cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Zuriat
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 13 Documents
Search results for , issue "Vol 16, No 2 (2005)" : 13 Documents clear
PEWARISAN KARAKTER JUMLAH BUNGA TIAP NODUS HASIL PERSILANGAN Capsicum annuum L. DENGAN Capsicum chinense Rinda Kirana; Ridwan Setiamihardja; Nani Hermiati; A. H. Permadi
Zuriat Vol 16, No 2 (2005)
Publisher : Breeding Science Society of Indonesia (BSSI) / PERIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/zuriat.v16i2.6768

Abstract

Persilangan antar spesies antara Capsicum annuum L. genotip LV-2323 dan RS-07 yang memiliki satu bunga tiap nodus dan Capsicum chinense yang memiliki beberapa bunga tiap nodus bertujuan untuk mempelajari pewarisan karakter jumlah bunga tiap nodus telah dilakukan di Balai Penelitian Tanaman Sayuran, Lembang dari Oktober 2001 sampai Juni 2003. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa karakter jumlah bunga tiap nodus diwariskan secara kualitatif, dikendalikan sedikitnya oleh dua gen yang bekerja secara epistasis dan resesif mengikuti pola 13 : 3 dengan terdapat pengaruh interaksi aditif × dominan dan dominan × dominan. Karakter ini juga dipengaruhi oleh aksi gen dominan tidak sempurna ke arah jumlah bunga tiap nodus yang lebih sedikit (Capsicum annuum). Nilai duga heritabilitas karakter jumlah bunga tiap nodus tergolong tinggi dan kemajuan genetik harapannya tergolong rendah.
COLOR POLYMORPHISMS ON COMMON CARP CULTURED IN INDONESIA Rudhy Gustiano
Zuriat Vol 16, No 2 (2005)
Publisher : Breeding Science Society of Indonesia (BSSI) / PERIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/zuriat.v16i2.6759

Abstract

In most cases, phenotypic variation is partly a result of genetic differences and partly environmental in origin. It appears that polymorphism is caused by some gene frequency changes which are due to natural selection. Morphological markers (body color and scale pattern) are the easiest indicators to identify and important when large sample are involved. In addition, the coloration in food fishes is often important in determining market price. Moreover, the production of fish depends not only on their genes and environment but also on the interaction of these two factors. Several investigations reported that some color genes have pleiotropic effect on growth rate and viability of fish. Hence, it is important to understand the basis of color polymorphisms in order toenhance genetic improvement and brood stock management plans for common carp in Indonesia. The occurrence color polymorphism showed that the proportion (%) of  each color morphs in each farm showed a high proportion of green color morph in common carp stocks. Dark colored carps are preferred over brightly pigmented ones. Bright colored morphs are preferred to the colorless (white). Comparison among the red, yellow, white, green and blue color morphs of common carp showed that each morph has its own specific chromatophore type densities, pigment distribution pattern. The study also showed that color variation is governed by the types of pigment cells present. The genetic color polymorphisms study showed that various color phenotypes were mainly controlled by simple Mendelian inheritance. Symbols for gene loci proposed as follow: B1 and B2 for common green body background (wild type allele), R1 and R2 for red and yellow. T is for wild nontransparent scale type and P for uniform body color background. B1 and B2 are epistatic to R1 and R2 genes. On the basis of the growth rate comparison results obtained on common carp in Indonesia, there was evidence that dark color (green and blue) common carp gained weight faster than the light color one (red). Green and blue colored showed similarity in growth performance.
KARAKTERISASI GEN -LAKTOGLOBULIN DAN HUBUNGANNYA DENGAN SIFAT PRODUKSI SUSU PADA SAPI HISSAR , Maskur; Cece Sumantri; , Muladno
Zuriat Vol 16, No 2 (2005)
Publisher : Breeding Science Society of Indonesia (BSSI) / PERIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/zuriat.v16i2.6773

Abstract

Karakteristik gen-laktoglobulin dan hubungannya dengan sifat produksi susu pada 42 sapi Hissar dianalisis menggunakan teknik PCR-RFLP. Fragmen DNA-produk CPR dan hasil pemotongan menggunakan enzim restriksi Hae III dipisahkan menggunakan elektroforesis gel poliarkrilamid (PAGE) kemudian dideteksi dengan pewarnaan perak. Jumlah allel gen-laktoglobulin yang terdeteksi ada dua macam yaitu alel-A dan B dengan frekuensi masing-masing 0.19 dan 0.81. Uji signifikansi Chi-Square menunjukkan bahwa distribusi genotip gen-laktoglobulin dalam populasi sapi Hissar di Moyo Hilir Sumbawa-NTB berada dalam ketidakseimbangan dimana frekuensi genotip BB 69.05%; AB 23.81% dan AA 7.14%. Tingkat produksi susu memiliki korelasi yang kuat dengan genotip gen -laktoglobulin. Rata-rata produksi susu sapi Hissar dengan genotip AA, AB dan BB berturut-turut: 4.30 lt/hr; 3.11 lt/hr, dan 2.17 lt/hr.
PENDUGAAN MODEL GENETIK DAN HERITABILITAS KARAKTER KETAHANAN TERHADAP PENYAKIT BULAI PADA JAGUNG Muhammad Azrai; Hajrial Aswidinnoor; Jajah Koswara; Memen Surahman
Zuriat Vol 16, No 2 (2005)
Publisher : Breeding Science Society of Indonesia (BSSI) / PERIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/zuriat.v16i2.6764

Abstract

Model genetik ketahanan terhadap penyakit bulai pada jagung yang disebabkan oleh Peronosclerospora maydis telah diestimasi pada progeni yang berasal dari persilangan antara galur resisten Mr10 dan Nei9008, serta galur rentan CML161. Tujuh generasi dari tiap-tiap persilangan (tetua P1 dan P2, F1, F2, F3, BC1P1, dan BC1P2) telah ditanam di Kebun Percobaan Cikeumeuh-Bogor. Percobaan ditata mengikuti rancangan petak terbagi dengan dua ulangan. Materi genetik dievaluasi ketahanannya terhadap penyakit bulai dengan menggunakan teknik tanaman baris penyebar. Uji skala gabungan digunakan untuk menentukan model genetik yang sesuai. Uji-t pada level 5% dan 1% mengindikasikan bahwa komponen genetik aditif [d], dominan [h] dan interaksi aditif × aditif [i] berperan penting untuk karakter ketahanan terhadap penyakit bulai pada jagung. Nilai komponen genetik aditif dan dominan yang bertanda sama dengan interaksinya pada pasangan persilangan Mr10 × CML161 menunjukkan adanya interaksi gen yang bersifat komplementer epistasis, sedangkan pada pasangan persilangan Nei9008 × CML161, komponen genetik aditif dan dominan berlawanan tanda dengan interaksinya menunjukkan adanya interaksi gen yang bersifat duplikat epistasis. Nilai heritabilitas dalam arti luas tergolong tinggi, sedangkan heritabilitas dalam arti sempit tergolong sedang.
HUBUNGAN DELAPAN KARAKTER VEGETATIF DAN KOMPONEN HASIL PINANG (Areca catechu L.) SUMBAR-2 TERHADAP HASIL BUAH , Miftahorrachman
Zuriat Vol 16, No 2 (2005)
Publisher : Breeding Science Society of Indonesia (BSSI) / PERIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/zuriat.v16i2.6769

Abstract

Pengamatan dilakukan selang waktu satu tahun mulai bulan Februari 2003 sampai dengan Februari 2004. di Kebun Percobaan Kayuwatu, Balai Penelitian Tanaman Kelapa dan Palma Lain, Sulawesi Utara. Pengamatan dilakukan terhadap aksesi plasma nutfah pinang Sumbar-2 yang berumur 7 tahun (tanam bulan Maret 1995). Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh langsung dan tidak langsung karakterkarakter vegetatif terhadap hasil buah. Perhitungan sidik lintas menggunakan metode matriks. Hasil perhitungan menunjukkan bahwa terdapat tiga hubungan langsung karakter vegetatif yang signifikan terhadap hasil buah, yaitu lingkar batang, panjang daun, dan panjang pinak daun. Sementara karakter-karakter yang pengaruh langsungnya kecil adalah tinggi batang, jumlah bekas daun, jumlah daun, panjang petiole, dan jumlah pinak daun.
DAYA GABUNG KARAKTER PENGISIAN GABAH VARIETAS PADI YANG MEMBAWA ALEL NETRAL PADA LOKUS S-5 Aris Hairmansis; H. Aswidinnoor
Zuriat Vol 16, No 2 (2005)
Publisher : Breeding Science Society of Indonesia (BSSI) / PERIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/zuriat.v16i2.6774

Abstract

Analisis daya gabung dengan menggunakan metode lini x tester dilakukan untuk mengetahui daya gabung karakter pengisian gabah lima varietas padi yang memiliki alel netral pada lokus S-5 atau wide compatibility varieties (WCV). Varietas varietas tersebut diuji daya gabungnya menggunakan delapan tester dari beragam varietas yang mewakili berbagai ekotipe dan agroekosistem. Hasil penelitian menunjukkan dua WCV yaitu Ketombol dan Moroberekan menjadi penggabung yang baik untuk karakter jumlah gabah total dan persentase gabah isi per malai. Dengan demikian varietas-varietas tersebut dapat dimanfaatkan dalam program pemuliaan padi hibrida untuk mengatasi masalah kehampaan pada F1 hasil persilangan antar subspesies.
PERTUMBUHAN DAN VARIABILITAS FENOTIPIK MANGGIS HASIL IRADIASI SINAR GAMMA Hamda Fauza; Murdaningsih H. Karmana; Neni Rostini; Ika Mariska
Zuriat Vol 16, No 2 (2005)
Publisher : Breeding Science Society of Indonesia (BSSI) / PERIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/zuriat.v16i2.6770

Abstract

Manggis (Garcinia mangostana L.) merupakan salah satu komoditas hortikultura buah-buahan tropik Indonesia, yang bernilai ekonomi tinggi. Manggis termasuk tanaman yang mengalami reproduksi secara apomiksis, sehingga variabilitasnya sempit. Mendapatkan jenis baru menggunakan metode pemuliaan tanaman konvensional dibatasi oleh sempitnya variabilitas genetik yang ada. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan variabilitas genetik adalah melalui mutasi. Mutasi dapat dilakukan melalui induksi mutagen fisik, salah satunya dengan iradiasi sinar gamma. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pertumbuhan dan variabilitas fenotipik tanaman manggis generasi M1 sebagai respon terhadap beberapa dosis  iradiasi sinar gamma. Dosis iradiasi sinar gamma yang digunakan adalah 0 krad (A), 1 krad (B), 2 krad (C), dan 3 krad (D). Percobaan di lapangan ditata dalam rancangan acak kelompok (RAK). Sumber bahan tanaman yang akan diiradiasi berasal dari biji buah manggis yang berasal dari satu tanaman. Hasil penelitian menunjukkan terdapat perbedaan variabilitas fenotipik di antara individu tanaman, baik antar perlakuan maupun di dalam perlakuan. Iradiasi sinar gamma dengan dosis 1 krad memperlihatkan pengaruh yang paling baik pada pertumbuhan tanaman di lapangan. Disarankan untuk melanjutkan penelitian ini ke tahap selanjutnya dalam melihat variabilitas genetik tanaman manggis dengan menggunakan marka DNA.
PRELIMINARY STUDY ON THE HETEROTIC PATTERN OF TROPICAL QUALITY PROTEIN MAIZE (QPM) AND DOWNY MILDEW RESISTANCE (DMR) MAIZE INBREDS D. Ruswandi
Zuriat Vol 16, No 2 (2005)
Publisher : Breeding Science Society of Indonesia (BSSI) / PERIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/zuriat.v16i2.6761

Abstract

Exploration of heterotic patterns among maize inbreds has become important since it could provide information on which new germplasm could be used to improve base population in breeding program. This experiment was a preliminary study on the heterotic relationships between tropical quality protein maize (QPM) and downy mildew resistance (DMR) maize inbreds based on analysis on combining ability. Seven tropical maize inbreds were crossed in a line × tester. One commercial hybrid from Bisi Company, Bisi 2, was included for the evaluation of hybrids as check cultivar. The result revealed that two heterotic groups has been recognized, i.e., major group consisted of CML 161, CML 163, CML 172, Nei 9008, and P345. Whereas the small group contains MR 10 and Ki 3. The hybrids and their parental inbreds were evaluated in Jatinangor, Indonesia (753 m above sea level) in 2003 to 2004. The location of yield test has a humid climate with an annual rainfall of about 1925 mm. The field experiment was arranged in a randomize block design with two replications. The present study revealed two heterotic groups: major group involving CML 161, CML 163, CML 172, Nei 9008, and Ki 3; and small group containing MR 10 and P 345. Moreover, the major group can be divided into two subgroups involving all CML lines for the first subgroup and Nei 9008 and Ki 3 for the second subgroup.
PENAMPILAN KETAHANAN PENYAKIT LAYU BAKTERI PADA HIBRIDA SEKSUAL DAN SOMATIK Solanum khasianum CLARKE DAN Solanum capsicoides ALL. Titin Handayani
Zuriat Vol 16, No 2 (2005)
Publisher : Breeding Science Society of Indonesia (BSSI) / PERIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/zuriat.v16i2.6775

Abstract

Hibrida antara Solanum khasianum CLARKE dan S. capsicoides ALL. berhasil diperoleh dengan persilangan dan fusi protoplas. Tujuan penggabungan kedua jenis tersebut adalah untuk memperoleh hibrid fertil dan  tahan terhadap penyakit layu bakteri yang disebabkan oleh Pseudomonas solanacearum. Karakter ketahanan ini diperoleh dari S. capsicoides. Hibrida seksual diperoleh melalui penyelamatan embrio, tetapi hibridnya steril, sehingga dilakukan penggandaan kromosom, sedangkan hasil fusi protoplas adalah fertil. Pengujian lapang terhadap ketahanan penyakit layu bakteri dilakukan di daerah Bogor dan Tangerang dan hasil analisis data menunjukkan bahwa karakter ketahanan diturunkan secara kuantitatif. Faktor lingkungan berpengaruh sangat besar, sehingga heritabilitas sangat rendah.
PEMBENTUKAN PLANLET MANGGIS DARI KALUS NODULAR IN VITRO Warid Ali Qosim; R. Poerwanto; G. A. Wattimena; , Witjaksono
Zuriat Vol 16, No 2 (2005)
Publisher : Breeding Science Society of Indonesia (BSSI) / PERIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/zuriat.v16i2.6771

Abstract

Pembentukan planlet manggis in vitro dapat dilakukan melalui kalus nodular yang berasal dari eksplan daun. Tujuan penelitian untuk mengembangkan protokol pembentukan planlet dari kalus nodular yang akan digunakan dalam menunjang pemuliaan mutasi in vitro manggis. Induksi kalus nodular dilakukan pada medium MS (Murashige & Skoog, 1962) yang diberi suplemen kombinasi 2.22 μM BAP (benzilaminopurin) dan 2.27 μM TDZ (thidiazuron), 1.39 μM polyvinylpyrolidon (PVP) 30 g.L–1 gula pasir, dan 8 g.L–1 agar, dengan perlakuan konsentrasi BAP (0.0; 1.1; 2.2; 3.3; 4.4) μM. Hasil penelitian menunjukkan medium WPM dengan perlakuan BAP konsentrasi 2.2 μM memperlihatkan persentase modul kalus membentuk tunas paling tinggi (34.7%), dengan rata-rata 7.8 tunas per kalus nodular, rata-rata 1.1 pasang daun, waktu pembentukan tunas 13.50 minggu dan rata-rata 11.06 tunas yang panjangnya 1-5 mm, rata-rata 2.61 tunas yang panjangnya 6– 10 mm dan rata-rata 0.61 tunas yang panjangnya > 10 mm.

Page 1 of 2 | Total Record : 13