cover
Contact Name
Edwin Yulia Setyawan
Contact Email
edwin.yulia.setyawan@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalsosek.kp@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan
ISSN : 20888449     EISSN : 25274805     DOI : -
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan merupakan Jurnal Ilmiah yang diterbitkan oleh Balai Besar Riset Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan, dengan tujuan menyebarluaskan hasil karya tulis ilmiah di bidang Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan. Artikel-artikel yang dimuat diharapkan dapat memberikan masukan bagi para pelaku usaha dan pengambil kebijakan di sektor kelautan dan perikanan terutama dari sisi sosial ekonomi.
Arjuna Subject : -
Articles 349 Documents
MOTIF DALAM PERILAKU MEMILIH PANGAN DAN HUBUNGANNYA DENGAN KETAHANAN PANGAN DI KOMUNITAS NELAYAN Sriwulan Ferindian Falatehan; Pariyasi Pariyasi
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 16, No 1 (2021): JUNI 2021
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jsekp.v16i1.8216

Abstract

Ketahanan pangan adalah kondisi terpenuhinya kebutuhan pangan dilihat dari jumlah, kualitas, dan gizi yang seimbang. Dalam tindakan pemenuhan kebutuhan pangan, terdapat motif yang mendasarinya, seperti kesehatan, sosial, ekonomi, dan budaya. Modal yang terdiri dari modal budaya, ekonomi, dan sosial yang dimiliki individu dalam komunitasnya diasumsikan dapat mempengaruhi habitus aktor dalam perilaku pemilihan pangan dan ketahanan pangannya. Mengacu pada hal tersebut, maka tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis perilaku memilih pangan yang dipengaruhi empat motif, yaitu kesehatan, harga, pengaruh orang lain, dan kebiasaaan berdasarkan modal budaya, ekonomi, dan sosial sebagai faktor yang dapat mempengaruhi capaian ketahanan pangan rumah tangga nelayan di kawasan pesisir. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dari survey pada 30 nelayan tersebar pada lapisan sosial atas (Induak Samang) dan bawah (Anak Buah Kapal) yang didukung dengan data kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan terdapat perbedaan perilaku memilih pangan dari empat motif berdasarkan modal budaya dan ekonomi; serta adanya hubungan perilaku memilih pangan dengan ketahanan pangan sebesar 0,33 (α<0,05). Model empat motif yang mempengaruhi pemilihan pangan tersebut dengan modal yang melekat padanya dapat digunakan sebagai indikator ketahanan pangan baik oleh Badan Ketahanan Pangan, Kementerian Pertanian,Kementerian Perikanan dan Kelautan maupun pemerintah dan kelembagaan yang berkaitan langsung dengan pemenuhan pangan dan kesehatan untuk mengurangi jumlah penduduk yang rawan pangan baik melalui proram Desa Mandiri Pangan maupun program pemberdayaan lainnya.
OPTIMALISASI PENGEMBANGAN USAHA BUDI DAYA RUMPUT LAUT (Kappaphycus alvarezii) DI PERAIRAN TELUK KULISUSU KABUPATEN BUTON UTARA PROVINSI SULAWESI TENGGARA Ruzkiah Asaf; Admi Athirah; Mudian Paena
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 16, No 1 (2021): JUNI 2021
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jsekp.v16i1.8138

Abstract

Pendekatan sistem untuk mengidentifikasi permasalahan dalam mengoptimalkan usaha budi daya rumput laut sangat penting dilakukan untuk meningkatkan kondisi perekonomian pembudi daya. Penelitian ini bertujuan menganalisis sistem usaha budi daya rumput laut di Perairan Teluk Kulisusu Kabupaten Buton Utara. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survei dan wawancara, sebanyak 50 responden dan dilakukan di bulan Juli 2016. Model sistem dinamik yang dilakukan dibangun dan dikembangkan berdasarkan pada data–data empiris sistem teknologi budi daya yang ada, faktor-faktor ekologis perairan, faktor-faktor ekonomi dan sosial, serta faktor kelembagaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa potensi peningkatan produksi masih dapat dilakukan dengan mengoptimalkan pemanfaatan areal seluas 6.952 ha dengan tingkat kesesuaian lahannya; sesuai sebesar 2.030 ha, cukup sesuai sebesar 3.818 ha dan tidak sesuai sebesar 1.105 ha. Optimalisasi dilakukan dengan menambah jumlah bentangan tali serta penambahan bobot bibit tebar pada setiap jalur penanaman. Hasil analisis kebutuhan, formulasi masalah, identifikasi kerangka permasalahan sistem, dapat dilaksanakan secara berkelanjutan dengan memperhatikan beberapa aspek yaitu 1) Ekologi. 2) Ekonomi. 3) Sosial budaya. 4) Teknologi dan 5) Kelembagaan. Kelima aspek dengan beberapa hal dari setiap aspek harus dioptimalkan agar pengembangan budi daya rumput laut dapat berjalan secara optimal dan kontinu. Rekomendasi dari hasil yang diperoleh sebaiknya perlu pengupayaan pelaksanaan kajian spesifik kuantifikasi nilai ekonomi total sumber daya dan optimalisasi kebijakan rumput laut. Tittle: Optimization of Seaweed Farming Development (Kappaphycus alvarezii) In The Waters of Kulisusu Bay of North Buton Regency, Southeast SulawesiA systems approach to identify problems in optimizing seaweed cultivation is very important to improve the economic conditions of farmers. This study aims to analyze the seaweed farming system in the waters of Kulisusu Bay, North Buton Regency. The research method used was survey and interview methods, as many as 50 respondents and was conducted in July 2016. The dynamic system model that was carried out was built and developed based on empirical data on existing cultivation technology systems, aquatic ecological factors, economic factors. and social, as well as institutional factors. The results showed that the potential for increased production could still be done by optimizing the utilization of an area of 6,952 ha with a land suitability level; in accordance with 2,030 ha, quite appropriate for 3,818 ha and not suitable for 1,105 ha. Optimization is carried out by increasing the number of rope stretches and increasing the weight of the seedlings in each planting path. The results of needs analysis, problem formulation, identification of system problem frameworks can be carried out in a sustainable manner by taking into account several aspects, namely 1) Ecology. 2) Economy. 3) Socio-culture. 4) Technology and 5) Institutional. The five aspects with several things from each aspect must be optimized so that the development of seaweed cultivation can run optimally and continuously. Recommendations from the results obtained should make efforts to carry out specific studies on the quantification of the total economic value of the resource and the optimization of seaweed policies.
PERSEPSI DAN SIKAP NELAYAN TERHADAP PENGELOLAAN RAJUNGAN (Portunus pelagicus) BERKELANJUTAN Riesti Triyanti; Achmad Zamroni; Hakim Miftakhul Huda; Rizki Aprilian Wijaya
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 16, No 1 (2021): JUNI 2021
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jsekp.v16i1.9486

Abstract

Pengelolaan rajungan di Indonesia perlu mendapatkan perhatian yang serius dari berbagai stakeholders, karena merupakan komoditas yang memililki volume dan nilai ekspor ketiga tertinggi di Indonesia. Di Kabupaten Demak, rajungan merupakan komoditas tangkapan tertinggi untuk membantu mencukupi kebutuhan pangan dan meningkatkan perekonomian masyarakat pesisir. Namun, praktek penangkapan yang tidak ramah lingkungan dan tidak terkendali menyebabkan penurunan stok rajungan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik sosial ekonomi, persepsi, dan sikap nelayanrajungan terhadap pengelolaan rajungan berkelanjutan. Data dikumpulkan dengan cara wawancara dengan bantuan kuesioner terstruktur kepada responden nelayan di Desa Betahwalang, Purworejo, dan Serangan, Kabupaten Demak. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan analisis deskriptif. Hasilpenelitian menunjukkan bahwa nelayan setuju terhadap kebijakan pengelolaan rajungan eksisting, teknik penangkapan rajungan, dan pola pemasaran rajungan, namun tidak setuju dengan kondisi sumber daya rajungan saat ini, pencatatan data rajungan, dan usulan kebijakan pengelolaan rajungan yang ditawarkan. Pada umumnya nelayan mengetahui aturan penangkapan rajungan yang ramah lingkungan, namun karena kebutuhan ekonomi yang tinggi, maka penggunaan alat tangkap yang tidak ramah lingkungan yaitu jaring arad masih banyak terjadi dan kualitas ikan hasil tangkapan relatif rendah. Musim pemijahanrajungan juga sudah diketahui oleh nelayan, namun pada musim pemijahan nelayan tetap menangkap rajungan. Untuk mengelola rajungan secara berkelanjutan diperlukan kebijakan pengelolaan berbasis masyarakat melalui kegiatan sosialisasi status kondisi rajungan yang tertangkap, pelatihan diversifikasi alat tangkap, dan pendampingan kepada nelayan terkait kesadaran penangkapan rajungan yang lestari. Selain itu, diperlukan pengawasan terhadap penggunaan alat penangkapan ikan, ukuran rajungan yang tertangkap, kontrol terhadap musim dan daerah penangkapan, dan pengembangan mata pencaharian alternatif bagi masyarakat pesisir saat kebijakan diterapkan. Tittle:  Fishers’ Perception and Attitude on Sustainable Management of Blue Swimming CrabsStakeholders need to pay a considerable attention to the management of blue swimming crabs in Indonesia since it is the third highest Indonesia export commodity both in volume and value. In Demak Regency, blue swimming crab is the highest catch commodity to meet the food needs and improve the economy of coastal communities. However, the uncontrolled and environmentally hazard catches resulted a decline in crab stocks. This study aims to analyze the fishers’ socio-economic characteristic, perceptions, and attitude toward sustainable blue swimming crab management. Data were collected through structured-questionnaires interviews with the fishers in Betahwalang Village, Purworejo Village, and Serangan Village, Demak Regency. The data were analyzed with descriptive method. The results showed that the fishers agree with the existing crab management policies, fishing techniques, and marketing pattern, however, they disagree with the current condition of blue swimming crab resources,data record, and the suggested sustainable crab management policies. The fishers have recognized the rules of environmentally friendly catch for blue swimming crabs, however, it is still common to use arad nets due to high economic needs despite the low quality of the catches. The fishers have also recognized the spawning season of the crabs, but they still catch in spawning season due to economic stress. In order to manage the sustainability of blue swimming crab, there is a need of community-based management policy through socialization the condition of the crab resources, training on fishing gear diversification, and community assistance for the awareness of sustainable crab fishing. In addition, it is necessary to supervise the use of fishing gear, the size of the catches, the season and fishing area, and develop the alternative livelihoods for coastal communities once the policy is implemented.
TINGKAT PARTISIPASI MASYARAKAT DAN ANALISIS AKTOR PADA REHABILITASI MANGROVE DI DESA KARANGSONG, KABUPATEN INDRAMAYU, JAWA BARAT Feti Fatimatuzzahroh; Sudharto Prawata Hadi; Hartuti Purnaweni
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 16, No 2 (2021): DESEMBER 2021
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jsekp.v16i2.9420

Abstract

Keterlibatan masyarakat masyarakat merupakan indikator penting dalam keberhasilan rehabilitasi mangrove, karena merekalah yang paling terdampak dari kegiatan rehabilitasi mangrove . Penelitian ini mengkaji keterlibatan masyarakat, peran aktor yang dominan pada partisipasi masyarakat dalam rehabilitasi mangrove di Desa Karangsong. Dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif, penelitian ini menganalisis keterlibatan masyarakat dengan menggunakan teori Arnstein dan Wilcox. Keterlibatan aktor juga dianalisis dengan software UCINET untuk memperkuat data tersebut dan mengetahui peran aktor dalam rehabilitasi mangrove.Hasil penelitian menunjukkan bahwa partisipasi masyarakat dalam rehabilitasi mangrove di Karangsong berada pada tahap citizen power. Fase ini menunjukkan bahwa masyarakat mampu merencanakan dan membuat kebijakan rehabilitasi mangrove. Hal ini dapat dilihat pada hasil analisis aktor dengan UCINET yang menunjukkan bahwa Kelompok Tani Pantai Lestari merupakan aktor utama dalam rehabilitasi mangrove. Selain dalam perencanaan, mereka juga berperan sebagai fasilitator dan pemberi informasi utama bagi aktor dan stakeholder yang terlibat. Partisipasi masyarakat yang berkelanjutan masih diperlukan dalam pengelolaan mangrove. Oleh karena itu, kebijakan pemerintah daerah diharapkan tetap memperhatikan keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan dan rehabilitasi mangrove agar berkelanjutan.Title:  Community Level Participation and Actor Analysis of Mangrove Rehabilitation in Karangsong Village, Indramayu Regency West JavaCommunity involvement is an important indicator in the success of mangrove rehabilitation because they are the most directly affected by mangrove rehabilitation. This research has the objective to evaluates the community involvement in mangrove rehabilitation in Karangsong Village, West Java, analyze the role of dominant actor in mangrove rehabilitation, and examine the role of participation in mangrove rehabilitation programme in Karangsong Village. Using descriptive qualitative methods, this study analyzed community involvement based on the theories of Arnstein and Wilcox. The involvement of actors was also analyzed with UCINET software to strengthen the data and to find out the role of actors in mangrove rehabilitation. This research shows that community participation in mangrove rehabilitation in Karangsong is at the citizen power stage. This phase shows that the community can plan and make policies for mangrove rehabilitation. It can be seen in the results of the actor analysis with UCINET which shows that the Pantai Lestari Group is the main actor in mangrove rehabilitation. Apart from planning, Pantai Lestari also acts as a facilitator and provides the main information for the actors and stakeholders involved. Continuing community participation is still needed in mangrove management. Therefore, local government policies are expected to continue to consider community involvement in managing and rehabilitating mangroves to be sustainable.
SURPLUS PRODUSEN PERIKANAN DEMERSAL DI PROVINSI JAWA BARAT DENGAN BERBAGAI NILAI DISCOUNT RATE Donny Orlando Wijayanto; Akhmad Fauzi; Luky Adrianto
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 16, No 2 (2021): DESEMBER 2021
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jsekp.v16i2.9593

Abstract

Terdapat pandangan secara global mengenai status sebagai nelayan yang diidentikkan dengan kemiskinan, suatu pandangan yang sejalan dengan beberapa hasil penelitian di Indonesia. Produksi perikanan tangkap laut di Provinsi Jawa Barat relatif besar secara nasional. Produksi perikanan demersal berkontribusi sebesar 34,52% dari total produksi pada tahun 2017. Hasil produksi ini diperoleh dari aktivitas nelayan Provinsi Jawa Barat yang berada di WPP-712 dan di WPP-573. Tujuan pengelolaan perikanan, baik dari sisi ekonomi maupun dari sisi pemerintahan adalah untuk menyejahterakan pelaku usahanya. Indikator yang saat ini digunakan untuk mengukur kesejahteraan nelayan adalah Nilai Tukar Nelayan (NTN). Nilai tersebut untuk Provinsi Jawa Barat adalah 105,06 pada tahun 2014, dan 113,02 pada tahun 2017. Besaran tersebut menunjukkan bahwa secara keseluruhan nelayan di Provinsi Jawa Barat adalah sejahtera. Di sisi lain, konsep NTN tidak menunjukkan bahwa biaya yang dikeluarkan adalah biaya korbanan (opportunity cost), dan tidak mengakomodir konsep time value of money. Melihat kondisi ini maka pertanyaan yang ditimbulkan adalah apakah nelayan di Provinsi Jawa Barat masih sejahtera apabila dilihat melalui indikator lain selain NTN. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis kesejahteraan nelayan perikanan demersal di Provinsi Jawa Barat menggunakan Surplus Produsen sebagai alat ukurnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara rata – rata, Surplus Produsen terbesar yang dialami nelayan yang berada di Laut Jawa adalah sebesar Rp3.897.109.483.225,20 pada discount rate 10%, dan nelayan di Samudra Hindia sebesar Rp104.452.115.805,11 pada discount rate 20%. Besaran discount rate tidak seiring dengan peningkatan Surplus Produsen. Perbandingan besaran Surplus Produsen dengan Angka Kemiskinan menunjukkan bahwa nelayan di Laut Jawa tidak dapat dikategorikan sebagai miskin, namun mereka yang berada di Samudra Hindia masih berada tepat di atas garis kemiskinan. Hal ini suatu hasil yang sedikit berbeda dibandingkan dengan angka NTN. Penelitian ini merekomendasikan penggunaan variabel Surplus Produsen sebagai komplemen bagi Nilai Tukar Nelayan sebagai ukuran kesejahteraan nelayan.Title:  Producer Surplus Of Demersal Fisheries in West Java Province With Various Discount Rate ValuesThere is a global view of status as a fishers who is identified with poverty, a view that is in line with several research results in Indonesia. Marine capture fisheries production in West Java Province is nationally relatively large. Demersal fisheries production contributed 34.52% of total production in 2017. This production result was obtained from the activities of fishers in West Java Province of WPP-712 and in WPP-573. The purpose of fisheries management, both from an economic perspective and from a government perspective, is the welfare of business actors. The indicator currently used to measure fishers’s welfare is in terms of fishers term of trade index (NTN). The value for West Java Province was 105.06 in 2014, and 113.02 in 2017. This figure shows that overall fishers in West Java Province are prosperous. On the other hand, the NTN concept does not indicate that the costs incurred are opportunity costs, and does not accommodate the time value of money concept. Seeing this condition, the question raised is whether fishers in West Java Province are still prosperous when viewed through other indicators other than NTN. The purpose of this study was to analyze the welfare of demersal fishers in West Java Province using Producer Surplus as a measuring tool. Results show that on average, the largest producer surplus experienced by fishers in the Java Sea is Rp. 3,897,109,483,225.20 at a discount rate of 10%, and fishers in the Indian Ocean are Rp. 104,452.115,805.11 at a discount. 20% rate. The discount rate is not in line with the increase in Producer Surplus. Comparison of the Producer Surplus with the Poverty Figure shows that fishers in the Java Sea cannot be categorized as poor, but those in the Indian Ocean are still just above the poverty line. This is a slightly different result compared to the NTN figure. This study recommends the use of the Producer Surplus variable as a complement to the Fishers Exchange Rate as a measure of fishers’s welfare.
PEMETAAN DAYA SAING PRODUK PERIKANAN PULAU JAWA DI PASAR TUJUAN UTAMA Andhatu Achsa; Rian Destiningsih; Yustirania Septiani; Dian Marlina Verawati
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 16, No 2 (2021): DESEMBER 2021
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jsekp.v16i2.9373

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi adanya penurunan nilai ekspor perikanan yang terjadi di tahun 2003 hingga 2016, walaupun setelah itu mengalami peningkatan kembali. Hal tersebut diduga terjadi karena kuantitas ekspor perikanan mengalami penurunan sebesar -0,15 persen. Adapun usaha awal mencegah penurunan ekspor perikanan semakin berkepanjangan yaitu dengan mengidentifikasi wilayah produksi perikanan yang memiliki keunggulan komparatif dan kompetitif. Dalam hal ini, sentra perikanan dibagi menjadi dua kelompok yaitu perikanan tangkap dan perikanan budi daya. Metode yang digunakan antara lain Shiftshare Esteban Marquilas (SS-EM), Revealed Comparative Advantage (RCA) dan metode Ekspor Produk Dinamika (EPD). Hasil penelitian menunjukkan daya saing perikanan hanya ada pada provinsi DIY; sedangkan provinsi lainnya hanya memiliki spesialisasi. Selanjutnya, daya saing perikanan Indonesia pada ketujuh pasar tujuan utama ekspor perikanan yaitu Tiongkok, Jepang, Hongkong, Amerika Serikat, Malaysia, Uni Eropa dan ASEAN memiliki daya saing kuat. Selanjutnya, produk perikanan Indonesia selama tahun 2000-2018 tergolong rising star pada pasar Malaysia, Tiongkok dan Amerika Serikat.Title: Mapping The Competitiveness of Java Island Fishery Products In Main Destination MarketThe decrease of fisheries export values from 2003 to 2016 initiated this research. Despite its increasing afterwards, the decreasing is presumed due to the decrease of export quantities by -0.15 percent. Initial effort to prevent on decreasing of export quantities is identifying fisheries production centers with comparative and competitive advantages. Fisheries production centers are divided into two groups: capture fisheries and aquaculture. Shiftshare Esteban Marquilas (SS-EM), Revealed Comparative Advantage (RCA) and Export Product Dynamics (EPD) methods are employed in this research. The results indicate that fisheries competitiveness is only seen in Yogyakarta, while other provinces only have specialization in fisheries. It is notified that competitiveness of Indonesian fisheries products is considered strong in seven market destination: China, Japan, Hongkong, United States, Malaysia, European Union, and ASEAN countries. Furthermore, Indonesian fisheries products in 2000 - 2018 has been acknowledged as rising star in several market destination: Malaysia, China and United States.
ANALISIS KELAYAKAN USAHA ALAT TANGKAP JARING UDANG (TRAMMEL NET) DI KABUPATEN CIREBON, JAWA BARAT Elinah Elinah; Auliya Al Bayyinah; Devi Nurkhasanah
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 16, No 2 (2021): DESEMBER 2021
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jsekp.v16i2.9416

Abstract

Kabupaten Cirebon merupakan salah satu wilayah yang memanfaatkan sumber daya perikanan dan kelautan melalui usaha perikanan tangkap. Salah satu alat tangkap yang di gunakan di Kabupaten Cirebon adalah trammel net. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kelayakan usaha penangkapan trammel net di Kabupaten Cirebon. Penelitian ini dilakukan pada bulan April - September 2020. Metode yang digunakan adalah survei dengan responden sebanyak 30 dengan teknik wawancara menggunakan kuisioner. Metode analisis finansial usaha yang digunakan yaitu NPV, IRR, R/C ratio dan PP. Hasil penelitian menunjukan bahwa kapal trammel net berukuran < 5 GT dan memiliki mesin penggerak berkekuatan 24 PK. Hasil analisis kelayakan usaha yang diperoleh nilai NPV rata-rata sebesar Rp150.406.777 dan bernilai positif, nilai R/C ratio sebesar 1,32 lebih dari 1, nilai IRR sebesar 47% dan PP sebesar 2,50 tahun. Hal ini menunjukan bahwa berdasarkan hasil perhitungan kelayakan usaha maka usaha trammel net layak untuk dilanjutkan dan menguntungkan, sedangkan nilai Payback Period (PP) menunjukan bahwa rata-rata nelayan trammel net dapat mengembalikan modal dalam kurun waktu 2 tahun 5 bulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa trammel net merupakan salah satu alat tangkap yang digunakan dan layak diusahakan oleh nelayan di Kabupaten Cirebon.Title: Feasibility Analysis of Trammel Net at the Cirebon Regency, West JavaCirebon Regency is one of the areas that utilizes fishery and marine resources in the capture fisheries business. One of the fishing gears used in Cirebon Regency is trammel net. This research aims to analyze business feasibility of trammel net at the Cirebon Regency. The survey was conducted in April to September 2020. The research method used is survey using 30 respondents with interview techniques using a questionnaire. Financial analysis method of NPV, IRR, R/C ratio, and Payback Periods analysis were used in this study. Results showed that the trammel net of <5 GT had a 24 PK propulsion engine. Results of analysis obtained an average NPV value of IDR 150,406,777 and a positive value, an R/C ratio of 1.32 more than 1, NPV 150,406,777, IRR 47% and a PP of 2,50 years. These results showed that trammel net is a feasible fishing gear being used by fishers in Cirebon regency.
Optimizing the Role of Social Media for Fisheries Business Development (Case Study in the Middle of Covid 19 Pandemic in West Java) Atikah Nurhayati; Indah Riyantini; Isni Nurruhwati; Isah Aisah
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 16, No 2 (2021): DESEMBER 2021
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jsekp.v16i2.8981

Abstract

The spread of the Covid 19 outbreak felt its impact in the fisheries sector. The spread of Corona Virus has brought new challenges and risks in social life, including fisheries businesses. Fishery business practitioners, namely fishermen, fish cultivators, fishery product processors and fishery product marketers, experience logistical and marketing problems. Some indications of the impact of the Covid-19 pandemic are evident in the fisheries business. These indications are a decrease in the price of fishery products, a logistic system that cannot run normally, and a decrease in demand for fishery products, all of which impact on the household income of the fishery business. The disruption of distribution channels between businesses and consumers due to restrictions on human mobility that is applied to overcome the Covid 19 outbreak is the root cause. Regional quarantine as well as large-scale social restrictions do not prohibit mobility in the transportation of goods, but in reality these restrictions significantly impede the traffic of fishery products. This is reminiscent of the implementation of the 4.0 revolution in the fisheries and marine sector, where fisheries and marine businesses including fish farmers to innovate in the use of automation tools that are controlled from smartphone applications. With digital applications, cultivation can use it to anticipate during current conditions, when the Covid 19 pandemic occurs, where market access is directly restricted which can be circumvented by online marketing where producers and consumers do not make transactions directly. This reserach  aims to analyze the optimization of the role of social media for the development of fisheries business case studies in the middle of the Covid 19 pandemic in West Java. Research time is from February to May 2020. The research method used was a survey method. The data used are primary and secondary data. Primary data were obtained by taking the technique of non-probability sampling respondents to 40 respondents of fisheries businesses. The analytical tool used in this reserach  is non-parametric statistics with Friedman and Kendalls using twigs to scale. Based on the results of research, the level of knowledge of fisheries business operators regarding handling of Covid 19 averages 70% of knowing, understanding and implementing health protocols in carrying out daily activities, the role of social media is high for fisheries business actors consisting of fishermen, fish cultivators, fishery product processors and marketer of fishery products. Social media used include Instagram, Short Message Service (SMS), Websites, Blogs, Facebook and Whatsapps. The most optimal use of social media activities is carried out by fishery product marketers via Whatsapps. and Instagram. 
ESTIMASI PENDAPATAN DAN TINGKAT KERENTANAN PENGHIDUPAN NELAYAN DALAM MENGHADAPI VARIABILITAS MUSIM DI KABUPATEN LUMAJANG Indah Fitriani; Asri Sawiji; Noverma Noverma
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 16, No 2 (2021): DESEMBER 2021
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jsekp.v16i2.9543

Abstract

Perubahan musim mengakibatkan terjadinya pola pergeseran musim barat ataupun timur dan kondisi perairan laut yang tidak dapat diprediksi. Hal ini menyebabkan jumlah hari melaut menjadi tidak menentu yang mempengaruhi besaran pendapatan nelayan. Penelitian ini bertujuan untuk mengestimasi besar pendapatan kelompok nelayan di Pantai Dampar, Kabupaten Lumajang saat musim timur dan barat, menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi, serta tingkat kerentanan penghidupan nelayan dalam menghadapi variabilitas musim. Jumlah sampel penelitian sebanyak 66 orang dari total 78 orang nelayan di Pantai Dampar yang tergabung dalam Kelompok Usaha Bersama Nelayan (KUBN Dampar). Analisis untuk mengetahui besar pendapatan kelompok nelayan diperoleh dari selisih antara penerimaan total dengan total biaya operasional. Selanjutnya, analisis faktor penentu dilakukan menggunakan analisis regresi linear berganda menggunakan SPSS versi 25, sedangkan terkait tingkat kerentanan dianalisis menggunakan metode Livelihood Vulnerability Index (LVI). Hasil analisis menunjukkan bahwa pendapatan nelayan pada musim timur lebih tinggi dibandingkan musim barat. Persentase selisih pendapatan nelayan pada musim timur dibandingkan pada musim barat sebesar 34% pada kelompok nelayan pancing, 14% pada kelompok nelayan jaring dan 16% pada kelompok nelayan pancing dan jaring. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi meliputi: jumlah hari melaut, jarak tempuh, kedalaman, lama melaut, pengalaman, tinggi gelombang, angin dan hujan. Namun lama melaut mempunyai pengaruh paling besar dengan persentase 36,5 %. Hasil analisis LVI menunjukkan bahwa tingkat kerentanan untuk semua kelompok nelayan masuk dalam ketegori rentan dengan skala LVI sebesar 0,28 sampai 0,31. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin tinggi skala LVI, maka kelompok nelayan semakin rentan terhadap variabilitas musim, sehingga pendapatan yang diperolehnya lebih sedikit jika dibandingkan dengan kelompok nelayan lainnya. Penilaian pada lima modal yakni modal sosial, ekonomi, manusia, fisik, dan alam masih perlu dilakukan guna mendukung tingkat resiliensi atau kelompok nelayan.Title: Income Estimation and Fishers Livelihood Vulnerability in Facing Season Variability in Lumajang DistrictSeason change results in shifting patterns of west or east monsoons and unpredictable marine conditions. This causes days of fishing become uncertain that may affect income of fishers. This study aims to determine the income of fishers in Dampar Beach, Lumajang Regency during east and west seasons and determine the vulnerability index of fishers’s livelihood in facing season variability. Research was conducted on 66 members of fishers joint venture group in Dampar Beach (KUBN Dampar). Determining income of the fishers group is obtained from the subtraction of total fishing revenue with total operating costs. Furthermore, determinant factors were analyzed by multiple linear regression with SPP version 25; whilst the vulnerability index to season variability was analyzed using Livelihood Vulnerability Index (LVI) method. The results show that income of fishers in east season is higher than in west season. Income differences between east season and west season were 34%, 14% and 16% for fishing line group, net fishing group and both fishing line and net fishing group, respectively. Determinant factors were day of fishing, distance of fishing area, fishing depth, days at sea, experience, wave height, wind velocity, and rainfall. Days at sea was the most significant factor. LVI analysis shows that vulnerability levels of all fishing groups were vulnerable with LVI scale between 0,28 and 0,31. Results also show that should the LVI scale be higher, the group of fishers would become vulnerable to season variability; hence, income of the fishers would be lower than other groups of fishers. Assessment on five capitals (social, economic, human, physical, and natural capital) needs to be supported to enhance the resilience level of the fishers group.
STRATEGI PENGEMBANGAN TEMPAT PELELANGAN IKAN (TPI) TAWANG, KABUPATEN KENDAL, JAWA TENGAH Hesa Karunia Fitri; Agus Suherman; Herry Boesono
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 16, No 2 (2021): DESEMBER 2021
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jsekp.v16i2.10091

Abstract

Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Tawang adalah penyumbang transaksi hasil perikanan tangkap terbesar di Kabupaten Kendal dengan prosentase 42,56% dari total produksi perikanan tangkap di Kabupaten Kendal yaitu 1.894.351 kg, namun kondisi sarana prasarana dan sistem pengelolaan saat ini yang belum memadai menjadikan peran TPI Tawang belum optimal. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor internal dan eksternal terkait kinerja TPI Tawang dan menyusun strategi pengembangan TPI Tawang. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. Pengambilan sampel menggunakan metode purposive sampling dengan jumlah responden 50 orang yang terdiri dari nelayan sebanyak 22 orang, 21 orang bakul, 2 personil pengelola TPI, 1 pelaksana KUD Mina Jaya, 2 personil pengelola Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Tawang dengan jabatan staf operasional dan kesyahbandaran, serta 2 pengelola UPTD TPI. Metode analisis data yang digunakan adalah analisis SWOT untuk mengevaluasi faktor internal dan eksternal dalam merumuskan strategi pengembangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa produksi tertinggi di TPI Tawang terjadi pada tahun 2020 sebesar 839.130 kg. Retribusi lelang untuk nelayan dipungut biaya sebesar 3% dan untuk bakul sebesar 2% dengan total sebanyak 5%. Komoditas yang paling banyak dihasilkan di TPI Tawang antara lain Tembang (Sardinella sp.), Tongkol (Euthynnus affinis), Teri (Stolephorus sp.), Kembung (Rastrelliger sp.), dan Peperek (Leiognathus dussumieri). Berdasarkan analisis faktor internal dan eksternal diketahui bahwa sarana prasarana TPI Tawang belum dikelola secara optimal. Berdasarkan analisis SWOT posisi TPI Tawang berada pada kuadran I, dimana pada kuadran tersebut digunakan strategi S-0 sebagai strategi prioritas, yaitu melakukan penguatan dan pengembangan SDM berupa pelatihan, perumusan/internalisasi budaya kerja; pengembangan fasilitas TPI Tawang; pengembangan sentra industri pengolahan ikan yang lebih variatif; dan meningkatkan pelayanan dan menjaga sistem operasional TPI Tawang dengan melakukan survei kepuasan berkala.Title: Strategy of Developing of Tawang Fish Auction (FAP) at Kendal Regency, Central JavaThe Tawang Fish Auction Place (FAP) is the largest contributor to capture fisheries transactions in Kendal Regency with a percentage of 42.56% of the total capture fishery production in Kendal Regency, which is 1,894,351 kg, but the current condition of infrastructure and management systems is not adequate. the role of FAP Tawang has not been optimal. This study aims to analyze internal and external factors related to the performance of FAP Tawang and develop a strategy for developing FAP Tawang. The method used in this research is descriptive method. Sampling used purposive sampling method with 50 respondents consisting of 22 fishermen, 21 wholesellers, 2 FAP management personnel, 1 Mina Jaya KUD implementer, 2 Tawang Coastal Fishery Port (CFP) management personnel with operational and harbor staff positions. , as well as 2 managers of UPTD FAP. The data analysis method used is SWOT analysis to evaluate internal and external factors in formulating development strategies. The results showed that the highest production at FAP Tawang occurred in 2020 at 839,130 kg. The auction fee for fishermen is charged at 3% and for wholesellers it is 2% for a total of 5%. The most abundant commodities produced at FAP Tawang include Tembang (Sardinella sp.), Cob (Euthynnus affinis), Anchovy (Stolephorus sp.), Bloat (Rastrelliger sp.), and Peperek (Leiognathus dussumieri). Based on the analysis of internal and external factors, it is known that the infrastructure of FAP Tawang has not been managed optimally. Based on the SWOT analysis, the position of FAP Tawang is in quadrant I, where the S-0 strategy is used as a priority strategy, namely strengthening and developing human resources in the form of training, formulation/internalization of work culture; development of Tawang FAP facilities; development of more varied fish processing industrial centers; and improve services and maintain the operational system of FAP Tawang by conducting periodic satisfaction surveys.