cover
Contact Name
Ir. Farida Ariyani, M.Sc
Contact Email
jurnal.ppbkp@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnal.ppbkp@gmail.com
Editorial Address
-
Location
,
INDONESIA
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan
ISSN : 19079133     EISSN : 24069264     DOI : -
JPBKP is a scientific resulted from research activities on marine and fisheries product processing, food safety, product development, process mechanization, and biotechnology. Published by Research Center for Marine and Fisheries Product Processing and Biotechnology, Ministry of Marine Affairs and Fisheries twice a year periodically in Indonesian language.
Arjuna Subject : -
Articles 403 Documents
Isolasi dan Identifikasi Bakteri Penghasil Alginat Lyase dari Rumput Laut Sargassum crassifolium Subaryono Subaryono; Rosmawaty Peranginangin; Maggy Thenawidjaja Suhartono; Fransiska Rungkat Zakaria
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 10, No 1 (2015): Juni 2015
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v10i1.239

Abstract

Penelitian tentang isolasi dan identifikasi bakteri penghasil alginat lyase dari rumput laut coklat Sargassum crassifolium sudah dilakukan. Rumput laut didekomposisi selama 5 hari, dan bakteri dikultur dalam media luria bertani agar yang mengandung alginat 1 g/100 ml. Setelah diinkubasi selama 3 hari, bakteri yang tumbuh diisolasi dan diseleksi untuk mendapatkan isolat yang positif menghasilkan alginat lyase. Aktivitas alginat lyase ditandai dengan adanya zona bening di sekitar koloni setelah ditetesi dengan larutan 10% setil piridinium klorida. Hasil penelitian menghasilkan 4 isolat bakteri dengan indeks alginolitik tertinggi yaitu S245, S235, S155, dan S215. Identifikasi ke-empat isolat dilakukan secara morfologi, biokimia, dan genetik. Pelitian menunjukkan bahwa isolat S245 memiliki kemiripan dengan Bacillus megaterium, S235 memiliki kemiripan dengan Bacillus thuringiensis, S155 memiliki kemiripan dengan Bacillus cereus, dan S215 memiliki kemiripan dengan Bacillus pseudomycoides.
Isolasi Fukosantin dari Rumput Laut Coklat Padina australis dan Sitotoksisitasnya terhadap Sel MCF7 dan Sel Vero Muhammad Nursid; Dedi Noviendri; Lestari Rahayu; Virza Novelita
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 11, No 1 (2016): Juni 2016
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v11i1.237

Abstract

Fukosantin merupakan karotenoid laut yang banyak terdapat pada rumput laut coklat. Fukosantin memiliki potensi yang menjanjikan untuk diaplikasikan pada bidang kesehatan. Padina australis merupakan salah satu rumput laut coklat yang banyak mengandung fukosantin. Penelitian ini bertujuan untuk mengisolasi fukosantin dari rumput laut P. australis dan mengetahuisitotoksisitasnya terhadap sel lestari kanker MCF7 dan sel normal Vero. Isolasi fukosantin dilakukan dengan menggunakan kromatografi kolom SiO2. Identifikasi fukosantin dilakukan dengan menggunakan liquid chromatography ion trap time of flight mass spectrofotometer (LC-IT-ToF-MS) berdasarkan prof il serapan UV dan berat molekul. Uj i sitotoksik dilakukan dengan menggunakan uj i (3-(4,5-dimethylthiazol-2-yl)-2,5-diphenyltetrazolium bromide) (uj i MTT). Fukosantin berhasil diisolasi dari ekstrak kasar metanol. Fukosantin terkonfirmasi pada panjang gelombang maksimum (maks) 447 nm pada spektrum UV. Puncak monoisotopik ion molekul fukosantin terdeteksi pada nilai m/z 659,3612 [M+H]. Hasil uj i MTT memperlihatkan bahwa fukosantin dari P. australis memiliki sitotoksisitas terhadap sel MCF7 dengan nilai IC50 sebesar 34,7 µg/ml dan relatif tidak toksik terhadap sel normal Vero dengan nilai IC50 sebesar 1071,6 µg/ml.
Karakteristik Makanan Ringan Ekstrudat dari Kepala Udang Vannamei (Litopenaeus vannamei) Suryanti Suryanti; Sakinah Haryati; Achmad Noerkhaerin Putra; Rafika Heryana
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 13, No 1 (2018): Juni 2018
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v13i1.500

Abstract

AbstrakPengembangan penelitian produk makanan ringan ekstrudat dari kepala udang vannamei (Litopenaeus vannamei) telah dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik makanan ringan ekstrudat yang dihasilkan dengan penambahan kepala udang vannamei. Proses pembuatan makanan ringan ekstrudat terdiri dari persiapan bahan baku (pembuatan grit kepala udang, jagung dan beras) dan formulasi dengan tiga perlakuan konsentrasi kepala udang vannamei yaitu 0% (kontrol), 5% dan 10%. Proses pembuatan makanan ringan ekstrudat dilakukan menggunakan alat ekstruder berulir tunggal pada suhu ±160 oC. Parameter pengamatan yang dilakukan terhadap produk makanan ringan ekstrudat yang dihasilkan meliputi analisis proksimat, mikrobiologi (ALT dan E. coli), tekstur kekerasan, derajat putih, aktivitas air (aw), dan sensori. Hasil penelitian menunjukkan perlakuan 5% kepala udang vannamei memenuhi persyaratan makanan ringan ekstrudat berdasarkan SNI 2886:2015 dengan  kandungan protein 11,55% (bb), lemak 0,83% (bb) ALT 7,1x103  koloni/g dan E.coli negatif. Nilai tekstur kekerasan 324,13 g dalam waktu 10,67 detik, derajat putih 47,57% dan aw 0,7. Selain itu, hasil uji sensori menunjukkan perlakuan 5% kepala udang vannamei menghasilkan aroma dan rasa mendekati spesifik bau udang serta tekstur yang renyah.Characteristics of Extruded Snacks Food with the Addition of Vannamei Shrimp Head (Litopenaeus vannamei)Abstract Research on the development of extruded snacks food products with the addition of vannamei shrimp (Litopenaeus  vannamei) head has been conducted. This study aimed to determine the characteristics of extruded snacks food produced by the addition of vannamei shrimp head. The process of making extruded snacks consisted of preparation of raw material (preparation grits from vannamei shrimp head, corn and rice) and formulation with three treatments of vannamei shrimp head with concentration 0% (control), 5% and 10%. The process of making extruded snacks used a single screw extruder device at a temperature of ±160 oC. The observed parameters of extruded snacks products of proximate, microbiology (TPC and  E. coli), hardness, whiteness, water activity (aw), and sensory. The result showed that the concentration of vannamei shrimp head of 5% was met extruded snacks requirements according to SNI 2886:2015 with protein content of 11.55% (bb), fat 0.83%, TPC values of 7.1x103 colonies/g and negative E. coli. Hardness value was 324.13 g in 10.67second, whiteness 47.57% and  aw 0.7.  In addition, the result of sensory test showed that 5% of vannamei shrimp head treatment produced crispy texture and specific odor and taste.
Karakteristik dan Model Matematika Kurva Pengeringan Rumput Laut Eucheuma cottonii Diini Fithriani; Luthfi Assadad; Zaenal Arifin Siregar
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 11, No 2 (2016): Desember 2016
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v11i2.290

Abstract

Studi ini dimaksudkan untuk menginvestigasi karakteristik dan model matematika kurvapengeringan rumput laut  Eucheuma cottonii. Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakanuntuk perancangan alat pengering rumput laut yang efisien. Pengeringan E.cottonii dilakukandengan menggunakan alat pengering laboratorium terkendali yang dilengkapi dengan sistemakuisisi data dengan kecepatan udara 0,5 m/detik. Empat variasi RH yang dilakukan pada suhu50 °C adalah 30%, 40%, 50% dan 60% serta empat variasi suhu yang dilakukan pada RH 40%adalah 40 °C, 50 °C, 60 °C dan 70 °C. Tiga model pengeringan yang diuji adalah model Newton, Henderson & Pabis dan Page. Simulasi model yang paling tepat ditentukan berdasarkan nilai R2 yang paling tinggi, serta nilai  sum square error  (SSE) dan  root mean square error  RMSE yang paling rendah. Laju pengeringan lapis tipis rumput laut  E.cottonii umumnya berada pada periodelaju menurun. Hal ini sesuai dengan karakteristik pengeringan bahan-bahan biopolimer yang umumnya berlangsung dengan laju menurun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penurunan RH cukup efektif dalam menurunkan kadar air dibandingkan peningkatan suhu. Pada RH rendah yaitu 30% suhu 50 °C, penurunan kadar air 50% dicapai dalam waktu 80-85 menit jauh lebih cepat dari RH 60% suhu 50 °C yaitu 165-170 menit. Pada suhu tertinggi yaitu 70 °C RH 40%penurunan kadar air 50% dicapai dalam waktu 90 menit selisih 15 menit lebih cepat dibandingkan suhu terendah yaitu 40 °C RH 40%. Kajian ini mendapati model pengeringan  E.Cotonii yang paling sesuai adalah model pengeringan Page dengan nilai R2, R2 terkoreksi, SSE and RMSE berturut - turut sebesar 0,98-0,99 ; 0,96-0,98 ; 0,0002-0,0126 dan 0,0002- 0,0206.
Pembuatan Bakto Agar dari Rumput Laut Gelidium rigidum untuk Media Tumbuh bagi Mikroorganisme Murdinah murdinah; Dina Fransiska; Subaryono subaryono
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 3, No 1 (2008): Juni 2008
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v3i1.12

Abstract

Telah dilakukan penelitian tentang pembuatan bakto agar dari rumput laut Gelidium rigidum untuk media tumbuh bagi mikroorganisme. Pembuatan bakto agar dilakukan dengan variasi waktu ekstraksi yaitu 1, 2, dan 3 jam pada suhu 121°C dan tekanan 1,1 atm. Bakto agar dianalisis rendemen dan mutunya yang meliputi kadar air, kadar abu, kadar abu tak larut asam, kadar sulfat, kekuatan gel, pH, titik leleh, dan titik jendal. Uji mikrobiologi yang diamati meliputi angka lempeng total bakteri (ALT) dan diameter koloni. Dari hasil pengamatan diketahui bahwa bakto agar hasil ekstraksi dari rumput laut jenis Gelidium rigidum selama 2 jam mutunya menyamai bakto agar komersial, khususnya dari nilai kadar air, pH, kadar abu, kadar abu tak larut asam, kekuatan gel, serta kemampuannya menumbuhkan bakteri yang terdapat pada ikan segar dan kultur murni yaitu E. coli dan L. lactis. Tetapi dalam hal kadar sulfat, titik leleh, dan titik jendal masih di bawah mutu bakto agar komersial. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa waktu ekstraksi selama 2 jam menghasilkan bakto agar yang memenuhi standar bakto agar komersial dengan karakteristik kadar air 10,41%, kadar abu 2,1%, kadar abu tak larut asam 0,18%, kekuatan gel 670,72 g/cm2, dan pH 7,1.
Preface JPBKP Vol. 13 No. 2 Tahun 2018 JPBKP JPBKP
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 13, No 2 (2018): Desember 2018
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v13i2.576

Abstract

Pengaruh Penundaan Pengolahan terhadap Kandungan Histamin Ikan Lisong ( Scomber Australaskus Cv. ) Dwiyitno Dwiyitno; Subaryono Subaryono; Suryanti Suryanti
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 10, No 3 (2004): JPPI ed pasca panen
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v10i3.361

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk melihat pengaruh penundaan pengolahan terhadap kandungan histamin ikan lisong (Scomber australasicus CV). Penundaan pengolahan dilakukan pada suhu kamar dan suhu rerdah (es). Pada suhu kamar, penundaan dilakukan selama 16 jam dengan pengamatan setiap 2 jam sekali, sedangkan penundaan pada suhu rendah menggunakan es di dalam coolbox selama 16 hari dengan pengamatan setiap 2 hari sekali. Parameter yang diamati meliputi kadar air, histamin, total volatile base (TVB) dan organoleptik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penundaan pada suhu kamar berpengaruh nyata terhadap peningkatan kandungan histamin, namun tidak demikian pada penundaan dengan es. Pada suhu kamar kadar histamin meningkat dari 75,7 mg/1 00 g menjadi 280,5 mg/1 00 g pada jam ke 16, sedangkan pada penundaan dengan es hanya meningkat menjadi 104,2 mg/100 g setelah hari ke‑10. Perlakuan penundaan pada suhu kamar maupun dengan es berpengaruh nyata terhadap nilai TVB ikan, yaitu pada suhu kamar TBV meningkat dari 26,4 mgN/100 g menjadi 54,3 mgN/100 g pada jam ke 16, sementara pada perlakuan dengan es menjadi 62,7 mgN/1 00 g pada hari ke 16. Pertumbuhan bakteri pembentuk histamin pada suhu kamar lebih cepat dibandingkan pada perlakuan dengan es. Pada awal penelitian jumlah bakteri 2,4 x 104 koloni/g dan meningkat menjadi 2,8 x 108 koloni/g pada perlakuan suhu kamar jam ke‑16, sedangkan pada perlakuan dengan es jumlah bakteri tertinggi pada hari ke‑8 yaitu 8,7 x 104 koloni/g. Pada suhu kamar ikan sudah ditolak oleh panelis pada jam ke‑12, sedangkan pada perlakuan dengan es pada hari ke­10,
Aplikasi Alginat sebagai Bahan Pengental pada Pencapan Batik Ellya Sinurat; Murdinah Murdinah
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 2, No 1 (2007): Juni 2007
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v2i1.28

Abstract

ABSTRAKUntuk mengetahui kemampuan natrium alginat hasil ekstraksi rumput laut jenis Sargassum filipendula sebagai bahan pengental pada pencapan batik, telah dilakukan serangkaian percobaan dan pencapan. Tahap awal telah dilakukan uji bahan baku alginat hasil ekstraksi dari Sargassum filipendula dan alginat komersial. Hasil analisis menunjukkan bahwa alginat hasil ekstraksi mempunyai viskositas 232 cPs (konsentrasi 1,5% b/v), pH 6,7, kadar air 6,21%, kadar abu 24,47%, derajat putih 22,45%, zat tak larut 2,1%; sedangkan hasil analisis alginat komersial menunjukkan viskositas 100 cPs (konsentrasi 1,5% b/v), pH 7,2, kadar air 10,41%, kadar abu 32,82%, derajatputih 29,50% dan zat tak larut 1,23%. Alginat hasil percobaan diaplikasikan pada pencapan batik dengan variasi konsentrasi 2,0%, 2,5%, 3,0% dan 3,5%, sedangkan alginat komersial konsentrasinya adalah 3,0%. Pencapan batik ini menggunakan bahan kain selulosa dengan zat pewarna reaktif. Pengujian yang dilakukan meliputi ketajaman motif, ketuaan warna, kekakuankain, ketahanan luntur warna terhadap gosokan dan ketahanan luntur warna terhadap pencucian. Dari hasil pengujian tersebut diketahui bahwa alginat hasil percobaan dengan konsentrasi 2,5% mempunyai mutu yang sama dengan alginat komersial.
Komposisi Nutrisi Rumput Laut Calcareous Halimeda opuntia pada Lingkungan Perairan Indonesia Nurhayati Nurhayati; Siti Nurbaity Kartika Apriani; Rodiah Nurbayasari; Murdinah Murdinah
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 12, No 1 (2017): Juni 2017
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v12i1.291

Abstract

AbstrakHalimeda opuntia merupakan rumput laut Chlorophyta berkapur yang memiliki kandungan nutrisi untuk pangan fungsional. Namun, pergeseran komposisi nutrisi dapat terjadi akibat perubahan lingkungan akibat limpasan nutrien dan bahan organik lainnya yang umum terjadi di perairan pesisir Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan identifikasi pergeseran kandungan nutrisi H. opuntia yang tumbuh di zona intertidal agar dapat digunakan sebagai dasar pemilihan lokasi pengambilan bahan baku H. opuntia untuk produk fungsional. Pengambilan sampel dilakukan di empat lokasi perairan di Indonesia, yaitu perairan Binuangeun (Banten), Lampung Selatan, Lombok Timur (Nusa Tenggara Barat) dan Konawe Selatan (Sulawesi Tenggara). Karakteristik nutrisi dari rumput laut target meliputi kadar air, abu, protein, lemak, karbohidrat, dan serat kasar. Informasi lingkungan dari habitat sampel ditunjukkan melalui variabel kimia air yaitu DO, pH, salinitas, pCO2, kalsium aragonit, nitrogen anorganik terlarut, serta fosfat anorganik terlarut. Hasil analisis menunjukkan kondisi lingkungan eutrofik berpengaruh secara signifikan terhadap komposisi nutrisi H. opuntia. pH dan salinitas menjadi faktor determinan positif (R2 = 0,75 pada p<0,05) terhadap kadar karbohidrat, sementara nitrogen anorganik terlarut menjadi faktor determinan negatif terhadap kadar protein dan lemak (R2= 0,81 dan 0,61 pada p<0,05). Berdasarkan kandungan nutrisinya, maka H. opuntia yang diperoleh dari habitat alamiah merupakan bahan baku produk fungsional yang  lebih baik dibandingkan dengan biota selaras dari perairan eutrofik. Nutritional Composition of Calcareous Seaweed of  Halimeda opuntiain Indonesian Water EnvironmentAbstractHalimeda opuntia is a calcareous Chlorophyta that contains nutritional value as functional food. However, nutritional composition may shift as the effect of environmental changes by nutrient and other organic run-off that commonly happened in Indonesian coastal waters. This research aims to identify the nutritional composition shift in H. opuntia that lived at intertidal zones, as a baseline for location consideration to get the raw material of H. opuntia for functional food products development. H. opuntia samples were collected from Binuangeun (Banten), South Lampung, East Lombok (NTB), and South Konawe (South East Sulawesi) waters. Nutritional value of targeted seaweed was characterized by moisture, ash, protein, fat, carbohydrate, and crude fiber. The environmental condition was accessed for DO, pH, salinity, pCO2 , calcium aragonite, dissolved inorganic nitrogen (nitrate and ammonia), and dissolved inorganic phosphate. Results of the study showed that the eutrophic environment affecter significantly to nutritional composition of H. opuntia. pH and salinity positively determined the content of carbohydrate (R2 = 0.75 at p<0.05). Moreover, dissolved inorganic nitrogen negatively determined to the content of protein and fat. (R2 = 0.81 and 0.61 at p<0.05). Therefore, based on the nutritional composition, it may suggest the H. opuntia that lived in the natural environment will be more prospective as functional product raw material than similiar organisms living in eutrophic waters.
Ekstraksi dan Karakterisasi Kolagen Larut Asam dari Kulit Ikan Nila (Oreochromis niloticus) Nurhayati Nurhayati; Tazwir Tazwir; Murniyati Murniyati
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 8, No 1 (2013): Juni 2013
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v8i1.56

Abstract

Kulit ikan nila dapat diolah menjadi kolagen yang dapat meningkatkan nilai tambah kulit ikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perbedaan konsentrasi asam terhadap karakteristik kolagen yang dihasilkan. Ekstraksi kolagen dilakukan melalui perendaman dalam asam asetat dengan dua variasi konsentrasi yaitu 0,5 dan 1,5 M. Parameter yang diamati yaitu gugus fungsi, komposisi asam amino, suhu denaturasi, dan kemampuan mengembang kolagen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan asam asetat 0,5 M memiliki komposisi asam amino dan suhu denaturasi yang lebih tinggi dibandingkan perlakuan asam asetat 1,5 M. Namun demikian, kolagen pada perlakuan asam asetat 1,5 M ternyata memiliki kemampuan mengembang lebih cepat (15 menit) dibandingkan perlakuan asam asetat 0,5 M (60 menit). Sementara itu, spektra FTIR menunjukkan kolagen yang diperoleh dari kedua perlakuan memiliki karakteristik yang sama. Berdasarkan karakteristik kolagen yang diperoleh dengan dua perlakuan ekstraksi, perlakuan asam asetat 0,5 M menunjukkan hasil yang lebih baik dibanding 1,5 M.

Filter by Year

2003 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 20, No 1 (2025): Juni 2025 Vol 19, No 2 (2024): Desember 2024 Vol 19, No 1 (2024): Juni 2024 Vol 18, No 2 (2023): Desember 2023 Vol 18, No 1 (2023): Juni 2023 Vol 17, No 2 (2022): Desember 2022 Vol 17, No 1 (2022): Juni 2022 Vol 16, No 2 (2021): Desember 2021 Vol 16, No 1 (2021): Juni 2021 Vol 15, No 2 (2020): Desember 2020 Vol 15, No 1 (2020): Juni 2020 Vol 14, No 2 (2019): Desember 2019 Vol 14, No 1 (2019): Juni 2019 Vol 14, No 1 (2019): Juni 2019 Vol 13, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 13, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 13, No 1 (2018): Juni 2018 Vol 13, No 1 (2018): Juni 2018 Vol 12, No 2 (2017): Desember 2017 Vol 12, No 2 (2017): Desember 2017 Vol 12, No 1 (2017): Juni 2017 Vol 12, No 1 (2017): Juni 2017 Vol 11, No 2 (2016): Desember 2016 Vol 11, No 2 (2016): Desember 2016 Vol 11, No 1 (2016): Juni 2016 Vol 11, No 1 (2016): Juni 2016 Vol 10, No 2 (2015): Desember 2015 Vol 10, No 2 (2015): Desember 2015 Vol 10, No 1 (2015): Juni 2015 Vol 10, No 1 (2015): Juni 2015 Vol 9, No 2 (2014): Desember 2014 Vol 9, No 2 (2014): Desember 2014 Vol 9, No 1 (2014): Juni 2014 Vol 9, No 1 (2014): Juni 2014 Vol 8, No 2 (2013): Desember 2013 Vol 8, No 2 (2013): Desember 2013 Vol 8, No 1 (2013): Juni 2013 Vol 8, No 1 (2013): Juni 2013 Vol 7, No 2 (2012): Desember 2012 Vol 7, No 2 (2012): Desember 2012 Vol 7, No 1 (2012): Juni 2012 Vol 6, No 2 (2011): Desember 2011 Vol 6, No 2 (2011): Desember 2011 Vol 6, No 1 (2011): Juni 2011 Vol 6, No 1 (2011): Juni 2011 Vol 5, No 2 (2010): Desember 2010 Vol 5, No 2 (2010): Desember 2010 Vol 5, No 1 (2010): Juni 2010 Vol 5, No 1 (2010): Juni 2010 Vol 4, No 2 (2009): Desember 2009 Vol 4, No 2 (2009): Desember 2009 Vol 4, No 1 (2009): Juni 2009 Vol 4, No 1 (2009): Juni 2009 Vol 3, No 2 (2008): Desember 2008 Vol 3, No 2 (2008): Desember 2008 Vol 3, No 1 (2008): Juni 2008 Vol 3, No 1 (2008): Juni 2008 Vol 2, No 2 (2007): Desember 2007 Vol 2, No 2 (2007): Desember 2007 Vol 2, No 1 (2007): Juni 2007 Vol 2, No 1 (2007): Juni 2007 Vol 1, No 2 (2006): Desember 2006 Vol 1, No 2 (2006): Desember 2006 Vol 1, No 1 (2006): Juni 2006 Vol 1, No 1 (2006): Juni 2006 Vol 11, No 4 (2005): JPPI Ed Pascapanen Vol 11, No 4 (2005): JPPI Ed Pascapanen Vol 10, No 3 (2004): JPPI ed pasca panen Vol 10, No 3 (2004): JPPI ed pasca panen Vol 9, No 5 (2003): JPPI ed pasca panen Vol 9, No 5 (2003): JPPI ed pasca panen More Issue