cover
Contact Name
Andy Sapta
Contact Email
saptaandy@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
lppm_stmik@royal.ac.id
Editorial Address
-
Location
,
INDONESIA
JOURNAL OF SCIENCE AND SOCIAL RESEARCH
Published by Smart Education
ISSN : 26154307     EISSN : 26153262     DOI : -
Journal of Science and Social Research is accepts research works from academicians in their respective expertise of studies. Journal of Science and Social Research is platform to disclose the research abilities and promote quality and excellence of young researchers and experienced thoughts towards Change for Development. The journal releases on February and July.
Arjuna Subject : -
Articles 3,645 Documents
PENGARUH EFISIENSI STRATEGIS, KEPEMIMPINAN STRATEGIS, DAN BUDAYA ORGANISASI TERHADAP KESEJAHTERAAN KARYAWAN: KAJIAN LITERATUR REVIEW Zahid Nugrah Arafah; Syakhroni Harfan; Ratnawita Ratnawita; Febrina Anandari; Dona Gusmawita; Syafwandi Syafwandi
JOURNAL OF SCIENCE AND SOCIAL RESEARCH Vol. 9 No. 1 (2026): February 2026
Publisher : Smart Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54314/jssr.v9i1.5490

Abstract

Abstract: This study aims to examine the influence of strategic efficiency, strategic leadership, and organizational culture on employee welfare through a strategic approach literature review In an era of increasingly complex global competition, organizations are required not only to achieve efficiency in resource utilization but also to ensure employee well-being as a strategic asset that determines sustainability. Strategic efficiency is understood as an organization's ability to optimally allocate and utilize resources to support long-term goals, which in practice can increase productivity while creating a more structured work environment. However, excessive efficiency pressures have the potential to lead to burnout, making balance a key factor. Strategic leadership has emerged as a key catalyst connecting organizational agendas with individual well-being. Empathetic, communicative, and visionary leaders have been shown to create a positive psychological climate, increase intrinsic motivation, and strengthen employee engagement. Meanwhile, organizational culture serves as a foundation that determines the effectiveness of policies and leadership. An inclusive, collaborative, and supportive culturework-life balancehas been shown to strengthen job satisfaction, mental health, and psychological safety. The results of the literature synthesis indicate that the three independent variables have a positive and complementary influence in shaping employee well-being. This research contributes both theoretically, clarifying the relationship between strategic variables and well-being, and practically, providing guidance for organizations in designing policies that are both efficiency- oriented and human-centered. Thus, employee well-being can be viewed as a strategic investment that supports productivity, talent retention, and organizational sustainability. Keywords: Strategic Efficiency, Strategic Leadership, Organizational Culture, Employee Welfare Abstrak: Studi ini bertujuan untuk meneliti pengaruh efisiensi strategis, kepemimpinan strategis, dan budaya organisasi terhadap kesejahteraan karyawan melalui tinjauan literatur pendekatan strategis. Di era persaingan global yang semakin kompleks, organisasi dituntut tidak hanya untuk mencapai efisiensi dalam pemanfaatan sumber daya tetapi juga untuk memastikan kesejahteraan karyawan sebagai aset strategis yang menentukan keberlanjutan. Efisiensi strategis dipahami sebagai kemampuan organisasi untuk mengalokasikan dan memanfaatkan sumber daya secara optimal untuk mendukung tujuan jangka panjang, yang dalam praktiknya dapat meningkatkan produktivitas sekaligus menciptakan lingkungan kerja yang lebih terstruktur. Namun, tekanan efisiensi yang berlebihan berpotensi menyebabkan kelelahan (burnout), sehingga keseimbangan menjadi faktor kunci. Kepemimpinan strategis telah muncul sebagai katalis utama yang menghubungkan agenda organisasi dengan kesejahteraan individu. Pemimpin yang empatik, komunikatif, dan visioner telah terbukti menciptakan iklim psikologis yang positif, meningkatkan motivasi intrinsik, dan memperkuat keterlibatan karyawan. Sementara itu, budaya organisasi berfungsi sebagai fondasi yang menentukan efektivitas kebijakan dan kepemimpinan. Budaya inklusif, kolaboratif, dan suportif—keseimbangan kerja-hidup—telah terbukti memperkuat kepuasan kerja, kesehatan mental, dan keamanan psikologis. Hasil sintesis literatur menunjukkan bahwa ketiga variabel independen tersebut memiliki pengaruh positif dan saling melengkapi dalam membentuk kesejahteraan karyawan. Penelitian ini memberikan kontribusi baik secara teoritis, dengan mengklarifikasi hubungan antara variabel strategis dan kesejahteraan, maupun secara praktis, dengan memberikan panduan bagi organisasi dalam merancang kebijakan yang berorientasi pada efisiensi dan berpusat pada manusia. Dengan demikian, kesejahteraan karyawan dapat dilihat sebagai investasi strategis yang mendukung produktivitas, retensi talenta, dan keberlanjutan organisasi. Kata kunci: Efisiensi Strategis, Kepemimpinan Strategis, Budaya Organisasi, Kesejahteraan Karyawan
PEMAHAMAN PERATURAN MENTERI NEGARA AGRARIA/KBPN NO. 1 TAHUN 1999 TENTANG TATA CARA PENANGANAN SENGKETA PERTANAHAN Junaidi Sholat; Babby Apriandani; Julpan Hartono SM Manurung; Karina Putri Maharani; Kiki Adha Sirait
JOURNAL OF SCIENCE AND SOCIAL RESEARCH Vol. 8 No. 4 (2025): November 2025
Publisher : Smart Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54314/jssr.v8i4.5497

Abstract

Abstract: The mandate of agrarian reform in Indonesia was further strengthened through the Decree of the People's Consultative Assembly (MPR) Number IX/MPR/2001, which regulates agrarian reform and natural resource management. This demonstrates that agrarian reform aims not only for the physical distribution of land but also for strengthening natural resource management to provide maximum benefits to the community. Furthermore, through the Decree of the People's Consultative Assembly (MPR) Number 5/MPR/2003, the UUPA, along with its implementing regulations, aims to ensure legal certainty for land rights throughout the Republic of Indonesia. Legal disputes arise from objections to claims regarding land rights, whether regarding land status, priority, or ownership, with the hope of obtaining administrative resolution in accordance with applicable provisions. Regulation of the Minister of State for Agrarian Affairs/National Land Agency Number 1 of 1999 concerning Procedures for Handling Land Disputes, defines the dispute. Keywords: Agrarian, Dispute Abstrak: Mandat reforma agraria di Indonesia semakin dipertegas melalui Ketetapan MPR RI Nomor IX/MPR/2001 yang mengatur pembaruan agraria dan pengelolaan sumber daya alam. Hal ini menunjukkan bahwa reforma agraria tidak hanya bertujuan untuk distribusi fisik tanah, tetapi juga memperkuat pengelolaan sumber daya alam agar dapat memberikan manfaat maksimal kepada masyarakat. Selain itu, melalui Keputusan MPR RI Nomor 5/MPR/2003. UUPA dengan seperangkat peraturan pelaksanaannya, bertujuan untuk terwujudnya jaminan kepastian hukum terhadap hak-hak atas tanah diseluruh wilayah Republik Indonesia. Munculnya sengketa hukum merupakan berawal dari keberatan dari tuntutan suatu hak atas tanah baik terhadap status tanah, prioritas maupun kepemilikannya dengan suatu harapan mendapatkan penyelesaian administrasi sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Peraturan Menteri Negara Agraria/Badan Pertanahan Nasional Nomor 1 Tahun 1999 tentang Tata Cara Penanganan Sengketa Pertanahan, yang dimaksud dengan sengketa. Kata kunci: Agraia, Sengketa
PERLINDUNGAN SAKSI DAN KORBAN MERUPAKAN PERLINDUNGAN HUKUM DAN HAM DI INDONSIA Safrin Ritonga; Hikmat Syahputra Tarigan; Rahmat Suhargon; Ahmad Ray Fadillah Sitompul; Jesica Lumban Batu
JOURNAL OF SCIENCE AND SOCIAL RESEARCH Vol. 8 No. 4 (2025): November 2025
Publisher : Smart Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54314/jssr.v8i4.5498

Abstract

Abstract: Human Rights begin with the natural dignity and human rights that humans possess that cannot be revoked and are seen as rights that are inherent and rooted in the nature and dignity of humans as creatures of God Almighty that are carried from birth and are absolute. Including current developments related to witnesses and victims is part of Human Rights. The research method used in this article is normative, namely legal research conducted by examining library materials, with a focus on the legislative approach. The formulation of the problem is that the Protection of Witnesses and Victims is Legal Protection and Human Rights in Indonesia. And Human Rights and Human Rights Violations. Article 1 number (1) of Government Regulation Number 2 of 2002 concerning Procedures for Protection of Victims and Witnesses in Serious Human Rights Violations states that: Protection is a form of service that must be carried out by law enforcement officers or security officers to provide a sense of security, both physical and mental, to victims and witnesses, from threats, harassment, terror, and violence from any party, which is given at the stage of investigation, inquiry, prosecution, and or examination in court. Law Number 39 of 1999 concerning Human Rights and Law Number 26 of 2000 concerning Human Rights Courts provide the same understanding of Human Rights. Keywords: Protection, Witnesses, Victims Abstrak: Hak Asasi Manusia dimulai dari martabat alamiah dan hak-hak kemanusiaan yang dimiliki oleh manusia yang tidak dapat dicabut dan dipandang sebagai hak-hak yang melekat dan berakar pada hakikat dan martabat manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa yang dibawa sejak lahir dan bersifat mutlak. Termasuk perkembangan saat ini terkait saksi dan korban merupakan bagian dari HAM. Metode penelitian artikel ini yang digunakan adalah normatif yaitu penelitian hukum yang dilakukan dengan cara meneliti bahan kepustakaan, dengan fokus pada pendekatan perundang-undangan. Adapun menjadi rumusan masalah yaitu Perlindungan Saksi Dan Korban Merupakan Perlindungan Hukum Dan Ham Di Indonsia. Dan Hak Asasi Manusia dan Pelanggaran Hak Asasi Manusia. Pasal 1 angka (1) Peraturan Pemerintah Nomor 2 Tahun 2002 tentang Tata Cara Perlindungan Terhadap Korban dan Saksi Dalam Pelanggaran Hak Asasi Manusia yang Berat bahwa: Perlindungan adalah suatu bentuk pelayanan yang wajib dilaksanakan oleh aparat penegak hukum atau aparat keamanan untuk memberikan rasa aman baik fisik maupun mental, kepada korban dan saksi, dari ancaman, gangguan, teror, dan kekerasan dari pihak manapun, yang diberikan pada tahap penyelidikan, penyidikan, penuntutan, dan atau pemeriksaan di sidang pengadilan. Undang-undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia dan Undang-undang Nomor 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia memberikan pengertian yang sama tentang Hak Asasi Manusia. Kata kunci: Perlindungan, Saksi, Korban
ANALISIS KEMAMPUAN PEMAHAMAN KONSEPTUAL SISWA KELAS III MADRASAH IBTIDAIYAH SWASTA (MIS) SAKSI TANJUNGBALAI DALAM KLASIFIKASI BANGUN DATAR Anim Anim; Aidilla Fitria Sari Siregar; Hera Azhari Bangun; Nurlia Ningsih; Andy Sapta
JOURNAL OF SCIENCE AND SOCIAL RESEARCH Vol. 9 No. 1 (2026): February 2026
Publisher : Smart Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54314/jssr.v9i1.5510

Abstract

Abstract: This study aims to describe the conceptual understanding ability of third-grade students at MIS Saksi in classifying two-dimensional shapes (flat shapes). Mathematics at the elementary school level is often considered difficult due to its abstract nature, particularly in geometry. This research employs a descriptive qualitative approach to explore how students recognize, group, and understand the characteristics of flat shapes through real objects. The subjects of the study were 25 third-grade students who are in the concrete operational stage of development. The research instrument consisted of an evaluation test measuring the ability to elaborate on concepts, present examples, and perform independent articulation. The results showed that 40% of students were in the high category, 32% in the medium category, and 28% in the low category. Students in the high category were able to connect concepts with concrete objects around them and explain the properties of flat shapes in their own words. Meanwhile, the main obstacle for students in the low category was difficulty in understanding question instructions and mathematical literacy. Overall, the majority of students (72%) have achieved fair to excellent understanding in the classification of flat shapes. Keywords: Conceptual Understanding, Two-Dimensional Shapes, Geometry, Elementary School, Classification. Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kemampuan pemahaman konseptual siswa kelas III MIS Saksi dalam mengklasifikasikan bangun datar. Matematika di tingkat sekolah dasar seringkali dianggap sulit karena sifatnya yang abstrak, terutama pada materi geometri. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif untuk menggali bagaimana siswa mengenali, mengelompokkan, dan memahami ciri-ciri bangun datar melalui objek nyata. Subjek penelitian terdiri dari 25 siswa kelas III yang berada pada tahap perkembangan operasional konkret. Instrumen penelitian berupa tes evaluasi yang mengukur kemampuan menguraikan konsep, penyajian contoh, dan artikulasi mandiri. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 40% siswa berada pada kategori tinggi, 32% pada kategori sedang, dan 28% pada kategori rendah. Siswa di kategori tinggi mampu menghubungkan konsep dengan benda konkret di sekitar mereka dan menjelaskan sifat-sifat bangun datar dengan bahasa sendiri. Sementara itu, kendala utama pada siswa kategori rendah adalah kesulitan dalam memahami instruksi soal dan literasi matematis. Secara keseluruhan, mayoritas siswa (72%) telah mencapai pemahaman yang cukup hingga sangat baik dalam klasifikasi bangun datar. Kata kunci: Pemahaman Konseptual, Bangun Datar, Geometri, Sekolah Dasar, Klasifikasi.
RESTORATIVE JUSTICE DAN PERLINDUNGAN TRAUMA KORBAN KEKERASAN SEKSUAL ANAK DI INDONESIA Kiki Adha Sirait; Asri Vivi Yanti Sinurat; Syahrani Lailati Br Damanik
JOURNAL OF SCIENCE AND SOCIAL RESEARCH Vol. 8 No. 2 (2025): May 2025
Publisher : Smart Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54314/jssr.v8i2.5514

Abstract

Abstract: Sexual violence against children constitutes a serious crime that results in multidimensional impacts on victims, including physical, psychological, and social harm. Within the Indonesian criminal justice system, the handling of child sexual violence cases remains predominantly oriented toward a retributive approach that emphasizes the punishment of offenders. Such an approach often fails to fully consider the best interests of the child as a victim, particularly with regard to psychological recovery and the traumatic effects arising from lengthy and confrontational judicial processes. Repeated examinations, the obligation to recount traumatic experiences, and direct or indirect confrontation with perpetrators may exacerbate the victim’s trauma. Restorative justice has emerged as an alternative approach to criminal case resolution by prioritizing victim recovery, offender accountability, and the restoration of social harmony. However, the application of restorative justice in cases of sexual violence against children remains controversial due to the serious nature of the offense and the vulnerable position of child victims. This article aims to analyze the challenges and prospects of implementing restorative justice in the resolution of child sexual violence cases in Indonesia by examining legal protection mechanisms, the principle of the best interests of the child, and the traumatic impacts experienced by victims within the criminal justice process. This study employs a normative juridical research method using statutory and conceptual approaches. The findings indicate that although restorative justice has been accommodated within various legal policies in Indonesia, its implementation in child sexual violence cases continues to face juridical, sociological, and psychological challenges. Nevertheless, restorative justice still holds prospects for limited and selective application, provided that it prioritizes victim protection, ensures strict supervision, and involves professional assistance to safeguard the recovery and well-being of child victims. Keyword: restorative justice, sexual violence against children, legal protection, best interests of the child, psychological trauma. Abstrak: Kekerasan seksual terhadap anak merupakan kejahatan serius yang berdampak luas terhadap kehidupan korban, baik secara fisik, psikologis, maupun sosial. Dalam sistem peradilan pidana Indonesia, penanganan perkara kekerasan seksual terhadap anak masih didominasi oleh pendekatan retributif yang berorientasi pada penghukuman pelaku. Pendekatan tersebut sering kali belum sepenuhnya memperhatikan kepentingan terbaik bagi anak sebagai korban, khususnya terkait pemulihan psikologis dan dampak traumatis yang timbul akibat proses peradilan pidana yang panjang dan konfrontatif. Proses pemeriksaan yang berulang, kewajiban memberikan keterangan di hadapan aparat penegak hukum, serta kemungkinan berhadapan langsung dengan pelaku dapat memperparah trauma yang dialami anak. Restorative justice hadir sebagai pendekatan alternatif dalam penyelesaian perkara pidana dengan menitikberatkan pada pemulihan korban, pertanggungjawaban pelaku, serta pemulihan hubungan sosial. Namun, penerapan restorative justice dalam kasus kekerasan seksual terhadap anak menimbulkan perdebatan karena karakteristik tindak pidana yang serius dan posisi anak sebagai korban yang sangat rentan. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis kendala dan prospek penerapan restorative justice dalam penyelesaian kasus kekerasan seksual terhadap anak di Indonesia dengan menelaah aspek perlindungan hukum, prinsip kepentingan terbaik bagi korban, serta dampak traumatis dalam proses peradilan pidana. Metode penelitian yang digunakan adalah yuridis normatif dengan pendekatan peraturan perundang-undangan dan konseptual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun restorative justice telah diakomodasi dalam berbagai kebijakan hukum, penerapannya dalam kasus kekerasan seksual terhadap anak masih menghadapi kendala yuridis, sosiologis, dan psikologis. Namun demikian, restorative justice tetap memiliki prospek untuk diterapkan secara terbatas dan selektif dengan pengawasan ketat serta pendampingan profesional guna menjamin perlindungan maksimal bagi korban. . Kata kunci: restorative justice, kekerasan seksual terhadap anak, perlindungan hukum, kepentingan terbaik bagi korban, trauma psikologis.
PENANGANAN KEKERASAN SEKSUAL TERHADAP ANAK DALAM SISTEM PERADILAN PIDANA INDONESIA: ANALISIS KRITIS DAN REKOMENDASI PERLINDUNGAN KORBAN Fahrezi Alfatah; Asri Vivi Yanti Sinurat; Iqbal Ramadhan; Iqbal Siregar
JOURNAL OF SCIENCE AND SOCIAL RESEARCH Vol. 8 No. 2 (2025): May 2025
Publisher : Smart Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54314/jssr.v8i2.5515

Abstract

Abstract: This study aims to determine how sexual violence against children is handled in the Indonesian criminal justice system. Sexual violence against children is a serious crime that requires effective and comprehensive legal protection. The implementation of Law No. 12 of 2022 concerning Criminal Acts of Sexual Violence (UU TPKS) faces significant challenges, including difficulties in identifying and reporting cases, lack of public awareness, and limited resources. The research method used is a normative approach to legislation and literature related to sexual violence against children. The results of the study indicate that the implementation of Law No. 12 of 2022 concerning Criminal Acts of Sexual Violence (UU TPKS) can provide effective legal protection for child victims of sexual violence by increasing public awareness, strengthening the law enforcement system, and providing quality protection services. However, this implementation still faces obstacles such as difficulties in identifying and reporting cases, weaknesses in the TPKS Law, limited resources, and difficulty accessing services. Collaboration between the government, child protection agencies, the police, the judicial system, and the community is needed to overcome these challenges and provide better protection for child victims of sexual violence. Keyword : Child Protection, Sexual Violence of Children, Victim Protection Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana penanganan kekerasan seksual terhadap anak dalam sistem peradilan Pidana Indonesia. Kekerasan seksual terhadap anak merupakan kejahatan serius yang memerlukan perlindungan hukum yang efektif dan komprehensif. Implementasi Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2022 tentang Tindak Pidana Kekerasan Seksual (UU TPKS) menghadapi tantangan siginifikan, termasuk kesulitan identifikasi dan pelaporan kasus, kurangnya kesadaran masyarakat, dan keterbatasan sumber daya. Metode penelitian yang digunakan ialah normatif terhadap peraturan perundang-undangan dan literatur terkait kekerasan seksual terhadap anak. Hasil penelitian adalah implementasi Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2022 tentang Tindak Pidana Kekerasan Seksual (UU TPKS) dapat memberikan perlindungan hukum yang efektif bagi anak sebagai korban kekerasan sesksual melalui peningkatan kesadaran masyarakat, penguatan sistem penegakan hukum dan penyediaan layanan perlindungan berkualitas. Namun, implementasi ini masih mengahdapi rintangan seperti kesulitan identifikasi dan pelaporan kasus, lemahnya UU TPKS, keterbatasan sumber daya dan kesulitan akses layanan. Kerjasama antara pemerintah, lembaga perlindungan anak, kepolisian , sistem peradilan, dan masyarakat diperlukan untuk mengatasi tantangan ini dan memberikan perlindungan yang lebih baik lagi bagi anak-anak korban kekerasan seksual. Kata Kunci : Perlindungan Anak, Kekerasan Seksual Anak, Perlindungan Korban
IMPLEMENTASI PERLINDUNGAN HUKUM BAGI ANAK KORBAN KEKERASAN SEKSUAL MELALUI LENSA HAK ANAK DAN PEMULIHAN PSIKOLOGIS Jesica Lumbanbatu; Asri Vivi Yanti Sinurat; Babby Apriandani; Nurul Sulistiawati
JOURNAL OF SCIENCE AND SOCIAL RESEARCH Vol. 8 No. 2 (2025): May 2025
Publisher : Smart Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54314/jssr.v8i2.5516

Abstract

Abstract: This article analyzes the implementation of legal protection for child victims of sexual violence through the perspective of children’s rights and psychological recovery. Referring to the Convention on the Rights of the Child (CRC) and global best practices, the study highlights the challenges faced by the Indonesian legal system and provides recommendations for integrating psychological recovery into legal protection mechanisms. The findings indicate that a holistic approach prioritizing children’s rights can enhance the effectiveness of legal protection. However, obstacles such as social stigma and limited resources remain significant issues in ensuring comprehensive protection and recovery for child victims. Keyword : child sexual violence, children’s rights, psychological recovery, legal protection. Abstrak: Anak merupakan karunia Tuhan yang memiliki keterbatasan fisik, mental, dan sosial, sehingga membutuhkan perlindungan, pengasuhan, dan peran aktif keluarga dalam menjaga serta mendukung tumbuh kembangnya[1]. Berdasarkan ketentuan Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014, perlindungan anak dimaknai sebagai serangkaian upaya yang dilakukan untuk menjamin terpenuhinya hak anak agar dapat menjalani kehidupan, pertumbuhan, dan perkembangan secara optimal serta berperan aktif dalam masyarakat sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan[2]. Dalam konteks kekerasan seksual terhadap anak, perlindungan hukum memiliki urgensi tinggi karena perbuatan tersebut tidak hanya melanggar hukum pidana, tetapi juga berdampak serius terhadap kondisi psikologis korban. Oleh karena itu, implementasi perlindungan hukum bagi anak korban kekerasan seksual harus berlandaskan perspektif hak anak dengan menempatkan kepentingan terbaik bagi anak sebagai prinsip utama. Selain penegakan hukum terhadap pelaku, perlindungan tersebut harus diintegrasikan dengan upaya pemulihan psikologis guna memulihkan kondisi mental dan emosional anak, sehingga hak anak sebagai korban dapat terpenuhi secara menyeluruh dan berkeadilan. Kata Kunci : kekerasan seksual anak,hak anak,pemulihan psikologis,hukum perlindungan
KEKERASAN SEKSUAL TERHADAP ANAK BERBASIS ELEKTRONIK : ANALISIS HUKUM ATAS GROOMING EKSPLOITASI ONLINE DAN PORNOGRAFI ANAK Ahmad Ray Fadillah Sitompul; Asri Vivi Yanti Sinurat; Muhammad Taufik Ikhsan Siagian
JOURNAL OF SCIENCE AND SOCIAL RESEARCH Vol. 8 No. 2 (2025): May 2025
Publisher : Smart Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54314/jssr.v8i2.5517

Abstract

Abstract: Electronic-based sexual violence against children is a serious crime that has grown with the rapid advancement of information technology. Practices such as online grooming, online sexual exploitation, and child pornography demonstrate complex crime patterns because they utilize digital media as the primary means. This article aims to analyze the legal regulations in Indonesia regarding electronic-based sexual violence against children and assess the effectiveness of law enforcement. The research method used is normative juridical with a statutory and conceptual approach. The analysis is based on the 1945 Constitution of the Republic of Indonesia, Law Number 35 of 2014 concerning Child Protection, Law Number 12 of 2022 concerning Criminal Acts of Sexual Violence, and Law Number 1 of 2024 concerning the Second Amendment to the Electronic Information and Transactions Law. However, the main challenges still lie in digital evidence, limited capacity of law enforcement officers, and low digital literacy in the community. Therefore, strengthening technical regulations, increasing cross-border cooperation, and preventive efforts through digital education are needed to provide maximum protection for children as a vulnerable group. Keyword: child sexual abuse; online grooming; online sexual exploitation; child pornography; criminal law. Abstrak: Kekerasan seksual terhadap anak berbasis elektronik merupakan bentuk kejahatan serius yang berkembang seiring pesatnya kemajuan teknologi informasi. Praktik seperti online grooming, eksploitasi seksual daring, dan pornografi anak menunjukkan pola kejahatan yang kompleks karena memanfaatkan media digital sebagai sarana utama. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis pengaturan hukum di Indonesia terkait kekerasan seksual terhadap anak berbasis elektronik serta menilai efektivitas penegakan hukumnya. Metode penelitian yang digunakan adalah yuridis normatif dengan pendekatan peraturan perundang-undangan dan konseptual. Analisis didasarkan pada Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak, Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2022 tentang Tindak Pidana Kekerasan Seksual, serta Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2024 tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik.Namun, tantangan utama masih terletak pada pembuktian digital, keterbatasan kapasitas aparat penegak hukum, serta rendahnya literasi digital masyarakat. Oleh karena itu, diperlukan penguatan regulasi teknis, peningkatan kerja sama lintas negara, serta upaya preventif melalui edukasi digital guna memberikan perlindungan maksimal terhadap anak sebagai kelompok rentan. Kata kunci: kekerasan seksual anak; grooming online; eksploitasi seksual daring; pornografi anak; hukum pidana.
ANALISIS FAKTOR PRODUKSI USAHA TANI PADI SAWAH DI KOTA PADANG Dani Hardianti; Dian Hafizah; Hasnah Hasnah
JOURNAL OF SCIENCE AND SOCIAL RESEARCH Vol. 9 No. 1 (2026): February 2026
Publisher : Smart Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54314/jssr.v9i1.5520

Abstract

Abstrak : This study aims to analyze the production factors affecting rice farming output in Padang City. The study uses primary data collected from rice farmers through field surveys. Multiple linear regression analysis was employed, with rice production as the dependent variable (Y) and land area (X₁), seed (X₂), fertilizer (X₃), labor (X₄), and farming experience (X₅) as independent variables. The results show that simultaneously all production factors significantly affect rice output. Partially, fertilizer and labor have a significant effect on rice production, while land area, seed, and farming experience do not have a significant effect. These findings indicate that increasing rice production in Padang City relies more on input intensification, particularly fertilizer management and labor availability, rather than land expansion. Keywords: rice farming, production factors, multiple linear regression, Padang City. Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor produksi yang memengaruhi produksi padi sawah di Kota Padang. Penelitian ini menggunakan data primer yang diperoleh dari petani padi sawah melalui survei lapangan. Metode analisis yang digunakan adalah regresi linier berganda dengan variabel dependen berupa produksi padi sawah (Y) dan variabel independen meliputi luas lahan (X₁), benih (X₂), pupuk (X₃), tenaga kerja (X₄), dan pengalaman berusahatani (X₅). Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara simultan seluruh faktor produksi berpengaruh signifikan terhadap produksi padi sawah di Kota Padang. Secara parsial, variabel pupuk dan tenaga kerja berpengaruh signifikan terhadap produksi padi sawah, sedangkan luas lahan, benih, dan pengalaman berusahatani tidak berpengaruh signifikan. Temuan ini menunjukkan bahwa peningkatan produksi padi sawah di Kota Padang lebih ditentukan oleh upaya intensifikasi input, khususnya melalui pemupukan yang tepat dan ketersediaan tenaga kerja, dibandingkan dengan perluasan lahan. Kata kunci: padi sawah, faktor produksi, regresi linier berganda, Kota Padang
ANALISIS PSIKOLOGI SASTRA TERHADAP ASPEK KEPRIBADIAN TOKOH PADA NOVEL 7 SAYAP PENDOSA KARYA JIENARA Elsyie Damayanti; Fera Zasrianita; Dina Putri Juni Astuti
JOURNAL OF SCIENCE AND SOCIAL RESEARCH Vol. 9 No. 1 (2026): February 2026
Publisher : Smart Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54314/jssr.v9i1.5530

Abstract

Abstract: This study is motivated by the importance of novels as a medium for characters to convey messages through writing. Novels are not only a medium for reading but also contain moral messages that authors wish to convey to readers. The main issue in this study is how authors describe psychological aspects of literature as reflected in the development of characters' personalities and what psychological factors influence changes in characters' personalities in Jienara's novel 7 Sayap Pendosa (Seven Wings of Sin). This novel presents the characters' complex inner conflicts due to life experiences, trauma, and social pressure. The approach used in this study is literary psychology with a qualitative descriptive method. The research data consists of narrative quotations and character dialogues in the novel that show aspects of the characters' personalities. Data collection techniques were carried out through reading and note-taking. The results of the study show that the characters' personalities are reflected through psychological aspects such as emotions, motivations, inner conflicts, and defense mechanisms. Factors that influence the characters' personalities include Id, Ego, Superego. The novel 7 Sayap Pendosa not only presents a fictional story, but also the psychology of characters that are realistic and relevant to social life. Keyword: Literary psychology, aspects of character personality, character personality factors, the novel "7 Wings of Sinners." Abstrak: Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya karya sastra novel sebagai media tokoh menyampaikan pesan melalui tulisan. Novel bukan hanya sebagai perantara bacaan tetapi mengandung pesan moral yang ingin disampaikan kepada pembaca. Permasalahan utama dalam penelitian ini adalah bagaimana penulis mendeskripsikan aspek psikologi sastra tercermin dalam perkembangan kepribadian tokoh dan faktor-faktor psikologi apa yang memengaruhi perubahan kepribadian tokoh didalam novel 7 sayap pendosa karya Jienara. Novel ini menyajikan konflik batin tokoh yang kompleks akibat pengalaman hidup, trauma, dan tekanan lingkungan sosial. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah psikologi sastra dengan metode deskriptif kualitatif. Data peneltian berupa kutipan-kutipan naratif dan dialog tokoh dalam novel yang menunjukan aspek kepribadian tokoh. Tehnik penumpulan data dilakukan melalui studi tehnik baca-catat. Hasil penelitian menunjukan bahwa kepribadian tokoh tercermin melalui aspek psikologi seperti emosi, motivasi, konflik batin dan mekanisme pertahanan diri. Faktor yang memengaruhi kepribadian tokoh meliputi faktor Id, Ego, dan Superego. Novel 7 sayap pendosa tidak hanya menghadirkan cerita fiksi, tetapi juga kejiwaan tokoh yang realitas dan relevan dengan kehidupan sosial. Kata kunci: Psikologi Sastra, Aspek Kepribadian Tokoh, Novel 7 Sayap Pendosa