cover
Contact Name
Eggy Fajar Andalas
Contact Email
andalaseggy@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
andalaseggy@gmail.com
Editorial Address
Institute of Culture, University of Muhammadiyah Malang Jl. Raya Tlogomas No. 246 Malang
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial
ISSN : 25808567     EISSN : 2580443x     DOI : 10.22219
Core Subject : Humanities, Art,
Satwika (Kajian Budaya dan Perubahan Sosial) publishes scientific papers on the results of studies/research and reviews of the literature in the fields of cultural studies and social change. The journal is oriented towards research on cultural phenomena and the current social changes. With the aim of dialogue in contemporary socio-cultural conditions, journals encourage cultural analysis and social change that challenge ideological modes and share inequitable justice, contribute to broad theoretical debates, and help stimulate new and progressive social involvement.
Arjuna Subject : -
Articles 280 Documents
Narasi tiga masjid kuno Lombok sebagai bahan storytelling pramuwisata Agusman; Uwi Martayadi
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 7 No. 1 (2023): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v7i1.23599

Abstract

Cerita tiga masjid tersebut masih belum komprehensif sehingga cerita yang ada di masyarakat dan wisatawan tidak tertuju kepada pemahaman nilai-nilai atau filosofi, tetapi menunjukkan versi cerita yang paling benar. Tujuan penelitian untuk menjelaskan narasi tiga masjid kuno dari sisi tokoh, ajaran, arsitektural, budaya dan nilai-nilai atau filosofi yang terkandung sehingga bisa dijadikan sebagai bahan story telling oleh pramuwisata. Metode penelitian yang digunakan kualitatif-deskrptif. Lokasi penelitian ialah di Bayan (tempat masjid kuno Bayan), Rembitan (tempat masjid kuno Rembitan), dan di Gunung Pujut (tempat Masjid kuno Gunung Pujut). Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara mendalam kepada juru kunci masing-masing masjid kuno mengenai narasi tokoh, ajaran, arsitektural, budaya dan nilai.  Analisis data menggunakan deskriptif dengan menampilkan narasi cerita masjid kuno dari tokoh, ajaran, arsitektural, budaya dan nilai-nilai untuk diinterpretasikan.  Tokoh masjid kuno Bayan Beleq ialah Syekh Abdul Mutering Langit dan Syekh Abdul Mutering Jagat, masjid kuno Rembitan ialah Wali Nyatoq dan masjid kuno Gunung Pujut ialah Mas Mulia. Masjid kuno Bayan Beleq urutan pertama (14 M) dengan ajaran hakikat islam mulai dari syariat, tareka, hakikat dan makrifat, masjid kuno Rembitan urutan kedua (15 M) dengan ajaran tasawuf (hakikat) dan masjid Gunung Pujut urutan ke tiga (16 M) dengan ajaran tasawuf (makrifat). Ketiga masjid memiliki pola pengajaran perpaduan islam dengan budaya sehingga melahirkan wetu telu serta arsitektural dan nilai-nilai juga sama. Narasi tiga masjid kuno bisa dijadikan sebagai bahan story telling melalui penyusunan buku utuh mengenai cerita komprehensif tiga masjid kuno sehingga bisa sebagai acuan oleh pramuwisata dalam menjelaskan segala bentuk dan substansinya kepada wisatawan.          The story of the three mosques is still not comprehensive, so the stories in the community and tourists are not focused on understanding values ​​or philosophy but show the most authentic version. The research objective is to explain the narratives of the three ancient mosques in terms of figures, teachings, architecture, culture, and the values ​​or philosophies contained so that they can be used as storytelling material by tour guides. The research method used is qualitative-descriptive. The research locations are in Bayan (masjid kuno Bayan), Rembitan (masjid kuno Rembitan), and on Mount Pujut (masjid kuno Gunung Pujut). The data collection technique used in-depth interviews with the caretakers of each ancient mosque regarding the narration of figures, teachings, architecture, culture, and values. Data analysis descriptively: displays narrative stories of ancient mosques from sculptures, teachings, architecture, culture, and values ​​to be interpreted. The figures of the masjid kuno Bayan Beleq are Sheikh Abdul Mutering Langit and Sheikh Abdul Mutering Jagat, masjid kuno Rembitan is Wali Nyatoq and masjid kuno Gunung Pujut is Mas Mulia. The first order is masjid kuno Bayan Beleq (14 M) with the teachings of the essence of Islam starting from syariat, tarekat, hakikat dan makrifat, the second order is masjid kuno Rembitan (15 M) with the teachings of Sufism (hakikat) and masjid kuno Gunung Pujut e is the third order (16 M) with the teachings of Sufism (makrifat). The three mosques have a teaching pattern that blends Islam with the culture to give birth to wetu telu, and the architecture and values ​​are also the same. The narrative of the three ancient mosques can be used as storytelling material by compiling a complete book on the comprehensive stories of the three ancient mosques so that they can be used as a reference by tour guides in explaining all forms and substances to tourists.
Perkembangan dan pelestarian tenun Corak Insang khas kota Pontianak Haris Firmansyah; Iwan Ramadhan; Hadi Wiyono; Astrini Eka Putri; Thomy Sastra Atmaja
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 7 No. 1 (2023): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v7i1.23933

Abstract

Kota Pontianak memiliki kain bercorak khas yang berupa tenun corak Insang sebagai identitas budaya yang harus dikembangkan dan dilestarikan. Penelitian ini bertujuan mengkaji perkembangan dan pelestarian tenun Corak Insang khas kota Pontianak. Tenun Corak Insang merupakan kain yang mengandung nilai budaya yang tinggi sejak zaman Kesultanan Pontianak dan harus dilestarikan keberadaanya. Perlunya perluasan fakta-fakta menarik terkait perkembangan dan pelestarian tenun Corak Insang secara luas sejak dahulu hingga sekarang demi terjaganya keberadaan tenun Corak Insang agar terus dikreasikan, dicintai dan diminati oleh generasi ke generasi. Metode yang digunakan penelitian kualitatif melalui pendekatan deskriptif. Sedangkan sumber data terdiri atas data primer yaitu hasil wawancara dan pengamatan proses pembuatan tenun serta kunjungan museum, data sekunder diperoleh dari arsip gambar dan informasi. Teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara serta dokumentasi. Awalnya tenun Corak Insang hanya digunakan oleh kalangan bangsawan di istana Kadriah Pontianak saja. Sebagai lambang identitas bangsawan atau status sosial pada suatu kelompok. Baik dari segi penggunaannya, pembuatan maupun perkembangan dari segi coraknya yang saat ini semakin beragam dan terus dilestarikan oleh masyarakat Melayu kota Pontianak. Disimpulkan bahwa perkembangan dan pelestarian tenun corak insang sudah mengalami inovasi dan kreasi yang lebih baik dengan tetap memertahankan nilai dan tampilan yang khas agar tetap eksis sebagai hasil dari tangan produksinya serta penggunaannya tidak terbatas hanya golongan tertentu saja.   The city of Pontianak has a distinctively patterned cloth in gill pattern weaving as a cultural identity that must be developed and preserved. This study examines developing and preserving the Pontianak City-style woven corak insang. Weaving with gill patterns is a cloth that has contained high cultural value since the time of the Pontianak Sultanate, and its existence must be preserved. It is necessary to expand on interesting facts related to the development and preservation of corak insang weaving from ancient times until now to maintain the existence of gill pattern weaving so that it continues to be created, loved, and in demand by generations. The method used is qualitative research through a descriptive approach. The data sources consist of primary data, namely the results of interviews and observations of the process of making weaving and museum visits, and secondary data obtained from archives of images and information. Data collection techniques were done through observation, interviews, and documentation. Initially, the nobility only used the corak insang weaving at the Kadriah Pontianak palace. As a symbol of the identity of nobility or social status in a group. Both in terms of its use, manufacture, and development in terms of styles, which are increasingly diverse and continue to be preserved by the Malay community of Pontianak City. It was concluded that the development and preservation of gill pattern weaving had experienced better innovation and creation while maintaining a distinctive value and appearance so that it continues to exist due to its production hands, and its use is not limited to specific groups only.
Pandangan hidup Kejawen (Asta Brata) sebagai konsep kepemimpinan di era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, and Ambiguity) Hari Fitria Utama
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 7 No. 1 (2023): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v7i1.24056

Abstract

Tulisan ini membahas tentang gaya kepemimpinan Asta Brata untuk diterapkan di era VUCA, dengan menggunakan metode penelitian kualitatif dengan tahap pengumpulan data, analisis dengan metode deskriptif-analitik, interpretasi, dan dilanjutkan tahap penulisan menjadi sebuah karya. Masalah yang di angkat dalam penelitian ini adalah bagaimana konsep Asta Brata dapat diterapkan sebagai pedoman kepemimpinan di era VUCA. Permasalahan tersebut dijawab dengan menjabarkan pengertian VUCA, pengertian Asta Brata, dan analisis Asta Brata sebagai pedoman kepemimpinan di era VUCA. Melalui kajian yang dilakukan, ditemukan bahwa terdapat sudut pandang lain dari VUCA yakni VUCA Prime yang bermakna positif. VUCA Prime terdiri atas (Vision, Undertsanding, Clarity, and Agile). Ditemukan juga Asta Brata merupakan konsep kepemimpinan ideal yang didasari peneladanan terhadap sikap unsur dalam alam yakni bumi, air, angin, bulan, matahari, samudra, gunung, dan api. Setelah dilakukan analisis ditemukan bahwa Asta Brata dapat diterapkan sebagai pedoman yang harus dimiliki pemimpin untuk mencapai VUCA Prime. Penerapannya adalah sebagai berikut: sikap air dan bumi dapat digunakan untuk mencapai Vision, sikap lautan dan bulan untuk mencapai Understanding, sikap angin dan api untuk mencapai Clarity, serta sikap gunung dan matahari dapat diterapkan untuk mencapai Agile. Berdasarkan temuan tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa Asta Brata dapat dijadikan alternatif konsep kepemimpinan di era VUCA.   This study examines Asta Brata's leadership style for the VUCA age. Utilizing qualitative research methodologies with data gathering phases, descriptive-analytic analysis, interpretation, and extending the writing step into work. The issue presented in this study is how to apply the Asta Brata idea as a leadership guide in the VUCA age. This issue is addressed by defining VUCA, Asta Brata, and analyzing Asta Brata as a guideline for leadership in the VUCA age. According to the research, another point of view from VUCA, VUCA Prime, has a positive significance. VUCA Prime is made from (Vision, Understood, Clarity, and Agile). It was also discovered that Asta Brata is an ideal leadership concept based on the attitudes of nature's elements, including earth, water, wind, moon, sun, ocean, mountains, and fire. Following an examination, Asta Brata may be used as a guideline for leaders to reach VUCA Prime. Water and earth attitudes can be used to gain Vision; ocean and moon attitudes can be used to gain Comprehension; wind and fire attitudes can produce Clarity; and mountain and sun attitudes can achieve Agile. Asta Brata, based on these findings, can be employed as an alternative leadership idea in the VUCA age. 
Relics of the pre-script and script sites of Sapit Village: Evidence of the identity of Lombok’s civilization Jannata Jannata; M. Gunawan Supiarmo
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 7 No. 1 (2023): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v7i1.24111

Abstract

Sapit is a village rich in natural resources and the hospitality of its people. This village is also rich in cultural diversity, not only in social norms, art, ideas, or notions but also in relics from pre-literate and script eras. The purpose of this research is to reveal information related to the legacy of the pre-script site and script of the village of Sapit as proof of the identity of the Lombok people's civilization. This study used a descriptive-qualitative method through the data collection stage through observation, data analysis, and data interpretation. The results showed that the heritage sites of the pre-literate Sapit village included punden, menhirs, dolmens, sarcophagi, beads, lisung stones, and statues in the form of creatures. Furthermore, cultural heritage is scriptural heritage, consisting of Sapit inscriptions, Langgar Pusaka, statues of Dewi Sri, ancient manuscripts or Korans, and kentongan. The existence of these heritage sites is strong evidence that Lombok has a cultural heritage that is unique or identifies it both nationally and globally.   Sapit merupakan desa yang kaya akan sumber daya alam, dan keramahtamahan masyarakatnya. Desa ini juga kaya akan keanekaragaman budaya, tidak hanya berupa norma sosial, seni, ide atau gagasan, melainkan peninggalan-peningalan zaman pra aksara dan aksara. Tujuan penelitian ini adalah mengungkapkan informasi terkait peninggalan situs pra aksara dan aksara desa Sapit sebagai bukti identitas peradaban masyarakat Lombok. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif yang dilakukan melalui tahap pengumpulan data dengan melakukan observasi, tahap analisis data, dan tahap interpretasi data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa situs peninggalan desa Sapit zaman pra aksara, antara lain punden, menhir, dolmen, sarkofagus, manik-manik, lisung batu, dan arca berbentuk makhluk. Selanjutnya warisan budaya berupa peninggalan aksara, terdiri atas prasasti Sapit, Langgar Pusaka, arca Dewi Sri, mushaf atau al-Quran kuno, dan kentongan. Adanya situs peninggalan tersebut merupakan bukti kuat bahwa Lombok memiliki warisan budaya yang menjadi keunikan atau identitas baik secara nasional maupun global.
Problem alienasi sebagai akibat ketakterwakilan di dalam masyarakat: Analisis pemikiran matematika sebagai ontologi Alain Badiou Muhammad Irfan Syaebani; Untung Yuwono; Embun Kenyowati Ekosiwi
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 7 No. 1 (2023): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v7i1.24212

Abstract

Alain Badiou adalah salah satu filsuf yang terpengaruh pemikiran Marxisme. Melalui matematika, Badiou mencoba menjelaskan kondisi sosial-politik masyarakat dalam bingkai Marxisme. Bagi Badiou, di dalam masyarakat selalu ada komponen yang tidak terwakili meskipun ada di dalam masyarakat. Komponen tersebut menjadi tidak terwakili karena tidak terhitung sebagai elemen masyarakat dan akibatnya menjadi teralienasi. Keberadaan kelompok yang tealineasi ini dapat diidentifikasi melalui penjabaran himpunan ke dalam himpunan-himpunan bagian dan kelompok ini menjadi himpunan kosong yang selalu mendasari setiap himpunan tetapi tidak pernah terhitung. Artikel ini menjelaskan ontologi masyarakat melalui analisis teks pemikiran Badiou yang menggunakan matematika terutama teori himpunan. Beberapa keberatan terhadap pemikiran Badiou pun dijabarkan di dalam artikel ini.   Alain Badiou is a philosopher who is affected by Marxism. Through mathematics, Badiou explains the social-political condition of society using the Marxism framework. According to Badiou, there is always a component which is excluded even though the component is inherent in the society itself. The component becomes excluded or alienated because it is uncounted as an element; thus, it experiences exclusion. The availability of the component could be identified through the subsets axiom, and the component is identified as an empty set. An empty set is the basis of every set but never being counted. This article tries to explain the ontology of society through Badiou’s thought which optimizes mathematics especially set theory. Several objections to Badiou’s thought are also discussed in the paper.
Nilai-nilai toleransi hasil akulturasi budaya pada masjid Mantingan Jepara Aulia Normalita
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 7 No. 1 (2023): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v7i1.24353

Abstract

Masjid sebagai sentral kegiatan keagamaan umat Islam tidak hanya menyajikan keindahan hanya dari sisi Islam, melainkan umat di luar agama Islam turut serta mewarnai keindahan dari masjid Islam itu sendiri.  Salah satunya terwujud pada bangunan masjid Mantingan di Jepara. Penelitian ini bertujuan untuk 1) menyelisik nilai-nilai toleransi dalam proses pembangunan masjid Mantingan, 2) mendeskripsikan akulturasi budaya pada Masjid Mantingan. Metode penelitian menggunakan deskriptif kualitatif, sumber data berupa dokumen dan informan. Teknik pengumpulan data berupa wawancara terbuka dengan juru kunci dari makam sekaligus pengurus masjid Mantingan dan observasi berupa pengamatan dan pencatatan. Teknik analisis data menggunakan model interaktif Miles dan Huberman. Hasil penelitian menunjukkan adanya nilai toleransi yang sejak dulu telah diimplementasikan Ratu Kalinyamat sebagai pelopor berdirinya masjid Mantingan dengan Tji Wie Gwan.  Seorang arsitektur Cina sekaligus Ayah angkat dari Sultan Hadirin yang memadukan akulturasi budaya pada bangunan masjid  berupa ornamen batu yang dipahat. Ornamen tersebut  hasil dari kesenian Cina. Adapun akulturasi budaya terlihat pada bentuk bangunan masjid yang diadopsi dari rumah Jawa serta adanya gapura yang berasal dari kebudayaan Buda dan Islam. Nilai toleransi yang ditemui ada pada proses sejarah pembangunan masjid tersebut di antaranya adalah nilai menghargai, kerjasama, gotong royong, tolong menolong dan tidak adanya diskriminasi antara Islam, Jawa dan Cina maupun Buda. Adapun akulturasi budaya dimunculkan pada bangunan Masjid Mantingan berupa ornamen, Candi Bentar, penyangga, bedug maupun kentongan serta atap yang bersusun tiga.   The mosque, as the center of religious activities of Muslims, not only presents beauty from the side of Islam, but people outside the Islamic religion participate in coloring the beauty of the Islamic mosque itself. One of them is manifested in the Mantingan mosque building in Jepara. This study aims to describe the values of tolerance in culture and acculturation found in the Mantingan mosque building in Jepara. The research method uses qualitative descriptive data sources in the form of documents and informants. Data collection techniques include open interviews with caretakers from the tomb and Mantingan mosque administrators and observational observations in the form of observation and recording. Data analysis techniques using Miles and Huberman's interactive model. The results showed the value of tolerance that Queen Kalimat had long implemented as the pioneer of establishing the Mantingan mosque with Tji Wie Gwan. A Chinese architect and adoptive father of Sultan Hadirin who combines cultural acculturation in mosque buildings in the form of carved stone ornaments. The ornaments are the result of Chinese art. Cultural acculturation can be seen in mosque buildings adopted from Javanese houses and gates derived from Buddhist and Islamic cultures. The value of tolerance found in the historical process of building the mosque includes respect, cooperation, mutual assistance, help, and the absence of discrimination between Islam, Java, China, and Buddhism. Cultural acculturation is raised in the Mantingan Mosque building in ornaments, Bentar Temple, supports, bedug and kentongan, and a three-tiered roof.
Biases in a humorous talk show on religious conversion on youtube: Critical discourse analysis approach on “Pindah Arah” playlist Mufti Labib Jalaluddin; Zezen Zaenal Mutaqin
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 7 No. 1 (2023): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v7i1.24503

Abstract

Violations of religious freedom, including the right of religious conversion, often occur in Indonesia, although the state constitution guarantees the right. Several kinds of research indicate that news media has produced discursive violations through texts with certain language styles. Nonetheless, the violation can also happen through humorous language style in social media. This paper aims to discover the discourse behind a humorous talk show on religious conversion in the “Pindah Arah” playlist on the Comedy Sunday YouTube channel, whether it entirely promotes religious conversion as freedom of religion or carries bias. The playlist, as well as the channel, is chosen as the only one that gives the stage for religious converts, either those who converted to Islam or from Islam, to tell their religious conversion in a humorous program on YouTube. This qualitative research uses content analysis, applying Norman Fairclough’s critical discourse analysis method. The results of this study show that the videos in the playlist, on the one hand, show religious freedom, but on the other hand, they still carry the hosts’ majority bias. The bias is shown through word and analogy choices which frame conversion to Islam as positive and conversion from Islam as unfavorable. The bias is related to the social context among the social relationship between adherents of religions. This article argues that the playlist “Pindah Arah” of the Comedy Sunday YouTube channel implicitly violates personal freedom of religious conversion through aggressive humor and shows a contradiction between their slogan and jokes.   Pelanggaran terhadap kebebasan beragama, termasuk hak untuk berpindah agama, tidak jarang terjadi di Indonesia meskipun secara hukum hak tersebut dijamin oleh konstitusi. Banyak penelitian menunjukkan adanya pelanggaran tersebut, terlebih dari wacana yang dimuat dan diproduksi oleh media berita melalui teks dengan gaya bahasa tertentu. Meski demikian, pelanggaran itu dapat terjadi melalui gaya bahasa humor di media sosial. Artikel ini bertujuan untuk menemukan wacana di balik talkshow lucu tentang konversi agama dalam playlist "Pindah Arah" di kanal YouTube Comedy Sunday, apakah itu sepenuhnya mempromosikan konversi agama sebagai kebebasan beragama atau membawa bias. Daftar putar beserta saluran tersebut dipilih sebagai satu-satunya yang memberikan panggung bagi para pelaku pindah agama, baik mereka yang masuk Islam atau keluar dari Islam, untuk menceritakan cerita pindah agama mereka dalam program humor di YouTube.  Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan menggunakan analisis isi dengan menerapkan metode analisis wacana kritis Norman  Fairclough. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa video dalam playlist di satu sisi menunjukkan kebebasan beragama, namun di sisi lain masih membawa bias mayoritas dari pembawa acara.  Bias tersebut ditunjukkan melalui pilihan kata dan analogi yang membingkai konversi ke Islam sebagai positif dan konversi dari Islam sebagai negatif. Bias tersebut terkait dengan konteks sosial di antara hubungan sosial antara penganut agama.  Artikel ini berpendapat bahwa playlist “Pindah Arah” secara implisit melanggar hak personal untuk pindah agama melalui humor agresif dan menunjukkan kontradiksi antara slogan dan candaan mereka.
Nilai moral dalam tradisi Asapoan sebagai potret kerukunan masyarakat Syaifatul Jannah
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 7 No. 1 (2023): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v7i1.24607

Abstract

Penelitian ini menguraikan tentang nilai-nilai moral dalam tradisi Asapoan sebagai potret kerukunan masyarakat desa Lancar. Asapoan  artinya menyapu. Asapoan  dalam tradisi ini ialah menyapu halaman rumah mertua pada keesokan hari setelah menggelar acara pernikahan. Kekhasan dan keunikan dari Asapoan adalah dilakukan oleh pengantin laki-laki walau hanya dengan tiga kali sapuan atau walau hanya dengan mengambil beberapa sampah dan dilakukan dipagi buta. Dari pelaksanaan tradisi Asapoan  terdapat nilai-nilai moral yang dapat dikaji lebih jauh. Nilai-nilai moral dalam tradisi Asapoan ini menjadi dasar pembentukan dan penggambaran masyarakat yang rukun yakni dilihat dari implementasi nilai-nilai moral tersebut dalam kehidupan sehari-hari masyarakat desa Lancar. Fokus penelitian ini yaitu ingin mengetahui nilai-nilai moral yang terdapat dalam tradisi Asapoan dan identitas masyarakat desa yang tergambar dalam nilai-nilai moral tersebut. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data wawancara, observasi, dan FGD. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat sembilan nilai moral yang dikaji yaitu menghormati, menghargai, disiplin, menjalin silatrrahmi, sopan dan santun, patuh, kasih sayang, bijaksana, dan hidup rukun. Implementasi nilai-nilai tersebut tergambar dalam kehidupan sehari-hari masyarakat desa Lancar, yakni pola interaksi dengan orang tua, guru, dan antar tetangga. Adapun nilai-nilai moral yang diimplementasikan dalam kehidupan masyarakat Lancar yang menggambarkan sikap kerukunan masyarakat desa Lancar dikategorikan menjadi tiga bentuk sikap rukun, yaitu toleransi, persaudaraan, dan perdamaian.     This research will describe the moral values ​​in the Asapoan tradition as a portrait of the harmony of the Lancar village community. Asapoan means to sweep. Asapoan in this tradition is sweeping the parents-in-law's yard the next day after holding a wedding. The peculiarity and uniqueness of the tradition in this tradition is that the bridegroom does Asapoan , even if it is only three sweeps or even if it is only by picking up some trash and doing it early in the morning. From the implementation of the Aspoan tradition, there are moral values ​​that can be studied further. The moral values ​​in the Aspoan tradition form the basis for the formation and depiction of a harmonious society, which is seen from the implementation of these moral values ​​in the daily life of the Lancar village community. The focus of this research is to find out the moral values ​​contained in the Asopoan tradition and the identity of the village community which is reflected in these moral values. The research method used is descriptive qualitative method with data collection techniques of interviews, observation, and FGD. The results of the study show that there are nine moral values ​​studied, namely respect, respect, discipline, establishing friendship, polite and courteous, obedient, affectionate, wise, and living in harmony. The implementation of these values ​​is reflected in the daily life of the Lancar village community, namely the pattern of interaction with parents, teachers, and between neighbors. The moral values ​​that are implemented in the life of the Lancar community which describe the harmonious attitude of the Lancar village community are categorized into 3 forms of harmonious attitude, namely tolerance, brotherhood, and peace.
Petik Laut dalam perspektif tokoh-tokoh lintas agama: Studi kasus ritual masyarakat Muncar Banyuwangi Ro'fat Hizmatul Himmah; Sofkhatin Humaidah; Nur Syam
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 7 No. 1 (2023): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v7i1.24628

Abstract

Tradisi petik laut merupakan salah satu kebudayaan masyarakat Muncar. Tradisi ini sudah berlangsung sejak dahulu dan merupakan peninggalan nenek moyang. Tujuan dan makna dari petik laut adalah  ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dalam pelaksanaannya, petik laut banyak menyerap beberapa kebudayaan, baik kebudayaan agama Islam, Hindu, Kristen, maupun Budha sehingga memungkinkan adanya pro dan kontra. Oleh karena itu, dalam penelitian ini masalah yang diteliti adalah bagaimana pelaksanaan petik laut yang dilakukan oleh masyarakat Muncar? dan bagaimanakah petik laut dalam perspektif tokoh-tokoh lintas agama? Penelitian ini merupakan penelitian studi kasus di mana sumber datanya adalah orang-orang yang terlibat langsung dengan petik laut dan juga tokoh-tokoh lintas agama. Data dikumpulkan dengan menggunakan tiga teknik yaitu observasi, wawancara, dan dokumentasi. Adapun analisis data menggunakan teknik analisis Miles dan Huberman. Hasil penelitian ini  menunjukkan pelaksanaan petik laut dapat dilihat dari tiga tahap yaitu tahap persiapan, tahap pelaksanan, dan tahap penutupan. Petik laut dalam perspektif tokoh-tokoh lintas agama baik dari agama Islam, Hindu, Kristen, dan Budha merupakan  hasil kebudaya dari warisan nenek moyang yang dilakukan secara turun-temurun sebagai bentuk ungkapan syukur kepada Tuhan atas hasil laut yang melimpah. Perbedaan pendapat mengenai petik laut dalam perspektif tokoh-tokoh lintas agama hanya terletak pada bagaimana cara merealisasikan ungkapan syukur tersebut. Ada yang dilakukan dengan istighosah, tahlilan, ada juga yang dilakukan dengan melarungkan sesaji untuk diberikan kepada Tuhan.   The tradition of petik laut is one of the cultures of the Muncar people. This tradition has been going on for a long time and is the legacy of our ancestors. The purpose and meaning of ‘’petik laut’’ is an expression of gratitude to God Almighty. The implementation of petik laut absorbs many Islamic, Hindu, Christian and Buddhist religious cultures, allowing for pros and cons. Therefore, two research problems were formulated in this study. Those are: (1) how is the implementation of ‘’petik laut’’ carried out by the Muncar society? and (2) How is the ‘’petik laut’’ according to the interfaith figure’s perspective? The research used the case study method. The data was collected from people directly involved with petik laut and interfaith figures. Data were collected using three techniques, namely observation, interviews, and documentation. The researcher analyzed the data based on Miles and Huberman's analysis techniques. The results of this study show that the implementation of petik laut could be seen from three stages: the preparation stage, the implementation stage, and the closing stage. Petik laut, from the perspective of interfaith figures of Islam, Hinduism, Christianity and Buddhism, is a cultural product of ancestral heritage passed down from generation to generation as a form of gratitude to God for the abundant marine products. Differences in the opinion of ‘’petik laut’’ from the perspective of interfaith figures in how to realize this expression of gratitude. Some were done by istighosah, tahlilan, and some by throwing offerings to the sea to be given to God.
Transendentalisme: Arkeologi pengetahuan Asia dalam pemikiran Henry David Thoreau Murti, Ghanesya Hari; Cahyawati, Erna; Wardani , L. Dyah Purwita; Basuki, Imam
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 7 No. 1 (2023): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v7i1.24782

Abstract

Henry David Thoreau merupakan pemikir politik dan lingkungan Amerika yang menggaungkan cara bepikir transendentalisme dalam perjuangannya. Transendentalisme berupaya menghilangkan relasi subjek-objek dalam praktik sosial yang secara tidak langsung tengah mengkoptasi pemikiran Amerika kala itu sehingga melahirkan peperangan, perbudakan dan juga perusakan alam. Tulisan ini lalu ingin memulihkan corak pemikiran transendentalis Asia khususnya Baghavad Gita yang samar samar juga turut membantu membentuk tradisi Amerika. Pemikiran revolusioner demi menolak penindasan justru terlahir melalui gaya transendentalis yang secara metodis menghilangkan relasi subjek dan objek yang tengah populer kala itu. Hilangnya relasi subjek objek secara metodis menghadirkan perspektif bahwa manusia bukanlah subjek untuk memanipulasi alam sebagai objek, menghilangkan hirarki sosial seperti perbudakan karena manusia lain tidak boleh direndahkan karena dianggap objek, dan pemerintahan tidak boleh membungkam warga negara minoritas yang tidak masuk dalam hitungan mayoritas. Meminjam tradisi Foucauldian, tulisan ini secara metodologi pun hendak melacak pemikiran Thoreau yang masih memiliki nuansa Asia. Pelacakan jejak Asia di dalam tradisi pemikiran Thoreau ingin memberikan alternatif bahwa peperangan, perbudakan dan penaklukan adalah pengkhianatan pada cita-cita pembebasan.     Henry David Thoreau is an American political and environmental thinker who echoed the transcendentalist way of thinking in his struggle. Transcendentalism seeks to eliminate subject-object relations in social practices that indirectly co-opted American thinking at the time, resulting in wars, slavery and the destruction of nature. His revolutionary thinking about transcendentalism was actually born through his consumption of eastern discourse, especially Hindhuism with its Bagavad Geeta. The disappearance of subject-object relations presents the perspective that humans are not subjects to manipulate nature as an object, eliminate social hierarchies such as slavery because other humans should not be humiliated because they are considered objects, and the government should not silence minority citizens who are not included in the majority count. This paper methodologically retraces all the Asian thought that anchors Thoreau's thought archaeologically, which seems to have been marginalised in the western tradition. The tracing of Asian views in the tradition of Thoreau's thought wants to provide an alternative that war, slavery and conquest are a betrayal of the ideals of freedom.