cover
Contact Name
Eggy Fajar Andalas
Contact Email
andalaseggy@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
andalaseggy@gmail.com
Editorial Address
Institute of Culture, University of Muhammadiyah Malang Jl. Raya Tlogomas No. 246 Malang
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial
ISSN : 25808567     EISSN : 2580443x     DOI : 10.22219
Core Subject : Humanities, Art,
Satwika (Kajian Budaya dan Perubahan Sosial) publishes scientific papers on the results of studies/research and reviews of the literature in the fields of cultural studies and social change. The journal is oriented towards research on cultural phenomena and the current social changes. With the aim of dialogue in contemporary socio-cultural conditions, journals encourage cultural analysis and social change that challenge ideological modes and share inequitable justice, contribute to broad theoretical debates, and help stimulate new and progressive social involvement.
Arjuna Subject : -
Articles 16 Documents
Search results for , issue "Vol. 6 No. 2 (2022): Oktober" : 16 Documents clear
Tradisi Pemilikan Keramik di dataran tinggi Jambi: Asal-usul dan pemanfaatannya Nainunis Aulia Izza; Nugrahadi Mahanani; Ari Mukti Wardoyo Adi
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 6 No. 2 (2022): Oktober
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v6i2.18908

Abstract

Dataran Tinggi Jambi dalam perspektif arkeologi memiliki kedudukan penting. Jejak peradaban periode neolitik hingga masuknya Islam ditemukan di berbagai sudut wilayah Bukit Barisan. Masyarakat yang terbentuk saat ini diduga kuat merupakan kelanjutan dari komunitas yang telah ada ribuan tahun. Bukti tersebut tampak dari adanya berbagai pusaka adat Masyarakat Kerinci berupa benda-benda perunggu dari kebudayaan Dong-Son. Secara etnografi, masyarakat yang tinggal di dataran tinggi Jambi, seperti Kerinci dan Merangin juga dianggap memiliki kebudayaan yang khas serta unik. Salah satu keunikan tersebut dapat dilihat dari adanya tradisi pemilikan keramik. Tradisi pemilikan keramik kuno oleh masyarakat tersebut disinyalir memiliki hubungan erat dengan tradisi pemanfaatan benda-benda kuno sebagai pusaka adat. Fungsi, peranan, serta asal usul keramik yang dimiliki masyarakat tersebut tentunya perlu dikaji lebih mendalam untuk menguatkan asumsi dasar ini. Oleh karena itu, penelitian yang akan dilakukan ini berupaya untuk mengungkapkan aspek-aspek tersebut. Penelitian mengenai ini akan dilakukan dengan pendekatan etnoarkeologi. Metode yang akan digunakan adalah observasi dan wawancara terbuka. Hasil penelitian menunjukkan keramik yang dikoleksi mayoritas berasal dari Eropa, khususnya Belanda dan beberapa lainnya berasal dari China. Keramik di Dataran Tinggi Jambi merupakan salah satu objek yang diwariskan dan beberapa diantaranya menjadi salah satu sarana ritual. Tradisi pemilikan keramik berlangsung antar generasi, yaitu pewarisan dari ibu kepada anak-anak perempuannya.           Jambi Highlands has a significant role from an Archaeological perspective. Archaeological remains from the neolithic period to the Islamic period are traceable in various corners of the Bukit Barisan area. The current society is born to be generations of a community that has existed for thousands of years. One of the pieces of evidence is the existence of various traditional heirlooms of the Kerinci people in the form of bronze objects from the Dong-Son culture. Based on the Ethnographical perspective, people in the Jambi Highlands, such as Kerinci and Merangin have a unique and exclusive culture. The uniqueness can be proven in the tradition of ceramic ownership. The tradition of ownership of old ceramics by the community is indicate to have a close relationship with the tradition of using ancient objects as traditional heirlooms. The function, role, and origin of ceramics owned by the community is an important topic for research. This research uses an ethnoarchaeological approach. The researcher will do observation and open interviews. The results show that most of the ceramics collected are European ceramics, especially from the Netherlands and several ceramics from China. Jambi Highlands ceramics are one of the objects that are inherited and some of them become a ritual objects. The tradition of owning ceramics is inter-generations, from mothers to their daughters.
Pergeseran prosesi dan makna dalam tradisi Merti Dusun di desa wisata budaya Dusun Kadilobo Astin Eka Tumarjio; Muhammad Iqbal Birsyada
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 6 No. 2 (2022): Oktober
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v6i2.21503

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi adanya pergeseran dan penurunan tradisi upacara Merti Dusun  seperti penurunan kepercayaan, faktor ekonomi dan perubahan pola pikir masyarakat dalam memaknai prosesi tradisi. Tujuan dari penelitian ini adalah umtuk mengetahui: (1) Bagaimanakah  prosesi upacara Merti Dusun Kadilobo Kecamatan Pakem dan makna tradisi Merti Dusun. (2) Hal-hal apakah  yang menyebabkan penurunan prosesi dan makna tradisi Merti Dusun di Dusun Kadilobo. (3) Apakah ada pergeseran prosesi dan makna dalam tradisi Merti Dusun di Dusun Kadilobo. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif studi kasus. Teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara observasi langsung, wawancara mendalam, dan dokumetasi. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan.  Pengecekan keabsahan data penelitian menggunakan  triangulasi teori Struktural Fungsional dari Talcott Parsons untuk menganalisis temuan  hasil penelitian. Hasil penelitian ini menujukkan bahwa: (1) Merti Dusun merupakan upacara tradisi masyarakat di Dusun Kadilobo yang memiliki makna filosofis sebagai wujud terima kasih dan rasa syukur kepada Allah (2) Adanya penurunan pada prosesi dan makna kuantitas pada tradisi isi karena disebabkan oleh antusias warga yang mulai berkurang. Selain itu lemahnya ekonomi dan pemahaman serta proses internalisasi budaya menjadi salah satu pemicu menurannya tradisi tersebut. Hal lainnya adalah berkenaan dengan kendala pembagian tugas kepanitiaan serta munculnya pola pikir masyarakat yang lebih modern (3) Pergeseran pada prosesi dan makna mengakibatkan berubahnya prosesi Merti Dusun pada setiap tahunnya. Perubahan dan pergeseran makna menjadikan pemahaman baru bagi masyarakat bahwa tradisi Merti Dusun tidak menjadi suatu hal yang harus dilaksanakan secara besar-besaran. The background of this research is that there are shifts and declines in the Merti Dusun ceremonial tradition such as a decline in belief, economic factors and changes in mindset. The purpose of this study was to find out: (1) The Merti Dusun Kadilobo ceremony procession, Pakem District and the meaning of the Merti Dusun tradition. (2) Things that cause a decline in procession and meaning the Merti Dusun tradition in Dusun Kadilobo. (3) Is there a shift in the procession and meaning in the Merti Dusun tradition in Dusun Kadilobo. The method used in this research is a case study qualitative research method. Data collection techniques were carried out by direct observation, in-depth interviews, and documentation. Data analysis techniques used in this research are data reduction, data presentation and conclusion drawing. Data validity check using the Structural Functional theoretical conception of Talcott Parsons to analyze and find the results of the study. The results of this study show that: (1) Merti Dusun is a traditional ceremony of the people in Kadilobo Hamlet which has a philosophical meaning as a form of gratitude and gratitude to God (2) There is a decrease in procession and meaning quantity in the tradition of content because it is caused by the enthusiasm of the residents who are starting to decrease. In addition, the weakness of the economy and understanding and the process of internalizing culture is one of the triggers for the decline of the tradition. Another thing is related to the obstacles in the division of committee tasks and the emergence of a more modern society mindset. (3) The shift in procession and meaning has resulted in changes in the Merti Dusun procession every year. Changes and shift in meaning create a new understanding for the community that the Merti Dusun tradition is not something that must be carried out on a large scale.  
Perubahan pola kehidupan masyarakat adat: Studi etnografi pada masyarakat Dayak Ribun di sekitar perkebunan kelapa sawit Parindu Kabupaten Sanggau Armia Rizki Adinda Adinda; Arkanudin Arkanudin; Desca Thea Purnama; Ignasia Debbye Batualo
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 6 No. 2 (2022): Oktober
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v6i2.21523

Abstract

Keberadaan perkebunan kelapa sawit telah mengurangi luas hutan, sehingga memunculkan keberadaan Dayak Ribun yang melihat hutan sebagai basis utama untuk memenuhi kebutuhan mereka. Berbagai bentuk perilaku lahir dan mendorong perubahan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memperjelas perubahan pola hidup masyarakat adat Dayak Ribun sebelum dan sesudah adanya perkebunan kelapa sawit. Keberadaan kawasan perkebunan membuat kehidupan di Dayak Ribun menjadi pola yang belum muncul di masa lalu. Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Parindu, Kabupaten Sangau, Kalimantan Barat dengan menggunakan metode etnografi. Pengumpulan data lapangan menggunakan teknik observasi, wawancara mendalam, dan live-in di kawasan Dayak Ribun. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perubahan pola hidup masyarakat Dayak Ribun terjadi dalam berbagai dimensi. Perubahan pola peran keluarga, perubahan hak milik, perubahan pola morfologi dan kondisi rumah, serta perubahan tradisi dan agama, perubahan pola bahasa, perubahan pola seni, perubahan pola pakaian (fashion), dan perubahan pola konsumsi. Dari aspek perubahan gaya hidup, cara pandang dan arah penilaian memiliki sesuatu akan berubah, dan akan dirasakan bukan sebagai pelengkap belaka, tetapi sebagai pengakuan status sosial atau peningkatan status sosial. Perubahan sosial yang terjadi dalam masyarakat menunjukkan adanya korelasi antara perubahan dalam satu dimensi dan perubahan pada dimensi lainnya.   The existence of oil palm plantations has reduced the forest area, thus giving rise to the existence of the Dayak Ribun who see the forest as the main base to meet their needs. Various forms of behavior are born and encourage change. The purpose of this study is to clarify the changes in the lifestyle of the Dayak Ribun indigenous people before and after the existence of oil palm plantations. The existence of plantation areas makes life in the Dayak Ribun a pattern that has not appeared in the past. This research was conducted in Parindu District, Sangau Regency, West Kalimantan using ethnographic methods. Field data collection using observation techniques, in-depth interviews, and live-in in the Dayak Ribun area. The results of this study indicate that changes in the lifestyle of the Dayak Ribun community occur in various dimensions. changes in the pattern of family roles, changes in property rights, changes in morphological patterns and housing conditions, as well as changes in tradition and religion, changes in language patterns, changes in art patterns, changes in clothing patterns (fashion), and changes in consumption patterns. From the aspect of lifestyle changes, the perspective and direction of the assessment of having something will change, and it will be perceived not as a mere complement, but as an acknowledgment of social status or an increase in social status. Social changes that occur in society show a correlation between changes in one dimension and changes in other dimensions.
Agama dan ritual: Dinamika konflik Dusun Mangir Lor Sendangsari Pajangan Muhammad Khidir Baihaqi; Muhammad Iqbal Birsyada
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 6 No. 2 (2022): Oktober
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v6i2.21657

Abstract

Menurut Dahrendorf dimasyarakat terdapat dua sisi, yakni konflik dan consensus, sehingga konflik adalah hal yang lumrah terjadi di masyarakat akibat dari hubungan psikologis dengan hubungan antagonis yang memiliki tujuan yang berbeda dan akhirnya tidak dapat menjadi satu karena perbedaan pendapat tersebut. Konflik yang terjadi di Mangir Lor adalah konflik antar umat beragama yakni  antara umat Hindu Paguyuban Padma Buana dan Umat Islam Dusun Mangir Lor yang terjadi pada tahun 2019. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengungkap permasalahan terjadinya konflik di Mangir di mana setiap narasumber memiliki cerita versi yang berbeda tentang konflik ini. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode kualitatif deskriptif analisis. Pengumpulan data dengan cara observasi lapangan, wawancara, dokumentasi, dan studi Pustaka. Analisa data yang peneliti lakukan meliputi: reduksi data, penyajian data, dan verifikasi (kesimpulan). Hasil penelitian ini menjawab bahwa konflik yang terjadi di Mangir Lor pada tahun 2019 karena adanya miskomunikasi antara ibu Utiek Suprapti dengan masyarakat Mangir Lor. Masyarakat beranggapan ritual piodalan yang diselenggarakan oleh Ibu Utiek adalah sesat, karena para tamu yang diundang ibu Utiek beragam agama, seperti: Hindu, Budha, Nasrani, Islam, dan aliran kepercayaan. Kesimpulan dari penelitian, penyebab konflik di Mangir Lor  yang paling mencolok adalah karena kurangnya komunikasi dari Ibu Utiek dengan masyarakat yang pada akhirnya menimbulkan  konflik.    According to Dahrendorf in society there are two sides, namely conflict and consensus, so thatk onflik is a common thing that occurs in society due to psychological relationships with antagonistic relationships that have different goals and ultimately cannot become one because of these differences of opinion. The conflict that occurred in Mangir Lor was a conflict between religious people, namely between hindus of Padma Buana Community and Muslims of Mangir Lor Hamlet which occurred in 2019. The purpose of this study is to uncover the problem of conflict in Mangir where each source has a different version of the story about this conflict. The method used in this study is a descriptive qualitative method of analysis. Data collection by means of field observations, interviews, documentation, and literature studies. The data analysis that the researcher conducts includes: data reduction, data presentation, and verification (conclusion). The results of this study answer that the conflict that occurred in Mangir Lor in 2019 was due to a miscommunication between Utiek Suprapti's mother and the Mangir Lor community. People think that the piodalan ritual  organized by Mrs. Utiek is heretical, because the guests invited by Mrs. Utiek are of various religions, such as: Hinduism, Buddhism, Christianity, Islam, and religious traditions.  In conclusion from the researcher, the cause of the conflict in Mangir Lor was because of thenon-establishment of the openness of the communityi kasi from Mrs. Utiek with the community finally a conflict arose.
Tren ngopi di Jakarta: Analisis rekomendasi kedai kopi pada akun Instagram Narita Pratiwi; Maria Regina Widhiasti
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 6 No. 2 (2022): Oktober
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v6i2.21740

Abstract

Berdasarkan rekam jejak digital, jumlah kedai kopi di Jakarta mengalami peningkatan sejak tahun 2015. Peningkatan ini menjadi indikasi bahwa kedai kopi bukan hanya dijadikan sebagai tempat untuk menikmati kopi melainkan untuk bertemu teman, mengerjakan tugas, maupun untuk sekedar berfoto. Kedai kopi dijadikan sebagai ruang yang merepresentasikan tren pada gaya hidup urban. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis tren ngopi di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi dengan menyelidiki unggahan konten rekomendasi kedai kopi dari akun Instagram @jakartacoffeespot. Dengan menganalisis secara tekstual 262 unggahan @jakartacoffeespot dalam kurun waktu 2 tahun terlihat pola penamaan dengan campuran Bahasa Indonesia dengan bahasa asing yang menegaskan interaksi budaya global-lokal. Selain itu, hasil analisis menunjukkan hegemoni maskulinitas yang diartikulasikan melalui desain industrial dan warna gelap yang mendominasi gaya arsitektur kedai kopi di Jakarta dan sekitarnya pada kurun waktu 2019-2021. Dua temuan penelitian ini memperlihatkan identitas penduduk urban yang multikultural dan didominasi oleh karakteristik maskulinitas.   Based on digital track records, the number of coffee shops in Jakarta has increased since 2015. This is an indication that coffee shops are not only used as a place to enjoy coffee but a place to meet friends, do assignments, or just take pictures. Coffee shops are used as a space that represents trends in urban lifestyles. This article aims to analyze coffee trends in Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, and Bekasi by investigating the uploads of coffee shops recommendation contents from the @jakartacoffeespot Instagram account. By using textual analysis, 262 uploads of @jakartacoffeespot within a period of 2 years are analyzed. It is found that there are patterns of coffee shops’ naming using a combination of Indonesian and foreign languages. ​​This emphasizes global-local culture interactions. In addition, the analysis also shows the hegemonic masculinity which is articulated through industrial designs and dark colors that dominate the architectural style of coffee shops in Jakarta and its surroundings in the 2019-2021 period. The findings of this study show that urban societies are multicultural and dominated by masculinity characteristics.
Dalam pusaran dompet digital: Praktik konsumsi dompet digital di kalangan kaum muda kontemporer Siti Umaiyah
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 6 No. 2 (2022): Oktober
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v6i2.21780

Abstract

Sebagai salah satu kelompok sosial, kaum muda kontemporer mencoba menunjukkan identitas khas dan perbedaan mereka  dengan kelompok lain di masyarakat. Salah satu caranya yakni melalui tindakan konsumsi. Dompet digital yang merupakan layanan yang memanfaatkan teknologi terkini turut digunakan untuk mengomunikasikan identitas tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menelisik lebih jauh mengenai praktik konsumsi dompet digital di kalangan kaum muda kontemporer. Menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi, penelitian ini berusaha untuk membedah mengenai  bagaimana kaum muda kontemporer memaknai konsumsi dompet digital dalam kehidupan sehari-hari. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara dan observasi dengan mengambil sejumlah informan dari wilayah DI Yogyakarta. Hasil penelitian menunjukan bahwa konsumsi dompet digital yang dilakukan oleh kaum muda kontemporer tidak sekadar diambil nilai gunanya, melainkan juga untuk mengomunikasikan identitas mereka, mencari pengalaman bersenang-senang, hingga digunakan untuk masuk ke dalam pergaulan sosial.   As a social group, contemporary youth try to show their distinctive identity and differences from other groups in society. One way is through the act of consumption. Digital wallets or e-wallets, which are technology services are also used to communicate this identity. This study further investigates the practice of digital wallet consumption among contemporary youth.  Using a qualitative method with a phenomenological approach, this study seeks to dissect how contemporary young people interpret digital wallet consumption in their daily lives.  Data collection techniques were carried out through interviews and observations by taking several informants from the DI Yogyakarta region.  The study results show that the consumption of digital wallets by contemporary youth is not only taken for its usefulness but also to communicate their identity, seek fun experiences, and be used to enter into social interactions.
Akseptasi modernitas beragama Orang Dayak di Kampung Nyarumkop Donatianus BSE Praptantya; Diaz Restu Darmawan; Jagad Aditya Dewantara; Efriani Efriani; Agus Yuliono
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 6 No. 2 (2022): Oktober
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v6i2.22165

Abstract

Kampung Nyarumkop sebagai pusat persekolahan misi Gereja Katolik, telah merepresentasikan modernitas dalam kehidupan orang Dayak. Dengan demikian, penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan aspek akseptasi, bentuk, dan pola akseptasi orang dayak terhadap agama mondial. Penelitian ini menggunakan pendekatan antropologi budaya dengan prosedur etnografis. Selama 6 bulan kami melakukan observasi, wawancara mendalam, dan studi literatur, terhadap fenomena akseptasi agama mondial yakni Agama Katolik di tengah orang Dayak. Penelitian ini mengungkap akseptasi terhadap Agama Katolik oleh orang Dayak, terjadi karena terdapatnya domain psikologi, domain sosial dan domain budaya yang memiliki aspek keterbukaan terhadap hal-hal baru di luar diri mereka. Keterbukaan tiga domain ini mendorong orang Dayak di Kampung pada modernitas yang tampak dalam gejala global village dan Detradisionalisasi.   Nyarumkop village as the center of the Catholic Church's mission schooling has represented modernity in the life of the Dayak people. Thus, this study aimed to describe the aspects of the acceptance, form, and pattern of acceptance of the Dayak people towards the mondial religion. This research has used a cultural anthropological approach with ethnographic procedures. For six months we have conducted observations, in-depth interviews, and literature studies, on the phenomenon of acceptance of the mondial religion, namely Catholicism among the Dayak people. This research has revealed that the acceptance of Catholicism by the Dayak people occurs because of the psychological domain, social domain and cultural domain which have an aspect of openness to new things outside of themselves. The openness of these three domains has pushed the Dayak people in Kampung to modernity which can be seen in the symptoms of global village and detraditionalization.
Tingkat preferensi wanita obesitas pada busana kerja berbahan kain tradisional lurik Putri Marganing Utami; Sri Wening; Emy Budiastuti; Moh. Adam Jerusalem
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 6 No. 2 (2022): Oktober
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v6i2.22207

Abstract

Obesitas menjadi masalah tersendiri bagi wanita yang bekerja kantor, sebab mereka kesulitan mendapatkan busana yang cocok untuk dirinya. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) menghasilkan busana kerja berbahan lurik untuk wanita obesitas, (2) mengetahui tingkat preferensi wanita obesitas pada busana kerja berbahan lurik. Jenis penelitian ini merupakan penelitian Research & Development dengan desain 4D. Subjek penelitiannya adalah dosen dan karyawan di lingkungan Fakultas Teknik UNY. Instrumen yang digunakan angket tertutup. Teknik analisis data yang dilakukan adalah statistik deskriptif. Penelitian ini menghasilkan busana kerja berbahan lurik dengan penempatan motif pada bagian sisi secara vertikal, berbahan katun dan berwarna gelap. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat preferensi wanita obesitas pada busana kerja berbahan lurik paling besar pada aspek pemilihan siluet busana yaitu 28,90%, kemudian pemilihan warna 23%, diikuti pemilihan bahan 20,60%, pemilihan motif 14,5% dan yang terakhir adalah pemilihan tekstur sebesar 13%. Busana kerja berbahan lurik dapat menjadi pilihan yang tepat untuk menciptakan visual badan yang lebih ramping sehingga diharapkan menjadi solusi untuk wanita obesitas untuk meningkatkan rasa percaya diri. Wanita obesitas dapat menggunakan model busana kerja tersebut sebagai solusi agar penampilannya terlihat lebih menarik.                                  Obesity is a problem for women who work in an office, because they have difficulty getting clothes that fit them. This study aims to: (1) produce work clothes made of striated for obese women, (2) determine the level of preference of obese women on work clothes made of striated. This type of research is a Research & Development research with a 4D design. The research subjects were lecturers and staff at the Faculty of Engineering, UNY. The instrument used was a closed questionnaire. The data analysis technique used was descriptive statistics. This research produces work clothes made of striated with the placement of motifs on the sides vertically, made of cotton and dark in color. The results showed that the level of preference for obese women in work clothes made of striated was greatest in the aspect of choosing a fashion silhouette, namely 28.90%, then color selection 23%, followed by material selection 20.60%, motif selection 14.5% and the last is texture selection by 13%. Work clothes made of striated can be the right choice to create a slimmer body visual so that it is expected to be a solution for obese women to increase their self-confidence. Obese women can use the work dress model as a solution to make their appearance look more attractive.
Nilai-nilai karakter budaya Belis dalam perkawinan adat masyarakat Desa Benteng Tado Kabupaten Manggarai Barat Nusa Tenggara Timur Heri Kurnia; Felisia Lili Dasar; Intan Kusumawati
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 6 No. 2 (2022): Oktober
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v6i2.22300

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakang oleh perubahan sistem perkawinan adat yang menggunakan belis di desa Benteng Tado. Budaya belis menjadi beban ekonomi bagi masyarakat karena sudah bergeser dari makna aslinya yang juga berpengaruh pada perubahan pembentukan karakter masyarakatnya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui  praktik pelaksanaan budaya belis, makna budaya belis dan nilai-nilai karakter yang terkandung dalam budaya belis. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif. Teknik analisis data dilakukan dengan cara reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Informan dalam penelitian ini adalah tokoh adat, tokoh masyarakat (guru), kepala desa, dan masyarakat yang pernah pernah terlibat langsung dalam pelaksanaan budaya belis. Tempat penelitian dilakukan di Desa Benteng Tado. Hasil penelitian menunjukan bahwa: proses pelaksanaan budaya belis dilakukan melalui 3 tahap yaitu (1) pra pernikahan: karong salang, cumang tau ata tua, tukar kila, turuk empo, (2) pernikahan: ngo ba paca, wagal, (3) pasca pernikahan: podo, curu/ roko, gerep ruha. Makna budaya belis bagi masyarakat desa Benteng Tado adalah sebagai bentuk penghargaan terhadap perempuan dan untuk membalas jasa orang tua dan keluarga perempuan. Dari hasil penelitian mengenai budaya belis sebagai kearifan lokal, teridentifikasi 18 nilai-nilai karakter kehidupan yang terkandung dalam budaya belis pada perkawinan adat di Desa Benteng Tado. Nilai-nilai kehidupan tersebut berketerkaitan dengan seluruh dimensi pembentuk karakter yaitu: nilai religius, nilai jujur, nilai toleransi, nilai disiplin, nilai kerja keras, nilai kreatif, nilai mandiri, nilai demokratis, nilai rasa ingin tahu, nilai semangat kebangsaan, nilai cinta tanah air, nilai menghargai prestasi, nilai bersahabat/komunikatif, nilai cinta damai, nilai gemar membaca, nilai peduli lingkungan, nilai peduli sosial, dan nilai tanggung jawab.   This research was motivated by changes in the traditional marriage system that used belis in the village of Fort Tado. Belis culture is an economic burden for the community because it has shifted from its original meaning which also has an effect on changing the formation of the character of its society. The purpose of this study is to determine the practice of implementing belis culture, the meaning of belis culture and character values contained in belis culture. This research uses descriptive qualitative methods. Data analysis techniques are carried out by means of data reduction, data presentation and drawing conclusions. Informants in this study are traditional leaders, community leaders (teachers), village heads, and communities who have been directly involved in the implementation of belis culture. The place where the study was conducted in the Village of Benteng Tado. The results showed that: the process of implementing belis culture was carried out through 3 stages, namely (1) pre-marriage: karong salang, cumang tau ata tua, tukar kila, turuk empo, (2) marriage: ngo ba paca, wagal, (3) post-wedding: podo, curu/ roko, gerep ruha. Makna belis culture  for the people of Fort Tado village is as a  form of appreciation for women and to repay the services of women's parents and families. From  the results of research on belis culture as local wisdom, 18 life character values contained in belis culture were identified in traditional marriages in Benteng Tado Village. These life values are related to all character-forming dimensions, namely: religious  values, honest values, tolerance values, discipline values, hard work values, creative values, independent values, democratic values,  the value of curiosity, the value of the spirit of nationality, the value of love for the homeland, the value of appreciating achievements, the  value  of friendly / communicative, the value of peace-loving, the value of love of reading, the value of caring for the environment, the value of caring for the environment, the value of respecting achievements, the value of friendly/communicative, the value of peace-loving, the value of love to read, the value of caring for the environment, the value of caring for the environment, the value of value  social care, and the value of responsibility.
Analisis perilaku konsumsi melalui gaya hidup pada usia remaja Ratna Fitri Astuti; Vitria Puri Rahayu; Mustangin Mustangin; Ritma Ratri Candra Dewi; Rosyidah Rahmaniah
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 6 No. 2 (2022): Oktober
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v6i2.22313

Abstract

Mahasiswa yang saat ini masih tergolong pada usia remaja akhir di Kota Samarinda memiliki gaya hidup yang tinggi terutama masalah penampilan karena cenderung mengikuti tren, namun hal ini tidak didukung oleh pendapatan yang memadai serta belum mandirinya mahasiswa secara finansial. Penelitian ini bertujuan untuk menjabarkan lebih rinci bagaimana perilaku konsumsi yang dilakukan individu terutama diusia remaja jika dilihat dari gaya hidup yang dijalani. Jenis penelitian yang dilakukan adalah deskriptif kualitatif, teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah reduksi data, penyajian data, serta menarik kesimpulan. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa mahasiswa di kota Samarinda sebagian besar suka berbelanja, suka bergaul dan juga suka untuk berlibur, tetapi mahasiswa juga memiliki motif berkonsumsi pada pembelian produk bermanfaat. Hal tersebut ditunjukkan oleh gaya hidup mahasiswa yang berorientasi pada pemenuhan kebutuhan untuk menunjang pendidikan. Gaya hidup mahasiswa lebih berorientasi pada masa depan, sehingga membuat mahasiswa dalam bertindak memiliki banyak pertimbangan termasuk pada perilaku konsumsinya. Dapat disimpulkan bahwa gaya hidup mahasiswa di kota Samarinda adalah gaya hidup yang senang berbelanja namun tetap dibarengi dengan pertimbangan yang matang terkait kebermanfaatan produk.                            Students who are currently still classified as late teens in Samarinda City have a high lifestyle, especially appearance problems because they tend to follow trends, but this is not supported by adequate income and students are not financially independent. This study aims to describe in more detail how consumption behavior is carried out by individuals, especially at the age of teenagers when viewed from the lifestyle they live. The type of research conducted is descriptive qualitative, data analysis techniques used in this study are data reduction, data presentation, and drawing conclusions. Based on the results of the study, it is known that students in Samarinda city mostly like shopping, like to hang out and also like to go on vacation, but students also have a consumption motive for buying useful products. This is indicated by the student's lifestyle which is oriented towards meeting the needs to support education. The student's lifestyle is more future-oriented, so that students have a lot of considerations in their actions, including their consumption behavior. It can be concluded that the student lifestyle in the city of Samarinda is a lifestyle that loves to shop but is still accompanied by careful considerations regarding the usefulness of the product.

Page 1 of 2 | Total Record : 16