cover
Contact Name
Edwin Yulia Setyawan
Contact Email
edwin.yulia.setyawan@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalsosek.kp@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan
ISSN : 20888449     EISSN : 25274805     DOI : -
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan merupakan Jurnal Ilmiah yang diterbitkan oleh Balai Besar Riset Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan, dengan tujuan menyebarluaskan hasil karya tulis ilmiah di bidang Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan. Artikel-artikel yang dimuat diharapkan dapat memberikan masukan bagi para pelaku usaha dan pengambil kebijakan di sektor kelautan dan perikanan terutama dari sisi sosial ekonomi.
Arjuna Subject : -
Articles 349 Documents
PENGELOLAAN BERKELANJUTAN PERIKANAN TANGKAP WADUK CIRATA : MODEL BIO-EKONOMI Zuzy Anna
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 11, No 2 (2016): DESEMBER (2016)
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (785.957 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v11i2.3688

Abstract

Perikanan tangkap di waduk, merupakan potensi yang dapat diandalkan bagi pemenuhan kebutuhan hidup masyarakat sekitarnya, sayangnya kegiatan ini belum banyak mendapat perhatian pengelolaan. Terbukti dari masih sangat rendahnya kontribusi sektor perikanan tangkap waduk ini pada perekonomian daerah. Untuk digunakan sebagai basis pengelolaan, penelitian ini dilakukan untuk menganalisis  pengaruh aktivitas produksi (penangkapan) terhadap kondisi sumber daya ikan seperti parameter biologi dan rente sumberdaya perikanan pada kondisi aktual, lestari, dan juga optimal, dengan menggunakan model bio-ekonomi standard logistik dan Gompertz. Skenario model yang digunakan adalah analisis bio-ekonomi model logistik Gordon Schaefer (GS) dengan estimasi parameter algoritma Fox, dan model Fox/Gompertz dengan estimasi  parameter biologi seluruhnya algoritma CYP. Analisis perikanan tangkap dilakukan dengan menggunakan skenario rezim pengelolaan open access, Maximum Sustainable Yield (MSY) dan Maximum Economic Yield (MEY). Hasil penelitian menunjukan adanya overfishing dan overcapacity pada beberapa tahun pengamatan yang ditandai dengan adanya kelebihan effort baik pada Model GS maupun Gompertz. Pengelolaan dengan menggunakan rezim MEY memberikan nilai rente yang paling maksimum, dengan biomass yang lebih konservatif, dan  effort yang lebih efisien, baik pada model GS maupun model Gompertz. Implikasi kebijakan pengelolaan waduk melalui rasionalisasi jumlah alat tangkap. Model MSY mengisyaratkan rasionalisasi alat tangkap lebih sedikit dibandingkan model MEY, sementara Model Gompertz mengisyaratkan penurunan alat tangkap lebih tinggi dibandingkan model GS. Alternatif pembatasan output atau kuota output juga dapat dilakukan dengan menggunakan nilai JTB. Title: Sustainable Fisheries Management in Cirata Dam: Bio-Economic ModellingCapture fisheries in the dam is a potential that can be relied for the surrounding community subsistence. Unfortunately this activity has not received much attention management. This was evident from the very low dam fisheries contribution, to the regional economy. For the purpose of fisheries management in the dam, this study was conducted to analyze the effect of production activities, on the condition of fish resources such as biological parameters and fishery resource rents on actual conditions, sustainable, and optimally, using bio-economic model of standard logistic and Gompertz. The scenario model used is the analysis of bio-economic model of logistics Gordon Schaefer (GS) with the parameter estimation of Fox algorithm, and  Gompertz model  with algorithm CYP  for biological parameter estimation. Analysis of fisheries carried out by using a scenario of open access management regime, Maximum Sustainable Yield (MSY) and the Maximum Economic Yield (MEY). The results showed overfishing and overcapacity in several years of observation which is characterized by an excess of effort both on the GS model and Gompertz. Management using MEY regime provides the maximum possible value of rents, with biomass more conservative and more efficient effort, both on the GS model and the model of Gompertz. Policy implications reveal from the study is dam management through the rationalization of the number of fishing gear or boats. MSY model suggests rationalization of fishing gear less than the model MEY, while the Gompertz model implies a decrease in fishing gear higher than the GS model. Alternative output restrictions or quotas outputs can also be implemented by using the value of total allowable catch.
EVALUASI PELAKSANAAN PROGRAM NASIONAL PEMBERDAYAAN USAHA MASYARAKAT MANDIRI KELAUTAN DAN PERIKANAN PADA USAHA PENGOLAHAN IKAN: Studi Kasus di Kota Banda Aceh Yayan Hikmayani; Riesti Triyanti
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 10, No 1 (2015): Juni (2015)
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (952.67 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v10i1.1248

Abstract

Program nasional pemberdayaan masyarakat mandiri kelautan dan perikanan pada sektor perikanan diwujudkan dalam bentuk pengembangan usaha mina pedesaan. Program penanggulangan kemiskinan melalui pemberdayaan masyarakat kelautan dan perikanan seringkali tidak tepat sasaran dan tidak memperhitungkan keberlanjutan program sehingga kemiskinan tidak berkurang bahkan semakin bertambah. Pengembangan Usaha Mina Perdesaan (PUMP) merupakan salah satu program Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) ditujukan untuk menanggulangi kasus kemiskinan pada kelompok masyarakat tertentu. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis pelaksanaan Pengembangan Usaha Mina Perdesaan (PUMP) pada kelompok masyarakat pengolah dan pemasar hasil perikanan di Kota Banda Aceh, mengetahui respon masyarakat terhadap Pengembangan Usaha Mina Perdesaan Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan (PUMP P2HP), dan mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi pelaksanaan program tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi dan desk study. Pengambilan sampel ditentukan secara purposive dengan responden anggota kelompok pengolah dan pemasar hasil perikanan (POKLAHSAR) penerima program. Metode analisis data dilakukan secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan PUMP P2HP di setiap tahapannya secara normatif memang telah terlaksana dan terdapat kesesuaian antara ketentuan pedoman program dengan pelaksanaannya di masyarakat. Namun demikian, dalam hal pelaksanaannya sebagai sebuah program pemberdayaan, secara substansi masih jauh dari tujuan yang diharapkan. Hal ini didukung dengan analisis mengenai respon masyarakat terhadap pelaksanaan program, baik itu mengenai keberlanjutan program, keterlibatan dalam program, manfaat program, dan konflik selama pelaksanaan program. Faktor-faktor dominan yang dapat menghambat pelaksanaan program ini secara keseluruhan perlu dilakukan perubahan dan perbaikan. Faktor yang menjadi penghambat dan penunjang keberhasilan program yaitu kesesuaian lokasi, pemberian peralatan yang menunjang produksi, dan ketepatan calon penerima bantuan. Rekomendasi kebijakan untuk perbaikan pelaksanaan program bantuan langsung tunai (BLT) di masa depan yaitu (1) Penyederhanaan dalam prosedural kegiatan program, (2) Ketepatan pemilihan calon penerima, (3) Pelatihan dan pendampingan kepada para calon penerima maupun penerima bantuan, dan (4) Evaluasi terhadap program bantuan untuk pengembangan usaha dan kemandirian penerima bantuan secara berkelanjutan. (Implementation of The National Program for Marine and Fisheries Community Empowerment in The Fisheries Processing Business : A Case Study in Banda Aceh City)Fish business development in the village level is considered as the natural program for marine and fisheries community empowerment. Poverty reduction programs through marine and fisheries community empowerment are does not effective and take into account the sustainability of the program so that poverty can not be reduced even increasing. National program of marine and fisheries in the fish processing business are considered one of the MMAF program intended to eliminate poverty in a certain society. The aims of this study was to analyze implementation of PUMP P2HP, particularly in Banda Aceh City, identify the public response to the PUMP P2HP, and identify factors that affect the implementation of the program. This research used a qualitative approach and data collection through interview, observation and desk study. Sample was determined using purposive sampling with respondents “kelompok pengolah dan pemasar” (POKLAHSAR) members participating in the program. The method of data analysis was carried out descriptively. Results show that the implementation of PUMP P2HP in each stage have indeed been implemented as in the guidelines on the implementation of programs in the community. However, in terms of its implementation as a policy of empowerment, it is still far from the expected goals. This is supported by an analysis of the public response to the implementation of the program, in relation to the sustainability of program, the participation in program, the benefits of program, and conflict occurred during implementation of the program. The dominant factors that can support and prevent the implementation of the program as a whole, that the implementation procedures should be be changed and improved. Inhibitory and supporting factor for success of the program were namely the suitability of the location, provision of equipment to support the production, and the accuracy of the prospective beneficiaries. Policy recommendations to improve implementation of the programs of direct cash assistance (BLT) in the future were identified as follows: (1) simplification of the program process, (2) accuracy in selecting candidates (3) training and assistance to the recipients and beneficiaries, and (4) evaluation of the programs for business development and self-reliance of beneficiaries sustainable manner.
Front Matter Matter, Front
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 12, No 1 (2017): JUNI 2017
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (50.98 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v12i1.6374

Abstract

Front Matter
TRANSFORMASI PENGELOLAAN PERAIRAN UMUM DARATAN DI KABUPATEN OGAN KOMERING ILIR Radityo Pramoda; Zahri Nasution
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 6, No 2 (2011): DESEMBER (2011)
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (744.657 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v6i2.5769

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji implementasi dan antisipasi dampak ketentuan baru Peraturan Daerah (PERDA) Ogan Komering Ilir (OKI) No. 9/2008 tentang Pengelolaan Lebak, Lebung, dan Sungai di Kabupaten Ogan Komering Ilir, yang menjadi otonomi desa. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif eksploratif melalui pendekatan historis kasuistik yang didukung data primer dan sekunder. Hasil penelitian menunjukkan bahwa transformasi pengelolaan perairan umum daratan dengan berlakunya Perda OKI No. 9/2008 memberikan akses yang lebih besar kepada masyarakat untuk memanfaatkan sumber daya ikan. Kewenangan yang dimiliki desa menjadi lebih luas dalam mengatur lebak lebung dan sungai. Kurang optimalnya implementasi Perda OKI No. 9/2008 dikarenakan aparatur dan masyarakat Desa Berkat belum siap mengadopsi perubahan nilai serta norma baru. Implikasi kebijakan penelitian ini adalah perlunya meningkatkan kompetensi aparatur desa melalui pelatihan/pendidikan; memberikan sosialisasi secara komprehensif kepada masyarakat; melakukan kontrol dan pendampingan yang konsisten, serta menciptakan komunikasi hukum yang baik dalam menerapkan peraturan baru. Tittle: Transformation Management of Inland Waters in Ogan Komering Ilir DistrictThis research aimed to review the impact of implementation and anticipate potential impacts of the new provisions of Local Regulation No. 9/2008 on Management of Lebak, Lebung, and Rivers in Ogan Ilir Komering Ilir regency, which has become an autonom of the village. Research was conducted using descriptive-exploratory method, through historical case approach, supported by primary and secondary data. Results show that transformation of the management of inland waters by the enactment of Local Regulation No. 9/2008 provides a greater access to the community to utilize fish resources. Authority of the village was wider than previous system in terms of arranging the lebak lebung and river. Under optimal level of implementation of the Local Regulation No. 9/2008 was due to the apparatus and community unreadines to adopt the values changing in and new norms. Policy implications of this research were as follows improving the competence of village apparatus through training/education; providing comprehensive socialization to the community; doing control and consistent mentoring, and creating a good communication law in applying new regulation.
ANALISIS PERAN KELEMBAGAAN PENYEDIA INPUT PRODUKSI DAN TENAGA KERJA DALAM USAHA TAMBAK GARAM Rizki Aprilian Wijaya; Rikrik Rahadian; Tenny Apriliani
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 9, No 1 (2014): Juni (2014)
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (484.236 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v9i1.32

Abstract

Tulisan ini bertujuan untukmenganalisis peran kelembagaan penyediaan sarana input produksi dan tenaga kerja pada usaha tambak garam skala tradisional di Kabupaten Sumenep dan Jeneponto. Penelitian dilakukan dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Pengumpulan data dilakukan menggunakan metode survei melalui wawancara kepada 80 orang petambak garam dan wawancara mendalam (in-depth interview)kepada delapan orang informan kunci.Analisis data dilakukan secara deskriptif dan disajikan dalam bentuk tabulasi silang. Hasil kajian menunjukan kelembagaan penyedia input produksi lebih berperan dalam penyediaan akses permodalan dan kelembagaan tenaga kerja berperan dalam proses rekruitmen tenaga kerja.(Title: Analysis of Institutional Roles in the Input Production Providers and Labours in Salt Business)The objectives of this paper is analyzing institutional role of production input and labour institution in the traditional scale of salt pond business at Sumenep and Jeneponto Regencies. This study used a qualitative method. Survey method was used to collect data by interviewing 80 respondents and compounded by an in-depth interview to eight key informants. Data analyzing used descriptive  echnique and presented in cross-tabulation. Results show that production input institution has a role in providing capital access, while labour institution has a role in labour recruitment process.
SUMBER-SUMBER PERTUMBUHAN OUTPUT PERIKANAN DALAM PEREKONOMIAN INDONESIA PERIODE 1990-2000: Pendekatan Analisis Input-Output Menggunakan Metode Dekomposisi Faktor Tajerin Tajerin
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 3, No 2 (2008): DESEMBER (2008)
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (784.293 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v3i2.5847

Abstract

Kajian ini bertujuan untuk mengetahui sumber-sumber pertumbuhan output perikanan dan perubahannya yang terjadi selama periode analisis. Data yang digunakan merupakan data sekunder dari Tabel Input Output Tahun 1990, 1995 dan 2000 yang disusun oleh Badan Pusat Statistik. Analisis data dilakukan menggunakan kerangka model input-output dengan pendekatan dekomposisi faktor. Hasil kajian menunjukkan bahwa pada periode 1990-1995, pertumbuhan output perikanan primer dan perikanan sekunder didominasi sumber perubahan permintaan akhir domestik, sedangkan pada periode 1995-2000 didominasi sumber perluasan ekspor. Berdasarkan kontribusi terhadap sumber pertumbuhan output total, diketahui bahwa selama periode analisis (1990-2000) belum terjadi (tengah berlangsung) perubahan struktur dari perekonomian yang didominasi kelompok perikanan primer kepada kelompok perikanan sekundernya. Untuk meningkatkan kinerja pertumbuhan output perikanan primer dan perikanan sekunder terkait dengan perubahan strukturnya, diperlukan dukungan penguasaan terknologi yang lebih maju dan lebih mendorong perluasan ekspor bersamaan dengan upaya meningkatkan substitusi impor. Tittle: Sources of Fisheries Output Growth in the Indonesian Economy During 1990-2000 : And Input-Output Analysis Approach Using the Decomposition Factor Method.This study was primarily aimed to find out the sources of fisheries' output growth and changes occured to this sector during the analyzed period. Secondary data used in this research were derived from the 1990, 1995 and 2000 I-O tables composed by Central Bureau of Statistics (CBS). Analysis I-O model framework with factor decomposition approach. Results of the study indicated that during the 1990 – 1995 period, both primary and secondary fisheries' output were dominated by changes in the final demand, while during the 1995 – 2000 period, it was dominated by export expansion. Based on its contribution towards total output growth, during the analysis period (1990 - 2000), fisheries sector had not been experiencing structural changes from a primary-fisheries-dominated economy to secondary-fisheries-dominatedeconomy. In order to increase t output growth related to the structural changes, more advanced technologies, support for more export expansion balanced by the efforts to promote import substitution are required. 
MODAL SOSIAL KELOMPOK NELAYAN DI WADUK GAJAH MUNGKUR (Studi Kasus Kelompok Mina Tirta, Kecamatan Wuryantoro, Kabupaten Wonogiri) Rizky Muhartono; Sonny Koeshendrajana
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 8, No 2 (2013): DESEMBER (2013)
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (781.437 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v8i2.5675

Abstract

Modal sosial adalah serangkaian nilai-nilai atau norma-norma informal, seperti rasa saling percaya, saling pengertian, kesamaan nilai dan perilaku, yang membentuk struktur masyarakat dan menjadi perekat antar anggota kelompok yang berguna untuk koordinasi dan kerjasama dalam mencapai tujuan bersama. Makalah ini mengulas modal sosial yang terbentuk pada kelompok nelayan di perairan waduk Gajah Mungkur, khususnya di Kecamatan Wuryantoro, kabupaten Wonogiri. Metoda studi kasus dengan menggunakan data primer dan sekunder digunakan dalam penelitian ini. Pengumpulan data primer dilakukan pada bulan Juni 2012-Januari 2013 dengan melakukan wawancara mendalam pada informan kunci yang terdiri dari unsur nelayan, koperasi, pengurus kelompok dan dinas. Data sekunder diperoleh dari laporan tahunan, statistik perikanan serta referensi sesuai dengan topik kajian. Analisa deskriptif kualitatif digunakan untuk menjelaskan modal sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwakelompok Mina Tirta memiliki modal sosial yang baik dari unsur pengikat (bonding), penghubung (bridging), dan pengkait (linking). Modal sosial yang baik dalam kelompok nelayan dapat mendukung pengelolaan perikanan Waduk yang lestari. Title: Social Capital of Fisher’s Group at the Gajah Mungkur Reservoir (Case Study at Tirta Mina Group, Sub District Wuryantoro, Wonogiri District)Social capital is a set of values or informal norms, such as mutual trust, mutual understanding, in common values and behaviors , which form the structure of society and be the glue between group members that are useful for coordination and cooperation in achieving a common goal. The paper reviews the social capital formed in groups of fisher in Gajah Mungkur reservoir, in Wuryantoro Sub district, Wonogiri district. Primary and secondary data were used in this study. Primary data were collected in June 2012- January 2013 by conducting in-depth interviews to key informants, which consist of fisher, koperasi, groups of administrators and officials of fisheries agencies. Secondary data were obtained from annual reports, fisheries statistics and references according to the study topic. Qualitative descriptive analysis is used to explain social capital. The results showed that the Mina Tirta group have good social capital of elements- bonding, connecting/ bridging, and linking. Good social capital in the fisher’s group can support the sustainable management of reservoir fisheries.
ANALISIS TINGKAT KEMISKINAN DAN KETAHANAN PANGAN BERDASARKAN TINGKAT PENGELUARAN KONSUMSI PADA RUMAH TANGGA PEMBUDIDAYA IKAN (Studi Kasus Di Desa Sumur Gintung, Kabupaten Subang, Jawa Barat) Lindawati Lindawati; Subhechanis Saptanto
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 9, No 2 (2014): Desember (2014)
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (315.696 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v9i2.1221

Abstract

Tulisan ini bertujuan untuk mengkaji tingkat kemiskinan dan ketahanan pangan berdasarkan tingkat pengeluaran konsumsi pada rumah tangga pembudidaya. Penelitian ini dilakukan di Desa Sumur Gintung, Kabupaten Subang pada tahun 2012. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan sekunder. Pemilihan responden dilakukan secara purposive sampling, dengan jumlah responden sebanyak 38 orang. Analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis statistik deskriptif dengan teknik tabulasi silang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengeluaran konsumsi rumah tangga untuk pangan sebesar 44% dan non pangan 56%. Sedangkan jika dilihat dari tingkat kemiskinan dengan menggunakan 14 indikator yang dikembangkan oleh BPS menunjukkan bahwa sebanyak 63% rumah tangga tergolong sejahtera, sedangkan sebesar 37% kurang sejahtera. Berdasarkan tingkat ketahanan pangan rumah tangga terlihat bahwa sebesar 47% termasuk dalam kategori rentan pangan sedangkan sisanya 53% termasuk dalam kategori rawan pangan. Hal ini menunjukkan bahwa rumah tangga pembudidaya apabila dilihat dari tingkat pengeluaran konsumsi dan tingkat kemiskinannya termasuk dalam kategori sejahtera. Sedangkan jika dilihat dari tingkat ketahanan pangannya, rumah tangga pembudidaya masih tergolong rawan pangan meskipun jumlahnya tidak berbeda jauh dengan rumah tangga yang rentan pangan.
PENDEKATAN VALUASI EKONOMI UNTUK MENGHITUNG DAMPAK EKONOMI AKIBAT TUMPAHAN MINYAK DI WILAYAH PESISIR DAN LAUT Andrian Ramadhan; Siti Hajar Suryawati; Sonny Koeshendrajana
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 12, No 1 (2017): JUNI 2017
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (372.615 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v12i1.6283

Abstract

Kejadian tumpahan minyak di laut bisa terjadi sewaktu-waktu dan dimana saja khususnya yang memiliki kedekatan dengan jalur perkapalan dan aktivitas pengeboran minyak. Hal ini menuntut kewaspadaan pemerintah sekaligus kemampuan untuk menanggulangi kejadian yang terjadi secara cepat. Seiring dengan itu, pemerintah juga harus segera dapat menghitung nilai kerugian atau dampak ekonomi yang ditimbulkan. Penelitian ini bertujuan untuk menyusun pedoman perhitungan dampak kerugian akibat tumpahan minyak dengan pendekatan valuasi ekonomi. Penilaian dengan pendekatan ini memberi keuntungan yaitu terhitungnya seluruh manfaat barang dan jasa yang hilang baik yang bersifat ekonomi langsung, ekologi maupun sosial budaya. Secara total nilai dampak ekonomi dihitung dengan memasukkan tiga komponen yaitu biaya kerugian ekonomi yang dikompensasi, biaya rehabilitasi dan biaya administrasi penghitungan kerugian.Tittle: Economic Valuation Approach for Calculating the Economic Impact Due to Oil Spill on Coastal and MarineOil spills in the sea water can occur at anytime and anywhere especially on sites are closely associated with shipping and oil drilling activities. This issue requires government vigilance and ability in order to cope with it responsively. The government must also be able to calculate the economic loss. The purpose of this research is to compose a guidance of economic valuation for oil spill economic impact. The use of economic valuation give advantages where the loss of all benefits of goods and services, that include economic, ecological and socio-cultural value, are comprehensively counted. In total, the economic impact is calculated based on three components: the cost of compensated economic losses, rehabilitation costs and administrative costs of calculating losses.
STATUS KEBERLANJUTAN PEMANFAATAN SUMBER DAYA IKAN BILIH DI DANAU TOBA (Tinjauan Aspek Ekonomi dan Sosial) Yesi Dewita Sari; Sonny Koeshendrajana
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 6, No 1 (2011): Juni (2011)
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (973.845 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v6i1.5750

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji status keberlanjutan pemanfaatan sumber daya ikan bilih (Mystacoleucus padangensis Bleeker) di Danau Toba dan faktor-faktor yang mempengaruhikeberlanjutan tersebut. Penelitian dilakukan pada tahun 2010 di beberapa tempat sentra pendaratan ikan bilih, antara lain: Kabupaten Simalungun, Kabupaten Toba Samosir, Kabupaten Dairi, Kabupaten Karo dan Kabupaten Samosir. Data yang digunakan terdiri dari data primer dan data sekunder, sedangkan analisis dilakukan dengan menggunakan Metode RAPFISH. Atribut ekonomi yang digunakan untuk mengetahui status keberlanjutan terdiri dari tingkat keuntungan, kontribusi perikanan terhadap PDRB, penyerapan tenaga kerja, sifat kepemilikan sarana produksi,  tingkat subsidi, alternatif pekerjaan dan pendapatan bagi pelaku perikanan dan besarnya jangkauan pemasaran ikan bilih. Atribut sosial terdiri dari pertumbuhan komunitas nelayan, status konflik, tingkat  pendidikan, pengetahuan lingkungan, banyaknya penyuluhan dan keikutsertaan dalam kelompok. Hasil analisis menunjukkan bahwa pemanfaatan sumber daya ikan bilih di Danau Toba kurang berkelanjutan baik ditinjau dari aspek ekonomi maupun aspek sosial. Indeks keberlanjutan dari aspek ekonomi adalah 46,36% dan keberlanjutan dari aspek sosial adalah 31,27%. Status keberlanjutan dalam kategori kurang ini, mengharuskan adanya campur tangan dari pihak pengelola Danau Toba untuk menerapkan opsi pengelolaan yang dapat menjamin keberlanjutan ikan bilih yang di Danau Toba. Tittle: Sustainability Status of Bilih Fish Exploitation in Toba Lake (Review of Social and Economic Aspects)This study aims to asses sustainability status of the of Bilih Fish resources in the lake Toba and factors affecting the sustainability of this. Research was carried out in 2010 in several conters of Bilih Fish landing place, among others the districts of Simalungun, Toba Samosir, Dairi, Karo and Samosir. Primary and secondary data were used; while analysis was carried out using RAPFISH method. Economic attibute being used to asses sustainability status of the resource were profit, contribution of fisheries to gross domestic product (GDP), employment, nature ownership of production factors, level of subsidy employment and income alternatives and marketing. Social attributes consist of the growth of fishing communities, conflict status, education level, environmental knowledge, number of extention worker and participation in the group. Results show that the utilization of BIlih fish resource in Lake Toba are relatively unsustainable interms of economic and social aspects. Index of economic aspects sustainability in 46,36 % and social aspects sustainability in 31,27%. These indice indicate that the fisheries status was insustainable. This, inturn, needs intervention from Lake Toba mangement authority to manage in such away so that sustainability of Bilih fish are ensure.

Page 9 of 35 | Total Record : 349