cover
Contact Name
Agus Mailana
Contact Email
agus.mailana@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
agus.mailana@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Al - Tadabbur: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir
ISSN : 24069582     EISSN : 25812564     DOI : -
Core Subject : Education, Social,
Al-Tadabbur: Jurnal Ilmu Al-Quran dan Tafsir: is a peer review of a national journal published by the Tarbiyah Department of Al Hidayah Islamic High School in Bogor in an Islamic Education study program. This journal focuses on issues of Qur'anic science and interpretation.
Arjuna Subject : -
Articles 188 Documents
TEKNIK INTERPRETASI DALAM TAFSIR AL QUR’AN DAN POTENSI DEVIASI PENERAPANNYA MENURUT ILMU DAKHIL Afroni, Sihabbudin
Al - Tadabbur: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol 3, No 01 (2018)
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Al Hidayah Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1015.082 KB) | DOI: 10.30868/at.v3i01.256

Abstract

ABSTRACTThis paper describes the classification of interpretation, especially in terms of methods and techniques of interpretation. The methods and techniques that emerged in this study ofthe science of interpretation is very diverse and starting point on the tendency and interestof the scholar of the interpreter. Also presented are other factors of the emergence ofvarious methods and styles of interpretation known in the study of the science of Tafsir.Variations and differences of interpretation is a necessity but it does not mean the Qur'an isfree of interpretation. A mufassir must be bound by the rules of interpretation proposed bythe 'ulama. But sometimes carelessness of the mufassir in accepting secondary texts orother non-selective causes can potentially lead to irregularities and errors in interpretation.Ijtihad they are influenced by the ability of capability, linguistic knowledge, interest instudy, text references, flow affiliation, customs, methods and techniques of differentinterpretations make misinterpretation difficult to avoid. Erroneous interpretation is theobject of science research Dakhil. Globally the author introduces in this paper the Dakhilscience methodology. Writing this paper using a qualitative method approach that comesfrom various books relating to the above problems. The author attempts to explain hisanalysis exposively in order to explain or provide insight into the topics covered.ABSTRAK Makalah ini memaparkan klasifikasi tafsir terutama dari sisi metode dan teknikinterpretasi. Metode dan teknik yang muncul dalam penelitian ilmu tafsir ini sangatberagam dan bertitik tolak pada kecenderungan dan minat keilmuan sang penafsir.Dipaparkan pula faktor-faktor lain dari munculnya beragam metode dan corak tafsir yangdikenal dalam penelitian ilmu Tafsir. Variasi dan perbedaan tafsir adalah suatu keniscayaannamun bukan berarti Al-Qur‟an bebas tafsir. Seorang mufassir mesti terikat dengan kaidahkaidahpenafsiran yang dikemukakan ulama. Namun terkadang kecerobohan mufassirdalam menerima teks-teks sekunder atau sebab-sebab lain yang tidak selektif itulah yangdapat berpotensi menimbulkan penyimpangan dan kekeliruan dalam penafsiran. Ijtihadmereka dengan dipengaruhi oleh kemampuan daya tangkap, pengetahuan bahasa, minatkajian, referensi teks, afiliasi aliran, adat istiadat, metode dan teknik inetrpretasi yangberbeda menjadikan kekeliruan tafsir sulit untuk dihindari. Kekeliruan Tafsir inilah yangmenjadi objek penelitian ilmu Dakhil. Secara global penulis mengenalkan dalam makalahini metodologi ilmu Dakhil tersebut. Penulisan makalah ini menggunakan pendekatanmetode kualitatif yang bersumber dari berbagai buku yang berkaitan dengan permasalahandi atas. Penulis berupaya menjelaskan analisisnya secara eksposisi dengan tujuan untukmenjelaskan atau memberikan pengertian topik yang dibahas. Keywords: Tafseer Classification, Interpretation Method, Interpretation Technique,Technique, Linguistics, Systemic, Socio Historical, Science Dakhil.
KONSEP ULAMA MENURUT AL-QUR'AN (Studi Analitis atas Surat Fathir Ayat 28) Wahidin, Ade
Al - Tadabbur: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol 1, No 01 (2014): Al-Tadabbur: Jurnal Ilmu Al-Quran dan Tafsir Vol 1 No. 01 Juli 2014
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Al Hidayah Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (950.045 KB) | DOI: 10.30868/at.v1i01.168

Abstract

Pada  awalnya,  Islam  disampaikan  langsung  oleh  Rosululloh   yang  kapasitasnya  sebagai  penyampai  risalah   dari  Alloh   melalui malaikat  Jibril    Sepeninggal  Rosulullah   ,  yang  pertama   kali menyambut  tongkat  estafeta  penyebarannya   tiada   lain  adalah   para sahabat  Rosululloh, yang kemudian dilanjutkan  oleh generasi-generasi setelahnya.   Dalam   Islam  orang-orang   yang  menyampaikan  risalah tersebut lazim dikenal dengan sebutan ulama. Kedudukan ulama dalam Islam sangatlah  fundamental dan strategis.  Karena  eksistensinya dapat memberikan konsistensi bagi penyebaran agama Islam ke seluruh penjuru dunia. Akan tetapi, signifikansi posisi ini tidak lagi diiringi dengan realita sosok ulama yang sejalan dengan konsepsinya di awal keislaman. Apalagi saat  ini, yang dominasi kehidupannya terus  tergerus  oleh gaya  hidup hedonisme,  materialisme  dan  liberalisme,  maka  untuk  mencari  sosok ulama  yang ideal  sangatlah  sulit. Karena  idealisme al-Qur’an  tentang ulama  adalah  yang  memiliki karakteristik  al-khasysyah  (takut  kepada Alloh), sebagaimana yang disebutkan secara eksplisit dalam surat Fathir ayat 28. Kata Kunci: Ulama menurut al-Qur’an, al-Khasysyah
PENERAPAN KAIDAH LA NAHYU PADA JUZ 30: ANALISIS MUHAMMAD KHALID AL-SABITH Moh Saepudin, Dindin
Al - Tadabbur: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol 4, No 01 (2019)
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Al Hidayah Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1251.16 KB) | DOI: 10.30868/at.v4i01.350

Abstract

para ahli Usul baik dalam Fiqih maupun tafsir terdapat perbedaan paham mengenai al-Nahyu  yang bermakna hakiki yaitu al-Tahrim(التحريم) atau bermakna Majazi, yang mempunyai beberapa makna seperti Doa (الدعاء), Iltimas(التمس) , Irshad (ارشاد), Dawam (دواما), Bayan al-’Aqibah (بيان العقبه) , al-yais(اليأس)  , Tamanni (التمني), Tahdiid, (تهديد), Kara<hah  (الْكَرَاهَةُ), Tahqir (تحقير) , I’tinas الإئتناس)) dan Taubikh  (توبخ). Penggunaan Nahyu  lebih ditekankan pada syariat-syariat Islam dan operasional hukum, sedangkan pemaknaan Nahyu  pada masalah akidah, keimanan dan moral masih jarang dilakukan, oleh karena itu penulis berupaya menganalisis La Nahyu   dengan pendekatan kaidah Muhammad Khalid al-Sabith dalam karya Qawaid al-Tafsir pada Juz 30 yang merupakan surat Makiyyah, yang terulang 29 kali pada  Surat al-Naba: 24(2),35(2),37,38, al-infitar :19, al-Inshiqaq:20, 21, al-‘Ala: 6, 13(2), al-Ghashiyyah :7(2),11, 17, al-Fajr:17, 18, 25,26, al-Balad:11, al-Shams:15, al-Lail:15, al-Duha:9,10, al-‘Alaq:19, al-‘Adiyat:9, al-Maun:3, al-Kafirun:2, Selain itu kelebihan  Hasil penelitian menujukkan bahwa penggunaan kaidah Nahyu  Usman Bin sabit yaitu kaidah satu digunakan pada 6 ayat, kaidah empat pada 17 ayat, dan kaidah lima pada 5 ayat, sedangkan makna La Nahyu  yang bermakna hakiki terulang 4 kali  yang bermakna al-Tahrim, sedangkan makna majazi terulang 25 kali dengan makna  taubikh 4 kali, bayan al-‘aqibah 15 kali, al-yais(اليأس) 1 kali, Dawam (دواما) 2 kali, Tahqir (تحقير)  1 kali, dan Irshad (ارشاد) 2 kali. Hal terebut menunjukkan bahwa ayat-ayat Makiyyah tidak menyinggung masalah hukum syariat tetapi menekankan kepada keimanan, akidah dan moral universal,
TOLERANSI MENURUT SYEKH ‘ABDURRAHMAN BIN NASHIR AL-SA’DI DALAM KITAB TAFSIR TAISIR AL-KARIM AL-RAHMAN FI TAFSIR AL-KALAM AL-MANNAN Huda, M Thoriqul; Luthfiah, Luthfiah
Al - Tadabbur: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol 4, No 01 (2019)
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Al Hidayah Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1402.081 KB) | DOI: 10.30868/at.v4i01.390

Abstract

Perbedaan merupakan hal yang bersifat tetap dan terus menerus. Manusia merupakan hayawan nathiq (makhluk berakal) tentu memiliki pemikiran dan pendapat masing-masing mengenai suatu hal. Seperti realita yang ada, manusia memiliki berbagai macam bahasa, budaya, tradisi, dan agama. Lingkungan yang berbeda membuat mereka memiliki perbedaan-perbedaan. Tanpa perbedaan, hidup tidak akan berwarna, hanya begitu-begitu saja, serta, tidak ada hikmah yang dapat dipetik. Dengan perbedaan, manusia bisa mempelajari sesuatu yang tidak dimilikinya tapi dimiliki orang lain. Kemudian mencoba menghargai dan tidak menjadikannya sebagai pembatas dalam pergaulan sosial. Agama adalah suatu jalan menuju kebenaran. Di dalamnya terdapat langkah-langkah yang telah terkonsep sedemikian rupa untuk dijalankan oleh penganutnya. Pemeluk suatu agama meyakini kebenaran ada pada agamanya masing-masing. Hal tersebut alami, sebab pada dasarnya manusia itu membanggakan apa yang mereka miliki. Termasuk dalam masalah agama yang telah turun-temurun menjadi kepercayaan suatu kaum. Setiap agama mengajarkan pada kebaikan dan melarang pada kejelekan. Tidak ada agama yang mengajarkan umatnya untuk berbuat jahat kepada sesama, hingga terjadi permusuhan atau pertikaian. Agama apapun di dunia ini mengarahkan umatnya untuk menjalani kehidupan dengan sejahtera. Islam sebagai agama yang merupakan salah satu agama yang diberkahi kitab samawi juga tidak lepas tangan mengenai urusan perbedaan antar umat beragama. Melalui firman-firman Allah yang tertera dalam kitab-Nya, umat islam diberi pengetahuan tentang sikap-sikap dalam bersosialisasi dengan umat agama yang lain. Islam dikenal sebagai rahmat bagi seluruh alam. Ajarannya membawa kemaslahatan tidak hanya bagi pemeluknya, tapi juga selainnya. Jika ditemukan pemeluknya yang tidak membawa rahmat, maka sebenarnya agama yang dia pegang hanya sebagai formalitas tanpa ada penghayatan.Kata kunci: Toleransi, tafsir al-Sa’di
AL-MUSYTARAK AL-LAFZY MENDEKONTRUKSI ARGUMEN TAFSIR TEKSTUAL Luqman, Luqman
Al - Tadabbur: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol 4, No 01 (2019)
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Al Hidayah Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (991.174 KB) | DOI: 10.30868/at.v4i01.427

Abstract

Faktor utama paham radikalisme adalah tekstual dalam memahami ajaran agama. Sebuah pendekatan dalam memahami agama yang berorientasi pada teks semata, menafsirkan teks al-Qur’an dan hadits hanya berdasar pada teks secara literal dan skriptual. Upaya dekontruksi pemikiran tekstual sudah banyak dilakukan, hususnya dengan pendekatan kontekstual. Sebuah pendekatan dalam memahami teks agama dengan memperhatikan konteks sosio kultur, situasi kondisi, waktu dan tempat diturunkan. Tetapi usaha ini kurang bisa diterima di kalangan madzhab tekstualis, karena berseberangan dengan prinsip mereka. Menurut mereka, argumen teks tidak bisa dirobohkan dengan konteks, karena keduanya merupakan prinsip yang berbeda dan berseberangan. Salah satu yang dapat mendekontruksi argumen tekstual mereka adalah kaidah-kaidah teks juga, di antaranya kaidah al-musytarak al-lafd}zi yang sejak generasi awal  para mufassir telah meletakkan fondasi dasarnya. Seperti apakah kaidah al-musytarak al-lafd}zi ini?. Bagaimana kaidah ini dapat mendekontruksi paham tekstual ini?. Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini dilakukan kajian yang menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan cara mamaparkan data yang berasal dari kajian pustaka kemudian ditarik kesimpulan umum.Hasil kajian ini membuktikan kaidah al-musytarak al-lafd}zi dapat menganalisa makna teks agama secara komprehensif. Yaitu dengan memahami makna lafadz dari akar bahasa secara holistik, satu kata memiliki makna ganda, terulang di banyak posisi yang memiliki arti yang berbeda-beda, menggambarkan sebuah makna teks secara komprehensif dan integral. Salah satu pemahaman yang banyak mengalami distorsi adalah memaknai terminologi jihad dan qital. Kaum tekstualis mengenalisis arti jihad dengan perang senjata dan kekerasan fisik semata. Menghimpun ayat-ayat jihad yang bermakna qital dan mengingisolasinya seolah jihad hanya berarti qital dan perang melawan musuh. Al-Musytarak al-lafd{i meganalisa kata jihad secara mengakar yang memiliki arti luas. Kata jihad dalam al-Qur’an minimal memiliki tiga sisi makna; jihad qouli yaitu arti jihad dalam bentuk ucapan dan ajakan dakwah, jihad qita>li  yaitu jihad yang memiliki dimensi konfrontasi fisik perang melawan musuh, dan jihad ‘amali, yaitu dimensi jihad yang mengedepankan amal shalih dan tindakan kongkrit sebagai solusi berbagai problematika umat. Kajian ini bagian dari upaya dekontruksi pemikiran tekstualis dengan menggunakan instrumen yang mereka gunakan. Kata kunci: radikalisme Islam, tekstual, al-musytarak al-lafd}zi, jihad.
PEMBERIAN ASI PADA ANAK DALAM PERSPEKTIF AL-QUR`AN Asnawati, Asnawati; Bafadhol, Ibrahim; Wahidin, Ade
Al - Tadabbur: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol 4, No 01 (2019)
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Al Hidayah Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (877.358 KB) | DOI: 10.30868/at.v4i01.429

Abstract

Menyusui merupakan salah satu langkah pertama bagi seorang manusia untuk mendapatkan kehidupan yang sehat dan sejahtera, namun sebagian ibu salah memahami bahwa susu-susu yang tersedia di pasar lebih bagus daripada air susu mereka sendiri. Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan dengan menggunakan metode tafsir tematis dan menjadikan al-Qur`an dan terjemahnya sebagai sumber primer dan melengkapinya dengan sumber sekunder yang diambil dari kitab tafsir, kitab-kitab hadits, buku-buku ilmiah yang memiliki relevansi dengan pembahasan. Dalam Al-Qur`an Allah telah menegaskan kelangsungan penyusuan ini selama dua tahun penuh. Masa dua tahun ini merupakan rentang waktu emas ditinjau dari segala sisi kesehatan dan kejiwaan bagi bayi, yakni terdapat dalam Qs. al-Baqarah [2]: 233, Qs. Luqman [31]: 14 dan Qs. al-Ahqaf [46]: 15. Pemberian ASI sangat berperan dalam pemenuhan nutrisi bayi sehingga dapat meningkatkan kekebalan tubuh bayi. Dengan menyusui dapat mencegah 1/3 kejadian infeksi saluran pernapasan atas (ISPA), kejadian diare dapat turun 50% dan penyakit usus parah pada bayi premature dapat berkurang kejadiannya sebanyak 58% sedangkan pada ibu, resiko kanker payudara juga dapat menurun 6-10%.Kata Kunci: ASI, Tafsir, Ibnu Katsir
ISRA MI’RAJ SEBAGAI PERJALANAN RELIGI: STUDI ANALISIS PERISTIWA ISRA MI’RAJ NABI MUHAMMAD MENURUT AL QUR’AN DAN HADITS Zakaria, Aceng
Al - Tadabbur: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol 4, No 01 (2019)
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Al Hidayah Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (654.989 KB) | DOI: 10.30868/at.v4i01.428

Abstract

Tulisan ini mendiskusikan kejadian unik dan langka dalam sejarah kehidupan manusia di muka bumi. Allah S.W.T. berkehendak menunjukkan kekuasaan-Nya kepada para penentang utusan-Nya Muhammad S.A.W., Sejak zaman Rasulullah S.A.W. sampai sekarang masih banyak orang yang mempermasalahkan dan memperbincangkan tentang kebenaran peristiwa Isra‟ Mi‟raj, walaupun sudah jelas dan nyata diterangkan oleh Allah S.W.T. dalam Al-Qur‟an dan Hadits Rasulullah S.A.W. Adapun masalah yang diangkat dalam tulisan ini adalah apa makna dari Isra' Mi' raj. Bagaimana pendapat para ulama tafsir dan hadits tentang lsra' Mi'raj itu sendiri. Selanjutnya apakah peristiwa tersebut dijalankan dengan jasad dan ruh ataukah hanya dengan ruhnya saja? Kemudian, apa hikmah dan faidah dari peristiwa Isra' Mi' raj tersebut? Untuk menjawab beberapa pertanyaan tersebut penulis melakuakan studi analisis terhadap ayat dan juga hadits yang menjelaskan tentang Isra‟ dan Mi‟raj dengan menggunakan pendekatan tafsir dan sirah nabawiyyah (sejarah nabi). Dari hasil kajian ini maka dapat disimpulkan di antaranya, bahwa Isra‟Mi‟raj adalah perjalanan Nabi Muhammad S.A.W. di waktu malam hari dari Masjid Al-Haram (Mekkah) ke Masjid Al-Aqsha (Palestina) yang telah difirmankan oleh Allah S.W.T. dalam Al-Qur‟an Surat Al-Isra‟ Ayat 1. Sedangkan Mi‟raj adalah naiknya Nabi Muhammad S.A.W. dari Masjid Al-Aqsha ke langit sampai ke Sidratul Muntaha terus sampai ke tempat yang paling tinggi untuk menghadap Allah S.W.T., sebagaimana dijelaskan dalam Surat An-Najm Ayat 13-18 dan diriwayatkan dalam banyak hadits shahih.
KONSEP ASBÂB AL-NUZUL DALAM ‘ULUM AL-QURAN Munjin, Shidqy
Al - Tadabbur: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol 4, No 01 (2019)
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Al Hidayah Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1081.504 KB) | DOI: 10.30868/at.v4i01.311

Abstract

Abstract : The Quran is not a book that goes down in a vacuum culture. The Qur'an always comes down to answer all the problems. So every verse that descends, must be understood as the context or challenges it faces. In 'ulûm al-qurân this problem is called asbâb al-nuzûl.This paper attempts to explain various scholars' views on the science of asbâb al-nuzûl and some information about the technical application of ayat. This paper provides enough evidence that the ‘ilm of asbâb al-nuzûl that has been compiled by the scholars from generation to generation can be called established and comprehensive.Key Word : al-Quran, ‘ulûm al-Qurân, asbâb al-nuzûl. Abstrak : Al-Quran bukanlah kitab yang turun dalam keadaan vakum budaya. Al-Quran selalu turun untuk menjawab semua problem yang ada. Maka setiap ayat yang turun, harus difahami sebagaimana konteks atau tantangan yang sedang dihadapinya. Dalam ‘ulûm al-qurân permasalahan ini disebut dengan asbâb al-nuzûl.Tulisan ini mencoba menerangkan berbagai pandangan ulama mengenai ilmu asbâb al-nuzûl serta beberapa keterangan mengenai teknis penerapannya terhadap ayat. Tulisan ini cukup memberikan bukti bahwa ilmu asbâb al-nuzûl yang telah disusun oleh para ulama dari generasi ke generasi sudah bisa disebut mapan dan komprehensif.Kata Kunci : al-Quran, ‘ulûm al-Qurân, asbâb al-nuzûl.
QIRA’AT AL QURAN: Studi Khilafiyah Qira’ah Sab’ah Yusup, Bahtian
Al - Tadabbur: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol 4, No 02 (2019): Al-Tadabbur: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Al Hidayah Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (414.226 KB) | DOI: 10.30868/at.v4i02.475

Abstract

Al-Qur?an sebagai petunjuk untuk umat manusia, selalu dikaji sejak zaman klasik sampai modern sekarang ini dalam berbagai aspeknya. Mulai dari aspek sejarah turunnya, sejarah pembukuannya, penafsirannya, aspek kandungan maknanya, aspek gramatikanya sampai pada aspek cara membacanya qira?at. Qira,at adalah bentuk jamak dari qira,ah yang artinya bacaan. Sedangkan menurut istilah bahwa qira,at adalah merupakan metode atau cara baca lafadz atau kalimat di dalam al-Qur?an dari berbagai macam segi (riwayat), sebagaimana yang telah diriwayatkan langsung dari Rasulullah saw. Secara kuantitas qiraat terbagi menjadi 3 bagian yang terkenal diantaranya, Qira?at sab?ah, Qira?at asyrah dan Qiraat Arba?ah Asyrah sedangkan secara kualitas sebagai berikut, mutawatir,masyhur, ahad, syadz, mudraj, maudlhu. Manfaat dari adanya khilafiyah Qira?at yang utamanya adalah Tetap terjaganya kitab Allah dari perubahan dan penyimpangan, dan memudahkan untuk Qira?ah.Kata Kunci : Qira?at Al Quran, Qira?at Sab?ah
KONSEP ILMU DALAM AL-QUR’AN: Studi Tafsir Surat Al-Mujadilah Ayat 11 dan Surat Shaad Ayat 29 Suryati, Ai; Nurmila, Nina; Rahman, Chaerul
Al - Tadabbur: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol 4, No 02 (2019): Al-Tadabbur: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Al Hidayah Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (367.275 KB) | DOI: 10.30868/at.v4i02.476

Abstract

 Pengetahuan yang didapatkan melaui belajar baik secara formal, informal maupun non-formal yang tujuannya adalah menjadikan manusia mempunyai derajat yang tinggi (iman dan Ilmu) baik disisi manusia lebih-lebih pada sisi-Nya. Ilmu akan melahirkan kesopanan, santun dan menjadikan diri bisa bertoleransi (berlapang-lapang) dalan menuntut ilmu dan berpendapat dan sikap. Tulisan ini membahas tentang konsep ilmu dalam pendidikan al-Qur?an berdasarkan surah Al-Mujadalah ayat 11. Surat Shaad ayat 29 mejelaskan kepada kita bahwa tujuan Allah menurunkan al-Quran adalah agar manusia dapat mengambil pelajaran, hikmah dari al-quran dengan mentadabburi makna-makna yang terkandung di dalam al-Quran sehingga menjadi petunjuk bagi manusia dalam menjalankan kehidupan di dunia dan bekal kehidupan akhirat.

Page 4 of 19 | Total Record : 188