cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Zuriat
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 298 Documents
Pemanfaatan Gejala Heterosis Beberapa Genotipe Kedelai (Glycine max L. Merill) Melalui Teknik Kultur Jaringan Suseno Amien; Murdaningsih Haeruman K.; Achmad Baihaki
Zuriat Vol 2, No 1 (1991)
Publisher : Breeding Science Society of Indonesia (BSSI) / PERIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/zuriat.v2i1.6613

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kombinasi NAA (Napthalene Acetic Acid) dan kinetin pada media Murashige dan Skoog yang dimodifikasi pada tiga genotipe tetua F1 hibrida kedelai (Glycine max L. Merill) heterosis dan kemungkinan perbanyakannya melalui cara subkultur berulang. Penelitian dilakukan di Laboratorium Kultur Jaringan Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran, Jatinangor, Sumedang. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap yang terdiri dari 2 faktor. Faktor pertama adalah konsentrasi NAA 0,1 ppm; 0,2 ppm dan 0,3 ppm. Faktor kedua adalah konsentrasi kinetin 0,5 ppm; 1,0 ppm dan 1,5 ppm dikombinasikan sehingga diperoleh 9 perlakuan dan diulang tiga kali untuk setiap genotipe dari tiga genotipe yang diuji. Peubah yang diamati adalah jumlah akar, jumlah buku serta jumlah daun. Hasil yang diperoleh menunjukkan terdapat perbedaan respons antara genotipe G 110, G 114 dan G 115 terhadap pertumbuhan akar, buku dan daun melalui kultur pucuk embrio yang dikulturkan. Melalui subkultur berulang diperoleh perbanyakan yang cukup tinggi. Selama dua minggu setelah subkultur diperoleh penambahan dua sampai tiga buku dari pemotongan buku yang berasal dari pucuk embrio.
Evaluasi Daya Gabung dan Heterosis Hibrida Hasil Persilangan Dialel Lima Genotip Jagung Pada Kondisi Cekaman Kekeringan Moh. Hari Wahyudi; R. Setiamihardja; A. Baihaki; D. Ruswandi
Zuriat Vol 17, No 1 (2006)
Publisher : Breeding Science Society of Indonesia (BSSI) / PERIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/zuriat.v17i1.6753

Abstract

Penelitian bertujuan untuk mengevaluasi daya gabung dan heterosis hibrida hasil persilangan dialel lima genotip jagung pada kondisi cekaman kekeringan. Percobaan dilaksanakan di SPLPP Arjasari Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran Bandung, dari bulan Maret sampai bulan November 2005, dengan menggunakan persilangan dialel metode II model I menurut Griffing’s (1956) dan ditata dalam rancangan acak kelompok lengkap di ulang tiga kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, dari lima genotip yang digunakan pada persilangan dialel tiga genotip (B2, E6, dan B-11-157) memiliki daya gabung baik untuk karakter pertumbuhan, komponen hasil, dan hasil. Pasangan persilangan E6 × B-11-157, B2 × B-11-157, dan B2 × E6 memiliki nilai heterosis dan heterobeltiosis yang nyata untuk karakter pertumbuhan, komponen hasil, dan hasil. Pasangan persilangan E6 × B-11-157, memiliki nilai yang relatif lebih tinggi dari kultivar pembanding BISI-2 dan Surya berdasarkan uji LSI (Least Significant increase) untuk karakter komponen hasil dan hasil. Bobot biji per hektar tertinggi dari hasil evaluasi persilangan dimiliki pasangan persilangan E6 × B-11-157 dengan nilai 7.50 t.ha–1 relatif lebih tinggi dari kultivar pembanding BISI-2 dan Surya. Nilai indeks seleksi cekaman terhadap kekeringan tertinggi dimiliki pasangan persilangan E6 × B-11-157, dengan nilai indeks seleksi 7.0 lebih besar 4.3% dari kultivar pembanding BISI-2.
Ketahanan Padi Transgenik Db1 Terhadap Wereng Coklat (Nilaparvata lugens Stal.) Biotipe 3 (Resistance of Db1 Transgenic Rice to Biotype 3 of Brown Planthopper (Nilaparvata lugens Stal.) Nono Carsono; santika sari; danar dono; kinya toriyama
Zuriat Vol 30, No 1 (2019): Latest Issue (April 2019)
Publisher : Breeding Science Society of Indonesia (BSSI) / PERIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (185.159 KB) | DOI: 10.24198/zuriat.v30i1.23150

Abstract

Brown planthopper has been recognized as a primary pest of rice in Indonesia and most Asian countries. Developing rice lines resistant to this pathogen is an effective and environmentally friendly approach. Rice cv. Taichung 65 has been transferred with Db1 gene from yam tuber Dioscorea batatas, to improve its resistance to insect pathogen. The rice plant, however, is not been known yet of its resistance to biotype 3 of brown planthopper from Indonesia. The objective was to obtain resistance level of Db1 transgenic rice against biotype 3, the brownest planthopper attacking rice. The experiment was arranged in randomized block design, and some tests performed were screening resistance, honeydew test, and the oviposition preference. Results indicated that Db1 Taichung transgenic rice had improved resistance level as compared to its wild type; from very susceptible to susceptible. Db1 transgenic rice line had a lower resistance level compared to those of cv. PTB33, Rathu Heenati, Ciherang, Babawee, IR64, dan Cisadane. It could be seen from a higher amount of honeydew excreted and a number of an egg laid by brown planthopper compared to those of tested cultivars.  It is concluded that DB1 transgenic line is susceptible, then it is not sufficient to control brown planthopper specifically biotype 3.
Seleksi Beberapa Karakter Penting 15 Aksesi Tanaman Pala (Myristica fragrans Houtt.) Di Kebun Percobaan Cicurug, Sukabumi Edi Wardiana; Enny Randriani; Cici Tresniawati
Zuriat Vol 19, No 1 (2008)
Publisher : Breeding Science Society of Indonesia (BSSI) / PERIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/zuriat.v19i1.6717

Abstract

Dalam analisis lintasan, menganalisis banyak karakter sebagai variabel bebas secara serempak sering ditemukan kurangnya informasi mengenai pengaruh (hubungan) yang diharapkan, di samping adanya efek multikolinieritas. Kendala seperti ini dapat dikurangi melalui teknik analisis secara bertahap dan seleksi variabel bebas dengan metoda stepwise. Penelitian yang bertujuan untuk mengetahui karakter penting 15 aksesi tanaman pala dilakukan di KP. Cicurug, Sukabumi, pada ketinggian tempat 550 m dpl dengan jenis tanah Latosol dan tipe iklim A (Schmidt dan Fergusson), mulai Januari sampai Desember 2007. Penelitian dilakukan dengan metode survey pada 37 contoh tanaman pala betina yang ditentukan secara purposive sampling. Analisis lintasan dilakukan secara bertahap disesuaikan dengan siklus perkembangan tanaman, mulai dari tahap vegetatif, generatif, hasil dan komponen hasil, sampai pada tahap produksi. Variabel bebas diseleksi dengan menggunakan metode stepwise. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) terdapat beberapa karakter penting untuk kegiatan seleksi tanaman pada tahap  dini, diantaranya adalah: ukuran kanofi, ukuran cabang, ukuran daun, dan ukuran tinggi pohon. Untuk tahap perkembangan tanaman yang lebih lanjut, seleksi dapat dilakukan terhadap ukuran diameter bunga, jumlah buah, dan bobot per satuan buah, dan (2) untuk tujuan produksi tinggi, seleksi sebaiknya diarahkan pada rendahnya ukuran kanofi, cabang, sudut cabang, lebar daun, dan diameter bunga. Sebaliknya untuk karakter panjang daun, tinggi pohon, jumlah buah, dan bobot buah sebaiknya dipilih yang ukurannya lebih besar.
Ketahanan terhadap Penyakit Antraknosa Cabai Lokal dan Introduksi dan Keragaan Daya Hasilnya Abdul Hakim; Muhamad Syukur; , Widodo
Zuriat Vol 23, No 1 (2012)
Publisher : Breeding Science Society of Indonesia (BSSI) / PERIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/zuriat.v23i1.6862

Abstract

Penyakit yang menyebabkan rendahnya produktivitas cabai di Indonesia adalah antraknosa. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan genotipe tanaman cabai yang tahan terhadap penyakit antraknosa yang disebabkan oleh Colletotrichum acutatum dan memiliki daya hasil tinggi. Penelitian ini dilakukan di lapangan dan laboratorium, menggunakan Rancangan Kelompok Lengkap Teracak, satu faktor dan dua ulangan. Isolat Colletotrichum acutatum yang digunakan adalah BGR 027, PYK 04 dan BKT 05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa genotipe IPB C15 memiliki ketahanan paling baik terhadap tiga isolat Colletotrichum acutatum. Genotipe ini merupakan salah satu sumber untuk sifat ketahanan cabai terhadap penyakit antraknosa dan berpotensi untuk dijadikan tetua donor untuk sifat tersebut. Genotipe IPB C14, IPB C15, IPB C128, IPB C129, dan IPB C131 merupakan genotipe yang memiliki bobot buah per tanaman yang tinggi. Genotipe introduksi lebih mendominasi untuk sifat ketahanan dan keragaan daya hasil daripada genotipe lokal. Dengan demikian perlu dilakukan eksplorasi untuk mendapatkan genotipe lokal yang tahan antraknosa dan berdaya hasil tinggi
Kultur embrio somatik kopi arabika menggunakan air kelapa, casein hidrolisat, glutamin dan asparagin Priyono Priyono; Sukarya Danimihardja
Zuriat Vol 3, No 1 (1992)
Publisher : Breeding Science Society of Indonesia (BSSI) / PERIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/zuriat.v3i1.6685

Abstract

Kendala dalam pengembangan kopi arabika di Indonesia antara lain keterbatasan bahan tanaman unggul, di lain pihak metode pemuliaan tanaman konvensional membutuhkan waktu yang sangat lama. Salah satu cara untuk mengatasi hal tersebut adalah pemanfaatan teknik kultur embrio secara in vitro. Kultur embrio somatik secara in vitro diharapkan dapat dipakai sebagai pendekatan dalam kultur embrio zigotik muda hasil persilangan buatan. Eksplan yang digunakan yaitu embrio somatik hasil dari embriogenesis secara langsung.Embrioid dipisah satu per satu, lalu dikultirkan pada media B5 yang telah dimodifikasi dan diperkaya dengan berbagai konsentrasi air kelapa, casein hidrolisat, glutamin, dan asparagin. Ruang kultur dipertahankan pada suhu 26o-28oC dengan periodisitas cahaya 16 jam terang dan 8 jam gelap.Perkembangan embrio somatik dipengaruhi oleh air kelapa, casein hidrilisat, glutamin, dan asparagin. Persentase embrio berakar dapat ditingkatkan dengan penambahan casein hidrolisat, atau asparagin, sedangkan air kelapa memberikan pengaruh berlawanan. Hasil terbaik diperoleh dari media yang diperkaya dengan 250 mg/l casein hidrolisat tanpa air kelapa, atau 400 mg/l glutamin yang mengandung 50 mg/l asparagin.
GROWTH RATE COMPARISONS OF THREE COLOR MORPHS OF COMMON CARP (Cyprinus carpio L.) CULTURED IN COMMERCIAL FLOATING NET CAGES Rudhy Gustiano
Zuriat Vol 15, No 2 (2004)
Publisher : Breeding Science Society of Indonesia (BSSI) / PERIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/zuriat.v15i2.6817

Abstract

The study aims at establishing possible relationships between growth of weight and color morphs difference of the common carp cultured in floating netcages. Ten floating net-cage (7 m × 7 m × 2 m) were selected from three farms in Cirata Reservoir for studying growth performance. Each cage-net was stocked with 300 kg of 12 cm–16 cm common carp juvenile. The fish was weighed every other week, i.e., at week 0, 2, 4, 6, and 8. The fish in each cage were gathered to one side of the cage with bamboo sheets. Thirty fish for each of three colors (blue, green, and red) were randomly sampled from each cage using a scoop net. The result showed that the green fish was the fastest growing in 2 of the 3 significant cases and blue for 1 case. In most cases color morphs also did not show any differences in the weight regression coefficients. However, there were 5 significant cases where green was always the best followed by the blue one. Thus, there was evidence that the dark color (green and blue) gained weight faster than light one (red). Green and blue colored showed similarity in growth performance based on weight regression coefficient.
Evaluasi Segmen Khromosom Introgresi pada Khromosom 3 dari Dua Near-Isogenic untuk ga-2 Tanaman Padi dengan Menggunakan Teknik RFLP , Sobrizal; A. Yoshimura; N. Iwata
Zuriat Vol 4, No 1 (1993)
Publisher : Breeding Science Society of Indonesia (BSSI) / PERIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/zuriat.v4i1.6650

Abstract

Near-Isogenic lines (NILs) untuk ga-2 dengan latar belakang varietas Japonika dibuat dengan menyilangkan galur Japonika yang bergenotipe daun terkulai (drooping leaf = dl) sebagai penanda dengan dua varietas Indika sebagai induk donor. Tanaman F3 yang berfenotipe dl yang berasal dari tanaman F2 heterozigot disilang balik (backcross) dengan varietas Japonika sebagai induk recurrent dan rekomendasi genotype (ga-2+dl/ga-2+dl) yang didapat pada tanaman B1F2 sambil mempertahakankan rekombinasi genotype tersebut, seterusnya disilangkan kembali berulang-ulang dengan varietas Javonika. Akhirnya pada generasi B5F2, diperoleh dua jenis genotipe (ga-2+dl/ga-2+dl dan ga-2+dl/ga-2+dl+) pada setiap NILs. Segmen introgresi pada khromosom 3 dari dua NILS tersebut dievaluasi dengan menggunakan penanda restriction fragment peta linkage (linkage map). Ukuran minimum segmen intorgesi yang mengapit ga-2 pada NILS tersebut adalah 14,85 cM untuk segmen yang berasal dari induk donor HO639 dan 26,40 cM untuk segment yang berasal dari induk TKM6. Dari hasil ini terlihat nyata bahwa RFLP market dapat digunakan secara langsung untuk menyidik ada atau tidaknya segment khromosom tertentu pada suatu khromosom dan dapat digunakan secara rutin untuk mendapatkan tanaman unggul pada program pemuliaan tanaman. 
Genetic Analysis of Components of Resistance to Philippine Downy Mildew In Maize D. Ruswandi; A. L. Carpena; R. M. Lantican; A. M. Salazar; D. M. Hautea; A. D. Raymundo
Zuriat Vol 13, No 2 (2002)
Publisher : Breeding Science Society of Indonesia (BSSI) / PERIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/zuriat.v13i2.6744

Abstract

The genetics of resistance to Philippine downy mildew in maize (Zea mays L.) caused by Peronosclerospora philippinensis was studied in progeny derived from crosses between the resistant inbred P 345 and susceptible inbred Pi 17 and Pi 23. Plant generations used in this study were the PS (susceptible lines Pi 17 and Pi 23); PR (P 345); extensively F1, F2; F3; BS and BR. Plants at three leaf stages were artificially inoculated and evaluated for components of resistance, namely: disease incidence, disease severity, onset of systemic symptom, area under disease progress curve, and rate of downy mildew development. Analysis of generation means indicate that additive- dominance with epistasis gene effect play important role in all components of resistance to Philippines downy mildew.
Keragaan Penampilan Lima Genotip Sorgum Manis (Sorghum Bicolor (L.) Moench) Introduksi Jepang Di Jatinangor Indonesia Anas Anas; Agus Suhanto
Zuriat Vol 29, No 2 (2018): Zuriat Vol. 29 No. 2 (Desember 2018)
Publisher : Breeding Science Society of Indonesia (BSSI) / PERIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4540.845 KB) | DOI: 10.24198/zuriat.v29i2.20809

Abstract

Sorgum (Sorghum bicolor (L.) Moench) adalah tanaman multimanfaat yang dapat digunakan sebagai pangan, pakan dan energi sesuai dengan jenis dan pemanfaatanya yang sangat banyak. Penelitian ini bertujuan menguji keragaan penampilan lima genotip sorgum manis (Sorghum bicolor (L.) Moench) hasil seleksi dari sorgum manis introduksi asal Jepang dan peluang untuk dikembangkan dan digunakan sebagai materi genetik dalam program pemuliaan selanjutnya. Percobaan lapang dilaksanakan di kebun percobaan Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran Jatinangor Kabupaten Sumedang, Jawa Barat. Ketinggian tempat sekitar 754 meter di atas permukaan laut (dpl), dan mempunyai curah hujan tipe C (agak basah) berdasarkan klasifikasi Schmidt dan Ferguson, serta jenis tanah Inceptisol. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan lima genotype sorgum manis sebagai perlakukan dan diulang lima kali. Hasil penelitian memperlihatkan penampilan lima genotipe sorgum manis hasil introduksi dari Jepang cukup beragam terutama untuk karakter komponen hasil. Beberapa genotipe memperlihatkan umur genjah dan perbedaan lama periode pengisian biji. Hal ini akan mempengaruhi hasil gula dalam batang sorgum. Taomitsu dan Super Sugar berpenampilan baik untuk komponen hasil. Namun demikian variabilitas genotipik untuk semua karakter sempit meskipun heritabilitasnya secara umum tinggi hampir untuk semua karakter. Hal ini memperlihatkan perlunya peningkatan keragaman baik melalui persilangan atau mutasi untuk mempermudah mendapatkan kemajuan genetic yang tinggi untuk karakter-karakter yang akan ditingkatkan