cover
Contact Name
Angga Kautsar
Contact Email
jurnal.farmaka@unpad.ac.id
Phone
842 888888 Ext : 3510
Journal Mail Official
jurnal.farmaka@unpad.ac.id
Editorial Address
Gedung Laboratorium I Fakultas Farmasi, UNPAD Jl. Raya Jatinangor KM 21, Bandung-Sumedang, Indonesia 45363
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Farmaka
ISSN : 16931424     EISSN : 27163075     DOI : https://doi.org/10.24198/
Core Subject : Health, Science,
Farmaka is replacement for Pharmaceutical Bulletin, published since 1991, with a frequency of four times a year. Editors accept scholarly works of research results and literature review which was closely related to the science, pharmaceutical technology and practice.
Articles 784 Documents
REVIEW ARTIKEL: APLIKASI NANOPARTIKEL PADA FORMULASI SEDIAAN INSULIN ORAL Putri, Aulia Nur Assyifa; Halimah, Eli
Farmaka Vol 20, No 1 (2022): Farmaka (Maret)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/farmaka.v20i1.33717

Abstract

AbstrakPerkembangan nanopartikel dalam bidang farmasetika semakin meluas dengan berbagai penelitian yang memformulasikan nanopartikel sebagai sistem penghantaran obat. Salah satunya yaitu sediaan insulin oral. Insulin merupakan hormon yang berperan penting dalam terapi diabetes melitus. Secara umum, insulin yang digunakan diberikan secara subkutan menimbulkan ketidaknyamanan bagi pasien dan berbagai efek samping. Berbagai penelitian kemudian mengembangkan sediaan insulin oral sebagai solusi dari permasalahan tersebut. Namun, pada praktiknya penghantaran insulin secara oral terhambat dengan karakter insulin yang mudah terdegradasi dan rusak di saluran gastrointestinal. Oleh karena itu, penelitian lainnya menemukan solusi lain dengan menggunakan nanocarrier sebagai pembawa insulin. Secara keseluruhan, studi menunjukkan formula nanocarrier insulin oral menghasilkan sediaan yang stabil, mampu melindungi insulin dari berbagai barrier saluran gastrointestinal, dan berpengaruh dalam menurunkan kadar glukosa darah tikus diabetes. Beberapa nanocarrier yang memenuhi kriteria karakterisasi nanopartikel yang baik untuk sistem penghantaran insulin oral yaitu pada nanocarrier berbasis PLGA-lipid-PEG, TMC-PLGA, Kitosan-PLGA, Kitosan-PSS-PGA, dan CMCD-g-Kitosan. ABSTRACT Insulin is a hormone that plays an important role in the treatment of diabetes mellitus. Generally, the used of insulin therapy is given subcutaneously, causing discomfort or inconveniences to the patient and various other side effects Various studies have developed oral insulin preparations as a solution to this problem. However practically, oral insulin administration is hampered by the character of insulin which is easily degraded in the gastrointestinal tract. Therefore, another study found another solution by applying a nano-carrier system as an insulin carrier. This review article aims to discuss the formulation of insulin preparations with nano-carrier systems. The data sources used as references in this article review consist of 25 international journals. From the review of this article, it was found that the nano-carrier system has good potential to be further developed as an oral insulin delivery system. Several oral insulin formulations with good nanoparticle characteristics are nano-carrier systems based on PLGA-lipid-PEG, TMC-PLGA, Ch-PLGA, Ch-PSS-PGA, CMCD-g-Ch, TMC-β-cyclodextrin, and Ch-TGA-based SNEDDS.
ANALISIS ABC DALAM PERENCANAAN OBAT ANTIBIOTIK DI APOTEK Luthfiah Pertiwi; Eky Septian Pradana; Rini Hendriani
Farmaka Vol 20, No 1 (2022): Farmaka (Maret)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/farmaka.v20i1.32643

Abstract

Perencanaan obat merupakan tahap awal untuk menetapkan jenis dan jumlah yang sesuai dengan kebutuhan. Antibiotik adalah terapi utama dalam mengobati penyakit infeksi bakteri sehingga harus dilakukan pengendalian obat yang baik untuk menghindari terhambatnya proses pelayanan obat kepada pasien. Penelitian ini bertujuan untuk mengelompokkan obat antibiotik berdasarkan analisis ABC untuk mempermudah perencanaan obat antibiotik di Apotek. Metode penelitian menggunakan metode deskriptif dengan pengambilan data secara retrospektif yang didasarkan pada dokumen penggunaan obat Antibiotik periode Agustus-Oktober tahun 2020 di salah satu apotek di Kota Bandung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 122 item obat Antibiotik dikelompokkan berdasarkan analisis ABC, didapatkan kelompok A nilai pemakaiannya 41,50% dengan nilai investasi 69.51%. Kelompok B memiliki nilai pemakaian 45,00% dan nilai investasi 20,15%. Kelompok C nilai pemakaiannya 13,50% dengan nilai investasi 10,33%. Kelompok A terdiri dari 24 item, menyerap anggaran sebesar Rp.67.331.434,00. Kelompok B terdapat 26 item, menyerap anggaran sebesar Rp.19.518.487,00. Kelompok C terdiri dari 72 item, menyerap anggaran sebesar Rp.10.010.281,00. Total anggaran antibiotik secara keseluruhan sebesar Rp.96.860.202,00. Drug’s planning is the initial stage to determine the type and amount that suits your needs. Antibiotics are the main therapy used to treat bacterial infections, so good drug control must be carried out to avoid drug vacancies that can hinder the process of drug service to patients. This study aims to classify antibiotic drugs based on ABC analysis to facilitate the planning of antibiotic drugs in pharmacies. The method used is descriptive research with retrospective data collection based on documents of antibiotics uses from August - October 2020 at a pharmacy in Bandung. The results showed that 122 items of antibiotic drugs grouped based on ABC analysis, it was found that group A had usage value of 41.50% and investment value of 69.51%. Group B has usage value of 45.00% and investment value of 20.15%. Group C has usage value of 13.50% and investment value of 10.33%. Group A consists 24 items with budget of Rp. 67,331,434.00. Group B contained 26 items with budget of Rp. 19,518,487.00. Group C consists 72 items with budget of Rp. 10,010,281.00. The total budget for antibiotics as a whole is Rp. 96,860,202.00.
REVIEW: 99mTEKNESIUM DAN KHELATOR DWIFUNGSINYA SEBAGAI AGEN RADIOFARMAKA TARGET SPESIFIK Arini Nurhaqiqi Aminudin; Holis Abdul Holik
Farmaka Vol 20, No 1 (2022): Farmaka (Maret)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/farmaka.v20i1.34612

Abstract

ABSTRAK99mTc adalah radioisotop pemancar sinar gamma yang memiliki karakteristik optimal untuk digunakan dalam kedokteran nuklir. Diketahui waktu paruhnya 6.02 jam dengan Еγ sebesar 140 keV, mode peluruhan IT 100%. Produksi 99mTc dilakukan menggunakan generator 99Mo/99mTc. 99mTc dielusi dari generator dalam bentuk larutan Na99mTcO4. Saat ini lebih dari 80% radiofarmaka diagnostik yang digunakan pada klinik di seluruh dunia mengandung 99mTc. Secara umum penggunaan 99mTc dilakukan pada diagnosis onkologi, kardiologi, dan scan tulang, serta imaging fungsi organ seperti ginjal, hati, otak, dan paru-paru. Pada aplikasinya, radiofarmaka 99mTc seringkali dikonjugasi dengan khelator dwifungsi dimana yang paling umum adalah dengan HYNIC, DTPA, dan MAG3. HYNIC lebih unggul dalam aspek biodistribusi dan efisiensi, sementara DTPA memiliki waktu penyerapan yang paling cepat diantara ketiganya.ABSTRACT99mTc is a gamma-emitting radioisotope that has optimal properties for use in nuclear medicine. Given a half-life of 6.02 hours with Еγ of 140 keV, 100% IT decay mode. 99mTc production is carried out using a 99Mo / 99mTc generator. 99mTc is eluted from the generator in the form of a Na99mTcO4 solution. Thus, more than 80% of the diagnostic radiopharmaceuticals used in clinics worldwide contain 99mTc. In general, the use of 99mTc is carried out in the diagnosis of oncology, cardiology, and bone scans, as well as imaging of organ functions such as kidneys, liver, brain, and lungs. In its application, 99mTc radiopharmaceuticals have been conjugated with a dual-function chelator, the most common of which are HYNIC, DTPA, and MAG3. HYNIC is superior in terms of biodistribution and efficiency, while DTPA has the fastest absorption time of the three.
NEUTRALIZING ANTIBODY TERJADI PADA MANUSIA DARI VIRUS SARS-COV-2 AKIBAT VAKSIN YANG BEREDAR DI INDONESIA Nyai Ayu Sylfia Stannia Puspitasari Helmi; Keri Lestari
Farmaka Vol 20, No 1 (2022): Farmaka (Maret)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/farmaka.v20i1.33924

Abstract

ABSTRAKKebutuhan akan vaksin untuk menanggulangi Covid-19 semakin meningkat. Penelitianpun digencarkan untuk mendapatkan vaksin yang lebih baik dari segi efektivitas dan keamanannya. Selain itu dilihat pula respon yang terjadi didalam tubuh setelah diberikan vaksinasi. Antibodi penetral adalah penanda kekebalan tubuh terhadap infeksi berulang dari virus yang sama dan muncul sebagai respon tubuh setelah diberikan vaksinasi. Peneliti dari seluruh dunia berpacu dengan waktu mengembangkan vaksin dengan efek yang terbaik. Dari vaksin-vaksin tersebut pemerintah telah menetapkan beberapa vaksin yang akan digunakan di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk merangkum antibodi penetral dan sel yang berkontribusi terhadap kekebalan tubuh yang muncul setelah dilakukannya vaksinasi. Sehingga didapatkan informasi terkait antibodi penetral yang muncul dan efektivitas vaksin tersebut dalam menjaga kekebalan tubuh.ABSTRACTThe need for vaccines to cope with Covid-19 is increasing. Research was launched to get a better vaccine in terms of effectiveness and safety. In addition, it is also seen the response that occurs in the body after vaccination. Neutralizing antibodies are markers of the body's immunity against recurrent infections of the same virus and appear as a response of the body after vaccination. Researchers from around the world are racing against the clock to develop a vaccine with the best effects. From these vaccines the government has determined several vaccines that will be used in Indonesia. This study aims to summarize neutralizing antibodies and cells that contribute to the immunity that arises after vaccination. So that information related to neutralizing antibodies that appear and the effectiveness of the vaccine in maintaining immunity.Keywords : Neutralizing Antibodi, COVID-19, Vaccine
REVIEW: POTENSI TANAMAN OBAT SEBAGAI TERAPI DERMATITIS SEBOROIK Fadhlurrahman, Ahmad Fahim; Mustarichie, Resmi; Rostinawati, Tina
Farmaka Vol 20, No 1 (2022): Farmaka (Maret)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/farmaka.v20i1.37989

Abstract

ABSTRAKDermatitis seboroik adalah gangguan kulit yang biasanya muncul pada bagian tubuh yang memiiki kelenjar sebasea dengan kepadatan yang tinggi, seperti pada wajah, dada, dan kulit kepala. Manifestasi klinis yang umumnya muncul seperti kulit bersisik dan eritema. Pengobatan yang dapat digunakan pada dermatistis seboroik yaitu antijamur, antiinflmasi, karatolitik, dan tar batubara. Muncul kehawatiran terkait kepatuhan yang buruk, resistensi, dan beberapa efek samping dari obat-obatan yang telah digunakan dalam terapi dermatitis seboroik. Menanggapi kondisi tersebut, berbagai penelitian telah dilakukan untuk menemukan agen antijamur baru yang efektif dan banyak penelitian telah dilakukan dengan tanaman obat. Ulasan ini membahas potensi beberapa tanaman obat yang dapat digunakan untuk pengobatan dermatitis seboroik. Pencarian literatur dilakukan pada basis data PubMed, Taylor & Francis, dan SpringerLink menggunakan Boolean Operator sehingga didapatkan 25 artikel yang cocok dengan kata kunci yang digunakan. Dari 25 artikel, enam artikel adalah studi in vivo pada manusia, sedangkan 19 artikel adalah studi in vitro terhadap Malassezia. Beberapa tanaman memiliki potensi sebagai agen terapeutik yang menjanjikan untuk terapi dermatitis seboroik melalui penghambatan terhadap pertumbuhan Malassezia, penurunan sekresi sebum, dan penurunan terkait gejala pada dermatitis seboroik seperti gatal, nyeri atau sensasi terbakar, dan kemerahan.ABSTRACT Insulin is a hormone that plays an important role in the treatment of diabetes mellitus. Generally, the used of insulin therapy is given subcutaneously, causing discomfort or inconveniences to the patient and various other side effects Various studies have developed oral insulin preparations as a solution to this problem. However practically, oral insulin administration is hampered by the character of insulin which is easily degraded in the gastrointestinal tract. Therefore, another study found another solution by applying a nano-carrier system as an insulin carrier. This review article aims to discuss the formulation of insulin preparations with nano-carrier systems. The data sources used as references in this article review consist of 25 international journals. From the review of this article, it was found that the nano-carrier system has good potential to be further developed as an oral insulin delivery system. Several oral insulin formulations with good nanoparticle characteristics are nano-carrier systems based on PLGA-lipid-PEG, TMC-PLGA, Ch-PLGA, Ch-PSS-PGA, CMCD-g-Ch, TMC-β-cyclodextrin, and Ch-TGA-based SNEDDS.
EVALUASI INTERAKSI OBAT PADA RESEP PASIEN GERIATRI DI INSTALASI FARMASI RAWAT JALAN DI SALAH SATU RUMAH SAKIT DI SUKABUMI Aurizal Risandy Irawan; Gofarana Wilar
Farmaka Vol 20, No 1 (2022): Farmaka (Maret)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/farmaka.v20i1.33484

Abstract

ABSTRAKKomplikasi penyakit biasanya terdapat pada pasien geriatri, yaitu berbagai gangguan penyakit kronis seperti hipertensi, diabetes melitus, gangguan jantung dan penyakit lainnya. Hal tersebut menyebabkan pasien geriatri akan mendapatkan resep dengan jumlah R/ lebih dari satu. Banyaknya jumlah obat yang diresepkan dan dikonsumsi dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan dan berpotensi untuk menyebabkan polifarmasi, sehingga dapat meningkatkan risiko terjadinya interaksi obat, Adverse Drug Reactions (ADRs), dan Medications Error. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jumlah persentase interaksi obat berdasarkan tingkat keparahannya dan persentase interaksi obat berdasarkan jumlah jenis obat (R/) dari hasil evaluasi resep rawat jalan pada pasien geriatri. Identifikasi interaksi antar obat dilakukan dengan melakukan pengkajian resep pada pasien geriatri rawat jalan selama bulan September 2020 di Rumah Sakit Pemerintah di Kota Sukabumi yang kemudian ditentukan kategori interaksinya. Kemudian ditentukan persentase interaksi obat berdasarkan tingkat keparahannya dan persentase jumlah interaksi berdasarkan jumlah jenis obat (R/). Hasil penelitian menunjukkan persentase jumlah interaksi obat yang diperoleh sebesar 4,63% interaksi minor, 83,33% interaksi moderat, dan 12,03% interaksi mayor. Kemudian, persentase antara jumlah interaksi obat dengan jumlah jenis obat (R/) memiliki persentase sebesar 3,7%, 3,7%, 4,63%, 41,67%, 27,78%, dan 18,52% terhadap jumlah R/ tiga, empat, lima, enam, tujuh, dan delapan obat secara berurutan.ABSTRACT Disease complications generally occur in geriatric patients, namely various chronic diseases such as hypertension, diabetes mellitus, heart problems and other diseases. This causes geriatric patients to get a prescription with an amount of R / more than one. The large number of drugs prescribed and consumed can increase the risk of health problems and have the potential to cause polypharmacy, thereby increasing the risk of drug interactions, Adverse Drug Reactions (ADRs), and Medications Error. This study aims to determine the percentage of potential drug interactions based on their severity and the percentage of potential drug interactions based on the number of types of drugs (R/) from the evaluation of outpatient prescriptions in geriatric patients. The identification of potential interactions between drugs was carried out by conducting a prescription review of outpatient geriatric patients during September 2020 at the Government Hospital in Sukabumi City, which then determined the category of the interaction. The results showed that the percentage of the number of drug interactions that occurred was 4.63% minor category, 83.33% moderate interaction, and 12.03% major interactions. Then, the percentage between the number of drug interactions and the number of types of drugs in one prescription (R/) has a percentage of 3.7%, 3.7%, 4.63%, 41.67%, 27.78%, and 18.52 % of the number of types of drugs as many as three, four, five, six, seven, and eight drugs in one prescription respectively.
REVIEW ARTIKEL: AKTIVITAS DAUN MURBEI (MORUS ALBA L.) SEBAGAI ANTIMALARIA Lika Ginanti Febriana; Anas Subarnas
Farmaka Vol 20, No 1 (2022): Farmaka (Maret)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/farmaka.v20i1.33838

Abstract

Malaria adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi Plasmodium yang terinfeksi nyamuk betina Anopheles. Malaria masih menjadi penyebab utama kematian di seluruh dunia. Masalah utama dalam program pengendalian malaria global adalah meningkatnya kejadian resistensi terhadap obat antimalarial. Pengembangan herbal daun Morus alba Linn. menjadi salah solusi dalam mendukung penanganan malaria. Oleh karena itu, diperlukan pengkajian kandungan  bioaktif daun Morus alba Linn. yang memiliki aktivitas antimalaria. Daun Morus alba L.) memiliki aktivitas antimalaria dengan adanya kandungan senyawa bioaktif flavonoid, polifenol, dan senyawa lainnya dengan mekanisme potensial sebagai antioksidan, imunomodulator, penghambatan sintesis protein, dan gangguan invasi parasit dari eritrosit baru yang telah  teruji secara in vitro dan in vivo dapat melawan infeksi Plasmmodium, sehingga daun Morus alba Linn dapat dijadikan salah satu herbal potensial dalam penanganan malaria.ABSTRACTMalaria is a disease caused by Plasmodium infection which is infected by the female Anopheles mosquito. Malaria is found in Africa and some countries in Asia. The main problem in the global malaria control program is the increasing incidence of resistance to antimalarial drugs. Morus alba L leaf herbal development. become one of the solutions in supporting the handling of malaria. The research method used was a literature review, literature search using keywords Morus alba L.", "Antimalarial Activity of Morus alba Leaf", and "Antimalaria" with a publication year of 10 years. The literature that includes the inclusion criteria is 11 scientific articles. Therefore, it is necessary to study the bioactive content of Morus alba L leaves. which has antimalarial activity. Morus alba L.) leaves have antimalarial activity in the presence of flavonoid bioactive compounds, polyphenols, and other compounds with potential mechanisms as antioxidants, immunomodulators, inhibition of protein synthesis, and interference with the parasitic invasion of new erythrocytes that have been tested in vitro and in vivo. against Plasmodium infection, so Morus alba L leaves can be used as a potential herb in the treatment of malaria.
REVIEW ARTIKEL : PENGAPLIKASIAN INTERNET OF THINGS (IOT) DALAM MANUFAKTUR INDUSTRI FARMASI DI ERA INDUSTRI 4.0 Agung Putu Surya Purna Kristyawan; Resmi Mustarichie; Lusius Ari Wardoyo
Farmaka Vol 20, No 1 (2022): Farmaka (Maret)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/farmaka.v20i1.37726

Abstract

ABSTRAKInternet of things atau IOT ialah suatu jaringan yang menghubungan antar objek secara terbuka dan komprehensif yang digunakan untuk mengatur, membagikan informasi dan data secara otomatis serta merespon suatu situasi dan perubahan pada lingkungan. Tujuan kajian review artikel ini untuk membahas mengenai Internet of Things dari segi pemahaman dasar, menjelaskan komponen penyusun Internet of Things, dan penerapannya dalam manufaktur industri farmasi. Metode penulisan review artikel ini yaitu studi literatur dengan artikel ilmiah yang dicari di search engine ScienceDirect dan google scholar dengan keyword “Internet of Thing in Manufacturing”, dan “Internet of Thing in Pharmaceutical Industry”. Dari pengkajian review artikel ini diketahui Terdapat tiga teknologi vital pada IoT yaitu Radio-frequency Identification (RFID), Wireless sensor Network (WSN) dan Cloud computing. IoT yang diterapkan dalam manufaktur industri farmasi dapat membantu menghubungkan tiap komponen yang dibutuhkan dalam proses manufaktur sehingga proses manufaktur dapat berjalan secara efisien, peningkatan kualitas produk, memudahkan dalam perawatan mesin serta penggunaan energi yang lebih efisien.ABSTRACTInternet of things or IoT is a network that connects objects in an open and comprehensive manner that is used to organize, share information and data automatically and respond to situations and changes in the environment. The purpose of this article review is to discuss the Internet of Things in terms of a basic understanding, explain the components of the Internet of Things, and their application in manufacturing the pharmaceutical industry. The method of writing this article review is a literature study with scientific articles searched on the search engine ScienceDirect and google scientist with the keywords "Internet of Thing in Manufacturing", and "Internet of Thing in Pharmaceutical Industry". From the review of this article, it is known that there are three vital technologies in IoT, namely Radio-frequency Identification (RFID), Wireless Sensor Network (WSN) and Cloud computing. IoT applied in the pharmaceutical manufacturing industry can help connect every component needed in the manufacturing process so that the manufacturing process can run efficiently, improve product quality, facilitate machine maintenance and use more efficient energy
EVALUASI KONDISI BANGUNAN DAN PERALATAN DI SALAH SATU GUDANG PENYIMPANAN PEDAGANG BESAR FARMASI (PBF) DI KOTA BANDUNG Fanny Seftiani Dwi Saputri; Iyan Sopyan
Farmaka Vol 20, No 1 (2022): Farmaka (Maret)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/farmaka.v20i1.34621

Abstract

Cara Distibusi Obat yang Baik (CDOB) perlu diterapkan untuk melindungi masyarakat dari peredaran obat dan bahan obat yang tidak memenuhi syarat aman, khasiat dan mutu. Salah satu aspek dalam CDOB untuk menjamin keamanan dan mutu obat adalah bangunan dan peralatan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi kondisi bangunan dan peralatan di salah satu PBF di Kota Bandung dengan menggunakan metodeobservasional yan bersifat deskriptif dan evaluatif. Pengumpulan data secara prospektif dilakukan dengan kegiatan observasi di salah satu gudang PBF di Kota Bandung dan melakukan wawancara dengan Apoteker penanggung jawab PBF. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aspek CDOB bangunan dan peralatan gudang penyimpanan di salah satu Pedagang Besar Farmasi di Kota Bandung telah memenuhi syarat (100%).Kata Kunci : Evaluasi, CDOB, Pedagang Besar Farmasi, Bangunan dan Peralatan.
REVIEW ARTIKEL: EFEKTIVITAS TERAPI PENAMBAHAN IVABRADINE UNTUK PASIEN GAGAL JANTUNG DENGAN PENURUNAN FRAKSI EJEKSI (HEART FAILURE REDUCED FRACTION EJECTION) Qomara, Windi Fresha; Zakiyah, Neily
Farmaka Vol 20, No 1 (2022): Farmaka (Maret)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/farmaka.v20i1.33905

Abstract

AbstrakGagal jantung adalah masalah kesehatan dengan angka morbiditas dan kematian yang tinggi. Salah satu klasifikasi gagal jantung adalah dengan penurunan fraksi ejeksi (HFrEF) yang memiliki karakteristik nilai LVEF < 40 dan denyut jantung yang sangat tinggi. Pada pasien dengan karakteristik ini, dapat diberikan beta blockers dengan penambahan ivabradine ke dalam regimen terapi untuk mengoptimalkan hasil terapi. Review ini bertujuan untuk menelaah efektivitas penambahan terapi ivabradine ke dalam regimen pengobatan tersebut. Metode yang digunakan adalah penelaahan pustaka dari jurnal yang berkaitan dengan penambahan ivabradine untuk pasien HFrEF. Hasil yang didapatkan yaitu ivabradine dapat digunakan pada pasien HFrEF dengan ritme sinus dan denyut jantung >70 denyut per menit. Ivabradine bersama beta blocker dinilai efektif untuk mengurangi angka rehospitalisasi dan mortalitas akibat kardiovaskuler dan dapat digunakan untuk pasien yang intoleran atau kontraindikasi dengan beta blocker.ABSTRACTHeart failure is a health problem with high rates of morbidity and death. One classification of heart failure is with a decrease in ejection fraction (HFrEF) which has the characteristic LVEF value < 40 and a very high heart rate. In patients with this characteristic, beta blockers can be given with the addition of ivabradine into the therapeutic regimen to optimize the results of therapy. An increase in heart rate >70 bpm is an important indicator of mortality, so prompt and cost-effective treatment is needed, such as the addition of ivabradine to standard therapy for HFrEF. This review aims to study the effectiveness of adding ivabradine therapy to the treatment regimen. The method used is a literature study of journals related to the addition of ivabradine to HFrEF patients. The results obtained are that ivabradine can be used in HFrEF patients with sinus rhythm and heart rate >70 bpm. Ivabradine together with beta blockers are considered effective for reducing rehospitalization and mortality rates due to cardiovascular and can be used for patients who are intolerant or contraindicated with beta blockers.

Filter by Year

2015 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 23, No 3 (2025): Farmaka (November) (In Press) Vol 23, No 2 (2025): Farmaka (Juli) (In Press) Vol 23, No 1 (2025): Farmaka (Maret) (In Press) Vol 22, No 3 (2024): Farmaka (November) Vol 22, No 2 (2024): Farmaka (Juli) Vol 22, No 1 (2024): Farmaka (Maret) Vol 21, No 3 (2023): Farmaka (November) Vol 21, No 2 (2023): Farmaka (Juli) Vol 21, No 1 (2023): Farmaka (Maret) Vol 20, No 3 (2022): Farmaka (November) Vol 20, No 2 (2022): Farmaka (Juli) Vol 20, No 1 (2022): Farmaka (Maret) Vol 19, No 4 (2021): Farmaka (Suplemen) Vol 19, No 3 (2021): Farmaka (November) Vol 19, No 2 (2021): Farmaka (Juli) Vol 19, No 1 (2021): Farmaka (Maret) Vol 18, No 4 (2020): Farmaka (Suplemen) Vol 18, No 3 (2020): Farmaka (November) Vol 18, No 2 (2020): Farmaka (September) Vol 18, No 1 (2020): Farmaka (Januari) Vol 17, No 3 (2019): Farmaka (Desember) Vol 17, No 2 (2019): Farmaka (Agustus) Vol 17, No 1 (2019): Farmaka (Supplemen) Vol 17, No 1 (2019): Farmaka (Februari) Vol 16, No 4 (2018): Prosiding Abstrak Pharmacopea 2018 Vol 16, No 3 (2018): Suplemen (September) Vol 16, No 3 (2018): Farmaka (September) Vol 16, No 2 (2018): Suplemen Agustus Vol 16, No 2 (2018): Farmaka (Agustus) Vol 16, No 1 (2018): Suplemen Juni Vol 16, No 1 (2018): Farmaka (Juni) Vol 15, No 4 (2017): Farmaka Desember Vol 15, No 3 (2017): Suplemen Desember Vol 15, No 3 (2017): Farmaka Vol 15, No 2 (2017): Farmaka Vol 15, No 2 (2017): Suplemen Vol 15, No 1 (2017): Suplemen Vol 15, No 1 (2017): Farmaka (Maret) Vol 14, No 4 (2016): Farmaka Vol 14, No 3 (2016): Farmaka Vol 14, No 2 (2016): Suplemen Vol 14, No 2 (2016): Farmaka Vol 14, No 1 (2016): Supplement Vol 14, No 1 (2016): Farmaka Vol 13, No 4 (2015): FARMAKA More Issue