear Polyhedrosis Virus (HaNPV1) is a subculture derived from the original HaNPV, and it has been cultivated in Spodoptera litura larvae as an alternative host. HaNPV1 was subsequently formulated using gypsum and talcum as carrier media. Following this formulation, a bacterial contamination test was conducted to assess the quality of the viral formulation.  The experiment was arranged in the randomized factorial block design (RFBD) with 2 replications. The viral formulations was stored for 16 weeks and the samples were taken every two weeks for contamination analysis. The data was then analyzed with the analysis of variance (ANOVA) and a post-hoc using Duncan’s Multiple Range test. The variable observed was the number of the bacterial colonies cultivated on the specific media i.e., Nutrient Agar (NA), Salmonella Shigella Agar (SSA) and Eosin Methilen Blue Agar (EMB). The results showed that the bacterial contaminants was detected from 0 to 12 weeks of storage time. However, the highest contamination was found in viral formulation after 8 weeks of storage time and the highest bacterial contaminations were recorded from all viral formulation tested in NA. The results indicated that the bacterial contamination were found around 1.45 × 109 cfu/gram and 1.97 × 109 cfu/gram in gypsum and talcum formulations, respectively. On SSA and EMB media, the bacteria contaminants from all formulation found in 8 weeks of storage time, but Salmonella, Shigella, or Escherichia coli (aspathogenic bacteria) were not found. After 12 weeks storage time, there was no indication of  contamination found in all media. Furthermore, Bacillus species was found as a most dominant contaminant in all samples. In conclusion, although the viral formulations using gypsum and talc were not contaminated by pathogenic bacteria such Salmonella, Shigella, or E. coli. Nevetherless, the viral formulation was still easily contaminated by other non-pathogenic bacterial species. Thus, a more standardized and stricted strategy needs to be developed for a better viral formulation product.