cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Zuriat
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 298 Documents
Pemanfaatan marka gen OsIRT1 untuk seleksi galur populasi silang ganda turunan padi lokal Markuti toleran cekaman keracunan Fe Marjam Toding; Dwinita W. Utami
Zuriat Vol 23, No 1 (2012)
Publisher : Breeding Science Society of Indonesia (BSSI) / PERIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/zuriat.v23i1.6866

Abstract

Keracunan Fe adalah salah satu cekaman abiotik yang dapat secara nyata mempengaruhi produksi padi, terutama pada lahan basah marginal. Keracunan Fe dapat menurunkan produksi padi 60% hingga 90% pada daerah podzolik merah kuning. Mekanisme toleransi keracunan Fe pada tanaman padi salah satunya diperankan gen OsIRT1 (O. sativa Regulated Transporter). Peta genetik dari gen ini terdapat pada kromosom 7, pada posisi 47,787-52,212 Mb, yaitu memanjang pada contig AP004297 dan lokus MSU Osa1 :  LOC_Os07g01090. Salah satu aksesi plasma nutfah padi lokal tepilih berdasarkan hasil penelitian dengan pendekatan allele mining adalah Markuti(Indica, IRN:) yang diketahui memiliki alel gen OsIRT. Plasma nutfah tersebut telah digunakan sebagai material genetik persilangan ganda dengan varietas terseleksi Bio110 (IR54/Parekaligolara//Bio110/Markuti), dalam program pembentukan galur-galur harapan padi baru toleran cekaman biotik (tahan penyakit BLB dan Blas) dan abiotik (toleran keracunan Fe dan kahat P). Tujuan dari penelitian ini adalah: menguji keragaan sifat ketahanan galur-galur populasi F2 hasil silang ganda (IR54/Parekaligolara//Bio110/Markuti) terhadap cekaman keracunan Fe, berdasarkan pengujian phenotyping di rumah kaca dan genotyping menggunakan marka molekular spesifik penanda gen OsIRT1. Uji keragaan fenotipe dilakukan dengan menguji respon 88 total tanaman F2 yang ditanam dengan kondisi Fe tinggi (tanah masam-tergenang). Sedangkan keragaan genotipe dilakukan dengan menganalisis PCR populasi di atas menggunakan marka spesifik penanda  gen OsIRT1. Hasil pengujian menunjukkan bahwa keragaan galur-galur F2 hasil silang ganda (IR54/Parekaligolara//Bio110/Markuti) terdapat 68 tanaman bersifat toleran (skor 2-3), 11 tanaman bersifat sedang (skor 5) dan 9 tanaman bersifat rentan (skor 7). Sedangkan keragaan genotipe berdasarkan analisis PCR menggunakan marka OsIRT1 menunjukkan segregasi dengan tipe: 0,1 dan 2 yang berturut-turut co-segregasi dengan sifat : peka, sedang dan toleran.   
Berbagai waktu awal kejutan panas pada triploidisasi lele dumbo Tini Lusiandari; Maman Herman Suparta; Sukaya Sastrawibawa; Ike Rustikawati
Zuriat Vol 2, No 2 (1991)
Publisher : Breeding Science Society of Indonesia (BSSI) / PERIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/zuriat.v2i2.6689

Abstract

Pengujian pengaruh berbagai waktu awal kejutan panas terhadap triploidisasi lele dumbo (Clarias garlepinus), telah dilakukon di Balai Budidaya Air Tawar, Sukabumi dari bulan September sampai Nopember 1990. Perlakuan empat waktu awal kejutan panas yakni satu, dua, tiga dan ernpat menit setelah fertilisasi, dicoba dalam induksl triploid Clarias gariepinus dengan lama waktu kejutan dua menit pada suhu 40°C setelah fertilisasi. Hasil menunjukkan bahwa waktu awal kejutan dua menit menghasilkan persentase benih ikan triploidi yang terbaik.
Analisis Koefisien Lintas Beberapa Sifat pada Plasma Nutfah Gandum (Triticum aestivum L.) Koleksi Baitbiogen Sri Gajatri Budiarti; Yuniar Risdiyanto Rizki; Yudiwanti W.E. Kusumo
Zuriat Vol 15, No 1 (2004)
Publisher : Breeding Science Society of Indonesia (BSSI) / PERIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/zuriat.v15i1.6821

Abstract

Penelitian bertujuan untuk mempelajari korelasi genetik diantara karakter dengan menggunakan analisis koefisien lintas. Penelitian lapang ini dilaksanakan di Kebun Percobaan Kuningan Balai Penelitian Padi, Jawa Barat pada bulan Juni sampai Oktober 2002, dengan menggunakan rancangan kelompok lengkap teracak, 3 ulangan. Sejumlah 27 genotipe, masing-masing ditanam dengan luas petak 1.0 m × 3.0 m (jarak tanam 25 cm × 10 cm, panjang baris 3 m, dan jumlah baris 4). Sifat –sifat agronomi yang diamati adalah: umur berbunga, umur panen, tinggi tanaman, jumlah anakan produktif per tanaman, panjang malai, jumlah butir per malai, bobot 100 butir, bobot malai basah, bobot malai kering, dan hasil biji per tanaman. Koefisien korelasi dihitung menurut Goulden (1959), dan analisis koefisien lintas mengikuti metode dari Dewey dan Lu. (1959). Hasil penelitian menunjukkan bahwa umur berbunga, tinggi tanaman, panjang malai, jumlah butir per malai dan bobot 100 butir tidak berkorelasi dengan hasil biji per tanaman. Umur panen, jumlah anakan produktif per tanaman, bobot malai basah dan bobot malai kering mempunyai korelasi positif dan nyata dengan hasil biji per tanaman. Jumlah anakan produktif per tanaman, jumlah butir per malai dan bobot 100 butir, masing-masing mempunyai pengaruh langsung dan positif terhadap hasil biji per tanaman. Hubungan tidak langsung terhadap bobot biji per tanaman melalui jumlah anakan produktif merupakan salah satu sifat yang baik dan dapat digunakan ke arah perbaikan hasil gandum.
Keragaman Genetik dan Heritabilitas Beberapa Sifat Morfologi Eucalyptus urophylla S.T. Blake Hendi Suhaendi
Zuriat Vol 2, No 1 (1991)
Publisher : Breeding Science Society of Indonesia (BSSI) / PERIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/zuriat.v2i1.6607

Abstract

Penelitian dilakukan apda pertanaman uji keturunan saudara tiri Eucalyptus urophylla S.T. Blake dalam populasi Subanjeriji, Palembang, Sumatera Selatan. Tegakan ditanam bulan Januari 1984, dan pengukuran lapangan dilakukan bulan Januari 1990 terhadap beberapa sifat morfologi yang penting secara ekonomi, yaitu tinggi total, tinggi bebas cabang, dan diameter batang dan bentuk batang.Tujuan penelitian ialah untuk menduga keragaman genetik dan heritabilitas famili dari masing-masing sifat morfologi pohon. Parameter genetik diduga melalui komponen ragam dari sidik ragam untuk setiap sifat pohon. Digunakan rancangan acak kelompok lengkap dengan 10 ulangan. Petak coba berupa baris yang mengandung 4 pohon untuk setiap famili yang sama dengan jarak tanam 2m x 3m. Seratus famili yang berasal dari 14 tempat tumbuh alami digunakan dalam studi ini.Keragaman genetik dan heritabilitas dari sifat-sifat tinggi total, tinggi bebas cabang dan bentuk batang adalah luas dan tinggi, sehingga perbaikan genetik dari masing-masing sifat tersebut dapat dicapai melalui seleksi massa yang dimulai pada generasi awal, di pihak lain, keragaman genetik dan heritabilitas diameter batang sempit dan rendah, karena itu perbaikan genetik sifat ini dapat diperoleh melalui seleksi famili pada generasi lanjut.
Analisis Daya Adaptasi 10 Galur Mutan Padi Sawah Di 20 Lokasi Uji Daya Hasil pada Dua Musim Lilik Harsanti; , Hambali; , Mugiono
Zuriat Vol 14, No 1 (2003)
Publisher : Breeding Science Society of Indonesia (BSSI) / PERIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/zuriat.v14i1.6748

Abstract

Lima galur mutan padi sawah Obs-1650/PsJ, Obs-1651/PsJ, Obs-1652/PsJ, Obs-1653/PsJ dan Obs-1654/PsJ dari BATAN bersama lima galur harapan S-3388-Id-PN16-2, S-3054-2d-12-2, S-2823-E-MR-87-1, B-79747-MR-2-2-2 dan B-7974-Mr-2-2-2 dari Balitpa Sukamandi diuji daya hasilnya di 20 lokasi pada musim tanam 1997 dan 1997/1998. Percobaan dilakukan dengan rancangan acak kelompok dengan empat ulangan dan menggunakan kultivar IR-64 dan Membramo sebagai pembanding. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui daya adaptasi dan stabilitas beberapa galur di beberapa lokasi. Daya adaptasi tiap genotip ditentukan berdasar perhitungan stabilitas model Eberhart dan Russel (1966) dengan menggunakan koefisien regresi (bi) dan simpangan regresi (Sd2) sebagai parameter adaptasi. Galur S-3388-Id-PN16-2 dan Obs- 1650/PsJ dan kultivar pembanding IR-64 dapat beradaptasi dengan baik di semua lingkungan subur maupun kurang subur dan hasilnya stabil. Galur Obs 1651/PsJ, Obs-1653/PsJ, S-2823-E-MR-87-1, B-7974-MR-2-2-2, S-3054-2d-12-2, B-79747-MR-2-2-2 dan Obs-1654/PsJ tergolong galur yang tidak stabil. Membramo tergolong kultivar yang tidak stabil dan hanya beradaptasi baik di lahan subur.
Pemanfaatan Marka Rapd Untuk Mengestimasi Diversitas Genetik Progeni Half-Sib Paraserianthes falcataria (L.) Nielsen Hasil Seleksi Ketahanan Boktor Dan Riap Pertumbuhan Neni Rostini; S. Sunarya; Murdaningsih H. K.; Anas Anas; F. Damayanti
Zuriat Vol 29, No 2 (2018): Zuriat Vol. 29 No. 2 (Desember 2018)
Publisher : Breeding Science Society of Indonesia (BSSI) / PERIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (243.651 KB) | DOI: 10.24198/zuriat.v29i2.15835

Abstract

Diversitas genetic pada progeni half sib dari  Paraserianthes falcataria diperlukan untuk mendukung program pemuliaan pada albasia. Tujuan penelitian  untuk mengestimasi diversitas genetik berdasarkan Random Amplified Polymorphic DNA (RAPD) dari  progeni half sib P. falcataria pada empat provenan yang berbeda, yaitu : Banjarnegara, Subang, Kediri dan Kuningan dari albasia yang telah diseleksi tahan terhadap boktor dan riap pertumbuhan.  Sampel daun diambil dari 160 kecambah yang dikoleksi dari 16 tetua dengan empat tetua dari masing masing provenan.  RAPD menggunakan 30 praimer polimorfik. Hasil penelitian menunjukkan diversitas genetik berdasarkan Random Amplified Polymorphic DNA (RAPD) dari  progeni half sib P. falcataria adalah PP/L=1.82, PPL=77.50% dan He=0.240.  Jarak genetik antar populasi berkisar antara 0.025 sampai 0.140 berdasarkan Gregorius (1974), dan antara 0.094 sampai 0.266 berdasarkan Nei (1972).  Beberapa progeni half sib dari tetua yang sama berada pada kluster yang sama. Pengklusteran provenan tidak berhubungan dengan distribusi berdasarkan geografi. Kekerabatan genetik di antara progeni half sib terbagi menjadi tiga grup berdasarkan Nei (1972). Progeny dari Kediri dan grup ketiga dari Kuningan.
Efektivitas Wide Compatibility Variety dalam Persilangan dengan Padi dari Berbagai Agroekosistem Rini Hermanasari; Hajrial Aswidinnoor; , Trikoesoemaningtyas; , Suwarno
Zuriat Vol 18, No 2 (2007)
Publisher : Breeding Science Society of Indonesia (BSSI) / PERIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/zuriat.v18i2.6712

Abstract

Percobaan untuk mengevaluasi efektivitas gen wide compatible dari enam genotipe padi telah dilaksanakan di kebun percobaan dan rumah kaca Muara, Bogor dari bulan April 2005 sampai Pebruari 2006. Percobaan ditata berdasarkan rancangan acak kelompok (RAK) yang diulang tiga kali. Untuk mengevaluasi efektivitas enam wide compatibility variety (WCV) dilakukan dengan menyilangkan antara enam WCV terdiri dari Cabacu, Napa, Kencana Bali,Lampung Lawer, Grogol dan Klemas disilangkan dengan 32 tester yang berasal dari subspesies dan ekotipe berbeda. Hasil pengujian menunjukkan bahwa genotipe Cabacu dan Grogol merupakan WCV yang efektif dalam meningkatkan pengisian gabah pada persilangan antar subspesies dan ekotipe berbeda.
INTERAKSI GENOTIP X LINGKUNGAN KARAKTER HASIL DAN INTENSITAS SERANGAN PENYAKIT ANTRAKNOS (Colletotrichum sp.) PADA SEPULUH GENOTIP CABAI MERAH (Capsicum annuum L.) Iva Sativa; Neni Rostini
Zuriat Vol 22, No 2 (2011)
Publisher : Breeding Science Society of Indonesia (BSSI) / PERIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/zuriat.v22i2.6857

Abstract

Interaksi genotip x lingkungan digunakan untuk mengukur stabilitas suatu genotip. Tujuan penelitian adalah untuk mendapatkan informasi interaksi genotip x lingkungan (lokasi) karakter hasil dan intensitas serangan Antraknos sepuluh genotip cabai merah pada dua lokasi yang berbeda. Percobaan dilaksanakan di  Balai Benih Induk tanaman hortikultura Nongko Jajar Jawa Timur (lokasi I) dengan ketinggian tempat sekitar 900 m dpl tipe iklim menurut Schmidt-Ferguson (1951) termasuk ke dalam curah hujan tipe D dan Pangalengan Jawa Barat (lokasi II) dengan ketinggian tempat 1100 m dpl termasuk ke dalam curah hujan tipe C. Genotip-genotip yang diuji adalah RS-07, RM 08A.KRTRM IB, KRT Shatol, RM 08A.KRTRM IU, dan RM 08A.KRTRM IA, serta pembanding Tanjung-1, Tanjung-2, Tit Super, Laris dan Lembang-1. Percobaan menggunakan rancangan acak kelompok dengan sepuluh perlakuan diulang tiga kali.  Hasil percobaan menunjukkan terdapat interaksi antara genotip x lokasi pada karakter  panjang buah, jumlah buah per tanaman, bobot buah pertanaman, dan bobot buah perplot. Berdasarkan karakter bobot buah per tanaman dan bobot buah per plot genotip RS 07 dan RM08 x KRTRM IB memilki penampilan yang lebih baik dibandingkan dengan Tanjung, Tanjung 2 dan Tit Super  pada kedua lokasi. Hasil pengamatan karakter ketahanan Antraknos di lapangan dan uji penyimpanan genotip KRT Shatol tergolong toleran terhadap penyakit Antraknos. Kultivar  Laris tergolong tahan di lapangan, tetapi rentan pada saat di penyimpanan di laboratorium.
Kemandulan Tepungsari dan Kehampaan Gabah Beberapa Galur Mandul Jantan Padi Introduksi dari IRRI Yuniati P. Munarso; B. Sutaryo; , Suwarno
Zuriat Vol 12, No 1 (2001)
Publisher : Breeding Science Society of Indonesia (BSSI) / PERIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/zuriat.v12i1.6680

Abstract

Percobaan untuk melihat tingkat kemandulan tepungsari dan kehampaan gabah galur mandul jantan (GMJ) yang diintroduksi dari IRRI dilakukan di kebun percobaan dan Laboratorium Balai Penelitian Tanaman Padi, Sukamandi pada musim hujan (MH) 1999/2000 dan musim kemarau (MK) 2000. Bahan yang digunakan adalah 36 GMJ dengan masing-masing tetua jantannya berasal dari IRRI. Tiap GMJ ditanam sekali di sawah sebanyak satu barisan jarak tanam 20 cm × 20 cm, sepanjang tiga meter. Galur pelestari pasangannya ditanam dua kali waktu tanam selang lima hari sampai tujuh hari, berdampingan dengan tanaman GMJ-nya. Pengamatan dilakukan terhadap umur 50% berbunga, kemandulan tepungsari, dan kehampaan gabah. Data menunjukkan bahwa pada MH 1999/ 2000, setiap GMJ mempunyai tingkat kemandulan tepungsari berbeda yang bervariasi dari 63,26% sampai 95,23%. Galur mandul jantan terbaik ditemukan pada galur IR72782A, IR72078A, IR62627A dan IR72083A. Sedangkan pada MK 2000, semua GMJ menunjukkan kemandulan tepungsari tinggi (98,8%-100%). Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa galur mandul jantan introduksi sebelum digunakan untuk bahan percobaan daya hasil, masih perlu dilakukan silang balik dan pemurnian untuk bahan tetua dalam pengembangan padi hibrida. 
HUBUNGAN ANTARA AKTIVITAS NITRAT REDUKTASE, KADAR N TOTAL, DAN KARAKTER PENTING LAINNYA DENGAN TOLERANSI TANAMAN KEDELAI TERHADAP GENANGAN Ai Komariah; Achmad Baihaki; Ridwan Setiamihardja; Sulya Djakasutami
Zuriat Vol 15, No 2 (2004)
Publisher : Breeding Science Society of Indonesia (BSSI) / PERIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/zuriat.v15i2.6812

Abstract

Penelitian untuk mempelajari hubungan aktivitas nitrat reduktase, kadar N total, dan karakter penting lainnya dengan toleransi kedelai terhadap genangan telah dilakukan di Kebun Percobaan Fakultas Pertanian Universitas Winaya Mukti, Tanjungsari, Sumedang, dari bulan Juli 2000 sampai Desember 2000. Penelitian terdiri atas dua set percobaan, yaitu penanaman pada kondisi normal dan tergenang. Penelitian itu menggunakan rancangan acak kelompok dengan 50 genotip sebagai perlakuan dan diulang dua kali. Hasil penelitian menunjukkan adanya akar adventif dan aerenkhima hampir pada semua genotip yang diuji. Aktivitas nitrat reduktase (ANR) di daun, ANR di akar, dan kadar N total tanaman berkorelasi fenotip dan berkorelasi genetik positif nyata dengan stress tolerance index (STI) dan karakter tersebut dapat digunakan sebagai penciri khusus utama dalam seleksi toleransi tanaman kedelai terhadap genangan.