cover
Contact Name
Angga Kautsar
Contact Email
jurnal.farmaka@unpad.ac.id
Phone
842 888888 Ext : 3510
Journal Mail Official
jurnal.farmaka@unpad.ac.id
Editorial Address
Gedung Laboratorium I Fakultas Farmasi, UNPAD Jl. Raya Jatinangor KM 21, Bandung-Sumedang, Indonesia 45363
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Farmaka
ISSN : 16931424     EISSN : 27163075     DOI : https://doi.org/10.24198/
Core Subject : Health, Science,
Farmaka is replacement for Pharmaceutical Bulletin, published since 1991, with a frequency of four times a year. Editors accept scholarly works of research results and literature review which was closely related to the science, pharmaceutical technology and practice.
Articles 784 Documents
REVIEW: SUHU PENYIMPANAN MATERIAL DAN PRODUK FARMASETIKAL DI GUDANG INDUSTRI FARMASI Iis Karlida; Ida Musfiroh
Farmaka Vol 15, No 4 (2017): Farmaka Desember
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (220.539 KB) | DOI: 10.24198/jf.v15i4.15142

Abstract

Penyimpanan material dan produk farmasetikal di gudang industri farmasi adalah salah satu tahapan penting dalam rangka menjaga kualitas produk agar tetap memenuhi persyaratan sampai produk di tangan konsumen. Terdapat banyak faktor yang mempengaruhi kondisi penyimpanan diantaranya yaitu suhu, kelembaban, kebersihan, pencahayaan, ventilasi atau kualitas udara serta adanya segregasi atau pemisah. Dari beberapa faktor tersebut yang paling dominan mempengaruhi kualitas material dan produk saat penyimpanan yaitu suhu. Suhu penyimpanan yang tidak sesuai dapat menyebabkan kerusakan material atau produk. Maka dari itu material dan produk harus disimpan pada suhu penyimpanan yang sesuai serta dilakukan pengendalian atau monitoring suhu penyimpanan agar ketika terjadi ketidaksesuaian dapat segera ditangani.Kata kunci: penyimpanan, gudang, material, produk, suhu.
SELENIUM DAN MANFAATNYA UNTUK KESEHATAN : REVIEW JURNAL Yunita .; Sri Adi Sumiwi
Farmaka Vol 16, No 2 (2018): Suplemen Agustus
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (341.317 KB) | DOI: 10.24198/jf.v16i2.17572

Abstract

Selenium merupakan mineral essensial dan elemen gizi mikro yang penting bagi tubuh. Mineral ini penting dalam sebagain besar fungsi tubuh seperti kesehatan sistem imun, fungsi sistem tiroid, kardiovaskular dan dalam melawan stress oksidatif. Ada dua bentuk selenium yaitu bentuk organik dan anorganik. Asupan selenium dapat diperoleh dari makanan seperti daging, makanan laut dan tanaman yang kadarnya dipengaruhi oleh kadar selenium dalam tanah dan air yang digunakan. Kebutuhan selenium individu per harinya berkisar antara 30-85 µg/ hari. Defisiensi asupan selenium dapat meningkatkan resiko terjadinya penyakit kardiovaskular, tiroiditis dan inflamasi. Sehingga banyak penelitian untuk membuktikan penggunaan suplementasi selenium dapat mengatasi penyakit tersebut. Dan hasilnya  suplementasi selenium terutama selenometionin menurunkan kadar TPOAb dan TgAb pada pasien tiroiditis serta menurunkan CPR dan meningkatkan GPx pada penyakit kardiovaskular yang menurunkan stres oksidatif dan inflamasi.Kata Kunci: Selenium, Penyakit Kardiovaskular, Penyakit Autoimun Tiroiditis, Antiinflamasi
Hubungan Antara HLA-B*1502 dengan Steven-Jonhson Syndrome yang diinduksi oleh Karbamazepin pada Berbagai Populasi dan Mekanisme Interaksinya : Review Syifa Afiifah Latief; Dudi Runadi
Farmaka Vol 14, No 4 (2016): Farmaka
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (446.876 KB) | DOI: 10.24198/jf.v14i4.10928

Abstract

FDA mengeluarkan peringatan pada tahun 2007 bagi para pasien yang hendak menggunakan karbamazepin untuk melakukan skrining HLA-B*1502 terlebih dahulu. Karbamazepin (CBZ) merupakan obat anti kejang yang digunakan secara luas untuk mengobati epilepsi, bipolar disorder, trigeminal neuralgia, dan nyeri kronis. Salah satu efek samping yang dapat diinduksi oleh CBZ adalah penyakit Steven-Johnson syndrome (SJS) dan Toxic Epidermal Necrolysis (TEN). Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Chung et al., CBZ dapat menginduksi SJS/TEN (CBZ-SJS/TEN) pada pasien dari etnis Cina Han yang memiliki alel HLA-B*1502. Studi literatur dilakukan dengan menggunakan artikel dan jurnal penelitian yang telah dipublikasi sebelumnya. Hasil dari beberapa penelitian menunjukkan bahwa HLA-B*1502 memiliki hubungan yang kuat dengan CBZ-SJS/TEN terutama pada etnis Asia. Mekanisme interaksi antara HLA-B*1502 dan CBZ diduga berlangsung secara langsung tanpa ada ikatan kovalen yang kemudian merangsang aktivasi sel T.Kata kunci: HLA-B*1502, Karbamazepin, Steven-Johnson Syndrome, Toxic Epidermal Necrolysis
HUBUNGAN AKTIVITAS FISIK TERHADAP NILAI LIMFOSIT, LEUKOSIT , MONOSIT DAN ALERGI LAIN PADA MAHASISWA ANGKATAN 2016 SHIFT A FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS PADJADJARAN WAHYU EKA SAPUTRI
Farmaka Vol 17, No 2 (2019): Farmaka (Agustus)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (203.444 KB) | DOI: 10.24198/jf.v17i2.22043

Abstract

ABSTRAKAktivitas fisik merupakan pergerakan tubuh oleh otot rangka yang membutuhkan pengeluaran energi. Aktivitas fisik tersebut terbagi menjadi tiga kategori yaitu aktivitas fisik ketika bekerja, aktivitas fisik saat berolahraga dan aktivitas fisik saat waktu senggang. Salah satu manfaat dari aktivitas fisik adalah mengurangi risiko obesitas, hipertensi, penyakit diabetes, dan stroke yang merupakan penyakit-penyakit tidak menular dengan prevalensi yang terus meningkat di Indonesia. Aktivitas fisik disebutkan berkaitan dengan perubahan imunitas seseorang sehingga dapat mengurangi risiko-risiko tersebut. Berdasarkan hal itu, penelitian ini dilakukan dengan metode cross-sectional untuk mengetahui hubungan antara aktivitas fisik yang diukur menggunakan kuesioner Baecke dengan imunitas yang dilihat dari nilai leukosit, limfosit dan monositnya. Data kemudian diuji korelasinya dengan menggunakan Spearman dan Pearson. Hasil penelitian menunjukan bahwa tidak ada hubungan antara aktivitas fisik dengan nilai leukosit, limfosit dan monosit dari 35 responden (leukosit: p=0,414; limfosit: p=0,532; monosit: 0,157).Kata kunci: aktivitas fisik, limfosit, leukosit, monosit ABSTRACTPhysical activity is the movement of the body by skeletal muscles which requires energy expenditure. Physical activity is divided into three categories: physical activity at work, sport physical activity, and physical activity during leisure time. One of the physical activity’s advantages are to reduce the risk of obesity, hypertension, diabetes, and stroke which are non-communicable diseases with increasing prevalence in Indonesia. Physical activity is mentioned related to the changes of someone’s immunity so that it can decrease the risks. Based on that statement, this cross-sectional study is conduct to knowing the correlation between physical activity that was measured using Baecke questionnaire and immunity that seen from the value of leukocytes, lymphocytes and monocytes. Then, the correlation is tested using Spearman and Pearson. The result shown that there is no correlation between physical activity and the value of leukocytes, lymphocytes and monocytes from the 35 respondents (leukocytes: p=0.414; lymphocytes: p=0.532; monocytes: 0.157).
Proses Penyembuhan dan Perawatan Luka : Review Sistematik Handi Purnama; Sriwidodo Sriwidodo; Soraya Ratnawulan Mita
Farmaka Vol 15, No 2 (2017): Suplemen
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (327.859 KB) | DOI: 10.24198/jf.v15i2.13366

Abstract

Luka merupakan suatu bentuk kerusakan jaringan pada kulit yang disebabkan oleh kontak fisika (dengan sumber panas), hasil dari tindakan medis, maupun perubahan kondisi fisiologis. Ketika terjadi luka, tubuh secara alami melakukan proses penyembuhan luka melalui kegiatan bioseluler dan biokimia yang terjadi secara berkesinambungan. Proses penyembuhan luka dibagi ke dalam lima tahap, meliputi tahap homeostasis, inflamasi, migrasi, proliferasi, dan maturasi. Akhirnya, pada tahap proliferasi akan terjadi perbaikkan jaringan yang luka oleh kolagen, dan pada tahap maturasi akan terjadi pematangan dan penguatan jaringan. Penyembuhan luka juga dipengaruhi oleh faktor-faktor di dalam tubuh, yaitu IL-6, FGF-1, FGF-2, kolagenase, H2O2, serta BM-MSCs. Perawatan luka dapat dilakukan dengan menggunakan selulosa mikrobial, balutan luka, maupun modifikasi sistem vakum. Terapi gen juga mulai dikembangkan untuk penyembuhan luka, diantaranya aFGF cDNA, KGF DNA, serta rekombinan eritropoietin manusia. Pengembangan formula dari sistem dan basis yang digunakan juga dilakukan untuk membantu proses penyembuhan luka. Zat aktif dari bahan alam pun akhir-akhir ini gencar dikembangkan sebagai alternatif pengobatan.Kata kunci : Luka, penyembuhan luka, perawatan luka. 
REVIEW ARTIKEL :WARFARIN DAN INTERAKSINYA DENGAN OBAT OBAT LAIN (ANTIDEPRESAN, ANTIBIOTIK, ANTIINFLAMASI NONSTEROID, DAN PARASETAMOL) syafira aulia; Resmi Mustarichie
Farmaka Vol 16, No 1 (2018): Suplemen Juni
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (269.265 KB) | DOI: 10.24198/jf.v16i1.17427

Abstract

Warfarin sangat populer digunakan sebagai antikoagulan semenjak tahun 1954. Namun, warfarin ini masih memiliki keterbatasan, yakni indeks terapi yang sempit serta interaksinya dengan obat dapat menyebabkan efek yang tidak diinginkan. Obat obat yang memiliki interaksi antara lain sertraline, citalopram-escitalopram, paroxetin, fluvoxamine, fluoxetine, venlafaxine, duloxetin, azithromycin, levofloxacin, trimetoprim /sulfametoksazol, antifungi golongan azol, meloxicam, dan paracetamol. Efek interaksi ini dapat berupa risiko pendarahan, peningkatan International Normalized Ratio (INR) hingga toksisitas warfarin.
Article review : FORMULASI DAN EVALUASI MICRONEEDLE DENGAN BERBAGAI MACAM POLIMER SEBAGAI ZAT PEMBAWA OBAT ALODIA ROSALINA; IMAM ADI WICAKSONO
Farmaka Vol 16, No 3 (2018): Suplemen (September)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (159.846 KB) | DOI: 10.24198/jf.v16i3.17779

Abstract

ABSTRAKBaru-baru ini, microneedle untuk pengiriman obat transdermaltelah dikembangkan sebagai metode praktis untuk mengirim agen kimia dan biologi yang efektif mengatasi stratum korneum sebagai pengalang utama kulit dan memberikan obat secara efektif ke dalam kulit. Article review ini dibuat untuk mengetahui hasil dari percobaan-percobaan yang telah dilakukan dalam pembuatan microneedle dengan polimer yang diharapkan dapat berguna untuk memberikan informasi mengenai microneedle dengan polimer. Berdasarkan hasil dari pencarian literatur, microneedle polimer memberikan keuntungan kemudahan fabrikasi, efektivitas biaya, serta pelepasan obat yang dapat dikontrol menggunakansifat kelarutan air dan degradasi polimer.Hasil percobaan pada berbagai literatur menunjukkan bahwa microneedle polimer merupakan salah satu terobosan baru dalam bidang teknologi farmasi yang mampu memberikan efektifitas terapetik yang baik pada berbagai macam obat dan berbagai biomolekul seperti vaksin dan hormon.Kata Kunci : Kulit, Microneedle, Polimer, TransdermalABSTRACTRecently, a microneedle system has been developed to deliver chemical and biological agents through the stratum corneum,which is the main barrier to drug delivery. Based on the results of literature searches, polymer microneedles offerthe benefits of ease of fabrication and cost-effectiveness, as well as controlled drug release usingthe water solubility and degradation properties of polymer. This article review was made to determine the results of experiments that have been made in the manufacture of microneedles with polymers which are expected to be useful for providing information on microneedles with polymers.Experimental results in various literatures show that microneedle polymer is one of the new breakthroughs in the field of pharmaceutical technology that is capable of providing good therapeutic efficacy on various drugs and various biomolecules such as vaccines and hormones.Keywords :Microneedle, Polymer, Skin, Transdermal
Dithizon: Agen pengkompleks untuk analisis logammenggunakan Spektrofotometri UV-Vis UGI RAHMAN KUSTIAWAN; Rimadani Pratiwi
Farmaka Vol 14, No 2 (2016): Suplemen
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (467.578 KB) | DOI: 10.24198/jf.v14i2.10899

Abstract

Dithizone merupakan suatu senyawa yang dapat digunakan untuk analisis logam menggunakan spektrofotometri UV-Vis. Logam dengan dithizon akan bereaksi membentuk suatu kompleks yang dapat dideteksi dengan spektrofotometri UV-Vis. Pembentukan kompleks tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya pH, suhu, dan kosentrasi dithizon yang digunakan. Dalam artikel review ini akan diulas metode analisis berbagai jenis logam dengan menggunakan dithizon yang dideteksi dengan spektrofotometri UV-Vis dan beberapa faktor yang mempengaruhi dalam pembentukan kompleks.Didapatkan beberapa data kondisi optimum beberapa senyawa logam dalam membentuk kompleks dengan dithizon.
REVIEW: FERMENTASI DAN KARAKTERISASI BERBAGAI ZAT WARNA Monascus YANG DIISOLASI DARI ANGKAK ASTININGSIH DIAH PRAVITASARI; TIANA MILANDA
Farmaka Vol 18, No 1 (2020): Farmaka (Januari)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (451.451 KB) | DOI: 10.24198/jf.v18i1.22289

Abstract

Angkak adalah produk fermentasi beras oleh kapang Monascus sp., yang mengandung berbagai metabolit sekunder. Salah satu metabolit, yaitu zat warna Monascus, terdiri dari 3 (tiga) kelompok utama, yaitu zat warna merah (rubropunktamin dan monaskorubramin), jingga (rubropunktatin dan monaskorubrin) serta kuning (monaskin dan ankaflavin).  Zat warna ini memiliki aktivitas antiproliferasi, antitumor potensial, antidiabetes, antioksidatif stres, anti-inflamasi dan antiobesitas. Banyaknya aktivitas farmakologi zat warna Monascus, menyebabkan perlu dilakukan studi literatur mengenai proses fermentasi dan karakterisasi zat-zat warna tersebut dalam berbagai jurnal elektronik, baik jurnal nasional maupun internasional bereputasi. Hsil penelusuran pustaka menunjukkan bahwa zat warna Monascus dapat dihasilkan melalui fermentasi padat dalam medium PDA atau cornmeal serta medium cair, yang mengandung surfaktan atau MSG. pH medium di bawah 4,00 akan menyebabkan pembentukan zat warna terkonsentrasi dalam cairan intraseluler, sedangkan  pH medium mendekati netral (5,5-6,5) menyebabkan pembentukan zat warna terkonsentrasi dalam cairan ekstratraseluler. Seluruh zat warna tersebut dikarakterisasi menggunakan metode HSCCC, HPLC-MS, spektroskopi NMR, flow cytometry, spektrofotometer UV/Vis serta Kromatografi Lapis Tipis/KLT. Kata kunci: Angkak, Zat warna Monascus, Fermentasi, Karakterisasi
POTENSI KITOSAN DALAM SISTEM PENGHANTARAN OBAT TERTARGET PADA ORGAN PARU HATI GINJAL DAN KOLON TIARA DIMAS HAPSARI; IRMA MELYANI PUSPITASARI
Farmaka Vol 16, No 2 (2018): Farmaka (Agustus)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (268.57 KB) | DOI: 10.24198/jf.v16i2.17838

Abstract

Sistem penghantaran obat tertarget dapat memperbaiki segi farmakokinetik dan biodistribusi obat, sehingga efek terapi yang dihasilkan lebih optimal dengan efek samping yang minimal. Dalam formulasinya, dibutuhkan suatu molekul pembawa yang dapat mengantarkan obat pada target spesifik. Kitosan merupakan polimer kationik alam yang dapat dikembangkan sebagai pembawa dalam sistem penghantaran obat karena sifat fisikokimia dan biologis yang unik, yaitu mucoadhesive, biocompatible, bio-degradable, tidak toksik, imunogenisitas yang rendah, dan kemampuan untuk mengantarkan obat pada target spesifik. Tujuan dari review ini adalah untuk mengetahui potensi kitosan sebagai pembawa dalam sistem penghantaran obat tertarget pada organ paru, hati, ginjal dan kolon. Metode dalam penyusunan review artikel yang digunakan ini adalah dengan penelusuran pustaka melalui mesin pencari Google. Berdasarkan hasil penelusuran, didapatkan 18 jurnal yang menunjukkan bahwa kitosan berpotensi sebagai pembawa untuk mengantarkan obat pada organ paru, hati, ginjal dan kolon. Pada masing-masing organ, kitosan memiliki mekanisme yang berbeda dalam perannya sebagai pembawa.

Filter by Year

2015 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 23, No 3 (2025): Farmaka (November) (In Press) Vol 23, No 2 (2025): Farmaka (Juli) (In Press) Vol 23, No 1 (2025): Farmaka (Maret) (In Press) Vol 22, No 3 (2024): Farmaka (November) Vol 22, No 2 (2024): Farmaka (Juli) Vol 22, No 1 (2024): Farmaka (Maret) Vol 21, No 3 (2023): Farmaka (November) Vol 21, No 2 (2023): Farmaka (Juli) Vol 21, No 1 (2023): Farmaka (Maret) Vol 20, No 3 (2022): Farmaka (November) Vol 20, No 2 (2022): Farmaka (Juli) Vol 20, No 1 (2022): Farmaka (Maret) Vol 19, No 4 (2021): Farmaka (Suplemen) Vol 19, No 3 (2021): Farmaka (November) Vol 19, No 2 (2021): Farmaka (Juli) Vol 19, No 1 (2021): Farmaka (Maret) Vol 18, No 4 (2020): Farmaka (Suplemen) Vol 18, No 3 (2020): Farmaka (November) Vol 18, No 2 (2020): Farmaka (September) Vol 18, No 1 (2020): Farmaka (Januari) Vol 17, No 3 (2019): Farmaka (Desember) Vol 17, No 2 (2019): Farmaka (Agustus) Vol 17, No 1 (2019): Farmaka (Supplemen) Vol 17, No 1 (2019): Farmaka (Februari) Vol 16, No 4 (2018): Prosiding Abstrak Pharmacopea 2018 Vol 16, No 3 (2018): Farmaka (September) Vol 16, No 3 (2018): Suplemen (September) Vol 16, No 2 (2018): Suplemen Agustus Vol 16, No 2 (2018): Farmaka (Agustus) Vol 16, No 1 (2018): Suplemen Juni Vol 16, No 1 (2018): Farmaka (Juni) Vol 15, No 4 (2017): Farmaka Desember Vol 15, No 3 (2017): Suplemen Desember Vol 15, No 3 (2017): Farmaka Vol 15, No 2 (2017): Farmaka Vol 15, No 2 (2017): Suplemen Vol 15, No 1 (2017): Suplemen Vol 15, No 1 (2017): Farmaka (Maret) Vol 14, No 4 (2016): Farmaka Vol 14, No 3 (2016): Farmaka Vol 14, No 2 (2016): Farmaka Vol 14, No 2 (2016): Suplemen Vol 14, No 1 (2016): Supplement Vol 14, No 1 (2016): Farmaka Vol 13, No 4 (2015): FARMAKA More Issue