cover
Contact Name
Edwin Yulia Setyawan
Contact Email
edwin.yulia.setyawan@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalsosek.kp@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan
ISSN : 20888449     EISSN : 25274805     DOI : -
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan merupakan Jurnal Ilmiah yang diterbitkan oleh Balai Besar Riset Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan, dengan tujuan menyebarluaskan hasil karya tulis ilmiah di bidang Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan. Artikel-artikel yang dimuat diharapkan dapat memberikan masukan bagi para pelaku usaha dan pengambil kebijakan di sektor kelautan dan perikanan terutama dari sisi sosial ekonomi.
Arjuna Subject : -
Articles 349 Documents
KAJIAN KETAHANAN PANGAN RUMAH TANGGA NELAYAN BURUH DI DESA BAJO SANGKUANG KABUPATEN HALMAHERA SELATAN Fajria Dewi Salim; Darmawaty Darmawaty
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 11, No 1 (2016): Juni (2016)
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (285.638 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v11i1.3177

Abstract

Ketahanan pangan rumah tangga dipengaruhi oleh banyak faktor dan bervariasi antar individuataupun rumah tangga. Salah satu kelompok masyarakat di perkotaan yang masih tergolong rawanpangan adalah nelayan. Masyarakat Desa Bajo Sangkuang bermata pencahariaan utama sebagainelayan, dan mayoritas adalah menjadi buruh pada bagang perahu. Penelitian ini bertujuan untukmengetahui kondisi ketahanan pangan rumah tangga nelayan buruh di Desa Bajo Sangkuang.Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analitis dengan pendekatan survei. Pengumpulan datadilakukan melalui wawancara menggunakan kuesioner kepada 97 rumah tangga nelayan buruh yangdipilih secara acak dan wawancara mendalam kepada informan kunci yakni kepala desa, nelayan buruh,pemilik bagang. Kondisi ketahanan pangan dianalisis dengan menggunakan indeks ketahanan panganyang dikembangkan oleh FAO. Hasil kajian menunjukkan bahwa 92,78% rumah tangga nelayan buruhdalam kategori tidak tahan pangan, sebanyak 7,22% termasuk kurang tahan pangan dan tidak adarumah tangga nelayan buruh termasuk dalam kategori tahan pangan.Title: Analysis of Household Food Security of The Fishers Labors in The Village of Bajo Sangkuang South Halmahera RegencyHousehold food security is affected by many factors and varies among individuals or households. One of the groups of people in urban areas are classified as food insecurity is the fisher. Most of the people in the Village of Bajo Sangkuang is the fishers and most of them became laborers at bagang boats. The aim of this study was to determine the food security of households of fisher workers. This study used a descriptive-analytical method with survey approach. Data were collected through interviews using a questionnaire for 97 fisher labor households as randomly selected and in-depth interviews with four keys informant such as the head of village, fishing laborers, and owner of Bagang perahu. Food security condition is analyzed using food security index by FAO. Results show that 92,78% of fishing laborers household are insecure, 7,22% are middle-secure and there is no fisher labor households are categorized as highly food security. 
KETAHANAN PANGAN IKANI PADA RUMAH TANGGA PERIKANAN TANGKAP LAUT SKALA KECIL: Kasus Desa Gebang Mekar, Kabupaten Cirebon Risna Yusuf; Tajerin Tajerin
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 4, No 1 (2009): juni (2009)
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (622.472 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v4i1.5819

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan ketahanan pangan ikani rumah tangga perikanan tangkap laut skala kecil. Metode Survei digunakan dalam penelitian ini. Responden dipilih dengan menggunakan metoda proportional random sampling berdasarkan jenis alat tangkap. Data yang digunakan adalah data primer yang diperoleh dari hasil wawancara. Analisis data dilakukan dengan menggunakan pendekatan statistik non-parametrik Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peubah pendidikan, budaya makan ikan, nilai aset dan pendapatan berhubungan positif dan nyata dengan tingkat ketahanan pangan ikani rumah tangga perikanan. Pemerintah diharapkan terus mendorong upaya peningkatan ketahanan pangan terutama pangan ikani dengan lebih mengkaitkan arah kebijakan dan programnya dengan upaya peningkatan pendidikan dan pengetahuan akan pangan dan gizi pada rumah tangga perikanan tangkap laut skala kecil, peningkatan pendapatan dan peningkatan aset rumah tangga. Tittle: Fisheries Food Security on Household of the Small-scale Marine Fisher: Case Study in the Gebang Mekar Village, Cirebon District, West Java.The purpose of this research was to assess the factors that relate with fisheries food security at small - scale marine fisher. Research was conducted using survey method. Respondents were chosen using proportional random sampling method based on types of fishing gears. The research was using primary data based on interview and analysis used Chi-square approach. Results showed that education, habits in consumption, asset value and income of fisheries household significantly related with fisheries food security at small-scale of marine fisheries household. Therefore, the government has to push on fisheries food security improvement forward into policy and program education and knowledge of food and nutrient at small-scale marine fisher’s household, increase income and economic asset of the fisher.
BIAYA TRANSAKSI USAHA PERIKANAN SKALA KECIL DI KABUPATEN CILACAP Andreas D. Patria; Luky Adrianto; Tridoyo Kusumastanto; M. Mukhlis Kamal; Rokhmin Dahuri
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 9, No 2 (2014): Desember (2014)
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (446.059 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v9i2.1225

Abstract

Efisiensi ekonomi sering kali hanya diukur dari aspek produksi, dan kurang memperhatikan segi non-produksi seperti biaya transaksi. Dalam usaha penangkapan ikan skala kecil, banyak sekali pengeluaran di luar biaya produksi yang ditanggung oleh nelayan. Pengeluaran ini disadari atau tidak telah mengurangitingkat penerimaan dari usaha penangkapan ikan skala kecil. Penelitian ini dilakukan untuk mengidentifikasi dan menghitung komponen biaya transaksi pada usaha penangkapan ikan skala kecil di Kabupaten Cilacap, serta mengukur dan menganalisis pengaruh biaya transaksi terhadap efisiensi ekonomi usaha. Penelitian dilakukan dengan metode survai dan menggunakan analisis deskriptif. Hasil penelitian menunjukan bahwa komponen biaya transaksi terbesar adalah raman dari hasil tangkapan yang dilelang pada Tempat Pelelangan Ikan berkisar antara 45 % dari total biaya transaksi yang dikeluarkan. Rasio biaya transaksi terhadap penerimaan yang diperoleh nelayan skala kecil menunjukkan bahwa setiap penerimaan Rp 100 maka sebesar Rp 26 dinikmati oleh pihak lain walaupun sebagian dari biaya transaksi tersebut juga ada yang kembali kepada nelayan untuk mendukung kegiatan produksi.
STRATEGI PENGEMBANGAN USAHA BUDIDAYA RUMPUT LAUT DI KABUPATEN BUTON SELATAN Siti Hajar Suryawati; Mei Dwi Erlina
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 12, No 1 (2017): JUNI 2017
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (641.667 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v12i1.6286

Abstract

Kabupaten Buton Selatan merupakan kabupaten pemekaran dari Kabupaten Buton bagianselatan. Salah satu potensi perikanan yang berkembang di Kabupaten Buton Selatan adalah rumputlaut. Rumput laut merupakan salah satu jenis komoditas unggulan budi daya perairan dengan nilaiekonomi pasar yang kompetitif baik di pasaran dalam negeri maupun ekspor. Penelitian ini bertujuanuntuk merumuskan strategi pengembangan usaha budidaya rumput laut yang belum berkembangsecara optimal. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara terhadap pelaku usaha yang terlibatserta Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Buton Selatan. Data hasil wawancara dilengkapi hasilobservasi dan dokumentasi, selanjutnya diolah dan disajikan secara deskriptif. Selanjutnya faktorfaktorutama lingkungan internal dan eksternal diidentifikasi dengan menggunakan matriks IFE danEFE. Matriks IFE dan EFE menghasilkan 3 alternatif strategi yang dapat direkomendasikan kepadapemerintah daerah Kabupaten Buton Selatan. Tahapan terakhir adalah penentuan prioritas strategidengan menggunakan alat analisis QSPM. Prioritas strategi yang direkomendasikan untuk diterapkanpada budidaya rumput laut di Kabupaten Buton Selatan adalah memanfaatkan kualitas sumberdaya airdengan memanfaatkan peluang pasar.Title: Business Development Strategy of Seaweed in South Buton RegencyRegency of South Buton is a new regency located in south part of Buton Regency. One of thepotential developing fisheries in South Buton Regency is seaweed. Seaweed is well known as one of theleading aquaculture commodity which have a competitive markets value both in domestic and export.This study aims to formulate the business development strategy of seaweed cultivation that has not beenoptimally developed. Data were collected by interviewing involved business actors and officer of SouthButon Marine and Fisheries Agency. Observation and documentation are used as complements for theanalysis. In general data were analysed descriptively. The major factors of the internal and externalenvironment to develop the strategy are identified by the IFE and EFE matrices. Furthermore thosematrices are used to produces 3 alternatives strategy as recommendation for local government. In orderto prioritizing the strategy, QSPM analysis tool was used. Priority strategy recommended in South ButonRegency is to utilize the quality of water resources by exploiting market opportunities.
ANALISIS EX-ANTE KEBERLANJUTAN PROGRAM MINAPOLITAN Siti Hajar Suryawati; Agus Heri Purnomo
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 6, No 1 (2011): Juni (2011)
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2791.018 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v6i1.5756

Abstract

Penelitian ini dilakukan pada bulan Agustus – Desember 2010, bertujuan untuk: (i) menentukan indeks keberlanjutan program minapolitan di lokasi sebagaimana tertuang dalam Keputusan Menteri No. KEP 32/MEN/2010, (ii) mengidentifikasi atribut pengungkit, dan (iii) menyusun arahan kebijakan. Indeks keberlanjutan diukur untuk enam (6) dimensi keberlanjutan minapolitan, yang jenisnya ditetapkan berdasarkan pendalaman literatur: ekologi, ekonomi, politik, sosial-budaya, hukumkelembagaan, dan teknologi-infrastruktur. Data primer dari hasil mail survey ke 197 kabupaten/ kota dianalisis dengan teknik ordinasi Multidimensional Scalling (MDS) menggunakan perangkat RAP-Minapolitan, yang dimodifikasi dari perangkat RAPFISH (Rapid Appraisal for Fisheries). Analisis ini digunakan untuk menduga prospek keberlanjutan berdasarkan pengukuran variabel-variabel kini. Hasil analisis menunjukkan bahwa indeks keberlanjutan program minapolitan untuk keenam dimensi adalah sebagai berikut : ekologi kurang berkelanjutan; ekonomi kurang berkelanjutan; politik sangat berkelanjutan; sosial-budaya cukup berkelanjutan; hukum-kelembagaan sangat berkelanjutan; teknologi-infrastruktur kurang berkelanjutan. Hasil kajian menunjukkan bahwa atribut pengungkit untuk masing-masing dimensi memerlukan prioritas kebijakan untuk meningkatkan peluang keberlanjutan program minapolitan. Atribut-atribut tersebut adalah: Jarak lokasi usaha perikanan dengan pemukiman, kejadian kekeringan, produktivitas usaha (dimensi ekologi); Ketersediaan SDM perikanan (dimensi ekonomi); Sinkronisasi kebijakan pusat – daerah, trend politik lokal dan dominasi kelompok politik tertentu (dimensi politik); Akses masyarakat terhadap perikanan dan peran masyarakat adat (dimensi sosial-budaya); Ketersediaan industri pengolahan limbah (dimensi teknologi-infrastruktur). Tittle: Ex-ante Analysis of the Minapolitan Program SustainabilityThis research was conducted in August – December 2010, and aimed to (i) determine the sustainability index of minapolitan programs in locations referred to in the Ministerial Decree No. KEP 32/MEN/2010, (ii) identifying leverage factors (attributes), and (iii) formulate the relevant policy direction. The sustainability indexes were measured for six (6) minapolitan sustainability dimensions, based on literature reviews of ecology, economy, politics, social and culture, legal and institution, and technology and infrastructure dimensions. Primary data collected from the mail survey to 197 districts/municipalities listed in the decree were analysed following the multidimensional scalling (MDS) approach using the RAP-Minapolitan software, which was a modification of the RAPFISH (Rapid Appraisal for Fisheries) software. This analysis method can be used to assess sustainability prospects based on the measurement of current conditions of relevant variables. Results of this research show that the sustainability indice of the minapolitan program for the six dimension are: ecology less sustainable; economy less sustainable; politics very sustainable; social and culture fairly sustainable; legal and institution very sustainable; and technology and infrastructure (less sustainable). Results of this research show that leverage factors (attributes) of each dimension need prioritized policy to impove sustainability prospect of the minapolitan program. These are: distance between fisheries business center and residence complexes, business productivity (ecologic dimension); fishery human resources (economy dimension); state – region policy synchronization, trend of local politics and domination of particular political groups (political dimension); people access to fishery and customary community role (social-culture imension); availability of waste treatment facility (technology and infrastructure dimension).
PENDUGAAN FUNGSI PENAWARAN EKSPOR RUMPUT LAUT INDONESIA DI PASAR INTERNASIONAL Analisis Pendekatan Error Correction Model (ECM) Risna Yusuf; Tajerin Tajerin
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 3, No 1 (2008): JUNI (2008)
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (306.277 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v3i1.5841

Abstract

Kajian ini bertujuan untuk menduga faktor-faktor yang mempengaruhi penawaran ekspor rumput laut Indonesia di pasar Internasional dengan menggunakan data runut waktu (time series data) tahun 1975 hingga 2005. Pendugaan persamaan penawaran ekspor rumput laut tersebut dilakukan dengan pendekatan metoda koreksi kesalahan (Error Corection Model – ECM). Hasil analisis menunjukkan bahwa penawaran ekspor rumput laut Indonesia ke pasar internasional dipengaruhi oleh produksi, harga ekspor, pendapatan nasional bruto negara mitra dagang, nilai tukar rupiah dan ekspor rumput laut Indenesia tahun lalu dengan arah perubahan yang sama (positif), dan harga domestik dan tingkat suku bunga dengan arah perubahan yang berlawanan (negatif). Oleh karena itu, perlu kesungguhan pemerintah bersama nelayan/pembudidaya & eksportir rumput laut untuk menjaga mutu; dan lebih meningkatkan kerjasama perdagangan dengan negara mitra dagang Indonesia (Importir), demikian juga dengan negara produsen lainnya. Tittle: The Estimation of Indonesian Seaweed Export Supply Function in the International Market : Analysis of Error Correction Model (ECM)The aim of the research was to estimate the factors affecting Indonesian seaweed export supply in international market using secondary time series data from 1975 until 2005. The estimation of supply was done using error correction model (ECM). The results show that export supply of Indonesian seaweed in international markets is affected by production, export price, gross national product, exchange rate, and lagged export of Indonesian seaweed which all have positive signs. On the other hand domestic price and interest rate have negative signs. Therefore, the government, fishers/seaweed farmers and seaweed exporter must pay more attention on seaweed quality and trade cooperation with importer and other producers.
TINJAUAN DIMENSI EKONOMI KEBERLANJUTAN PENGELOLAAN BUDIDAYA LAUT DI TELUK SALEH KABUPATEN SUMBAWA Muhammad Marzuki; I Wayan Nurjaya; Ari Purbayanto; Sugeng Budiharso; Eddi Supriyono
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 8, No 2 (2013): DESEMBER (2013)
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2098.568 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v8i2.5670

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menentukan status keberlanjutan pada dimensi ekonomi dan memberikan rekomendasi kebijakan pengelolaan budidaya di Teluk Saleh Kabupaten Sumbawa. Analisis keberlanjutan budidaya laut untuk komoditi rumput laut dan ikan kerapu sistem KJA dilakukan dengan metode Rap-Insus-Seaweed (Rapid Appraisal –Indeks Sustainability of Seaweed) dan Rap-Insus-Grouper (Rapid Appraisal –Indeks Sustainability of Grouper) telah dimodifikasi dari program RAPFISH. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai indeks tingkat keberlanjutan pada dimensi ekonomi budidaya rumput laut sebesar “39,74” dan untuk budidaya ikan kerapu sistem KJA sebesar “31,23”. Nilai tersebut terletak antara 25,00 - 49,9 berarti “Kurang Berkelanjutan”. Nilai indeks dan status keberlanjutan saat ini menunjukkan kondisi ekonomi wilayah perairan tersebut kurang mendukung pengelolaan budidaya laut, sehingga diperlukan intervensi kebijakan melalui pemberian bantuan mudal usaha, pelatihan teknis budidaya dan pengolahan, dan peningkatan kapasitas kelembagaan pemasaran untuk meningkatkan status keberlanjutan pengelolaan dimensi ekonomi.Title: Sustainability Analysis of Mariculture Management in Saleh Bay of Sumbawa DistrictThis study aimed at determiny value of the index and the sustainability status in terms of economic dimension and provide recommendations for policies on marine aquaculture management in the Saleh Bay. Rap-Insus-Seaweed (Rapid Appraisal of Sustainability-Index Seaweed) and Rap-Insus-Grouper (Rapid Appraisal of Sustainability-Index Grouper) modified from Rapfish program were use in this study. Results showed that the index level of sustainability in terms of economic dimension were “39.74” and “31.23” for seaweed grouper  espectively. This value laid between 25.00 and 49.9 indicating that both management status were “Less Sustainable”. These values indicate that the economic conditions of that particular site was not support sustainable management of the marine aquaculture. Hence, government policing intervention through increased capital, technical training in aquaculture and processing as well as improvement in market institution are required.
PEMODELAN INTERPRETASI STRUKTURAL PENGEMBANGAN KAWASAN PESISIR DAN PULAU-PULAU KECIL DI TELUK WEDA Martini Djamhur; Mennofatria Boer; Dietriech G. Bengen; Achmad Fahrudin
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 9, No 2 (2014): Desember (2014)
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (821.118 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v9i2.1216

Abstract

Pemodelan dalam pengembangan kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil di Teluk Weda bertujuan untuk mengkaji bentuk kelembagaan bagi pengelolaan kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil dengan menggunakan metode Interpretative Structural Modeling (ISM) telah dilakukan pada daerah Teluk Weda, Kabupaten Halmahera Tengah. Hasil analisis Interpretative Structural Modeling (ISM) menyimpulkan bahwa kelembagaan pengelolaan yang perlu dipertimbangkan untuk mewujudkan pembangunan kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil di Teluk Weda yang berkelanjutan adalah pemerintah, wisatawan, dan perguruan tinggi lewat pengembangan wisata. Upaya yang harus dilakukan adalah meningkatkan produktifitas pemanfaatan sumberdaya alam, mutu produk perikanan dan jumlah permodalan kegiatan perikanan tangkap dengan membantu nelayan dalam menentukan harga perikanan, mengelola sumberdaya alam, peraturan investasi daerah dan membuat kebijakan yang konsisten memegang peranan penting pada pengembangan kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil di Teluk Weda. Implikasi kebijakan yang perlu dilakukan yaitu: membuat peraturan daerah yang dapat menunjang kegiatan; mensosialisasikan undang-undang yang telah ditetapkan pemerintah; melakukan pelatihan yang menyangkut undang-undang yang telah ditetapkan pemerintah; mempertahankan peraturan dan adat istiadat yang masih ada sesuai dengan pengelolaan kawasan dan membentuk kelompok swadaya masyarakat yang berkaitan dengan penetapan kawasan. 
ANALISIS PEMASARAN RUMPUT LAUT DI WILAYAH POTENSIAL DI INDONESIA Yayan Hikmayani; Tenny Aprilliani; Achmad Zamroni
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 2, No 2 (2007): DESEMBER (2007)
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (578.338 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v2i2.5869

Abstract

Riset tentang pemasaran rumput laut telah dilakukan pada tahun 2005. Tujuannya adalah mengetahui struktur pasar dan efisiensi pemasaran rumput laut di beberapa wilayah potensial di Indonesia. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei. Data yang digunakan adalah data primer dan data sekunder. Data primer yang terdiri dari data harga jual dan beli rumput laut, lembaga pemasaran, biaya pemasaran, biaya produksi, lokasi pasar yang diperoleh dari hasil wawancara dengan responden. Data sekunder diperoleh dari data statistik perikanan, laporan tahunan Dinas Perikanan, data ekspor impor yang diperoleh dari instansi-instansi terkait. Pemilihan responden dilakukan secara purposive sampling, sehingga diperoleh dari tingkat pembudidaya, pedagang pengumpul, pedagang besar dan eksportir atau pabrik pengolahan rumput laut. Analisis data yang dilakukan adalah analisis saluran pemasaran, marjin pemasaran, struktur pasar serta efisiensi pemasaran rumput laut. Hasil analisis menunjukkan bahwa lembaga pemasaran yang terlibat dalam pemasaran rumput laut terdiri dari pedagang pengumpul baik di tingkat desa maupun kecamatan, pedagang besar yang berlokasi di kota kabupaten serta eksportir atau pabrik pengolahan yang berada di ibukota propinsi. Hasil analisis marjin pemasaran diketahui bahwa marjin terbesar pemasaran rumput laut di tingkat pedagang pengumpul yang terdapat di Kabupaten Sumenep yaitu mencapai Rp. 880/kg, selanjutnya Sumbawa dan Jeneponto. Marjin pemasaran di tingkat pedagang besar terdapat di Bima dan Sumenep. Hasil analisis struktur pasar menunjukkan bahwa struktur pasar rumput laut yang terbentuk adalah oligopoli baik yang terjadi di tingkat pedagang pengumpul, pedagang besar maupun eksportir. Hasil analisis efisiensi pasar rumput laut menunjukkan bahwa pasar rumput laut yang paling efisien terdapat di Karimun Jawa, kemudian diikuti oleh wilayah lain seperti Sumbawa, Badung, Jeneponto, Bima dan Sumenep. Tittle:Seaweed Marketing Analysis in Potential Regencies of in Indonesia. Research on seaweeds marketing has been done in 2005. The aim of the research was to study the market structure and seaweeds marketing efficiency at some potential regions in Indonesia. Method used in this research was a survey method. Respondents were fish farmers, traders, wholesalers, middlemen, and processing industries or exporters. Respondent was taken purposived. Analysis were done by using marketchain analysis, marketing margin, market structure and seaweeds marketing efficiency. Results showed that marketing institutions consist of middleman at village and sub district level, wholesaler at district andexporter or processing industry at province level. Based on marketing margin analysis showed that the middleman at Sumenep province has the maximum margin of seaweed marketing which is Rp 880 per kg,followed by Sumbawa and Jeneponto District. The highest marketing margin at the wholesaler level detected in Bima and Sumenep. The result of marketing structure analysis showed that seaweed marketing structure was oligopoly at the middleman level, wholesaler, and exporter/ processing industry. The result from marketing efficiency analysis of seaweed shows that tho most efficient seaweed market was Karimun Jawa, followed by Sumbawa, Badung, Jeneponto, Bima and Sumenep. 
PENGARUH EFEKTIVITAS PENYULUHAN TERHADAP KOMPETENSI PEMBUDIDAYA RUMPUT LAUT POLIKULTUR DI PERAIRAN PANTAI UTARA PULAU JAWA Tanti Kustiari; Sumardjo Sumardjo; Margono Slamet; Prabowo Tjitropranoto
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 7, No 1 (2012): Juni (2012)
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3598.534 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v7i1.5738

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor efektivitas penyuluhan terhadap kompetensi pembudidaya dalam meningkatkan produktivitas dan pendapatan, menganalisis pengaruh efektivitas penyuluhan terhadap kompetensi pembudidaya dalam meningkatkan produktivitas dan pendapatan dan merumuskan strategi pengembangan kompetensi pembudidaya dalam meningkatkan produktivitas dan pendapatan telah dilakukan pada tahun 2011. Jumlah responden adalah 200 orang pembudidaya rumput laut Gracillaria sp di Kabupaten Bekasi dan Brebes yang dipilih dengan cara unproporsional acak sederhana (simple random sampling). Analisis data dilakukan dengan descriptive statistic. Hubungan antara peubah penelitian dan model empiris digunakan analisis SEM (Structural Equation Model) dengan program LISREL. Hasil penelitian menunjukkan efektivitas penyuluhan berada pada kategori rendah, efektivitas penyuluhan berpengaruh nyata pada kompetensi pembudidaya dengan koefisien pengaruh sebesar 0,54 pada α = 0,05 dan efektivitas penyuluhan ditentukan oleh peran penyuluh, model komunikasi, keberfungsian penyuluhan. Strategi meningkatkan kompetensi pembudidaya dilakukan dengan cara mengefektifkan penyuluhan secara partisipatif, memperbesar intensitas penyuluhan dengan pendekatan kelompok, pendekatan pluralistik (keterpaduan) penyuluh PNS/petugas, penyuluh swadaya dan penyuluh swasta), berorientasi pada masa depan dan berkelanjutan.Tittle: The Effectiveness of Extention Influenced to The Competence of Farmers to Manage the Seaweed of Cultivated in Polyculture at The North Coastal of Java Island AreaThis study aims to identify the effectiveness of counseling on the competence of farmers in increasing productivity and revenue, analyze the effectiveness of the counseling competencies of farmers to enhance productivity and income, and formulate strategies for developing competence of farmers in increasing productivity and revenue was conducted in 2011. Two hundreds respondents from Gracillaria sp seaweed farmers in Bekasi and Brebes were selected by simple random Unproporsional (simple random sampling). Data analysis was done by descriptive statistics. The relationship between the study variables and the empirical model used analytical SEM (Structural Equation Model) with the LISREL program. The results show the effectiveness of counseling are in the low category, significant effect on the effectiveness of counseling competencies influence farmers with a coefficient of 0.54 at α = 0.05 and the effectiveness is determined by the role of counselor education, communication models, functioning extension. Strategies to increase the competence of farmers conducted by effecting participatory extension, increase the intensity of counseling with a team approach, pluralistic approaches (alignment) extension of civil servants/officers, extension organizations and private extension), future-oriented and sustainable.

Page 7 of 35 | Total Record : 349