cover
Contact Name
Eggy Fajar Andalas
Contact Email
andalaseggy@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
andalaseggy@gmail.com
Editorial Address
Institute of Culture, University of Muhammadiyah Malang Jl. Raya Tlogomas No. 246 Malang
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial
ISSN : 25808567     EISSN : 2580443x     DOI : 10.22219
Core Subject : Humanities, Art,
Satwika (Kajian Budaya dan Perubahan Sosial) publishes scientific papers on the results of studies/research and reviews of the literature in the fields of cultural studies and social change. The journal is oriented towards research on cultural phenomena and the current social changes. With the aim of dialogue in contemporary socio-cultural conditions, journals encourage cultural analysis and social change that challenge ideological modes and share inequitable justice, contribute to broad theoretical debates, and help stimulate new and progressive social involvement.
Arjuna Subject : -
Articles 280 Documents
Akseptasi modernitas beragama Orang Dayak di Kampung Nyarumkop Donatianus BSE Praptantya; Diaz Restu Darmawan; Jagad Aditya Dewantara; Efriani Efriani; Agus Yuliono
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 6 No. 2 (2022): Oktober
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v6i2.22165

Abstract

Kampung Nyarumkop sebagai pusat persekolahan misi Gereja Katolik, telah merepresentasikan modernitas dalam kehidupan orang Dayak. Dengan demikian, penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan aspek akseptasi, bentuk, dan pola akseptasi orang dayak terhadap agama mondial. Penelitian ini menggunakan pendekatan antropologi budaya dengan prosedur etnografis. Selama 6 bulan kami melakukan observasi, wawancara mendalam, dan studi literatur, terhadap fenomena akseptasi agama mondial yakni Agama Katolik di tengah orang Dayak. Penelitian ini mengungkap akseptasi terhadap Agama Katolik oleh orang Dayak, terjadi karena terdapatnya domain psikologi, domain sosial dan domain budaya yang memiliki aspek keterbukaan terhadap hal-hal baru di luar diri mereka. Keterbukaan tiga domain ini mendorong orang Dayak di Kampung pada modernitas yang tampak dalam gejala global village dan Detradisionalisasi.   Nyarumkop village as the center of the Catholic Church's mission schooling has represented modernity in the life of the Dayak people. Thus, this study aimed to describe the aspects of the acceptance, form, and pattern of acceptance of the Dayak people towards the mondial religion. This research has used a cultural anthropological approach with ethnographic procedures. For six months we have conducted observations, in-depth interviews, and literature studies, on the phenomenon of acceptance of the mondial religion, namely Catholicism among the Dayak people. This research has revealed that the acceptance of Catholicism by the Dayak people occurs because of the psychological domain, social domain and cultural domain which have an aspect of openness to new things outside of themselves. The openness of these three domains has pushed the Dayak people in Kampung to modernity which can be seen in the symptoms of global village and detraditionalization.
Tingkat preferensi wanita obesitas pada busana kerja berbahan kain tradisional lurik Utami, Putri Marganing; Wening, Sri; Budiastuti, Emy; Jerusalem, Moh. Adam
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 6 No. 2 (2022): Oktober
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v6i2.22207

Abstract

Obesitas menjadi masalah tersendiri bagi wanita yang bekerja kantor, sebab mereka kesulitan mendapatkan busana yang cocok untuk dirinya. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) menghasilkan busana kerja berbahan lurik untuk wanita obesitas, (2) mengetahui tingkat preferensi wanita obesitas pada busana kerja berbahan lurik. Jenis penelitian ini merupakan penelitian Research & Development dengan desain 4D. Subjek penelitiannya adalah dosen dan karyawan di lingkungan Fakultas Teknik UNY. Instrumen yang digunakan angket tertutup. Teknik analisis data yang dilakukan adalah statistik deskriptif. Penelitian ini menghasilkan busana kerja berbahan lurik dengan penempatan motif pada bagian sisi secara vertikal, berbahan katun dan berwarna gelap. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat preferensi wanita obesitas pada busana kerja berbahan lurik paling besar pada aspek pemilihan siluet busana yaitu 28,90%, kemudian pemilihan warna 23%, diikuti pemilihan bahan 20,60%, pemilihan motif 14,5% dan yang terakhir adalah pemilihan tekstur sebesar 13%. Busana kerja berbahan lurik dapat menjadi pilihan yang tepat untuk menciptakan visual badan yang lebih ramping sehingga diharapkan menjadi solusi untuk wanita obesitas untuk meningkatkan rasa percaya diri. Wanita obesitas dapat menggunakan model busana kerja tersebut sebagai solusi agar penampilannya terlihat lebih menarik.                                  Obesity is a problem for women who work in an office, because they have difficulty getting clothes that fit them. This study aims to: (1) produce work clothes made of striated for obese women, (2) determine the level of preference of obese women on work clothes made of striated. This type of research is a Research & Development research with a 4D design. The research subjects were lecturers and staff at the Faculty of Engineering, UNY. The instrument used was a closed questionnaire. The data analysis technique used was descriptive statistics. This research produces work clothes made of striated with the placement of motifs on the sides vertically, made of cotton and dark in color. The results showed that the level of preference for obese women in work clothes made of striated was greatest in the aspect of choosing a fashion silhouette, namely 28.90%, then color selection 23%, followed by material selection 20.60%, motif selection 14.5% and the last is texture selection by 13%. Work clothes made of striated can be the right choice to create a slimmer body visual so that it is expected to be a solution for obese women to increase their self-confidence. Obese women can use the work dress model as a solution to make their appearance look more attractive.
Nilai-nilai karakter budaya Belis dalam perkawinan adat masyarakat Desa Benteng Tado Kabupaten Manggarai Barat Nusa Tenggara Timur Heri Kurnia; Felisia Lili Dasar; Intan Kusumawati
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 6 No. 2 (2022): Oktober
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v6i2.22300

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakang oleh perubahan sistem perkawinan adat yang menggunakan belis di desa Benteng Tado. Budaya belis menjadi beban ekonomi bagi masyarakat karena sudah bergeser dari makna aslinya yang juga berpengaruh pada perubahan pembentukan karakter masyarakatnya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui  praktik pelaksanaan budaya belis, makna budaya belis dan nilai-nilai karakter yang terkandung dalam budaya belis. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif. Teknik analisis data dilakukan dengan cara reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Informan dalam penelitian ini adalah tokoh adat, tokoh masyarakat (guru), kepala desa, dan masyarakat yang pernah pernah terlibat langsung dalam pelaksanaan budaya belis. Tempat penelitian dilakukan di Desa Benteng Tado. Hasil penelitian menunjukan bahwa: proses pelaksanaan budaya belis dilakukan melalui 3 tahap yaitu (1) pra pernikahan: karong salang, cumang tau ata tua, tukar kila, turuk empo, (2) pernikahan: ngo ba paca, wagal, (3) pasca pernikahan: podo, curu/ roko, gerep ruha. Makna budaya belis bagi masyarakat desa Benteng Tado adalah sebagai bentuk penghargaan terhadap perempuan dan untuk membalas jasa orang tua dan keluarga perempuan. Dari hasil penelitian mengenai budaya belis sebagai kearifan lokal, teridentifikasi 18 nilai-nilai karakter kehidupan yang terkandung dalam budaya belis pada perkawinan adat di Desa Benteng Tado. Nilai-nilai kehidupan tersebut berketerkaitan dengan seluruh dimensi pembentuk karakter yaitu: nilai religius, nilai jujur, nilai toleransi, nilai disiplin, nilai kerja keras, nilai kreatif, nilai mandiri, nilai demokratis, nilai rasa ingin tahu, nilai semangat kebangsaan, nilai cinta tanah air, nilai menghargai prestasi, nilai bersahabat/komunikatif, nilai cinta damai, nilai gemar membaca, nilai peduli lingkungan, nilai peduli sosial, dan nilai tanggung jawab.   This research was motivated by changes in the traditional marriage system that used belis in the village of Fort Tado. Belis culture is an economic burden for the community because it has shifted from its original meaning which also has an effect on changing the formation of the character of its society. The purpose of this study is to determine the practice of implementing belis culture, the meaning of belis culture and character values contained in belis culture. This research uses descriptive qualitative methods. Data analysis techniques are carried out by means of data reduction, data presentation and drawing conclusions. Informants in this study are traditional leaders, community leaders (teachers), village heads, and communities who have been directly involved in the implementation of belis culture. The place where the study was conducted in the Village of Benteng Tado. The results showed that: the process of implementing belis culture was carried out through 3 stages, namely (1) pre-marriage: karong salang, cumang tau ata tua, tukar kila, turuk empo, (2) marriage: ngo ba paca, wagal, (3) post-wedding: podo, curu/ roko, gerep ruha. Makna belis culture  for the people of Fort Tado village is as a  form of appreciation for women and to repay the services of women's parents and families. From  the results of research on belis culture as local wisdom, 18 life character values contained in belis culture were identified in traditional marriages in Benteng Tado Village. These life values are related to all character-forming dimensions, namely: religious  values, honest values, tolerance values, discipline values, hard work values, creative values, independent values, democratic values,  the value of curiosity, the value of the spirit of nationality, the value of love for the homeland, the value of appreciating achievements, the  value  of friendly / communicative, the value of peace-loving, the value of love of reading, the value of caring for the environment, the value of caring for the environment, the value of respecting achievements, the value of friendly/communicative, the value of peace-loving, the value of love to read, the value of caring for the environment, the value of caring for the environment, the value of value  social care, and the value of responsibility.
Analisis perilaku konsumsi melalui gaya hidup pada usia remaja Ratna Fitri Astuti; Vitria Puri Rahayu; Mustangin Mustangin; Ritma Ratri Candra Dewi; Rosyidah Rahmaniah
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 6 No. 2 (2022): Oktober
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v6i2.22313

Abstract

Mahasiswa yang saat ini masih tergolong pada usia remaja akhir di Kota Samarinda memiliki gaya hidup yang tinggi terutama masalah penampilan karena cenderung mengikuti tren, namun hal ini tidak didukung oleh pendapatan yang memadai serta belum mandirinya mahasiswa secara finansial. Penelitian ini bertujuan untuk menjabarkan lebih rinci bagaimana perilaku konsumsi yang dilakukan individu terutama diusia remaja jika dilihat dari gaya hidup yang dijalani. Jenis penelitian yang dilakukan adalah deskriptif kualitatif, teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah reduksi data, penyajian data, serta menarik kesimpulan. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa mahasiswa di kota Samarinda sebagian besar suka berbelanja, suka bergaul dan juga suka untuk berlibur, tetapi mahasiswa juga memiliki motif berkonsumsi pada pembelian produk bermanfaat. Hal tersebut ditunjukkan oleh gaya hidup mahasiswa yang berorientasi pada pemenuhan kebutuhan untuk menunjang pendidikan. Gaya hidup mahasiswa lebih berorientasi pada masa depan, sehingga membuat mahasiswa dalam bertindak memiliki banyak pertimbangan termasuk pada perilaku konsumsinya. Dapat disimpulkan bahwa gaya hidup mahasiswa di kota Samarinda adalah gaya hidup yang senang berbelanja namun tetap dibarengi dengan pertimbangan yang matang terkait kebermanfaatan produk.                            Students who are currently still classified as late teens in Samarinda City have a high lifestyle, especially appearance problems because they tend to follow trends, but this is not supported by adequate income and students are not financially independent. This study aims to describe in more detail how consumption behavior is carried out by individuals, especially at the age of teenagers when viewed from the lifestyle they live. The type of research conducted is descriptive qualitative, data analysis techniques used in this study are data reduction, data presentation, and drawing conclusions. Based on the results of the study, it is known that students in Samarinda city mostly like shopping, like to hang out and also like to go on vacation, but students also have a consumption motive for buying useful products. This is indicated by the student's lifestyle which is oriented towards meeting the needs to support education. The student's lifestyle is more future-oriented, so that students have a lot of considerations in their actions, including their consumption behavior. It can be concluded that the student lifestyle in the city of Samarinda is a lifestyle that loves to shop but is still accompanied by careful considerations regarding the usefulness of the product.
Kajian psychological capital pada filosofi hidup Suku Banjar “Waja Sampai Kaputing” pada Strawberry Generation Desy Natalia Kosasih; Taufik Akbar Rizqi Yunanto
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 6 No. 2 (2022): Oktober
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v6i2.22637

Abstract

Waja Sampai Kaputing merupakan falsafah hidup Suku Banjar yang merupakan pesan dari Pangeran Antasari agar pantang menyerah dalam mencapai tujuan. Falsafah ini dapat dikaji menggunakan konsep psikologi Psychological Capital. Dalam penerapannya pada zaman sekarang, falsafah hidup ini masih menjadi sesuatu yang relevan untuk generasi muda sebagai calon pemimpin bangsa masa depan yang menghadapi tantangan dan situasi yang tidak pasti. Labelling sebagai strawberry generation disematkan pada generasi muda untuk melambangkan sebagai generasi yang mudah menyerah, lemah, dan mudah hancur. Banyak faktor yang menyebabkan generasi muda menjadi generasi yang lemah antara lain eksposur internet, penggunaan media sosial berlebihan, toxic parenting, dan lingkungan sekolah yang tidak mendukung. Studi ini dilakukan dengan tujuan untuk mengulas falsafah Waja Sampai Kaputing yang kemudian disandingkan dengan konsep psikologi Psychological Capital pada strawberry generation di Indonesia. Melalui studi ini dapat diketahui bahwa falsafah WASAKA dapat ditinjau dari aspek psikologis PsyCap masih relevan dapat diterapkan dalam berbagai aspek kehidupan generasi muda.                  Waja Sampai Kaputing is a philosophy of life in Banjar Tribe that contains a message from Pangeran Antasari for the young generation not to give up on pursuing their goals. This philosophy can explain more through the psychological concept called Psychological Capital. Waja Sampai Kaputing has become a relevant life philosophy for today’s young generation as a nation’s future leader to face challenges and uncertainty. The young generation is labelled as the strawberry generation, a generation that gives up quickly and is fragile. Factors that cause our young generation to become fragile are internet exposure, excessive use of social media, toxic parenting, and a toxic school environment. The purpose of this study is to review “Waja Sampai Kaputing” through Psychological Capital to strawberry generation in Indonesia. This study concludes that WASAKA can be seen from a psychological aspect called Psycap and is still relevant to be applied in various parts of the life of the younger generation. 
Rituals and myths at the death ceremony of the Toraja People: Studies on the Rambu Solo Ceremony Lambok Hermanto Sihombing
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 6 No. 2 (2022): Oktober
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v6i2.22785

Abstract

Rambu Solo is a well-known ritual or traditional ceremony from the Toraja tribe in South Sulawesi. Rambu Solo is tribute to the funeral of the Toraja people who died. With lots of culture and tradition in Indonesia, the ritual of Rambu Solo is distinguished as being very sacred, scary and also expensive. The aim of this study is to find out how the Toraja tribe is still preserving the sacred tradition of Rambu Solo in this modern era. The author utilized the qualitative approach to analyze the rituals and myths at the death ceremony of the Toraja people. In order to help the author doing the analysis, Cultural Identity theory from Stuart Hall is applied in this study. To assist the author with the analysis, the author took the data from YouTube and other literary works related to this ritual. The result indicates that even though this funeral ceremony is sacred, scary, and costly, the Toraja people keeps preserving their tradition from generation to generation.    Rambu Solo adalah sebuah ritual atau upacara adat yang terkenal dari suku Toraja di Sulawesi Selatan. Rambu Solo merupakan penghormatan terhadap pemakaman orang Toraja yang meninggal. Dengan banyaknya budaya dan tradisi di Indonesia, ritual Rambu Solo berbeda karena ritual ini sangat sakral, menakutkan dan juga mahal. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana suku Toraja masih melestarikan tradisi sakral Rambu Solo di era modern ini. Penulis menggunakan pendekatan kualitatif untuk menganalisis ritual dan mitos pada upacara kematian orang Toraja. Untuk membantu penulis melakukan analisis, teori Identitas Budaya dari Stuart Hall diterapkan dalam penelitian ini. Penulis mengambil data dari YouTube dan karya sastra lainnya yang terkait dengan ritual Rambu Solo. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa meskipun upacara pemakaman ini sacral, menakutkan dan mengeluarkan banyak biaya, masyarakat Toraja tetap melestarikan tradisi mereka dari generasi ke generasi.
Pemaknaan tradisi Peh Cun di Indonesia: Visualisasi dalam koleksi Ready-to-Wear Deluxe bagi generasi muda dengan gaya hidup urban Dewi Isma Aryani; Josephine Theodora
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 6 No. 2 (2022): Oktober
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v6i2.22796

Abstract

Peh Cun merupakan salah satu budaya peranakan hasil akulturasi budaya Tionghoa dan Indonesia. Tradisi Peh Cun bertujuan untuk mengenang dan menghormati patriotisme seorang negarawan asal Tiongkok bernama Qu Yuan yakni menteri Negara Chu yang hidup pada Warring States Period. Qu Yuan seorang menteri yang jujur dan setia, namun difitnah oleh pejabat lainnya sehingga diusir dan bunuh diri karena tidak dihargai kesetiaannya oleh raja. Para nelayan mencari mayat Qu Yuan dengan menaiki perahu naga karena kepercayaan adat bahwa sang naga bisa membantu menemukan tubuh Qu Yuan dari dasar sungai. Selain itu, nelayan juga melempar bakcang ke sungai agar tubuh Qu Yuan tidak dimakan hewan dan dianggap untuk membuang sial.  Koleksi busana berjudul ZÀI JÌ YÌ terinspirasi dari keunikan tradisi Peh Cun terutama perlombaan mendayung perahu naga dan tradisi memakan bakcang melalui representasi aksen teknik smock, ombre dye spray, dan opnaisel. Project based learning menjadi metode yang digunakan dalam perancangan koleksi ini. Tujuan perancangan ZÀI JÌ YÌ adalah untuk: 1) Menciptakan koleksi busana berkonsep modern dengan inspirasi Peh cun, 2) Menerapkan teknik manipulasi material ke dalam koleksi busana. Hasil akhir yang diperoleh berupa koleksi rancangan busana deluxe siap pakai dengan siluet simple, stylish dan kontemporer sesuai acuan Indonesia Trend Forecasting 2021/2022 bertema Spirituality subtema Modern dengan menampilkan detail manipulasi dan material secara menyeluruh pada busana.   Peh Cun, which emerged from the blending of Chinese and Indonesian traditions, is one of the peranakan cultures. The Peh Cun tradition seeks to celebrate and remember the nationalism of a Chinese leader named Qu Yuan, the Minister of State of Chu who lived during the Warring States Period. Although Qu Yuan was a trustworthy and obedient minister, the monarch disregarded his allegiance, and as a result, he banished him and later killed himself. In accordance with the conventional wisdom that the dragon may aid in locating Qu Yuan's body at the river's bottom, the fishermen used a dragon boat to look for his remains. Additionally, fisherman also toss bakcang into the river to prevent animals from eating Qu Yuan's body, which is said to be unlucky. Incorporating smock technique accents, ombre dye spray, and opnaisel, the ZÀI JÌ YÌ apparel line was motivated by the distinctiveness of Peh Cun's traditions, particularly the dragon boat rowing race and the tradition of eating bakcang. This collection was created using a project-based learning approach. The design goals of ZÀI JÌ YÌ are to: 1) Create a fashion collection with a contemporary concept influenced by Peh Cun, and 2) Apply material manipulation techniques to the fashion collection. The ultimate result is a range of ready-to-wear deluxe apparel designs with simple, stylish, and contemporary silhouettes that adhere to the Spirituality theme and Modern sub-theme of the Indonesia Trend Forecasting 2021/2022.
Mitos dan paradoks diskursus perempuan dalam film horor Kuime (Over Your Dead Body) Cintya Dara Sakina; Esther Risma Purba
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 6 No. 2 (2022): Oktober
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v6i2.22952

Abstract

Genre horor seringkali menghadirkan perempuan sebagai sosok mengerikan dan menakutkan. Penggambaran tersebut berangkat dari mitos tentang perempuan yang sengaja direpresentasikan sebagai sosok yang mengancam laki-laki. Sebagai akibatnya, sosok menakutkan dan mengerikan diidentikkan dengan perempuan. Terkait dengan mayoritas karya bergenre horor yang menampilkan perempuan sebagai sosok yang menakutkan dan mengerikan dengan teror dan penampilannya, horor di Jepang yang biasa disebut dengan  kaidan (怪談) juga masih mempertahankan praktik tersebut. Bahkan dalam kaidan, perempuan dinarasikan dan divisualisasikan secara lebih spesifik, yaitu ditampilkan dalam wujud hantu balas dendam. Terdapat paradoks hantu balas dendam sebagai tokoh jahat dalam cerita yang di sisi lain dimaklumi karena semasa hidupnya ia mengalami ketidakadilan dan penindasan oleh laki-laki. Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis film Kuime yang menampilkan bahwa narasi dan visualisasi hantu perempuan Jepang merupakan sebuah diskursus dari pemahaman masyarakat Jepang mengenai perempuan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi pustaka dengan pendekatan kualitatif menggunakan teori analisis wacana kritis oleh Norman Fairclough. Teori tersebut mencakup analisis deskripsi linguistik dari teks, interpretasi hubungan antara proses diskursif dengan teks, serta hubungan antara proses diskursif dengan proses sosial. Hasil dari penelitian ini adalah terdapat diskursus posisi dan peran perempuan dalam masyarakat Jepang yang memengaruhi pembentukan mitos hantu perempuan pada karya bergenre horor di Jepang.  Dengan adanya diskursus tandingan dalam paradoks hantu dan pembunuh perempuan pada film Kuime, dapat disimpulkan bahwa terdapat perubahan pada pemaknaan perempuan dalam film horor Jepang yang pada awalnya dimaknai sebagai bentuk manifestasi ketakutan laki-laki terhadap perempuan menjadi pemaknaan yang berpusat pada keberdayaan perempuan.    The horror genre often portrays women as terrible Gambars. Women are deliberately represented as a menace to men. As a result, a frightening and terrible Gambar is identified as a woman. Related to the most of horror genre that represents women as terrifying Gambars with terror and grim appearance, Japanese horror, known as kaidan (怪談) also still maintains this practice. In kaidan, women are narrated and visualized more specifically in revenge ghost Gambars. There is a paradox in the vengeful female ghost who is seen as an evil character in the story, but her revenge is understandable because she was wronged and oppressed by men. This research was conducted to analyze Kuime, a Japanese horror film which shows that the narration and visualization of Japanese female ghosts is a discourse on the stereotypes about women in Japanese culture. The method used in this research is a literature study with a qualitative approach using the theory of critical discourse analysis by Norman Fairclough. The theory includes the analysis of the linguistic description of the text, the interpretation of the relationship between the discursive process and the text, and the relationship between the discursive process and the social process. The result of this research shows that discourse about the position and role of Japanese women builds the myth of female ghosts in Japanese horror. By the counter-discourse in the paradox of ghosts and female killers in Kuime, it can be concluded that there is a change in the meaning of women in Japanese horror films, which was interpreted as a manifestation of men's fear of women becoming centered to women's empowerment. 
Nilai Nilai–nilai tradisi budaya Cap Go Meh pada masyarakat Cina Benteng di Tangerang sebagai sumber pembelajaran di sekolah Ivan Sanjaya; Suswandari Suswandari; Rudy Gunawan
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 6 No. 2 (2022): Oktober
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v6i2.23163

Abstract

Indonesia merupakan salah satu negara multikultural terbesar di dunia yang memiliki struktur masyarakat yang beragam, mulai dari adat, tradisi, budaya, bahasa, agama, etnis dan sebagainya. Salah satu golongan etnis yang ada di Indonesia ialah etnis Tionghoa. Salah satu budaya Tionghoa yang masih dilestarikan sampai saat ini pada masyarakat Tangerang Cina Benteng adalah tradisi Cap Go Meh yang dirayakan lima belas hari setelah tahun baru Imlex atau yang disebut dengan penanggalan Cap Go – Jia Gwee. Masyarakat Cina Benteng di Tangerang setiap tahun merayakan tradisi Cap Go Meh di berbagai tempat salah satu nya di Klenteng Tjo Soe Kong yang terletak di Pesisir Utara Tangerang. Konsep multikuluralisme tradisi budaya dalam setiap Etnis mampu membentuk rasa kebersamaan pada suatu tatanan kehidupan bermasyarakat di tengah-tengah perbedaan yang ada. Tahapan yang dilakukan peneliti dalam melakukan penelitian dimulai dengan mencari teori-teori yang relevan sebagai dasar teori dan mengikuti rangkaian perayaan Cap Go Meh serta metode yang di gunakan ialah Metode Kualitatif Etnografi yang dikembangkan oleh James P. Spradley. Hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat nilai-nilai esensial yang  sejalan dengan konsep keilmuan multikultular di Indonesia yang terintegrasi ke dalam Ilmu Sosial sebagai salah satu ilmu yang meng interpratasikan nilai budaya. Nilai tradisi budaya Cap Go Meh mampu membentuk siswa menjadi manusia yang toleran dan berintegrasi tinggi dalam memamahi Kebhinnekaan di Indonesia.    Indonesia is one of the largest multicultural countries in the world that has a diverse community structure, ranging from customs, traditions, culture, language, religion, ethnicity and so on. One of the ethnic groups in Indonesia is the Chinese. One of the Chinese cultures that is still preserved today in the Tangerang Cina Benteng community is the Cap Go Meh tradition which is celebrated fifteen days after the Imlex New Year or what is known as the Cap Go – Jia Gwee calendar. The Chinese Benteng community in Tangerang annually celebrates the Cap Go Meh tradition in various places, one of which is the Tjo Soe Kong Temple located on the North Coast of Tangerang. The concept of multiculturalism of cultural traditions in each ethnic group is able to form a sense of togetherness in an order of social life in the midst of existing differences. The stages carried out by researchers in conducting research are starting by looking for relevant theories as a theoretical basis and following a series of Cap Go Meh celebrations and the method used is the Qualitative Ethnographic Method developed by James P. Spradley. The results of the study show that there are essential values ​​that are in line with the concept of multicultural science in Indonesia which is integrated into Social Sciences as one of the sciences that interprets cultural values. The values ​​of Cap Go Meh's cultural traditions are able to shape students into tolerant and highly integrated human beings in understanding Diversity in Indonesia.
Front matter vol.6 no.2 Oktober 2022 Eggy Fajar Andalas
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 6 No. 2 (2022): Oktober
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract