cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Zuriat
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 298 Documents
Marka Mikrosatelit Sebagai Alternatif Uji BUSS dalam Perlindungan Varietas Tanaman Padi Sugiono Moeljopawiro
Zuriat Vol 18, No 2 (2007)
Publisher : Breeding Science Society of Indonesia (BSSI) / PERIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/zuriat.v18i2.6708

Abstract

Studi dilaksanakan di BB Biogen untuk menjajagi kemungkinan penggunaan SSR bagi BUSS pada padi. Varietas Fatmawati dan tujuh varietas pembanding diuji dengan 10 marker SSR. Diperoleh 125 lokus pada kromosom 1, 2, 5, 6, 7, 10 dan 11 dengan jumlah alil berkisar antar 6 pada BPC samapi 33 pada Fatmawati. Marka mikrosatelit dapat digunakan untuk mendeteksi perbedaan antar varietas maupun untuk mencirikan varietas, dimana Marka RM11 merupakan marka utama yang terdapat pada varietas Fatmawati, Maros, Barumun, Gilirang dan Memberamo, RM237 pada Cisadane dan BP630, dan marka RM133 dan RM287 pada BPC. Baik secara morfologi maupun secara molekuler terbukti bahwa kedelapan varietas yang diuji masih belum seragam. Khusus untuk varietas Fatmawati yang dijadikan varietas simulasi uji BUSS, hasil tersebut menunjukkan bahwa bahwa varietas Fatmawati keragamannya masih tinggi sehingga tidak dapat diberi perlindungan PVT dan belum layak dilepas sebagai varietas unggul baru, karena masih belum seragam. Atas dasar pertimbangan waktu, biaya dan ketelitian, marka mikrosatelit dapat diusulkan sebagai alternative uji BUSS di masa depan.
Hubungan Produksi dan Kandungan Protein Padi Populasi F3 Hasil Persilangan G39 x Milky Rice dan G39 x Ciherang , Fitriyani; Agus Riyanto; Dyah Susanti; Totok Agung D. H.
Zuriat Vol 22, No 2 (2011)
Publisher : Breeding Science Society of Indonesia (BSSI) / PERIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/zuriat.v22i2.6853

Abstract

Rice is one of the commodity that is very important as a staple food for more than 95% of the population in Indonesia. Rice production should be increase continously in line with the increasing population of Indonesia. Therefore, it is important to improve the quality and quantity of the production of rice. Improvement in terms of quality through development of rice with high protein content, beside of its production. Protein content in rice grain be important because it serves as an essential nutrient that can be used in the growth and cell recovery. This research be conducted in the village Sokawera, district Baturaden, Banyumas Regency. The material used is a population of F3 results of crossing with G39 x Milky Rice and G39 x Ciherang. The results showed the highest protein content in population of crossing G39 x Milky Rice is amount 13.42%. and a crossing G39 x Ciherang is amount 13.05%. The value of the correlation of protein content with component output is -0.36. There is no relations between production rice and its protein content.
An Experiment In Breeding Cut Roses For The Indonesian Highlands D. P. de Vries; , Darliah; Lidwien A.M. Dubois
Zuriat Vol 11, No 2 (2000)
Publisher : Breeding Science Society of Indonesia (BSSI) / PERIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/zuriat.v11i2.6676

Abstract

BIOBREES is a co-operative scientific programme between Indonesia and The Netherlands, of which the rose part aims at breeding cut roses adapted to the tropical highland. Within that scope four direct plant characters of 62 cut rose genotypes in different physiological stages were studied. The genotypes originated from cross-breeding in 1995 and successive selection for cut rose properties in populations at Plant Research International, Wageningen, The Netherlands, in 1996. Plant stages stuAn died were (i) superior adult seedlings in Wageningen in 1996, (ii) clones grafted onto Natal Briar both in Wageningen and Cipanas in 1997. Clonal Plant Research International, Wageningen, Plant Research International, Wageningen, clonal plants in Cipanas had significantly shorter shoots, more thorns, smaller flowers and fewer petals than the adult seedlings in Wageningen. Clonal plants in Wageningen, however, had significantly longer shoots; more thorns, and larger flowers with more petals than the seedlings in Wageningen. Despite differences in level of expression, for each character the absence of genotype-location interaction was ascertained. The expression of characters as influenced by light (both quantitative and qualitative), temperature and cultivation is discussed in relation to selection of cut roses in the temperate zone, which are adapted to the tropical highland.
Variabilitas Genetik dan Heritabilitas Karakter Komponen Hasil dan Hasil Lima Belas Genotip Cabai Merah Anne Dhiane Lestari; Winny Dewi W.; Warid Ali Qosim; Mulyadi Rahardja; Neni Rostini; R. Setiamihardja
Zuriat Vol 17, No 1 (2006)
Publisher : Breeding Science Society of Indonesia (BSSI) / PERIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/zuriat.v17i1.6808

Abstract

Penelitian bertujuan untuk mengevaluasi variabilitas genetik dan heritabilitas karakter komponen hasil dan hasil lima belas genotip cabai merah. Percobaan dilaksanakan di Kebun Percobaan Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran Jatinangor, dari bulan Maret 1999 sampai 1999. Rancangan yang digunakan adalah rancangan acak kelompok dengan 15 genotip sebagai perlakuan dan diulang tiga kali. Variabilitas genetik yang luas terdapat pada karakter jumlah buah per tanaman, bobot per buah, panjang buah, diameter buah, dan umur berbunga, sedangkan karakter tinggi tanaman, jumlah bunga per tanaman, bobot buah per tanaman, dan umur panen memiliki variabilitas genetik yang sempit. Nilai duga heritabilitas yang tinggi terdapat pada karakter jumlah buah per tanaman, bobot per buah, diameter buah, dan umur berbunga. Karakter jumlah bunga per tanaman, panjang buah, bobot buah per tanaman, dan umur panen memiliki nilai duga heritabilitas sedang, sedangkan tinggi tanaman memiliki nilai duga heritabilitas rendah. Variasi dalam galur yang luas terdapat pada karakter tinggi tanaman, jumlah bunga per tanaman, jumlah buah per tanaman, bobot per buah, bobot buah per tanaman, dan umur berbunga, sedangkan karakter panjang buah, diameter buah, dan umur panen memperlihatkan variasi dalam galur yang sempit.
Seleksi Hibrida Jagung DR Unpad di Indonesia Berdasarkan Metode Eberhart - Russel dan AMMI Anggia E. P.; N. Rostini; Tri Hastini; E. Suryadi; S. Ruswandi; D. Ruswandi
Zuriat Vol 20, No 2 (2009)
Publisher : Breeding Science Society of Indonesia (BSSI) / PERIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/zuriat.v20i2.6641

Abstract

Uji multilokasi merupakan fase yang penting dalam menyeleksi hibrida yang stabil untuk lokasi yang luas dan untuk menyeleksi hibrida superior untuk lokasi spesifik. Untuk membandingkan dua metoda dalam menyeleksi hibrida superior dalam suatu uji multilokasi, yaitu Eberhart Russel dan Additive Main Effects and Multiplicative Interaction Model (AMMI model), sebelas hibrida diuji di delapan lokasi di Indonesia. Hasil penelitin memperlihatkan bahwa AMMI dapat memberikan lebih banyak informasi mengenai interaksi genetic dengan lingkungan (GEI) dibandingkan metoda Eberhart-Russel. AMMI model disarankan untuk digunakan sebagai alat analisis oleh Badan Pelepasan Varietas Nasional dalam merilis hibrida superior di Indonesia.
SIDIK JARI EMPAT VARIETAS JAGUNG HIBRIDA BESERTA TETUANYA BERDASARKAN MARKA MIKROSATELIT Marcia B. Pabendon; M. J. Mejaya; , Subandi; M. Dahlan
Zuriat Vol 16, No 2 (2005)
Publisher : Breeding Science Society of Indonesia (BSSI) / PERIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/zuriat.v16i2.6776

Abstract

Empat kultivar hibrida (Semar8, Semar9, Semar10, dan Bima1) bersama dengan tetua dari masing-masing hibrida (Mr4, Mr9, Mr10, Mr11, Mr12, Mr13, Mr-14, dan GM15), sebagai kultivar hibrida komersial di Indonesia, telah disidik jari dengan menggunakan 26 marka SSR. Tiga kultivar pertama merupakan hibrida hasil silang tiga jalur, sedangkan satu yang terakhir adalah hibrida silang tunggal. Tujuan penelitian ini adalah untuk megetahui kemurnian genetik hibrida-hibrida tersebut bersama tetua pembentuknya masing-masing. Hasil analisis klaster berdasarkan kemiripan Jaccard mengelompokkan inbrida ke dalam dua klaster, kecuali inbrida Mr13 dan Mr14 yang tidak masuk ke dalam salah satu dari kedua kedua klaster tersebut. Selanjutnya, berhasil diidentifikasi tiga galur tetua yang mempunyai tingkat heterosigositas 20% yaitu Mr9, Mr12, dan Mr13. Dari total 26 marka SSR yang dianalisis, terpilih 10 marka SSR (phi109275, phi96100, phi374118, phi072, phi109188, phi299852, phi328175, phi233376, phi065, and umc1196), yang mempunyai tingkat polimorfisme tinggi dan menyebar pada seluruh genom jagung, yang dapat dipertimbangkan untuk digunakan dalam sidik jari materi hibrida jagung yang lain. Semua galur tetua dalam penelitian ini dapat dibedakan secara jelas dengan menggunakan kesepuluh marka SSR tersebut. Berdasarkan hasil penelitian ini, marka SSR dapat dimanfaatkan dalam menentukan kemurnian genetik dan tingkat heterosigositas dari hibrida jagung beserta tetuanya.
Penampilan Fenotipik Tiga Populasi Mutan Kacang Tanah Hasil Seleksi pada Generasi Ke-Dua Tien Herawati; Achmad Baihaki; Agoes Moebarokah; Sadeli Natasismita
Zuriat Vol 1, No 1 (1990)
Publisher : Breeding Science Society of Indonesia (BSSI) / PERIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/zuriat.v1i1.6599

Abstract

Suatu penelitian telah dilaksanakan dalam rangka mengevaluasi pertumbuhan dan hasil tiga populasi mutan kacang tanah (Arachis hypogaea L.) hasil seleksi pada generasi ke-dua dan kultivar 'Macan' sebagai pembanding. Ketiga populasi mutan kacang tanah tersebut berasal dari kultivar 'Macan' yang diradiasi dengan sinar Gamma dengan dosis 15, 30, dan 45 Krad.Pengujian dilakukan dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan empat perlakuan mutan dan enam ulangan dilaksanakan di Lembang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa populasi mutan kacang tanah hasil seleksi generasi ke-dua yang berasal dari kultivar 'Macan' yang diradiasi dengan sinar Gamma dengan dosis 30 Krad mempunyai penampilan fenotipik terbaik pada tinggi tanaman, jumlah cabang per tanaman, jumlah polong isi per tanaman, jumlah biji per tanaman, bobot 100 biji, dan bobot biji per tanaman.
Genotype x Environment Interaction and Yield Stability of Several Yield Components Among Adapted Rice Cultivars in West Sumatra Aslim Rasyad; Azwir Anhar
Zuriat Vol 18, No 2 (2007)
Publisher : Breeding Science Society of Indonesia (BSSI) / PERIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/zuriat.v18i2.6699

Abstract

Genotype by environment (GE) interaction and genotype stability of a trait in rice (Oryza sativa L.) are very important for plant breeders in making decision regarding the development and evaluation of new cultivars as well as for farmers in selecting suitable cultivars to be planted for commercial purpose. Yield components including panicles number plant–1, number of grains panicle–1, 1000-grain weight, and grain yield of five locally adapted cultivars of rice were evaluated at three locations in West Sumatera. The data were used to determine GE interaction variance components and stability of the traits. There were significant effects of locations on yield and some yield components except number of panicles plant–1. The cultivars differed significantly in all yield components but not in grain yield. The influence of GE interaction was highly significant on all yield components and grain yield. The magnitude of GE interaction variance component was greater than that of location for all traits. These data suggested that genotypes performed differently among the locations and were not stable with respect to the locations, so that farmers should select a suitable cultivar to be grown in the area of production.
PENGARUH KONSENTRASI CO2 TERHADAP RESPON FOTOSINTESIS GENOTIPE KEDELAI YANG BERBEDA DALAM KAPASITAS BINTIL AKAR Mochamad Arief Soleh; Makie Kokubun
Zuriat Vol 22, No 1 (2011)
Publisher : Breeding Science Society of Indonesia (BSSI) / PERIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/zuriat.v22i1.6844

Abstract

Peningkatan konsentrasi CO2 [CO2] di atmosfer akan terus berlangsung sehingga akan mempengaruhi produksi tanaman di masa depan. Peningkatan [CO2] tersebut dapat meningkatkan laju fotosintesis tanaman, sekaligus mempengaruhi hasil tanaman khususnya pada tanaman dengan tipe fotosintesis C3 misalnya kedelai. Kedelai kultivar Enrei (normal-nodulation) dan kultivar Enb01 (super-nodulation) telah ditanam di dalam pot dan ditempatkan di dua rejim [CO2] yang berbeda yakni [CO2] normal (380 ppm) dan [CO2] tinggi (580 ppm). Tanpa melihat perbedaan genotipe, laju fotosintesis kedelai pada level jenuh PPFD (Photosynthetic Photon Flux Density) (1500 µmolm-2s-1) di rejim [CO2] tinggi cenderung lebih tinggi dibanding rejime [CO2] normal pada fase awal tumbuh (sebelum berbunga) 42 dan 57 hari setelah tanam (HST). Sedangkan laju fotosintesis kedelai di rejim [CO2] normal cenderung lebih tinggi pada fase dewasa (sedang berbunga) umur 76 HST. Hal ini memperlihatkan adanya penurunan laju fotosintesis (down-regulation) pada tanaman kedelai umur dewasa (76 HST) di rejim [CO2] tinggi. Hasil pengamatan fotosintesis pada umur 57 HST pada level PPFD yang berbeda (0-1500 µmolm-2s-1) memperlihatkan peningkatan laju fotosintesis seiring meningkatnya radiasi cahaya. Sedangkan laju fotosintesis pada umur dewasa (76 HST) menjadi stagnan seiring meningkatnya radiasi cahaya. Oleh karena itu rejime [CO2] tinggi menstimulasi penurunan laju fotosintesis tanaman kedelai pada umur dewasa (76 HST) yakni pada saat pembungaan. Perbedaan genotip kedelai dalam kapasitas bintil akar tidak menunjukkan pengaruh terhadap laju fotosintesis.
Determinasi Enam Kultivar Lokal Padi Ladang Asal Kendari yang Mengandung Tepungsari Berinti Satu (Uninucleate) Untuk Pemuliaan In Vitro , Suaib
Zuriat Vol 11, No 1 (2000)
Publisher : Breeding Science Society of Indonesia (BSSI) / PERIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/zuriat.v11i1.6667

Abstract

Percobaan ini dilakukan di Kebun Praktek dan Laboratorium Agronomi Fakultas Pertanian Universias Haluoleo, sejak April 1998 hingga Februari 1999. Tujuannya adalah ingin mengetahui hubungan antara umur tanaman enam kultivar lokal padi ladang asal Kendari dan panjang pemunculan malai dengan tepungsari berinti satu yang telah mencapai lebih dari 50% dalam populasi. Keenam kultivar tersebut adalah (1) Pae Kuni (PK), (2) Pae Dai Meeto (PD), (3) Pae Hulo (PH), (4) Pae Iku Laku (PL), (5) Pae Mornene (PM), dan (6) Pae Wila (PW). Setiap pengamatan digunakan tiga malai sebagai ulangan, dan masing-masing malai dibagi tiga bagian, yakni: (a)bagian ujung malai, (b)bagian tengah malai, dan (c)bagian pangkal malai. Setiap bagian digunakan tiga bulir sebagai sumber antera. Komposisi tingkat perkembangan tepungsari dalam antera masing-masing malai dicatat sebagai sifat yang diamati. Data yang diperoleh melalui pengukuran dan penghitungan selanjutnya ditabulasi, kemudian dianalisis secara rata rata dan persentase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa : (1)Pae Kuni (PK) tercapai pada umur 92 hari sesudah tanam (HST), malai berada dalam bungkusan maksimal kelopak daun bendera dan mengandung 77.55% tepungsari berinti satu, (2)Pae Dai Meeto (PD), tercapai pada 104 HST, malai berada dalam bungkusan maksimal kelopak daun bendera dan mengandung 78.94% tepungsari berinti satu, (3)Pae Hulo (PH) tercapai pada 95 HST, malai telah muncul sepanjang 1.50cm dan mengandung 84.50% tepungsari berinti satu, (4)Pae Iku Laku (PL) tercapai pada umur 118 HST, malai masih berada dalam bungkusan maksimal kelopak daun bendera dan mengandung 76.37% tepungsari berinti satu, (5)Pae Mornene (PM) tercapai pada umur 97 HST, malai telah muncul sepanjang 1.67cm dan mengandung 87.65% tepungsari berinti satu, dan (6)Pae Wila (PW) tercapai pada umur 117 HST, malai masih berada dalam bungkusan maksimal kelopak daun bendera, dan mengandung 81.25% tepungsari berinti satu.