cover
Contact Name
Devita Febriani Putri
Contact Email
devita@malahayati.ac.id
Phone
+62811796180
Journal Mail Official
jikk@malahayati.ac.id
Editorial Address
Jln. Pramuka no.27 Kemiling Bandar Lampung, Kode Pos 35152
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan
Published by Universitas Malahayati
ISSN : 23557583     EISSN : 25494864     DOI : https://doi.org/10.33024/.v5i4
Core Subject : Health, Science,
Jurnal Ilmu Kedokteran dan kesehatan (JIKK) menyediakan platform untuk mempublikasikan artikel bidang Kedokteran dan kesehatan yang meliputi: kedokteran komunitas: epidemiologi penyakit, promosi kesehatan kedokteran keluarga pendidikan kedokteran kedokteran klinis: pediatrik, endokrin, reproduksi, muskuloskeletal, respirasi, geriatri, trauma, gastrointestinal. penyakit infeksi, THT, mata, sensoris kedokteran kerja kedokteran olahraga kedokteran dasar (biomedik)
Articles 1,379 Documents
ANALISIS FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN DIARE PADA BALITA DI PUSKESMAS KEDATON KOTA BANDAR LAMPUNG Asa Izati; Dwijowati Asih Saputri; Marlina Kamelia; Nurhaida Widiani
Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Vol 7, No 2 (2020): Volume 7 Nomor 2
Publisher : Prodi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (195.246 KB) | DOI: 10.33024/jikk.v7i2.2738

Abstract

Angka kejadian diare pada balita di Bandar Lampung masih cukup tinggi pada tahun 2016. Kasus tertinggi ditemukan di puskesmas Kedaton Bandar Lampung. Sanitasi lingkungan dan kondisi keluarga diduga dapat mempengaruhi kasus diare. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian diare pada balita di Puskesmas Kedaton, Bandar Lampung. Jenis penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional dengan menggunakan pendekatan cross sectional study. Hasil uji laboratorium menunjukkan bahwa sebagian besar mikroba yang menginfeksi balita di puskesmas Kedaton, Bandar Lampung berbentuk basil/batang dan bersifat gram negatif. Meskipun juga ditemukan mikroba berbentuk bulat/kokus dan bersifat gram positif. Sanitasi lingkungan dan kondisi keluarga (usia dan jenis pekerjaan ibu) mempengaruhi angka kejadian diare pada balita di puskesmas Kedaton, Bandar lampung.
HUBUNGAN KADAR GLUKOSA DARAH PUASA DAN 2 JAM POSTPRANDIAL PADA PASIEN DIABETES MELITUS TIPE 2 DENGAN KEJADIAN PENYAKIT JANTUNG KORONER DI RSUD DR. H. ABDOEL MOELOEK Rina Kriswiatiny; Nita Sahara
Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Vol 1, No 4 (2014): Volume 1 Nomor 4
Publisher : Prodi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (159.692 KB) | DOI: 10.33024/.v1i4.685

Abstract

Diabetes melitus merupakan suatu kelompok metabolik dengan karakteristik hiperglikemiayang terjadi karena kelainan sekresi insulin, kerja insulin atau kedua-duanya. Penyakit jantung koroner adalahpenyakit jantung yang disebabkan oleh penyempitan pembuluh darah koroner, pada umumnya disebabkan olehproses aterosklerosis (98%), sisanya oleh spasme koroner (2%). Kurang lebih 75% pasien diabetes akhirnyameninggal akibat penyakit jantung. Angka kejadian penyakit jantung koroner pada diabetes melitus berkisarantara 45% - 70%. Aterosklerosis koroner ditemukan pada 50-70% penderita diabetes. Tujuan penelitian iniadalah untuk mengetahui apakah terdapat hubungan antara kadar glukosa darah puasa dan 2 jam postprandialpada pasien diabetes melitus tipe 2 dengan kejadian penyakit jantung koroner.Metode: Jenis penelitian yang digunakan adalah analitik observasional dengan menggunakan pendekatan casecontrol study. Populasi penelitian adalah seluruh pasien diabetes melitus tipe 2 di RSUD Dr. H. AbdoelMoeloek pada bulan Januari – Desember 2012 sebanyak 525 orang. Sampel sejumlah 100 orang. Pengumpulandata menggunakan data sekunder yaitu rekam medis. Analisa data univariat menggunakan persentase danpengolahan data bivariat dengan chi square.Hasil: Penderita diabetes melitus tipe 2 memiliki yang kadar glukosa darah puasa baik (80-<100) adalah14responden, 25 responden memiliki kadar glukosa darah puasa sedang (100-125) dan 61 responden memilikikadar glukosa darah puasa buruk (≥126). Penderita diabetes melitus tipe 2 yang memiliki kadar glukosa darah 2jam postprandial baik (80-144) adalah 2 responden, 23 responden memiliki kadar glukosa darah 2 jampostprandial sedang (145-179) dan 75 responden memiliki kadar glukosa darah 2 jam postprandial buruk(≥180).Kesimpulan: Terdapat hubungan antara glukosa darah puasa pada pasien diabetes melitus tipe 2 dengankejadian penyakit jantung koroner (p-value 0,03) dan juga terdapat hubungan antara glukosa darah 2 jampostprandial pada pasien diabetes melitus tipe 2 dengan kejadian penyakit jantung koroner (p-value 0,009).
HUBUNGAN PERILAKU KERJA DENGAN KEJADIAN NYERI PINGGANG BAWAH PADA BURUH DI PASAR TENGAH TANJUNG KARANG PUSAT BANDAR LAMPUNG PERIODE NOVEMBER – DESEMBER TAHUN 2013 Agung Priantoro
Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Vol 4, No 3 (2017): Volume 4 Nomor 3
Publisher : Prodi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (193.302 KB) | DOI: 10.33024/.v4i3.1315

Abstract

Latar Belakang: Aktivitas gerak tubuh manusia bergantung pada efektifnya interaksi antara sendi yang normal dengan unit-unit neuromuskular yang menggerakkannya.diketahui Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2010, untuk penyakit tulang, sendi, otot dan jaringan pengikat data prevalensi nyeri pinggang belakang sebesar 35,7%. Berdasarkan karakteristik responden prevalensi nyeri pinggang bawah lebih tinggi pada jenis pekerjaan petani/nelayan/buruh sebesar 16,6%. Metode Penelitian: Jenis penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh kuli angkut yang ada di Pasar Tengah Tanjung Karang Pusat Bandar Lampung tahun 2013 sebesar 50 orang dan sampel menggunakan total populasi. Analisis data menggunakan uji chi-square. Hasil: Hasil uji statistik univariat didapat distribusi frekuensi perilaku kerja lebih tinggi pada kategori tidak baik sebesar  29 orang (58,0%), Distribusi frekuensi kejadian nyeri pinggang bawah lebih tinggi pada kategori tidak nyeri pinggang bawah sebesar 35 orang (70,0%). Kesimpulan: Hasil uji statistik bivariat didapat ada hubungan perilaku kerja dengan kejadian nyeri pinggang bawah pada buruh (p value = 0,003 < 0,05).
IDENTIFIKASI POLA KUMAN PADA RUANG INTENSIVE CARE UNIT (ICU) DI RSUD Dr. H. ABDUL MOELOEK BANDAR LAMPUNG Hidayat Hidayat; Eka Sylvia
Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Vol 1, No 1 (2014): Vol 1 No 1
Publisher : Prodi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (95.934 KB) | DOI: 10.33024/.v1i1.292

Abstract

Infeksi nosokomial adalah infeksi yang muncul selama  seseorang tersebut dirawat dirumah sakit dan mulai menunjukan suatu gejala selama  seseorang itu dirawat. Infeksi nosokomial terjadi lebih dari 48 jam setelah masuk rumah sakit. Ruang perawatan intensif seperti Intensive care unit (ICU) merupakan  tempat tersering  terjadinya  infeksi nosokomial. Hal ini  disebabkan pasien yang dirawat dalam jangka waktu lama dan menggunakan peralatan invasive. Penyebaran  bakteri patogen penyebab infeksi nosokomial dapat melalui  perantara  peralatan dan  tenaga kesehatan yang ada diruang ICU.  Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi bakteri pathogen penyebab infeksi nosokomial pada ruang ICU RSUD Dr. H. Abdul Moeloek Bandar Lampung.   Jenis penelitian yang  digunakan adalah Eksperimen  Laboratorik dari sampel  berupa  apusan  dari alat-alat yang  berada  di ruang  ICU kemudian diperiksa di laboratorium  Mikrobiologi Klinik bagian Patologi Klinik RSUD Dr. H. Abdul Moeloek Bandar Lampung.   Hasil  penelitian menunjukkan bahwa  dari 30 sampel yang  didapat dari alat- alat di ruang  ICU RSUD Dr. H. Abdul Moeloek Bandar Lampung, sebanyak 13  sampel (43,33%) terdapat bakteri patogen dan 17 sampel (56,67%) tidak ditemukan  bakteri patogen. Hasil  pemeriksaan bakteri patogen di ruang  ICU terdapat bakteri Staphylococcus sp 37%, Klebsiella sp 20%, Pseudomonas sp 7%.  Jenis bakteri terbanyak  adalah:Staphylococcus sp    terdapat di 11  macam asal spesimen usab, Klebsiella sp terdapat di 6 macam asal spesimen usab dan Pseudomonas sp    terdapat di 2 macam asal spesimen usab.  Dengan  predileksi terbanyak adalah pada jas petugas, tempat sampah, tempat tidur, dan wastafel.  
DISTRIBUSI USIA DAN JENIS KELAMIN PADA ANGKA KEJADIAN OTITIS MEDIA AKUT DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH ABDUL MOELOEK BANDAR LAMPUNG TAHUN 2016 Rizka Dwi Lestari; Zulhafis Mandala; Marni Marni
Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Vol 5, No 1 (2018): Volume 5 Nomor 1
Publisher : Prodi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (302.084 KB) | DOI: 10.33024/.v5i1.788

Abstract

Latar Belakang: Penyakit Otitis Media Akut adalah penyakit peradangan telinga tengah yang cukup sering terjadi di kalangan masyarakat saat ini. Otitis Media Akut terutama disebabkan oleh virus atau bakteri dan berhubungan erat dengan infeksi hidung dan tenggorokan. Faktor usia sebagai salah satu faktor resiko Otitis Media Akut (OMA) perlu dikaji karena angka kejadian pada tiap kelompok usia tertentu bervariasi dan nilainya berbeda dengan teori dan penelitian sebelumnya.Tujuan: Penelitian ini ditujukan untuk mengetahui bagaiman distribusi usia dan jenis kelamin pada angka kejadian OMA di RSUD Abdul Moeloek Bandar Lampung Tahun 2016.Metode: Jenis penelitian yang di gunakan adalah studi deskriptif retrospektif. Data yang digunakan berupa data sekunder yang diambil dari rekam medic pasien Otitis Media Akut (OMA) di RSUD Abdul Moloek Bandar Lampung Tahun 2016. Teknik pengambilan sampel penelitian ini adalah dengan menggunakan cara Slovin dan didapatkan sampel sebanyak 143 orang.Hasil: Didapatkan usia terbanyak pasien OMA di RSUD. Dr. H. Abdul Moeloek Provinsi Lampung tahun 2016 adalah kelompok usia 0 – 5 tahun sebayak 24 orang (16,8 %), kelompok usia 6 – 11 tahun sebanyak 22 orang ( 15,4 % ), kelompok usia 12 – 16 tahun sebanyak 22 orang ( 15,4 ), kelompok usia 17 – 24 tahun sebanyak 30 orang ( 21,0 % ), kelompok usia 26 – 35 sebanyak 13 orang ( 9,1 % ), kelompok usia 36 – 45 tahun sebanyak 23 orang ( 16,1 % ), kelompok usia 46 – 55 tahun sebanyak 6 orang ( 4,2% ), 56 – 65 sebanyak 2 orang ( 1,4 % ), yang paling rendah usia kelompok > 65 tahun yaitu 1 orang (0,7%)Kesimpulan: Pada penelitian ini didapatkan hasil distribusi usia dan jenis kelamin berbeda dengan beberapa teori kebanyakan dimana usia dewasa lebih banyak yang mengalami otitis media akut dibandingkan usia anak – anak di RSUD Abdul Moeloek Bandar Lampung Tahun 2016. 
Hubungan Faktor-Faktor Yang Menyebabkan Kejadia n Penyakit Melasma di RSUD d r. A. Dadi Tjokrodipo Kota Bandar Lampung tahun 2016 Arif Efendi; Chintya Mutiara; Awang Purbo Sukesah
Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Vol 3, No 3 (2016): Volume 3 Nomor 3
Publisher : Prodi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (82.55 KB) | DOI: 10.33024/.v3i3.754

Abstract

yang banyak dijumpai,timbulnya melasma menimbulkan gangguan pada kulitwajah sekaligus menyebabkan penurunan kepercayaan diri pada penderitanya.3Melasma banyak dipengaruhioleh faktor risiko dari penderitanyasendiri. Melasma adalah hipermelanosis yang umumnya simetris berupamakula yang tidak merata berwarna coklat muda sampai coklat tua, mengenai areayang terpajan sinar ultraviolet pada sinar matahari dengan tempat predileksi padapipi, dahi, daerah atas bibir, hidung, dan dagu.Metode : Jenis penelitian ini adalah deskriptif analitik yang bertujuan mengetahuifaktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian penyakit melasma di BandarLampung tahun 2016.Hasil : Hasil penelitian distribusi hormon KB pada Pasien Melasma lebih tinggipada kategori penggunaan KB hormonal sebanyak 25 orang (26,9%), distribusipenggunaan Kosmetik pada pasien melasma lebih tinggi pada kategori penggunaankosmetik sebanyak 23 orang (24,7%) distribusi usia pada pasien melasma yangberusia di atas 30 tahun lebih tinggi sebanyak 19 orang (20,4%). Hasil uji chisquare didapat ada hubungan faktor - faktor penggunaan hormon kb, kosmetik dandistribusi usia dengan kejadian penyakit melasma (p value = 0,000 < 0,05).
PENGARUH PENGGUNAAN MGSO4 SEBAGAI TERAPI PENCEGAHAN KEJANG PADA PREEKLAMPSIA Farhana Fitri Amalia
Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Vol 7, No 1 (2020): Volume 7 Nomor 1
Publisher : Prodi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (135.122 KB) | DOI: 10.33024/jikk.v7i1.2215

Abstract

Preeklampsia merupakan salah satu penyebab utama Angka Kematian Ibu (AKI) di dunia. Preeklampsia merupakan keadaan spesifik yang ditandai dengan adanya hipertensi dan proteinuri yang baru terjadi pada kehamilan setelah usia 20 minggu gestasi. Faktor risiko internal seperti umur dan riwayat penyakit menjadifaktor risiko yang paling berperan dalam kejadian preeklampsia. Tatalaksana komprehensif dibutuhkan untuk mencegah terjadinya berbagai komplikasi yang dapat membahayakan ibu dan janin, salah satunya adalah kejang eklampsia. Morbiditas dan mortalitas akibat hipertensi pada kehamilan dapat dicegah dengan pemberian profilaksis magnesium sulfat (MgSO4). Magnesium sulfat sudah digunakan lebih dari seabad sebagai antikonvulsan karena efek samping yang minimal serta keamanan yang sudah teruji. Agen neuroprotektor ini bertindak sebagai stabilitator membran sel dan pada sistem saraf pusat bekerja sebagai pemblokir non-kompetitif dari N-metil reseptor d-aspartat (NMDA) glutamat. Mekanisme antikonvulsan MgSo4 berupa penurunan resistensi perifer terjadi dengan inaktivasi miosin rantai kinase sehingga terjadi relaksasi arteri dan berujung pada penurunan tekanan darah. Penggunaan MgSO4 sebagai profilaksis kejang pada preeklamsia terbukti memiliki pengaruh yang bermakna pada berbagai studi. Pengaruh penggunaan MgSO4 pada pasien preeklampsia berupa penurunan kasus kejang eklampsia, penurunan penggunaaan antihipertensi, penurunan tekanan darah sistolik dan sebagai agen neuroprotektor pada janin.
Melittin Treatment for Biofilm of MRSA (Methicillin Resistant Staphylococcus aureus) Dwi Marlina
Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Vol 2, No 4 (2015): Volume 2 Nomor 4
Publisher : Prodi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (854.012 KB) | DOI: 10.33024/hjk.v8i3.718

Abstract

According to the Centers for Disease Control and Prevention (CDC) there were estimated to be 94,360 MRSA invasive infections in the US with approximately18,650 deaths annually since 2005.Other organizations estimate the true numbers to be over one million infected in the US with MRSA and over 100,000 deaths from 2005-2010.These infections attack all ages, from the elderly to the young, mainly because their immune system is suppressed.  In acute care hospitals, MRSA colonization is a common cause of nosocomial infection and increased hospital costs (Huh, Kim, &Chae, 2012).  MRSA universally attach to surfaces and produce extracellular polysaccharides, resulting in the formation of abiofilm. Biofilms pose a serious problem for public health because of the increased resistance of biofilm-associated organisms to antimicrobial agents and the potential for these organisms to cause infections in patients with indwelling medical devices.An appreciation of the role of biofilms in infection should enhance the clinical decision-making process.Currently, biofilm is considered as a major mediator of infection with an estimated 80% incidence of infection associated with the formation of biofilms.  Biofilm resistance is usually multifactorial, which makes it difficult to eradicate biofilms.  Therefore, this study will focus on creatingMethicilin ResistantStaphylococcus aureusbiofilms in culture and on testing the effects on that biofilm of the antibacterial peptide: Melittin.Method:This study is an experiment and the strain of Methicillin Resistant Staphylococcus aureus(MRSA) was WBG 8287 which was donated by France O Brien who is from the medical research facility of royal Perth hospital.Result:The biofilm formation produces large amounts of non-cellular material with very few visible cells.  The thickness of film shows that MRSA produced biofilm well.  Melittin able to treat MRSAwith 60 minutes having stable colorConclusion:The resultsshowed that the procedures used were capable of inducing this MRSA strain to form a biofilm and melittin able to treat MRSA.Suggestion:However, it is still not a perfect trial. Therefore, for the foreseeable future will be carried out the modified experiment and the experiment should be done with the variation of treatment and increasing the time of treatment.  It aims to get the best results in the healing process of the disease which is caused by MRSA. 
HUBUNGAN PENGETAHUAN DENGAN PENGGUNAAN ALAT PELINDUNG DIRI PADA PEKERJA INDUSTRI BATU BATA Rahmiati Rahmiati; Syarifah Nora Andriaty; Andri Andri
Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Vol 6, No 2 (2019): Volume 6 Nomor 2
Publisher : Prodi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (185.87 KB) | DOI: 10.33024/jikk.v6i2.2202

Abstract

Pelaksanaan Keselamatan Dan Kesehatan Kerja (K3) merupakan suatu cara untuk melindungi pekerja dari kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja. Tahap akhir dalam pencegahan kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja yaitu dengan penggunaan Alat Pelindung Diri (APD). Kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja juga dapat terjadi pada saat pengolahan batu bata yang diakibatkan oleh tanah yang banyak mengandung nematode, asap pembakaran dan debu akibat pembakaran yang tidak sempurna. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan dengan penggunaan APD pada pekerja industri batu bata di Dusun Lamseunong Kecamatan Baitussalam Kabupaten Aceh Besar. Desain penelitian ini adalah crosssectional survey yang dilakukan pada 62 responden yang diambil dengan tehnik total sampling. Pengambilan data pada penelitian ini dilakukan pada tanggal 20 Februari 2019. Penggunaan APD diukur melalui observasi sedangkan pengetahuan melalui wawancara dengan kuesioner. Hasil uji statistic dengan Chi-Squre pada CI 95% dan α=0,05 untuk variabel pengetahuan didapatkan p value 0,02. Kesimpulan pada penelitian ini terdapat hubungan antara pengetahuan dengan penggunaan APD pada pekerja industri batu bata di Dusun LamseunongKecamatan Baitussalam Kabupaten Aceh Besar.
PERBEDAAN KEKUATAN OTOT TUNGKAI DAN DAYA LEDAK OTOT TUNGKAI DAN DAYA LEDAK OTOT TUNGKAI PADA PEMAIN SEPAK BOLA DENGAN TIDAK PEMAIN SEPAK BOLA UNIVERSITAS MALAHAYATI Tessa Sjahrian; Apriyugo Ponanda
Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Vol 4, No 2 (2017): Volume 4 Nomor 2
Publisher : Prodi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (303.628 KB) | DOI: 10.33024/.v4i2.777

Abstract

Latar Belakang: Sepak bola merupakan salah satu permainan yang paling banyak digemari banyak orang dari kalangan bawah, menengah, maupun kalanagan atas. Pada kalangan mahasisawa sepak bola sangat banyak peminatnya, di Universitas Malahayati disetiap fakultasnya memiliki tim sepak bola sendiri. Dalam pencapaian prestasi secara maksimal dalam cabang olahraga sepak bola seorang pemain sepak bola harus memiliki kemampuan fisik yang predominan maksimal yaitu : kekuatan otot tungkai dan daya ledak otot tungkai. Tes kemampuan predominan harusnya dilakukan untuk pemilihan pemain sepak bola, namun tes kemampuan predominan untuk cabang olahraga sepak bola di Fakultas Kedokteran Umum tidak pernah dilakukan, padahal hal itu sangatlah penting untuk menyeleksi pemain yang memiliki komponen-komponen fisik yang baik agar lebih berprestasi di lapangan saat bertanding.Tujuan: Agar diketahui perbedaan kekuatan otot tungkai dan daya ledak otot tungkai pada pemain sepak bola dan bukan pemain sepak boola Universitas MalahayatiMetode: Jenis penelitian ini adalah deskriptif analitik, dengan menggunakan pendekatan cross sectional. Populasi pada penelitian berjumlah 50 responden, sampel penelitian berjumlah 50 responden, dengan teknik pengambilan sampel total sampling atau seluruh populasi dijadikan sampel jika kurang dari 100 responden  .Hasil:Dengan Hasil penelitian perbedaan kekuatan otot tungkai pada pemain sepak bola dan bukan pemain sepak bola p-value 0.000 (< 0.05) dan daya ledak otot tungkai p-value 0.000 (< 0.05) yang artinya terdapat perbedaan kekuatan otot tungkai dan daya ledak otot tungkai pada pemain sepak bola dan bukan pemain sepak bola. 

Page 12 of 138 | Total Record : 1379


Filter by Year

2018 2026


Filter By Issues
All Issue Vol 13, No 3 (2026): Volume 13 Nomor 3 Vol 13, No 2 (2026): Volume 13 Nomor 2 Vol 13, No 1 (2026): Volume 13 Nomor 1 Vol 12, No 12 (2025): Volume 12 Nomor 12 Vol 12, No 11 (2025): Volume 12 Nomor 11 Vol 12, No 10 (2025): Volume 12 Nomor 10 Vol 12, No 9 (2025): Volume 12 Nomor 9 Vol 12, No 8 (2025): Volume 12 Nomor 8 Vol 12, No 7 (2025): Volume 12 Nomor 7 Vol 12, No 6 (2025): Volume 12 Nomor 6 Vol 12, No 5 (2025): Volume 12 Nomor 5 Vol 12, No 4 (2025): Volume 12 Nomor 4 Vol 12, No 3 (2025): Volume 12 Nomor 3 Vol 12, No 2 (2025): Volume 12 Nomor 2 Vol 12, No 1 (2025): Volume 12 Nomor 1 Vol 11, No 12 (2024): Volume 11 Nomor 12 Vol 11, No 11 (2024): Volume 11 Nomor 11 Vol 11, No 10 (2024): Volume 11 Nomor 10 Vol 11, No 9 (2024): Volume 11 Nomor 9 Vol 11, No 8 (2024): Volume 11 Nomor 8 Vol 11, No 7 (2024): Volume 11 Nomor 7 Vol 11, No 6 (2024): Volume 11 Nomor 6 Vol 11, No 5 (2024): Volume 11 Nomor 5 Vol 11, No 4 (2024): Volume 11 Nomor 4 Vol 11, No 3 (2024): Volume 11 Nomor 3 Vol 11, No 2 (2024): Volume 11 Nomor 2 Vol 11, No 1 (2024): Volume 11 Nomor 1 Vol 10, No 12 (2023): Volume 10 Nomor 12 Vol 10, No 11 (2023): Volume 10 Nomor 11 Vol 10, No 10 (2023): volume 10 Nomor 10 Vol 9, No 10 (2023): Volume 10 Nomor 9 Vol 10, No 9 (2023): Volume 10 Nomor 9 Vol 10, No 8 (2023): Volume 10 Nomor 8 Vol 10, No 7 (2023): Volume 10 Nomor 7 Vol 10, No 6 (2023): Volume 10 Nomor 6 Vol 10, No 5 (2023): Volume 10 Nomor 5 Vol 10, No 4 (2023): Volume 10 Nomor 4 Vol 10, No 3 (2023): Volume 10 Nomor 3 Vol 10, No 2 (2023): Volume 10 Nomor 2 Vol 10, No 1 (2023): Volume 10 Nomor 1 Vol 9, No 4 (2022): Volume 9 Nomor 4 Vol 9, No 3 (2022): Volume 9 Nomor 3 Vol 9, No 2 (2022): Volume 9 Nomor 2 Vol 9, No 1 (2022): Volume 9 Nomor 1 Vol 8, No 4 (2021): Volume 8 Nomor 4 Vol 8, No 3 (2021): Volume 8 Nomor 3 Vol 8, No 2 (2021): Volume 8 Nomor 2 Vol 8, No 1 (2021): Volume 8 Nomor 1 Vol 7, No 4 (2020): Volume 7 Nomor 4 Vol 7, No 3 (2020): Volume 7 Nomor 3 Vol 7, No 2 (2020): Volume 7 Nomor 2 Vol 7, No 1 (2020): Volume 7 Nomor 1 Vol 6, No 4 (2019): Volume 6 Nomor 4 Vol 6, No 3 (2019): Volume 6 Nomor 3 Vol 6, No 2 (2019): Volume 6 Nomor 2 Vol 6, No 1 (2019): Volume 6 Nomor 1 Vol 5, No 4 (2018): Volume 5 Nomor 4 Vol 5, No 3 (2018): Volume 5 Nomor 3 Vol 5, No 2 (2018): Volume 5 Nomor 2 Vol 5, No 1 (2018): Volume 5 Nomor 1 Vol 4, No 4 (2017): Volume 4 Nomor 4 Vol 4, No 3 (2017): Volume 4 Nomor 3 Vol 4, No 2 (2017): Volume 4 Nomor 2 Vol 4, No 1 (2017): Volume 4 Nomor 1 Vol 3, No 4 (2016): Volume 3 Nomor 4 Vol 3, No 3 (2016): Volume 3 Nomor 3 Vol 3, No 2 (2016): Volume 3 Nomor 2 Vol 3, No 1 (2016): Volume 3 Nomor 1 Vol 2, No 4 (2015): Volume 2 Nomor 4 Vol 2, No 3 (2015): Volume 2 Nomor 3 Vol 2, No 2 (2015): Volume 2 Nomor 2 Vol 2, No 1 (2015): Volume 2 Nomor 1 Vol 1, No 4 (2014): Volume 1 Nomor 4 Vol 1, No 3 (2014): Volume 1 Nomor 3 Vol 1, No 2 (2014): Vol 1 No 2 Vol 1, No 1 (2014): Vol 1 No 1 More Issue