cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Majalah Ilmiah Pengkajian Industri
ISSN : 14103680     EISSN : 25411233     DOI : -
Core Subject : Engineering,
MIPI, Majalah ilmiah Pengkajian Industri adalah wadah informasi bidang pengkajian Industri berupa hasil penelitian, studi kepustakaan maupun tulisan ilmiah terkait dalam bidang industri teknologi proses rekayasa manufaktur, industri teknologi transportasi dan kelautan, serta industri teknologi hankam dan material. Terbit pertama kali pada tahun 1996 frekuensi terbit tiga kali setahun pada bulan April, Agustus, dan Desember. MIPI diterbitkan oleh Deputi Bidang Teknologi Industri Rancang Bangun dan Rekayasa-BPPT
Arjuna Subject : -
Articles 601 Documents
Spindle Thermal Evaluation Thermal on Realiability Test of Numerical Controlled Lathe Suryaningrat, Albertus Rianto; -, Nasril -; Ningsih, Marsetiayu; Nurhidayat, Yanyan
Majalah Ilmiah Pengkajian Industri Vol 13, No 2 (2019): Majalah Ilmiah Pengkajian Industri
Publisher : BPPT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (872.305 KB) | DOI: 10.29122/mipi.v13i2.3150

Abstract

In the process of designing and manufacturing of CNC machine tools, reliability testing is needed to determine the reliability of the main component design and sub assembly. The precision of machine tools is greatly influenced by the temperature generated when the machine tool operates, both which arise from friction and overload.Evaluation of spindle axis errors caused by thermal distortion of the spindle bearing is based on ISO 230-3: 2007, ISO 10791-10: 2001 and ISO 13041-8: 2004. Temperature measurement at several measuring points on the spindle head to determine the increase in temperature on the main spindle bearing when getting more load or cutting process.The evaluation results showed that spindle erroneous error with a temperature increase in the spindle head was 16.3 oC by 13 um with no loading, while with loading 71.9 um with a temperature increase of 18.0 oC.
Penerapan Metode AHP dalam Proses Pemilihan Alat Angkut Berat pada Konstruksi Terowongan Layang Bawah Laut Purnomo, Dwi Agus
Majalah Ilmiah Pengkajian Industri Vol 8, No 2 (2014): MAJALAH ILMIAH PENGKAJIAN INDUSTRI
Publisher : BPPT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2590.943 KB) | DOI: 10.29122/mipi.v8i2.3651

Abstract

Metode Analytic Hierarchy Process (AHP) dikembangkan oleh Thomas L. Saaty pada tahun 1970an. Metode ini adalah merupakan sistem pembuat keputusan dengan menggunakan model matematis. Pemanfaatan dari metode AHP ini akan dapat membantu dalam menentukan prioritas dari beberapa kriteria dengan melakukan analisa perbandingan berpasangan dari masing-masing kriteria. Dalam sistem pengelolaan kinerja yang dimaksud dengan kriteria tersebut, yang selanjutnya disebut Kinerja Pengelolaan Indikator (KPI). Penerapan metode AHPdalam proses pemilihan alat angkut berat diaplikasikan pada proyek pembangunan terowongan layang bawah laut di Kepulauan Seribu dengan mengidentifikasi atribut kriteria dan alternatif untuk, menentukan besar prioritas atribut dan alternative. Proses analisis melalui pendekatan AHP dengan atribut kriteria- Level 1 dan alternatif-Level 2 terhadap tujuan-Level 0; maka dipilih jenis alat angkut berat sebagai alternatif dengan unsur kriteria tertentu.Kata kunci : AHP, Konstruksi Terowongan Layang Bawah Laut.AbstractAnalytic Hierarchy Processherein after referred as AHP is a method that has developed by Thomas L. Saaty in year 1970. This method is likely a decision making system within using mathematic model. Utilization of AHP method that can help people to decide several criteria priority by pare analysis of each criteria. In managing system of performance mentioned with these criteria that can referred as Indicator Management Performance. Application of AHP method in processing of heavy equipment selection will be applied in submerged floating tunnel construction project at Kepulauan Seribu by identify criteria attribute and alternative to decide priority vector of these attribute and alternative. Analyzing process thorough AHP nearby within attribute criteria-Level1 and alternative criteria-Level2 face to objective criteria-Level 0, therefore it can be selected the heavy equipment as the alternative with the element criteria.Key words : AHP, Submerged Floating Tunnel Construction.
Aspek Ekonomi Penerapan Teknologi Pupuk SRF NPK Kapasitas 10.000 TPY di Kabupaten Bantaeng Sulawesi Selatan Tjahjono, Endro Wahju; Hanuranto, Joko
Majalah Ilmiah Pengkajian Industri Vol 8, No 1 (2014): MAJALAH ILMIAH PENGKAJIAN INDUSTRI
Publisher : BPPT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (136.121 KB) | DOI: 10.29122/mipi.v8i1.3642

Abstract

Sektor pertanian dan perkebunan membutuhkan pupuk yang memadai dan dengan harga yang terjangkau untuk menjaga ketahanan pangan nasional. Industri pupuk saat ini terkendala oleh terbatasnya pasokan bahan baku, serta pada tingkat pengguna masih terjadi pola pemupukan yang kurang efisien. Pupuk SRF NPK adalah jenis pupuk yang dikembangkan untuk memberikan solusi khususnya pada elemen tabungan N (urea) dan untuk mendorong petani untuk menggunakan pupuk yang mengandung senyawa yang memiliki unsur hara yang lengkap (N, P, K dan zat gizi mikro) . Aplikasi pupuk SRF NPK diharapkan dapat memberikan dampak ekonomi yang signifikan pada tingkat produsen pupuk, petani dan mampu memberikan multiplier effect di sektor-sektor pembangunan lainnya.Kata kunci : Pupuk, SRF NPK, Dampak ekonomiAbstractAgriculture and plantation sector requires adequate fertilizer and at an affordable price to maintain national food security. Fertilizer industry is currently constrained by the limited supply of raw materials, as well as at the user level is still happening fertilization patterns are less efficient. SRF NPK fertilizer is a type of fertilizer that was developed to provide solutions in particular on the savings element of N (urea) and to encourage farmers to use fertilizers containing compound that has a complete nutrient elements (N, P, K and micro nutrients). SRF NPK fertilizer application is expected to provide significant economic impact (significant) level either fertilizer producers, farmers and able to provide a multiplier effect in other sectors of development.Keywords : Fetilizer, SRF NPK, Economic impact
ASPEK TEKNOLOGI PENENTUAN DESALINASI YANG DI KOPLING DENGAN REAKTOR DAYA EKSPERIMENTAL alimah, siti; Dewita, Erlan; Susiati, Heni; Aryanto, Teguh
Majalah Ilmiah Pengkajian Industri Vol 13, No 2 (2019): Majalah Ilmiah Pengkajian Industri
Publisher : BPPT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (381.758 KB) | DOI: 10.29122/mipi.v13i2.3227

Abstract

BATAN berencana membangun dan mengoperasikan Reaktor Daya Eksperimental (RDE). RDE dengan tipe reaktor gas temperatur tinggi (HTGR), merupakan salah satu kandidat desain reaktor yang limbah panasnya cocok untuk aplikasi desalinasi air laut. Kopling desalinasi dengan RDE, membuat teknologi desalinasi lebih menarik, karena selain menghemat cadangan bahan bakar fosil, ramah lingkungan, juga dapat menambah pasokan kebutuhan air bersih. Terdapat berbagai teknologi desalinasi komersial yaitu menggunakan energi thermal dan menggunakan membran dalam proses pemisahannya. Multi-Stage Flash Distillation (MSF) dan Multi-Effect Distillation (MED) adalah proses desalinasi yang menggunakan energi thermal, sedangkan Reverse Osmosis (RO) adalah proses desalinasi yang menggunakan membran. Temperatur keluaran uap dari pembangkit RDE adalah 520oC dan selanjutnya uap mengalir ke turbin dengan temperatur keluaran 256oC. Uap tersebut dalam bentuk superheated (lewat jenuh) dan yang diperlukan untuk desalinasi adalah uap saturated (jenuh). Tujuan studi adalah menentukan teknologi desalinasi yang sesuai dikopling dengan RDE berdasar aspek teknologi. Metode yang digunakan adalah studi literatur terkait permasalahan dan analisis dengan mempertimbangkan aspek keselamatan. Hasil studi diperoleh bahwa teknologi desalinasi MSF lebih sesuai untuk dikopling dengan RDE, dengan skema pengambilan sumber panas sesudah keluar turbin uap
Karakterisasi Pipa Baja Karbon Rendah Dalam Pendekatan Analisa Kegagalan Silaban, Mawardi
Majalah Ilmiah Pengkajian Industri Vol 8, No 3 (2014): MAJALAH ILMIAH PENGKAJIAN INDUSTRI
Publisher : BPPT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (297.901 KB) | DOI: 10.29122/mipi.v8i3.3672

Abstract

Penelitian ini dilakukan terhadap material pipa baja karbon rendah yang digunakan pada ketel uap setelah dioperasikan sekitar satu tahun. Selanjutnya dilakukan karakterisasi terhadap benda uji pipa gagal dan pipa yang baru dengan tujuan untuk mengidentifikasi sejauh mana perubahan yang terjadi pada komposisi, dimensi, kekerasan dan struktur mikro dengan cara membandingkan keduanya. Dari uji metalographi, Scanning Electron Microscope (SEM), analisa mikro dengan Energy Dispersive Spectroscopy (EDS), struktur mikro awal adalah ferit-perlit. Pada suhu tinggi terjadi proses oksidasi, sehingga struktur mikro bahan berubah dari bentuk ferit-perlit menjadi struktur ferit dengan diameter butir yang membesar. Kegagalan pipa ketel uap diawali dengan terbentuknya lapisan deposit yang menempel pada permukaan dalam, yang mengakibatkan proses pindah panas ke air terganggu. Pada keadaan seperti ini suhu pipa akan semakin meningkat seiring dengan laju pembentukan deposit. Dan pada suhu diatas 5400C terjadi proses dekomposisi fasa perlit menjadi ferit + spheroidal carbides. Pada proses ini akan menyebabkan kekuatan pipa menjadi berkurang (baja menjadi lunak), sehingga pada tekanan uap sekitar 2 bar akan dapat menyebabkan terjadinya deformasi sehingga mengakibatkan pipa menjadi menggelembung.Kata kunci : Pipa ketel uap, Struktur mikro, Deposit, Menggelembung, Diameter butirAbstractThis research was carried out on low carbon steel pipe materials used in the boiler after about a year to operate . Further characterization of the test specimen failed pipe and the new pipe with the aim to identify the extent to which changes in the composition , dimensions , hardness and microstructure by comparing the two. Of test metalographi , Scanning Electron Microscope ( SEM ) , micro analysis by Energy Dispersive Spectroscopy ( EDS ) , the initial microstructure is ferrite - pearlite . At high temperature oxidation process occurs , so that the microstructure of the material changes from ferrite - pearlite forms into a structure ferrite grain diameter enlarged . Boiler pipe failure begins with the formation of the deposit layer attached to the inner surface , which results in the process of heat transfer to the water disturbed . In these circumstances the temperature of the pipe will increase along with the rate of deposit formation . At temperatures above 5400C occur decomposition into ferrite + pearlite phase spheroidal carbides . In this process will lead to the strength of the pipe to be reduced (steel becomes soft) , so that the vapor pressure of approximately 2 bar will cause deformation resulting in the pipe becomes bulging .Keywords : Steam boiler tube, Micro structure, Scale, Bulging, Grain diameter
Penguatan Industri Kendaraan Bermotor Ibrahim, Irwan
Majalah Ilmiah Pengkajian Industri Vol 8, No 2 (2014): MAJALAH ILMIAH PENGKAJIAN INDUSTRI
Publisher : BPPT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2558.996 KB) | DOI: 10.29122/mipi.v8i2.3647

Abstract

Produksi industri mobil terus mobil meningkat dalam beberapa tahun ini. Pada tahun 2012 mencapai 1,065 juta unit. Peraturan Presiden No. 28/2008 menetapkan sasaran produksi tahun 2015 sebanyak 1,6 juta unit yang terdiri dari mobil jenis MPV, truk ringan, kendaraan bermotor hemat energi dan bersahabat dengan lingkungan. Sasaran ekspor juga ditetapkan 386 ribu unit. Namun peran potensi lokal dalam bidang teknologi masih sangat terbatas. Upaya harus dikembangkan untuk memperkutan struktur industri mobil dengan melibatkan kapasitas dalam negeri. Tulisan ini mencoba mengemukakan sebuah alternatif pendekatan dan strategi untuk membuat industri mobil menjadi lebih kuat.Kata kunci: Mobil, Industri, Kapasitas Dalam NegeriAbstractThe production volume of automobile industries increases over the years. In 2012 it reached 1.065 million units. The Presidential Regulation No. 28/2008 stipulates the production target of 1.6 million units in 2015 of MPV?s type, light trucks and energy saving & environmentally friendly vehicles. The export target in 2015 is set for 386,000 units. However, the role of local potential in technology is very limited. Effort has to be assessed to strengthening the structure of automobile industry taking into account local capacities. This paper tries to present an alternative approach and strategy to make the automobile industry stronger.Key words: Car, Local Capacity, Industry12
Membran Separasi Serat Berongga untuk Hemodialisis Raja, Krisna Lumban
Majalah Ilmiah Pengkajian Industri Vol 7, No 1 (2013): MAJALAH ILMIAH PENGKAJIAN INDUSTRI
Publisher : BPPT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (777.322 KB) | DOI: 10.29122/mipi.v7i1.3638

Abstract

Polimer mempunyai aplikasi luas. Campuran heterogennya membentuk struktur fasa terpisah menjadi membran untuk membuat perangkat medis. Fungsi membran melakukan penghalangan selektif dengan aspek keragaman : tebal, struktur, diameter pori, muatan listrik, perpindahan partikel. Grup. Membran separasi adalah membran sintetis untuk pemisahan. Membuat membran separasi polimerik dibutuhkan kriteria polimer berdaya rekat rendah, berdaya tahan pembersihan tinggi, berkarakteristik rantai polimer saling cocok, harga murah, serta mudah diperoleh. Sifat kimia permukaan membran memberi konsekuensi pembasahan atau pencemaran yang mempengaruhi daya tahan membran. Konfigurasi membran separasi adalah silang aliran dan dead-end.Hukum Darcy merumuskan pemodelan yang pokok pada membran separasi dead end. Serat membran morfologinya keropos dan gaya pendorongnya perbedaan konsentrasi. Aliran nya silang dan modulnya menampung hingga 10.000 serat berdiameter 200 ?m sampai 2500 ?m. Pada dialisis, aliran darah dan dialisat berlawanan, agar pengeluaran zat-zat beracun maksimal. Aplikasi membran serat berongga untuk hemodialisis karena gagal ginjal kronis. Hakekat dialisis adalah memindahkan zat-zat racun dari metabolisme dan memperbaiki keseimbangan garam, air dan asam dalam darah. Status iptek terkini membran hemodialisis adalah pada ginjal buatan dari bahan hidup selain peralatan hemodialisis yang dapat berpindah-pindah, dibawa, dikenakan di badan, dan ditanam dalam tubuh.Kata kunci : Membran, Sintetis, Separasi, Hemodialisis, Serat berongga.AbstractPolymers have a wide range of uses. Their heterogenous blends form separated phase structures to become membranes for making medical devices. Membranes serve as selective barriers with various classifications such as thickness, structure, pore diameter, electric charged, particle transport, and in groups. A separation membrane is synthetically created for separation purpose. To make polymeric separation membranes require polymers that are low binding affinity, withstand the harsh cleaning conditions, suitable with properties of polymer chains, reasonable pricing, and easily obtainable. Two flow configurations of separation membranes are cross flow and dead-end filtrations. Darcy?s law formulates the main modeling equation for the dead end filtration. Hollow fiber separation membranes have porous morphology and driving force of concentration gradients. They have cross flows and their modules can contain up to 10.000 fibers ranging from 200 to 2500 ?m in diameter. In dialysis, blood travels in the opposite direction with the dialysate to maximize the excretion of poisonous substances. A hollow fiber membrane application is for hemodialysis of chronic renal failure that causes physiological derangements. Actually dialysis is to remove toxic end-products of nitrogen metabolism and improve the balance of the salt, water, and acid-base derangements in blood. The current status of hemodialysis are the bio-artificial kidneys along with the development of mobile, portable, wearable and implantable hemodialysis devices.Keywords : Membrane, Synthetic, Separation, Hemodialysis, Hollow-fiber.
SKEMA FIRE ASSAY DAN ICP-MS PADA PENGUKURAN KADAR PALADIUM DALAM SAMPEL BATUAN Irzon, Ronaldo; Kurnia, Kurnia
Majalah Ilmiah Pengkajian Industri Vol 13, No 2 (2019): Majalah Ilmiah Pengkajian Industri
Publisher : BPPT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (695.235 KB) | DOI: 10.29122/mipi.v13i2.3263

Abstract

Paladium adalah anggota Platinum Grup Element yang berjumlah kecil di kerak Bumi, namun memiliki harga jual yang tinggi. Logam ini sangat dibutuhkan oleh industri otomotif, industri pesawat ruang angkasa, dan industri perhiasan. Akurasi pengukuran Pd yang baik pada sampel diperlukan untuk mendukung industri terkait. Penelitian ini bertujuan untuk menjabarkan akurasi pengukuran paladium yang memanfaatkan skema fire assay dalam pra-konsentrasi dan ICP-MS sebagai perangkat pengukuran. Sampel yang dipergunakan adalah bahan internal standar Serpentin milik Laboratorium Geologi. Limit deteksi cukup rendah pada 1,0057 ppb yang ditentukan melalui skema regresi linear. Stabilitas kinerja perangkat sangat baik yang ditunjukkan oleh rentang deviasi 0-1,96%. Prosedur fire assaying yang belum sempurna disimpulkan menjadi penyebab perbedaan hasil pengukuran kadar Pd pada sampel. Rangkaian proses dalam studi ini dinilai akurat yang mengacu pada besaran spike recovery <112%. Studi ini dapat dikembangkan dengan memperbesar rentang kalibrasi analisis agar dapat mengakomodasi kisaran jumlah analit yang lebih luas pada sampel
PENGEMBANGAN DESAIN SISTEM PROSES PEMURNIAN BIOGAS BERBASIS PALM OIL MILL EFFLUENT (POME) Nurdin, Ali; Finalis, Era R.; Arfiana, Arfiana; Fausiah, Fausiah; Tjahjono, Endro W.
Majalah Ilmiah Pengkajian Industri Vol 13, No 2 (2019): Majalah Ilmiah Pengkajian Industri
Publisher : BPPT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (360.374 KB) | DOI: 10.29122/mipi.v13i2.3294

Abstract

Pabrik kelapa sawit menghasilkan 0,7 ? 1 m3 limbah cair kelapa sawit atau palm oil mill effluent (POME) setiap ton TBS. Untuk pabrik sawit dengan kapasitas 30 ton tandan buah segar per jam, akan dihasilkan 6 ton minyak sawit, 6 ton limbah fiber, 10 ton cangkang dan limbah cair yang dapat menghasilkan listrik 1MW. Proses fermentasi limbah POME ini akan menghasilkan biogas dengan kandungan utama metana (CH4) sebesar 62%. Biogas adalah campuran gas yang diproduksi oleh sekelompok mikroorganisme dengan menguraikan material biodegradable pada kondisi anaerobik. Biogas sebagian besar terdiri atas 50% sampai dengan 70% metana (CH4), 30% sampai 45% karbon dioksida (CO2) dan sedikit kandungan gas lainnya seperti H2S, H2, N2, dan uap air. Untuk dapat memanfaatkan biogas hasil metanisasi dari POME untuk dikonversi menjadi listrik, maka biogas harus terlebih dahulu dilakukan permunian untuk menyesuaikan spesifikasi biogas sebagai bahan bakar gas dengan persyaratan mesin gas yang digunakan. Komponen-komponen di dalam biogas yang perlu dihilangkan ataupun dikurangi meliputi kandungan air, padatan, dan senyawa sulphur. Pada penelitian ini dilakukan pengembangan sistem proses pemurnian biogas dengan menggunakan Bioscrubber untuk mengurangi kandungan gas H2S dan Dehumidifier untuk mengurangi kandungan uap air dalam produk biogas sehingga dihasilkan biogas dengan spesifikasi yang sesuai dengan umpan Gas Engine.
Chelation and Metal-Ion Complex Formation of Chitosan Treated Cotton Habibie, Sudirman
Majalah Ilmiah Pengkajian Industri Vol 8, No 3 (2014): MAJALAH ILMIAH PENGKAJIAN INDUSTRI
Publisher : BPPT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (61.138 KB) | DOI: 10.29122/mipi.v8i3.3652

Abstract

Chitin dan chitosan adalah bahan ?chelate? yang sangat kuat untuk ion transisi logam terutama tembaga, nikel dan merkuri, dan sifat-sifat ini yang akan intensif di bahas. Pada studi ini kain kapas (cotton) dikerjakan dengan larutan chitosan-asam polikarboksilat untuk memperoleh kain kapas-chitosan yang mengandung gugus group karboksilat (-COOH) dan gugus amina (-NH2) fungsional. Penggunaan asam polykarboksilat (asam sitrat dan maleik) pada pelarutan chitosan menghasilkan group karboksil 0,5 meqs/g pada kain yang dicelup dengan larutan chitosan asam karboksilat. Kemudian kain kapas yang telah mengandung gugus karboksilat dan gugus amina ini dicelupkan pada larutan garam logam (garam tembaga dan seng). Terbukti bahwa larutan garam tembaga (copper) memberikan warna biru pada kain, hal ini mengindikasikan telah terjadi reaksi kompleks atau ?Chelate?. Implikasi dari hasil ini maka diperkirakan kandungan group karboksil dan amina ini akan mempengaruhi pada pencelupan kain, namun hal ini tidak diuji.Kata kunci : Chitosan, Kain Kapas, Chelate, Asam asetat, Asam citrate, Asam maleik, Tembaga sulphate, Tembaga acetate.AbstractChitin and chitosan are powerfull chelating agents for transition metal ions, particularly copper, nickel and mercury, and these properties have been extensively reviewed. In this study, cotton fabric has been treated with chitosan- polycarboxylic acid solution to form chitosan treated cotton fabric containing carboxyl (-COOH) and amine (-NH2) functional groups. The use of polycarboxylic acids (citric and maleic acids) to dissolve chitosan has given carboxyl groups 0.5 meqs/g into chitosan treated cotton fabrics. Instead, the complexing of the treated cotton samples with copper and zinc salts was examined. The copper salt solutions gave blue fabrics confirming easily that complexing or chelation had occurred. There are implications for dyeing cotton making use of these groups but this was not investigated.Keyword : Chitosan, Cotton fabric, Chelation, Acetic acid, Citric acid, Maleic acid, Copper (II) sulphate, Copper (II) acetate.

Filter by Year

2013 2022


Filter By Issues
All Issue Vol. 16 No. 3 (2022): Majalah Ilmiah Pengkajain Industri Vol. 16 No. 2 (2022): Majalah Ilmiah Pengkajain Industri Vol. 16 No. 1 (2022): Majalah Ilmiah Pengkajian Industri Vol. 15 No. 2 (2021): Majalah Ilmiah Pengkajian Industri Vol. 15 No. 1 (2021): Majalah Ilmiah Pengkajian Industri Vol. 14 No. 3 (2020): Majalah Ilmiah Pengkajian Industri Vol. 14 No. 2 (2020): Majalah Ilmiah Pengkajian Industri Vol 14, No 1 (2020): Majalah Ilmiah Pengkajian Industri Vol. 14 No. 1 (2020): Majalah Ilmiah Pengkajian Industri Vol. 13 No. 3 (2019): Majalah Ilmiah Pengkajian Industri Vol 13, No 3 (2019): Majalah Ilmiah Pengkajian Industri Vol 13, No 2 (2019): Majalah Ilmiah Pengkajian Industri Vol. 13 No. 2 (2019): Majalah Ilmiah Pengkajian Industri Vol 13, No 1 (2019): MAJALAH ILMIAH PENGKAJIAN INDUSTRI Vol. 13 No. 1 (2019): Majalah Ilmiah Pengkajian Industri Vol 12, No 3 (2018): VOL 12, NO 3 (2018): MAJALAH ILMIAH PENGKAJIAN INDUSTRI Vol. 12 No. 3 (2018): Majalah Ilmiah Pengkajian Industri Vol 12, No 3 (2018): MAJALAH ILMIAH PENGKAJIAN INDUSTRI Vol 12, No 2 (2018): Majalah Ilmiah Pengkajian Industri Vol. 12 No. 2 (2018): Majalah Ilmiah Pengkajian Industri Vol 12, No 2 (2018): Majalah Ilmiah Pengkajian Industri Vol 12, No 1 (2018): Majalah Ilmiah Pengkajian Industri Vol 12, No 1 (2018): Majalah Ilmiah Pengkajian Industri Vol. 12 No. 1 (2018): Majalah Ilmiah Pengkajian Industri Vol 11, No 3 (2017): Majalah Ilmiah Pengkajian Industri Vol 11, No 3 (2017): Majalah Ilmiah Pengkajian Industri Vol. 11 No. 3 (2017): Majalah Ilmiah Pengkajian Industri Vol. 11 No. 2 (2017): Majalah Ilmiah Pengkajian Industri Vol 11, No 2 (2017): Majalah Ilmiah Pengkajian Industri Vol 11, No 2 (2017): Majalah Ilmiah Pengkajian Industri Vol 11, No 1 (2017): Majalah Ilmiah Pengkajian Industri Vol. 11 No. 1 (2017): Majalah Ilmiah Pengkajian Industri Vol 11, No 1 (2017): Majalah Ilmiah Pengkajian Industri Vol 10, No 3 (2016): Majalah Ilmiah Pengkajian Industri Vol. 10 No. 3 (2016): Majalah Ilmiah Pengkajian Industri Vol 10, No 3 (2016): Majalah Ilmiah Pengkajian Industri Vol 10, No 2 (2016): Majalah Ilmiah Pengkajian Industri Vol. 10 No. 2 (2016): Majalah Ilmiah Pengkajian Industri Vol 10, No 2 (2016): Majalah Ilmiah Pengkajian Industri Vol 10, No 1 (2016): Majalah Ilmiah Pengkajian Industri Vol. 10 No. 1 (2016): Majalah Ilmiah Pengkajian Industri Vol 10, No 1 (2016): Majalah Ilmiah Pengkajian Industri Vol. 9 No. 2 (2015): Majalah Ilmiah Pengkajian Industri Vol 9, No 3 (2015): Majalah Ilmiah Pengkajian Industri Vol 9, No 3 (2015): Majalah Ilmiah Pengkajian Industri Vol. 9 No. 3 (2015): Majalah Ilmiah Pengkajian Industri Vol 9, No 2 (2015): Majalah Ilmiah Pengkajian Industri Vol 9, No 2 (2015): Majalah Ilmiah Pengkajian Industri Vol 9, No 1 (2015): Majalah Ilmiah Pengkajian Industri Vol 9, No 1 (2015): Majalah Ilmiah Pengkajian Industri Vol. 9 No. 1 (2015): Majalah Ilmiah Pengkajian Industri Vol 8, No 3 (2014): MAJALAH ILMIAH PENGKAJIAN INDUSTRI Vol. 8 No. 3 (2014): Majalah Ilmiah Pengkajian Industri Vol 8, No 2 (2014): MAJALAH ILMIAH PENGKAJIAN INDUSTRI Vol. 8 No. 2 (2014): Majalah Ilmiah Pengkajian Industri Vol. 8 No. 1 (2014): Majalah Ilmiah Pengkajian Industri Vol 8, No 1 (2014): MAJALAH ILMIAH PENGKAJIAN INDUSTRI Vol 7, No 1 (2013): MAJALAH ILMIAH PENGKAJIAN INDUSTRI Vol. 7 No. 1 (2013): Majalah Ilmiah Pengkajian Industri More Issue