cover
Contact Name
Albertus Rusputranto Ponco Anggoro, S.Sn., M.Hum
Contact Email
acintya@isi-ska.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
acintya@isi-ska.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota surakarta,
Jawa tengah
INDONESIA
Acintya
ISSN : 20852444     EISSN : 26555247     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
Arjuna Subject : -
Articles 512 Documents
DESAIN TAMAN IN-DOOR HYDROPONIC UNTUK BANGUNAN PUBLIK BERLAHAN SEMPIT DI SURAKARTA Prasetyo, Ersnathan Budi; Purnomo, Agung
Acintya Vol. 12 No. 1 (2020)
Publisher : Institut Seni Indoensia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33153/acy.v12i1.3146

Abstract

Abstract Parks are important parts that cannot be left out in the design of urban landscape, architecture and interior design. Its existence is able to provide a fresh and comfortable atmosphere so that the quality of human life will be better. In its development, the availability of an ideal park in an urban environment is felt to be lack due to the increasingly limited land such as the narrow yard of the house or even no more area to make the park. Another challenge is how to utilize limited areas for in-door parks in both residential and public buildings that are more practical and efficient. This applied research aims to address this problem by offering a garden design with a hydroponic planting system which is now commonly used in agriculture or plantations to be applied to in-door garden designs. The research carried out in Surakarta is the process through identification, design experiments and design trials. The data in the form of artifacts, literature, and informants is carried out through observation, study of literature, interviews, and documentation. Design experiments are carried out using a design and aesthetic approach strengthened by an evocative, educative, psychological and socio-cultural approach. The SWOT analysis model is used in designing in-door garden designs. Design trials is executed through the activities of realizing design (experimental products) and their application (design implementation), evaluation, refinement of design concepts and formulation of recommendations. Keywords: in-door garden, hydroponic, narrow land, Surakarta.  Abstrak  Taman merupakan bagian penting yang tidak bisa ditinggalkan dalam perancangan landskap kota, arsitektur dan desain interior. Keberadaannya mampu memberikan suasana segar dan nyaman sehingga kaulitas hidup manusia akan menjadi lebih baik. Dalam perkembanganya tersedianya taman yang ideal di lingkungan perkotaan dirasakan masih kurang oleh karena semakin terbatasnya lahan seperti sempitnya halaman rumah atau bahkan tidak ada lagi area untuk dibuat taman. Hal lainnya adalah bagaimana memanfaatkan area-area yang terbatas untuk taman in-door baik di rumah tinggal maupun bangunan umum yang lebih praktis dan efisien juga menjadi sebuah tantangan. Penelitian terapan ini bertujuan menjawab permasalahan tesebut dengan menawarkan sebuah desain taman dengan sistem tanam hydroponic yang pada masa sekarang biasa digunakan dalam pertanian atau perkebunan untuk diaplikasikan ke dalam desain taman in-door. Penelitian yang dilakukan di Surakarta ini prosesnya melalui identifikasi, eksperimen desain dan uji-coba desain. Untuk menggali data yang berupa artefak, literatur, dan informan dilakukan melalui observasi, studi literatur, wawancara, dan dokumentasi. Eksperimen desain dilakukan dengan pendekatan desain dan estetis diperkuat oleh pendekatan evokatif, edukatif, psikologi dan sosio-budaya. Model analisis SWOT dipakai ketika akan melakukan perumusan desain taman in-door. Uji-coba desain melalui kegiatan mewujudkan desain (produk eksperimen) dan penerapannya (implementasi desain), evaluasi, penyempurnaan konsep desain dan perumusan rekomendasi. Keywords: taman in-door, hydroponic, lahan sempit, Surakarta.
HAK CIPTA DAN KARYA SENI DI ERA DIGITAL Murfianti, Fitri
Acintya Vol. 12 No. 1 (2020)
Publisher : Institut Seni Indoensia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33153/acy.v12i1.3147

Abstract

ABSTRACT In the past two decades, art and technology have increasingly become inseparable. Technology, in this case the internet, has produced a new era known as the digital era followed by the emergence of many problems, one of which is in the field of copyright. There are many cases of copyright infringement committed by art creators and the public both consciously and unconsciously due to lack of knowledge about copyright. Moreover, all the required information, now, is available on the Internet. This condition gives a big opportunity to plagiarize an art work. Through literature studies, this study focuses on the perspective of the limitations and exceptions of arts work copyright in the digital age and explains the concepts of regulation and protection. The results of this study will be very useful in developing the course content of Etika Profesi (Professional Ethics) and HAKI (IPR) in Visual Communication Design Study Program, the Faculty of Fine Arts and Design. Keywords: Copyright, Artworks, Digital Era  ABSTRAK Dalam dua dekade terakhir, seni dan teknologi semakin tidak bisa dipisahkan. Teknologi dalam hal ini internet telah melahirkan suatu era baru yang dikenal dengan era digital yang diikuti oleh munculnya banyak permasalahan, salah satunya di bidang hak cipta. Banyak kasus-kasus pelanggaran hak cipta yang dilakukan oleh kreator seni maupun masyarakat pada umumnya baik disadari maupun tidak disadari karena minimnya pengetahuan tentang hak cipta, terlebih saat ini semua informasi yang dibutuhkan sudah tersedia di Internet. Kondisi ini memberi peluang yang sangat besar untuk melakukan penjiplakan terhadap sebuah karya seni. Melalui studi pustaka, kajian ini fokus pada perspektif pembatasan dan pengecualian hak cipta karya seni di era digital serta memaparkan konsep pengaturan serta perlindungannya. Hasil penelitian ini akan sangat bermanfaat dalam mengembangkan konten mata kuliah Etika Profesi dan HAKI di Program Studi Desain Komunikasi Visual, Fakultas Seni Rupa dan Desain. Kata Kunci : Hak Cipta, Karya Seni, Era Digital 
Penciptaan Tari Anak-anak Disabilitas Kami Tak Berbeda Kuncoro, Jonet Sri; supendi, eko
Acintya Vol. 12 No. 1 (2020)
Publisher : Institut Seni Indoensia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33153/acy.v12i1.3148

Abstract

ABSTRACT  The dance work entitled "Kami Tak Berbeda” (We Are Not Different) is a dance work specifically for children with disabilities. This work is a development of previous works made by Jonet Sri Kuncoro. In this work combines deaf children, the blind, and physically disabled. This work is supported by three extraordinary schools in Solo Raya, namely SLB Cangakan Karanganyar and SLB B-C Hamong Putro Sukoharjo. This work was created with the approach of developing a pattern of six arising dots cell consisting of three rows with two dots on Braille letters made of 4/4 measure and sign language for the deaf and poetry reading. The peak process of the practice is a dance performance that has a form of performance combining the development of Braille letters pattern with sign language in group choreography supported by musical accompaniment as a power to express the atmosphere. Keywords: Disability, Deaf, Blind, Braille, Sign Language.  ABSTRAK Karya tari berjudul “Kami Tak Berbeda” merupakan karya tarian yang dikhususkan untuk anak-anak disabilitas. Karya ini merupakan pengembangan dari karya-karya sebelumnya yang dibuat oleh Jonet Sri Kuncoro. Pada karya ini menggabungkan antara anak-anak tuna rungu, tuna netra, dan tuna daksa. Karya ini di dukung oleh tiga sekolah luar biasa Kota Solo Raya, yaitu SLB Negeri Cangakan Karanganyar, dan SLB B-C Hamong Putro Sukoharjo. Karya ini diciptakan dengan pendekatan pengembangan pola enam sel titik timbul yang terdiri dari tiga baris dengan dua titik pada huruf Braille yang dibuat birama 4/4 dan bahasa isyarat bagi tuna rungu serta pembacaan puisi. Sebagai proses puncak dari latihan adalah pergelaran karya tari yang memiliki bentuk pertunjukan memadukan pengembangan pola huruf Braille dengan bahasa isyarat dalam koreografi kelompok yang didukung oleh iringan musik sebagai daya ungkap suasana. Kata kunci: Disabilitas, Tuna Rungu, Tuna Netra, Braille, Bahasa Isyarat.
VISUALISASI TIGA DIMENSIONAL MOTIF BATIK PADA MEDIA KAYU Prabowo, Rahayu Adi; Marwati, Sri
Acintya Vol. 12 No. 1 (2020)
Publisher : Institut Seni Indoensia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33153/acy.v12i1.3149

Abstract

ABSTRACT The beauty of batik as one form of visual culture in Indonesia is one of the priceless inheritance which has a philosophical symbolic meaning that regulates the social relationship between human and the human relationships with the God. The history of batik never revealed when batik began to exist and who created it. Batik in Indonesia has been known since the era of the Majapahit Kingdom and continues to grow until the emergence of the next kingdoms. Exploration of visual culture in Indonesia becomes a challenge in its learning and its realization. The reason is that every culture has its own social norm / custom that is very strong and influences the people's lives.The diverse application of batik motifs on various products greatly influences the strength of the existence of batik as one form of art in Indonesia which, of course, can also move the economic side of the creation of creativity that always emerges and develops in society. This artistic research of batik motifs richness that is applied into a wood carving motif is proposed to support the development of batik. This research uses a method of motifs exploration by bringing up traditional batik motifs that are packaged in a semi relief wood carving by applying a new motif patterned in accordance to the wood carving techniques. This method conveys traditional batik motifs with a three-dimensional style and in different  size in order to bring up the three-dimensional style. Keywords: Exploration, Batik Motifs, Wood Carving. ABSTRAK Keindahan batik sebagai salah satu wujud budaya rupa di Indonesia adalah merupakan salah satu warisan tak ternilai harganya, yang mempunyai kandungan makna simbolis filsafati yang mengatur hubungan sosial antar manusia serta hubungan manusia dengan Dzat Yang Maha Agung. Dalam kesejarahan tentang keberadaan batik tidak pernah diungkap kapan kali pertama muncul dan siapa yang menciptakannya. Namun batik di Indonesia telah dikenal sejak zaman Kerajaan Majapahit dan terus berkembang hingga munculnya kerajaan-kerajaan berikutnya. Ekplorasi sebuah kekayaan budaya rupa di Indonesia merupakan sebuah tantangan dalam hal pembelajaran dan perwujudannya. Hal tersebut dikarenakan setiap kekayaan budaya diiringi sebuah norma/adat sosial yang sangat kuat dan berpengaruh dalam sendi kehidupan masyarakat. Aplikasi motif batik yang beragam pada berbagai produk ini sangat mempengaruhi kekuatan keberadaan batik sebagai salah satu wujud seni rupa di Indonesia, yang tentunya juga dapat mengerakkan sisi ekonomi dari terciptanya kreativitas yang selalu muncul dan berkembang di masyarakat. Sebagai salah satu dukungan dalam perkembangan wujud seni batik ini, maka diusulkan sebuah penelitian kekaryaan (artistik) tentang kekayaan motif batik yang mengaplikasikan ke dalam sebuah motif ukir kayu yang selama ini belum pernah dilakukan. Sajian penelitian ini menggunakan metode eksplorasi motif, yaitu memunculkan motif-motif batik tradisi yang dikemas dalam tampilan ukir kayu semi relief dengan mengaplikasikan pola motif garapan baru sesuai dengan ranah teknik ukir kayu. Metode ini menuangkan motif batik tradisi namun dengan gaya tiga dimensi yang terdapat sedikit gubahan ukuran sebagai upaya memunculkan kekuatan tiga dimensionalnya. Kata Kunci : Ekplorasi, Motif Batik, Ukir Kayu.
CONGWAYNDUT: REFLEKSI FUNGSIONALISME STRUKTURAL SENI PERTUNJUKAN YANG MELINTAS BATAS Wrahatnala, bondet
Acintya Vol. 12 No. 2 (2020)
Publisher : Institut Seni Indoensia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33153/acy.v12i2.3576

Abstract

Abstract This paper positions itself as a study that portrays the Keroncong Wayang Gendut (Congwayndut) performance, as performance art that reflects structural functionalism. Because Congwayndut explicitly contained aspects of structural functionalism. In this paper, Congwayndut is positioned as an organism that has a structure and functions socially and culturally. Congwayndut is one of the many performing arts groups capable of interpreting traditional art in contemporary, meaning that it responds to the millennial generation with the construction of traditional performances, namely shadow puppet art. . Congwayndut has an important role in the development process or as a performance art model that accommodates other art disciplines, including music, wayang, theater, script, visuals, dramaturgy, which are combined as a typical Indonesian performance art prototype. Therefore, the structural-functional point of view emerged, as a step to explain to the public about the cultural phenomena experienced by Congwayndut. Structural functionalism was born as a reaction against the theory of evolution. If evolutionary studies aim to establish the stages of human cultural development, then structural-functionalism studies aim to build a social system, or social structure, through the study of the functioning patterns of relations between individuals, between groups. -groups, or between social institutions in a society, at a certain period of time. Keywords: Congwayndut, Cross-Border Performing Arts, Structural Functionalism  Abstrak Tulisan ini, memposisikan diri sebagai kajian yang memotret pertunjukan Keroncong Wayang Gendut (Congwayndut), sebagai seni pertunjukan yang merefelksikan fungsionalisme struktural. Karena di dalam Congwayndut secara eksplisit terkandung aspek fungsionalisme struktural. Congwayndut di dalam tulisan ini diposisikan sebagai organisme yang memiliki struktur, dan memiliki fungsi secara sosial budaya.Congwayndut adalah satu satu dari sekian banyak kelompok seni pertunjukan, yang mampu menafsir seni tradisi secara kekinian, artinya merespon generasi milenial dengan konstruksi pertunjukan tradisi yakni kesenian wayang kulit. Congwayndut memiliki peran penting dalam proses pengembangan atau sebagi model seni pertunjukan yang mengakomodir disiplin seni yang lain, ada musik, wayang, teater, naskah, rupa, dramaturgi, yang dijadikan satu sebagai purwarupa seni pertunjukan yang khas Indonesia. Oleh sebab itu lah sudut pandang struktural fungsional muncul, sebagai langkah untuk menjelaskan kepada publik, tentang gejala fenomena budaya yang dialami oleh Congwayndut. Fungsionalisme struktural lahir sebagai reaksi terhadap teori evolusi. Jika tujuan dari kajian-kajian evolusi adalah untuk membangun tingkat-tingkat perkembangan budaya manusia, maka tujuan dari kajian-kajian fungsionalisme struktural adalah untuk membangun suatu sistem sosial, atau struktur sosial, melalui pengajian terhadap pola hubungan yang berfungsi antara individu-individu, antara kelompok-kelompok, atau antara institusi-institusi sosial di dalam suatu masyarakat, pada suatu kurun masa tertentu. Kata Kunci : Congwayndut, Seni Pertunjukan Lintas Batas, Fungsionalisme Struktural
PEMANFAATAN TEKNOLOGI LASER ENGRAVING UNTUK MEMBUAT MATRIX RELIEF PRINT DENGAN MEDIA MDF Rahman, Deni
Acintya Vol. 12 No. 2 (2020)
Publisher : Institut Seni Indoensia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33153/acy.v12i2.3577

Abstract

ABSTRACTThe invention of laser technology is an extraordinary breakthrough in human life. The needs of human life are mostly helped by laser technology, including medicine, and the creative industries. In the creative industry, laser technology is very significant in producing works and products that require complicated details, form precision, and speed of cultivation.The advantages of laser technology are utilized in the studies of graphic art creations in making matrix relief print with MDF (Medium Density Fibreboard) media. The use of laser engraving technology is to create a matrix of graphic print works with high print principles by combining the forms produced by manual images and the forms of digital processing, which is, then, assisted by laser technology. Keywords: MDF, cutting laser, high printing technique, matrix ­­ABSTRAKPenemuan teknologi laser merupakan terobosan yang luar biasa dalam kehidupan manusia. Banyak kebutuhan hidup manusia yang kemudian terbantu oleh teknologi laser ini, di antaranya bidang kedokteran, dan industri kreatif. Khusus di bidang industri kreatif, teknologi laser sangat signifikan dalam menghasilkan karya dan produk yang memerlukan detail yang rumit, kepresisian bentuk, dan kecepatan penggarapan.Kelebihan teknologi laser tersebut dimanfaatkan dalam studi penciptaan karya seni grafis untuk membuat matrix relief  print dengan media MDF (Medium Density Fibreboard). Pemanfaat teknologi laser engraving tersebut untuk menciptakan matrix karya cetak grafis dengan prinsip cetak tinggi dengan memadukan bentuk–bentuk yang dihasilkan antara gambar manual dan bentuk-bentuk hasil olah digital, yang kemudian pengerjaan dibantu oleh teknologi laser. Kata kunci: MDF, laser cutting, teknik cetak tinggi, matrix
Model Penerjemahan Bahasa Ungkapan Dalam Pertunjukan Wayang Lakon Wahyu Purba Sejati Numani, Dewi
Acintya Vol. 12 No. 2 (2020)
Publisher : Institut Seni Indoensia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33153/acy.v12i2.3578

Abstract

ABSTRAK Penelitian Model Penerjemahan Bahasa Ungkapan Dalam Pertunjukan Wayang Lakon Wahyu Purba Sejati ini berusaha menyusun model penerjemahan bahasa ungkapan dalam pertunjukan wayang Lakon Wahyu Purba Sejati dari bahasa Jawa ke dalam bahasa Inggris. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif. Bahasa ungkapan tersebut diterjemahkan dari bahasa Jawa ke dalam bahasa Indonesia dan juga diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris sehingga orang yang berasal dari budaya selain Jawa di Indonesia dan juga orang dari budaya lain di negara lain bisa memahaminya dengan mudah. Hasil yang dicapai dari penelitian ini adalah model penerjemahan bahasa ungkapan dalam pertunjukan wayang Lakon Wahyu Purba Sejati dari bahasa Jawa ke dalam bahasa Inggris. Keluaran dari penelitian ini berupa artikel yang akan dimuat dalam jurnal ilmiah. Dengan dimuat dalam jurnal ilmiah, hasil penelitian tersebut dibaca banyak orang sehingga bisa menambah wawasan dan pengetahuan tentang bahasa ungkapan berbahasa Inggris dalam pertunjukan wayang.Keywords: model penerjemahan, bahasa ungkapan, wayang, Wahyu Purba Sejati ABSTRACTThe Research on Model Penerjemahan Bahasa Ungkapan Dalam Pertunjukan Wayang Lakon Wahyu Purba Sejati (The Translation Model of the Idioms in Wayang Performance Lakon Wahyu Purba Sejati) attempts to develop a model of the translation of idioms in the wayang performance lakon Wahyu Purba Sejati from Javanese into English. The method used is descriptive qualitative. The idioms are translated from Javanese into Indonesia and then translated into English in order that people or students from other culture in Indonesia can easily understand it, besides, people from other country also can do it as well.The results achieved from this study are the translation model of idioms or expression language in lakon Wahyu Purba Sejati. The output of this research is in the form of articles which will be published in scientific journals. Being published in scientific journals, the results of the study were read by many people so that they could add insight and knowledge about English language expressions in wayang performance.Keywords: translation model, idioms, wayang, Wahyu Purba Sejati
IMAJINER RUANG KEPALA DALAM REKAMAN GAMELAN AGÊNG DENGAN TEKNIK STEREOFONIK Santosa, Iwan Budi
Acintya Vol. 12 No. 2 (2020)
Publisher : Institut Seni Indoensia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33153/acy.v12i2.3579

Abstract

ABSTRACT The presentation of Javanese gamelan cannot always be present in the midst of our busy lives. In order to present musical karawitan whenever needed by the audience, it requires the recording of Javanese gamelan that can represent the original sound. Javanese people generally realize that the presentation of Javanese gamelan will be better if it is presented in pendapa. To find musical recordings as a performance in pendapa, it needs to consider the recording equipment used as well as recording techniques so that the sound will be obtained in accordance to the original sound and can bring the soul or spirit of Javanese gamelan. In order to get the gamelan recording in accordance to the original sound and to present the soul or spirit of the gamelan, the recording equipment used must adjust to the sound characteristics of the gamelan instruments and the recording uses stereophonic techniques. Stereophonics is a recording technique that is done in order to produce sounds in according to the original sound where the listeners feel to see a live performance. Keywords: Javanese Gamelan, recording, stereophonic.  AbastrakPenyajian gamelan Jawa tidak selalu bisa hadir di tengah kesibukan kita. Untuk menyajikan musik karawitan setiap kali dibutuhkan oleh penikmatnya, diperlukan rekaman gamelan Jawa yang dapat merepresentasikan suara aslinya. Masyarakat Jawa umumnya menyadari bahwa penyajian gamelan jawa akan lebih baik jika disajikan dalam pendapa. Untuk mengetahui rekaman musik sebagai sebuah pertunjukan dalam pendapa perlu memperhatikan alat perekam yang digunakan serta teknik perekamannya agar didapat suara yang sesuai dengan suara aslinya dan dapat memunculkan jiwa atau ruh gamelan Jawa. Untuk mendapatkan rekaman gamelan yang sesuai dengan suara aslinya dan menghadirkan jiwa atau ruh dari gamelan tersebut, alat perekam yang digunakan harus menyesuaikan dengan karakteristik bunyi dari alat musik gamelan tersebut dan perekamannya menggunakan teknik stereofonik. Stereophonics adalah teknik perekaman yang dilakukan untuk menghasilkan suara yang sesuai dengan suara aslinya dimana pendengar merasakan secara langsung pertunjukannya. Kata kunci: Gamelan Jawa, rekaman, stereofonik.
KREATIVITAS RAHAYU SUPANGGAH PADA FILM OPERA JAWA KARYA GARIN NUGROHO Salim, Muhammad Nur
Acintya Vol. 12 No. 2 (2020)
Publisher : Institut Seni Indoensia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33153/acy.v12i2.3580

Abstract

ABSTRACT One of the developments in film in Indonesia is the musical genre film. This genre film experienced a post-reform high point when Sherina's Adventure Film came. This point then became the beginning of the development of musical genre films that were born in the 2000s period. One of the interesting musical films is the Javanese Opera Film by Garin Nugroho. Opera Jawa is interesting because first, Opera Jawa has received various awards and nominations at both national and international levels. Second, because this film bases its musical work on Javanese gamelan or gamelan media. This second reason is the focus of this research. The research "Rahayu Suanggah's Creativity in Garin Nugroho's Javanese Opera Film" is an attempt to reveal one of the film music creation methodologies based on her creative process with Javanese karawitan media (gamelan music). The musical concepts of the musical that were carried by Rahayu Supanggah as the music director was revealed through Rahayu Supanggah's conceptual approach in Bothekan Karawitan Garap's book (2007). The results of this study; Rahayu Supanggah uses Javanese musical nuances in composing Javanese Opera music by involving songs that are composed in various variations such as; 1) single tembang, 2) pathetan, 3) nothing, 4) palaran, and 5) arrangement of traditional pieces while the illustration music consists of 1) New Composition, 2) Illustration of Traditional Music, 3) Exploration Music. Keywords: Creativity, Music, Javanese Opera, Rahayu Supanggah  ABSTRAK Perkembangan film di Indonesia salah satunya pernah diwarnai oleh film genre musikal. Film genre ini mengalami titik puncak pasca reformasi ketika Film Petualangan Sherina hadir. Titik tersebut kemudian menjadi awal perkembangan film genre musikal yang lahir pada periode tahun 2000-an. Salah satu film musikal yang menarik adalah Film Opera Jawa karya Garin Nugroho. Opera Jawa menarik karena pertama, Opera Jawa mendapatkan berbagai penghargaan dan nominasi tingkat nasional maupun internasional. Kedua, karena film ini mendasarkan garapan musikalnya dengan media gamelan Jawa atau karawitan. Alasan kedua inilah yang menjadi fokus pada penelitian ini.Penelitian “Kreativitas Rahayu Suanggah dalam Film Opera Jawa Karya Garin Nugroho” merupakan upaya mengungkap salah satu metodologi penciptaan musik film yang mendasarkan proses kreatifnya dengan media karawitan Jawa (musik gamelan). Konsep-konsep musikal karawitan yang diusung Rahayu Supanggah sebagai music director diungkap melalui pendekatan konsep garap-nya Rahayu Supanggah dalam buku Bothekan Karawitan Garap (2007). Hasil penelitian ini; Rahayu Supanggah menggunakan nuansa karawitan Jawa dalam menggarap musik Opera Jawa dengan melibatkan tembang yang digarap dalam berbagai variasi seperti; 1) tembang tunggal, 2) pathetan, 3) ada-ada, 4) palaran dan 5) aransemen gendhing tradisi sedangkan musik ilustrasi terdiri dari 1) Komposisi Baru, 2) Ilustrasi Gending Tradisi, 3) Musik Eksplorasi.Kata Kunci: Kreativitas, Musik, Opera Jawa, Rahayu Supanggah
ESTETIKA KERAMIK KLASIK DAN KONTEMPORER Yustana, Prima
Acintya Vol. 12 No. 2 (2020)
Publisher : Institut Seni Indoensia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33153/acy.v12i2.3581

Abstract

ABSTRACT The terms classic and contemporary in this study are interpreted as products that still survive to this day in the form of both classic and contemporary ceramic works or ceramic works today. This researh is a qualitative research using the Aesthetic approach, so that several problems will emerge that must be solved by the method, first, what is meant by Classic and Contemporary ceramics, the second How to Aesthetic Classic and Contemporary Ceramics. The third problem is how the visual form of classical and contemporary ceramics that exist today. The beauty of ceramics can be seen from various perspectives, in this research will also be examined through a variety of written data to increase the validity of the data so that it can provide a good conclusion. Ceramic works are works of art that are very rich in technique, so this research also examines how the relationship between formation techniques and the aesthetics of ceramic works. Keywords: Ceramics, Aesthetics, Classic, Contemporary ABTRAK Istilah klasik dan kontemporer dalam penelitian ini dimaknai sebagai produk yang masih bertahan hingga saat ini baik berupa karya keramik klasik maupun kontemporer atau karya keramik saat ini. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan menggunakan pendekatan Estetika, sehingga akan muncul beberapa permasalahan yang harus diselesaikan dengan metode tersebut, pertama yang dimaksud dengan Keramik Klasik dan Kontemporer, yang kedua Cara Estetika Keramik Klasik dan Kontemporer. Masalah ketiga adalah bagaimana bentuk visual keramik klasik dan kontemporer yang ada saat ini. Keindahan keramik dapat dilihat dari berbagai sudut pandang, dalam penelitian ini juga akan dikaji melalui berbagai macam data tertulis untuk meningkatkan keabsahan datanya sehingga dapat memberikan kesimpulan yang baik. Karya keramik merupakan karya seni yang sangat kaya akan teknik, maka penelitian ini juga mengkaji bagaimana hubungan teknik bentukan dengan estetika karya keramik.Kata Kunci: keramik, estetika, klasik, kontemporer