cover
Contact Name
Rahmad Fani Ramadhan
Contact Email
rahmad.fani@unpad.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalilmuternak@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Ilmu Ternak
ISSN : 14105659     EISSN : 26215144     DOI : -
Jurnal Ilmu Ternak Universitas Padjadjaran encompasses a broad range of research topics in animal sciences: breeding and genetics, reproduction and physiology, nutrition, feed sciences, agrostology, animal products, biotechnology, behaviour, welfare, health, livestock farming system, socio-economic, and policy. Jurnal Ilmu Ternak Universitas Padjadjaran published by twice a year, June and December
Arjuna Subject : -
Articles 427 Documents
Pengaruh level tapioka dan lama fermentasi terhadap kadar tanin dan mineral pada silase kulit pisang kepok Theresia Nur Indah Koni; Tri Anggarini Yuniwaty Foenay
Jurnal Ilmu Ternak Vol 20, No 2 (2020): December
Publisher : Fakultas Peternakan, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jit.v20i2.29894

Abstract

The aim of this research was to determine the effect of tapioca level and fermentation length on the content of calcium, phosphor, and tannin in silage from kepok banana peels. This research used ses factorial completely randomized design (4x3) consist of two factors, namely level of tapioca starch (5, 10, 15%) and fermentation length (7,14, 21 and 28 days) with three replication for each factors. The results of the research showed that tapioca level had significant effect (P<0,05) on the content of moisture, calcium, phosphor and tannin. Fermentation length had significant effect (P<0,05) on moisture and tannin  content, but had no effect on calcium and phosphor content. Interaction between treatments had significant effect (P<0,05) on moisture and tannin content. The best treatment combination in reducing tannin content was 10% tapioca inclusion and 21 days of fermentation length
Pengaruh Fermentasi Campuran Bungkil Inti Sawit dan Onggok (FBISO) Sebagai Pengganti Jagung dalam Pakan Terhadap Karakteristik Vili Usus Ayam Pedaging Alfita Yan Kusuma
Jurnal Ilmu Ternak Vol 20, No 2 (2020): December
Publisher : Fakultas Peternakan, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jit.v20i2.30899

Abstract

ABSTRAKTujuan dari penelitian ini untuk mengetahui perlakuan terbaik dari penggunaan fermentasi campuran bungkil inti sawit dan onggok (FBISO) sebagai pengganti jagung dalam pakan terhadap karakteristik vili usus halus ayam pedaging. Materi penelitian menggunakan ayam pedaging, jagung, bungkil inti sawit (BIS), onggok, bekatul, konsentrat ayam pedaging, Aspergillus oryzae, Saccharomyces cerevisiae, dan Cellulomonas sp. Metode yang digunakan yaitu percobaan lapang menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 7 perlakuan dan 4 ulangan. Perlakuan yang digunakan: P0= pakan kontrol tanpa substitusi menggunakan FBISO (0% dalam pakan), P1            = pakan dengan substitusi jagung menggunakan FBISO sebesar 16,67% (10% dalam pakan), P2= pakan substitusi menggunakan FBISO 33,33% (20% dalam pakan), P3= pakan substitusi menggunakan FBISO 50% (30% dalam pakan), P4= pakan substitusi menggunakan FBISO 66,67% (40% dalam pakan), P5= pakan substitusi menggunakan FBISO 83,33% (50% dalam pakan), P6= pakan substitusi menggunakan FBISO 100% (60% dalam pakan). Data dianalisis menggunakan ANOVA dan dilanjutkan menggunakan Uji Jarak Berganda Duncan. Kesimpulan dari penelitian ini adalah perlakuan terbaik untuk lebar vili terdapat pada P1 (207,06±3,22 µm) yaitu penggunaan FBISO sebanyak 10% dalam pakan, namun tinggi vili (638,73±17,13 µm), kedalaman kripta (187,83±7,86 µm) dan luas permukaan vili (1142,02±34,74 µm2/vili) illeum terdapat pada P2 yaitu penggunaan FBISO sebanyak 20% dalam pakan ayam pedaging.Kata Kunci: Ayam pedaging, bungkil inti sawit, karakteristik vili usus, onggok
Pengaruh lama fermentasi dan pemberian aditif molases atau lumpur kecap terhadap fermentabilitas dan kandungan protein kasar silase rumput gajah cv. taiwan Muhamad Rifki B. Ali; Dedi Pratomo; Handi Burhanuddin; Budi Ayunungsih; Tidi Dhalika; Mansyur ,; Iman Hernaman
Jurnal Ilmu Ternak Vol 20, No 1 (2020): June
Publisher : Fakultas Peternakan, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jit.v20i1.29853

Abstract

Penelitian bertujuan untuk mempelajari pengaruh lama fermentasi dan pemberian aditif molases atau lumpur kecap terhadap fermentabilitas dan kandungan protein kasar silase rumput Gajah cv. Taiwan. Dua puluh empat unit percobaan rumput Gajah yang homogen dialokasikan secara acak ke dalam 8 macam perlakuan lama fermentasi yaitu 3, 6, 9, dan 12 minggu dengan menggunakan aditif molasses dan lumpur sawit sebanyak 5%. Data yang telah terkumpul dilakukan analisis ragam dan dilanjutkan dengan uji Duncan. Hasil menunjukkan bahwa perlakuan mempengaruhi kandungan asam laktat dan ammonia silase (P<0,05), namun tidak berpengaruh nyata terhadap nilai pH dan protein kasar. Asam laktat tertinggi (P<0,05) diperoleh pada perlakuan penggunaan lumpur sawit pada lama fermentasi 3 minggu, sedangkan nilai ammonia tertinggi (P<0,05) diperoleh pada perlakuan penggunaan lumpur kecap pada lama fermentasi 12 minggu. Semakin lama fermentasi akan semakin meningkat kadar ammonia. Kesimpulan, menunjukkan bahwa  jenis aditif dan lama ensilase memberikan pengaruh terhadap kandungan asam laktat dan ammonia namun tidak terhadap nilai pH dan protein kasar. Hubungan antara lama waktu dengan kadar ammonia/N-NH3adalah pada penggunaan molasses y=0,4094x+3,0083, R² = 0,8927, r = 0,945, sedangkan lumpur kecap y = 0,3156x + 3,4167, R² = 0,6487, r = 0,805.
Karakteristik Produksi Ayam Tukong: Plasma Nutfah Ayam Lokal di Kalimantan Barat Yuli Arif Tribudi; Ahmad Tohardi; Ardi Libra Ryadi
Jurnal Ilmu Ternak Vol 20, No 2 (2020): December
Publisher : Fakultas Peternakan, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jit.v20i2.30461

Abstract

Ayam Tukong merupakan salah satu jenis ayam lokal yang berasal Kalimantan Barat dan merupakan sumber daya genetik unggas lokal Indonesia yang sangat potensial dikembangkan. Penelitian bertujuan mengetahui karakteristik produksi ayam Tukong sebagai upaya dasar dalam pengelolaan plasma nutfah ayam lokal di wilayah Kalimantan Barat. Penelitian dilaksanakan pada bulan Januari-Juli 2020 di Laboratorium Peternakan Fakultas Pertanian, Universitas Tanjungpura. Materi yang digunakan adalah adalah 7 ekor ayam Tukong yang terdiri atas 2 ekor jantan dan 5 ekor betina. Parameter yang diamati ciri khas ayam Tukong secara kualitatif dan kuantitatif (bobot badan dan bentuk tubuh), umur pertama kali bertelur, produksi telur, berat telur, warna telur, fertilitas, daya tetas dan bobot tetas. Ayam Tukong dari ukuran tubuh, warna bulu dan bentuk telur tidak berbeda jauh dengan ayam lokal lainnya. Perbedaan spesifik yang dimiliki ayam Tukong daripada ayam lokal lainnya yaitu tidak terdapat tungging/pangkal ekor atau ”brutu” yang biasanya terdapat di bagian ujung tulang belakang sehingga menyebabkan ayam Tukong tidak mempunyai bulu ekor. Bobot badan pada ayamTukong jantan sebesar 1,65±0,82kg sedangkan pada ayam betina sebesar 1,42±0,55 kg. Jumlah produksi telur ayam Tukong  mencapai 9,45±1,22 butir/ekor dengan berat telur 40,37±5,05 g. Fertilitas telur ayam Tukong adalah 73,51% dengan daya tetas sebanyak 81,42% dan bobot tetas sebesar 26,89±2,73 g.
Penampilan Reproduksi Sapi Betina F1 Persilangan Bali dan Pesisir di Kabupaten Padang Pariaman amirul ichsan ichsan
Jurnal Ilmu Ternak Vol 20, No 2 (2020): December
Publisher : Fakultas Peternakan, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jit.v20i2.27099

Abstract

Satu kajian telah dilakukan untuk mencermati penampilan sifat kualitatif dan reproduksi sapi betina F1 persilangan sapi lokal di Padang Pariaman Sumatera Barat. Hasil persilangan jenis sapi Bali dan sapi Pesisir ini dicermati untuk mengidentifikasi sifat  reproduksi ternak sapi silangan. Metode penelitian menggunakan survey. Pengumpulan data primer dilakukan melalui wawancara kepada peternak sapi persilangan (Bali × Pesisir), dengan bantuan kuesioner. Pengambilan responden dilakukan dengan cara sensus yaitu peternak yang memelihara sapi betina silangan Bali × Pesisir. Sedangkan pemilihan sampel ternak dilakukan dengan metode porposive sampling. Peubah pada kajian ini yaitu sifat reproduksi meliputi Calving Interval, Service per Conseption, dan Service Period. Hasil menunjukan bahwa sifat reproduksi dari sapi betina F1 persilangan Bali × Pesisir seperti Calving interval dan Service periode masih kurang baik. Service per Conception pada sapi Bali × Pesisir di Nagari Ketaping adalah 1,49 ± 0,14 dan 1,52 ± 0,22 untuk Nagari Tapakis. Dengan demikian nilai Service per Conception pada sapi betina persilangan Bali × Pesisir di Nagari Ketaping dan Nagari Tapakis ideal.
Pengaruh Lama Pengukusan terhadap Suhu Gelatinisasi, Retensi Bahan Kering dan Energi Metabolis Tepung Ubi Jalar (Ipomoea batatas L.) pada Ayam Broiler Deny Saefulhadjar; Denny Rusmana; Hendi Setiyatwan; Ana Rochana Tarmidi
Jurnal Ilmu Ternak Vol 20, No 1 (2020): June
Publisher : Fakultas Peternakan, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jit.v20i1.29136

Abstract

ABSTRAKPenelitian untuk mengetahui suhu gelatinisasi dan retensi tepung ubi jalar (Ipomoea batatas L.) pada ayam broiler akibat pengukusan dilaksanakan di Laboratorium Nutrisi Ternak Unggas Non Ruminansia dan Industri Makanan Ternak Universitas Padjadjaran Jatinangor. Ubi jalar diberi empat perlakuan, yaitu tanpa pengukusan, dan pengukusan selama 15, 30, dan 45 menit.  Suhu gelatinisasi tepung umbi ubi jalar diukur menggunakan Pertens Rapid Visco Analizer. Pengukuran retensi bahan kering dan energi metabolis ransum dilakukan dengan metode koleksi total. Ayam pedaging strain Cobb sebanyak 20 ekor yang berumur 5 minggu ditempatkan pada 20 kandang individu yang terbuat dari kawat dengan ukuran 55 x 35 x 60 cm. Rancangan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL). Hasil pengukuran menunjukkan bahwa suhu gelatinisasi ubi yang dikukus nyata berbeda (P<0,05) dengan ubi yang tidak dikukus. Suhu gelatinisasi antar lama pengukusan berbeda tapi tidak nyata (P>0,05). Retensi bahan kering, energi metabolis (EM), dan energi metabolis terkoreksi nitrogen (EMn)  pada pengukusan selama 15 menit semuanya nyata lebih tinggi (P<0,05) dari ubi jalar yang tidak dikukus, namun tidak berbeda nyata (P>0,05) dari ubi jalar yang dikukus. Pengukusan selama 15 menit cukup untuk meningkatkan retensi ubi jalar. 
Potential of Banana Plant Waste as Animal Feed yanuartono - yanuartono; Alfarisa - Nururrozi; Indarjulianto - Soedarmanto; Dhasia - Ramandani; Hary - Purnamaningsih
Jurnal Ilmu Ternak Vol 20, No 1 (2020): June
Publisher : Fakultas Peternakan, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jit.v20i1.26358

Abstract

AbstractThe availability of forage feed is one of the factors that greatly influences the success of ruminant livestock businesses. However, forage will be difficult to obtain during the dry season so that feed is generally replaced from various agricultural wastes such as rice straw, stover or corn straw and other crop wastes. At present the use of banana plant waste as animal feed varies greatly from each banana producing country. Banana by-products such as leaves, young plants, rejected fruit and stems can be used as a source of ruminant animal feed. Although the volume of banana plant waste is abundant, its utilization is limited by several factors such as the high fiber in the stems and leaves. In addition, high water content can easily damage banana plant waste so that it is often wasted. To overcome the above constraints, further processing methods are needed to increase the nutritional value. The easiest and most low-cost method of further processing is using fermentation technology. Added value of the fermentation process is being able to preserve seasonally abundant feed for subsequent feeds during periods of feed shortages. This paper aims to briefly summarize the potential and benefits of fermented banana plant waste as ruminant animal feed.Keywords: agricultural by-products, bananas, animal feed, fermentation
Angka Kebuntingan Kerbau Rawa (bubalus bubalis) pada Hormon Sinkronisasi yang Berbeda Heru Gunawan; Muahamad Rodiallah; Yendraliza .
Jurnal Ilmu Ternak Vol 20, No 1 (2020): June
Publisher : Fakultas Peternakan, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jit.v20i1.28582

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mencari metode sinkronisasi yang dapat meningkatkan angka kebuntingan pada kerbau rawa di Kabupaten Kuansing. Penelitian ini menggunakan  ekor ternak kerbau betina yang tidak bunting dan dibagi dalam 3 kelompok. Kelompok pertama di injeksi dengan GnRH pada hari pertama, diikuti injeksi PGF2α pada hari ke-7 setelah injeksi GnRH. Pengamatan dilakukan pada hari ke-8. Kelompok kedua di injeksi PGF2α pada hari pertama, diikuti injeksi PGF2α pada hari ke-11. Pengamatan dilakukan pada hari ke-12. Kelompok ketiga diinjeksi dengan PGF2α pada hari pertama dan pengamatan dilakukan pada hari ke-8. Ternak di inseminasi buatan (IB) setelah terlihat tanda-tanda estrus dengan straw 0.5 ml dari BIB Tuah Sakato.  Data di analisis dengan Rancangan Acak Kelompok (RAK). Peubah yang diukur adalah kecepatan estrus, lama estrus, intensitas estrus, persentase estrus dan persentase kebuntingan. Hasil penelitian menunjukkan penggunaan kombinasi hormon GnRH + PGF2α pada kerbau rawa di Kuansing menghasilkan persentase kebuntingan tertinggi (100%), estrus lebih cepat (53.67 jam), 100% estrus, dengan lama estrus 13.5 jam dan score intensitas estrus tertinggi (+++). Kesimpulan; sinkronisasi menggunakan GnRH dan PGF2α terbaik meningkatkan angka kebuntingan kerbau rawa di Kuansing.
Estimasi Emisi Gas Rumah Kaca dan Aplikasi Pemanfaatan Konsorsium Bakteri dari Limbah Peternakan dengan Media Batubara dalam Menghasilkan Biogas Yuli Astuti Hidayati; Eulis Tanti Marlina; K. N. Rahmah; Ellin Harlia
Jurnal Ilmu Ternak Vol 20, No 2 (2020): December
Publisher : Fakultas Peternakan, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jit.v20i2.30595

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah mengestimasi emisi gas rumah kaca dari populasi ternak ruminansia dan memanfaatkan GRK sebagai energi alternatif, yang terbentuk dari aktivitas konsorsium bakteri dalam limbah ruminansia sebagai starter dengan media batubara. Penelitian ini terdiri dari tiga tahap: Tahap 1 adalah estimasi emisi gas rumah kaca yang didasarkan pada survei populasi ternak di Kabupaten Sumedang (Jatinangor, Tanjungsari dan Sukasari) menurut metode IPCC 2006. Tahap 2 adalah percobaan skala laboratorium untuk membuktikan pembentukan gas rumah kaca dari sampel limbah ruminansia. Tahap 3 adalah pemanfaatan gas rumah kaca sebagai sumber energi dengan media batubara dan starter konsorsium bakteri dari feses ternak. Sampel untuk penelitian skala laboratorium diperoleh dengan mengaktifasi konsorsium bakteri dari feses ternak yang ditanam di media batubara. Penelitian ini dilakukan sebagai penelitian eksploratif dengan memanfaatkan feses sapi perah, feses sapi potong, feses kerbau yang ditambahkan secara terpisah ke dalam medium 98-5 yang terbuat dari campuran komponen kimia dan diencerkan dengan aquadest dan cairan rumen. Setiap sampel disimpan ke dalam digester anaerobik 250 ml, diinkubasi selama 15 hari, dianalisis dengan Gas Chromatography (GC-A14). Hasil penelitian menunjukkan bahwa peternakan ruminansia menghasilkan gas rumah kaca khususnya CH4 yang berpotensi dapat dikurangi dengan memanfaatkannya sebagai biogas dengan media batubara.
Kualitas Fisik Telur Itik Dengan Sistem Pemeliharaan Semi Intensif dan Intensif Emy Saelan; Aqshan Shadikin Nurdin
Jurnal Ilmu Ternak Vol 20, No 2 (2020): December
Publisher : Fakultas Peternakan, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jit.v20i2.29930

Abstract

Penelitian Kualitas Fisik Telur Itik Dengan Sistem Pemeliharaan Semi Intensif dan Intensif dilaksanakan dikandang Percobaan di Desa Akedaga, Kabupaten Halmahera Timur.  Itik yang digunakan dalam penelitian  sebanyak 60 ekor umur 18 minggu yaitu 30 ekor untuk sistem pemeliharaan semi intensif dan 30 ekor untuk sistem pemeliharaan intensif. Penelitian ini dianalisis dengan Uji t Student  dengan 2 perlakuan dan 15 kali ulangan yaitu Pemeliharaan Semi Intensif  dan Pemeliharaan Intensif.  Hasil penelitian menunjukkan (1) Produksi telur; (2) Bobot telur; (3) Shape Index (SI); (4) Tebal kerabang; dan (5) Warna kuning telur; berbeda nyata (P<0,05) antara sistem pemeliharaan semi intensif dan intensif, namun tebal kerang tidak berbeda nyata (P>0,05) antara sistem pemeliharaan semi intensif dan pemeliharaan intensif. Hasil penelitian dapat disimpulkan sistem pemeliharaan intensif memberikan hasil yang optimal untuk produksi telur dan kualitas fisik dari telur itik.Kata kunci: Semi intensif, intensif, kualitas fisik, telur itik