cover
Contact Name
Edwin Yulia Setyawan
Contact Email
edwin.yulia.setyawan@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalsosek.kp@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan
ISSN : 20888449     EISSN : 25274805     DOI : -
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan merupakan Jurnal Ilmiah yang diterbitkan oleh Balai Besar Riset Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan, dengan tujuan menyebarluaskan hasil karya tulis ilmiah di bidang Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan. Artikel-artikel yang dimuat diharapkan dapat memberikan masukan bagi para pelaku usaha dan pengambil kebijakan di sektor kelautan dan perikanan terutama dari sisi sosial ekonomi.
Arjuna Subject : -
Articles 349 Documents
DETERMINAN PENDAPATAN NELAYAN TANGKAP TRADISIONAL WILAYAH PESISIR BARAT KABUPATEN BARRU Abd. Rahim; Diah Retno Dwi Hastuti
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 11, No 1 (2016): Juni (2016)
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (809.373 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v11i1.3173

Abstract

Nelayan tradisional telah dicirikan sebagai kelompok masyarakat miskin dengan tingkatketergantungan yang tinggi terhadap sumberdaya perikanan. Penelitian yang dilakukan di wilayahpesisir pantai Barat Kabupaten Barru bertujuan untuk mengetahui besarnya perbedaan pendapatannelayan tangkap tradisional dan menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhinya. Penelitian dilakukandengan metode deskriptif dan metode penjelasan dengan analisis regresi berganda pada data crosssectionpada Tahun 2013. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata pendapatan nelayan tangkaptradisional perahu motor tertinggi terdapat di Kecamatan Balusu sebesar Rp.580.242/ trip dan terendahKecamatan Tanete Rilau sebesar Rp.418.728/ trip. Nelayan perahu tanpa motor pendapatan usahatangkapnya tertinggi pada Kecamatan Tanete Rilau sebesar Rp.250.562/trip dan terendah KecamatanSoppeng Riaja Rp.176.106/trip. Lain halnya perubahan pendapatan usaha tangkap nelayan perahumotor dipengaruhi secara positif oleh harga minyak tanah, lama melaut, umur nelayan, serta secaranegatif oleh harga bensin, pengalaman melaut, dan perbedaan wilayah Kecamatan Barru, artinya setiapperubahan kenaikan harga minyak tanah, lama melaut, umur nelayan serta penurunan harga bensin,pengalaman melaut, dan perbedaan wilayah Kecamatan Barru, maka akan menaikkan/ menurunkanpendapatan usaha tangkap nelayan perahu motor. Pendapatan usaha tangkap nelayan perahu tanpamotor dipengaruhi secara positif oleh pengalaman melaut dan perbedaan wilayah Kecamatan TaneteRilau serta secara negatif oleh lama melaut dan umur nelayan, artinya setiap perubahan bertambahnyapengalaman melaut dan perbedaan wilayah Kecamatan Tanete Rilau serta berkurangnya lama melautdan umur nelayan maka akan menaikkan/ menurunkan pendapatan usaha tangkap nelayan perahumotor. Implikasinya, dalam meningkatkan pendapatan dari usaha tangkapnya nelayan tradisionaldiperlukan adanya dukungan armada laut dan alat tangkap sehingga dari jumlah nelayan yang adadapat meningkatkan jumlah trip penangkapan.Title: Determinants of Traditional Fishing Income in West Coast of Barru RegencyThe traditional fishers have been characterized as a poor community with a high level of dependency on fisheries resources. This research was conducted in the coastal areas of West Barruwith aims to determined the magnitude of differences in traditional fishers income and to analyze theinfluence factors. The study was conducted with descriptive methods and multiple regression analysison cross-section data in 2013. The results showed that the average income of traditional fishers withoutboard motor was highest in the District Balusu Rp580.242/trip and the lowest in the District TaneteRilau Rp418.728/trip. The highest fishers income with non powered was in Tanete Rilau DistrictRp250.562/trip and the lowest was in Riaja Soppeng District of Rp176.106/trip. Another case changes inincome capture fisheries motorboat positively influenced by fuel price, fishing duration, fishers age, andnegatively influenced by gasoline price, fishing experience, and the difference in region District Barru,meaning that any changes to the increase in the fuel price, fishing duration, fishers ages and declinein gasoline prices, fishing experience, and the difference in Barru District, it will increase/decrease themotorboat fishers revenues. Revenues of fishers without motors positively influenced by the experience of fishing and difference in region DistrictTaneteRilau and negatively influenced by fishing experience and fishers ages, meaning that any changes in accumulation of experiences and differences in the District ofTaneteRilau and reduced fishing duration and fishers ages will increase/decrease in operating revenues of fishers fishing motorboat. The implication, increasing the income of their fishing effort required traditional fishing fleets and fishing gear support so that from the number of fishers can increase the number of fishing trips.
Front and Back Matter Ferbiansyah, Ilham
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 13, No 1 (2018): JUNI 2018
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (50.98 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v13i1.7232

Abstract

PROFIL USAHA, PENDAPATAN DAN KONSUMSI RUMAH TANGGA PEMBUDIDAYA IKAN DI DESA CIKIDANG BAYABANG, CIANJUR, JAWA BARAT Tenny Apriliani; Hakim Miftahul Huda; Zahri Nasution
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 5, No 2 (2010): DESEMBER (2010)
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1161.512 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v5i2.5803

Abstract

Waduk Cirata di Kabupaten Cianjur merupakan salah satu perairan umum dengan intensitas budidaya ikan yang tinggi di Provinsi Jawa Barat. Kegiatan budidaya di Waduk Cirata menggunakan teknologi budidaya ikan pada karamba jaring apung (KJA) yang saat ini sudah berkembang pesat di beberapa danau dan waduk seperti Saguling dan Jatiluhur. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa kegiatan usaha budidaya ikan dengan teknologi KJA di Desa Cikidang Bayabang dengan mengkaji perkembangan usaha, pendapatan dan konsumsi rumah tangga pembudidaya ikan. Desa Cikidang Bayabang merupakan salah satu desa terpilih mewakili tipologi perikanan budidaya pada KJA dari kegiatan riset PANELKANAS. Penelitian ini menggunakan metode survei dan wawancara untuk pengumpulan data serta metode statistik deskriptif untuk analisis data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dilihat dari usaha, pendapatan dan konsumsinya budidaya ikan di KJA di Desa Cikidang Bayabang masih menjanjikan tetapi masih diperlukan dukungan pemerintah untuk lebih memajukan kegiatan budidaya perikanan. Tittle:  Profile of Business, Income and Consumption of Fish Culture Households Iin Cikidang Bayabang Village, Cianjur District, West Java Province.Cirata reservoir in Cianjur District is one of open water used for intensive fish culture in West Java province. Fish culture in Cirata reservoir uses a floating net cage (locally known as KJA) technology which now growing expansively in some lakes and reservoirs in West Java such as Saguling and Jatiluhur. This research aims to analyze fish culture activities with cage culture technology in Cikidang Bayabang Village by examining business development, income and consumption of fish farmers. This village is considered a selected site of the PANELKANAS research representing typology of fish cage aquaculture. This research uses a survey method and interviews to collect data in May 2010 and descriptive statistical methods for data analysis. This research confirms that fish culture business, income and consumption in the cage fish farming in Cikidang Bayabang is still promising activities but it need supports from government to improve it.
DAMPAK EKONOMI PROGRAM PENGEMBANGAN USAHA MINA PEDESAAN (PUMP) PADA USAHA PENGOLAHAN DAN PEMASARAN HASIL PERIKANAN Yayan Hikmayani; Maharani Yulisti
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 10, No 2 (2015): Desember (2015)
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (488.272 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v10i2.1262

Abstract

Sejak tahun 2011 Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) telah menggulirkan program Pengembangan Usaha Mina Pedesaaan-Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan (PUMP-P2HP) untuk membantu mengembangkan usaha pengolahan dan pemasaran ikan, namun begitu belum banyak penelitian mengenai dampak program tersebut terhadap kelompok pengolah dan pemasaran hasil perikanan (Poklahsar) penerima bantuan. Untuk itu penting dilakukan penelitian dampak program PUMP-P2HP sebagai bahan infomasi untuk perbaikan program secara lebih akurat, efektif dan efisien. Penelitian dilaksanakan pada tahun 2014 di 9 lokasi penerima bantuan yaitu Kab. Pesisir Selatan, Kab. Cirebon, Kota Makasar, Kab. Tangerang, Kota Banda Aceh, Kab. Banjar, Kab. Sukabumi, Kota Sibolga, dan Kab.Lombok Timur. Penelitian dilakukan dengan pendekatan kualitatif dan kuantitatif yang berusaha membandingkan kondisi Poklahsar sebelum dan sesudah program PUMP-P2HP yang dijalankan pada tahun 2012. Pemilihan lokasi penelitian dilakukan secara purposif terhadap daerah yang menerima bantuan PUMP-P2HP dengan keterwakilan antara wilayah barat dan timur. Pengambilan sampel dilakukan secara acak terhadap 30 responden di tiap lokasi melalui wawancara dengan menggunakan kuesioner terstruktur. Analisis data menggunakan uji-t untuk menganalisa signifikansi perubahan antara tahun sebelum implementasi program dan setelah implementasi program terhadap responden yang sama. Hasil penelitian menunjukkan produksi rata-rata Poklahsar sebelum mendapatkan bantuan adalah 192 kg/siklus dengan rata-rata produktivitas 17 siklus/bulan. Produktivitas terkecil terjadi di Kota Makasar dengan angka 50 kg/siklus. Setelah mendapatkan bantuan program PUMP-P2HP, terdapat peningkatan produksi olahan ikan sebesar 66,5% pada setiap unit pengolahan dengan rata-rata produksi sebesar 320 kg/siklus. Selain itu, terdapat perbedaan pendapatan yang signifikan antara sebelum dan sesudah program PUMP. Ratarata pendapatan olahan ikan dan pemasaran perikanan sebelum adanya program PUMP-P2HP adalah Rp. 2.470.233 dan meningkat menjadi Rp. 3.727.666 setelah adanya program tersebut. Hal ini dapat disimpulkan bahwa terjadi peningkatan pendapatan pada usaha pengolahan ikan dan pemasaran perikanan di Indonesia, meskipun tidak diikuti dengan peningkatan yang signifikan pada penggunaan tenaga kerja. (Economic Impacts of PUMP Program to The Fish Processor and Marketing Enterprise)Since 2011 The Ministry of Marine Affairs and Fisheries has been implementing Program of Rural Fisheries Businesses – Processing and Marketing of Fisheries Products (PUMP-P2HP) since to develop fisheries processing and marketing businesses. However, there are limited studies on the impact to the program recipients (fish processor groups). Therefore, it is important to study the impact of the PUMPP2HP program to obtain the improvement program information more accurately, effectively and efficiently. The study was conducted in 2014 in 9 region beneficiaries: Pesisir Selatan District, Cirebon District, Makasar Municipality, Tangerang District, Banda Aceh Municipality, Banjar District, Sukabumi District, Sibolga Municipality, and Lombok Timur District. Qualitative and quantitative approaches were used on this study to compare the conditions before and after program implemented in 2012. Research location was selected purposively towards districts which received the program with representation between western and eastern regions. Sampling was collected randomly to 30 respondents in each location by using structured questionnaires. T-test was used to analyze the changes of respondents performance due to the implemented program. Results showed that the average production of fish processing groups before program was 192 kg/cycle with average production 17 cycles/month, the smallest production was in Makasar Municipality (50 kgs/cycle). There was an increasing on production of fish processing products in every recipient business unit after receiving the program (66.5%) with average production was 320 kgs/ cycle. Furthermore, there was a significant difference in income between before and after the program implemented. The average income of the fish processor before the program was IDR 2,470,233 and increased to IDR 3,727,666 after the program. It can be concluded that the revenue of fish processors increased significantly, whereas the use of labor did not improve.
PERAN SEKTOR PERIKANAN PADA WILAYAH PESISIR PERBATASAN KALIMANTAN BARAT Maulana Firdaus; Rikrik Rahadian
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 13, No 1 (2018): JUNI 2018
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (524.338 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v13i1.6843

Abstract

ABSTRAKPembangunan wilayah pesisir perbatasan menjadi sebuah tantangan besar karena selalu identik dengan ketertinggalan. Sektor perikanan dianggap telah teruji dan mampu menjadi mesin pertumbuhan ekonomi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peranan sektor perikanan di wilayah perbatasan (Kalimantan Barat) Indonesia khususnya yang ada di Kabupaten Sambas. Pendekatan kebutuhan minimum dan analisis ”location quotient” digunakan dalam penelitian ini. Hasil analisis menunjukkan bahwa sektor perikanan di wilayah perbatasan Kalimantan Barat memiliki peranan yang besar. Besarnya peranan sektor perikanan ditunjukkan dengan nilai basis multiplier dari sektor perikanan sebesar1,09 dan nilai LQ sebesar 3,18. Pengembangan sektor perikanan di wilayah perbatasan memerlukan dukungan arah kebijakan dan infrastruktur sehingga sektor perikanan dapat menjadi sektor unggulandan penggerak pertumbuhan.The Role of Fisheres Sector in the Coastal Border Areas of West BorneoABSTRACTDevelopment of coastal border areas becomes a great challenge since it is identically the same with backwardness. Fisheries sector is considered capable to be the engine of economic growth. This study aims to identify the role of the fisheries sector in the border areas (West Borneo) of Indonesia particularly in Sambas district. The Minimum Requirement Approach (MRA) and Location Quotient (LQ) were used in this study. The analysis shows that fisheries sector in West Borneo border areas has asignificant role. It is indicated by the value of multiplier basis of the fishery sector in Sambas district of 1.09 and LQ of 3,18. Government policies and infrastructures are required to develop fisheries sector in  the border areas in order to create a leading sector and economic trigger.
DINAMIKA KETERKAITAN SEKTOR KELAUTAN DAN PERIKANAN DALAM PEREKONOMIAN INDONESIA, 1995-2005: Pendekatan Rasmussen's Dual Criterion Tajerin Tajerin; Manadiyanto Manadiyanto; Sastrawidjaja Sastrawidjaja
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 5, No 1 (2010): Juni (2010)
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1618.177 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v5i1.5794

Abstract

Kelautan dan perikanan merupakan sektor yang potensial sebagai tumpuan (prime mover) pembangunan ekonomi. Kajian ini dilakukan dengan tujuan mengetahui dinamika dan posisi keterkaitan sektor kelautan dan perikanan dalam perekonomian Indonesia. Data yang digunakan adalah data sekunder yang bersumber dari Tabel Input-Output Kelautan dan Perikanan Tahun 1995, 2000 dan 2005. Analisis keterkaitan dilakukan dengan menggunakan model Input-Output dengan pendekatan Rasmussen's Dual Criterion. Hasil kajian menunjukkan bahwa selama periode 1995-2005, indeks kepekaan dan daya penyebaran dari sub sektor yang tercakup dalam sektor kelautan dan perikanan mengalami kondisi yang dinamis. Selain itu, sub sektor – sub sektor tersebut selama periode analisis hanya menempati posisi dalam kelompok potensial dan kelompok kurang berkembang. Berkaitan dengan temuan ini, diperlukan dukungan kebijakan investasi, kebijakan iklim usaha dan kebijakan lainnya yang secara terintegrasi mampu meningkatkan keterkaitan sektor kelautan dan perikanan dengan lebih nyata dalam perekonomian Indonesia, sehingga posisinya meningkat menjadi sektor unggulan. Tittle: Linkages Dynamics of the Marine and Fisheries Sector in Indonesian Economics, 1995 2005:Rasmussen's Dual Criterion Approach.Marine and fisheries sector is emerging as a potential sector and prime mover for economic development. This study is an evaluation of the dynamics and linkages position of marine and fishery sector in Indonesia economy. This study used secondary data which are derived from Input-Output Tables of Marine and Fisheries in 1995, 2000 and 2005. It applied the Input-Output model with Rasmussen's dual Criterion approach for linkage analysis. The results showed dynamic situation of sensitivity and dispersion of marine and fisheries sector during period of 1995-2005, which can be categorized as a potential groups and less developed groups. This study found that the requirement of investment, business climate and other related policies to increase more significantly marine and fisheries sector in Indonesian economics, which lead to prime mover sector.
ANALISA DIVERSIFIKASI PASAR EKSPOR KOMODITI UDANG INDONESIA Bagas Haryotejo
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 8, No 1 (2013): Juni (2013)
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (608.813 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v8i1.1199

Abstract

Komoditi udang adalah salah satu potensi sumber daya yang memainkan peranan penting dalam memberikan kontribusi di sektor ekspor bagi Indonesia. Setelah krisis keuangan, ada kecenderungan penurunan pangsa ekspor di pasar internasional. Berdasarkan hal tersebut, Indonesia perlu melakukan diversifikasi pasar ekspor komoditas ini. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis diversifikasi pasar ekspor, menganalisis daya saing komoditas udangdi pasar ekspor utama dan merumuskan implikasi kebijakan yang terkait dengan perkembangan pasar ekspor udang. Metodologi yang digunakan adalah Indeks Spesialisasi Agregat (SPE), Hirschman Index (HI), dan RCA (Revealed Comparative Advantage). Berdasarkan hasil analisis, pasar ekspor udang belum terdiversifikasi. Hal ini ditunjukkan dengan indeks dari SPE dan Hirschman Index. Indeks SPE menunjukan angka mendekati 1 (satu), yang berarti pasar tidak terdiversifikasi dengan baik. Sedangkan berdasarkan analisis RCA, komoditas udang Indonesia memiliki daya saing yang besar di pasar Amerika Serikat dan Jepang, hal ini ditunjukkan dengan nilai RCA yang jauh lebih besar dari 1 (satu). Sedangkan di pasar UniEropa, memiliki nilai RCA rata-rata mendekati nilai 1(satu), hal itu menunjukan bahwa daya saing komoditas udang Indonesia relatif jauh lebih lemah di pasar Uni Eropa.
PENGGABUNGAN BUMN SEKTOR PERIKANAN : STRATEGI MEWUJUDKAN KINERJA BUMN YANG EFISIEN DAN EFEKTIF Tenny Apriliani; Mira Mira; Agus Heri Purnomo; Tjahjo Tri Hartono
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 2, No 1 (2007): JUNI (2007)
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (975.138 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v2i1.5865

Abstract

Kajian mengenai penggabungan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sektor perikanan bertujuan untuk mengkaji kinerja BUMN perikanan sebelum dan setelah dilakukannya kebijakan penggabungan terhadap 4 BUMN Perikanan di Indonesia. Penelitian ini dilakukan sejak bulan Januari hingga Desember tahun 2006. Tahapan penelitian meliputi pendeskripsian masalah dan perumusan pilihan kebijakankebijakan yang dilakukan secara deskriptif dan penilaian kinerja keuangan dengan menggunakan analisis rasio keuangan. Hasil penelitian ini diperoleh informasi mengenai kinerja BUMN perikanan sebelum penggabungan dan prediksi kinerja setelah adanya penggabungan. Secara umum, hasil analisis kinerja keuangan keempat BUMN sektor perikanan sebelum penggabungan menunjukkan kinerja buruk. Artinya, perusahaan kesulitan untuk memenuhi kewajiban/utang-utang jangka pendek maupun jangka panjangnya. Kinerja PT Perikanan Nusantara (hasil penggabungan empat BUMN perikanan) pada prinsipnya sangat bertumpu pada unit usaha yang sebelumnya diusahakan oleh PT PSB. Unit usaha ini memiliki bisnis utama (core bussiness) pada kegiatan penangkapan tuna. Disisi lain perkembangan hasil tangkapan ikan tuna yang dilakukan oleh PT. PSB sebagai salah satu satuan unit bisnis PT.Perikanan Nusantara justru mengalami penurunan dari tahun ke tahun. Dua opsi kebijakan yang perlu dipertimbangkan adalah Kebijakan Penguatan Status Hukum dan Kebijakan Pre-Restrukturisasi. Kebijakan yang diusulkan ini selanjutnya diharapkan menjadi landasan dalam mewujudkan langkah-langkah strategis yaitu: (i) Strategi Penajaman Fokus Bisnis; (ii) Strategi Perbaikan Skala Usaha; dan (iii) Strategi Penciptaan Core Competencies. Tittle: The National State Enterprises of Fisheries Sector Merger : Strategy To Realizing Efficient And Effective Government Corporate PerformanceResearch on merging of The National State Enterprises of Fisheries Sector aims to analyze the performance of government corporate on fisheries before and after the merging policy on four governments corporate in Indonesia. This research was conducted from January to December 2006. Methodology used was the problem description and formulation of policy options and followed by assessment of financial performance by financial ratio analysis. The result of the research was information on the performance of government corporate before and after the merger. In general, the financial performance of four governments corporate of fisheries working before merger was poor. The corporations have difficulties to pay short and long term debts. The performance of PT.Perikanan Nusantara (merged corporate of four BUMN), basically it was highly converged on business unit of PT.PSB. This unit has core business on tuna's capture, which experiencing a constant decreasing on its yield. Two policy options should be considered to improve the situation, they are: the law status improvement and pre-restructurization policy. These policies were expected to realize the strategic steps; (i) Sharpening the business focus, (ii) Fixing the business scale and (iii) Core competencies creation.
OPSI PENGELOLAAN IKAN TEMBANG (SARDINELLA FIMBRIATA) DI PERAIRAN KABUPATEN SUBANG, JAWA BARAT Titin Salmah; Benny Osta Nababan; Ujang Sehabuddin
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 7, No 1 (2012): Juni (2012)
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (618.797 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v7i1.5733

Abstract

Penelitian bertujuan menganalisis dampak kebijakan pajak dan jadwal melaut terhadap pemanfaatan ikan tembang di perairan Kabupaten Subang telah dilakukan pada tahun 2011. Pengumpulan data dilakukan dengan purposive sampling terhadap nelayan purse seine di TPI Belanakan, hasilnya dianalisis menggunakan metode analisis model bioekonomi. Hasil penelitian menunjukkan penangkapan ikan tembang belum mengalami tangkap lebih (biological overfishing), tetapi jumlah effort yang digunakan nelayan purse seine telah mengalami overcapacity atau effort yang berlebih. Kondisi ini melandasi opsi kebijakan pengaturan hari melaut (trip) sesuai dengan jumlah trip pada kondisi sole owner (MEY) yang dikombinasikan dengan pengembangan agroindustri tepung ikan tembang sebagai kompensasi untuk menghindari peningkatan aktifitas yang kurang produktif. Penerapan kebijakan berupa penerapan pajak ini akan menjadi solusi jangka panjang untuk eksploitasi sumberdaya ikan tembang yang berlebih.
PERANAN “BANTAL SOSIAL” PADA MATA PENCAHARIAN NELAYAN SKALA KECIL DI JAWA Budi Wardono; Akhmad Fauzi
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 11, No 2 (2016): DESEMBER (2016)
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (614.037 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v11i2.3831

Abstract

Salah satu alasan yang kuat nelayan tangkap skala kecil tetap melaut meskipun mempunyai risiko tinggi karena peluang/prospek pendapatan/penerimaan yang tinggi pada satu saat. Risiko melaut tidak hanya membuat ketidakpastian tetapi juga karena risiko biaya operasional yang tinggi. Dihadapkan dengan kondisi biaya operasional yang  tinggi, nelayan menggunakan strategi yang berbeda, salah satunya melekat pada peran tengkulak. Dalam pandangan konvensional, pedagang perantara/ langgan sebagai hambatan bagi nelayan untuk menjadi kompetitif di pasar. Namun di negara berkembang seperti Indonesia, mereka memainkan peran penting sebagai "bantal sosial" dalam kehidupan nelayan skala kecil. Tujuan penelitian adalah menyelidiki tingkat kecenderungan keterikatan hubungan langgan/pedagang antara sebagai “bantal sosial” dengan nelayan di dua daerah penangkapan ikan yang menonjol di pantai utara dan pantai selatan Jawa. Analisis data dilakukan dengan metode analisis kuantitatif yaitu model analisis multinomial logistik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nelayan dari pantai utara cenderung sangat kuat hubungannya dengan perantara untuk kelangsungan hidupnya dibandingkan dengan nelayan di pantai selatan. Implikasi dari temuan tersebut bahwa peran sentral langgan/perantara/tengkulak/langgan merupakan bentuk hubungan yang bersifat ekonomi dimana kedua belah pihak bisa mengambil keuntungan. Pola hubungan bukan hanya sekedar sebagai penyangga, namun lebih dari itu yaitu berfungsi sebagai “bantal” sosial (social cushion) para nelayan. Hubungan seperti ini merupakan bentuk layanan dimana para nelayan bisa mendapatkan alternatif layanan jasa “kredit” dari para perantara/langgan/tengkulak. Bentuk layanan seperti yang diperankan oleh langgan/pedagang perantara selama ini belum bisa digantikan oleh lembaga pemerintah yang resmi, dimana pola hubungan tersebut sangat dibutuhkan oleh nelayan skala kecil. Pola hubungan tersebut selain dipengaruhi oleh lokasi, juga dipengaruhi oleh status kepemilikan kapal, lama kepemilikan kapal dan jumlah ABK.Title: The Role “Social Cushion” On The Livelihood Of Small Scale Fishers In JavaOne of the strong reason for small scale fishers to keep fishing despite high risk of fishing, is the prospect of high earning at one moment in time. Risk at fishery not only  create uncertaining but also risk high cost of fishing. Faced with such a high cost, fishers use different strategies, one of which is attached to the middlemen. Convientional views middlemen as an obstacle for fishers to be competitive in the market. Yet in developing country such us Indonesia, they play crucial role as a “social cushion” in the livelihood of small scale fishers. The purpose of research is to investigate the tendency of engagement relationships middleman as "social cushion" with fishermen in the fishing areas that stand out on the north coast and the south coast of Java. Data was analyzed using quantitative analysis method multinomial logistic analysis model. Results of this study show that fishers of the northern coast tend to strongly attach to middlemen for their survival compared with those in the southern coast.  Relationships with fishermen middlemen is a service, where fishermen can get alternative services "credit" from the middleman. Services such as that played by middleman has not been able to replace them by official government agencies, where this kind of relationship is needed by small-scale fishermen. The relationship patterns in addition affected by the location, also influenced by the status of ownership of the vessel, long time ship ownership and the number of crew.  

Page 10 of 35 | Total Record : 349