cover
Contact Name
Eggy Fajar Andalas
Contact Email
andalaseggy@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
andalaseggy@gmail.com
Editorial Address
Institute of Culture, University of Muhammadiyah Malang Jl. Raya Tlogomas No. 246 Malang
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial
ISSN : 25808567     EISSN : 2580443x     DOI : 10.22219
Core Subject : Humanities, Art,
Satwika (Kajian Budaya dan Perubahan Sosial) publishes scientific papers on the results of studies/research and reviews of the literature in the fields of cultural studies and social change. The journal is oriented towards research on cultural phenomena and the current social changes. With the aim of dialogue in contemporary socio-cultural conditions, journals encourage cultural analysis and social change that challenge ideological modes and share inequitable justice, contribute to broad theoretical debates, and help stimulate new and progressive social involvement.
Arjuna Subject : -
Articles 280 Documents
Implementasi nilai dalam Wahyu Kliyu di masyarakat Desa Kendal Kecamatan Jatipuro Kabupaten Karanganyar Marlia Ika Asih; Atiqa Sabardila
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 6 No. 1 (2022): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v6i1.19294

Abstract

Wahyu Kliyu merupakan salah satu tradisi Masyarakat Desa Kendal yang masih lestari. Wahyu Kliyu memuat nilai-nilai yang dapat menjadi pedoman hidup manusia. Penelitian ini bertujuan untuk (1) endeskripsikan prosesi tradisi Wahyu Kliyu sebagai implementasi nilai-nilai yang terdapat dalam masyarakat Desa Kendal Kecamatan Jatipuro Kabupaten Karanganyar, (2) mendeskripsikan implementasi nilai kegotongroyongan masyarakat Desa Kendal Kecamatan Jatipuro Kabupaten Karanganyar, dan (3) memaparkan fungsi tradisi Wahyu Kliyu terhadap kehidupan sosial masyarakat Desa Kendal Kecamatan Jatipuro Kabupaten Karanganyar. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Informan dalam penelitian ini adalah tokoh sesepuh desa, kepala desa, perangkat desa, tokoh masyarakat. Pengumpulan data dengan wawancara, pengamatan, dan menelaah dokumen. Analisis data secara kualitatif. Penelitian menemukan penduduk Desa Kendal Kecamatan Jatipuro Kabupaten Karanganyar masih melaksanakan tradisi Wahyu Kliyu yang diadakan setiap setaun sekali sebagai ungkapan syukur kepada Tuhan dengan melempar apem. Nilai dalam tradisi merupakan implementasi kegotongroyongan, seperti peduli, sikap tenggang rasa, tolong menolong. Fungsi dari tradisi Wahyu Kliyu, di antaranya: 1) sebagai bukti kearifan lokal, 2) Sebagai bentuk pengakuan dari negara untuk warga desa kendal khususnya dan masyarakat kabupaten Karanganyar pada umumnya, 3) Sebagai budaya setempat yang perlu dilestarikan, 4) Wadah untuk mempererat persaudaraan dan silaturahmi. Wahyu Kliyu dilakukan turun temurun untuk mengharap berkah, menyampaikan syukur, dan memohon keselamatan. Ungkapan syukur kepada Tuhan dengan cara setiap warga Desa Kendal membuat masing-masing 344 apem yang didoakan dan kemudian dimakan bersama.   Wahyu Kliyu is one of the traditions of the Kendal Village Community that is still sustainable. Wahyu Kliyu contains values ​​that can be a guide for human life. This study aims to (1) describe the Wahyu Kliyu tradition procession as an implementation of the values ​​contained in the community of Kendal Village, Jatipuro District, Karanganyar Regency, (2) Describe the implementation of the value of mutual cooperation in Kendal Village, Jatipuro District, Karanganyar Regency, and (3) Describe the function of tradition. Wahyu Kliyu on the social life of the Kendal Village community, Jatipuro District, Karanganyar Regency. This study used descriptive qualitative method. Informants in this study were village elders, village heads, village officials, community leaders. Collecting data by interviewing, observing, and reviewing documents. Qualitative data analysis. The results show that the villagers of Kendal, Jatipuro District, Karanganyar Regency still carry out the Wahyu Kliyu tradition which is held once a year as an expression of gratitude to God by throwing apem. Values ​​in tradition are the implementation of mutual cooperation, such as caring, tolerance, help. The functions of the kliyu revelation tradition include: 1) as evidence of local wisdom; 2) As a form of recognition from the state for Kendal village residents in particular and the Karanganyar district community in general; 3) As a local culture that needs to be preserved; 4) A place to strengthen brotherhood and friendship. Wahyu Kliyu is carried out from generation to generation to hope for blessings, express gratitude, and ask for safety. an expression of gratitude to God by means of each Kendal villager making 344 apem each which is prayed for and then eaten together.
Analisis perubahan peran dan fungsi keluarga pada masyarakat Minangkabau dalam teori feminisme dan teori kritis Irwan Irwan; Felia Siska; Zusmelia Zusmelia; Meldawati Meldawati
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 6 No. 1 (2022): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v6i1.19383

Abstract

Masyarakat Minangkabu dewasa ini mengalami perubahan yang terlihat pada peran dan fungsi keluarga matrilinial. Fokus tujuan penelitian adalah menganalisis perubahan keluarga Minangkabau dalam perspektif teori feminisme dan teori kritis. Metode dalam penelitian ini adalah expost facto. Metode expost facto menjelaskan hubungan sebab akibat dalam suatu peristiwa dengan kenyataan. Analisis data dalam penelitian menggunakan buku, jurnal dan dokumen berdasarkan observasi di lapangan dan data diperoleh melalui studi pustaka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa di era digital ada perbedaan keluarga tradisional Minangkabau dan keluarga modern Minangkabau. Arus globalisasi berubah terdapat pada peran keluarga Minangkabau. Realitas kehidupan institusi dan fungsi keluarga Minangkabau mengalami perubahan dalam pelaksanaan peran. Relasi keluarga Minangkabau termasuk kuat, akan tetapi peran ninik mamak terhadap keponakan mengalami perubahan dalam realitas kehidupan.   Minangkabau society today is experiencing changes that can be seen in the roles and functions of the matrilineal family. The focus of the research objective is to analyze changes in the Minangkabau family in the perspective of feminism theory and critical theory. The method in this research is ex post facto. The expost facto method explains the causal relationship in an event with reality. Data analysis in the study used books, journals and documents based on field observations and data obtained through literature study. The results show that in the digital era there are differences between the traditional Minangkabau family and the modern Minangkabau family. The current of globalization has changed in the role of the Minangkabau family. The reality of institutional life and the function of the Minangkabau family has changed in the implementation of roles. Minangkabau family relations are strong, but the role of ninik mamak towards nephews has changed in the reality of life.
Kearifan lokal dalam pengelolaan Repong Damar Pekon Pahmungan Kecamatan Pesisir Tengah Kabupaten Pesisir Barat Lampung Nana Oktarina; Heni Nopianti; Ika Pasca Himawati
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 6 No. 1 (2022): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v6i1.19609

Abstract

Kearifan lokal merupakan komponen terpenting dalam kebudayaan  termasuk halnya dalam pengelolaan Repong Damar yang terdapat di Pekon Pahmungan, Kecamatan Pesisir Tengah, Kabupaten Pesisir Barat, Provinsi Lampung. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui kearifan lokal pengelolaan Repong Damar di Pekon Pahmungan. Penelitian dilakukan dengan pendekatan kualitatif. Penelitian ini menghasilkan temuan bahwa kearifan lokal dalam pengelolaan Repong Damar di Pekon Pahmungan sebagai berikut. Nilai-nilai adat pewarisan Repong Damar kepada anak tertua laki-laki.  Hal ini dikarenakan anak tertua laki-laki dianggap mempunyai tanggung jawab penuh untuk keluarganya. Dalam pembukaan lahan harus mengikuti proses pengelolaan Repong Damar melalui tiga fase, yaitu fase darak, yaitu pembukaan lahan; fase kebun, yakni penanaman bibit pohon produktif (damar, duku, durian, jengkol); fase repong, yakni proses terakhir dalam pembukaan lahan yang sudah berbentuk kebun yang menyerupai hutan alami yang ditumbuhi berbagai tanaman produktif baik kayu, damar, duku, jengkol yang harus menunggu usia pohon damar berumur di atas 15 tahun untuk siap disadap. Apabila tidak mengikuti ketiga fase tersebut maka akan menyebabkan bala bencana (kualat) seperti hasil getah damar menyusut dan tidak menghasilkan getah damar unggul (damar mata kucing). Selain itu terdapat hukum adat yang mengatur kegiatan pengelolaan petani Repong Damar bahwa penebangan pohon damar harus sesuai dengan ketentuan umur pohon yakni usia pohon damar di atas 15 tahun, apabila tidak mematuhi maka akan diberikan sanksi berupa penanaman bibit pohon damar kembali di lahan yang sama. Berdasarkan realita di lapangan berbagai hal yang dilakukan petani merupakan tradisi leluhur yang diwariskan antargenerasi.   Local wisdom is the most critical component in culture, including the management of Repong Damar. This study aims to find out the local wisdom in managing Repong Damar in Pekon Pahmungan. Data collection techniques use qualitative description. This study concluded that local wisdom in the management of Repong Damar in Pekon pahmungan as follow. Traditional values of inheritance of Repong Damar to the eldest son. This is because the eldest son is considered entirely responsible for his family. Inland clearing must follow the management process of Repong Damar through three phases, namely darak phase, namely land clearing; kebun phase, planting productive tree seedlings namely (resin, duku, durian, jengkol); repong phase is the last process in land clearing that has been in the form of a garden that resembles a natural forest that is overgrown with various productive plants both wood, resin, Duku, jengkol who have to wait for the age of resin trees over 15 years to be ready to be tapped, if they do not follow the three phases it will cause disaster (kualat) such as the results of resin shrinking and not produce superior resin sap (cat's eye damar). In addition, there is a customary law that regulates the management activities of Repong Damar farmers that the felling of damar trees must comply with the provisions of the age of the tree, namely the age of the damar tree is above 15 years, if it does not comply, it will be given a sanction in the form of planting damar tree seedlings again on the same land. Based on the reality, the actions taken by Repong Damar farmers are a form of the traditional auction because the management of Repong Damar has become a tradition that is carried out from generation to generation from the ancestors.
Akulturasi Islam pada budaya Ruwatan Rumah di Cikidi Hilir Banten Bilal Hardiansyah; Deni Iriyadi; Iffan Ahmad Gufron
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 6 No. 1 (2022): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v6i1.19755

Abstract

Di zaman sekarang terjadi perubahan-perubahan dinamikia sosial kemasyarakatan sebagai dampak dari adanya gempuran modernitas. Berbagai hal mendapat pengaruh dengan perubahan tersebut salah satunya berkaitan dengan tradisi yang ada di masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana proses akulturasi budaya Islam pada zaman dulu dan sekarang serta hal apa yang mempengaruhi perubahan tersebut, khususnya pada tradisi ruwatan rumah. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan etnografi. Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara yang dilakukan secara langsung kepada responden yang tetap menjaga kondisi alami dari masyarakat. Penelitian dilakukan di daerah Cikidi Hilir karena masyarakat masih sangat kental dengan keyakinan dengan leluhur yang dilaksanakan pada bulan Desember 2021. Responden pada penelitian ini sebanyak 10 orang yang berasal dari masyarakat di daerah Cikidit Hilir. Pemilihan sampel menggunakan teknik nonprobability sampling (purposive sampling) yakni ditujukan kepada masyarakat yang bermukim di daerah tersebut dan dianggap mengetahui tradisi. Hasil penelitian yang dilakukan menunjukkan pelaksanaan ruwatan rumah di Cidikit Hilir merupakan bentuk akulturasi budaya karena semua masyarakat di kampung itu beragama Islam. Terlebih dalam ajaran Islam, proses ruwatan rumah yang dijelaskan di atas tidak ada. Ruwatan itu hasil karya atau cipta yang diturunkan oleh para pendahulunya. Mengingat, tidak menutup kemungkinan, sebelum Islam datang wilayah itu masyarakatnya beragama Sunda Wiwitan. Terdapat akulturasi budaya Islam dengan budaya kokolot masyarakat dulu. Sebab, ada kolaborasi antara doa-doa yang bersumber dari ajaran agama Islam dan peninggalan kokolot dengan bahasa Sunda Kuno. Ruwat rumah sebagai bentuk penghargaan seseorang atau kumpulan yang paling ramai pencipta berkat tempat kediamannya (rumah).   In today's era there are changes in social dynamics of society as a result of the onslaught of modernity. Various things are influenced by these changes, one of which is related to the traditions that exist in society. This study aims to see how the acculturation process of Islamic culture in the past and present and what influences these changes. This research is a qualitative research with an ethnographic approach. Data collection techniques using interviews conducted directly to respondents who still maintain the natural conditions of the community. The research was conducted in the Cikidi Hilir area where the area is still very strong with beliefs with ancestors which was carried out in December 2021. The respondents in this study were 10 people who came from the community in the Cikidi Hilir area. The sample selection used a non-probability sampling technique (purposive sampling) which was aimed at the people who live in the area and are considered to know the tradition/culture to be studied (ruwatan rumah). The results of the research conducted indicate that the implementation of home care in Cidikit Hilir is a form of cultural acculturation. Because all the people in the village are Muslims. Especially in the teachings of Islam, the process of ruwatan house described above does not exist. Ruwatan is the result of the work or copyright handed down by his predecessors. Remembering, it is possible, before Islam came, the people were Sunda Wiwitan. There is acculturation of Islamic culture with the old-fashioned culture of the people. Because, there is a collaboration between prayers that come from the teachings of Islam and the legacy of the ancient Sundanese language. Ruwat house as a form of appreciation for someone or a group of the most crowded creators thanks to their residence (house).
Peran media baru terhadap gelaran konser musik di era pandemi Covid-19: Studi kasus Pamungkas "The Solipsism 0.2” Rachman Rigga Aglaia; Nur Maghfirah Aesthetika
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 6 No. 1 (2022): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v6i1.19836

Abstract

Budaya merupakan salah satu komponen perilaku manusia dan teknologi, menurut O’Brien dalam (Setiawan, 2013) Musik telah menjadi budaya dan bagian hidup dari masyarakat Indonesia namun adanya pandemi Covid-19 menghambat seluruh aktivitas masyarakat tidak terkecuali dunia musik. Banyak gelaran musik yang telah dipersiapkan berbulan-bulan jauhnya dan selalu ada setiap tahun terpaksa dibatalkan, namun dengan adanya perkembangan teknologi perubahan ruang kreativitas musisi Indonesia pun berubah. Dengan memanfaatkan berbagai media online seperti Instagram, Youtube, dan situs web, Pamungkas sukses dengan album barunya “Solipsism 0.2”. Pamungkas berhasil menarik lebih dari satu juta penonton dari konser musik daringnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apa peran new media terhadap gelaran konser musik dalam era pandemi Covid-19 dan bagaimana peran new media dalam mengatasi gelaran konser musik online dengan studi kasus “Pamungkas : The Solipsism 0.2” sehingga kami berharap dengan adanya penelitian ini dapat memberikan gambaran bagaimana perkembangan media baru dan teknologi komunikasi dalam perkembangan musik di Indonesia. Penulis melakukan analisa kualitatif deskriptif dengan mengumpulkan data dan informasi sekunder melalui kajian pustaka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media baru memiliki peranan yang penting dalam gelaran konser musik terutama pada masa pandemi Covid-19 seperti saat ini karena keterbatasan yang ada. Kesimpulan yang kami hasilkan yaitu media baru dapat dimanfaatkan sebagai media utama yang dapat efisiensi dalam berkomunikasi.   Culture is one component of human behavior and technology, according to O'Brien in (Setiawan, 2013) Music has become a culture and part of life for Indonesian people, but the Covid-19 pandemic has hampered all community activities, including the music world. Many musical events that have been prepared for months and always take place every year have had to be canceled, but with the development of technology, the creative space of Indonesian musicians has changed. By utilizing various online media such as Instagram, Youtube, and websites, Pamungkas was successful with his new album “Solipsism 0.2”. Pamungkas managed to attract more than one million viewers from its online music concerts. This study aims to find out what the role of new media in music concerts in the Covid-19 pandemic era and how the role of new media in overcoming online music concerts with the case study "The Ultimate: The Solipsism 0.2" so we hope that this research can provide an overview. how the development of new media and communication technology in the development of music in Indonesia. The author conducted a descriptive qualitative analysis by collecting secondary data and information through a literature review. The results of the study show that new media have an important role in holding music concerts, especially during the Covid-19 pandemic as it is today because of existing limitations. Our conclusion is that new media can be used as the main media for efficient communication.
Ketahanan kesehatan masyarakat melalui herbal habbit: Analisis isi pengobatan tradisional dalam Serat Centhini Joko Susilo
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 6 No. 1 (2022): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v6i1.20193

Abstract

Artikel ini didasari atas realitas kondisi psikologis masyarakat yang masih cemas akan pandemi Covid-19. Penulis berusaha menggali pengetahuan pengobatan lama sebagai salah satu alternative solusi bagi kesehatan masyarakat. Serat Centhini terdiri dari 12 jilid, merupakan karya sastra Nusantara yang memuat beragam tema. Salah satu tema yang terdapat dalam Serat Centhini adalah tentang ragam penyakit dan gangguan kesehatan serta pengobatan yang berbasis bahan herbal. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis-jenis penyakit dan gangguan kesehatan serta metode pengobatan herbal dalam Serat Centhini.  Peneliti melakukan penelusuran dengan menggunakan metode analisis isi kualitatif terhadap Serat Centhini Jilid 3. Analisis isi kualitatif bertujuan agar identifikasi teks tidak hanya menangkap hal-hal yang artifisial, tetapi juga mampu menggali muatan laten yang terkandung di dalamnya. Serat Centhini jilid 3 pada halaman 321 – 331 memuat informasi tentang gangguan kesehatan dan jenis penyakit serta formula pengobatan berbasis bahan herbal. Informasi tersebut tersaji dalam bentuk tembang, terdiri dari: Dandanggula, Salisir, Lonthang, dan Balabak. Hasil analisis menemukan empat kategori, yaitu: penyakit dan pengobatannya; gangguan kesehatan dan pengobatannya; pengobatan khusus pria; dan waktu yang mujarab untuk pengobatan. Hasil temuan tersebut dapat dijadikan alternatif penyembuhan selain pengobatan modern yang berbasis obat kimiawi. Informasi ini diharapkan dapat memberikan optimisme bagi masyarakat dalam rangka menghadapi era pandemi yang masih belum dapat dipastikan kapan akan berakhir pada status level zero. Kesimpulan penelitian bahwa Serat Centhini memuat khazanah pengetahuan tentang ragam penyakit dan metode pengobatan dengan berbasis bahan herbal yang mudah di dapat dan sudah akrab dalam kehidupan keseharian.                                  This article is based on the psychological condition of people who are still worried about the Covid-19 pandemic. The author tries to explore the knowledge of ancient medicine as an alternative solution for public health. Serat Centhini consists of 12 volumes, is a literary work of the Archipelago which contains various themes. One of the themes contained in the Serat Centhini is about various diseases and health problems as well as herbal-based treatment. This study aims to identify the types of diseases and health disorders as well as herbal treatment methods in Serat Centhini. The researcher conducted a search using qualitative content analysis methods on Serat Centhini Volume 3. Qualitative content analysis aims to identify texts not only capturing artificial things, but also being able to explore the latent content contained in them. Serat Centhini volume 3 on pages 321 – 331 contains information about health disorders and types of diseases as well as herbal treatment formulas. The information is presented in the form of songs, consisting of: Dandanggula, Salisir, Lonthang, and Balabak. The results of the analysis found four categories, namely: disease and its treatment; health problems and their treatment; male-only treatment; and an efficacious time for treatment. The findings can be used as an alternative healing in addition to modern medicine based on chemical drugs. This information is expected to provide optimism for the public in order to face the pandemic era, which is still uncertain when it will end at level zero status. The conclusion of the study is that Serat Centhini contains a wealth of knowledge about various diseases and treatment methods based on herbal ingredients that are easy to obtain and are familiar to in everyday life.
Konstruksi gender dalam sastra anak Sunda Nala karya Darpan Eka Ayu Wahyuni; Aquarini Priyatna; Tisna Prabasmoro
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 6 No. 1 (2022): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v6i1.20250

Abstract

Nala adalah sastra anak Sunda yang mengantarkan Darpan mendapatkan Hadiah Samsoedi pada tahun 2016, yaitu hadiah yang diberikan kepada penulis sastra anak berbahasa Sunda. Nala penting untuk dibahas karena ditulis oleh seorang penulis laki-laki yang memusatkan cerita pada tokoh anak perempuan tomboi yang kemudian diarahkan untuk menjadi perempuan feminin. Dari gambaran tersebut Nala diasumsikan menghadirkan konstruksi gender yang kaku yang menuntut perempuan untuk menunjukkan atribusi feminin; laki-laki harus menunjukkan atribusi maskulin. Artikel ini bertujuan untuk mendiskusikan konstruksi gender yang dimanifestasikan melalui penggambaran sikap serta peran tokoh perempuan dan tokoh laki-laki dalam Nala karya Darpan. Metode deskriptif-kualitatif digunakan di dalam penelitian ini. Selain itu penelitian ini menggunakan pendekatan kritik sastra feminis untuk melihat bagaimana citra perempuan dihadirkan di dalam karya sastra yang ditulis oleh laki-laki. Hasil penelitian menunjukkan bahwa di dalam Nala, konstruksi dan peran gender ditampilkan secara kaku bahwa perempuan harus feminin dan laki-laki harus maskulin. Dari temuan tersebut dapat disimpulkan bahwa konstruksi gender yang ditampilkan di dalam Nala masih berorientasi pada konstruksi gender normatif, yang berkenaan dengan sikap dan peran. Penggambaran gender normatif tersebut menafikan adanya potensi konstruksi gender alternatif seperti yang dihadirkan melalui tokoh Nala, anak perempuan tomboi, sehingga digiring untuk mengikuti peran feminin.   Nala is a Sundanese children's literature that led Darpan to achieve the Samsoedi Prize, a prize awarded to notable writers of Sundanese children's literature, in 2016. Examining Nala is important because it is written by a male writer who focuses the story on a tomboy girl character, directed to become a feminine girl. From this description, Nala is assumed to present a rigid gender construction that requires women to show feminine attributions in contrast to men that must exhibit masculine attributions. This article aims to discuss gender construction manifested through the description of attitudes and roles of female and male characters in Darpan's Nala. Descriptive-qualitative method was employed in this study. In addition, this study used a feminist literary criticism approach to see how the image of women is presented in literary works written by men. The results show that the construction of gender and roles is depicted rigidly, in a way that women must be feminine, and men must be masculine. The findings led to a conclusion that the gender construction shown in Nala is aligned with the normative gender construction, which relates to certain attitudes and roles. The depiction of normative gender denies the potential for alternative gender construction as presented through the character of Nala, a tomboyish girl who is led and expected to follow the feminine role.
Antara santet, sacrifice, dan djiwo: Hakikat eksistensi kejawen black metal Petrik Mahisa Akhtabi; Edi Dwi Riyanto
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 6 No. 1 (2022): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v6i1.20315

Abstract

Sebagai sebuah kebudayaan, Kejawen Black Metal adalah satu bentuk subkultur hibrid yang tercipta atas inkorporasi kebudayan Jawa yang ada di Indonesia dan subkultur Black Metal yang berkembang di Eropa. Sebagai sebuah bentuk musik, Kejawen Black Metal adalah satu subgenre dari Black Metal yang pada praktiknya memasukkan unsur-unsur ke-Jawaan, yaitu konsep mistik yang berkembang dan eksistensinya dipercaya nyata dalam kebudayaan masyarakat Jawa. Melihat hibriditas dari eksistensinya, subkultur tidak serta merta mengambil dan meniru segala konsep yang ada pada kebudayaan akarnya. Maka dari itu, penelitian ini ditujukan untuk menemukan dan menjelaskan apa sebenarnya esensi dan tendensi dari Kejawen Black Metal sebagai sebuah subkultur hibrid. Secara semiotik, Kejawen Black Metal dilihat sebagai sebuah simbol yang bermakna sebagaimana mestinya, namun berdiri sendiri membentuk nilai yang berbeda menurut konteksnya. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif-kualitatif dengan data yang digali lewat dokumentasi yang berhasil dilakukan oleh pihak lain. Berdasarkan penelitian ditemukan bahwa secara esensi, Kejawen Black Metal tetap merupakan perlawanan kepada sesuatu yang berbeda dengan subkultur akarnya. Selain itu, dalam konteks tendensi, Kejawen Black Metal menyimbolkan kebebasan yang ditujukan untuk mengingatkan kembali tentang kebudayaan Jawa namun dengan cara dan konsep yang berbeda dalam pembawaannya.   As a culture, Kejawen Black Metal is a form of hybrid subculture made of Javanese culture of Indonesia and the Black Metal subculture that grows in Europe. As a music, Kejawen Black Metal is Black Metal subgenre that its practices incorporates Javanese mystical concepts whose existence is believed to be true in Javanese culture. Seeing the hybridity of its existence, this subculture does not necessarily take and copy all concepts exist in its root culture. Therefore, this study aims to find and explain what actually Kejawen Black Metal’s essence and tendency is as a hybrid subculture. Through Roland Barthes' semiotics, Kejawen Black Metal is seen as a symbol whose meaning stands as it should be, but also standing independently to form different values based on particular context. The study uses a descriptive-qualitative method with extracted data based on indirect documentation that has been successfully carried out by other parties. The result, it is clear that in essence, Kejawen Black Metal remains a struggle but against something different from its root subculture. Therefore, in the context of tendency, Kejawen Black Metal symbolizes freedom that intends to remind people about the Javanese culture but in different ways and concepts in their nature.
Memori terorisme: Memori traumatis dan strategi mengatasi trauma korban Bom Bali I dalam teks sastra Indonesia Eggy Fajar Andalas; Purwati Anggraini; Joko Widodo
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 6 No. 1 (2022): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v6i1.20347

Abstract

Pada 12 Oktober 2002, dunia diguncangkan oleh peristiwa serangan teroris yang terjadi di Legian Bali. Dalam peristiwa pengeboman ini 202 orang terbunuh dan 300 orang luka-luka. Peristiwa ini merupakan salah satu aksi terorisme terbesar di Indonesia, bahkan dunia. Meskipun banyak mendapat perhatian dari peneliti, tetapi bagaimana peristiwa kelam ini diingat dalam produk budaya masyarakat belum mendapatkan perhatian. Luka Bom Bali (2017) karya Ni Komang Erviani dan Anak Agung Lea merupakan karya memoar yang berkisah mengenai pengalaman hidup korban tragedi. Karya ini menjadi teks memori yang menggambarkan bagaimana peristiwa ini diingat dalam ingatan kolektif masyarakat Indonesia. Artikel ini bertujuan mendeskripsikan representasi pengalaman traumatis dan strategi mengatasi trauma korban tragedi Bom Bali 1 yang tergambarkan dalam memoar Luka Bom Bali. Penelitian ini menggunakan pendekatan psiko-historis. Data dikumpulkan dengan teknik simak-catat dan dianalisis dengan teknik analisis isi. Hasil penelitian menunjukkan berbagai dorongan memori pasca-peristiwa pengeboman yang berada dalam alam bawah muncul dalam bentuk simbolis. Simbol-simbol ini menghantui kehidupan korban bahkan setelah 15 tahun peristiwa berlalu. Utnuk mengatasi trauma mental para korban menggunakan strategi memperkuat nilai religiusitasnya dan mengingat keluarga atau orang terdekat. Melalui analisis tersebut, kami berpendapat bahwa Luka Bom Bali merupakan state of memory kepedihan dan perjuangan korban terorisme Bom Bali 1 yang terus berjuang melawan luka fisik dan mental. Bahkan, setelah 15 tahun peristiwa berlalu para korban merasa tidak hadirnya pemerintah di tengah-tengah perjuangan mereka melawan rasa sakit. Para korban mengajak pembaca, khususnya generasi pasca-memori, untuk mengingat peristiwa ini dan belajar untuk memperoleh inspirasi dan pelajaran dari peristiwa yang terjadi. Karya ini mengajak pembaca untuk merasakan kembali trauma yang selama ini tidak tersuarakan dari perspektif korban, khususnya bagi generasi pasca-memori.   On October 12, 2002, the world was shaken by the terrorist attack in Legian Bali. In this bombing incident, 202 people were killed, and 300 people were injured. This incident is one of the biggest acts of terrorism in Indonesia, even the world. Although it has received much attention from researchers, how this dark event is remembered in the cultural products of the community has not received attention. Luka Bom Bali (Bali Bombing Woundss) (2017) by Ni Komang Erviani and Anak Agung Lea is a memoir that tells about the life experiences of victims of the tragedy. This work becomes a memory text that describes how this event is remembered in the collective memory of the Indonesian people. This article describes the representation of traumatic experiences and strategies for coping with the trauma of the victims of the Bali Bombing tragedy as depicted in the memoirs of the Bali Bombing Woundss. This study uses a psycho-historical approach. The data were collected using the note-taking technique and analyzed using the content analysis technique. The results showed that various post-bombing memory impulses that were in the unconscious appeared in a symbolic form. These symbols haunt the victim's life even after 15 years of the incident. To coping mental trauma, the victims use strategies to strengthen their religious values ​​and remember their families. Through this analysis, we argue that the Luka Bom Bali (Bali Bombing Woundss) is a state of memory of the pain and struggle of the victims who continue to struggle with physical and mental injuries. Even after 15 years of the incident, the victims felt the absence of the government during their struggle against pain. The victims invite readers, especially the post-memory generation, to remember this event and draw inspiration and lessons from the events. This work invites the reader to re-experience the trauma that has been unspoken from the victim's perspective, especially for the post-memory generation.
Peran media “Tik Tok” dalam memperkenalkan budaya Bahasa Indonesia Nurin Nauvalia; Ikwan Setiawan
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 6 No. 1 (2022): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v6i1.20409

Abstract

Upaya untuk melestarikan budaya harus dimulai dari bahasa daerah dimana dengan nilai-nilai budaya tersebut dapat dibagikan atau dikomunikasikan di antara anggota masyarakat. Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui ragam bahasa daerah yang merujuk pada istilah dalam bahasa Indonesia dalam video “Tik Tok” serta peran media tersebut dalam memperkenalkan ragam Bahasa Daerah sebagai bentuk ekspresi budaya bangsa. Penelitian ini menggunakan perspektif dari new media untuk mendiskusikan persoalan tersebut. Metode penelitian menggunakan penelitian kualitatif. The source of the data obtained is from primary data in the form of a Tiktok video entitled: Compilation of regional languages. The data collection technique uses documentation techniques, namely identifying videos of various regional languages ​​in Tiktok. Data analysis technique using reduction technique. Hasil penelitian menunjukan ragam bahasa yang terdapat dalam video TikTok yang sudah dikumpulkan oleh peneliti, terdapat ragam bahasa dari Daerah Jawa, Sunda, Solo, Minang, Banyumas, dan Manado. Peran media sosial yaitu video tiktok terkait ragam bahasa atau penyebutan Bahasa Daerah dalam memperkenalkan budaya Bahasa Indonesia sehingga dapat menjadikan Bahasa Indonesia yang beragam menjadi populer, terwariskan atau ditirukan, dan diterima dilapisan masyarakat. Video tiktok sudah menjadikan budaya Indonesia yaitu Bahasa Indonesia menjadi populer diterima disetiap seluruh masyarakat baik negeri atau luar negeri.                Efforts to be with culture must start from the local language where the cultural values ​​can be shared or communicated among community members. This paper aims to find out the variety of regional languages ​​that refer to the terms in Indonesian in the video "Tik Tok" and the role of the media in introducing various regional languages ​​as a form of national cultural expression. For these problems, this study uses the perspective of new media. The research method uses qualitative research. The results show the variety of languages ​​contained in the TikTok videos that have been collected by researchers, there are various languages ​​from the Java, Sundanese, Solo, Minang, Banyumas, and Manado regions. The role of social media is tiktok videos related to various languages ​​or the mention of regional languages ​​in introducing Indonesian culture so that they can make various Indonesian languages ​​popular, inherited or imitated, and accepted in society. Tiktok videos have made Indonesian culture, namely the Indonesian language, become popular which is accepted by all people, both country and abroad.