cover
Contact Name
Angga Kautsar
Contact Email
jurnal.farmaka@unpad.ac.id
Phone
842 888888 Ext : 3510
Journal Mail Official
jurnal.farmaka@unpad.ac.id
Editorial Address
Gedung Laboratorium I Fakultas Farmasi, UNPAD Jl. Raya Jatinangor KM 21, Bandung-Sumedang, Indonesia 45363
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Farmaka
ISSN : 16931424     EISSN : 27163075     DOI : https://doi.org/10.24198/
Core Subject : Health, Science,
Farmaka is replacement for Pharmaceutical Bulletin, published since 1991, with a frequency of four times a year. Editors accept scholarly works of research results and literature review which was closely related to the science, pharmaceutical technology and practice.
Articles 784 Documents
Review Artikel: Strategi Pencegahan Healthcare-Associated Infection (HAIS) Dalam Menjaga Keselamatan Pasien Nurfadillah, Nisrina; Sumiwi, Sri Adi
Farmaka Vol 22, No 2 (2024): Farmaka (Juli)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/farmaka.v22i2.52453

Abstract

Healthcare-Associated Infections (HAIs) merupakan suatu infeksi yang diperoleh oleh pasien saat berada di lingkungan perawatan medis, seperti rumah sakit dan fasilitas kesehatan lainnya. HAIs dapat terjadi baik secara langsung ataupun tidak melalui prosedur medis atau juga melalui kontak dengan staf medis atau pasien lainnya. Hal ini menyebabkan terjadinya penyebaran bakteri dan virus yang dapat mengakibatkan varian infeksi yang bervariasi, dimana beberapa jenis infeksi dapat sangat berbahaya bagi pasien. Strategi pencegahan HAIs sangat penting untuk dikembangkan dan dilakukan oleh pusat-pusat perawatan medis. Berbagai strategi yang umum dilakukan adalah menjaga kebersihan tangan, lingkungan, pengelompokan pasien, surveilans, penggunaan antibiotik serta mengikuti pedoman. Melalui penerapan strategi pencegahan yang tepat, HAIs dapat ditekan dan dikelola secara efektif sehingga dapat meningkatkan keamanan dan keselamatan pasien.
Review: Penggunaan Statin sebagai Obat Off-Label Hartono, Ayu Previani; Sumiwi, Sri Adi
Farmaka Vol 21, No 3 (2023): Farmaka (November)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/farmaka.v21i3.46895

Abstract

Penggunaan obat off-label secara luas dikenal sebagai penggunaan obat yang tidak disetujui dari obat yang disetujui. Statin merupakan penghambat enzim hidroksimetilglutaril-CoA (HMG-CoA) yang menurunkan konsentrasi kolesterol total, lipoprotein densitas rendah (LDL), dan meningkatkan konsentrasi lipoprotein densitas tinggi (HDL). Selain itu, statin memiliki efek pleiotropik yang dapat memengaruhi patofisiologi penyakit termasuk modulasi respons imun, peningkatan proses anti-inflamasi, dan perubahan jalur pensinyalan yang melibatkan kolesterol. Oleh karena itu, statin berpotensi menjadi pilihan alternatif lain untuk terapi pada beberapa penyakit seperti hepatocellular carcinoma, rheumatoid arthritis, multiple sclerosis, dan COVID-19. Metode penelitian yang dilakukan adalah dengan meninjau pustaka secara digital dengan rentang waktu 2012-2022.
Tata Cara Pengajuan Notifikasi Produk Kosmetika Dalam Rangka Peningkatan Produk Kosmetik Yang Aman dan Bermutu di Bandung Jawa Barat Luthfiah, Annisa; Husni, Patihul
Farmaka Vol 22, No 1 (2024): Farmaka (Maret)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/farmaka.v22i1.51263

Abstract

Dalam peraturan badan pengawas obat dan makanan nomor 17 tahun 2023 tentang pedoman dokumen informasi produk kosmetik menyatakan bahwa setiap kosmetik yang diedarkan di wilayah Indonesia wajib telah memiliki izin edar berupa notifikasi. Berdasarkan Laporan Tahunan BBPOM di Bandung tahun 2022 dari hasil pemetaan rawan kasus di Jawa Barat ada sebanyak 7 data kasus kosmetik di wilayah Balai Besar POM di Bandung, yakni 7 data tersebut tanpa izin edar. Kemudian dalam data kerawanan kejahatan obat dan makanan di Kota Bandung terdapat 16 produk kosmetik yang ditemukan mengedarkan kosmetika tanpa izin edar secara online. Berdasarkan hasil data tersebut hal ini dapat disebabkan oleh kurangnya kesadaran dan pengetahuan pelaku usaha mengenai registrasi produk kosmetik. Tujuan artikel ini yaitu untuk menjelaskan tata cara pengajuan notifikasi dalam upaya meningkatkan tersebar luasnya produk kosmetik yang aman dan bermutu dengan memiliki notifikasi kosmetika. Penyusunan artikel ini mengacu pada studi literatur dari berbagai sumber referensi dan Peraturan BPOM yang mengacu terkait notifikasi kosmetik. Dengan adanya notifikasi, masyarakat dapat yakin bahwa produk kosmetik yang akan digunakan terjamin mutunya dan keamanannya serta tidak menimbulkan kerusakan kulit yang berbahaya bagi konsumen di kemudian hari. Adapun pengajuan notifikasi ini dimulai melalui laman OSS, yang kemudian akan terintegrasi dengan sistem dari Badan POM yaitu notifkos dimana pada sistem ini akan memproses persyaratan, pembayaran, verifikasi, evaluasi hingga mendapatkan notifikasi persetujuam atau penolakan.Kata kunci: notifikasi, kosmetik, BPOM, OSS.
Review Artikel: Tumbuhan Obat Mondokaki (Tabernaemontana divaricata (L). R.Br) Fadhli, Haiyul; Fadhila, Qonita Nur; Djohari, Meiriza; Ulfa, Rodhia
Farmaka Vol 21, No 3 (2023): Farmaka (November)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/farmaka.v21i3.49056

Abstract

Tanaman mondocaki (Tabernaemontana divaricata (L.R.Br.)) merupakan tanaman dalam famili Apocynaceae. Review artikel ini dibuat untuk memberikan informasi tentang kegunaan tanaman mondokaki dalam pengobatan herbal. Literatur online dan offline digunakan untuk ulasan artikel ini. Literatur online bersumber dari publikasi jurnal lokal dan internasional yang bersumber dari penyedia jurnal di internet. Literatur offline menggunakan buku atau e-book. Berdasarkan literatur yang diperoleh, tanaman ini telah digunakan secara tradisional untuk mengobati berbagai penyakit seperti patah tulang, demam, sakit kepala, dan sebagainya. Metabolit sekunder tanaman ini telah diisolasi dari daun, bunga dan batang. Bagian daunnya mengandung alkaloid indole staffinin, dimer alkaloid indole seperti conofylline dan conofylidine. Bunga tanaman ini mengandung amyrin acetate, lupeol, sitosterol, stigmasterol, flavon dan apigenin. Batangnya mengandung coronidine, heyneanin dan voacristin. Tumbuhan ini memiliki efek farmakologi seperti anti-inflamasi, anti-kanker, anti-diabetes, analgesik, antioksidan, antimikroba dan efek lainnya.
Pengukuran Nilai Pertukaran Udara pada Sistem Air Handling Unit untuk Pemeriksaan Pra-kualifikasi di Industri Farmasi Azzahra, Salwa Putri; Wardhana, Yoga Windhu
Farmaka Vol 22, No 2 (2024): Farmaka (Juli)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/farmaka.v22i2.53550

Abstract

Dalam menjamin proses produksinya telah sesuai dengan persyaratan pada pedoman Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB), maka industri farmasi perlu melakukan kualifikasi terhadap sarana penunjang seperti sistem tata udara agar tercapainya ruang bersih. Sebelum kualifikasi dilakukan perlu mempelajari kelayakan sistem melalui pra-kualifikasi. Hasil dari pra-kualifikasi berupa nilai pertukaran udara Air Handling Unit (AHU) untuk memastikan bahwa seluruh AHU beroperasi dengan baik. Metode pra-kualifikasi dilakukan dengan mengukur kecepatan udara pada seluruh Supply Air Grill di gedung produksi sebanyak 2 siklus menggunakan alat anemometer yang sudah terkalibrasi dan data diolah menjadi nilai pertukaran udara. Hasil pemeriksaan dari salah satu industry farmasi menunjukkan bahwa hampir seluruh ruang produksi kelas E memenuhi spesifikasi, kecuali pada 7 ruangan yang tidak memenuhi spesifikasi pertukaran udara yaitu ruang AL3, ALS5, ALS11, ALS12, ALS17, S8, dan S9 dengan nilai pertukaran udara berada pada nilai <6 kali/jam. Faktor-faktor yang mempengaruhi ketidaksesuaian pertukaran udara diantaranya pemilihan filter yang digunakan, pengaturan damper, tekanan ruangan, prosedur pengujian yang kurang tepat dan kondisi alat ukur. Agar ketujuh ruangan memenuhi persyaratan diperlukan perbaikan terlebih dahulu pada sistem AHU, sehingga rentang spesifikasi pertukaran udara sesuai persyaratan CPOB.
Identifikasi Potensi Interaksi Antar Obat Pada Resep Pasien Gangguan Pencernaan di Apotek X Periode Februari 2023 Neli, Neli; Susilawati, Yasmiwar
Farmaka Vol 21, No 3 (2023): Farmaka (November)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/farmaka.v21i3.46806

Abstract

Penyakit gangguan pencernaan merupakan salah satu penyakit yang umum dialami oleh masyarakat terutama di Indonesia penyakit gastritis mencapai 40,8% sedangkan diare di negara berkembang dapat menyebabkan 1,5 juta kematian. Dengan demikian, pasien gangguan pencernaan semakin meningkat yang menimbulkan akan banyaknya obat yang diresepkan dan potensi interaksi obat akan meningkat. Interaksi obat dapat menyebabkan berkurangnya efek klinis dari salah satu obat atau dapat menurunkan efek toksik pada salah satu obat, sehingga interaksi obat dapat mempengaruhi keefektivitasan obat dalam penyembuhan pasien. Oleh karena itu dilakukan identifikasi potensi interaksi obat untuk meningkatkan kualitas hidup pasien dengan memilih resep pada pasien gangguan pencernaan secara acak lalu menentukan interaksi obat yang terjadi melalu website drugs.com dan Medscape. Hasil yang didapat dari 60 resep yang diambil secara acak didapat 29 interaksi antar obat diantaranya yaitu interaksi moderate 62,06% dan minor 37,93%.Kata kunci: Gangguan Pencernaan, Apotek, Interaksi Obat 
PENGUJIAN KEMAMPUAN PRODUK TABIR SURYA MEMPERTAHANKAN KELEMBAPAN KULIT PADA WANITA Salsabila, Esa Balqis; Wardhana, Yoga Windhu
Farmaka Vol 22, No 1 (2024): Farmaka (Maret)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/farmaka.v22i1.53655

Abstract

Kulit yang lembap dan sehat adalah kunci untuk penampilan yang segar dan awet muda. Sayangnya, sinar matahari bisa mengeringkan kulit dan membuatnya tampak kusam. Tabir surya merupakan produk penting untuk melindungi kulit dari kerusakan akibat sinar matahari. tetapi beberapa tabir surya dapat menyebabkan kulit menjadi kering. Studi ini bertujuan untuk menilai kemampuan salah satu produk tabir surya dalam mempertahankan kadar kelembapan kulit pada subjek wanita. Studi ini melibatkan 21 subjek wanita berusia 21-33 tahun dengan jenis kulit normal. Kelompok uji terdiri dari kelompok kontrol dan kelompok sampel pada masing-masing subjek. Subjek diukur kadar kelembaban kulit secara triplo sebelum dan setelah aplikasi produk tabir surya dengan periode pengamatan meliputi t0 (sebelum aplikasi), t15m (setelah 15 menit), t2j (setelah 2 jam), t3j(Setelah 3 jam) dan t5j (setelah 5 jam) menggunakan corneometer CM 825. Kadar kelembapan kulit pada kelompok kontrol pada t15m, t2j, t3j, dan t5j berturut-turut mengalami penurunan dibandingkan t0 yaitu 6,2%, 0,4%, 1,1%, dan 1,1%. Hasil uji ANOVA menunjukan p>0,05 yang berarti tidak terdapat perbedaan kadar kelembapan yang signifikan. Kadar kelembapan kulit pada kelompok sampel mengalami peningkatan dengan dibandingkan t0 yaitu pada t15m, t2j, t3j, dan t5j berturut-turut meningkat sebesar 77,14%, 60,75%,58%, 48%. Hasil uji ANOVA menunjukkan nilai p<0,05 yang berarti terdapat perbedaan kadar kelembapan kulit yang signifikan pada kulit yang diberi tabir surya. Kadar kelembapan mulai menurun setelah 2 jam namun penurunan yang terjadi tidak signifikan dibandingkan dengan t15m (p=0.948). Dapat disimpulkan bahwa tabir surya tersebut mampu mempertahankan kelembapan kulit hingga 5 jam.Kata kunci: kulit, tabir surya, kelembapan, kadar.
REVIEW : PERBANDINGAN ANTARA TERAPI ANTIBIOTIK LEVOFLOXACIN JANGKA PENDEK DOSIS TINGGI DENGAN DOSIS REGIMEN KONVENSIONAL PADA PASIEN PNEUMONIA Putriyanti, Al-fira; Mulyani, Yani; Isvahanie, Salsha Rifa
Farmaka Vol 22, No 3 (2024): Farmaka (November)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/farmaka.v22i3.56684

Abstract

Pneumonia merupakan infeksi saluran pernapasan bawah yang menyebabkan inflamasi pada alveoli paru-paru. Penyebab pneumonia salah satunya oleh bakteri streptococcus pneumoniae. Pengobatan yang tepat dan cepat sangat penting untuk mengurangi morbiditas dan mortalitas yang terkait dengan penyakit ini. Pengobatan pneumonia bakterial sering melibatkan penggunaan antibiotik, dengan levofloxacin sebagai salah satu pilihan utama karena spektrum aktivitasnya yang luas. Namun, durasi optimal terapi antibiotik masih menjadi perdebatan, apakah terapi jangka pendek atau jangka panjang lebih efektif dalam mempercepat pemulihan pasien. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan efektivitas terapi antibiotik levofloxacin jangka panjang dan jangka pendek dalam masa waktu pemulihan pasien dengan pneumonia bakterial. Data dari berbagai studi klinis dan penelitian observasional dari tahun 2014 hingga 2024 dianalisis untuk mengevaluasi durasi optimal terapi dalam hal penyembuhan klinis, risiko kekambuhan, dan pengembangan resistensi antibiotik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terapi jangka pendek seringkali sama efektifnya dengan terapi jangka panjang dalam mencapai penyembuhan klinis, dengan keuntungan tambahan berupa pengurangan risiko efek samping dan resistensi antibiotik. Namun, terapi jangka panjang mungkin diperlukan untuk kasus dengan keparahan lebih tinggi atau komorbiditas tertentu untuk memastikan eradikasi patogen sepenuhnya. Temuan ini mengindikasikan bahwa durasi terapi antibiotik harus disesuaikan dengan kondisi klinis spesifik pasien untuk mencapai hasil optimal.
REVIEW ARTIKEL: PROFIL FITOKIMIA DAN AKTIVITAS ANTIOKSIDAN BUAH TIN (FICUS CARICA L.) Ichsani, Luthfia Nur; Indradi, Raden Bayu
Farmaka Vol 22, No 3 (2024): Farmaka (November)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/farmaka.v22i3.55495

Abstract

Stres oksidatif merupakan kondisi ketidakseimbangan sistem oksidatif akibat terbentuknya radikal bebas dalam tubuh. Tubuh memerlukan senyawa antioksidan untuk melawan radikal bebas yang dapat diperoleh dari berbagai sumber, termasuk tumbuhan. Antioksidan merupakan senyawa yang mampu mencegah terjadinya oksidasi melalui mekanisme donor elektron terhadap radikal bebas. Review artikel ini bertujuan untuk untuk menyajikan rangkuman yang komprehensif terkait profil fitokimia dan aktivitas antioksidan buah tin.  Metode tinjauan pustaka dilakukan melalui pencarian informasi dengan kata kunci profil fitokimia, aktivitas, antioksidan, dan Ficus carica pada database PubMed serta Google Scholar. Hasil tinjauan pustaka menunjukkan bahwa buah tin mengandung senyawa bioaktif seperti fenolik, flavonoid, terpenoid, alkaloid, dan asam lemak. Berbagai penelitian menunjukkan buah tin kaya akan kandungan antioksidan yang telah dibuktikan melalui berbagai metode pengujian seperti DPPH, FRAP, ABTS, dan pembasmian H2O2. Kandungan antioksidan yang tinggi dalam buah tin dapat dimanfaatkan secara optimal dalam pencegahan dan pengobatan penyakit.
REVIEW JURNAL: FORMULASI DAN EVALUASI SEDIAAN GRANUL BAHAN ALAM Asherlia, Dwita; Lian, Kevin Efraim; Kiik, Rosa Virginia; Kasihtheisya, Naida; Pahlevi, Muhamad Reza; Pratama, Reza
Farmaka Vol 22, No 3 (2024): Farmaka (November)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/farmaka.v22i3.56226

Abstract

Bahan alam merupakan bahan dari alam baik yang mengalami proses pengolahan ataupun tidak dengan untuk tujuan kesehatan, sumber alam yang digunakan bisa didapatkan dari tumbuhan, hewan, maupun mineral. Berdasarkan survey yang dilakukan oleh WHO diketahui bahwa sebesar 88% bahan alam digunakan sebagai obat. Sedangkan, di Indonesia menurut survey data Riskesdas, bahan alam yang digunakan sebagai obat pada tahun 2018 sebesar 48%. Bahan alam yang digunakan biasanya diolah menjadi produk granul. Review jurnal dilakukan dengan mengumpulkan beberapa sumber data primer yaitu artikel jurnal pada situs resmi PubMed dan Sinta. Formulasi yang banyak digunakan untuk membuat granul yaitu granulasi basah dan granulasi kering yang diformulasikan dengan penambahan bahan eksipien berupa pengisi, pemanis, pengikat, penghancur, pelicin (glidant, lubrikan dan antiadherent). Evaluasi yang dilakukan diantaranya uji kelembaban, organoleptik, laju alir, sudut istirahat, densitas dan kompresibilitas, distribusi ukuran partikel, uji disolusi, uji pH, uji volume tuang, uji volume guncang, uji waktu dispersi, uji kerapuhan, uji porositas, uji waktu larut, uji susut pengeringan granul, indeks kompresibilitas dan rasio Hausner.

Filter by Year

2015 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 23, No 3 (2025): Farmaka (November) (In Press) Vol 23, No 2 (2025): Farmaka (Juli) (In Press) Vol 23, No 1 (2025): Farmaka (Maret) (In Press) Vol 22, No 3 (2024): Farmaka (November) Vol 22, No 2 (2024): Farmaka (Juli) Vol 22, No 1 (2024): Farmaka (Maret) Vol 21, No 3 (2023): Farmaka (November) Vol 21, No 2 (2023): Farmaka (Juli) Vol 21, No 1 (2023): Farmaka (Maret) Vol 20, No 3 (2022): Farmaka (November) Vol 20, No 2 (2022): Farmaka (Juli) Vol 20, No 1 (2022): Farmaka (Maret) Vol 19, No 4 (2021): Farmaka (Suplemen) Vol 19, No 3 (2021): Farmaka (November) Vol 19, No 2 (2021): Farmaka (Juli) Vol 19, No 1 (2021): Farmaka (Maret) Vol 18, No 4 (2020): Farmaka (Suplemen) Vol 18, No 3 (2020): Farmaka (November) Vol 18, No 2 (2020): Farmaka (September) Vol 18, No 1 (2020): Farmaka (Januari) Vol 17, No 3 (2019): Farmaka (Desember) Vol 17, No 2 (2019): Farmaka (Agustus) Vol 17, No 1 (2019): Farmaka (Supplemen) Vol 17, No 1 (2019): Farmaka (Februari) Vol 16, No 4 (2018): Prosiding Abstrak Pharmacopea 2018 Vol 16, No 3 (2018): Suplemen (September) Vol 16, No 3 (2018): Farmaka (September) Vol 16, No 2 (2018): Suplemen Agustus Vol 16, No 2 (2018): Farmaka (Agustus) Vol 16, No 1 (2018): Suplemen Juni Vol 16, No 1 (2018): Farmaka (Juni) Vol 15, No 4 (2017): Farmaka Desember Vol 15, No 3 (2017): Suplemen Desember Vol 15, No 3 (2017): Farmaka Vol 15, No 2 (2017): Farmaka Vol 15, No 2 (2017): Suplemen Vol 15, No 1 (2017): Suplemen Vol 15, No 1 (2017): Farmaka (Maret) Vol 14, No 4 (2016): Farmaka Vol 14, No 3 (2016): Farmaka Vol 14, No 2 (2016): Suplemen Vol 14, No 2 (2016): Farmaka Vol 14, No 1 (2016): Supplement Vol 14, No 1 (2016): Farmaka Vol 13, No 4 (2015): FARMAKA More Issue