cover
Contact Name
Angga Kautsar
Contact Email
jurnal.farmaka@unpad.ac.id
Phone
842 888888 Ext : 3510
Journal Mail Official
jurnal.farmaka@unpad.ac.id
Editorial Address
Gedung Laboratorium I Fakultas Farmasi, UNPAD Jl. Raya Jatinangor KM 21, Bandung-Sumedang, Indonesia 45363
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Farmaka
ISSN : 16931424     EISSN : 27163075     DOI : https://doi.org/10.24198/
Core Subject : Health, Science,
Farmaka is replacement for Pharmaceutical Bulletin, published since 1991, with a frequency of four times a year. Editors accept scholarly works of research results and literature review which was closely related to the science, pharmaceutical technology and practice.
Articles 784 Documents
AKTIVITAS FARMAKOLOGIS ZINGIBER OFFICINALE ROSC., CURCUMA LONGA L., DAN CURCUMA XANTHORRHIZA ROXB. : REVIEW Putri Kholilah Maulida; Bayu Indradi
Farmaka Vol 17, No 2 (2019): Farmaka (Agustus)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (561.047 KB) | DOI: 10.24198/jf.v17i2.21939

Abstract

Bahan alam seperti tumbuhan dapat menjadi pengobatan berbagai penyakit sebagai obat tradisional. Beberapa tanaman dari famili Zingiberaceae yang banyak digunakan sebagai obat tradisional antara lain jahe (Zingiber officinale Rosc.), kunyit (Curcuma longa L.) dan temulawak (Curcuma xanthorrizha Roxb.). Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui beberapa aktivitas farmakologis tumbuhan jahe, kunyit, dan temulawak dengan menyusun informasi senyawa yang terkandung beserta aktivitas farmakologinya dari berbagai penelitian yang telah dipublikasikan. Didapatkan hasil dari berbagai penelitian bahwa tumbuhan jahe, kunyit, dan temulawak memiliki berbagai aktivitas farmakologis yang telah teruji secara praklinis yang diberikan oleh berbagai senyawa bioaktif yang terkandung.Kata Kunci : Zingiber officinale Rosc., Curcuma longa L., Curcuma xanthorrhiza, Tanaman Obat, Aktivitas Farmakologis
REVIEW: AKTIVITAS TANAMAN LIDAH BUAYA (Aloe vera Linn) SEBAGAI PENYEMBUH LUKA HARUMI ANANDA; Ade Zuhrotun
Farmaka Vol 15, No 2 (2017): Suplemen
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (67.226 KB) | DOI: 10.24198/jf.v15i2.13011

Abstract

Perkembangan Produksi Hasil Metabolisme Sekunder Capsaicin dengan Berbagai Metode In Vitro IIS NURAENI; TINA ROSTINAWATI
Farmaka Vol 16, No 1 (2018): Suplemen Juni
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (135.246 KB) | DOI: 10.24198/jf.v16i1.17457

Abstract

PERBEDAAN PENGARUH AIR ALKALI DENGAN AIR MINERAL TERHADAP STATUS HIDRASI DAN PH URIN PADA MAHASISWA FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS PADJADJARAN SHAFIRA SHAFIRA
Farmaka Vol 17, No 1 (2019): Farmaka (Februari)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (297.108 KB) | DOI: 10.24198/jf.v17i1.15175

Abstract

Cairan tubuh merupakan salah satu hal yang sangat vital bagi manusia. Untuk mempertahankan volume cairan tubuh, maka harus ada  keseimbangan antara air yang ke luar dan yang masuk ke dalam tubuh. Salah satu cara untuk menyeimbangkannya adalah melalui diet. Air mineral cukup untuk memenuhi kebutuhan cairan tubuh, namun air alkali yang memiliki pH di atas 8 dapat menjadi alternatif lain. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh air mineral dan air alkali terhadap status hidrasi dan pH urin pada mahasiswa farmasi. Penelitian ini merupakan jenis penelitian analitik eksperimental yang dilakukan terhadap 26 subjek yang memenuhi kriteria inklusi. Analisis data dilakukan dengan menggunakan metode uji Mann Whitney dan uji normalitas dengan Shapiro wilk. Hasil uji Mann Whitney menunjukkan bahwa bobot jenis urin didapatkan nilai p sebesar 0.152 menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan signifikan antara bobot jenis urin air alkali dan air mineral. Sedangkan untuk pH urin didapatkan nilai p sebesar 0.007 menunjukan bahwa terdapat perbedaan signifikan antara pH urin air mineral dan air alkali.Kata kunci: Air Mineral, Air Alkali, Bobot Jenis, pH, Status Hidrasi
NANOPARTIKEL DENGAN GELASI IONIK Marline Abdassah
Farmaka Vol 15, No 1 (2017): Farmaka (Maret)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (455.338 KB) | DOI: 10.24198/jf.v15i1.12138

Abstract

Nanopartikel adalah partikel berukuran 1-100 nanometer. Nanopartikel bertujuan untuk mengatasi kelarutan zat aktif yang sukar  larut, memperbaiki bioavailabilitas yang buruk, memodifikasi sistem penghantaran obat, meningkatkan stabilitas zat aktif dan memperbaiki absorbsi. Kelebihan nanopartikel adalah kemampuan untuk menembus ruang-ruang antar sel yang dapat ditembus oleh partikel koloidal. Pembuatan nanopartikel bergantung pada polimer dan sifat obat. Secara konvensional nanopartikel dibuat dengan dua metode, yaitu polimerisasi monomer sintesis dan dispersi polimer sintesis. Pembuatan nanopartikel dapat diklasifikasikan secara luas menjadi dua kategori yaitu proses top-down dan bottom up. Karakteristik nanopartikel antara lain dengan cara mengamati sifat organoleptis, ukuran dan Distribusi Ukuran Nanopartikel, pengamatan morfologi, potensial zeta serta persen transmitan. Kata kunci : Nano partikel, Gelasi ionik, karakterisasi.
REVIEW : KOSMETIK HERBAL YANG BERPOTENSI SEBAGAI PEMUTIH KULIT ALAMI DANAPARAMITA BASHIRAH; NORISCA ALIZA PUTRIANA
Farmaka Vol 18, No 1 (2020): Farmaka (Januari)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (122.711 KB) | DOI: 10.24198/jf.v18i1.23281

Abstract

Kosmetik herbal semakin berkembang dan disukai oleh masyarakat. Hidrokuinon sebelumnya seringkali digunakan sebagai bahan utama kosmetik pemutih, namun penggunaannya kini telah dilarang dengan alasan masalah keamanan. Kosmetik herbal mengandung bahan alami yang relatif aman dan memiliki beragam manfaat, salah satunya sebagai pemutih kulit. Produk ini bekerja dengan cara mereduksi pigmen melanin yang terdapat dalam kulit. Review ini bertujuan untuk menyediakan informasi mengenai tanaman yang mengandung zat aktif dengan efek pemutih kulit. Review ini mengambil dari beberapa jurnal nasional maupun internasional yang dirilis dalam rentang waktu sepuluh tahun terakhir yaitu mulai tahun 2009 hingga 2019. Terdapat berbagai tanaman yang memiliki aktivitas untuk memutihkan kulit  dengan cara menginhibisi aktivitas tirosinase. Tanaman yang memiliki potensi sebagai pemutih kulit diantaranya yaitu temulawak, akar manis, bengkuang, raspberry, ceri acerola, sophora japonica, delima, hijiki, marbei putih, nangka, dan alamanda.
ANTIOKSIDAN UNTUK KULIT : REVIEW ANI HAERANI; ANIS YOHANA CHAERUNISA; ANAS SUBARNAS
Farmaka Vol 16, No 2 (2018): Farmaka (Agustus)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (320.233 KB) | DOI: 10.24198/jf.v16i2.17789

Abstract

Antioksidan adalah molekul yang dapat menghambat oksidasi molekul lain. Antioksidan dapat melindungi kulit dari berbagai kerusakan sel akibat radiasi UV, antipenuaan dan perlindungan dari ROS. Antioksidan banyak digunakan sebagai produk perawatan kulit / kosmetik. Ada 3 jenis kosmetik antioksidan yaitu antioksidan endogen, eksogen dan tanaman. Tanaman adalah antioksidan alami yang banyak digunakan sebagai produk perawatan kulit karena memiliki efek samping yang lebih sedikit dan aman. Dalam formulasi antioksidan perlu diperhatikan mengenai stabilitas, kompatibiliitas dan penetrasi supaya sediaan yang dihasilkan stabil, dan mudah berpenetrasi ke dalam kulit untuk mencapai jaringan target dalam bentuk aktif dan bertahan lama dikulit agar mendapatkan hasil yang diharapkan. Review ini berfokus pada manfaat antioksidan, formulasi terutama pada mekanisme penghantarannya ke dalam kulit dan pengujian aktivitas antioksidanKata Kunci : Antioksidan untuk kulit, manfaat antioksidan, kosmetik antioksidan, formulasi
Review Artikel: Polimorfisme Gen Serotonin Mempengaruhi Pengobatan Risperidone dan Clozapine Pada Pasien Skizofrenia JAMES PRASETYO LAKSONO; RANO KURNIA SINURAYA
Farmaka Vol 16, No 3 (2018): Suplemen (September)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4342.595 KB) | DOI: 10.24198/jf.v16i1.17348

Abstract

Skizofrenia merupakan penyakit kejiwaan yang ditandai dengan halusinasi, delusi, kehilangan motivasi dan menarik diri dari lingkungan sosial. Adanya heterogenitas pada respon pengobatan skizofrenia pada setiap individu membuat strategi pengobatan menggunakan sistem trial and error. Strategi pengobatan ini sangat merugikan pasien mengingat efek samping obat yang mungkin terjadi. Salah satu kemungkinan terjadinya trial and error adalah adanya polimorfisme gen pada reseptor target obat, salah satunya ialah gen yang berhubungan dengan serotonin. Tujuan penulisan artikel review ini adalah untuk mengkaji pengaruh polimorfisme gen serotonin terhadap efek klinis pengobatan dengan risperidone dan clozapine. Metode dalam artikel review ini adalah penelusuran data dari berbagai artikel jurnal berbasis Pubmed dan Google Scholar dengan kata kunci “Polymorphism, Serotonin Gene, Risperidone, Clozapine”. Hasil dari review ini adalah adanya pengaruh yang diberikan polimorfisme gen serotonin terhadap efek klinis yang dihasilkan dari pengobatan risperidone dan clozapine, sehingga penulis menyimpulkan bahwa polimorfisme gen dapat menjadi salah satu penyebab terjadinya trial and error pada pengobatan skizofrenia.Kata kunci: Clozapine, Polimorfisme, Risperidone, Serotonin, Skizofrenia.  
BEBERAPA TUMBUHAN YANG MENGANDUNG SENYAWA AKTIF ANTIINFLAMASI SITI NURUL KHOTIMAH; Ahmad Muhtadi
Farmaka Vol 14, No 2 (2016): Suplemen
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (258.112 KB) | DOI: 10.24198/jf.v14i2.10806

Abstract

ABSTRAKInflamasi merupakan indikator penting dari beberapa insiden penyakit. Di Indonesia, terapi obat untuk inflamasi seperti golongan AINS(Anti Inflamasi Non Steroid) serta AIS(Anti Inflamasi Steroid) telah diterapkan sejak dahulu hingga sekarang. Namun memiliki efek samping yang tidak diinginkan yang dapat menurunkan fungsi bologis tubuh seperti, hati, saluran pencernaan, dan organ vital lainnya. Oleh sebab itu, sediaan herbal merupakan pilihan alternatif dalam proses penanganan inflamasi karena efek samping yang relatif lebih kecil serta ketersediaan tumbuhan obat yang melimpah seperti sediaan herbal antiinflamasi yang telah distandardisasi oleh BPOM diantaranya daun seledri, daun daruju, dan mengkudu. Tumbuhan lain yang mengandung senyawa aktif antiinflamasi dan dibahas pada artikel ini yaitu kunyit, biji kesumba, daun buas-buas, kencur, tapak liman, daun ubi jalar ungu, daun suji, kulit batang jambu mete, daun mahkota dewa, kerehau, sambang getih, jintan hitam, daun piladang, daun saliara, dan kunir.Kata kunci: Inflamasi, Antiinflamasi, Senyawa aktif, Tumbuhan obatABSTRACTInflammation is an important indicator of some incidents of disease. In Indonesia, drugs therapies to treat inflammatory such as NSAID(Nonsteroidal Antiinflammatory Drugs) group and Anti-inflammatory Steroid have been applied since a long time until now. However, these drugs have undesirable side effects that can reduce the biological function of the body such, liver, gastrointestinal tract, and other vital organs. Therefore, herbal dosage is an alternative option in treatment of inflammatory processes due to the side effects are relatively small and the availability of abundant medicinal plants such as, herbal dosage that have been standardized by BPOM e.g. celery leaf, daruju leaf and the morinda. Other plants that contain antiinflammatory compounds and discussed in this article are turmeric, crimson seed, buas-buas leaf, curcuma, liman, Ipomoea batata, suji leaf, bark cashew, Phaleria macrocarpa, kerehau, sambang getih, cumin, piladang leaf, saliara leaf, and turmeric.Keywords: Inflammatory, Anti-inflammatory, Active compounds, Medicinal plant
REVIEW ARTIKEL: AKTIVITAS FARMAKOLOGI DARI TANAMAN GENUS DYSOXYLUM MUHAMAD NADIVA MARDIANA; RADEN BAYU INDRADI
Farmaka Vol 17, No 3 (2019): Farmaka (Desember)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (281.793 KB) | DOI: 10.24198/jf.v17i3.22084

Abstract

Tanaman obat telah menjadi alternatif pengobatan pada masyarakat lokal untuk beberapa penyakit. Banyaknya resistensi mikroba terhadap obat kimia yang meningkat memunculkan beberapa penelitian untuk beralih ke obat herbal yang memiliki efek samping yang lebih sedikit dibandingkan obat kimia. Tanaman dari genus Dysoxylum sangat tersebar luas di benua Asia, dan ada kurang kebih 80 spesies yang sudah diuji, dan masih ada banyak spesies tanaman genus ini yang belum diuji aktivitas farmakologinya. Berdasarkan kebutuhan yang ada, pengkajian terhadap tanaman-tanaman genus Dysoxylum perlu dilakukan agar dapat memberikan manfaat secara menyeluruh terhadap pengembangan obat herbal. Dari hasil ulasan diperoleh beberapa tanaman genus ini, didapat hasil aktivitasnya yang berupa sitotoksik terhadap sel kanker payudara MCF-7, antiinflamasi, antibakteri, antifidan, antiplasmodium, antioksidan, sitoprotektif dan penghambat pertumbuhan bakteri dan jamur yang berasal dari tanaman Dysoxylum aborescens, Dysoxylum parasiticum, Dysoxylum lukii, Dysoxylum alliaceum, Dysoxylum hainanense, Dysoxylum caulostachyum, Dysoxylum gothadora, Dysoxylum binectariferum, Dysoxylum cauliflorum, Dysoxylum densiflorum.Kata kunci: tanaman obat, Dysoxylum, aktivitas farmakologi

Filter by Year

2015 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 23, No 3 (2025): Farmaka (November) (In Press) Vol 23, No 2 (2025): Farmaka (Juli) (In Press) Vol 23, No 1 (2025): Farmaka (Maret) (In Press) Vol 22, No 3 (2024): Farmaka (November) Vol 22, No 2 (2024): Farmaka (Juli) Vol 22, No 1 (2024): Farmaka (Maret) Vol 21, No 3 (2023): Farmaka (November) Vol 21, No 2 (2023): Farmaka (Juli) Vol 21, No 1 (2023): Farmaka (Maret) Vol 20, No 3 (2022): Farmaka (November) Vol 20, No 2 (2022): Farmaka (Juli) Vol 20, No 1 (2022): Farmaka (Maret) Vol 19, No 4 (2021): Farmaka (Suplemen) Vol 19, No 3 (2021): Farmaka (November) Vol 19, No 2 (2021): Farmaka (Juli) Vol 19, No 1 (2021): Farmaka (Maret) Vol 18, No 4 (2020): Farmaka (Suplemen) Vol 18, No 3 (2020): Farmaka (November) Vol 18, No 2 (2020): Farmaka (September) Vol 18, No 1 (2020): Farmaka (Januari) Vol 17, No 3 (2019): Farmaka (Desember) Vol 17, No 2 (2019): Farmaka (Agustus) Vol 17, No 1 (2019): Farmaka (Februari) Vol 17, No 1 (2019): Farmaka (Supplemen) Vol 16, No 4 (2018): Prosiding Abstrak Pharmacopea 2018 Vol 16, No 3 (2018): Suplemen (September) Vol 16, No 3 (2018): Farmaka (September) Vol 16, No 2 (2018): Suplemen Agustus Vol 16, No 2 (2018): Farmaka (Agustus) Vol 16, No 1 (2018): Suplemen Juni Vol 16, No 1 (2018): Farmaka (Juni) Vol 15, No 4 (2017): Farmaka Desember Vol 15, No 3 (2017): Farmaka Vol 15, No 3 (2017): Suplemen Desember Vol 15, No 2 (2017): Farmaka Vol 15, No 2 (2017): Suplemen Vol 15, No 1 (2017): Suplemen Vol 15, No 1 (2017): Farmaka (Maret) Vol 14, No 4 (2016): Farmaka Vol 14, No 3 (2016): Farmaka Vol 14, No 2 (2016): Suplemen Vol 14, No 2 (2016): Farmaka Vol 14, No 1 (2016): Supplement Vol 14, No 1 (2016): Farmaka Vol 13, No 4 (2015): FARMAKA More Issue