cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Zuriat
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 298 Documents
Analisis Dialel Ketahanan Kacang Tanah (Arachis hypogaea L.) Terhadap Penyakit Layu Bakteri Ralstonia solanacearum Novita N.; , Soemartono; W. Mangoendidjojo; M. Machmud
Zuriat Vol 18, No 1 (2007)
Publisher : Breeding Science Society of Indonesia (BSSI) / PERIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/zuriat.v18i1.6738

Abstract

Penyakit layu bakteri yang disebabkan oleh Ralstonia solanacearum merupakan penyakit penting di sebagian besar areal tanam kacang tanah di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari genetika ketahanan terhadap R. solanacearum yang terdapat pada hasil silang dialel lengkap tiga genotip kacang tanah tahan (Turangga, lokal Pati, ICGV 93370) dan satu genotip kacang tanah rentan (Chico). Penelitian dilaksanakan di rumah kaca di Balai Penelitian Tanaman Kacangkacangan dan Umbi-umbian pada tahun 2004−2005. Enam belas genotip (empat tetua dan enam F1, dan enam F1r) ditata dalam rancangan acak-acak kelompok yang diulang tiga kali. Setiap genotip ditanam 30 pot, dua tanaman per pot. Tanah yang digunakan sebagaimedia tumbuh disterilisasi secara kimiawi dengan fumigant Dazomet. Inokulum diberikan pada tanah yang telah disterilisasi, kemudian diinkubasi selama tiga hari. Bakteri R. solanacearum yang digunakan adalah hasil isolasi dari tanaman kacang tanah terinfeksi asal daerah Pati, Jawa Tengah. Respon ketahanan diamati pada umur 21 hari menggunakan skor dalam skala 0−5 (0=tidak ada gejala layu, 5 ³ 90% daun layu). Data generasi F1 dan tetua dianalisis menurut metode Griffing (1956) dan Jinks-Hayman (1954). Hasil analisis menunjukkan bahwa tidak terdapat pengaruh pengaruh resiprok maupun daya gabung khusus. Ketahanan pada generasi F1 ditentukan oleh daya gabung umum (DGU) tetua yang digunakan dalam silang dialel ini. Turangga mempunyai daya gabung umum terbaik karena mempunyai nilai pengaruh DGU negatif terbesar diantara tetua yang digunakan. Analisis grafis varians-peragam (Wr-Vr) menunjukkan bahwa gen ketahanan terhadap R. solanacearum bersifat aditif dan dominan tidak lengkap. Heritabilitas arti sempit maupun arti luas tergolong tinggi, masing-masing 91.0% dan 93.7%. Aksi gen aditif dan heritabilitas yang tinggi memberikan peluang keberhasilan untuk isolasi galur tahan bakteri layu di dalam populasi yang digunakan dalam penelitian ini melalui seleksi pedigri.
RESPON PERTUMBUHAN DAN HASIL GALUR-GALUR PADI GOGO GENERASI LANJUT PADA SISTEM TANAMAN SELA Priatna Sasmita
Zuriat Vol 22, No 1 (2011)
Publisher : Breeding Science Society of Indonesia (BSSI) / PERIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/zuriat.v22i1.6839

Abstract

Penelitian evaluasi respon pertumbuhan dan hasil galur-galur padi gogo generasi lanjut sebagai tanaman sela bertujuan untuk mendapatkan galur-galur harapan berproduksi tinggi dan beradaptasi baik pada sistem tanam sela. Penelitian dilakukan pada bulan Februari-Mei (musim hujan 2010) di desa Sanca, kecamatan Gantar, kabupaten Indramayu, Jabar. Sebanyak 20 genotipe padi gogo terdiri dari galur-galur generasi lanjut dan varietas pembanding toleran naungan, yaitu Jatiluhur ditanaman di antara pertanaman muda hutan Jati. Penelitian menggunakan rancangan percobaan acak kelompok diulang tiga kali dengan perlakuan sebanyak 20 genotipe padi gogo yang diuji. Hasil penelitian diperoleh empat genotipe padi gogo toleran naungan hingga 53,1% pada sistem tanam sela dengan hutan Jati muda umur 1-2 tahun dengan hasil setara Jatiluhur. Keempat genotipe tersebut adalah: BP606E-18-9-6 (6,10 t/ha), BP1352-1G-KN-14 (6.05 t/ha), OM2514 (6,18 t/ha), dan  BP3672-2E-KN-17-3-4*B (6.01 t/ha). Hasil yang dicapai varietas kontrol toleran naungan Jatiluhur adalah sebesar 5,57 t/ha. Hasil penelitian menunjukkan pula bahwa keempat galur tersebut tahan penyakit BLB, dua diantaranya yaitu BP606E-18-9-6 dan BP3672-2E-KN-17-3-4*B tahan penyakit blas daun, dan dua galur lainnya moderat terhadap blas daun.
Karakteristik Biji dan Beras-Sorgum Genotipe 1.1 dan B-100 Serta Produk Olahan Berbasis Sorgum Tino Mutiarawati Onggo; Carmencita Tjahjadi; , Anas; Teja Yuliandi; Kiki Dwijayanti; Dheasyta Pratiwi
Zuriat Vol 19, No 2 (2008)
Publisher : Breeding Science Society of Indonesia (BSSI) / PERIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/zuriat.v19i2.6662

Abstract

Sorgum [Sorghum bicolor (L.) Moench] adalah tanaman pangan penting peringkat kelima dunia. Tanaman ini dapat tumbuh baik di daerah-daerah kering dan panas, sehingga sesuai untuk dikembangkan di daerah marginal. Kandungan gizi sorgum tinggi dan tidak mengandung gluten, sehingga baik digunakan sebagai bahan pangan alternatif. Biji sorgum Genotipe 1.1 (Hasil rekayasa Fakultas Pertanian Unpad) dan Genotipe B-100 (Hasil rekayasa BATAN) yang digunakan sebagai materi untuk menguji karakteristik biji, beras sorgum, produk pangan berbasis sorgum yaitu opak dan stik bawang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua genotipe tersebut mempunyai bentuk biji yang hampir sama, namun genotipe B-100 mempunyai ukuran, sferisitas dan berat 100 butir yang lebih besar dibandingkan genotipe 1.1. Lama waktu penyosohan dengan metode abrasif meningkatkan kecerahan hasil sosohan dan menurunkan intensitas warna kuning serta hijau pada Genotipe 1.1 yang tergolong white sorghum; sedangkan pada Genotipe B-100 penyosohan selama 0,5 menit menghasilkan berassorgum berwarna cokelat kemerahan karena testa yang mengandung tanin; semakin lama waktu penyosohan, warna cokelat kemerahan tersebut semakin berkurang. Pada pembuatan opak, penggunaan beras-sorgum genotipe 1.1 hasil penyosohan 1 menit dan rasio nasisorgum dengan nasi-ketan 60:40 merupakan perlakuan terbaik menghasilkan opak sorgum dengan karakteristik inderawi terbaik. Pada stik bawang, lama penyosohan biji-sorgum genotipe 1.1 selama 1,5 menit dan imbangan tepung-sorgum dengan tepung-terigu sebesar 50:50 merupakan perlakuan terbaik menghasilkan stik bawang sorgum dengan sifat inderawi terbaik.
Evaluasi Hasil Silangbalik antar Tujuh Hibrid F1 Interspesifik dengan Tetua Berulang Padi Budidaya , Rusdiansyah; Hajrial Aswidinnoor
Zuriat Vol 14, No 2 (2003)
Publisher : Breeding Science Society of Indonesia (BSSI) / PERIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/zuriat.v14i2.6794

Abstract

Sebanyak tujuh hibrid F1 interspesifik telah dihasilkan dari hibridisasi interspesifik Hawara Bunar/O. glumaepatula dan selanjutnya disilangbalik dengan tetua berulang padi budidaya. Tujuan penelitian adalah untuk mendapatkan tanaman silangbalik yang fertil dan mempelajari sifat morfologi dari tanaman silangbalik yang dihasilkan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 88.260 bunga yang diserbuki, diperoleh 281 biji dengan rataan persentase daya silang 1.63%. Daya silang tertinggi diperoleh pada silangbalik Hawara Bunar/O. glumaepatula// Hawara Bunar yaitu 9.21% dan terendah pada silangbalik Seratus Malam/O. punctata// Seratus Malam yaitu 0.03%. Melalui penyelamatan embrio diperoleh tujuh tanaman fertile dari silangbalik Hawara Bunar/O. glumaepatula//Hawara Bunar dan satu tanaman steril dari silangbalik CT6510- 24-1-3/O. officinalis//CT6510-24-1-3. Silangbalik antar tujuh tanaman Hawara Bunar/O. glumaepatula// Hawara Bunar dengan tetua berulangnya diperoleh 36 biji dengan daya silang 17.31% dan setelah ditanam diperoleh lima tanaman Hawara Bunar/O. glumaepatula//Hawara Bunar/// Hawara Bunar. Sebagian besar tanaman Hawara Bunar/O. glumaepatula//Hawara Bunar/// Hawara Bunar yang diamati memiliki sifat kualitatif sama seperti tetua budidayanya. Selain itu, ditemukan adanya percabangan sekunder malai yang hadir pada tanaman Hawara Bunar/O. glumaepatula//Hawara Bunar///Hawara Bunar. Untuk sifat kuantitatif, sebagian besar tanaman Hawara Bunar/O. glumaepatula// Hawara Bunar///Hawara Bunar memiliki jumlah gabah dan jumlah gabah isi per malai lebih banyak dari tetua budidaya. Kisaran persentase gabah hampa dari tanaman Hawara Bunar/O. glumaepatula//Hawara Bunar///Hawara Bunar yaitu antar 17.0% 28.8% dengan rataan 24.5%.
Triploidisasi ikan mas: percobaan berbagai lama kejutan panas Erna Sunarsih; Maman Herman Suparta
Zuriat Vol 3, No 1 (1992)
Publisher : Breeding Science Society of Indonesia (BSSI) / PERIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/zuriat.v3i1.6623

Abstract

Daya Gabung Galur-Galur Downy Mldew Resistance (DMR) dan Quality Protein Maize (QPM) Berdasarkan Analisis Line x Tester D. Ruswandi; M. M. Basuki; , Annissa; S. Ruswandi; N. Rostini
Zuriat Vol 17, No 1 (2006)
Publisher : Breeding Science Society of Indonesia (BSSI) / PERIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/zuriat.v17i1.6762

Abstract

Informasi daya gabung umum dan daya gabung khusus dari tetua-tetuanya diperlukan untuk pembentukan kultivar hibrida yang superior. Metode analisis line × tester merupakan metode yang paling efektif untuk menguji galur-galur murni karena dapat mengetahui daya gabungnya dengan beberapa tester sekaligus.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui nilai daya gabung umum dan daya gabung khusus dari galur-galur Downy Mildew Resistance (DMR) dan Quality Protein Maize (QPM) dengan menggunakan analisis line × tester. Tujuh galur murni dan 12 hibrida jagung koleksi Laboratorium Pemuliaan Tanaman Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran, percobaan diuji menggunakan metode eksperimen ditata dalam rancangan acak kelompok diulang dua kali diuji dengan analisis line × tester. Penanaman dilakukan di Kebun Percobaan Fakultas Pertanian Unpad Jatinangor pada bulan September–Desember 2003. Galur DMR MR 10 mempunyai daya gabung umum (DGU) yang baik untuk karakter diameter biji, bobot 100 biji. Sedangkan galur QPM, CML 161, CML 163 dan CML 172 menunjukkan nilai DGU yang baik untuk karakter bobot 100 biji. Galur DMR, MR 10 dan galur QPM, CML 163 memperlihatkan nilai DGU yang baik untuk karakter bobot biji per tongkol, bobot biji per tanaman, bobot total biji sample, dan bobot biji per plot. Hibrida Ki-3 × CML 172 memperlihatkan nilai daya gabung khusus (DGK) yang baik untuk karakter tinggi tongkol pertama, jumlah baris per tongkol, bobot biji per tongkol, bobot biji per tanaman, bobot total biji sample, dan bobot biji per plot. P 345 × CML 161 menunjukkan nilai DGK yang baik untuk karakter jumlah baris per tongkol dan diameter biji. MR 10 × CML 161 memiliki nilai DGK yang baik untuk karakter tinggi tongkol pertama dan potensi tongkol per tanaman. MR 10 × CML 163 dan MR 10 × CML 172 mempunyai nilai DGK yang baik untuk karakter diameter biji. Nei 9008 × CML 172 mamperlihatkan nilai DGK yang baik untuk karakter tinggi tongkol pertama. P 345 × CML 163 untuk karakter jumlah baris per tongkol, bobot biji per tongkol, bobot total biji sample, dan bobot biji per plot. P 345 × CML 172 menunjukkan nilai DGK yang baik untuk karakter jumlah baris per tongkol.
Korelasi Hasil dan Komponen Hasil dengan Kualitas Hasil Pada 100 Genotip Nenas (Ananas comosus (L.) Merr.) dari Beberapa Seri Persilangan Generasi F1 Neni Rostini; Yuti Giametri; Suseno Amien
Zuriat Vol 17, No 2 (2006)
Publisher : Breeding Science Society of Indonesia (BSSI) / PERIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/zuriat.v17i2.6729

Abstract

Penelitian bertujuan untuk memperoleh satu atau beberapa karakter hasil dan komponen hasil yang memiliki korelasi dengan kualitas hasil 100 genotip nenas hasil beberapa seri persilangan koleksi Neni Rostini. Penelitian telah dilakukan dari bulan Desember 2004 sampai bulan Februari 2005 di Kebun Percobaan Universitas Padjadjaran Jatinangor. Metode yang digunakan adalah metode eksperimen tanpa model tata ruang yang menggunakan analisis korelasi linear sederhana. Untuk menguji signifikansinya digunakan t-student. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat korelasi positif nyata antara kedalaman mata dengan panjang buah, bobot buah, bobot buah total dan jumlah mata; diameter core dengan panjang pedunkulus, panjang buah, bobot buah total dan jumlah mata; nilai Total Soluble Solid (TSS) dengan diameter pedunkulus. Terdapat korelasi negatif antara diameter core dengan panjang pedunkulus; nilai Total Soluble Solid (TSS) dengan panjang pedunkulus dan jumlah mata; Organoleptik dengan tinggi mahkota; pH dengan diameter pedunkulus; warna daging buah dengan panjang pedunkulus
Keragaan Galur Mandul Jantan Hasil Silang Balik Berulang I. A. Rumanti; Y. Widyastuti; , Satoto; B. P. Wibowo
Zuriat Vol 23, No 2 (2012)
Publisher : Breeding Science Society of Indonesia (BSSI) / PERIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/zuriat.v23i2.6871

Abstract

Kegiatan silang balik di Sukamandi pada MK 2006 yang dilakukan untuk merakit galur mandul jantan baru telah dilaksanakan menggunakan 20 populasi silang balik. Populasi tersebut terdiri atas 9 generasi BC1, 7 generasi BC2, 1 generasi BC4 dan 3 generasi BC5 terpilih 12 kombinasi persilangan yang menunjukkan tingkat kemandulan yang tinggi (highly sterile). Ketigabelas kombinasi tersebut terdiri atas 9 populasi silang balik generasi awal yaitu 4 generasi BC1 dan 5 generasi BC2, serta 1 generasi BC4 dan 3 generasi BC5. Sembilan kombinasi memiliki karakter agronomis dan sterilitas tinggi, sehingga merupakan kandidat mandul jantan yang baik. Kombinasi-kombinasi tersebut telah disilangkan dengan tetua berulangnya (recurrent) untuk meningkatkan genetis kandidat GMJ baru sehingga akan lebih menyerupai tetua  berulangnya. Adapun tinggi tanaman kombinasi dengan sterilitas tinggi menunjukkan kisaran antara 70.0 – 99.10 cm dengan jumlah anakan 8 – 16 anakan produktif per rumpun. Pada MH 2006/2007 diuji 12 galur yang terdiri atas 2 generasi BC2, 4 generasi BC3, 1 generasi BC5 dan 2 generasi BC6. Berdasarkan pengamatan terhadap karakter kemandulan dan fenotip tanaman, maka 9 galur silang balik dapat dilanjutkan ke generasi silang balik berikutnya, yaitu 2 generasi BC2, 6 generasi BC3, 1 generasi BC5. Dua generasi BC6dimasukkan ke dalam tahapan berikutnya yaitu purifikasi dan perbanyakan benih untuk diuji pada plot yang lebih luas dan dipelajari produksi benihnya. Pada pengujian ini, diperoleh satu populasi BC5 yang tepungsarinya tidak mandul jantan sempurna, yaitu BC2719-15/BC2720-36. Kombinasi tersebut tidak lagi digolongkan sebagai kandidat GMJ.  Kisaran tinggi tanaman dari generasi yang terpilih antara 81.2 – 114.8 cm dengan jumlah anakan per rumpun antara 7 – 15. Seluruh kandidat galur mandul jantan yang diuji memiliki latar belakang sitoplasma sama, yaitu wild abortive.
Gene Transfer to Rice Mediated by Agrobacterium tumefaciens: Transient Expression of sgfp in Rice Calluses of indica cv. Fatmawati and japonica cv. Nipponbare Tomohiko Yoshida; Nono Carsono
Zuriat Vol 19, No 1 (2008)
Publisher : Breeding Science Society of Indonesia (BSSI) / PERIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/zuriat.v19i1.6694

Abstract

Transient expression of synthetic green fluorescent protein (sgfp) mediated by Agrobacterium is rapid and useful approach for visual monitoring the genetic transformation event in transformed cells/tissues of examined genotype. The significant differences in transient expression of two genotypes (indica cv. Fatmawati and japonica cv. Nipponbare) were found with regard to the osmotic treatment (0.4 M mannitol), solid subcultured callus, and 10 min. air drying. While, no significant differences in sgfp expression were observed in two genotypes on without air-drying and 5 min. air-drying of calluses prior immersed in Agrobacterium suspension. Surprisingly, the sgfp expression could not be detected in suspension-subcultured callus of both cultivars. The highest sgfp expression was achieved in Nipponbare callus treated with 10 min. air drying. The level of green fluorescent spots was higher in Nipponbare than that in Fatmawati, however, plants regenerated from Fatmawati were considerably comparable with those of Nipponbare. Seventeen and 16 putative transgenic rice plants expressing sgfp transgene were obtained from Nipponbare and Fatmawati, respectively.
Parameter beberapa karakter penting tanaman tembakau tipe madura Abdul Rachman S
Zuriat Vol 2, No 2 (1991)
Publisher : Breeding Science Society of Indonesia (BSSI) / PERIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/zuriat.v2i2.6785

Abstract

Parameter beberapa karakter penting tembakau Madura dipelajari di Sumenep tahun 1990. Empat galur Jepon Kenek ditanam dalam rancangan acak kelompok yang diulang tiga kali. Jarak tanam adalah 80 cm X 50 cm.Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua karakter yang dipelajari mempunyai heritabilitas yang lebih besar dari 0.5. Namun demikian perbedaan antar beberapa karakter terlihat pada nilai KVG atau KG. Semua karakter yang diamati dapat diseleksi pada generasi awal, kecuali untuk umur berbunga dan tinggi tanaman.