cover
Contact Name
Rahmad Fani Ramadhan
Contact Email
rahmad.fani@unpad.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalilmuternak@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Ilmu Ternak
ISSN : 14105659     EISSN : 26215144     DOI : -
Jurnal Ilmu Ternak Universitas Padjadjaran encompasses a broad range of research topics in animal sciences: breeding and genetics, reproduction and physiology, nutrition, feed sciences, agrostology, animal products, biotechnology, behaviour, welfare, health, livestock farming system, socio-economic, and policy. Jurnal Ilmu Ternak Universitas Padjadjaran published by twice a year, June and December
Arjuna Subject : -
Articles 427 Documents
Pengaruh Faktor Produksi Susu Usahaternak Sapi Perah Melalui Pendekatan Analisis Jalur di Jawa Barat (The Impact of Factor on Dairy Production Smallholder with Path Analysis in West Java) Taslim -
Jurnal Ilmu Ternak Vol 10, No 1 (2010)
Publisher : Fakultas Peternakan, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jit.v10i1.461

Abstract

Penelitian ini mengenai Analisis Hubungan Curahan Tenaga Kerja dan Jumlah Pemilikan Sapi Perah Serta Pengaruhnya Terhadap Pendapatan Keluarga Peternak di Desa Jambudipa Kecamatan Cisarua Kabupaten Bandung Barat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui analisis hubungan curahan tenaga kerja dan jumlah pemilikan ternak sapi perah serta bagaimana pengaruhnya terhadap pendapatan keluarga peternak. Penelitian ini dilakukan dengan metode survey serta analisis yang digunakan adalah analisis korelasi dan analisis jalur (path analysis). Penentuan sampel (responden) dilakukan secara two stage random sampling. Jumlah responden peternak sapi perah diambil sebanyak 51 orang. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa curahan tenaga kerja dan jumlah pemilikan ternak berpengaruh secara bersama-sama terhadap pendapatan, dan jumlah pemilikan ternak merupakan faktor dominan yang paling berpengaruh terhadap pendapatan. Kata kunci : Tenaga kerja, Jumlah pemilikan ternak, Pendapatan
Kualitas Mikrobiologi Kolostrum Sapi Perah FH pada Waktu Pemerahan yang Berbeda di Peternakan Rakyat (Quality Of Microbiology From Bovine Colostrum PFH On Different Time in Milking at Dairy Farm) Khusnul Khotimah
Jurnal Ilmu Ternak Vol 13, No 2 (2013)
Publisher : Fakultas Peternakan, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jit.v13i2.5108

Abstract

Kolostrum Sapi Perah merupakan cairan kuning yang dikeluarkan oleh sapi induk laktasi setelah melahirkan selama sekitar24 sampai dengan 168   jam. Kolostrum sapi perah (bovine colostrum) mengandung zat-zat aktif untuk imunitas seperti immonoglobulin dan zat antimikrobial seperti laktoferin, lactoperoksida dan lisozim, serta vitamin dan mineral, sedikit mengandung lemak, serta mikroba.  Kualitas mikrobiologi kolostrum ataupun air susu sapi dapat ditentukan dengan jumlah total  mikroba  dengan  istilah  TPC  (Total  Plate  Count)  dengan  satuan  CFU/ml.  Tujuan  penelitian  ini  adalah  untuk mengetahui kualitas mikrobiologi kolostrum sapi PFH pada peternakan rakyat pada waktu pemerahan yang berbeda. Materi yang digunakan adalah   8 ekor sapi perah   PFH milik peternak anggota   KUBE PSP Maju Mapan yang dideteksi akan melahirkan dan diambil sampel mulai 24 jam awal melahirkan sampai dengan 7 hari setelah melahirkan. Variabel yang diukur adalah nilai TPC setiap waktu pemerahan mulai hari 1- 7. Metode yang digunakan adalah   survey dan analisa laboratorium dari setiap sampel kolostrum yang ditampung setiap hari sampai dengan 7 hari. Analisa data  dengan ANOVA dan dilanjutkan dengan uji BNT. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa waktu pemerahan berpengaruh terhadap kualitas mikrobiologi kolostrum sapi perah PFH di peternakan rakyat, TPC  kolostrum terendah terdapat pada awal pemerahan atau hari pertama setelah melahirkan. Pada pemerahan hari ke 4 –ke -7 terkadang terjadi jumlah fuktuasi TPC dari kolosrum, sedangkan untuk waktu pemerahan ke-1 - 3 terjadi peningkatan jumlah TPC. Kesimpulan penelitian ini adalah bahwa kualitas mikrobilogi kolostrum sapi perah PFH di peternakan Rakyat pada sapi peternak anggota KUBE PSP Maju Mapan dengan indicator nilai TPC, menunjukkan peningkatan dengan bertambahnya hari pemerahan sampai dengan hari ke-3 dan pada hari ke -4 - 7 jumlah TPC kolostrum fluktuatif (naik dan turun), pada hari ke 7 setelah pemerahan jumlah  rerata TPC kolostrum menunjukkan nilai yang tertinggi dibanding hari yang lain.Kata kunci : bovine colostrums, Total Plate Count, waktu pemerahan, PFH, peternakan sapi perah
Kualitas Pupuk Cair Hasil Pengolahan Feses Sapi Potong Menggunakan Saccharomyces cereviceae (Liquid Fertilizer Quality Produced by Beef Cattle Feces Fermentation Using Saccharomyces cereviceae) Yuli A. Hidayati; Tb.Benito A. Kurnani; Eulis T. Marlina; Ellin Harlia
Jurnal Ilmu Ternak Vol 11, No 2 (2011)
Publisher : Fakultas Peternakan, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jit.v11i2.387

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari dan mengetahui kualitas pupuk cair hasil pengolahan feses sapi potong dengan penambahan Saccharomyces cerevisiae. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen di laboratorium dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan 3 macam perlakuan dosis Saccharomyces cerevisiae, yaitu P1= 0,2%,P2 = 0,4% dan P3 = 0,6% , masing masing diulang 6 kali. Untuk mengetahui pengaruh perlakuan, data yang diperoleh dianalisis ragam dan uji Duncan. Peubah yang diamati kandungan N, P2O5, K2O pupuk cair. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan dosis Saccharomyces cerevisiae dari 0,2% menjadi 0,4% dan 0,6% meningkatkan (P<0,05) kandungan N tetapi tidak berpengaruh terhadap kandungan P2O5 dan K2O pupuk cair yang dihasilkan. Tidak ada perbedaan kualitas pupuk cair antara 0,4% dan 0,6%. Kata kunci : feses sapi potong,  pupuk cair, Saccharomyces cerevisiae, N, P, K
Evaluasi Potensi Genetik Sapi Perah Fries Holland (FH) Di Koperasi Serba Usaha (KSU) Tandangsari Kabupaten Sumedang (Evaluation of Dairy Cattle Genetic Potency of Fries Holland (FH) in KSU Tandangsari Sumedang) Dudi -; Dedi Rahmat; Tidi Dhalika
Jurnal Ilmu Ternak Vol 6, No 1 (2006)
Publisher : Fakultas Peternakan, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jit.v6i1.2265

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi genetik sapi perah Fries  Holland (FH) di KSU Tandangsari Kabupaten Sumedang.  Metode penelitian yang digunakan adalah survey di wilayah kerja KSU dimaksud. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sapi perah merupakan komoditas ternak yang dapat dijadikan sumber mata pencaharian peternak anggota koperasi, karena tersedianya sapronak serta kelancaran pemasaran dan pembayaran susu.  Potensi genetik sapi perah FH di lokasi penelitian cukup baik karena telah ada upaya rintisan pembentukan bibit sapi perah FH lokal Tandangsari dengan standar produksi susu minimal 5000 liter per laktasi.  Kegiatan pemuliaan sapi perah FH di koperasi ini hendaknya dijadikan unit usaha tersendiri yang didukung oleh pemerintah Kabupaten Sumedang secara administratif dan finansial sehingga dihasilkan bibit sapi FH lokal yang cocok dengan kondisi lingkungan dan sosial budaya peternak setempat.Kata Kunci:  potensi genetik, sapi perah FH, KSU Tandang Sari
Produktivitas Sapi Peranakan Ongole pada Peternakan Rakyat di Kabupaten Sumedang (Productivity of Peranakan Ongole Cattle on traditional farm system in Sumedang Region) M. Fatah Wiyatna
Jurnal Ilmu Ternak Vol 12, No 2 (2012)
Publisher : Fakultas Peternakan, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jit.v12i2.5124

Abstract

Penelitian  ini  dilakukan  di  Sumedang,  Jawa  Barat.  Penelitian  ini  bertujuan  untukmengidentifikasi kemampuan lahan berdasarkan ketersediaan pakan dan pekerja, untuk menganalisis faktor yang berpotensi untuk pengembangan sapi potong, untuk mengidentifikasi produksi sapi potong, konsumsi pakan, dan pertambahan bobot badan hadian (ADG). Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan dua tahapan: pertama, mengidentifikasi potensi lahan untuk mengembangkan sapi potong; kedua, untuk mengetahui konsumi pakan dan  ADG. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsumsi bahan kering 3,51 kg/ekor/hari atau setara dengan 1,27% dari bobot badan. Konsumsi pakan dan peningkatan bobot badan pada Peranakan Ongole menunjukan sistem pemeliharaan pada breeding sapi yang masih tradisional. Pertambahan bobot badan harian pada Ongole Cross sebesar 0,25 kg/hari.Kata kunci : konsumsi pakan, ADG, Peranakan Ongole
Hubungan Keragaman Gen Leptin dengan Kualitas Fisik Daging Sapi Lokal Di Ciamis (Relationship between Leptin Gene Diversity with Physical Quality of Local Beef In Ciamis) Nena Hilmia; R.R Noor; C. Sumantri; R. Priyanto; Gurnadi E
Jurnal Ilmu Ternak Vol 15, No 2 (2015)
Publisher : Fakultas Peternakan, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jit.v15i2.9528

Abstract

Leptin  terlibat  dalam  berbagai  proses  fisiologispembentukan  lemak.  Keragaman  gen Leptin  karena  adanya  SNP  Arg25Cys  pada  exon  2,  mempunyai  hubungan  dengan  deposisi lemak, yang dapat mempengaruhi  kualitas daging. Penelitian  ini bertujuan  untuk mengetahui keragaman gen leptin  dan hubungannya dengan kualitas fisik daging sapi lokal di Ciamis Jawa Barat.  Penelitian  ini  menggunakan  14  sampel  daging  bagian  udamaru  yang  diperoleh  dari peternakan  rakyat.Sampel  DNA diisolasi  dari daging.  Amplifikasi  DNA menggunakan  PCR, dan   penentuan   genotipe   dianalisis   dari   hasil   sequencing   produk   PCR.   Hasil   penelitian menunjukkan Gen Leptin pada sapi lokal Ciamis bersifat polimorfik, terdapat tiga alel, yaitu C, T (memiliki mutasi Arg25Cys) dan H (memiliki mutasi Arg25His) serta terdapat tiga genotipe CC,  CT  dan  CH.  Perbedaan  genotipe  gen  Leptin  tidak  berpengaruh  terhadap  kualitas  fisik daging sapi lokal di Ciamis.Kata kunci: Kualitas daging, Leptin
Pengaruh Penggunaan Asam Sulfat (H2SO4) dan Asam Formiat (HCOOH) pada Proses Pikel terhadap Kualitas Kulit Jadi (Leather) Domba Garut (The Effect of Sulfuric Acid (H2SO4) and Formic Acid (HCOOH) in Pickle Process on Garut Sheep Leather Quality) Jajang Gumilar; Wendri S. Putranto; Eka Wulandari
Jurnal Ilmu Ternak Vol 10, No 1 (2010)
Publisher : Fakultas Peternakan, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jit.v10i1.443

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan berbagai tingkat asam sulfat (H2So4) dan asam formiat (HCOOH) pada proses pikel  terhadap kualitas kulit jadi (leather) Domba Garut. Kualitas Kulit jadi didasarkan pada kadar keasaman (pH), kadar krom (Cr2O3), dan kadar air (H2O). Penelitian ini dilakukan secara eksperimen menggunakan pola faktorial dengan rancangan dasar rancangan acak lengkap, menggunakan 48 lembar kulit Domba Garut jantan ukuran 90. Kulit-kulit tersebut dibagi kedalam 16 kelompok. Tiap-tiap kelompok diberikan perlakuan penggunaan asam sulfat dan asam formiat. Masing-masing kelompok diulang sebanyak 3 kali ulangan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan berbagai tingkat asam sulfat (H2So4) dan asam formiat (HCOOH) pada proses pikel  terhadap kualitas kulit jadi (leather) Domba Garut, berpengruh nyata terhadap kadar keasaman (pH), dan kadar krom kulit jadi, serta tidak berpengaruh nyata terhadap kadar air (H2O). Penggunaan kombinasi asam sulfat dan asam formiat yang paling optimal adalah asam sulfat 0,9% dan asam formiat 0,4%. Kata kunci:  Kulit, proses pikel, asam
Identifikasi Sifat-sifat Kualitatif Domba Garut Jantan Tipe Tangkas (Qualitative Traits Identification of Bantam Type Garut Ram) Denie Heriyadi
Jurnal Ilmu Ternak Vol 5, No 2 (2005)
Publisher : Fakultas Peternakan, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jit.v5i2.2288

Abstract

Penelitian mengenai Identifikasi Sifat-sifat Kualitatif Domba Garut Jantan Tipe Tangkas, telah dilaksanakan selama tiga bulan di tujuh kabupaten di Jawa Barat, yaitu Kabupaten Bandung, Garut, Tasikmalaya, Ciamis, Sukabumi, Bogor, dan Purwakarta.  Tujuan penelitian adalah untuk memperoleh deskripsi sifat-sifat kualitatif  Domba Garut jantan yang meliputi warna bulu, motif bulu, dan bentuk tanduk. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif-analitik, data yang telah terkumpul selanjutnya diolah dengan bantuan komputer menggunakan Program Microsoft Excell. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa sifat-sifat kualitatif Domba Garut jantan di Jawa Barat adalah sebagai berikut : warna bulu pada Domba Garut jantan yang paling dominan adalah kombinasi warna hitam-putih 86 %, motif bulu dominan pada Domba Garut jantan adalah hitam 19,83 % dan belang sapi 14,88 %, sedangkan bentuk tanduk domba jantan yang terbanyak adalah Gayor (51,65 %), Ngabendo (17,36 %), dan Leang (16,53 %).Kata Kunci : Domba Garut Jantan, Warna Bulu, Motif Bulu, dan Bentuk Tanduk
Kepemimpinan Ketua Kelompok Dan Hubungannya Dengan Keefektifan Kelompok (Kasus Pada Kelompoktani Ternak Sapi Perah Di Wilayah Kerja Koperasi Serba Usaha Tandangsari Sumedang) Unang Yunasaf
Jurnal Ilmu Ternak Vol 7, No 2 (2007)
Publisher : Fakultas Peternakan, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jit.v7i2.2255

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kepemimpinan ketua kelompok, keefektifan kelompok, dan keeratan hubungan dari kedua hal tersebut.  Penelitian dilakukan dengan  metode survei.  Unit analisis adalah  kelompoktani sapi perah yang ada di Wilayah Kerja KSU Tandangsari Kabupaten Sumedang.  Pengambilan contoh responden dilakukan secara gugus bertahap.  Jumlah responden 30 orang dari 4 kelompok terpilih.  Uji keeratan hubungan yang digunakan adalah uji korelasi rank spearman.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepemimpinan ketua kelompok tani ternak sapi perah  sebanyak 46,67%  tergolong cukup, 43,33 % tergolong tinggi, dan 10,00 %  tergolong sangat tinggi. Keefektifan kelompoktani ternak sapi perah    sebanyak 50,00% tergolong cukup, 40 % tergolong tinggi, dan 10 % tergolong  sangat tinggi.  Derajat hubungan kepemimpinan ketua kelompok tani ternak sapi perah dengan keefektifan kelompok menunjukkan adanya hubungan positif yang kuat.Kata kunci: Kepemimpinan Ketua Kelompok, Keefektifan Kelompok 
Tampilan Berahi dan Tingkat Kesuburan Sapi Bali Timor yang Diinseminasi Petrus Kune; Nurcholidah Solihati
Jurnal Ilmu Ternak Vol 7, No 1 (2007)
Publisher : Fakultas Peternakan, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jit.v7i1.2223

Abstract

Tujuan penelitian yaitu untuk mengetahui tampilan berahi dan tingkat kesuburan sapi betina yang diinseminasi ketika memperlihatkan berahi alamiah, berahi hasil sinkronisasi menggunakan preparat prostaglandin F2α, dan berahi alamiah sesudah berahi hasil sinkronisasi.  Penelitian ini menggunakan metode eksperimen lapangan dengan model rancangan acak lengkap (RAL). Perlakuan yang diuji-cobakan, yakni P1= kelompok ternak yang berahi alam; P2 = kelompok ternak yang berahinya disinkronisasi menggunakan preparat prostaglandin F2α dan P3 = kelompok ternak yang berahi alamiah setelah berahi hasil sinrkonisasi menggunakan prostaglandin F2α.  Sapi yang digunakan pada pengamatan tampilan gejala dan intensitas berahi sebanyak 21 ekor untuk ketiga perlakuan dengan tujuh ulangan,  sedangkan untuk menguji kesuburan (CR) hanya menggunakan sapi-sapi betina yang berahinya jelas, yakni sebanyak 16 ekor dari 21 yang lolos seleksi awal. Hasil penelitian menunjukan bahwa a). 21 ekor sapi betina yang digunakan dalam penelitian ini mampu memperlihatkan berahinya dan umumnya lebih dari 70 % menunjukan berahi dengan intensitas jelas (skor 3) dan b). Rataan tingkat kesuburan (CR) dari sapi betina sebanyak 16 ekor yang diinseminasi ketika memperlihatkan berahinya dari ketiga kelompok perlakuan adalah 68,75 %. dimana P1 dan P2 adalah sama (masing-masing 60 %) sedangkan P3 = 83,33 %. Hasil analisis statistik menunjukan ada perbedaan yang nyata antara perlakuan P1 dan P2 dengan perlakuan P3.     Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa sapi Bali dapat memperlihatkan berahinya secara jelas dan ini menunjukan bahwa sapi Bali-Timor memang masih termasuk sapi yang subur, namun disarankan agar pengamatan berahi secara cermat harus tetap dilakukan ketika akan melakukan IB.Kata Kunci : Inseminasi Buatan, Conception rate, intensitas berahi