cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Majalah Keperawatan Unpad
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 88 Documents
PERBEDAAN KADAR GULA DARAH SEBELUM DAN SESUDAH TERAPI RELAKSASI PADA PASIEN DIABETES MELITUS TIPE 2 DI RUMAH SAKIT UMUM CIANJUR Redaksi Team
Majalah Keperawatan Unpad Vol 10, No 18 (2008): Majalah Keperawatan Unpad
Publisher : Fakultas Keperawatan Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (103.45 KB)

Abstract

ABSTRAK Teknik relaksasi merupakan salah satu teknik tindakan keperawatan. Secara fisiologis, relaksasi dapat menurunkan stres. Dengan relaksasi hipotalamus akan mengatur dan menurunkan aktivitas sistem saraf simpatis. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh terapi relaksasi terhadap kadar gula darah pada pasien dengan DM Tipe 2. Jenis penelitian ini adalah kuantitatif dengan desain eksperimen pre dan post test, dengan kelompok kontrol. Dalam penelitian ini, peneliti melakukan suatu perlakuan terhadap variabel independen, kemudian mengukur akibat atau pengaruh percobaan tersebut pada variabel dependen. Dalam hal ini peneliti ingin mendapatkan gambaran pemeriksaan kadar gula darah (O1) sebelum eksperimen dilakukan dan (O2) sesudah eksperimen selesai dilakukan pada pasien DM tipe 2 di Rumah Sakit Umum Cianjur. Pengukuran kadar gula darah dilakukan sebelum program latihan. Pengukuran selanjutnya dilakukan selang 1 minggu setelah program. Jumlah sampel pada penelitian ini adalah sebanyak 34 sampel, yang terdiri dari 17 sampel intervensi dan 17 sampel kontrol. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata kadar gula darah kelompok intervensi pada pengukuran pertama adalah 237.12 mg/dL, pada pengukuran kedua setelah terapi relaksasi didapatkan rata-rata kadar gula darah adalah 205.12 mg/dL, dengan nilai p = 0.163. Pada kelompok kontrol menunjukkan rata-rata kadar gula darah pada pengukuran pertama adalah 320.12 mg/dL dan pada pengukuran kedua tanpa terapi relaksasi didapatkan 338.41 mg/dL dengan nilai p = 0.164. Maka dapat disimpulkan tidak ada perbedaan antara pengukuran kadar gula darah pertama dengan pengukuran kedua pada kelompok intervensi dan kelompok kontrol. Peneliti menyarankan untuk melakukan penelitian lanjutan dengan sampel yang lebih besar dan bagi perawat untuk senantiasa melatih pasien diabetes melakukan relaksasi. ABSTRACT Relaxation technique is a nursing intervention. Based on Relaxation can reduce the stress. With relaxation hypothalamus regulate and reduce a sympathetic nerve activity. The objective of this study is identify the impact of relaxation therapy to reduce level of blood glucose in the patient of Diabetic type 2 . This study is experimental quantitative research pre and post test design with group control. In this research, researcher want to describe level of blood glucose before (O1) and after experiment (O2) in the patient of Diabetic type 2 in Rumah Sakit Umum Cianjur. Measurement of Blood glucose done before the program and one week After the exercise. Sample in this study 34, 17 intervention sample, and 17 control group . Examining were or were not different blood glucose level before and after relaxation were using paired-sample T test. Result of the study showed, that decreasing of blood level serum were showed on intervention group before relaxation 237.12 mg/dL and after relaxation 205.12 mg/dL with p value 0,163, alpha size 95%. On the control group, first examine 320.12 mg/dL and second examine without relaxation 338.41 mg/dL p value = 0.164. It can be concluded that there was not a significant between the first and the second blood glucose level measurement.
FAKTOR–FAKTOR IBU YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN BAYI BERAT LAHIR RENDAH Kartika Rahayuningtyas; Windy Rakhmawati; Purwono P. p
Majalah Keperawatan Unpad Vol 12, No 2 (2011): Majalah Keperawatan Unpad
Publisher : Fakultas Keperawatan Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (119.51 KB)

Abstract

ABSTRAK Kontributor utama dua pertiga kematian bayi adalah kejadian bayi berat lahir rendah (BBLR) yang menurut Manuaba (1998) dipengaruhi oleh faktor ibu, kehamilan, janin, dan faktor yang masih belum diketahui. Rerata kejadian BBLR tertinggi terjadi di Puskesmas Pamulihan (8,7%) pada tahun 2006-2008 dan terendah terjadi di Puskesmas Tanjungmedar (1,2%). Faktor ibu merupakan faktor yang masih bisa dilakukan intervensi agar tidak terjadi BBLR. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor–faktor ibu yang berhubungan dengan kejadian BBLR di Puskesmas Pamulihan Dinas Kesehatan Kabupaten Sumedang Tahun 2008.  Jenis penelitiannya korelasional yang bersifat kuantitatif. Teknik pengambilan sampel purposive sampling berjumlah 60 orang ibu bersalin yang memiliki bayi lahir hidup dan memeriksakan kehamilannya. Pengumpulan data dengan studi dokumentasi medical record kemudian dianalisis dengan univariat dan chi-square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor-faktor ibu yang berhubungan signifikan dengan kejadian BBLR adalah status gizi, umur, jarak kehamilan, penyakit menahun yang dialami, pekerjaan ibu pada saat hamil dengan ρ value  berturut-turut 0.004, 0.036, 0.045, 0.003, 0.016. Saran yang dikemukakan antara lain perlu peningkatan cakupan pelayanan antenatal, screening status gizi ibu sebelum hamil, tetap menjaga keberhasilan program KB, serta kerjasama lintas sektoral untuk umur berisiko dan penyediaan air bersih. Kata Kunci : Ibu, Bayi, Berat Lahir Rendah ABSTRACT The main contributor fetal mortality is low birth weight baby (LBWB) which according Manuaba (1998) caused by mother’s, pregnancy’s, fetus’s, and others factor. The average of the highest LBWB at Pamulihan PHC (8,7%) in 2006-2008. Maternal’s factor can be intervented to prevent LBWB. The aim is curious mother’s factors which correlated with LBWB in Pamulihan PHC Health Departement Sumedang Regency in 2008. This research is a correlational quantitative. Sample technique is purposive with 60 delivery mother who has baby and checked her pregnancy. Data collected with documentation then analyzed with univariate and chi-square. The result showed mother’s factors which correlate significantly is nutrient status, age, spacing pregnancy, chronic disease, activity of mother when pregnant with ρ value 0.004, 0.036, 0.045, 0.003, 0.016 respectively. Suggestion is increasing lack of proper antenatal care maternal screening nutrient before pregnant, keep successful family planning program, cooperating for risk age and water supply. Keywords : Mother, Baby, Low Birth Weight
PENGARUH TERAPI AKUPUNKTUR TERHADAP TINGKAT KESTABILAN PASIEN NYERI SENDI DI KLINIK NURHANUDIN ALI JATIWANGI DAN KLINIK DARMA HUSADA MAJALENGKA Redaksi Team
Majalah Keperawatan Unpad Vol 11, No 20 (2009): Majalah Keperawatan Unpad
Publisher : Fakultas Keperawatan Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (37.893 KB)

Abstract

ABSTRAK Kestabilan merupakan suatu kondisi di mana tubuh dapat melakukan kegiatan secara bebas. Salah satu gangguan mobilisasi fisik adalah nyeri sendi. Nyeri sendi merupakan suatu gejala dari berbagai penyakit sehingga dapat mengganggu produktifitas kerja seseorang. Nyeri sendi dapat dikelola dengan berbagai penanganan baik itu farmakologis ataupun nonfarmakologis. Terapi akupunktur merupakan salah satu terapi nonfarmakalogis. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui pengaruh terapi akupunktur terhadap mobilisasi fisik di klinik akupunktur Burhanuddin Ali Jatiwangi dan Dharma Husada Majalengka. Penelitian ini menggunakan metode quasi eksperiment, teknik pengumpulan data dengan menggunakan angket yaitu melakukan pengukuran dengan Berg Scale Balance yang terdapat beberapa pertanyaan. Sampel yang diteliti adalah pasien dengan nyeri sendi yang berjumlah 30 orang. Hasil penelitian menunjukkan tingkat kestabilan pada pasien nyeri sendi sebelum dilakukan terapi akupunktur dengan menggunakan Berg Scale Balance masuk ke dalam kategori resiko jatuh sedang, dan setelah dilakukan terapi masuk ke resiko jatuh rendah dengan nilai t hitung. Sebagai kesimpulan, terdapat pengaruh positif dari terapi akupunktur terhadap tingkat kestabilan pasien nyeri sendi (mean= 38,167 dan 48,833, SD = 5,086 dan 7,461) (t=6,029, df= 29). Terapi akupunktur diharapkan menjadi bahan pertimbangan bagi perawat terlatih sebagai salah satu terapi modalitas dan hasil ini diharapkan menjadi bahan untuk penelitian lebih lanjut. Kata Kunci : Terapi akupunktur, Mobilisasi fisik, Nyeri sendi ABSTRACT Stability is a condition that body can perform activities freely. One of physical mobilization problems is joint pain. Joint pain is a sign of particular diseases that can disturb productivity of individual. Joint pain can be managed by both pharmacology and non-pharmacology approach. Acupuncture therapy is one of non-pharmacology management. This study has aim to test the effect of acupuncture therapy to physical mobilization in Acupuncture Clinic Burhanuddin Ali Jatiwangi and Dharma Husada Majalengka. Quasi experiment is used in this study that data collection uses questionnaire. It measures mobilization physical using Berg Scale Balance. The number of sample size is 30 patients with joint pain. Based on the results, the stability rate of patients with joint pain, before given acupuncture therapy is in medium level of fall risk and after given acupuncture therapy those patients are in low fall risk. In conclusion, there was a significant different level of stability rate among patients with joint pain before and after given acupuncture therapy (mean= 38,167 dan 48,833, SD = 5,086 dan 7,461) (t=6,029, df= 29). This therapy can be considered as a modality therapy to those patients with joint pain and as baseline data for further investigation. Keywords : Acupuncture therapy, Physical mobilization, Painful joints.
PENGARUH ACUPRESSURE TERHADAP NILAI GCS PADA PASIEN CEDERA KEPALA SEDANG DI RSUP DR HASAN SADIKIN BANDUNG Iwan Purnawan; Hartiah Haroen; Cecep Eli Kosasih
Majalah Keperawatan Unpad Vol 13, No 2 (2011): Majalah Keperawatan Unpad
Publisher : Fakultas Keperawatan Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (93.994 KB)

Abstract

Iwan Purnawan*Hartiah Haroen**Cecep Eli Kosasih**                                             ABSTRAKPenurunan kesadaran pada cedera kepala yang di ukur secara objektif oleh Glasgow Comma Scale (GCS) merupakan salah satu penentu prognosis dan indikator kegawatan. Beberapa penelitian menunjukan bahwa stimulasi acupressure mampu memberikan efek neuroprotektif  yang mencegah kerusakan sel-sel otak dari iskemik yang ditimbulkan cedera kepala. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi pengaruh acupressure terhadap nilai GCS pada pasien cedera kepala sedang di RSUP dr Hasan Sadikin Bandung.Jenis penelitian ini adalah Quasy Experimental dengan menggunakan teknik Control Group pre-test and post-test design. Pengambilan sampel dilakukan secara random. Jumlah sampel dalam penelitian ini adalah 37 responden yang terbagi dalam dua kelompok, yaitu kelompok kontrol (16 responden) dan perlakuan (21 responden). Kelompok perlakuan, selain mendapatkan terapi standar, ia juga mendapatkan acupressure selama 5 menit dalam 3 hari. Perbedaan nilai GCS pada kelompok kontrol dan perlakuan dianalisis dengan uji Wilcoxon. Sedangkan perbedaan peningkatan nilai rata-rata GCS pada kelompok kontrol dengan kelompok perlakuan dianalisis menggunakan uji Mann Whitney. Hasil uji statistik menunjukkan adanya perbedaan bermakna rata-rata nilai GCS antara  sebelum dan sesudah perlakuan baik pada  kelompok kontrol (p=0,07) maupun perlakuan (p=0,01).  Namun demikian, peningkatan rata-rata nilai GCS pada kelompok perlakuan lebih tinggi dari kelompok kontral. Hal ini ditunjukan dengan nilai p pada uji Mann Whitney sebesar 0,037 (p<0,05). Implikasi dari penelitian ini adalah acupressur sebagai terapi non-farmakologi bisa dipertimbangkan menjadi terapi komplementer bagi terapi farmakologi dalam penanganan pasien cedera kepala sedang.    Kata Kunci : Acupressure, Cedera kepala sedang, Penurunan kesadaran  ABSTRACTImpairment of consciousness in head injury that is measured objectively by Glasgow Comma Scale is one of prognosis determinants  and severity indicators. Several studies have shown that stimulation of acupressure can provide neuroprotective effect that prevents damage to brain cells from ischemic injury.  This study aims to identify the effect of acupressure on the value of GCS in patients with head injuries in the Hospital of dr. Hasan Sadikin Bandung. The type of this study was quasy experimental that used pre test and post test control group design. Sampling was done randomly. The number of samples in this study was 37 respondents who were divided into two groups, namely the control group (16 respondents) and intervention group (21 respondents). Besides having standard therapy, the intervention group also got therapy of acupressure for 5 minutes in 3 days. The differences of GCS score in the control group and the intervention group were analyzed with the Wilcoxon test. The differences of the increase of the GCS average of the control group and intervention group were analyzed by using Mann Whitney test. The results of statistical tests showed significant difference of the average value of GCS both before and after treatment in those two groups, namely: in the control group (p=0.07) and the  intervention (p = 0.01). However, the increase of the GCS average value of the intervention group was higher than the control group. This was evidenced by the p-value on Mann Whitney test of 0.037 (p <0.05). The implication of this study is that acupressure as a non-pharmacological therapy can be considered as a complementary therapy to pharmacological therapy in the treatment of patients with moderate head injury.  Keywords: Acupressure, Moderate head injury, Decreased consciousness
PENGARUH TERAPI AKUPUNKTUR TERHADAP TINGKAT KESTABILAN PASIEN NYERI SENDI DI KLINIK NURHANUDIN ALI JATIWANGI DAN KLINIK DARMA HUSADA MAJALENGKA Redaksi Team
Majalah Keperawatan Unpad Vol 12, No 1 (2010): Majalah Keperawatan Unpad
Publisher : Fakultas Keperawatan Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (37.893 KB)

Abstract

ABSTRAK Kestabilan merupakan suatu kondisi di mana tubuh dapat melakukan kegiatan secara bebas. Salah satu gangguan mobilisasi fisik adalah nyeri sendi. Nyeri sendi merupakan suatu gejala dari berbagai penyakit sehingga dapat mengganggu produktifitas kerja seseorang. Nyeri sendi dapat dikelola dengan berbagai penanganan baik itu farmakologis ataupun nonfarmakologis. Terapi akupunktur merupakan salah satu terapi nonfarmakalogis. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui pengaruh terapi akupunktur terhadap mobilisasi fisik di klinik akupunktur Burhanuddin Ali Jatiwangi dan Dharma Husada Majalengka. Penelitian ini menggunakan metode quasi eksperiment, teknik pengumpulan data dengan menggunakan angket yaitu melakukan pengukuran dengan Berg Scale Balance yang terdapat beberapa pertanyaan. Sampel yang diteliti adalah pasien dengan nyeri sendi yang berjumlah 30 orang. Hasil penelitian menunjukkan tingkat kestabilan pada pasien nyeri sendi sebelum dilakukan terapi akupunktur dengan menggunakan Berg Scale Balance masuk ke dalam kategori resiko jatuh sedang, dan setelah dilakukan terapi masuk ke resiko jatuh rendah dengan nilai t hitung. Sebagai kesimpulan, terdapat pengaruh positif dari terapi akupunktur terhadap tingkat kestabilan pasien nyeri sendi (mean= 38,167 dan 48,833, SD = 5,086 dan 7,461) (t=6,029, df= 29). Terapi akupunktur diharapkan menjadi bahan pertimbangan bagi perawat terlatih sebagai salah satu terapi modalitas dan hasil ini diharapkan menjadi bahan untuk penelitian lebih lanjut. Kata Kunci : Terapi akupunktur, Mobilisasi fisik, Nyeri sendi ABSTRACT Stability is a condition that body can perform activities freely. One of physical mobilization problems is joint pain. Joint pain is a sign of particular diseases that can disturb productivity of individual. Joint pain can be managed by both pharmacology and non-pharmacology approach. Acupuncture therapy is one of non-pharmacology management. This study has aim to test the effect of acupuncture therapy to physical mobilization in Acupuncture Clinic Burhanuddin Ali Jatiwangi and Dharma Husada Majalengka. Quasi experiment is used in this study that data collection uses questionnaire. It measures mobilization physical using Berg Scale Balance. The number of sample size is 30 patients with joint pain. Based on the results, the stability rate of patients with joint pain, before given acupuncture therapy is in medium level of fall risk and after given acupuncture therapy those patients are in low fall risk. In conclusion, there was a significant different level of stability rate among patients with joint pain before and after given acupuncture therapy (mean= 38,167 dan 48,833, SD = 5,086 dan 7,461) (t=6,029, df= 29). This therapy can be considered as a modality therapy to those patients with joint pain and as baseline data for further investigation. Keywords : Acupuncture therapy, Physical mobilization, Painful joints.
EFEKTIFITAS LATIHAN KEGEL TERHADAP KESULITAN ORGASME PADA PEREMPUAN PASCA TERAPI KANKER SERVIKS Dewi Puspasari
Majalah Keperawatan Unpad Vol 13, No 1 (2011): Majalah Keperawatan Unpad
Publisher : Fakultas Keperawatan Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (112.197 KB)

Abstract

ABSTRAKLatar belakang Efek samping radioterapi adalah pemendekkan dan pengeringan vagina, sehingga menyebabkan kesulitan orgasme. Penelitian ini bertujuan untuk melihat efektifitas latihan Kegel dalam mengatasi kesulitan orgasme pada perempuan pasca terapi kanker serviks. Metode penelitian Desain penelitian kuasi eksperimen nonequivalent control group posttest-only design dengan jumlah responden 26 orang kelompok intervensi dan 26 orang kelompok kontrol. Pengambilan sampel menggunakan tehnik consecutive sampling. FSFI merupakan instrumen yang digunakan pada penelitian dalam mengukur kesulitan orgasme pada perempuan pasca terapi kanker serviks. Uji t-tes digunakan untuk melihat perbedaan pada kedua kelompok. Hasil penelitian dalam latihan Kegel menunjukkan perbedaan yang bermakna pada tingkat orgasme pada kedua kelompok dengan p value= 0.002 (< 0.05). Latihan Kegel terbukti memberikan peluang untuk menurunkan kesulitan orgasme sebanyak 3.897 kali (OR= 3.897). Simpulan latihan Kegel terbukti secara efektif menurunkan kesulitan orgasme pada perempuan pasca terapi kanker serviks. Peran perawat dalam upaya promotif, preventif dan rehabilitatif terhadap keluhan yang akan dirasakan setelah terapi kanker serviks sebagai upaya untuk meningkatkan derajat kesehatan perempuan dengan kanker serviks. Kata Kunci: Latihan Kegel, Orgasme, Pasca terapi kanker serviks   ABSTRACT Radiotherapy for cervical cancer has side effects which cause the vagina become smaller and drier so that it could reduce the flexibility and lubrication of the vagina. These side effects could change the sexual functions, which is orgasm difficulty. This study proves the effectiveness of Kegel exercises to overcome orgasm difficulty for the women after a cervical cancer therapy. Method The Quasi-experimental ‘nonequivalent control group posttest-only design’ was conducted to 26 intervention group and 26 control group. The sampling technique used consecutive sampling method. FSFI were obtained in order to measure orgasm difficulties to women after a servical cancer therapy. A t-test was used to examine differences between two groups. Result findings The Kegel exercises gave a significant changing of orgasm level with p value= 0.002 lower than 0.05. There was significance difference of orgasm level between intervention and control groups. Kegel exercises provided opportunies to reduce orgasm difficulties as much as 3.897 times (OR=3.897). Conclusion The Kegel exercises are proved to reduce effectively solve the disturbant of orgasm for women after a cervical cancer therapy. Nursing role are to promote, prevent and rehabilitate the complaint of women after cervical cancer therapy as an effort to improve health status of women with cervical cancer. Keywords: Kegel exercises, Orgasm, After cervical cancer therapy
HUBUNGAN PERAN SERTA KADER DALAM MEMOTIVASI KEAKTIFAN IBU MEMBAWA BALITA KE POSYANDU TERHADAP STATUS KESEHATAN BALITA DI CIBIRU KABUPATEN BANDUNG Redaksi Team
Majalah Keperawatan Unpad Vol 12, No 1 (2010): Majalah Keperawatan Unpad
Publisher : Fakultas Keperawatan Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (62.032 KB)

Abstract

ABSTRAK Keberhasilan pelaksanaan pembangunan dalam bidang kesehatan sangat tergantung pada peran aktif masyarakat karena masyarakat akan terlibat secara langsung dan lebih bertanggung jawab terhadap upaya penyelenggaraan pelayanan kesehatan berbasis masyarakat. Partisipasi masyarakat dalam pembangunan kesehatan yang mempunyai peran besar salah satunya adalah peran Kader Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu). Tujuan dari penelitian ini untuk menganalisis hubungan peran serta (meliputi performance, tindakan, hasil tindakan kader) dalam memotivasi keaktifan ibu membawa balita ke posyandu terhadap status kesehatan balita Di RW 07 Kelurahan Pasir Biru Cibiru. Penelitian ini menggunakan design penelitian deskriptif korelasional, dengan jumlah sampel 28 orang ibu yang membawa anak balitanya datang ke Posyandu sehingga tehnik sampling yang digunakan adalah sampel jenuh. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah angket. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya hubungan positif antara performance kader, kegiatan kader dan hasil dari kegiatan kader dalam memotivasi ibu membawa balita ke Posyandu terhadap status kesehatan balita di RW 07 Kelurahan Pasir Biru Cibiru. Rekomendasi pada penelitian ini adalah pentingnya keberadaan dan kegiatan Kader Posyandu secara kontinue dan terencana dalam meningkatkan status kesehatan masyarakat pada umumnya dan balita pada khususnya. Kata Kunci : Kader Posyandu, Balita, Status kesehatan ABSTRACT The successful implementation of development in the health sector is largely dependent on the active role of the community, because the community would take part and more responsive to the efforts of community health services. Community participation in health development, which played an important role among these is the role of integrated health cadre. The purpose of this study are analyse the roles and relationships (including performance, action, of cadre in motivation mothers their under five year to the integrated center on the status of children under five year (toddler) in RW 07 Kelurahan Pasir Biru Cibiru. This study used descriptive correlation study design, with a sample of 28 mother who bring their children under five years came to integrated health care so that the sample technique used was a total sampling technique. The method used in this research was questionnaire survey. The results showed a positive relationship between the performance ,action and of cadre activity in motivated mothers to bring the children to the perceived health status of children underfive year (toddler) in RW 07 Kelurahan Pasir Biru Cibiru. The recommendations in this study is the importance of the existence and activity of sustainable and of integrated health cadre that planned in improving the health status of community in general and under five year in particular. Keywords: Cadres Posyandu, Toddlers, Health status
EFEKTIFITAS PELAKSANAAN KOMUNIKASI DALAM KOLABORASI ANTARA PERAWAT DAN DOKTER DI RUANG RAWAT INAP RUMAH SAKIT UMUM SUMEDANG Redaksi Team
Majalah Keperawatan Unpad Vol 12, No 1 (2010): Majalah Keperawatan Unpad
Publisher : Fakultas Keperawatan Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (61.512 KB)

Abstract

ABSTRAK Interprofesional kolaborasi merupakan strategi umum untuk mencapai kualitas hasil yang diinginkan secara efektif dan efisien dalam kesatuan kompleks pelayanan kesehatan. Komunikasi dalam kolaborasi merupakan unsur penting untuk kualitas perawatan dan keselamatan pasien. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektifitas pelaksanaan komunikasi dalam kolaborasi perawat-dokter di ruang rawat inap Rumah Sakit. Penelitian telah dilaksanakan di RSUD Sumedang pada bulan Juni 2010. Metode deskriptif kuantitatif digunakan dalam penelitian ini. Populasi dalam penelitian ini semua perawat dan dokter yang ada di ruang rawat inap. Cara penarikan sampel adalah stratified random sampling sehingga diperoleh 59 perawat dan 11 dokter. Pengumpulan data menggunakan kuesioner inventori dari Skala Komunikasi Perawat Dan Dokter oleh Feiger & Schmitt (1979). Analisis statistik dilakukan dengan penjumlahan skala komunikasi perawat-dokter. Implikasi dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan yang signifikan dalam persepsi tentang pelaksanaan komunikasi dalam kolaborasi perawat dokter. Dalam penelitian ditemukan bahwa pelaksanaan komunikasi kolaboratif antara perawat dan dokter belum efektif, ini berarti bahwa kolegialitas dalam hubungan perawat-dokter belum terbentuk. Pola interaksi hirarkis masih jelas terlihat dalam hubungan antar-disiplin antara perawat dokter. Dari hasil penelitian ini disarankan untuk membuat kebijakan khusus terkait pelaksanaan kolaborasi perawat dan dokter salah satunya yang mengatur tentang pelaksanaan komunikasi, sehingga peran professional setiap disiplin berjalan dengan baik. Selain itu perlu mengadakan pertemuan rutin dengan komite medik untuk mengembangkan pemahaman terhadap persepsi tentang kolaborasi. Kata Kunci : Kolaborasi, Komunikasi, Hubungan perawat-dokter ABSTRACT Collaboration communication and teamwork are the essential elements for quality care and patient safety. The purpose this study to find an overview of the effectiveness of communication in collaboration between nurses-physician in Sumedang general hospital inpatient. A descriptive quantitative methods was apllied to this study. Samples in this study were 59 nurses and 11 doctors in inpatient units. Data were collected using questionnaire inventory of Nurse And Physician Communication Scale by Feiger & Schmitt (1979). Statistic analysis was performed by rating scale of communication nurse-physician. The finding of this study suggested that there were significant differences in perception about the implementation of communication nurses and physician collaboration. This means of communication in the implementation of collaboration between nurses and doctors are not yet effective. In the researched was found that collegiality in the nurse-physician relationships is not formed. The hierarchical interaction patterns were still evident in the interdisciplinary relationships between nurse-physician. Therefore required a real effort to improve communication between nurses and physicians. Keywords : Collaboration, Communication, Nurses-physician relationship
FREKUENSI NAFAS BAYI YANG MENGGUNAKAN VENTILATOR SEBELUM DAN SESUDAH PRONASI Ari Kusumaningrum
Majalah Keperawatan Unpad Vol 12, No 2 (2011): Majalah Keperawatan Unpad
Publisher : Fakultas Keperawatan Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (47.369 KB)

Abstract

ABSTRAK Penerapan posisi pada bayi merupakan tindakan keperawatan yang sering dilakukan oleh perawat. Penerapan posisi yang tepat sesuai dengan bukti ilmiah dan mendukung kesembuhan pasien sangat diperlukan. Posisi pronasi telah diketahui sebagai  posisi yang mendukung perbaikan status oksigenasi pada bayi yang mengalami masalah pernafasan dibandingkan dengan posisi supinasi, namun demikian posisi pronasi seringkali dikaitkan dengan SIDS (Suddent Infant Death Sindrom). Perawat di Ruang Perinatologi seringkali memposisikan bayi dalam posisi pronasi namun belum didokumentasikan dengan baik sehingga belum diketahui dampaknya terhadap frekuensi nafas. Penelitian dilakukan untuk mengetahui perbedaan frekuensi nafas bayi sebelum dan sesudah posisi pronasi pada saat menggunakan ventilator. Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi pre eksperimental. Rancangan yang dilakukan adalah jenis one group pre test post test. Jumlah sampel sebanyak 18 bayi dengan karakteristik umur rata-rata 44,78±25,06, laki-laki 61%; perempuan 39%; berat lahir 2008,33±977,84; mode ventilator dibatasi pada pressure support, synchronized intermitten mandatory ventilation dan asist control,dan lama ventilator 36,67 ±19,57. Uji hipotesis dilakukan adalah wilcoxon dan Friedman dengan melihat frekuensi nafas bayi yang menggunakan ventilator sebelum dan sesudah 30 menit, 1 jam dan 2 jam pronasi. Kesimpulan: Terdapat perbedaan bermakna frekuensi nafas bayi sebelum dan sesudah 30 menit, 1 jam dan 2 jam pronasi (P=0,027, α=0,05). Implikasi keperawatan yang direkomendasikan bahwa perlu ditingkatkan penerapan Posisi Pronasi (PP) pada bayi dalam kondisi stabil dan dalam proses penyapihan (weaning). Implikasi penelitian diharapkan adanya penelitian dengan jumlah sampel yang besar dan dengan desain quasi eksperiment atau true eksperiment dengan pengontrolan terhadap variabel perancu yang lebih ketat. Analisa dan pembuktian untuk mengetahui waktu PP yang tepat juga diperlukan. Kata Kunci : Bayi, Frekuensi nafas, Posisi pronasi, Ventilator   ABSTRACT Aplying position in infant is one of the nursing actions which be done by nurses frequently. We need evidence based and support to healing the patients  by applying the right position.  The prone position (PP) has been known as a position were support and improve of oxygenation in infants who respiratory problems compared with the supine position, however the PP often associated with SIDS (Suddent Infant Death Syndrome). Nurses in Perinatologi were aplyied PP to baby but has not been well documented yet so unknown impact on the respiratory rate.  The study was conducted to determine the frequency difference before and after PP in infant when using a ventilator. The research design is pre experimental one group pretest-posttest.  Sample of this research is 18 babies by characteristics; age of 44,78±25,06 days; boys 61%; girls 39%; birth weight: 2008,33±977,84; mode of ventilator: pressure support; used synchronized intermittent mandatory ventilation and assist control; and length of use ventilator: 36,67±19,57 days.  The result shows that there are significance differences of respiratory rate in infant who received ventilator before and after aplying on PP (p=0,027, α=0,05). From that research, the recommendation of nursing implication is to improving PP intervention to babies who are in stable condition and weaning process. It is needed to conduct an advanced research with a big amount of sample, conducted by quasi experiment or true experiment method with custody variable controlling. It is also needed more analyzes for the correct PP time. Keywords : Infant, Respiratory rate, Prone position,    Ventilator
FAKTOR-FAKTOR YANG BERKONTRIBUSI TERHADAP STATUS GIZI PADA BALITA DI KECAMATAN CIAWI KABUPATEN TASIKMALAYA Redaksi Team
Majalah Keperawatan Unpad Vol 12, No 1 (2010): Majalah Keperawatan Unpad
Publisher : Fakultas Keperawatan Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (187.116 KB)

Abstract

ABSTRAK Kurang energi protein atau gizi kurang merupakan salah satu penyakit gangguan gizi yang penting di Indonesia maupun di banyak negara berkembang lainnya. Kurang energi protein adalah suatu keadaan dimana berat badan anak kurang dari 80% indeks berat badan menurut umur (BB/U) baku WHO-NCHS yang disebabkan oleh kurangnya zat gizi karbohidrat dan kekurangan protein disertai susunan hidangan yang tidak seimbang. Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif yang bertujuan untuk mengetahui dan menggambarkan faktor-faktor yang dapat menyebabkan timbulnya suatu kejadian dengan merunut ke belakang kronologis kejadian tersebut (Sugiyono, 2003). Populasi dalam penelitian ini adalah keluarga yang memiliki balita di Desa Ciawi Kabupaten Tasikmalaya. Jumlah sampel dalam penelitian ini adalah 50 responden dengan teknik pengambilan sampel adalah dengan accidental sampling. Data dikumpulkan dengan teknik wawancara terstruktur, angket dan food recall dan kemudian diolah dan dianalisa dengan menggunakan rumus persentase dan proporsi. Hasil penelitan menunjukkan faktor yang memiliki kontribusi terhadap gizi kurang pada anak adalah riwayat penyakit infeksi, tingkat pengetahuan ibu yang kurang, tingkat sosial ekonomi keluarga yang rendah, dan asupan kalori serta protein yang kurang, sedangkan faktor yang kepercayaan ibu terhadap makanan (100%) memiliki kepercayaan yang mendukung terhadap status gizi balita. Jadi faktor kepercayaan ibu terhadap makanan tidak berkontribusi terhadap status gizi kurang pada balita. Berdasarkan hasil penelitian diatas maka disarankan agar semua pihak terutama keluarga berpartisipasi untuk meningkatkan upaya pencegahan terjadinya gizi kurang pada anak, diantaranya dengan pembinaan dan pemberdayaan keluarga yang memiliki resiko gizi kurang pada anak. Pemberdayaan dan pembinaan keluarga ini dapat dilakukan oleh Puskesmas setempat dengan melibatkan perawat kesehatan komunitas. Selain itu perlu dilakukan diseminasi informasi tentang gizi untuk meningkatkan pengetahuan keluarga khususnya ibu tentang asupan nutrisi, cara pengolahan dan pemilihan bahan makanan yang baik pada anak, dan perlu dilakukan upaya promotif dan preventif untuk mengurangi angka penyakit infeksi, seperti penyuluhan tentang penyakit infeksi pada balita, terutama ISPA, diare dan tuberkulosis, misalnya melalui revitalisasi posyandu dengan cara meningkatkan partisipasi masyarakat untuk menggunakan posyandu sebagai pusat kesehatan dan sumber informasi di masyarakat. Kata kunci: Asupan nutrisi pada balita, penyakit infeksi, sosial ekonomi ABSTRACT Energy Protein Malnutrition is a mainly nutrition problem both in Indonesia also in other developed countries. Energy protein malnutrition is a condition that body weight children less than 80% of body weight index per age based on WHO-NCHS standard, that caused by inadequate calory and protein intake with unbalanced diet. The variables in this study was univariat variable with sub variables are nutrition intake, infection history, mother’s cognitive about nutrition, mother’s faith of food and the level of family social economic state. Design of this study is descriptive, that used ex post facto method. The population in this study are family with child in District of Ciawi Tasikmalaya Residence. Research sample taken in accidental sampling, total samples are 50 respondences. Sample collecting procedures with structured interview, questionnaire, and food recall and then analyzed by percentage and proportion method. The results of this study describe that the factors that contributing to energy protein malnutrition are infection history, the poor level of mother’s cognitive about nutrition, the lower level of family’s social economic state, and inadequate calory and protein intake. While the mother’s faith of food is not contributing to energy protein malnutrition cases. Recommended by researcher was need to intensified family participation and family empowering. Besides that, the mainly factors that should be intensified is dissemination information about nutrition, mainly infection cases in child such us acute respiratory infection, tuberculosis and diarrhea. All that efforts could be held in Posyandu, so Posyandu will be most important place as a public health centered to get information about child health generally. Key word: nutrition intake for child, infection history, social economic