cover
Contact Name
Eggy Fajar Andalas
Contact Email
andalaseggy@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
andalaseggy@gmail.com
Editorial Address
Institute of Culture, University of Muhammadiyah Malang Jl. Raya Tlogomas No. 246 Malang
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial
ISSN : 25808567     EISSN : 2580443x     DOI : 10.22219
Core Subject : Humanities, Art,
Satwika (Kajian Budaya dan Perubahan Sosial) publishes scientific papers on the results of studies/research and reviews of the literature in the fields of cultural studies and social change. The journal is oriented towards research on cultural phenomena and the current social changes. With the aim of dialogue in contemporary socio-cultural conditions, journals encourage cultural analysis and social change that challenge ideological modes and share inequitable justice, contribute to broad theoretical debates, and help stimulate new and progressive social involvement.
Arjuna Subject : -
Articles 26 Documents
Search results for , issue "Vol. 9 No. 1 (2025): April" : 26 Documents clear
Second Instagram accounts: A study of Generation Z's Self-Identity in Medan Ahmad Gifari Alamsyah; Ayeisha Ardelisma; Andhika Nugraha; Miftahul Jannah
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 9 No. 1 (2025): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v9i1.38102

Abstract

This study investigates the role of secondary Instagram accounts in the self-identity representation of Generation Z in Medan City, employing a qualitative phenomenological approach based on Erving Goffman's dramaturgical theory. The primary aim of this research is to elucidate how Generation Z articulates their self-identity through secondary Instagram accounts. Data were collected through observations, interviews, and documentation, and data analysis encompassed reduction, presentation, and conclusion formulation. The findings indicate that the utilization of a secondary Instagram account signifies an effort to delineate private and public life within the digital sphere, thereby affording individuals the opportunity to express themselves more authentically and unencumbered by societal expectations. However, the maintenance of dual accounts also poses challenges, such as difficulties in managing time and energy and potential privacy infringements. From the perspective of dramaturgical theory, the primary account serves as a front stage that adheres to social norms, whereas the secondary account functions as a more liberated backstage. The novelty of this research lies in its examination of the phenomenon of secondary account usage among Generation Z Indonesians, a topic that remains underexplored in the existing literature. The implications of this study for future research include further investigation into the impact of dual-account usage on digital identity formation and social interaction. Practically, the findings of this study can offer insights for social media developers and digital communication practitioners regarding the dynamics of self-identity within the context of social media, while also enriching the theoretical understanding of digital identity through dramaturgical theory.   Penelitian ini mengkaji peran second account Instagram dalam representasi identitas diri Generasi Z di Kota Medan dengan menggunakan pendekatan kualitatif fenomenologi yang berlandaskan pada teori dramaturgi Erving Goffman. Tujuan utama penelitian ini adalah untuk memahami bagaimana Generasi Z mempresentasikan identitas diri mereka melalui akun kedua di Instagram. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi, sementara analisis data melibatkan reduksi, penyajian, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan second account Instagram mencerminkan upaya untuk memisahkan kehidupan pribadi dan publik dalam ranah digital, memberikan ruang bagi individu untuk mengekspresikan diri secara lebih autentik dan bebas dari ekspektasi sosial. Meskipun demikian, penggunaan dua akun ini juga menghadirkan tantangan, seperti kesulitan dalam pengelolaan waktu dan energi serta potensi pelanggaran privasi. Berdasarkan perspektif teori dramaturgi, akun utama berfungsi sebagai panggung depan yang beroperasi sesuai dengan norma sosial, sedangkan second account berfungsi sebagai panggung belakang yang lebih bebas. Kebaruan dari penelitian ini terletak pada kajian fenomena penggunaan second account di kalangan Generasi Z Indonesia yang masih terbatas dalam literatur yang ada. Implikasi penelitian ini untuk penelitian selanjutnya mencakup eksplorasi lebih lanjut tentang dampak penggunaan dua akun terhadap pembentukan identitas digital dan interaksi sosial. Secara praktis, hasil penelitian ini dapat memberikan wawasan bagi pengembang media sosial serta praktisi komunikasi digital mengenai dinamika identitas diri dalam konteks media sosial, sekaligus memperkaya pemahaman teoritis tentang identitas digital melalui lensa teori dramaturgi.  
Leveraging persuasive communication: How the Beach Clean Up Bengkulu Community shapes environmentally friendly behavior at Panjang Beach Iqbaal Suryahandika; Dhanurseto Hadiprashada; Dionni Ditya Perdana
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 9 No. 1 (2025): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v9i1.38141

Abstract

This study aimed to analyze the persuasive communication of the Beach Clean Up Bengkulu Community in shaping the environmentally friendly behavior of the Panjang Beach community. Using a descriptive qualitative approach, data were obtained through in-depth interviews and documentation. Informants were purposively selected based on their experience, responsibilities, and duration of involvement in the community. This research offers a theoretical contribution by integrating the concepts of communicator credibility, persuasive messages, and media used by the Beach Clean Up Bengkulu Community in shaping environmentally friendly behavior in the Panjang beach community in Bengkulu City. The findings show that the #BesamoBersihkanPantaiKito campaign effectively combines communicator credibility, reflected by members' expertise and behavioral consistency, with persuasive communication strategies based on straightforward and educative verbal and nonverbal messages through visual symbols. The media used included offline media (creative posters and tumbler merchandise) and online media (Instagram), which provided a wider reach. The practical implication of the findings is that the persuasive communication model used can be adopted by other communities to organize environmental campaigns. The novelty of this research lies in the combination of the use of traditional and digital media aligned with the message strategy to build active community participation. This study provides important insights for developing more inclusive and effective environmental campaigns at local and global levels.   Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis komunikasi persuasif Komunitas Beach Clean Up Bengkulu dalam membentuk perilaku ramah lingkungan masyarakat Pantai Panjang. Dengan pendekatan kualitatif deskriptif, data diperoleh melalui wawancara mendalam dan dokumentasi. Informan dipilih secara purposive berdasarkan pengalaman, tanggung jawab, dan lamanya keterlibatan mereka dalam komunitas. Penelitian ini menawarkan kontribusi teoritis dengan mengintegrasikan konsep kredibilitas komunikator, Pesan persuasif, dan media yang digunakan oleh Komunitas Beach Clean Up Bengkulu dalam membentuk perilaku ramah lingkungan pada masyarakat Pantai Panjang Kota Bengkulu. Temuan menunjukkan bahwa kampanye #BesamoBersihkanPantaiKito secara efektif menggabungkan kredibilitas komunikator, yang tercermin dari keahlian dan konsistensi perilaku anggota, dengan strategi komunikasi persuasif berbasis pesan verbal yang lugas dan edukatif serta pesan nonverbal melalui simbol visual. Media yang digunakan meliputi media offline (poster kreatif dan merchandise tumbler) dan media online (Instagram), yang memberikan jangkauan lebih luas. Implikasi praktis dari temuan ini adalah model komunikasi persuasif yang digunakan dapat diadopsi oleh komunitas lain dalam menyelenggarakan kampanye lingkungan. Kebaruan penelitian ini terletak pada kombinasi penggunaan media tradisional dan digital yang diselaraskan dengan strategi pesan untuk membangun partisipasi masyarakat secara aktif. Penelitian ini memberikan wawasan penting bagi pengembangan kampanye lingkungan yang lebih inklusif dan efektif di tingkat lokal maupun global.
The transmission of agricultural knowledge among members of The Mulya Tani Farmer Group in Sipanjang Hamlet Lujeng Lutfi Fauziah; Harto Wicaksono
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 9 No. 1 (2025): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v9i1.38796

Abstract

Knowledge inheritance is a crucial component of sustaining agricultural practices amidst modernization. This study examines the role of farmer groups in the transmission of farming culture and the system of cultural knowledge inheritance among members of the Mulya Tani Farmer Group in Sipanjang Hamlet. This study employs a qualitative methodology with an ethnographic approach to explore and comprehend farming culture through behavioral patterns and interactions within the farming community of Sipanjang Hamlet. Data were collected through observations, interviews, and documentation. The findings indicate that the transmission of farming knowledge among farmers persists, evolving from traditional local knowledge to incorporating elements of agricultural modernization into the training. Farmer groups introduce new knowledge, resulting in a shift in traditional practices. The integration of modern and local knowledge in farming practices encompasses aspects such as knowledge, farming techniques, tools, technologies, and traditions. The transmission of farming cultural knowledge is facilitated by three preservation aspects: protection, development, and utilization. Agricultural modernization is associated with capitalization through government extension programmes. However, local traditions remain intact, as commercialization does not undermine the knowledge system. The transmission of farming cultural knowledge serves not only economic purposes but also supports the preservation of local knowledge and agricultural sustainability.   Pewarisan pengetahuan menjadi aspek penting dalam upaya menjaga keberlanjutan praktik pertanian di tengah era modernisasi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran kelompok tani dalam pewarisan budaya bertani dan sistem pewarisan pengetahuan budaya bertani pada petani Kelompok Tani Mulya Tani di Dusun Sipanjang. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif dengan pendekatan etnografi sebagai pendekatan untuk menggali dan memahami budaya bertani melalui pola perilaku dan interaksi pada masyarakat petani Dusun Sipanjang. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa pewarisan pengetahuan bertani pada petani  dilakukan hingga sekarang dengan dinamika pengetahuan bertani dari yang sebelumnya berupa pengetahuan lokal hingga masuknya modernisasi pertanian. Kehadiran kelompok tani membawa kebaharuan pengetahuan dan adanya pergeseran pengetahuan lama. Pewarisan praktik bertani seiring modernisasi pertanian mengintegrasikan pengetahuan modern dan pengetahuan lokal yang meliputi aspek pengetahuan, teknik bertani, alat, teknologi dan tradisi. Pewarisan pengetahuan budaya bertani melalui tiga aspek pelestarian, yaitu perlindungan, pengembangan, dan pemanfaatan. Modernisasi pertanian memiliki keterkaitan dengan kapitalisasi melalui program penyuluhan oleh pemerintah. Akan tetapi, aspek pengetahuan berupa tradisi lokal tidak digantikan sebab komersialisasi tidak menyerang sistem pengetahuan tersebut. Pewarisan pengetahuan budaya bertani tidak hanya sekedar untuk kepentingan mendapatkan keuntungan secara ekonomi, tetapi juga mendukung menjaga kelestarian pengetahuan lokal dan keberlanjutan pertanian.
Motivational factors driving tourists to emerging tourism villages: Insights from Mekarlaksana Bandung Sabila Zahra; Erry Sukriah
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 9 No. 1 (2025): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v9i1.39008

Abstract

Tourists have diverse preferences and motivations when selecting destinations to visit. Indonesia's tourism sector offers a wide array of options, including tourist villages, nature-based tourism, and artificial attractions. This study examines the motivational factors influencing tourists to visit Mekarlaksana Tourism Village in Bandung Regency, a developing pilot tourism village that has already attracted numerous visitors, including international tourists. This study aims to identify the factors motivating tourists to visit the Mekarlaksana Tourism Village, determine the predominant factors influencing their visits, and analyze the characteristics of these tourists. This study employs a descriptive quantitative methodology, utilizing data collected through questionnaires distributed to tourists who visited the Mekarlaksana Tourism Village. Factor analysis was the primary technique employed in this study. The findings reveal the emergence of eleven new motivational factors for visiting the Mekarlaksana tourism village: leisure experience, recreation and social experiences, self-actualization, learning exploration, relationship, convenient access, self-renewal, tropical highland, adventure, vision, and uniqueness, with leisure experience being the most dominant factor. The global trend is shifting towards eco-tourism and environmentally responsible recreation to mitigate the negative impacts on nature. This research can inform the development of tourist villages, particularly in terms of economic considerations, by aligning them with visitor motivations.   Wisatawan memiliki kebutuhan dan pilihan untuk mengunjungi tempat wisata yang mereka inginkan. Pariwisata di Indonesia menawarkan banyak pilihan untuk dikunjungi, seperti desa wisata, wisata alam, wisata buatan, dan lain sebagainya. Dalam penelitian ini, penulis menganalisis faktor motivasi wisatawan berkunjung ke Desa Wisata Mekarlaksana, Kabupaten Bandung yang merupakan desa wisata percontohan yang sedang dikembangkan namun sudah banyak wisatawan yang datang bahkan hingga wisatawan mancanegara. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor apa saja yang memotivasi wisatawan berkunjung ke Desa Wisata Mekarlaksana, faktor apa saja yang mendominasi wisatawan dalam berkunjung ke Desa Wisata Mekarlaksana dan karakteristik wisatawan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif berdasarkan data yang telah diperoleh melalui penyebaran kuesioner kepada wisatawan yang pernah berkunjung ke Desa Wisata Mekarlaksana. Teknik yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisis faktor. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini membentuk sebelas faktor baru yang memotivasi wisatawan untuk berkunjung ke Desa Wisata Mekarlaksana, yaitu Leisure Experience, Rekreasi dan pengalaman sosial, Aktualisasi Diri, Eksplorasi Pembelajaran, Relasi, Kemudahan Akses, Pembaharuan Diri, Dataran Tinggi Tropis, Petualangan, Visi, Keunikan dan yang mendominasi adalah Leisure Experience. Tren global mengarah pada ekowisata dan rekreasi yang lebih bertanggung jawab dan berbasis lingkungan untuk mengurangi dampak negatif terhadap alam. Penelitian ini dapat memberikan kontribusi terhadap motivasi pengunjung sehingga dapat menyesuaikan pengembangan desa wisata, terutama dalam hal ekonomi.
Preserving a transforming tradition: Modifications in the Nyadran Tradition in Pacekulon Village, Pace District, Nganjuk Regency Inna Havidatus Saniyah; Dhoni Zustiyantoro
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 9 No. 1 (2025): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v9i1.39395

Abstract

Nyadran remains a persistent tradition in Pacekulon Village, Pace Subdistrict, Nganjuk Regency, despite modifications made due to the Covid-19 pandemic in 2020. This study aims to identify the factors influencing the transformation of the traditional nyadran procession in Pacekulon Village post-Covid-19 and explain how these changes affected the community's life outlook. An ethnographic approach was used, which was conducted from February to July 2024. Data collection involved observations and structured interviews with 10 informants, including village heads, traditional stakeholders, and event participants. Data were analysed using an interactive model. The research identified pre-pandemic nyadran activities: 1) buffalo slaughter, 2) puppets, 3) teaching, 4) recitation, 5) bazaar, and 6) kirab and kroyokan tumpeng. Post-pandemic changes reduced these to: 1) recitation, 2) hike, and 3) kirab and kroyokan tumpeng. Factors affecting this transformation include the vacant village head position, health protocols, and economic conditions during the recovery period. The altered nyadran procession influenced the community's outlook, increasing awareness of unity, adapting priority scales, and strengthening beliefs in the tradition's impact on the social order. This research contributes to cultural anthropology and sociology by analysing the dynamics of the Nyadran procession changes within the Pacekulon community context. The findings can be applied to public policy development, community programs, and research on traditional preservation practices.   Tradisi nyadran tetap bertahan di Desa Pacekulon, Kecamatan Pace, Kabupaten Nganjuk, meskipun mengalami perubahan akibat pandemi Covid-19 pada tahun 2020. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi transformasi prosesi tradisi nyadran di Desa Pacekulon pasca Covid-19 dan menjelaskan bagaimana perubahan tersebut memengaruhi pandangan hidup masyarakat. Pendekatan etnografi digunakan, yang dilakukan dari Februari hingga Juli 2024. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi dan wawancara terstruktur dengan 10 informan, termasuk kepala desa, pemangku adat, dan peserta acara. Data dianalisis dengan menggunakan model interaktif. Penelitian ini mengidentifikasi kegiatan-kegiatan nyadran sebelum pandemi: 1) Penyembelihan kerbau; 2) wayang; 3) pengajaran; 4) pengajian; 5) bazar; dan 6) kirab dan kroyokan tumpeng. Perubahan pasca pandemi mengurangi kegiatan-kegiatan tersebut menjadi: 1) pengajian, 2) jalan santai, dan 3) kirab dan kroyokan tumpeng. Faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan ini antara lain kekosongan jabatan kepala desa, protokol kesehatan, dan kondisi ekonomi pada masa pemulihan. Prosesi nyadran yang berubah memengaruhi cara pandang masyarakat, meningkatkan kesadaran akan persatuan, mengadaptasi skala prioritas, dan memperkuat keyakinan akan dampak tradisi terhadap tatanan sosial. Penelitian ini memberikan kontribusi pada antropologi budaya dan sosiologi dengan menganalisis dinamika perubahan prosesi nyadran dalam konteks masyarakat Pacekulon. Temuan penelitian ini dapat diaplikasikan dalam pengembangan kebijakan publik, program-program komunitas, dan penelitian tentang pelestarian tradisi.
Community identity construction: A case study of digital literacy activists in Next Generation Indonesia Community Jibril Bela Abdillah; Tisna Prabasmoro; Dade Mahzuni
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 9 No. 1 (2025): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v9i1.39470

Abstract

Next Generation Indonesia (NXG Indonesia), a community dedicated to enhancing digital literacy, underscores its role as a social actor within the digital literacy discourse. The status of NXG Indonesia as a social actor in this discourse renders discussions about it inherently linked to issues of identity. Consequently, this study aims to elucidate the construction of the identity of the NXG Indonesia community and examine how this identity construction influences the habitus of NXG Indonesia. To achieve these research objectives, a qualitative methodology employing a case study approach was utilized, with data collected through in-depth interviews with five informants who were members of the NXG Indonesia community. The findings indicate that the identity of the NXG Indonesia community is constructed through elements such as locus, distinctiveness, identification, orientation, evaluation of community life, and evaluation of community functioning, all of which have implications for the NXG Indonesia habitus, particularly its commitment to digital literacy. Therefore, this study concludes that social interactions among individuals within NXG Indonesia significantly impact the construction of the community's identity and habitus.   Next Generation Indonesia (NXG Indonesia), sebuah komunitas yang berdedikasi dalam mengupayakan peningkatan literasi digital, menegaskan perannya sebagai aktor sosial dalam wacana literasi digital. Status NXG Indonesia sebagai aktor sosial dalam wacana ini mengakibatkan diskusi mengenai NXG Indonesia tidak dapat dipisahkan terkait dengan masalah identitas. Dengan demikian, penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan konstruksi identitas komunitas NXG Indonesia dan melihat bagaimana konstruksi identitas tersebut mempengaruhi habitus dari NXG Indonesia. Untuk mencapai tujuan penelitian tersebut, penelitian ini mengunakan metodologi kualitatif dengan pendekatan studi kasus serta metode pengumpulan data melalui wawancara mendalam bersama dengan lima informan yang tergabung dalam komunitas NXG Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa identitas komunitas NXG Indonesia dikonstruksi melalui elemen-elemen seperti locus, distinctiveness, identification, orientation, evaluation of community of life, dan evaluation of community functioning yang berimplikasi pada habitus NXG Indonesia, khususnya komitmennya terhadap literasi digital. Oleh karena itu, penelitian ini menyimpulkan bahwa interaksi sosial di antara individu-individu di dalam NXG Indonesia secara signifikan memengaruhi konstruksi identitas dan habitus komunitas.
Policy model for handling children with social welfare problems in Lampung Province during the Covid-19 Pandemic Eko Hidayat; Iskandar Syukur; Liky Faizal; Abd. Qohar
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 9 No. 1 (2025): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v9i1.39548

Abstract

This study addresses a critical issue exacerbated by the pandemic: the increasing number of street children in Lampung Province. This demographic represents a vulnerable group necessitating focused attention from both governmental and societal entities to prevent exploitation and enhance access to education and social services for women with disabilities. Despite the implementation of various social policies, challenges persist, particularly in developing regions such as Lampung, Indonesia. This study aims to delineate a policy model for managing street children during the pandemic by identifying existing implementation obstacles. The theoretical framework is grounded in the concepts of social empowerment and social welfare policies, as outlined in Law No. 11 of 2009. Employing a qualitative descriptive methodology, data were gathered through interviews, observations, and documentation from 14 relevant informants and analyzed using the Miles and Huberman model alongside triangulation techniques for validation. The findings reveal that Lampung Province’s policy model encompasses orphanages, families, communities, and semi-social homes. However, significant challenges, such as limited budgetary and human resources, impede their effectiveness. This study provides a comprehensive overview of social welfare policy implementation during the pandemic and underscores the necessity of enhancing intersectoral collaboration to improve the welfare of street children in Lampung Province.   Studi ini membahas masalah kritis yang diperburuk oleh pandemi: meningkatnya jumlah anak jalanan di Provinsi Lampung. Kelompok demografi ini merupakan kelompok rentan yang memerlukan perhatian khusus dari entitas pemerintah dan masyarakat untuk mencegah eksploitasi dan meningkatkan akses pendidikan dan layanan sosial bagi perempuan penyandang disabilitas. Meskipun berbagai kebijakan sosial telah diterapkan, tantangan tetap ada, terutama di daerah berkembang seperti Lampung, Indonesia. Studi ini bertujuan untuk menggambarkan model kebijakan untuk mengelola anak jalanan selama pandemi dengan mengidentifikasi hambatan implementasi yang ada. Kerangka teoritis didasarkan pada konsep pemberdayaan sosial dan kebijakan kesejahteraan sosial, sebagaimana diuraikan dalam Undang-Undang No. 11 Tahun 2009. Dengan menggunakan metodologi deskriptif kualitatif, data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi dari 14 informan terkait dan dianalisis menggunakan model Miles dan Huberman beserta teknik triangulasi untuk validasi. Temuan penelitian mengungkapkan bahwa model kebijakan Provinsi Lampung mencakup panti asuhan, keluarga, masyarakat, dan rumah semi-sosial. Namun, tantangan signifikan, seperti keterbatasan anggaran dan sumber daya manusia, menghambat efektivitasnya. Studi ini memberikan gambaran komprehensif tentang implementasi kebijakan kesejahteraan sosial selama pandemi dan menggarisbawahi perlunya peningkatan kolaborasi lintas sektoral untuk meningkatkan kesejahteraan anak jalanan di Provinsi Lampung.   
The role of community leaders in the prevention of prostitution in Eretan Kulon Village: Perspective social structure theory Ferti Ferti; Antari Ayuning Arsi
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 9 No. 1 (2025): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v9i1.39658

Abstract

The persistence of prostitution in Eretan Kulon Village, Kandanghaur District, Indramayu Regency, is a significant social concern. This study seeks to elucidate the perspectives of the community and the preventive measures undertaken by the community leaders. Employing a qualitative research methodology with a case study approach, this investigation engaged 13 informants, including community leaders, law enforcement officials, and local residents. Thematic analysis was used as the data analysis technique. The findings indicate that the majority of the population perceives prostitution as a negative phenomenon primarily driven by economic factors, although many acknowledge the challenges in eradicating it. Community leaders have implemented various preventive strategies, such as routine raids, educational initiatives, counseling on the adverse effects of prostitution, rehabilitation programs, HIV testing, regular religious gatherings and public demonstrations. While these efforts have not completely eradicated prostitution, there has been a noticeable decline in its practice in the village. Collaboration between the police, Satuan Polisi Pamong Praja, religious leaders, and village governments is pivotal in addressing this issue. This research contributes to the understanding of the role of community leaders and the significance of inter-agency collaboration in addressing prostitution in the village, highlighting that active community participation is essential for effectively tackling this social issue.   Praktik prostitusi di Desa Eretan Kulon, Kecamatan Kandanghaur, Kabupaten Indramayu, masih menjadi masalah sosial. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pandangan masyarakat dan upaya pencegahan yang dilakukan tokoh masyarakat. Menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus, penelitian ini melibatkan 13 informan, termasuk tokoh masyarakat, aparat penegak hukum, dan warga setempat. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis tematik. Hasil penelitian menunjukkan mayoritas masyarakat memandang prostitusi sebagai fenomena negatif yang dipengaruhi oleh faktor ekonomi, meskipun sebagian besar menganggapnya sulit dihilangkan. Tokoh masyarakat telah melakukan berbagai upaya pencegahan, seperti razia rutin, pembinaan, penyuluhan dampak negatif prostitusi, program rehabilitasi, pemeriksaan HIV, pengajian rutin, dan unjuk rasa. Meskipun upaya tersebut belum sepenuhnya menghilangkan prostitusi, praktik prostitusi di desa ini telah menunjukkan penurunan. Kolaborasi antara polisi, Satpol PP, tokoh agama, dan pemerintah desa berperan penting dalam mengatasi masalah ini. Penelitian ini memberikan kontribusi dalam memahami peran tokoh masyarakat dan pentingnya kolaborasi antar lembaga dalam menanggulangi prostitusi di desa, serta menunjukkan bahwa partisipasi aktif masyarakat sangat penting untuk keberhasilan penanggulangan masalah sosial ini.
Gender equality in Mary Wollstonecraft's thought: Aisyiyah's perspective as a women's movement for advancement Era Nur An-nisaa’ Candra; Mohammad Zakki Azani
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 9 No. 1 (2025): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v9i1.39680

Abstract

Gender equality remains a pertinent issue across diverse social contexts, encompassing Western and Islamic teachings. Mary Wollstonecraft, a prominent advocate for gender equality in the West, contended that women should possess individual freedom without male domination. In Indonesia, Aisyiyah, a progressive women's movement, posits that gender equality should be examined not only through religious and spiritual lenses but also through political, economic, and educational dimensions. This research employs a qualitative approach, utilizing a literature study method to analyze various books, articles, and reports relevant to the topic. Despite their differing cultural and religious perspectives, both Aisyiyah and Mary Wollstonecraft assert that education is fundamental to achieving gender equality. This article explores Aisyiyah's perspective as a progressive women's movement to critically analyze Mary Wollstonecraft's concept of gender equality, which is often perceived as being incompatible with the Islamic worldview. The findings of this study aim to offer an Islamic perspective from Aisyiyah that addresses the challenges posed by Western secular thought.   Kesetaraan gender merupakan topik yang selalu relevan dalam berbagai konteks sosial, baik di Barat maupun dalam ajaran Islam. Salah satu tokoh kesetaraan gender di Barat, Mary Wollstonecraft yang memperkasai perjuangan perempuan untuk kesetaraan gender berpendapat bahwa perempuan perlu memiliki kebebasannya secara individu tanpa diatur oleh laki-laki. Aisyiyah sebagai gerakan perempuan berkemajuan di Indonesia menyoroti kesetaraan gender tidak hanya dapat dilihat dari perfektif agama dan spiritual, tetapi juga dari berbagai aspek lain seperti politik, ekonomi dan pendidikan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kepustakaan, yang berfokus untuk menganalisis berbagai buku, artikel, dan laporan yang memiliki keterkaitan dengan topik yang dibahas. Meskipun keduanya mengusung pandangan yang berbeda dalam konteks budaya dan agama, baik Aisyiyah maupun Mary Wollstonecraft berpendapat bahwa pendidikan adalah kunci utama untuk mencapai kesetaraan gender. Artikel ini menyajikan perspektif Aisyiyah sebagai gerakan perempuan berkemajuan untuk menganalisis konsep kesetaraan gender menurut Mary Wollstonecraft, yang dianggap tidak sesuai dengan pandangan hidup Islam. Temuan dalam kajian ini diharapkan dapat memberikan pandangan hidup Islam dari perspektif Aisyiyah yang mampu menjawab tantangan pemikiran Barat sekuler.
The inheritance system and resolution of inheritance disputes in Jambi Malay customs: A case study in Merangin Regency Rafikah Rafikah; Devrian Ali Putra; Suci Nora Julina Putri; Rafik Darmansyah
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 9 No. 1 (2025): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v9i1.39963

Abstract

The inheritance system in Merangin Regency, Jambi, is the result of acculturation between customary law and Islamic principles, rooted in the philosophy of Adat Bersendi Syarak, Syarak Bersendi Kitabullah (Custom Based on Sharia, Sharia Based on the Qur'an). In practice, inheritance distribution is carried out through three main approaches: family consensus, customary deliberations involving religious and traditional leaders, and compliance with Islamic legal provisions. Dispute resolution in inheritance matters generally prioritizes deliberation over formal legal procedures, reflecting local wisdom in preserving social harmony. This study adopts a case study method with a qualitative approach. Data were collected through in-depth interviews, direct observation, and document analysis related to inheritance practices and dispute resolution in the study area. This method was chosen to gain an in-depth understanding of the social dynamics, cultural values, and legal practices prevailing within the Jambi Malay indigenous community. The findings reveal that the inheritance system in the Jambi Malay society emphasizes deliberation and mutual agreement over litigation. Customary institutions play a central role as mediators in resolving disputes. While Islamic inheritance principles are acknowledged, their implementation is often adapted to local social and cultural contexts. Inheritance distribution is not carried out immediately after death, but follows several customary stages such as debt settlement and family meetings to reach a consensus. This study recommends the importance of a harmonious integration between customary law and Islamic law to establish a more just, contextual, and widely accepted inheritance system for all elements of society.   Sistem kewarisan Kabupaten Merangin Jambi merupakan hasil akulturasi antara hukum adat dan prinsip-prinsip Islam yang berpijak pada filosofi "Adat Bersendi Syarak, Syarak Bersendi Kitabullah". Dalam praktiknya, pembagian warisan dilakukan melalui tiga pendekatan utama, yaitu secara kekeluargaan, melalui musyawarah adat yang melibatkan tokoh agama dan adat, serta berdasarkan ketentuan hukum Islam. Penyelesaian sengketa waris umumnya lebih mengedepankan jalur musyawarah dibandingkan jalur hukum formal, mencerminkan kearifan lokal dalam menjaga keharmonisan sosial. Penelitian ini menggunakan metode studi kasus dengan pendekatan kualitatif. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi langsung, dan studi dokumen terhadap praktik pewarisan dan penyelesaian sengketa di wilayah studi. Metode ini dipilih untuk memperoleh pemahaman mendalam mengenai dinamika sosial, nilai-nilai budaya, dan praktik hukum yang hidup di tengah masyarakat adat Melayu Jambi. Temuan penelitian menunjukkan bahwa sistem kewarisan dalam masyarakat Melayu Jambi lebih mengutamakan musyawarah dan mufakat daripada penyelesaian melalui jalur hukum. Lembaga adat berperan penting sebagai mediator dalam penyelesaian sengketa. Meskipun prinsip hukum waris Islam diakui, pelaksanaannya sering kali disesuaikan dengan konteks sosial dan budaya lokal. Pembagian warisan tidak dilakukan segera setelah kematian, melainkan mengikuti sejumlah tahapan adat seperti pelunasan utang, dan pertemuan keluarga untuk mencapai kesepakatan. Studi ini merekomendasikan pentingnya integrasi yang harmonis antara hukum adat dan hukum Islam guna menciptakan sistem kewarisan yang lebih adil, kontekstual, dan dapat diterima oleh seluruh elemen masyarakat.

Page 2 of 3 | Total Record : 26