cover
Contact Name
Edwin Yulia Setyawan
Contact Email
edwin.yulia.setyawan@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalsosek.kp@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan
ISSN : 20888449     EISSN : 25274805     DOI : -
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan merupakan Jurnal Ilmiah yang diterbitkan oleh Balai Besar Riset Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan, dengan tujuan menyebarluaskan hasil karya tulis ilmiah di bidang Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan. Artikel-artikel yang dimuat diharapkan dapat memberikan masukan bagi para pelaku usaha dan pengambil kebijakan di sektor kelautan dan perikanan terutama dari sisi sosial ekonomi.
Arjuna Subject : -
Articles 349 Documents
RANTAI PASOK DAN LOGISTIK UDANG VANAME DI DAERAH PRODUKSI DI INDONESIA Achmad Zamroni; Risna Yusuf; Tenny Apriliani
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 16, No 2 (2021): DESEMBER 2021
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jsekp.v16i2.9495

Abstract

Rantai pasok udang vanamei di daerah produksi di Indonesia tidak selalu sama dan dipengaruhi oleh ketersediaan fasilitas pembenihan sampai dengan unit pengolahan ikan (UPI). Konsekuensinya, jenis dan jumlah biaya logistik bervariasi antara daerah satu dengan yang lain. Riset ini bertujuan untuk; a) mengidentifikasi rantai pasok udang vanamei di daerah produksi, b) menganalisis permasalahan dalam rantai pasok udang vanamei, dan c) merumuskan sistem logistik udang vanamei. Riset dilakukan selama tahun 2019 di beberapa provinsi yang memproduksi udang vanamei yaitu Jawa Timur, Jawa Barat, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Sulawesi Selatan. Riset ini menggunakan data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh melalui wawancara dengan menggunakan topik data kepada 12 responden pembenihan, 4 responden UPI, 40 responden pembudidaya udang vanamei, dan 10 pedagang/pengumpul. Data sekunder diperoleh dari laporan hasil riset, data statistik, dan publikasi ilmiah lainnya. Data dianalisis secara deskriptif untuk menggambarkan rantai pasok, pola logistik, dan permasalahan yang terjadi dalam rantai pasok. Hasil analisis menggambarkan bahwa rantai pasok udang vanamei di Indonesia bisa digolongkan menjadi 3 bagian, yaitu pasokan (bahan baku dan produksi), distribusi (pedagang besar, pedagang kecil, dan pengecer), dan konsumen (pasar lokal, hotel/ restoran/catering -HOREKA- dan UPI). Permasalahan rantai pasok udang vanamei dari produsen benih sampai ke konsumen akhir telah menyebabkan produksi tidak efisien dan berimplikasi pada peningkatan biaya. Secara faktual, ada disparitas stok benih antar daerah dan kebutuhan pemenuhan stok udang di beberapa cold storage. Logistik udang vanamei menggunakan hampir semua jenis moda transportasi yaitu transportasi udara (pesawat terbang), transportasi darat (sepeda motor, mobil bak terbuka, truk biasa, truk kontainer) dan transportasi laut (kapal antar pulau dan antar negara). Sistem logistik udang belum efisien mengingat pengadaan induk udang vanamei masih diimpor dari negara lain oleh beberapa perusahaan pembenihan, dan benih ini harus menyuplai seluruh wilayah Indonesia.Title: Supply Chain and Logistic of Vannamei Shrimp In Production Areas of IndonesiaThe supply chain of vannamei shrimp in production areas of Indonesia is different in each area. It depends on the availability of hatchery facilities and the fish processing unit (UPI). Consequently, the types and logistic costs vary among regions. This research aims to: a) identify the supply chain of vannamei shrimp in the production area, b) formulate a general pattern of the logistic system of vannamei shrimp, and c) analyze the problems in the supply chain of vannamei shrimp. This research was conducted in 2019 in East Java, West Java, Bali, West Nusa Tenggara, and South Sulawesi where those provinces produce vannamei shrimp. This research employs primary and secondary data. Primary data were collected through interviews with five hatchery respondents, four UPI respondents, 40 vannamei shrimp farmers, and seven collectors/traders. Secondary data were obtained from research reports, statistical data, and other scientific publications. Data were analyzed descriptively to describe the supply chain, logistic patterns, and problems that occur in the supply chain. The results illustrate that vannamei supply chain in Indonesia can be classified into three parts: raw materials and production, distribution (wholesalers, small traders, and retailers) and consumers (local markets, hotel/restaurant/catering, and processing plants). The problem of vannamei supply chain from hatcheries to the final consumers has resulted in inefficient production and has been implicated in increased costs. Eventually, there are disparities in shrimp juvenile stocks between regions and the need to fulfill shrimp stocks in several cold storages Logistic system of vannamei shrimp utilizes almost all types of transportation modes: air transport (cargo planes), land transportation (motorbikes, trucks, cargo trucks) and water transportation (inter-island and inter-country cargo ships). The logistics system of vannamei was inefficient considering the procurement of vannamei shrimp broodstocks have always been imported from other countries by several hatchery companies, and shrimp juveniles produced need to be distributed to all-around Indonesia.
ANALISIS DAN STRATEGI PENINGKATAN PENDAPATAN NELAYAN TRADISONAL DI KAWASAN PESISIR KABUPATEN SERDANG BEDAGAI SUMATERA UTARA Hotden Leonardo Nainggolan; Johndikson Aritonang; Albina Ginting; Maria R. Sihotang; Memo Alta Putra Gea
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 16, No 2 (2021): DESEMBER 2021
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jsekp.v16i2.9969

Abstract

Nelayan tradisional dicirikan dengan kualitas sumber daya manusia, keterampilan dan produktivititas yang rendah. Nelayan tradisional di Kabupaten Serdang Bedagai juga memiliki karakteristik aset dan teknologi alat tangkap terbatas, turut menyebabkan rendahnya produksi yang berdampak pada rendahnya pendapatan nelayan. Rendahnya pendapatan dan tidak adanya strategi peningkatan pendapatan nelayan menjadi permasalahan dalam penelitian ini. Penelitian ini bertujuan mengetahui tingkat pendapatan nelayan tradisional dan merumuskan strategi peningkatan pendapatannya. Penelitian dilakukan di Kabupaten Serdang Bedagai pada bulan September - Desember 2020. Penelitian ini menggunaan data primer dan sekunder, yang dianalisis dengan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif dan kuantitatif yaitu analisis pendapatan dan analisis SWOT. Berdasarkan penelitian disimpulkan: a) Pendapatan nelayan tradisional pada musim ikan rata-rata Rp65.398,00/hari atau Rp980.971,00/bulan. Pendapatan pada musim paceklik rata-rata Rp13.675,00/ hari, atau Rp205.121,00/bulan; b) Faktor kekuatan nelayan yang dominan adalah memiliki pengalaman dalam mengembangkan kelompok nelayan dan faktor kelemahan adalah waktu dan jangkauan melaut yang terbatas. c) Faktor peluang yang dominan adalah permintaan ikan yang sangat tinggi; d) Strategi peningkatan pendapatan nelayan adalah strategi agresif, dengan strategi prioritas; 1) pembentukan kelompok nelayan serta penggunaan alat tangkap modern, 2) Pelatihan dan penyuluhan nelayan, 3) Penggunaan teknologi informasi yang didukung pemerintah, 4) Pengembangan kerjasama dengan mitra. Berdasarkan penelitian direkomendasikan agar; a) Pemerintah memfasilitasi nelayan untuk membentuk kelompok untuk peningkatan kapasitas dan keterampilannya, b) Pemerintah memberikan dukungan dana untuk pengadaan sarana prasarana penangkapan ikan, c) Pemerintah rutin melakukan penyuluhan, pelatihan kepada nelayan untuk melakukan pengolahan ikan untuk meningkatkan nilai tambahnya serta cara melestarikan sumber daya laut dan pesisir yang berkelanjutan.Title: Analysis and Strategies to Increase Income of Traditional Fishers in Coastal Areas at District of Serdang Bedagai, North SumateraTraditional fishers are characterized by low of quality of human resources, lack of skills and low productivity. Traditional fishers in Serdang Bedagai are depicted as limited assets, technology and fishing gear, contributed to low production which impacted to low income of fishers. This study aims to determine the level of income and formulate strategies to increase fishers’s income. This study was conducted in September-December 2020, using primary and secondary data. Data were analyzed using qualitative and quantitative approaches with income analysis and SWOT analysis. The results conclude that average income of traditional fishers in fishing season is IDR65,398/day or IDR 980,971/month. The average income during the famine season is IDR13,675/day or IDR205,121/month. Furthermore, dominant factor of fishers strength is having experience in fishing groups. Dominant factor of opportunity is a high demand for fish. Some priority actions as aggressive strategies to increase income of fishers are needed such as forming groups of fishers and utilizing modern fishing gears, training and counseling for fishers, using information technology, and developing cooperation and network. Therefore, this paper suggests some recommendations: a) Governments need to facilitate fishers to form groups to increase their capacity and skills, b) Governments shall provide financial support to establish facilitates and infrastructure of fisheries activities, c) Governments should conduct assistance, guidance and training for fishers to implement fish processing to add values, and to sustain coastal resources.
MODEL PERMINTAAN EKSPOR UDANG OLAHAN INDONESIA OLEH PASAR JEPANG, AMERIKA SERIKAT DAN UNI EROPA PENDEKATAN ERROR CORRECTION MODEL (ECM) Asnawi Asnawi; Estu Sri Luhur; Siti Hajar Suryawati
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 16, No 2 (2021): DESEMBER 2021
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jsekp.v16i2.9768

Abstract

Pengolahan dan pemasaran hasil perikanan memberi kontribusi yang cukup besar dalam menciptakan produk perikanan bermutu tinggi dan aman dikonsumsi. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis kinerja ekspor komoditas udang Indonesia dan menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan ekspor udang Indonesia. Penelitian ini diperlukan untuk menganalisis fenomena kinerja ekspor produk udang yang menunjukkan tren menurun dalam beberapa tahun terakhir. Pasar tujuan ekspor yang dianalisis adalah tiga pasar utama bagi ekspor komoditas udang Indonesia yaitu Jepang, Amerika Serikat dan Uni Eropa. Penelitian ini menggunakan data runtut waktu (time series) dari tahun 1989-2017. Data dianalisis menggunakan Pendekatan Error Correction Model (ECM). Berdasarkan hasil penelitian menunjukan bahwa model permintaan ekspor udang olahan Indonesia menunjukkan hasil yang baik dilihat dari segi ekonomi maupun statistik. Prospek ekspor udang olahan Indonesia masih mempunyai peluang yang cukup baik untuk pasar Jepang, Amerika Serikat dan Uni Eropa. Daya saing produk udang olahan Indonesia ke pasar Jepang terkait dengan persaingan harga dengan negara-negara pengekspor produk udang olahan ke pasar Jepang. Peningkatan GDP Jepang merupakan peluang bagi para eksportir untuk meningkatkan ekspor produk olahan udang Indonesia ke pasar Jepang. Pasar Amerika Serikat berbeda dengan pasar Jepang, dimana daya saing produk udang olahan Indonesia di pasar Amerika Serikat bukan terletak pada harga. Diduga, yang menjadi persaingan adalah kualitas dan kesinambungan produk udang olahan. Sedangkan untuk pasar Uni Eropa hampir sama dengan pasar Jepang yaitu persaingan harga. Hanya saja, perubahan harga tersebut tidak dapat direspon secara cepat oleh para eksportir. Hal ini ditunjukkan dengan berpengaruhnya variabel lag harga ekspor produk udang olahan Indonesia secara signifikan. Untuk meningkatkan kinerja ekspor produk udang olahan Indonesia ke pasar Jepang, Amerika Serikat dan Uni Eropa, diperlukan kestabilan harga udang domestik, ketersediaan bahan baku yang cukup dan kualitas produk yang terjaga.Title: Model of Export Demand of Indonesian Processed Shrimp by Japan, United States (US) and European Union (EU) Markets An Error Correction Model (ECM) ApproachProcessing and marketing of fisheries products has a significant contribution in creating high quality and safe fisheries products.This study aims to analyze the export performance of Indonesian shrimp commodities and to analyze factors influence demands of Indonesian processed shrimp exports. Research is needed to analyze export performance of shrimp products that showed a decrease trend in recent years. The export destination countries analyzed are Japan, United States (US) and European Union (EU). This study uses time series data from 1989-2017. An Error Correction Model (ECM) approach was employed in this study. Results show that model of export demand of Indonesian Processed Shrimp provides an economic and statistical perspective. Indonesian shrimp exports have good opportunities for Japan, US and EU markets. The competitiveness of Indonesia processed shrimp products to Japanese market is related to price competition with competitor countries who market to Japan. An increase of Japan’s GDP is an opportunity to increase export of Indonesian processed shrimp products to Japanese market. US market is different from Japanese market. Exports of Indonesian processed shrimp products to the US are not based on price competition but quality and continuity of processed shrimp products. Meanwhile, UE market has a similar characteristic with Japanese market. Price competition also occurs in EU market; nevertheless, price changes were not immediately responded by the exporters. It is shown by a significant effect of lag export price of Indonesia processed shrimp products. To improve export performance of Indonesian processed shrimp products to Japanese markets, US and EU, it is necessary to stabilize shrimp prices at domestic level, to keep the availability of raw materials sufficiently and to maintain product quality.
DAMPAK FLUKTUASI PASAR IKAN UNI EROPA TERHADAP UTILITAS INDUSTRI PERIKANAN DI PELABUHAN PERIKANAN SAMUDERA NIZAM ZACHMAN JAKARTA Doni Suhadak; Darmawan Darmawan; Zulkarnain Zulkarnain
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 17, No 1 (2022): JUNI 2022
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jsekp.v17i1.9633

Abstract

Penelitian terdahulu dan pernyataan beberapa asosiasi bidang perikanan menyatakan bahwa tingkat utilitas unit pengolahan ikan rendah sebagai akibat kekurangan bahan baku ikan. Di sisi lain, pada saat yang sama data statistik menunjukkan peningkatan hasil tangkapan yang didaratkan. Hal ini menimbulkan pertanyaan apakah benar tingkat utilitas unit pengolahan ikan disebabkan oleh kekurangan bahan baku. Penelitian ini menginvestigasi tahapan pengadaan bahan baku di unit pengolahan ikan beku dengan tujuan ekspor Uni Eropa. Penelitian yang bersifat kualitatif ini dilakukan dengan wawancara mendalam dan diskusi berkelanjutan dengan responden yang memiliki kewenangan dan pengetahuan terkait proses pengadaan bahan baku. Informasi diolah dengan teknik 5W1H dan dikaji secara deskriptif dengan bantuan referensi teori dan kasus pemasaran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa unit pengolahan ikan beku hanya berproduksi apabila ada pesanan dari pembeli luar negeri. Artinya, unit pengolahan hanya akan membeli bahan baku setelah menerima kepastian permintaan dari pembeli (Uni Eropa). Hal ini menunjukkan bahwa pasar produk ikan beku di Uni Eropa bersifat oligopsoni. Terbukti bahwa dalam kasus ekspor produk ikan beku ke Uni Eropa, ketersediaan bahan baku ikan bukanlah faktor penentu rendahnya utilitas unit pengolahan ikan. Direkomendasikan langkah aksi untuk memperluas jaringan pembeli dan meningkatkan jumlah penjualan dengan target negara-negara Uni Eropa yang memiliki tingkat konsumsi ikan tinggi dengan jumlah produksi ikan domestik rendah.Title: Fluctuation Impact of the European Union Fish Market on Utility of Fisheries Industries in the Nizam Zachman Jakarta Ocean Fishing PortPrevious research and statements from several fishery associations mentioned that the utility level of fish processing units is low because of fish raw materials shortage. On the other hand, at the same periode statistical data shows an increase in catches landed. This raises the question of whether it is true that the level of utility of fish processing unit is caused by shortage of raw materials. This study investigates the stages of procurement of raw materials for frozen fish processing units for export to the European Union. This qualitative research was conducted through in-depth interviews and iterative discussions with respondents who have the authority and knowledge regarding the raw material procurement process within the companies. Information is processed using the 5W1H technique and analyzed descriptively with the help of theoretical references and marketing cases. The results showed that the frozen fish processing unit only produced when there was an order from foreign buyers. This means that the processing unit will only buy raw materials after receiving confirmed requests from EU buyers. This shows that within the scope of the research, it was revealed that the market for frozen fish products in the European Union is oligopsony. So it is proven that in the case of frozen fish products to the European Union, the availability of fish raw materials is not a determining factor for the low level utility of fish processing unit. Action steps are recommended to expand the network of buyers and increase the number of sales by targeting European Union countries that have high levels of fish consumption with low amounts of domestic fish production.
ANALISIS SISTEM DINAMIK PERIKANAN MULTISPESIES: STUDI TERHADAP PERIKANAN PELAGIS DI PELABUHAN PERIKANAN SAMUDRA CILACAP Krisna Fery Rahmantya; Nimmi Zulbainarni; Benny Osta Nababan
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 17, No 1 (2022): JUNI 2022
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Alat tangkap jaring insang hanyut memiliki kontribusi yang besar terhadap tangkapan di PPS Cilacap. Hasil tangkapannya berupa multispesies pelagis kecil, antara lain, meliputi spesies cakalang (Katsuwonus pelamis), spesies tuna kecil mata besar (Thunus obesus), dan spesies layur (Trichiurus lepturus). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kebijakan usaha perikanan multispesies pelagis dengan alat tangkap jaring insang hanyut dalam hubungan antara subsistem ekologi, subsistem ekonomi, dan subsistem sosial serta menyimulasikan skenario kebijakan dalam rangka peningkatan produksi perikanan berkelanjutan. Penelitian ini menggunakan data sekunder berupa data time series selama 10 tahun (2010—2019). Metode analisis data yang digunakan adalah analisis sistem dinamik. Hasil simulasi model dinamik untuk 30 tahun mendatang menunjukkan bahwa dalam usaha perikanan multispesies pelagis terdapat pola tangkapan yang bergantian pada spesies yang ditangkap setiap tahun sehingga diperlukan pengaturan tangkapan spesies secara bergantian dan tidak berfokus pada satu spesies saja. Rata-rata median renten ekonomi untuk keempat spesies pelagis terbesar mencapai Rp136,96 trilliun dengan rata-rata pertumbuhan jumlah nelayan jaring insang hanyut mencapai 9 nelayan/tahun. Skenario kebijakan yang berupa pengaturan jumlah kapal sangat berpengaruh dalam upaya penangkapan (effort) sehingga dapat memberikan penghematan pada penggunaan biomassa/stok dalam waktu yang lebih lama.Title: Dynamic System Analysis of Multispecies Pelagic Model in Cilacap Fisheries PortDrift gill net fishing has a considerable contribution to the catch at PPS Cilacap. The catch is small pelagic multispecies, includes skipjack tuna (Katsuwonus pelamis), big eyes little tuna (Thunus Obesus), layur species (Trichiurus lepturus) and other fish. This study aims to analyze the policy of pelagic multispecies fishery business using drifting gill nets and its relationship with ecological sub- systems, economic sub-systems and social sub-systems and to simulate policy scenarios to increase sustainable fisheries production. This study analyzed secondary data, a time series data for ten years (2010-2019), using dynamic systems analysis. The dynamic model simulation on the results for the next 30 years shows a catch pattern alternating between species every year in pelagic multispecies fisheries. Therefore, it is necessary to arrange catches of the species alternately and avoid focusing on just one species. The average median economic rent for the four largest pelagic species is IDR136.96 trillion with an average growth of gill net fishers reaching nine fishers/year. The policy scenario in which regulating the number of ships is essential on the catching effort as it may reserve the use of biomass/stock for a longer time.
PEMETAAN TINGKAT KONSUMSI IKAN RUMAH TANGGA DI INDONESIA Fitria Virgantari; Sonny Koeshendrajana; Freshty Yulia Arthatiani; Yasmin Erika Faridhan; Fajar Delli Wihartiko
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 17, No 1 (2022): JUNI 2022
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jsekp.v17i1.11045

Abstract

Ikan merupakan salah satu produk pangan hewani yang memiliki kontribusi cukup besar terhadap konsumsi protein penduduk di Indonesia. Dari tahun ke tahun tingkat konsumsi ikan terus meningkat; namun ironisnya, tingkat konsumsi ikan di Indonesia masih tergolong rendah. Selain itu, data menunjukkan bahwa persebaran konsumsi ikan nasional per pulau selama ini tidak merata. Tingginya disparitas tingkat konsumsi ikan di Jawa atau Kawasan Barat Indonesia dengan Kawasan Timur Indonesia menyebabkan tingkat konsumsi ikan nasional relatif rendah. Salah satu cara yang dapat digunakan untuk memantau tingkat kecukupan konsumsi ikan dengan mudah adalah dengan mengelompokkannya di seluruh Indonesia. Dengan adanya klasterisasi kemudian pemetaan, perencanaan, monitoring dan evaluasi, serta sistem peringatan dini masalah kelangkaan konsumsi dapat dilakukan dengan baik. Kajian ini dilakukan dengan tujuan untuk menilai tingkat konsumsi ikan di Indonesia dengan cara mengelompokkan dan memetakannya; sehingga dapat dirumuskan rekomendasi kebijakan peningkatan konsumsi ikan penduduk Indonesia secara akurat. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder SUSENAS 2019 yang diselenggarakan oleh Badan Pusat Statistik. Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah tingkat konsumsi ikan, tingkat partisipasi, dan tingkat pengeluaran untuk ikan. Pengelompokan dilakukan berdasarkan metode cluster K-means. Hasil analisis menunjukkan bahwa jumlah cluster yang optimal dengan rasio variance terkecil adalah 5 cluster. Klaster 1 dengan tingkat konsumsi, partisipasi dan pengeluaran ikan terendah adalah provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah. Klaster 2 terdiri dari 5 provinsi yaitu Lampung, Jawa Barat, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Timur. Klaster 3 terdiri dari 8 provinsi, yaitu Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Bengkulu, Banten, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Tengah, Gorontalo, dan Sulawesi Barat. Klaster 4 terdiri dari 11 provinsi yaitu Sumatera Utara, Jambi, DKI Jakarta, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Sulawesi Utara, Sulawesi Tenggara, Maluku, Maluku Utara dan Papua. Sedangkan cluster 5 dengan tingkat konsumsi, partisipasi, dan pengeluaran ikan tertinggi terdiri dari 8 provinsi, yaitu Aceh, Riau, Kepulauan Bangka Belitung, Kepulauan Riau, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, dan Papua Barat
INDEKS KERENTANAN PENGHIDUPAN PEMBUDIDAYA IKAN NILA KERAMBA JARING APUNG DI WADUK GAJAH MUNGKUR, KABUPATEN WONOGIRI Zulfa Nur Auliatun Nissa; Suadi Suadi
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 17, No 1 (2022): JUNI 2022
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jsekp.v17i1.10024

Abstract

Pengembangan budidaya ikan nila memberikan manfaat bagi masyarakat pedesaan berupa lapangan kerja, dan sumber pendapatan masyarakat. Namun variabilitas dan perubahan iklim ditengarai sebagai salah satu faktor penyebab kematian massal ikan yang menyebabkan kerugian ekonomi, sosial dan lingkungan. Cuaca ekstrem bisa lebih berbahaya bagi ikan nila keramba jaring apung di Waduk Gajah Mungkur. Studi ini bertujuan untuk mengungkapkan kerentanan penghidupan pembudidaya ikan nila keramba jaring apung di Waduk Gajah Mungkur. Pengumpulan data dilakukan dengan pendekatan metode campuran seperti survei, wawancara mendalam, diskusi kelompok terfokus dan observasi. Unit analisis data dilakukan di tingkat rumah tangga dengan melibatkan empat puluh pembudi daya skala kecil. Indeks Kerentanan Mata Pencaharian (LVI) berdasarkan Intergovernmental Panel Climate Change (IPCC) digunakan untuk analisis data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kerentanan penghidupan pembudidaya ikan nila sakal kecil pada keramba jaring apung berdasarkan LVI-IPCC dapat dikategorikan tidak rentan dengan nilai indeks 0,042. Oleh karena itu, penghidupan pembudi daya ikan nila keramba jaring apung di Waduk Gajah Mungkur ,Wonogiri ini dinilai cukup tangguh. Adaptasi yang dilakukan pembudidaya di antaranya adaptasi sosial melalui kuatnya hubungan sosial antar komunitas pembudidaya ikan dan tingginya partisipasi dalam keanggotaan kelompok sosial. Adaptasi teknologi dan ekologi melalui inovasi yang dikembangkan oleh setiap pembudidaya ikan seperti menggunakan mesin diesel untuk meningkatkan kadar oksigen, dan mengurangi jumlah plot saat perubahan musim serta mengontrol jumlah benih. Meskipun indeks tingkat kerentanan pembudi daya ikan nila keramba jaring apung di Waduk Gajah Mungkur Wonogiri dikatakan tidak rentan, masih diperlukan adanya program pemberdayaan SDM untuk meningkatkan sistem penghidupan yang berkelanjutan.Title: Livelihood Vulnerabiliy Index of Small Scale Tilapia Fish Farmer Floating Net Cages in the Gajah Mungkur Reservoir, Wonogiri RegencyThe development of tilapia aquaculture provides benefits for rural communities in the form of employment and source of income community. However, the variability and climate change are suspected as one of the factors causing mass fish mortality which causes economic, social and environmental losses. Extreme weather can be more dangerous for floating net cages in the Gajah Mungkur Reservoir. This study reveals the vulnerability of the livelihoods of floating net cages in the Gajah Mungkur Reservoir. Data Collected used method is a mixed methods approach such as surveys, in-depth interviews, focus group discussions and observations used to collect data. Unit analysis was carried out at the household level involving 40 small-scale farmers. The Livelihood Vulnerability Index (LVI) based on the Intergovernmental Panel Climate Change (IPCC) was used for data analysis. The results showed that the level of vulnerability of small-scale tilapia cultivators in floating net cages based on LVI-IPCC can be categorized as ‘not vulnerable’ with an index value of 0.042. Therefore, the livelihood of this floating net cage tilapia fish farmers in the Gajah Mungkur Wonogiri Reservoir is considered quite tough. Adaptations that are carried out by fish farmers include social adaptation through strong social relationships between fish farmer communities and high participation in social group membership. Technology and ecological adaptation through innovations developed by each fish farmer such as using a diesel engine to increase oxygen levels, and reduce the number of plots when the seasons change and control the number of seeds. Although the vulnerability index of floating net tilapia cultivators in the Gajah Mungkur Wonogiri Reservoir is said to be not vulnerable, it is still necessary to have a human resource empowerment program to improve a sustainable livelihood system.
TINGKAT PARTISIPASI MASYARAKAT TERHADAP PENGELOLAAN WISATA PANTAI MINANGA KABUPATEN GORONTALO UTARA Sri Nuryatin Hamzah; Sitti Nursinar; Nur Fadhilah Ahmad
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 17, No 1 (2022): JUNI 2022
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jsekp.v17i1.10333

Abstract

ABSTRAKIndonesia sebagai negara kepulauan dengan garis pantai terpanjang kedua di dunia, memiliki potensi yang cukup besar untuk pengembangan industri pariwisata khususnya wisata pantai. Wisata pantai merupakan salah satu solusi alternatif yang dapat ditawarkan pada masyarakat yang tinggal di kawasan pesisir dalam rangka meminimalisir kegiatan penangkapan yang merusak lingkungan sekaligus membuka lapangan kerja baru. Sebagai komponen utama dalam pembangunan pariwisata, masyarakat berperan penting dalam menunjang pembangunan pariwisata daerah, khususnya dalam mengembangkan potensi lokal berbasis sumber daya alam. Pantai Minanga merupakan salah satu destinasi wisata pantai yang baru dibuka di Kabupaten Gorontalo Utara, dimana keterlibatan aktif masyarakat sangat menentukan keberlanjutan wisata Pantai Minanga. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat partisipasi masyarakat dalam pengelolaan wisata Pantai Minanga. Metode pengumpulan data menggunakan observasi dan wawancara. Penentuan responden menggunakan formula Slovin. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat partisipasi masyarakat dalam pengelolaan wisata Pantai Minanga sebesar 65% dan berada pada kategori baik. Masih adanya masyarakat yang belum ikut berpartisipasi dalam pengelolaan wisata Pantai Minanga perlu menjadi perhatian pemerintah desa dan pemerintah daerah, sebagai upaya meminimalisir konflik kepentingan dan kesenjangan ekonomi di masa yang akan datang.  Tittle: Level of Community Participation in the Management of    Minanga Beach Tourism Gorontalo Utara RegencyABSTRACTAs an archipelagic country with the second-longest coastline globally, Indonesia has considerable potential for tourism development, especially coastal tourism. Coastal tourism is an alternative solution offered to coastal communities to minimize destructive fishing and create new jobs. As the main component in tourism, the community plays an important role in supporting regional tourism development, especially in developing local potential based on natural resources. Minanga beach is one of the newest beach tourism destinations in the Gorontalo Utara Regency, where the active involvement of the community will determine the sustainability of tourism. This study aims to determine the level of community participation in the management of Minanga beach tourism. The data collection using observation and interview methods. Determination of respondents using the Slovin formula and obtained as many as 100 respondents. The level of community participation was assess using a Likert scale, and the interpretation results were group into five classes. The results showed that the level of community participation in the management of Minanga beach tourism was 65% and was in a good category. The level of community participation is influenced by the economic impact of tourism activities and the communication pattern and openness of the Village Government in tourism management. The attention of the Village Government and Local Government is needed to intensify participation, as an effort to minimize conflicts of interest and economic disparities in the future to realize sustainable Minanga beach tourism.  
ANALISIS KOMPARATIF USAHA TAMBAK UDANG VANAME DENGAN TEKNIK TRADISIONAL, SEMIINTENSIF, DAN INTENSIF DI WILAYAH PESISIR Mira Mira; Permana Ari Sujarwo; Riesti Triyanti; Nensyiana Shafitri; Armen Zulham
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 17, No 1 (2022): JUNI 2022
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jsekp.v17i1.10228

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasikan karakteristik sosial ekonomi pembudi daya tambak udang dan melakukan analisis komparatif secara finansial terhadap usaha tambak udang vaname berdasarkan tipe teknologi. Penelitian ini dilakukan pada tahun 2020 dan berlokasi di pesisir Aceh Tamiang. Dalam penelitian ini digunakan metode deskriptif kuantitatif, yaitu jumlah responden sebesar 182 orang yang terdiri atas 137 petambak tradisional, 36 petambak semiintensif, dan 9 petambak intensif. Perbedaan biaya operasional usaha tambak tradisional, semiintensif, dan intensif yang paling besar adalah pada biaya pakan dan biaya listrik. Pada tambak tradisional, semiintensif, dan intensif, pakan yang dibutuhkan hanya 80 kg, 10 ton, dan 19,33 ton per hektare dan per tahun. Pada tambak tradisional, semiintensif, dan intensif kebutuhan listriknya masing-masing adalah Rp804 ribu, Rp14juta, dan Rp34,4 juta per tahun dan per hektare. Total biaya untuk tiap-tiap tambak, yaitu tradisional, semiintensif, dan intensif adalah Rp6,9 juta, Rp282 juta, dan Rp505 juta. Baik tambak tradisional, semiintensif, maupun intensif sangat menguntungkan secara ekonomis jika dilihat dari indikator kinerja usaha jangka pendek, seperti penerimaan, keuntungan, rasio penerimaan dan biaya, serta periode balik modal. Akan tetapi, dalam jangka panjang, nilai rasio keuntungan bersih dan biaya untuk tambak intensif dan semiintensif kurang dari 1. Hal itu menggambarkan usaha yang belum dilakukan secara efisien karena lahan yang diusahakan hanya 5 hektare dan masih dalam tahap coba-coba sehingga belum menutup semua investasi yang dikeluarkan. Pemilik tambak tradisional diharapkan meningkatkan produktivitasnya melalui peningkatan teknologi.Title: Comparative Analysis of Vannamei Shrimp Farming Business (Traditional, Semi-intensive and Intensive)This research identified the socio-economic characteristics of shrimp farmers and analyzed the financial comparison of vannamei shrimp farming based on the type of technology. This research was conducted in 2020 and is located in Aceh Tamiang. This research used descriptive quantitative method. The number of respondents was 182 people, consisting of 137 traditional farmers, 36 semi-intensive farmers, and 9 intensive farmers. The biggest difference between the operational costs of traditional, semi-intensive and intensive ponds were in the cost of feed and electricity. On traditional, semi-intensive and intensive ponds needed 80 kg, 10 tons, and 19,33 tons of feed per hectare/per year. On traditional, semi-intensive and intensive ponds, the electricity costs are IDR 804,000, IDR 14 million and IDR 34.4 million per year per hectare. The total cost for traditional, semi-intensive and intensive ponds were Rp6.9 million, Rp282 million and Rp505 million per year per hectare, respectively. From short-term business performance indicators, such as revenue, profit, revenue/cost ratio, pay back period, all of the traditional, semi-intensive and intensive ponds were very profitable economically. However, in the long term, the Net B/C value for intensive and semi-intensive ponds was less than 1. It indicated no technical efficiency, because the cultivated land was small (only 5 ha) and farmers were still in the trial stage, so that the investment issued by the farmers had not returned. Traditional pond owners were expected to increase their productivity through technological improvements.
STRATEGI PENGHIDUPAN BERKELANJUTAN PADA KOMUNITAS PENGOLAH IKAN DI MASA PANDEMI COVID 19 (Studi Kasus Di Kalurahan Poncosari, Kepanewon Srandakan, Bantul) Agustina Setyaningrum; Agung Satriyo Nugroho
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 17, No 1 (2022): JUNI 2022
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jsekp.v17i1.10737

Abstract

The fish processing community in Kuwaru Beach experienced some production problems during the  Covid 19 pandemic. This study aims to identify livelihoods and community livelihood strategies during the pandemic. This research is qualitative. The data collected are secondary data and primary data. Primary data were taken through observation, in-depth interviews, and documentation. Secondary data was taken through a literature review. The results showed that the community had good physical capital. Social capital, human capital, and natural capital are in the moderate. Meanwhile, financial capital is relatively low. They have difficulty accessing capital and do not have the requirements. No migration strategy was found in livelihoods. They carry out extensification and intensification strategies to maintain production activities