cover
Contact Name
Angga Kautsar
Contact Email
jurnal.farmaka@unpad.ac.id
Phone
842 888888 Ext : 3510
Journal Mail Official
jurnal.farmaka@unpad.ac.id
Editorial Address
Gedung Laboratorium I Fakultas Farmasi, UNPAD Jl. Raya Jatinangor KM 21, Bandung-Sumedang, Indonesia 45363
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Farmaka
ISSN : 16931424     EISSN : 27163075     DOI : https://doi.org/10.24198/
Core Subject : Health, Science,
Farmaka is replacement for Pharmaceutical Bulletin, published since 1991, with a frequency of four times a year. Editors accept scholarly works of research results and literature review which was closely related to the science, pharmaceutical technology and practice.
Articles 784 Documents
PENERAPAN REGULASI BPOM DALAM IKLAN KOSMETIK : UPAYA PERLINDUNGAN KONSUMEN DARI KLAIM TIDAK TEPAT DI JAWA BARAT Winardi, Devani Olivia; Ramadhania, Zelika Mega
Farmaka Vol 23, No 1 (2025): Farmaka (Maret) (In Press)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/farmaka.v23i1.65336

Abstract

Iklan kosmetik merupakan salah satu bentuk komunikasi pemasaran yang dirancang untuk menyampaikan manfaat, keamanan, dan kualitas produk kepada konsumen. Di Indonesia, praktik ini diatur secara ketat melalui Peraturan BPOM No. 18 Tahun 2024 tentang Penandaan, Promosi, dan Iklan Kosmetik, serta Peraturan BPOM No. 3 Tahun 2022 mengenai Persyaratan Teknis Klaim Kosmetika. Pengawasan terhadap kepatuhan iklan menjadi krusial untuk mencegah klaim yang menyesatkan. Berdasarkan laporan BBPOM Bandung selama 2022–2024, pelanggaran paling sering ditemukan pada iklan digital. Pada tahun 2022 dan 2023, dari 450 iklan yang diawasi, 6,4% dinyatakan tidak memenuhi ketentuan (TMK), seluruhnya berasal dari media digital. Pada 2024, tingkat pengawasan menurun (316 iklan), namun persentase pelanggaran meningkat signifikan menjadi 26,6%, dengan 91% berasal dari media digital. Pelanggaran didominasi oleh klaim berlebihan dan klaim di luar fungsi produk. Artikel ini menganalisis ketentuan iklan kosmetik sesuai regulasi BPOM dan memetakan pola pelanggaran aktual, dengan tujuan meningkatkan pemahaman pelaku usaha serta perlindungan konsumen. Berbeda dari studi sebelumnya yang lebih normatif, artikel ini menyajikan pendekatan berbasis data pengawasan, sehingga memberikan kontribusi empiris terhadap penguatan pengawasan iklan kosmetik di era digital.
REVIEW ARTIKEL: EVALUASI STRATEGI TAPERING OFF PADA PENGGUNAAN KORTIKOSTEROID JANGKA PANJANG Darmawan, Michelle; Sumiwi, Sri Adi
Farmaka Vol 23, No 1 (2025): Farmaka (Maret) (In Press)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/farmaka.v23i1.62191

Abstract

Penggunaan kortikosteroid jangka panjang dalam penatalaksanaan berbagai kondisi medis seringkali diperlukan, namun berhubungan dengan efek samping serius. Oleh karena itu, strategi tapering off menjadi sangat penting untuk diterapkan. Review artikel ini bertujuan untuk mengevaluasi berbagai strategi tapering off kortikosteroid yang telah diteliti serta implikasi klinisnya. Penelusuran literatur dilakukan pada basis data Google Scholar, PubMed, dan Sciencedirect selama 10 tahun terkahir. Studi yang diulas mengungkap bahwa keberhasilan tapering off sangat bergantung pada pendekatan yang dipersonalisasi, dengan mempertimbangkan kondisi klinis, tingkat keparahan penyakit, respons individu terhadap terapi, dan risiko kekambuhan. Temuan menunjukkan bahwa penghentian mendadak pada dosis kortikosteroid yang tinggi dapat memicu relapse dan perburukan kondisi, sementara penggunaan agen steroid-sparing sebagai bagian dari strategi tapering off dapat mengurangi kebutuhan kortikosteroid dan efek sampingnya. Implikasi klinis dari review ini menekankan pentingnya pemantauan ketat dan penyesuaian dosis secara bertahap untuk mengoptimalkan outcome terapi dan meningkatkan kualitas hidup pasien.
MEMBANGUN INDUSTRI PODP YANG BERDAYA SAING : REFLEKSI GLOBAL DAN RENCANA STRATEGIS INDONESIA Az Zahra, Nisrina Nabila; Susatia, Vania Anindira; Yani, Indri Widuri; Faisal, Davin Ezra Alkan Al; Roestan, Mas Rahman; Nurrasjid, Evi Sylvia; Kautsar, Angga Prawira
Farmaka Vol 22, No 3 (2024): Farmaka (November)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/farmaka.v22i3.64521

Abstract

Produk obat derivat plasma (PODP) merupakan hasil pengolahan plasma darah manusia yang digunakan untuk mengobati berbagai kondisi medis, seperti gangguan imun, hemofilia, dan penyakit autoimun. Penggunaan PODP semakin meluas seiring berkembangnya teknologi dan meningkatnya kebutuhan terapi berbasis protein plasma. Namun, perkembangan PODP di Indonesia masih menghadapi tantangan besar, mulai dari keterbatasan pasokan plasma berkualitas hingga ketergantungan pada produk impor. Artikel ini menyajikan tinjauan mengenai jenis PODP, proses produksinya, sistem deteksi patogen, serta upaya global dalam menjamin keamanan dan ketersediaan produk. Tinjauan ini didasarkan pada literatur dari basis data ilmiah seperti Embase, PubMed, EBSCO, dan World of Science dengan kata kunci terkait seperti “plasma-derived medicinal products”, “plasma-derived medicinal products”, dan “plasma fractionation”, yang mencakup aspek klinis, produksi, regulasi, dan industri dari PODP. Kajian ini juga menyoroti potensi Indonesia dalam membangun sistem produksi PODP yang mandiri dan berkelanjutan. Melalui pemahaman yang komprehensif, diharapkan artikel ini dapat menjadi referensi bagi pemangku kebijakan dan praktisi kesehatan dalam merumuskan strategi nasional yang tepat. Melalui tinjauan ini, disimpulkan bahwa dengan komitmen kebijakan yang kuat, peningkatan infrastruktur, dan kolaborasi lintas sektor, Indonesia memiliki peluang besar untuk mengembangkan industri PODP yang aman, mandiri, dan berdaya saing global.
REVIEW ARTIKEL: KAJIAN PROFIL FITOKIMIA DAN AKTIVITAS FARMAKOLOGI RIMPANG TEMU HITAM (Curcuma aeruginosa Roxb.) Djamaluddin, Muhammad Ilham; Hendriani, Rini
Farmaka Vol 22, No 3 (2024): Farmaka (November)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/farmaka.v22i3.56079

Abstract

Dalam pengobatan tradisional, berbagai tanaman rimpang-rimpangan seperti kunyit, jahe, temulawak, dan kencur sering dimanfaatkan untuk menjaga kesehatan dan mengobati bermacam penyakit. Salah satu rimpang berkhasiat yang masih jarang diketahui, ialah temu hitam (Curcuma aeruginosa Roxb.). Secara turun-temurun rimpang temu hitam dipercaya dapat mengatasi sakit perut, batuk, asma, kudis, mempercepat pengeluaran lokia selama masa nifas, kegemukan, rematik, kecacingan dan gangguan mental. Dengan ditulisnya review artikel ini diharapkan dapat memberikan informasi tentang kandungan fitokimia beserta beberapa efek farmakologi rimpang temu hitam (C. aeruginosa) yang telah teruji baik secara in vitro, in vivo maupun uji klinis. Semua literatur diperoleh dari Scopus dan Pubmed yang dipilih berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi yang telah ditentukan. Hasil studi diperoleh rimpang temu hitam mengandung alkaloid, flavonoid, tanin, saponin dan terpenoid, dengan kandungan utama berupa senyawa-senyawa turunan terpenoid. Senyawa-senyawa terpenoid inilah yang membuat rimpang temu hitam memiliki aktivitas sebagai antioksidan, anti inflamasi, anti kanker, antidiabetes, antimikroba dan antiandrogen.
ANALISIS SAFETY STOCK DAN REORDER POINT OBAT DI PUSKESMAS X KOTA BANDUNG UNTUK OPTIMALISASI MANAJEMEN PERSEDIAAN Lestyawan, Samuel; Ramadhania, Zelika Mega; Kusumastuti, Herfina Tri
Farmaka Vol 23, No 1 (2025): Farmaka (Maret) (In Press)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/farmaka.v23i1.65586

Abstract

Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) merupakan Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama yang menyelenggarakan upaya kesehatan. Sedangkan obat mejadi komponen penting dalam mendukung upaya pelayanan kesehatan di puskesmas. Maka, diperlukan penyelenggaraan pelayanan kefarmasian yang optimal di puskesmas untuk memastikan ketersediaan, pengelolaan, dan penggunaan obat yang efektif dan rasional bagi masyarakat. Salah satu bentuk pelayanan kefarmasian tersebut adalah pengendalian perbekalan farmasi yang bertujuan untuk memastikan stok tetap optimal. Pengendalian perbekalan farmasi dapat dilakukan melalui analisis safety stock dan re-order point. Safety stock merupakan stok yang harus tersedia untuk mengantisipasi hal-hal tidak terduga yang akan terjadi, sementara itu, re-order point merupakan titik jumlah stok di mana harus dilakukan pemesanan kembali. Setelah dilakukan perhitungan safety stock dan re-order point di Puskesmas X, didapatkan persediaan dengan safety stock dan re-order point paling tinggi adalah tablet parasetamol 500 mg, kapsul N-asetilsistein 200 mg, kapsul amoksisilin 500 mg, tablet vitamin B kompleks, dan tablet kalsium laktat dengan nilai safety stock berturut-turut adalah 3602, 2425, 2153, 2009, dan 1392 serta nilai re-order point berturut-turut adalah 5359, 2608, 3203, 2989, dan 2071. Nilai-nilai tersebut selaras dengan nilai penggunaan di mana kelima persediaan tersebut penggunaannya paling besar. Diharapkan dengan ditentukannya nilai safety stock dan re-order point, Puskesmas X dapat lebih optimal dalam mengelola persediaan farmasi, terutama dalam menentukan waktu pemesanan ke PBF.
ANALISIS PENGENDALIAN OBAT ANTIDIABETES DENGAN METODE MINIMUM MAXIMUM STOCK LEVEL DI KLINIK X BANDUNG (APRIL-JUNI 2025) Maharani, Devita Salsa; Lestari, Keri; Ramadhan, Iqbal Sujida; Zaerani, Rani
Farmaka Vol 23, No 3 (2025): Farmaka (November) (In Press)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/farmaka.v23i3.66725

Abstract

Pelayanan kefarmasian yang optimal menjadi bagian penting dalam meningkatkan mutu layanan kesehatan di klinik. Pengeloaan sediaan farmasi harus dapat memastikan ketersediaan obat yang memiliki mutu tinggi dan sesuai dengan kebutuhan agar dapat mencegah terjadinya kekurangan obat (stockout) maupun kelebihan obat (stagnant). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengendalian persediaan obat antidiabetes menggunakan metode Minimum-Maximum Stock Level (MMSL) di instalasi farmasi salah satu klinik di Bandung. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif melalui tahapan pengumpulan data dan wawancara dengan apoteker di klinik terkait rata-rata penggunaan obat per hari, lead time, dan periode pengadaan pada 3 bulan terakhir yaitu April-Juni 2025, selanjutnya dilakukan perhitungan serta analisis menggunakan metode MMSL. Sampel dalam penelitian ini adalah seluruh jenis obat antidiabetes yang tersedia di Klinik X Bandung. Sampel ditentukan berdasarkan data penggunaan obat yang tercatat dalam sistem pengelolaan obat. Jenis obat yang dianalisis terbatas pada golongan antidiabetes, sedangkan insulin dan obat lain di luar kategori tersebut tidak termasuk dalam penelitian. Hasil analisis menunjukkan bahwa obat antidiabetes dengan kebutuhan persediaan item tertinggi adalah Metformin 500 mg dengan batas minimum sebanyak 4.158 tablet dan batas maksimum sebanyak 13.068 tablet, sedangkan jumlah persediaan terendah adalah Fonylin MR 60 mg dengan batas minimum 30 tablet dan batas maksimum 180 tablet. Penerapan metode MMSL dapat dijadikan estimasi mengenai kebutuhan persediaan obat yang lebih terukur sehingga dapat dijadikan acuan dalam pengadaan dan pengendalian obat di instalasi farmasi klinik.
PERBANDINGAN METODE TEKNOLOGI HIBRIDOMA DAN KROMATOGRAFI BERBASIS PROTEIN A DENGAN KOLOM NANOFIBER DALAM MEMPRODUKSI ANTIBODI MONOKLONAL UNTUK PASIEN COVID-19 Irawan, Alvin; Halley, Carmine Sebastian; Dharmalau, Richanda Surya; Tobian, Nikolaus; Saputra, Rivaldo
Farmaka Vol 23, No 3 (2025): Farmaka (November) (In Press)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/farmaka.v23i3.64112

Abstract

Pandemi COVID-19 yang dimulai pada akhir 2019 telah memengaruhi berbagai aspek kehidupan secara global, termasuk kesehatan, ekonomi, dan sosial. Dalam upaya mengatasi pandemi ini, antibodi monoklonal menjadi salah satu solusi terapi yang terus dikembangkan karena kemampuannya yang spesifik dalam mengenali dan melawan antigen virus. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi dua metode produksi antibodi monoklonal, yaitu teknologi hibridoma dan kromatografi protein A. Artikel yang relevan diambil dari database PubMed menggunakan kata kunci seperti COVID-19, hibridoma, antibodi monoklonal, dan kromatografi protein A. Hasil yang didapatkan menunjukkan bahwa teknologi hibridoma memungkinkan produksi antibodi monoklonal dengan spesifisitas tinggi melalui penggabungan sel limfosit B dan sel mieloma. Teknik ini memiliki keunggulan seperti kemampuan produksi tanpa batas, efektivitas biaya, serta penyimpanan jangka panjang melalui kriopreservasi. Namun, metode ini membutuhkan waktu produksi yang lama dan persyaratan sterilitas yang tinggi. Di sisi lain, metode kromatografi protein A memanfaatkan resin protein A untuk menangkap imunoglobulin G, menghasilkan produk dengan kemurnian tinggi. Kelebihan metode ini meliputi sensitivitas tinggi terhadap kontaminasi, efisiensi waktu, dan biaya produksi yang lebih rendah. Namun, risiko pembentukan agregat antibodi akibat perubahan pH mendadak menjadi tantangan yang perlu diatasi. Secara keseluruhan, kromatografi protein A lebih efisien dan berpotensi menjadi metode standar produksi antibodi monoklonal berskala besar. Namun, penelitian lanjutan diperlukan untuk mengatasi keterbatasan dalam membandingkan kedua metode secara langsung, terutama pada skala produksi massal. Dengan mengintegrasikan teknologi baru, pengembangan antibodi monoklonal dapat semakin mendukung upaya melawan pandemi dan meningkatkan kesiapan dalam menghadapi penyakit menular di masa depan.
TINJAUAN LITERATUR: ANALISIS EFEKTIFITAS OBAT AMLODIPINE SEBAGAI PENGOBATAN LINI PERTAMA PADA PENDERITA HIPERTENSI Setiawan, Rizky; Haq, Fatih Izzul; Puspita, Falerina; Kautsar, Angga Prawira
Farmaka Vol 23, No 2 (2025): Farmaka (Juli) (In Press)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/farmaka.v23i2.66783

Abstract

Hipertensi merupakan masalah kesehatan utama di Indonesia dengan prevalensi tinggi, sehingga penatalaksanaan lini pertama yang efektif sangat krusial. Amlodipine, sebagai calcium channel blocker (CCB), adalah salah satu obat yang paling sering diresepkan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara komprehensif efektivitas Amlodipine sebagai terapi lini pertama melalui tinjauan literatur dari berbagai jurnal penelitian, konsensus nasional (PERHI), dan pedoman klinis (Kemenkes RI, ESH), dengan fokus pada efikasi, pola penggunaan, dan efektivitas biaya. Hasil analisis menunjukkan Amlodipine secara konsisten menjadi salah satu obat yang paling banyak digunakan. Studi komparatif membuktikan efektivitas Amlodipine sebagai monoterapi seringkali lebih unggul atau setara dengan agen lini pertama lainnya seperti ACEI dan ARB. Keunggulan signifikan juga ditemukan pada analisis efektivitas biaya, di mana beberapa studi melaporkan nilai Average Cost-Effectiveness Ratio (ACER) yang lebih rendah dibandingkan obat lain, serta memegang peran kunci sebagai komponen fondasi dalam strategi terapi kombinasi modern. Berdasarkan bukti yang dianalisis, Amlodipine merupakan pilihan terapi lini pertama yang sangat efektif, efisien dari segi biaya, dan relevan dalam strategi pengobatan hipertensi modern, menjadikannya salah satu andalan dalam tatalaksana hipertensi.Kata kunci: Amlodipine, Efektivitas Obat, Hipertensi
Evaluasi Kepatuan Penyimpanan Narkotika, Psikotropika, Dan Prekursor (NPP) Di Gudang Penyimpanan Pedangan Besar Farmasi (PBF) Di Kota Cirebon Apriyani, Mila; Husni, Patihul
Farmaka Vol 23, No 2 (2025): Farmaka (Juli) (In Press)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/farmaka.v23i2.65473

Abstract

Narkotika, Psikotropika, dan Prekursor (NPP) merupakan bahan yang memiliki potensi penyalahgunaan tinggi dan efek farmakologis yang signifikan. Oleh karena itu, penyimpanan dan distribusinya harus memenuhi standar regulasi yang ketat, termasuk pedoman Cara Distribusi Obat yang Baik (CDOB) sebagaimana tercantum dalam Peraturan BPOM No. 9 Tahun 2024 dan No. 12 Tahun 2025. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi tingkat kepatuhan tempat penyimpanan NPP pada gudang Pedagang Besar Farmasi (PBF) di Kota Cirebon terhadap standar CDOB. Penelitian menggunakan pendekatan observasional-deskriptif dengan metode evaluatif. Data dikumpulkan melalui observasi langsung, wawancara dengan personel kunci, serta checklist berbasis prinsip CDOB. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kepatuhan penyimpanan NPP mencapai 100% dengan seluruh 25 indikator CDOB terpenuhi, meliputi aspek infrastruktur, keamanan, penyimpanan produk khusus, manajemen stok, pencatatan, dan kebersihan. Capaian ini berbeda dengan beberapa penelitian lain yang melaporkan adanya ketidakpatuhan di sejumlah PBF, namun sejalan dengan temuan di wilayah Bandung yang menunjukkan kepatuhan penuh. Penelitian ini menyimpulkan bahwa penerapan standar penyimpanan NPP di PBF Kota Cirebon telah optimal, meskipun masih diperlukan peningkatan berkelanjutan melalui pelatihan rutin, audit internal, dan pemanfaatan teknologi digital untuk mendukung efisiensi serta transparansi sistem distribusi.
STUDI RETROSPEKTIF POTENSI KEJADIAN INTERAKSI OBAT PADA PASIEN POLI JANTUNG DI KLINIK X KOTA BANDUNG PADA PERIODE JANUARI-MARET 2025 Khaerani, Fitri Azlia; Khoirunnisa, Izzatul; Dandan, Keri Lestari
Farmaka Vol 23, No 3 (2025): Farmaka (November) (In Press)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/farmaka.v23i3.66808

Abstract

Rasionalitas obat sebagai salah satu bentuk dari pelayanan kefarmasian yang berorientasi pada pasien menjadi hal yang krusial, mengingat angka kejadian penyakit kardiovaskuler yang semakin meningkat sehingga pasien dengan polifarmasi pun turut meningkat. Penggunaan obat yang kian bertambah menjadi salah satu potensi terjadinya permasalahan terkait obat berupa interaksi obat. Oleh karena itu, diperlukan studi analisis kejadian interaksi obat sebagai langkah preventif terjadinya risiko mortalitas dan morbiditas. Proses identifikasi interaksi obat dilakukan melalui pengambilan resep dari salah satu dokter poli jantung pada Klinik X Kota Bandung periode Januari hingga Maret 2025. Tingkat keparahan interaksi obat ditelusuri melalui situs drugs.com. Berdasarkan hasil identifikasi dari 516 resep yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi maka diperoleh potensi kejadian interaksi obat sebanyak 2579 interaksi. Penyebaran interaksi obat berdasarkan tingkat keparahannya dibagi menjadi kategori mayor, moderat, dan minor dengan persentasenya berturut-turut sebesar 7,4%; 68,7%; dan 23,9%.

Filter by Year

2015 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 23, No 3 (2025): Farmaka (November) (In Press) Vol 23, No 2 (2025): Farmaka (Juli) (In Press) Vol 23, No 1 (2025): Farmaka (Maret) (In Press) Vol 22, No 3 (2024): Farmaka (November) Vol 22, No 2 (2024): Farmaka (Juli) Vol 22, No 1 (2024): Farmaka (Maret) Vol 21, No 3 (2023): Farmaka (November) Vol 21, No 2 (2023): Farmaka (Juli) Vol 21, No 1 (2023): Farmaka (Maret) Vol 20, No 3 (2022): Farmaka (November) Vol 20, No 2 (2022): Farmaka (Juli) Vol 20, No 1 (2022): Farmaka (Maret) Vol 19, No 4 (2021): Farmaka (Suplemen) Vol 19, No 3 (2021): Farmaka (November) Vol 19, No 2 (2021): Farmaka (Juli) Vol 19, No 1 (2021): Farmaka (Maret) Vol 18, No 4 (2020): Farmaka (Suplemen) Vol 18, No 3 (2020): Farmaka (November) Vol 18, No 2 (2020): Farmaka (September) Vol 18, No 1 (2020): Farmaka (Januari) Vol 17, No 3 (2019): Farmaka (Desember) Vol 17, No 2 (2019): Farmaka (Agustus) Vol 17, No 1 (2019): Farmaka (Supplemen) Vol 17, No 1 (2019): Farmaka (Februari) Vol 16, No 4 (2018): Prosiding Abstrak Pharmacopea 2018 Vol 16, No 3 (2018): Suplemen (September) Vol 16, No 3 (2018): Farmaka (September) Vol 16, No 2 (2018): Suplemen Agustus Vol 16, No 2 (2018): Farmaka (Agustus) Vol 16, No 1 (2018): Suplemen Juni Vol 16, No 1 (2018): Farmaka (Juni) Vol 15, No 4 (2017): Farmaka Desember Vol 15, No 3 (2017): Suplemen Desember Vol 15, No 3 (2017): Farmaka Vol 15, No 2 (2017): Farmaka Vol 15, No 2 (2017): Suplemen Vol 15, No 1 (2017): Farmaka (Maret) Vol 15, No 1 (2017): Suplemen Vol 14, No 4 (2016): Farmaka Vol 14, No 3 (2016): Farmaka Vol 14, No 2 (2016): Farmaka Vol 14, No 2 (2016): Suplemen Vol 14, No 1 (2016): Farmaka Vol 14, No 1 (2016): Supplement Vol 13, No 4 (2015): FARMAKA More Issue