cover
Contact Name
I Gusti Agung Paramita
Contact Email
vidyawertta@unhi.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
vidyawertta@unhi.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
VIDYA WERTTA : Media Komunikasi Universitas Hindu Indonesia
ISSN : 08527776     EISSN : 26557282     DOI : -
Core Subject : Education,
Vidya Wertta Journal published by the Religion and Culture Fakulty of the Indonesian Hindu University. Publish twice a year, on April and October. The focus and reach of issues raised in the Vidya Wertta Journal include religion, philosophy, religious and cultural law.
Arjuna Subject : -
Articles 169 Documents
MENAKAR KEWENANGAN DAN TATA HUBUNGAN KELEMBAGAAN ANTARA MAJELIS DESA ADAT DENGAN DESA ADAT DI BALI I Putu Sastra Wibawa; I Wayan Martha; I Komang Dedi Diana
VIDYA WERTTA : Media Komunikasi Universitas Hindu Indonesia Vol 3 No 1 (2020): Vidya Werta, Media Komunikasi Universitas Hindu Indonesia
Publisher : FAKULTAS ILMU AGAMA DAN KEBUDAYAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (590.834 KB) | DOI: 10.32795/vw.v3i1.671

Abstract

Terdapat pemberitaan bahwa Majelis Desa Adat dapat menjatuhkan sanksi kepada desa adat dalam bentuk sanksi administrasi, baik terkait surat menyurat, tidak menerima undangan rapat dan usulan kepada Gubernur untuk tidak mendapatkan bantuan pembinaan desa adat sejumlah Rp. 300 Juta jika tidak mendukung program pemerintah Provinsi khususnya terkait dengan penanganan Covid-19. Berdasarkan uraian tersebut terdapat beberapa pertanyaan yang dapat diajukan, antara lain, 1) Bagaimanakah pengaturan kewenangan dari Majelis Desa Adat di Bali dan 2) Bagaimanakah tata hubungan kelembagaan antara Majelis Desa Adat dengan desa adat di Bali. Penelitian ini termasuk penelitian hukum normatif dengan menggunakan pendekatan perundang-undangan dan pendekatan konsep. Analisa dilakukan terhadap bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder dengan analisis deskriptif. Perda Desa Adat di Bali tidak satu pun pasal yang memberikan payung hukum Majelis Desa Adat dapat memberikan sanksi kepada desa adat Secara umum tugas Majelis Desa Adat adalah mengayomi, membina, dan mengembangkan adat istiadat yang ada di Desa Adat. Usulan pemberian sanksi kepada desa adat oleh Majelis Desa Adat jika itu terjadi akan muncul kesewenang-wenangan atau disebut sebagai tindakan sewenang-wenang atau dalam bahasa administrasi negara disebut sebagai abuse de droit atau bahkan dapat disebut terjadi pelanggaran terhadap asas kepastian hukum, Tata hubungan antara desa adat dengan Majelis Desa Adat setidaknya ada 3 (tiga) tata hubungan yang dapat dilakukan yakni, otoritatif, koordinatif; dan/atau konsultatif. Sehingga tidak ada pengaturan hubungan secara hierarki antara desa adat dengan Majelis Desa Adat.
AKTIVITAS RELIGIUS MASYARAKAT DI DESA KEROBOKAN KABUPATEN BADUNG DALAM MENJAGA KEBERADAAN PURA PETITENGET Anak Agung Made Sutanaya
VIDYA WERTTA : Media Komunikasi Universitas Hindu Indonesia Vol 3 No 1 (2020): Vidya Werta, Media Komunikasi Universitas Hindu Indonesia
Publisher : FAKULTAS ILMU AGAMA DAN KEBUDAYAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (296.125 KB) | DOI: 10.32795/vw.v3i1.672

Abstract

Artikel ini mengkaji tentang aktivitas religius hubungannya dengan menjaga eksistensi pura khususnya di Pura Petitenget Desa Kerobokan Kabupaten Badung. Ada tiga aktivitas religi yang rutin dilaksanakan di Pura Petitenget yakni aktivitas religius pada saat purnama-tilem. Dimana pada saat itu krama Desa Kerobokan melakukan persembahyangan biasa di Pura Petitenget dan memohon tirtha pengelukatan untuk kesucian rohani dan jasmnasi, dan memohon kesembuhan. Pada Buda Cemeng Merakih aktivitas religius semakin padat karena ini merupakan puncak piodalan di Pura Petitenget. Seluruh umat Hindu akan tangkil di pura itu pada saat itu. Aneka sesajen dan kesenian sakral juga ditampilkan. Aktivitas religius yang ketiga yakni ketika upacara mekiyis sebelum nyepi dan ritual pelaban sasih kawulu. Di Mana pada saat ini digelar ritual bhuta yadnya, pecaruan untuk menetralisir energi negatif. Ritual ini juga menunjukkan identitas Pura Petitenget sebagai purusa.
BANTAL SIU PADA UPACARA PAWIWAHAN DI KELURAHAN BALER BALE AGUNG KECAMATAN NEGARA KABUPATEN JEMBRANA I Gusti Ayu Ngurah; Ni Ketut Caturadi Mahyuni
VIDYA WERTTA : Media Komunikasi Universitas Hindu Indonesia Vol 3 No 1 (2020): Vidya Werta, Media Komunikasi Universitas Hindu Indonesia
Publisher : FAKULTAS ILMU AGAMA DAN KEBUDAYAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (669.656 KB) | DOI: 10.32795/vw.v3i1.673

Abstract

This article discusses of bantal siu at a ceremony in Baler Bale Agung Village, Negara District of Jembrana Regency. Banten is unique and different from other regions, but still refers to the teachings of Hinduism. The topic that will be studied is about the shape and function of the bantal siu at a pawiwahan ceremony. This research is qualitative, data collection is done by field interviews, document studies and observations. From the analysis of the results of the data, the research results obtained are: 1) The shape of the Banten Bantal Siu is used in the Baler Bale Agung Village in the procession of the bride and groom carrying out the nutmeg. 2) Banten Bantal Siu several functions are have, namely: religious function, social function, aesthetic function, and education function.
REJANG RENTENG BENTUK KESETARAAN GENDER DALAM RUANG SENI SAKRAL DI KOTA DENPASAR Ni Luh Wiwin Astari; Made Sugiarta
VIDYA WERTTA : Media Komunikasi Universitas Hindu Indonesia Vol 3 No 2 (2020): Vidya Wertta, Media Komunikasi Universitas Hindu Indonesia
Publisher : FAKULTAS ILMU AGAMA DAN KEBUDAYAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32795/vw.v3i2.1054

Abstract

Isu tentang kesetaraan gender sampai saat ini masih terus diperbincangkan. Hal ini sebagai bentuk upaya mengangkat kesejajaran antara laki-laki dengan perempuan dalam berbagai sektor. Artikel ini berupaya mengangkat Rejang Renteng hubungannya dengan kesetaraan gender. Sebagaimana diketahui, peran perempuan dalam ruang sakral selalu berada dalam posisi minor. Bahkan dalam ruang agama sendiri, laki-laki selalu memainkan peran yang lebih besar daripada perempuan. Tidak begitu dalam seni sakral di Bali. Tarian rejang Renteng semakin menjadi trend pementasan saat ini. Tarian yang gerakannya klasik dan sederhana ini selalu menyedot perhatian penontonnya. Semakin maraknya pementasan Rejang Renteng dalam pelaksanaan upacara yadnya di Bali membuktikan eksistensi perempuan dalam ruang-ruang seni khususnya yang berhubungan dengan agama.
NILAI PENDIDIKAN AGAMA HINDU DALAM UPACARA MAPINTON DI PURA CANDI GORA DESA PAKRAMAN TIANYAR KABUPATEN KARANGASEM I Gede Suartama
VIDYA WERTTA : Media Komunikasi Universitas Hindu Indonesia Vol 3 No 2 (2020): Vidya Wertta, Media Komunikasi Universitas Hindu Indonesia
Publisher : FAKULTAS ILMU AGAMA DAN KEBUDAYAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32795/vw.v3i2.1056

Abstract

Mapinton di Pura Candi Gora sebagai pelaksanaan prosesi upacara sakral memiliki arti penting, baik yang tampak (manifest) maupun yang tidak tampak (laten). Sehingga dapat mempertahankan keberadaannya serta mampu mewujudkan kesejahteraan dan kemakmuran bagi masyarakat pendukungnya. Mapinton sebagai sarana menunjukkan jati diri anak yang suputra, diupacarai, dihormati dan diagungkan, serta sebagai penyempurna kegiatan ritual. Upacara mapinton di Desa Pakraman Tianyar Karangasem memiliki keunikan tersendiri yakni mempersembahkan babi guling sebutan untuk babi yang dibakar. Persembahan babi guling ini dilakukan di Pura Candi Gora.
KEBIJAKAN HUMANIS PEMERINTAH DESA DALUNG TERHADAP MASYARAKAT LANJUT USIA I Gede Jaya Kumara; I Putu Nuratama
VIDYA WERTTA : Media Komunikasi Universitas Hindu Indonesia Vol 3 No 2 (2020): Vidya Wertta, Media Komunikasi Universitas Hindu Indonesia
Publisher : FAKULTAS ILMU AGAMA DAN KEBUDAYAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32795/vw.v3i2.1059

Abstract

Sebagai daerah pariwisata, Kecamatan Kuta Utara, terdapat masyarakat yang tergolong masyarakat rentan serta perlu adanya perhatian khusus, yakni masyarakat lanjut usia. Masyarakat lanjut usia di usia mereka bukannya tidak dapat melakukan apa-apa, justru mereka dapat diberdayakan untuk meningkatkan kualitas hidup mereka. Maka pemberdayaan masyarakat lanjut usia salah satunya dengan menggunakan dana yang bersumber dari APBDes perlu untuk diketahui dan dikaji dengan penelitian. Khususnya di Desa Dalung perlu untuk dikaji penggunaan APBDes sebagai bagian kebijakan pemerintah yang berdasarkan atas nilai-nilai kemanusiaan kepada masyarakat lanjut usia. Maka relevan untuk diangkat judul penelitian yang dilakukan yakni “Kebijakan Humanis Pemerintah Desa Dalung Terhadap Masyarakat Lanjut Usia”. Pendekatan dilakukan dengan kajian humanisme, termasuk jenis penelitian kualitiatif, kemudian disajikan dengan narasi deskriptif. Simpulan penelitian menunjukan kebijakan humanis pemerintah ditunjukkan dengan adanya produk hukum yang pro terhadap masyarakat lanjut usia termasuk dengan pemberian anggaran khusus bagi masyarakat lanjut usia.
IMPLEMENTASI TRI KAYA PARISUDHA DALAM PENDIDIKAN KARAKTER SISWA SD NEGERI 8 BAN KECAMATAN KUBU, KABUPATEN KARANGASEM I Nengah Sumada
VIDYA WERTTA : Media Komunikasi Universitas Hindu Indonesia Vol 3 No 2 (2020): Vidya Wertta, Media Komunikasi Universitas Hindu Indonesia
Publisher : FAKULTAS ILMU AGAMA DAN KEBUDAYAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32795/vw.v3i2.1061

Abstract

Pendidikan merupakan usaha sadar yang dilakukan secara terus menerus dan berkelanjutan. Pendidikan karakter menjadi bagian yang sangat utama dalam upaya mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Untuk membangun dan menumbuhkan karakter masyarakat dilakukan pengalian dan pengkajian nilai-nilai agama Hindu. Salah satunya dengan mengimplementasikan Tri Kaya Parisudha dalam pendidikan karakter. Dengan mengimplementasikan Tri Kaya Parisudha dalam pendidikan karakter siswa SD Negeri 8 Ban dapat dijadikan sebagai landasan/pondasi membangun karakter, memberi arahan untuk pembangunan karakter, Tri Kaya Parisudha merupakan cerminan karakter. Dalam pengimplementasian Tri Kaya Parisudha dapat dilakukan melalui tiga cara yaitu : membiasakan berpikir yang baik, membiasakan berkata dengan baik, membiasakan bertindak yang baik.
UPACARA USABA KAPAT DI DESA ADAT TIMBRAH KARANGASEM BALI (PERSPEKTIF SOSIO KULTURAL) Ida Ayu Ketut Suryani Wahyuni
VIDYA WERTTA : Media Komunikasi Universitas Hindu Indonesia Vol 3 No 2 (2020): Vidya Wertta, Media Komunikasi Universitas Hindu Indonesia
Publisher : FAKULTAS ILMU AGAMA DAN KEBUDAYAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32795/vw.v3i2.1067

Abstract

Usaba Kapat di Desa Timbrah merupakan tradisi turun temurun yang dilaksanakan pada purnama kapat. Setiap tahun tradisi Aci Usaba Kapat dimaknai sebagai ucapan rasa syukur dan memohon kesejahteraan untuk masyarakat setempat. Upacara ini diiringi dengan belasan penari yang menarikan tarian rejang sakral sebagai simbol bidadari yang turun ke dunia dengan membawa amerta yang diwujudkan dalam bentuk tirta yang bertujuan untuk memohon datangnya hujan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Dalam tarian ini para penari menggunakan tali selama menari yang memiliki makna sebagai pengikat tresna saling asih saling melindungi. Masyarakat setempat sangat percaya jika upacara ini tidak dilaksanakan maka akan sesuatu hal yang tidak diinginkan terjadi, maka dari itu tradisi Aci Usaba Kapat harus dilaksanakan setiap tahunnya dan harus dipatuhi setiap proses upacaranya, sehingga tradisi ini dianggap relevan hingga saat ini dilaksanakan oleh masyarakatnya.
AKTUALISASI PANCASILA DALAM BUDAYA MASYARAKAT BALI AGA I Gusti Agung Paramita
VIDYA WERTTA : Media Komunikasi Universitas Hindu Indonesia Vol 3 No 2 (2020): Vidya Wertta, Media Komunikasi Universitas Hindu Indonesia
Publisher : FAKULTAS ILMU AGAMA DAN KEBUDAYAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32795/vw.v3i2.1068

Abstract

Artikel ini membahas tentang aktualisasi Pancasila dalam budaya masyarakat Bali Aga khususnya di dua desa yakni Desa Cempaga dan Pedawa. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif. Teknik pengumpulan data dibagi menjadi tiga yakni observasi, wawancara mendalam dengan para tokoh adat dan agama, dan studi dokumen yang berhubungan dengan penelitian. Setelah data terkumpul akan dilakukan analisis secara deskriptif kualitatif, lalu dituliskan menjadi laporan penelitian. Berdasarkan penelitian di lapangan, didapatkan hasil yakni bahwa budaya masyarakat Bali Aga di Desa Cempaga dan Pedawa sangat relevan dengan nilai-nilai Pancasila. Aktualisasi dua sila dari Pancasila dalam masyarakat di Desa Cempaga yakni sila tentang kerakyatan dan keadilan sosial. Masyarakat Bali Aga di Desa Cempaga menerjemahkan prinsip kerakyatan dalam kehidupan keseharian. Bentuk aktualisasi nilai Pancasila dalam budaya masyarakat Desa Pedawa juga tidak jauh berbeda dengan Desa Cempaga. Khususnya yang berhubungan dengan musyawarah mufakat dan sikap gotong royong yang merupakan wujud dari Eka Sila Bung Karno. Dalam kehidupan sosio-kultural di Desa Pedawa, prinsip-prinsip pemusyawaratan dijunjung tinggi. Mereka akan bermusyawarah ketika ada kegiatan-kegiatan sosial, budaya dan keagamaan—apalagi berhubungan dengan pengambilan keputusan penting di desanya.
TRANSFORMASI NILAI ETIKA DALAM UPACARA MENDEM SAWA PADA MASYARAKAT BALI AGA DI DESA TRUNYAN KABUPATEN BANGLI I Nengah Artawan; Ni Made Surawati
VIDYA WERTTA : Media Komunikasi Universitas Hindu Indonesia Vol 3 No 2 (2020): Vidya Wertta, Media Komunikasi Universitas Hindu Indonesia
Publisher : FAKULTAS ILMU AGAMA DAN KEBUDAYAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32795/vw.v3i2.1069

Abstract

Tradisi di Desa Trunyan kebanyakan terefleksi dalam kegiatan yadnya. Yadnya ini akan dilandasi dengan keikhlasan tanpa pemrih. Tradisi yang ada di Desa Trunyan banyak memiliki perbedaan dengan desa lainnya. Tentu perbedaan semacam ini bukanlah terletak pada konsepsinya, melainkan hanya menyangkut dengan Desa, Kala, Patra. Salah satu yang akan dikaji dalam artikel ini yakni tradisi mendem sawa. Mendem sawa ada tiga cara yaitu pertama mendem sawa dengan cara tidak dikubur ini khusunya bagi orang Trunyan yang mati wajar, maka di pendem di sema wayah, kedua orang tersebut meninggal belum ketus gigi ini bisa dikatakan masih statusnya anak-anak, maka orang tersebut sawanya di kubur di sema nguda, ketiga ketika orang itu mati karena ulah pati, atau salah pati, baru orang tersebut sawanya dikubur di sema Bantas. Tradisi mendem sawa pada masyarakat Bali Aga inilah yang ada di Desa Terunyan mengalami transformasi nilai etika. Melihat perkembangan semakin maju dan didukung oleh pariwisata, tentu masyarakat trunyan biasa melakukat aktivitas ke kuburan Terunyan, sekaligus menjadi pemandu wisata.

Page 6 of 17 | Total Record : 169