cover
Contact Name
Angga Kautsar
Contact Email
jurnal.farmaka@unpad.ac.id
Phone
842 888888 Ext : 3510
Journal Mail Official
jurnal.farmaka@unpad.ac.id
Editorial Address
Gedung Laboratorium I Fakultas Farmasi, UNPAD Jl. Raya Jatinangor KM 21, Bandung-Sumedang, Indonesia 45363
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Farmaka
ISSN : 16931424     EISSN : 27163075     DOI : https://doi.org/10.24198/
Core Subject : Health, Science,
Farmaka is replacement for Pharmaceutical Bulletin, published since 1991, with a frequency of four times a year. Editors accept scholarly works of research results and literature review which was closely related to the science, pharmaceutical technology and practice.
Articles 784 Documents
REVIEW ARTIKEL : FENOMENA PANIC BUYING TERHADAP OBAT-OBATAN PADA MASA PANDEMI COVID-19 NATA RIMANA FADILA; Holis Abdul Holik
Farmaka Vol 19, No 4 (2021): Farmaka (Suplemen)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/farmaka.v19i4.34785

Abstract

Penyakit Coronavirus 2019 atau disebut juga COVID-19 merupakan infeksi saluran pernapasan yang muncul pertama kali di Tiongkok, China pada bulan Desember 2019 yang disebabkan oleh Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus 2 (SARS-CoV-2). Selama pendemi ini berlangsung, timbul suatu fenomena yang berdampak pada perilaku manusia yaitu fenomena panic buying. Pemicu timbulnya panic buying karena rasa takut masyarakat akan kelangkaan dan kekurangan sediaan obat yang dibutuhkan. Selain obat-obatan untuk mengobati COVID-19 terdapat obat-obatan lainnya yang juga mengalami kenaikan permintaan seperti obat antihipertensi, antidiabetes, obat pernapasan dan antidepressan. Tujuan review artikel ini yaitu untuk melihat dampak dari fenomena panic buying terhadap ketersediaan obat-obatan di pasaran dengan metode pencarian studi lieratur menggunakan sumber artikel ilmiah. Hasil yang didapatkan adalah akibat terjadinya fenomena panic buying, beberapa produk obat yang dapat mencegah dan mengobati COVID-19 seperti obat antibiotik, antivirus dan vitamin mengalami kekosongan karena lonjaknya permintaan masyarakat.
ARTIKEL TINJAUAN: SISTEM KUALIFIKASI OPERATOR DI INDUSTRI FARMASI ERLIN ELISABETH HUTAPEA; Ida Musfiroh
Farmaka Vol 19, No 4 (2021): Farmaka (Suplemen)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/farmaka.v19i4.33324

Abstract

Industri farmasi merupakan badan usaha dengan izin untuk melakukan kegiatan pembuatan obat atau bahan obat yang mengandalkan langsung sumber daya manusia dalam menerapkan cara pembuatan obat yang baik. Operator merupakan seseorang yang bertugas menjaga dan menjalankan suatu peralatan ataupun mesin sesuai bagiannnya. Kualifikasi diperlukan untuk mengukur kemampuan seseorang dalam mengerjakan pekerjaan sesuai tanggung jawabnya. Artikel ini bertujuan untuk memberikan pemahaman pentingnya kualifikasi operator bagi industri, langkah-langkah yang diperlukan dalam kualifikasi dan aspek apa yang harus dikualifikasi. Rangkaian sistem kualifikasi dapat dilakukan dengan mengidentifikasi aspek kualifikasi, penyusunan detail poin masing-masing aspek, menetapkan cara pemberian skor, melakukan kualifikasi awal, evaluasi hasil, pelatihan individu, dan melakukan kualifikasi akhir. Dengan adanya sistem kualifikasi untuk operator, diharapkan perusahaan dapat lebih mengetahui tingkat kemampuan setiap operator, mengidentifikasi kekurangan, dan secara kontinu melakukan perbaikan guna menjaga mutu produknya.
REVIEW: EFEK ANGIOTENSIN CONVERTING ENZYME INHIBITOR (ACEI) DAN ANGIOTENSIN RECEPTOR BLOCKER (ARB) SEBAGAI KARDIOPROTEKTOR TERHADAP CARDIOVASCULAR EVENTS AGATHA VIKA PURWANINGTYAS; Melisa Intan Barliana
Farmaka Vol 19, No 4 (2021): Farmaka (Suplemen)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/farmaka.v19i4.34939

Abstract

Sebagai obat kardioprotektif, Angiotensin Converting Enzyme Inhibitor (ACEI) dan Angiotensin Receptor Blocker (ARB) digunakan untuk mencegah penyakit kardiovaskular dan mengkontrol tekanan darah. Meskipun telah banyak penelitian yang mempelajari efek ACEI dan ARB, kesetaraan efektivitas antara ACEI dan ARB masih menjadi perdebatan. ACEI diyakini lebih efektif dibandingkan ARB pada berbagai pasien dengan penyakit kardiovaskular. Artikel ini mengulas mekanisme efek ACEI dan ARB sebagai kardioprotektor, serta perbandingan efek ACEI dan ARB terhadap cardiovascular events. Penelusuran artikel dilakukan melalui google scholar dan NCBI. ACEI bekerja dengan menghambat pembentukan angiotensin II yang mampu menyebabkan disfungsi endotel, thrombosis, inflamasi, vasokonstriksi, remodeling, dan disrupsi plak. ARB memberikan hambatan pada terjadinya ikatan antara angiotensin II, baik yang diproduksi dari jalur ACE maupun non-ACE dengan reseptor angiotensin II subtipe 1 (AT1), sehingga ARB lebih efektif dalam mengendalikan tekanan darah. Namun, ARB tidak mengurangi kadar angiotensin II dalam tubuh. ACEI dan ARB tidak berbeda signifikan dalam pencegahan cardiovascular events. ACEI merupakan pilihan pertama, sedangkan ARB digunakan pada intoleransi ACEI karena ARB dapat ditoleransi lebih baik dan dikaitkan dengan kepatuhan pengobatan yang lebih besar.Kata Kunci: ACEI, ARB, kardioprotektor, cardiovascular events.
REVIEW ARTIKEL : PERBANDINGAN PENGUJIAN ENDOTOKSIN UNTUK SEDIAAN FARMASI HADAD, NUR DIANA; ZUHROTUN, ADE
Farmaka Vol 19, No 4 (2021): Farmaka (Suplemen)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/farmaka.v19i4.22076

Abstract

Endotoksin adalah molekul hidrofobik kecil yang merupakan bagian dari kompleks lipopolisakarida (LPS) yang membentuk sebagian besar membran luar bakteri gram negatif. Ketika molekul LPS bersirkulasi dalam tubuh manusia, berbagai sitokin inflamasi yang diekspresikan secara berlebihan oleh aktivasi sistem imun bawaan dan menyebabkan inflamasi sistemik. Artikel ini mengulas mengenai perbandingan pengujian endotoksin yang banyak digunakan untuk sediaan farmasi. Metode yang digunakan pada artikel review ini adalah melalui pencarian data ilmiah yang dilakukan secara online pada database PubMed, Science Direct, Research Gate dan Google Scholar dengan kata kunci yakni “Bacterial Endotoxin Test”, “Endotoxin”, “Gel-clot”, “Turbidimetric” dan “Chromogenic”. Dari hasil penelusuran dan pengumpulan data tersebut diketahui bahwa metode pengujian endotoksin yang banyak digunakan yaitu gel-clot, Turbidimetri, dan kromogenik, setiap metode tersebut memilki kekurangan dan kelebihannya masing-masing.
SUMBER DAN MANFAAT KOLAGEN DALAM INDUSTRI KOSMETIK Shella - Widiyastuti; Sandra Megantara
Farmaka Vol 19, No 4 (2021): Farmaka (Suplemen)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/farmaka.v19i4.34518

Abstract

Kolagen merupakan protein paling melimpah yang dapat ditemukan dalam tubuh hewan, yang banyak digunakan dalam industri kosmetik. Sumber kolagen dapat ditemukan pada berbagai jenis ikan, cumi-cumi, dan katak dengan ekstraksi ASC (Acid Solubilized Collagen) atau PSC (Pepsin Solubilized Collagen). Hasil review menunjukkan bahwa jumlah kolagen tertinggi terdapat pada jenis ikan Evenchelys macrura dengan jumlah 80% (berat kering) dan Scomberomorous niphonius dengan jumlah 13,68% (berat basah) untuk ekstraksi ASC, serta ikan jenis Chitala ornata dengan jumlah 44,6% (berat kering) dan 15,3% (berat basah) untuk ekstraksi PSC serta manfaat kolagen dalam industri kosmetik sebagai komponen utama dalam banyak formulasi yang berfungsi sebagai humektan serta pelembab sehingga dapat meningkatkan hidrasi kulit dan mencegah penuaan kulit, membantu jaringan untuk beregenerasi, meningkatkan elastisitas kulit, menetralisisr kerusakan penuaan kulit, serta sebagai scaffolding/skin substitute.Kata kunci: kolagen, industri kosmetik, ASC, PSC.
REVIEW ARTICLE: PERAN OBAT HERBAL SEBAGAI TERAPI SUPORTIF COVID-19 Kiki Ikrima; Rini Hendriani
Farmaka Vol 20, No 1 (2022): Farmaka (Maret)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/farmaka.v20i1.34769

Abstract

ABSTRAKCorona virus disease 2019 (COVID-19) adalah infeksi virus yang muncul dengan prevalensi yang terus meningkat di seluruh dunia. Manajemen pengobatan pada COVID-19 difokuskan kepada diagnosa dini, isolasi mandiri, dan perawatan umum dan suportif. Tujuan penulisan review article ini adalah untuk mengetahui peran obat herbal sebagai terapi suportif untuk pasien dengan COVID-19. Metode yang dilakukan dalam penyusunan review article yaitu dengan studi pustaka primer dengan publikasi dari database online maksimal 10 tahun terakhir. Hal ini dilakukan sesuai dengan bukti klinis yang menunjukkan bahwa pemanfaatan obat herbal dalam perawatan COVID-19 dapat mempercepat proses penyembuhan dibandingkan dengan perawatan yang hanya menggunakan obat modern. Beberapa tanaman herbal juga berpotensi sebagai antiviral yang dapat menghambat virus corona, diantaranya yaitu meniran (Phyllantus niruri L.), cengkeh (Syzygium aromaticum), teh hijau (Camelia sinensis), jahe merah (Zingiber Officinale), kunyit (Curcuma longa L.) dan bawang putih (Allium sativum), dimana senyawa fitokimia yang terkandung dalam tanaman herbal tersebut dapat mengikat situs receptor-binding domain(RBD) protein S virus dan juga ke situs perlekatan virus di reseptor ACE2.ABSTRACTCorona virus disease 2019 (COVID-19) is an emerging viral infection with increasing prevalence worldwide.  Treatment management for COVID-19 is focused on early diagnosis, self-isolation, and general and supportive care.  The purpose of writing this review article is to explore the role of herbal medicine as supportive therapy for patients with COVID-19.  The method used in preparing the review article is by studying primary literature with publications from online databases for the last 10 years.  This is done in accordance with clinical evidence showing that the use of herbal medicines in the treatment of COVID-19 can speed up the healing process compared to treatments that only use modern medicine.  Some herbal plants also have the potential as antivirals that can inhibit the corona virus including meniran (Phyllantus niruri L.), cloves (Syzygium aromaticum), green tea (Camelia sinensis), red ginger (Zingiber Officinale), turmeric (Curcuma longa L.) and garlic (Allium sativum), where the phytochemical compounds contained  in herbal plants can bind to the viral S protein receptor-binding domain (RBD) site and also to the viral attachment site at the ACE2 receptor.
EVALUASI PENGGUNAAN ANTIBIOTIK DENGAN METODE ATC/DDD DAN DU90% PADA PASIEN RAWAT INAP KSM PENYAKIT DALAM DI SALAH SATU RUMAH SAKIT SWASTA DI KOTA BANDUNG Syifa Hanifah; Irma Melyani; Louis Madalena
Farmaka Vol 20, No 1 (2022): Farmaka (Maret)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/farmaka.v20i1.34724

Abstract

Penggunaan antibiotik secara berlebihan adalah tantangan kesehatan masyarakat yang dapat menyebabkan resistensi terhadap antimikroba. Untuk mengurangi terjadinya resistensi antibiotik diperlukan evaluasi penggunaan obat untuk menentukan penggunaan obat secara rasional. Evaluasi penggunaan obat antibiotik digunakan menggunakan metode kuantitatif yaitu metode ATC/DDD. Tujuan penelitian yaitu mengetahui penggunaan antibiotik dan gambaran pola penggunaan antibiotik pada pasien rawat inap di salah satu Rumah Sakit swasta di Kota Bandung menggunakan metode ATC/DDD dan DU90%. Metode yang digunakan yaitu retrospektif dengan data pasien rawat inap yang menggunakan antibiotik pada periode Juli – Desember 2020. Hasil penelitian didapatkan bahwa penggunaan antibiotik pada periode tersebut memiliki nilai total DDD sebesar 64,42 DDD/100 hari rawat dengan nilai DDD antibiotik tertinggi adalah levofloxacin yaitu 20.84 DDD/100 hari rawat inap sedangkan antibiotik yang masuk dalam DU 90 % yaitu levofloxacin, azithromycin, cefixime, meropenem, ceftriaxone, moxifloxacin.ABSTRACTAntibiotic misuse is a public health issue that can lead to antimicrobial resistance. Antibiotic resistance can be reduced by evaluating antibiotic use to evaluate rational drug use using quantitative methods, such as the ATC / DDD method. The goal of the study was to employ the ATC / DDD and DU90 methodologies to determine antibiotic use and explain the pattern of antibiotic use in inpatients at one of Bandung's private hospitals. The research method is to design observational studies with retrospective data collection in inpatients from July to December 2020, with criteria for inclusion being patients aged 18 to 65 years old with complete medical records who are receiving antibiotic therapy, and the exclusion criteria are antibiotics that do not have an ATC code. The results showed that the use of antibiotics during that period had a total DDD value of 144.58 DDD/100 days of hospitalization with the highest antibiotic DDD value was levofloxacin, which was 48.83 DDD/100 days of hospitalization, while the antibiotics included in the DU 90% were levofloxacin, azithromycin, cefixime, ceftriaxone, meropenem and moxifloxacin.
REVIEW ARTIKEL: PENINGKATAN KELARUTAN OBAT CARVEDILOL Adiningsih, Nurdiani; Gozali, Dolih
Farmaka Vol 20, No 1 (2022): Farmaka (Maret)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/farmaka.v20i1.33954

Abstract

AbstrakCarvedilol adalah beta bloker non selektif dengan aktivitas penghambat reseptor alfa-1 yang sering diresepkan untuk pengobatan penyakit kardiovaskular.  Carvedilol termasuk ke dalam BCS (Bipharmaceutical Classification System) kelas II dimana memiliki permeabilitas membran yang tinggi tetapi memiliki laju disolusi yang lambat karena kelarutan dalam air yang rendah. Review ini berisi tentang teknik peningkatan kelarutan dari carvedilol dengan melakukan pencarian literatur melalui jurnal nasional dan jurnal internasional.   Berbagai jenis teknik peningkatan kelarutan obat telah diterapkan pada carvedilol seperti dispersi padat dengan berbagai metode preparasinya, c-MCMs, ko-kristalisasi, cyclodextrin inclusion complex, superkritikal karbon dioksida, hidrotropi, polymeric microparticles, pembentukan garam, dan nanopartikel. Dari semua teknik yang diterapkan telah terbukti dapat meningkatkan kelarutan dari carvedilol.ABSTRACTCarvedilol is a non-selective beta blocker with alpha-1 receptor blocking activity that is often prescribed for the treatment of cardiovascular disease. Carvedilol belongs to the BCS (Bipharmaceutical Classification System) class II which has high membrane permeability but has a slow dissolution rate due to low water solubility. This review contains techniques for increasing the solubility of carvedilol by conducting a literature search through national and international journals. Various types of drug solubility enhancement techniques have been applied to carvedilol such as solid dispersion with various preparation methods, c-MCMs, co-crystallization, cyclodextrin inclusion complex, supercritical carbon dioxide, hydrotropy, polymeric microparticles, salting, and nanoparticles. All the techniques have been shown to increase the solubility of carvedilol.
REVIEW: PENGGUNAAN TEKNOLOGI NANOSUSPENSI PADA FORMULASI OBAT HERBAL Fadlilah, Aida Roja; Gozali, Dolih
Farmaka Vol 20, No 1 (2022): Farmaka (Maret)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/farmaka.v20i1.33958

Abstract

AbstrakEfektivitas spesies tanaman obat tergantung pada kandungan senyawa aktifnya. Beberapa konstituen ekstrak yang aktif secara biologis sulit diserap tubuh, karena tidak dapat melintasi membran lipid sel atau memiliki ukuran molekul yang terlalu tinggi, mengakibatkan hilangnya bioavailabilitas dan efektifitas obat-obatan herbal. Berbagai teknologi dan pengembangan dilakukan untuk mengatasi masalah ini, salah satunya teknologi nano. Salah satu teknologi nano untuk drug delivery system adalah nanosuspensi. Nanosuspensi merupakan sistem dispersi koloidal, yang seluruhnya mengandung bahan obat berukuran 10 sampai 1000 nm. Review artikel ini membahas penggunaan teknologi nanosuspensi dan pengaruhnya pada bioavailabilitas obat herbal. Metode yang digunakan adalah studi literature  dari 18 jurnal acuan. Diperoleh hasil bahwa teknologi nanosuspensi dalam formulasi obat herbat dapat digunakan untuk meningkatkan bioavailabilitas, efektivitas, dan stabilitas.AbstractThe effectiveness of medicinal plant species depends on the content of the active compounds. Some of the biologically active constituents of the extract are difficult for the body to absorb, because they cannot cross cell lipid membranes or have too high a molecular size, resulting in loss of bioavailability and effectiveness of herbal medicines. Various technologies and developments have been carried out to overcome this problem, one of which is nanotechnology. One of the nanotechnology for drug delivery system is nanosuspension. Nanosuspension is a colloidal dispersion system, which entirely contains the drug substance in the size of 10 to 1000 nm. This review article discusses the use of nanosuspension technology and its effect on the bioavailability of herbal medicines. The method used is a literature study from 18 journal references. It was found that nanosuspension technology in herbal drug formulations can be used to increase bioavailability, efectivity, and stability. There are several commercial synthetic drug products that use nanosuspension technology in their formulations, but the application in herbal drug formulations is still being researched on a laboratory scale.
STUDI KASUS PEMANTAUAN TERAPI OBAT PASIEN COVID-19 DI RSU DI BANDUNG Iyan Rifky Hidayat; Tita Kusuma Wardani
Farmaka Vol 20, No 1 (2022): Farmaka (Maret)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/farmaka.v20i1.38275

Abstract

Pemantauan Terapi Obat (PTO) adalah suatu kegiatan untuk memastikan terapi obat yang aman, efektif, dan rasional bagi pasien. Kegiatan dalam PTO meliputi pengkajian pilihan obat, dosis, cara pemberian obat, respons terapi, reaksi obat yang tidak dikehendaki (ROTD),)dan rekomendasi perubahan atau alternatif terapi. Terdapat multi infeksi yang dialami oleh pasien, penelitian dilakukan untuk mengkaji profil pengobatan pasien rawat inap pada salah satu rumah sakit umum di Bandung untuk mengetahui, mengidentifikasi, dan mengevaluasi PTO pada pasien. Metode yang dilakukan adalah dengan cara identitas pasien pemeriksaan secara laboratorium, pemeriksaan tanda vital pasien, profil pengobatan pasien, dan analisa Aseesment and Plan (Identifikasi, manajemen dan plan DRP) berdasarkan data rekam medis pasien pada salah satu rumah sakit umum di Bandung. Kesimpulan dari studi kasus ini menyatakan bahwa pasien yang didiagnosis infeksi TBC, demam tifoid, dan positif COVID-19 kemudian diberikan terapi untuk masing-masing infeksi yang dideritanya dan keluhan lain yang menyertai. DRP yang terjadi pada pasien yaitu interaksi obat. Pasien dinyatakan membaik ketika keluar dari rumah sakit.ABSTRACTDrug Therapy Monitoring (PTO) is an activity to ensure safe, effective, and rational drug therapy for patients. Activities in PTO include assessment of drug choice, dosage, method of drug administration, response to therapy, unwanted drug reactions (ROTD), and recommendations for changes or alternative therapies. There are multiple infections experienced by patients, the study was conducted to examine the treatment profile of inpatients at a general hospital in Bandung to determine, identify, and evaluate PTO in patients. The method used is using laboratory examination of the patient's identity, examination of the patient's vital signs, patient's treatment profile, and analysis of the Assessment and Plan (Identification, management, and DRP plan) based on the patient's medical record data at a public hospital in Bandung. The conclusion of this case study states that patients diagnosed with TB infection, typhoid fever, and positive for COVID-19 were then given therapy for their respective infections and other accompanying complaints. DRP that occurs in patients is drug interactions. The patient was declared better when he was discharged from the hospital.

Filter by Year

2015 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 23, No 3 (2025): Farmaka (November) (In Press) Vol 23, No 2 (2025): Farmaka (Juli) (In Press) Vol 23, No 1 (2025): Farmaka (Maret) (In Press) Vol 22, No 3 (2024): Farmaka (November) Vol 22, No 2 (2024): Farmaka (Juli) Vol 22, No 1 (2024): Farmaka (Maret) Vol 21, No 3 (2023): Farmaka (November) Vol 21, No 2 (2023): Farmaka (Juli) Vol 21, No 1 (2023): Farmaka (Maret) Vol 20, No 3 (2022): Farmaka (November) Vol 20, No 2 (2022): Farmaka (Juli) Vol 20, No 1 (2022): Farmaka (Maret) Vol 19, No 4 (2021): Farmaka (Suplemen) Vol 19, No 3 (2021): Farmaka (November) Vol 19, No 2 (2021): Farmaka (Juli) Vol 19, No 1 (2021): Farmaka (Maret) Vol 18, No 4 (2020): Farmaka (Suplemen) Vol 18, No 3 (2020): Farmaka (November) Vol 18, No 2 (2020): Farmaka (September) Vol 18, No 1 (2020): Farmaka (Januari) Vol 17, No 3 (2019): Farmaka (Desember) Vol 17, No 2 (2019): Farmaka (Agustus) Vol 17, No 1 (2019): Farmaka (Supplemen) Vol 17, No 1 (2019): Farmaka (Februari) Vol 16, No 4 (2018): Prosiding Abstrak Pharmacopea 2018 Vol 16, No 3 (2018): Suplemen (September) Vol 16, No 3 (2018): Farmaka (September) Vol 16, No 2 (2018): Suplemen Agustus Vol 16, No 2 (2018): Farmaka (Agustus) Vol 16, No 1 (2018): Suplemen Juni Vol 16, No 1 (2018): Farmaka (Juni) Vol 15, No 4 (2017): Farmaka Desember Vol 15, No 3 (2017): Suplemen Desember Vol 15, No 3 (2017): Farmaka Vol 15, No 2 (2017): Farmaka Vol 15, No 2 (2017): Suplemen Vol 15, No 1 (2017): Farmaka (Maret) Vol 15, No 1 (2017): Suplemen Vol 14, No 4 (2016): Farmaka Vol 14, No 3 (2016): Farmaka Vol 14, No 2 (2016): Farmaka Vol 14, No 2 (2016): Suplemen Vol 14, No 1 (2016): Farmaka Vol 14, No 1 (2016): Supplement Vol 13, No 4 (2015): FARMAKA More Issue