cover
Contact Name
Eggy Fajar Andalas
Contact Email
andalaseggy@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
andalaseggy@gmail.com
Editorial Address
Institute of Culture, University of Muhammadiyah Malang Jl. Raya Tlogomas No. 246 Malang
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial
ISSN : 25808567     EISSN : 2580443x     DOI : 10.22219
Core Subject : Humanities, Art,
Satwika (Kajian Budaya dan Perubahan Sosial) publishes scientific papers on the results of studies/research and reviews of the literature in the fields of cultural studies and social change. The journal is oriented towards research on cultural phenomena and the current social changes. With the aim of dialogue in contemporary socio-cultural conditions, journals encourage cultural analysis and social change that challenge ideological modes and share inequitable justice, contribute to broad theoretical debates, and help stimulate new and progressive social involvement.
Arjuna Subject : -
Articles 337 Documents
Preserving the Karia tradition: Symbolic meaning and social role in contemporary Muna community Nur Amelia Devi; Rhoma Dwi Aria Yuliantri; Mhd Asrian Syah
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 9 No. 2 (2025): October
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v9i2.41203

Abstract

This study explores the symbolic meanings and social roles of the Karia tradition in Muna society, highlighting its contribution to preserving cultural identity in the face of modernisation. Employing a descriptive qualitative approach, data were gathered through participant observation, in-depth interviews, and documentation involving eight informants from diverse social backgrounds. Through this approach, the research seeks to understand how the Karia tradition continues to serve as a bridge between ancestral heritage and contemporary life, ensuring that cultural values remain alive and relevant across generations. The analysis was carried out using thematic analysis and Victor Turner's theory of ritual passage. The research results show that the Karia tradition symbolises female maturity and a means of character education and self-purification. This ritual also strengthens social cohesion and teaches important values such as chastity and social responsibility. However, the forces of modernisation and digitalisation pose challenges to the continuity of this tradition, particularly among younger generations who are becoming increasingly detached from traditional practices. This study contributes to the field of cultural anthropology by deepening the understanding of rites of passage and their evolving relevance in modern society. It also offers insights and recommendations on how digitalisation can be used not as a threat, but as a tool to revitalise and preserve local cultural heritage ensuring that traditions like Karia continue to thrive in contemporary contexts.   Penelitian ini mengeksplorasi makna simbolik dan peran sosial tradisi Karia dalam masyarakat Muna, dengan menyoroti kontribusinya dalam menjaga identitas budaya di tengah arus modernisasi. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, data dikumpulkan melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan dokumentasi yang melibatkan delapan informan dari berbagai latar sosial. Melalui pendekatan ini, penelitian berupaya memahami bagaimana tradisi Karia tetap berfungsi sebagai jembatan antara warisan leluhur dan kehidupan modern, memastikan bahwa nilai-nilai budaya tetap hidup dan relevan lintas generasi. Analisis data dilakukan menggunakan analisis tematik dengan landasan teori Victor Turner tentang ritus peralihan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi Karia melambangkan kedewasaan perempuan serta menjadi sarana pendidikan karakter dan penyucian diri. Ritual ini juga memperkuat kohesi sosial dan mengajarkan nilai-nilai penting seperti kesucian serta tanggung jawab sosial. Namun, arus modernisasi dan digitalisasi menghadirkan tantangan bagi keberlanjutan tradisi ini, terutama di kalangan generasi muda yang semakin terlepas dari praktik tradisional. Penelitian ini memberikan kontribusi terhadap bidang antropologi budaya dengan memperdalam pemahaman tentang ritus peralihan dan relevansinya yang terus berkembang dalam masyarakat modern. Selain itu, penelitian ini menawarkan wawasan dan rekomendasi tentang bagaimana digitalisasi dapat dimanfaatkan bukan sebagai ancaman, tetapi sebagai alat untuk menghidupkan kembali dan melestarikan warisan budaya lokal, sehingga tradisi seperti Karia dapat terus bertahan dan berkembang dalam konteks kontemporer.
Conceptual metaphor: Forms of Arab Leaders' support for Palestine Ummu Hanifah Syamsuhri Batulaya; Ni Gusti Ayu Roselani
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 9 No. 2 (2025): October
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v9i2.41386

Abstract

In general, political speeches aim to inform, persuade, and offer a vision regarding issues currently unfolding in society, so it is not uncommon to find various uses of metaphors in such speeches. This research analyzes the use of linguistic metaphors, conceptual metaphors, their functions, and cultural reflections as expressed in political speeches delivered by presidents of Arab countries concerning the Israeli-Palestinian conflict. The method used in this research is a mixed-method approach. Data were collected through observation using the Metaphor Identification Procedure (MIP), and analyzed using the distribution method. The study identified 28 conceptual metaphors. The analysis indicates that these metaphors are employed by Arab state leaders for persuasive purposes, specifically to express support for Palestine. This rhetorical strategy illustrates the firmness of the Arab political position, which also represents Islamic countries worldwide in relation to the Israeli-Palestinian conflict. Arab and other Islamic countries consistently express full support for peace between the two nations, the liberation of Palestine, and the fulfillment of the rights to life for its people.   Secara umum, pidato politik bertujuan untuk menginformasikan, meyakinkan, dan menawarkan visi mengenai isu yang sedang terjadi di tengah-tengah masyarakat, sehingga tak jarang ditemukan berbagai macam penggunaan metafora dalam pidato politik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis mengenai penggunaan metafora linguistik, metafora konseptual, fungsi, dan refleksi budaya yang tercermin dalam pidato politik yang disampaikan oleh presiden negara-negara Arab mengenai konflik Israel-Palestina. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode campuran, metode pengumpulan data yaitu observasi dengan menggunakan MIP, dan metode analisis data yang digunakan adalah metode agih. Hasil yang ditemukan dalam penelitian ini yaitu metafora konseptual sebanyak 28. Hasil dari analisis dalam peneltian ini menunjukkan bahwa metafora konseptual digunakan oleh pemimpin-pemimpin negara Arab untuk tujuan persuasi dalam bentuk dukungan terhadap Palestina, yang menggambarkan ketegasan posisi politik Arab yang juga merepresentasikan negara-negara Islam di seluruh dunia mengenai konflik Israel-Palestina bahwa negara Arab dan negara Islam lainnya memberikan dukungan penuh atas perdamaian kedua negara, pembebesan Palestina, beserta pemenuhan hak-hak berkehidupan bagi masyarakatnya.
An ethnographic study of cultural values in the wedding rituals of the Samin Community, Blora Ferra Nzulaika; Maria Krisnawati
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 9 No. 2 (2025): October
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v9i2.41393

Abstract

The Samin Tribe's traditional wedding customs are cultural practices passed down through generation, carried out with simplicity and a strong emphasis on philosophical values. This procession is far from the luxury of modern weddings, reflects philosophical values of loyalty, honesty, and social harmony. This study comprehensively describes the values embodied in the traditional wedding customs of the Samin people in Sambongrejo Village, Blora Regency. A qualitative descriptive approach was applied in this study. The collection data techniques used including direct observation of the wedding procession, interviews with customary leaders, and documentation of the related cultural activities. The research gap lies in the limited number of studies examining the Samin people's wedding procession both structurally and symbolically, especially in the context of the ethical values embodied in it and how these values are realised in the community's social actions. Most previous major studies have only highlighted the socio-political aspects or the history of Saminism resistance, while the cultural aspects of marriage remain limited. Most previous studies only highlight the socio-political aspects or the history of the Samin resistance movement, while the cultural aspects of marriage have received limited attention. The results of the study indicate that this customs consists of several main stages, namely: Nembung, Mbalesi Gunem, Ngendek, Ngawulo or Nyuwito, and Paseksen. Each stage has a symbolic function, such as Nembung, which reflects initial politeness and openness, and Paseksen, which is a manifestation of social legitimacy of the marriage bond. In addition, the Samin people adhere to their cultural values. One of their most important beliefs is that marriage can take place only once in a lifetime. The Samin people do not practice polygamy or polyandry because they follow the principle of Siji Kanggo Selawase (one for eternity). They believe that loyalty, simplicity, and honesty are the most important factors for harmony.   Tradisi pernikahan tradisional Suku Samin merupakan praktik budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi, dilaksanakan dengan kesederhanaan dan penekanan yang kuat pada nilai-nilai filosofis. Prosesi ini jauh dari kemewahan pernikahan modern, mencerminkan nilai-nilai filosofis kesetiaan, kejujuran, dan harmoni sosial. Studi ini secara komprehensif menggambarkan nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi pernikahan tradisional Suku Samin di Desa Sambongrejo, Kabupaten Blora. Pendekatan deskriptif kualitatif diterapkan dalam studi ini. Teknik pengumpulan data yang digunakan meliputi pengamatan langsung terhadap prosesi pernikahan, wawancara dengan pemimpin adat, dan pendokumentasian aktivitas budaya terkait. Kesenjangan penelitian terletak pada minimnya kajian yang meneliti prosesi pernikahan masyarakat Samin secara struktural dan simbolik, khususnya dalam konteks nilai-nilai etis yang melekat di dalamnya serta bagaimana nilai-nilai tersebut diwujudkan dalam tindakan sosial masyarakat. Sebagian besar penelitian terdahulu hanya menyoroti aspek sosial-politik atau sejarah perlawanan Saminisme, sementara aspek budaya dalam konteks pernikahan masih sangat terbatas mendapat perhatian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi ini terdiri atas beberapa tahapan utama, yaitu: Nembung, Mbalesi Gunem, Ngendek, Ngawulo atau Nyuwito, dan Paseksen. Setiap tahap memiliki fungsi simbolik tersendiri, seperti Nembung yang mencerminkan kesopanan dan keterbukaan awal, serta Paseksen yang merupakan perwujudan legitimasi sosial atas ikatan pernikahan. Selain itu, masyarakat Samin berpegang teguh pada nilai-nilai budayanya. Salah satu keyakinan terpenting mereka adalah bahwa pernikahan hanya dapat terjadi sekali seumur hidup. Masyarakat Samin tidak mempraktikkan poligami maupun poliandri karena mereka memegang teguh prinsip "Siji Kanggo Selawase" (satu untuk selamanya). Mereka meyakini bahwa kesetiaan, kesederhanaan, dan kejujuran merupakan faktor paling penting untuk menciptakan keharmonisan hidup.
Analysis of good tourism governance dynamics in Kampung Lali Gadget tourism village Aliefa Rizkya Ananda; Rosyidatuzzahro Anisykurlillah
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 9 No. 2 (2025): October
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v9i2.41423

Abstract

Kampung Lali Gadget (KLG), an educational tourism village in Pagerngumbuk Village, Sidoarjo Regency, promotes traditional cultural values to reduce reliance on gadgets. Despite its unique conceptual positioning, the management of this tourism destination continues to face challenges, including uneven community participation, limited multi-stakeholder partnerships, and an evaluation system that is not yet fully measurable. Previous studies have rarely examined the application of Good Tourism Governance in educational tourism villages; therefore, this study aims to analyze disparities in implementing the ten Good Tourism Governance principles outlined by Sunaryo (2013) in KLG. This research employs a descriptive qualitative approach through in-depth interviews, observations, and document reviews with informants from the management team, local community, village government, private sector, and visitors. The findings reveal that governance implementation includes participation in a single hamlet, asset-based local economic partnerships, environmental conservation integrated into educational programs, digital promotion dominated by tourism managers, and internal–external evaluations lacking inclusivity. The complexity of local socio-cultural dynamics influences patterns of collaboration and benefit distribution. Theoretically, this study expands the understanding of adapting community-based tourism governance to local characteristics while providing guidance on measurable tourism governance for similar destinations.   Kampung Lali Gadget (KLG) sebagai desa wisata edukasi di Desa Pagerngumbuk Kabupaten Sidoarjo yang mempromosikan konsep budaya tradisional untuk mengurangi ketergantungan pada gadget. Meskipun menjadi destinasi yang berkonsep unik, pengelolaan wisata ini masih menghadapi tantangan seperti partisipasi masyarakat yang tidak merata, kemitraan multi-pihak yang terbatas, dan sistem evaluasi yang belum sepenuhnya terukur. Studi sebelumnya jarang mengkaji penerapan Good Tourism Governance di desa wisata edukasi, sehingga penelitian ini bertujuan menganalisis ketiimpangan dalam penerapan sepuluh prinsip Good Tourism Governance menurut Sunaryo (2013) di Kampung Lali Gadget. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif melalui wawancara mendalam, observasi, dan tinjauan dokumentasi dengan informan dari pihak pengelola, masyarakat, pemerintah desa, sektor swasta, dan pengunjung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi prinsip-prinsip tata kelola meliputi partisipasi terpusat di satu dusun, kemitraan ekonomi berdasarkan aset lokal, konservasi lingkungan yang terintegrasi ke dalam program pendidikan, promosi digital yang berpusat pada pengelola wisata, dan evaluasi internal dan eksternal yang belum inklusif. Kompleksitas dinamika sosial-budaya lokal mempengaruhi pola kolaborasi dan distribusi manfaat. Secara teoritis, penelitian ini memperluas pemahaman tentang adaptasi tata kelola pariwisata berbasis komunitas terhadap karakteristik lokal, sementara secara praktis memberikan panduan tentang tata kelola wisata yang dapat diukur untuk destinasi serupa.
A qualitative study on adolescents’ perceptions of the Bepupur Ritual among the Tidung Tribe in Malinau Village Supardiansyah Supardiansyah; Moh Bahzar; Alim Salamah; Endang Herliah
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 9 No. 2 (2025): October
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v9i2.41553

Abstract

This study explores adolescents’ perceptions of the bepupur ritual, a pre-marital purification ceremony practiced by the Tidung people in Malinau Kota Village. Amid the forces of modernization, preserving local culture poses a considerable challenge, particularly in engaging the younger generation. The research employs a qualitative approach, with data collected through direct observation and in-depth interviews involving eight informants—six adolescents and two traditional leaders. Data validity was ensured through source and technique triangulation, and analysis was conducted using the Miles and Huberman model. The findings indicate that most adolescents hold positive perceptions of the ritual, viewing it as a sacred symbol of cultural identity. These results highlight the vital role of the younger generation in sustaining this tradition. The novelty of this research lies in its focus on adolescents as active agents in cultural preservation, contributing to the broader discourse on local identity within the context of social transformation.   Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji persepsi remaja terhadap ritual bepupur, yaitu prosesi penyucian diri menjelang pernikahan dalam tradisi adat Suku Tidung di Desa Malinau Kota. Di tengah arus modernisasi, pelestarian budaya lokal menjadi tantangan yang signifikan, terutama dalam melibatkan generasi muda. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan pengumpulan data melalui observasi langsung dan wawancara mendalam terhadap delapan informan yang terdiri atas enam remaja dan dua tokoh adat. Validitas data diuji menggunakan triangulasi sumber dan teknik, sementara analisis dilakukan dengan model Miles dan Huberman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar remaja memiliki persepsi positif terhadap ritual tersebut dan memandangnya sebagai simbol kesakralan serta identitas budaya. Temuan ini menegaskan pentingnya peran generasi muda dalam menjaga keberlanjutan tradisi. Kebaruan penelitian ini terletak pada fokusnya terhadap generasi muda sebagai agen aktif pelestarian budaya, serta kontribusinya terhadap kajian identitas lokal dalam konteks perubahan sosial.
A formative evaluation of the Ballada Cinta innovation in birth registration: An administrative culture transformation Alief Rizkia Ananda; Binti Azizatun Nafi’ah
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 9 No. 2 (2025): October
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v9i2.41634

Abstract

This study aims to evaluate the implementation of the Ballada Cinta Program (Newborns Immediately Receive Printed KIA and Birth Certificates) within the Department of Population and Civil Registration of Sampang Regency (Dispendukcapil), emphasizing the transformation of administrative culture and social participation among the Madurese community. The initiative was designed to simplify the issuance of birth certificates and Child Identity Cards through integrated services connecting village administrations and healthcare facilities. A qualitative descriptive approach was employed using Michael Scriven’s formative evaluation model, encompassing an analysis of program outcomes, goal attainment, and the adequacy of resource utilization. The units of analysis included villages, community health centers, and local community leaders. Findings indicate that, although there has been a significant increase in the ownership of birth certificates (95.66%) and the issuance of Child Identity Cards (39.54%), the program’s impact remains uneven. Several challenges persist, including limited digital infrastructure, disparities in administrative capacity across regions, staff turnover, and resistance toward modern bureaucratic systems. Culturally, collective birth reporting traditions and the dominance of family-based document processing have created resistance to digitalization and formal administrative procedures. Moreover, the existing digital divide between rural and urban areas affects service effectiveness, data accuracy, and user satisfaction.   Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pelaksanaan Program Ballada Cinta (Bayi Lahir Langsung Cetak KIA dan Akta) di Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Sampang, dengan menyoroti transformasi budaya administrasi dan partisipasi sosial masyarakat Madura. Program ini dirancang untuk mempermudah pengurusan akta kelahiran dan Kartu Identitas Anak (KIA) melalui integrasi layanan antara desa/kelurahan dan fasilitas kesehatan. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan model evaluasi formatif Michael Scriven, mencakup analisis hasil pelaksanaan program, ketercapaian tujuan, dan kesesuaian penggunaan sumber daya. Unit analisis mencakup desa, puskesmas, serta tokoh masyarakat lokal. Hasil menunjukkan bahwa meskipun terdapat peningkatan signifikan dalam kepemilikan akta kelahiran (95,66%) dan pencetakan KIA (39,54%), program ini belum sepenuhnya merata. Hambatan seperti keterbatasan infrastruktur digital, kesenjangan kapasitas antarwilayah, regenerasi petugas, dan resistensi terhadap sistem administrasi modern masih ditemukan. Secara budaya, tradisi pelaporan kelahiran secara kolektif dan dominasi peran keluarga dalam pengurusan dokumen menimbulkan resistensi terhadap proses digital dan birokrasi formal. Selain itu, Implikasi digital divide antara desa dan kota berdampak pada efektivitas layanan, akurasi data, serta kepuasan pengguna.
Social and cultural strategies in the frugal living practices of UNNES students amidst contemporary economic pressures Niswatun Mufarrikhah; Harto Wicaksono
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 9 No. 2 (2025): October
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v9i2.41676

Abstract

This study aims to understand the socio-cultural strategies used by students in practicing a frugal lifestyle amidst economic challenges and a consumer culture in higher education. This study was conducted at Semarang State University (UNNES) using a qualitative approach and descriptive design. Data were collected through in-depth interviews, observation, and documentation with six primary informants and eight supporting informants selected purposively. Data analysis used the interactive model of Miles and Huberman, which includes data reduction, data presentation, and conclusion drawing. The research results show that students implement three main strategies, namely (1) rational financial management through budget recording and planning; (2) controlling consumption by limiting daily expenses and prioritizing basic needs; and (3) socio-cultural adaptation through internalizing the values ​​of simplicity, solidarity among boarding housemates, and family habits. These three strategies illustrate that a frugal lifestyle is not only a response to economic limitations, but also an expression of social and cultural values ​​that shape student identity. Theoretically, this study extends the application of Parsons' theory of frugality and social adaptation to the cultural context of Indonesian college students, by positioning frugal living as a moral practice and a form of counterculture to a consumptive lifestyle. Practically, the results of this study can serve as a basis for developing policies on financial literacy, character development, and student welfare based on socio-cultural values. The limitations of this study lie in the limited number of informants and research locations. Therefore, further research is recommended to expand the context and use a mixed methods approach to obtain more comprehensive results.   Penelitian ini bertujuan untuk memahami strategi sosiobudaya yang digunakan oleh mahasiswa perguruan tinggi dalam menerapkan gaya hidup hemat di tengah tantangan ekonomi dan meningkatnya budaya konsumerisme di lingkungan pendidikan tinggi. Penelitian ini dilakukan di Universitas Negeri Semarang (UNNES) dengan menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi yang melibatkan enam informan utama dan delapan informan pendukung yang dipilih secara purposif. Analisis data menggunakan model interaktif Miles dan Huberman, yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Temuan menunjukkan bahwa mahasiswa menerapkan tiga strategi utama: (1) pengelolaan keuangan rasional melalui perencanaan anggaran dan pemantauan pengeluaran; (2) pengendalian konsumsi dengan membatasi pengeluaran harian dan memprioritaskan kebutuhan dasar; dan (3) adaptasi sosiobudaya melalui internalisasi kesederhanaan, solidaritas sesama, dan nilai-nilai yang diwariskan keluarga. Strategi-strategi ini menunjukkan bahwa kesederhanaan bukan hanya respons ekonomi, tetapi juga ekspresi budaya yang membentuk identitas sosial mahasiswa. Secara teoritis, studi ini memperluas penerapan teori kesederhanaan dan kerangka kerja adaptasi sosial Parsons dalam konteks budaya mahasiswa Indonesia, menempatkan kesederhanaan sebagai praktik moral dan kontra-budaya terhadap konsumerisme. Secara praktis, hasil penelitian ini memberikan wawasan untuk mengembangkan program literasi keuangan, pendidikan karakter, dan kebijakan kesejahteraan mahasiswa yang berakar pada nilai-nilai sosial dan budaya. Penelitian ini dibatasi oleh jumlah informan yang sedikit dan cakupan institusional tunggal; oleh karena itu, penelitian masa depan sebaiknya memperluas konteksnya dan menggunakan metode campuran untuk mencapai pemahaman yang lebih komprehensif.
Atelir Ceremai: Identity negotiation and artists’ resistance in urban collective space Fajar Hanif Mubarok; Tisna Prabasmoro; Lina Meilinawati Rahayu
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 9 No. 2 (2025): October
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v9i2.41735

Abstract

This study explores the strategies of urban art collectives in shaping collective identity through collaborative practices within social spaces. Focusing on Atelir Ceremai, an art collective located on the cultural periphery of Jakarta (East Jakarta), the research examines how contemporary artists respond to marginal urban contexts through community-based artistic production. Drawing on social constructionism, collective identity theory, and theories of spatial practice, the study examines how space, language, and group dynamics shape the formation of collective consciousness among artists. This process reflects a shift from individual creativity to a communal artistic ecosystem, from market norms to symbolic autonomy, and from personal identity to a more adaptive collective identity. Based on in-depth interviews, document analysis, and participatory observation, the study finds that this transformation is made possible through various activities, including knowledge-sharing, collective use of space and tools, and the activation of joint projects. The study concludes that art collectives such as Atelir Ceremai play a crucial role in creating spaces for artistic production while simultaneously articulating adaptive forms of identity through dialectical processes. This adaptive identity is expressed through performative language, collective decision-making, and shared labor, symbolically distancing itself from the norms and logic of the art market.   Penelitian ini mengeksplorasi strategi kolektif seni urban membentuk identitas kolektif melalui praktik kolaboratif dalam ruang sosial. Dengan menyoroti Atelir Ceremai, sebuah kolektif seni yang berlokasi di pinggiran lanskap budaya Jakarta (Jakarta Timur), riset ini mengkaji bagaimana seniman kontemporer merespons konteks urban-pinggiran melalui produksi artistik berbasis komunitas. Bertolak dari kerangka konstruksionisme sosial dan teori identitas kolektif, serta teori mengenai praktik ruang, studi ini menelusuri bagaimana ruang, bahasa, dan dinamika kelompok membentuk kesadaran kolektif di antara seniman. Hal ini berkontribusi pada pergeseran dari kreativitas individual ke ekosistem artistik komunal, dari norma pasar ke otonomi simbolik, dari identitas individual ke identitas kolektif yang adaptif. Melalui wawancara mendalam, analisis dokumen, dan observasi partisipatif, ditemukan bahwa proses pergeseran tersebut dimungkinkan melalui sejumlah aktivitas yang merentang dari saling berbagi pengetahuan, ruang dan alat, serta serangkaian aktivasi proyek bersama. Penelitian ini menyimpulkan bahwa kolektif seni seperti Atelir Ceremai memainkan peran penting dalam menciptakan ruang produksi artistik sekaligus bentuk-bentuk adaptasi identitas yang terjadi secara dialektis. Identitas adaptif ini terartikulasi melalui bahasa performatif, keputusan bersama, serta kerja kolektif yang secara simbolik mengambil jarak dari norma dan logika pasar seni.
Digital communication strategy and creative entrepreneurship in branding “Mini Bali” tourism village Sri Narti; Dilmai Putra; Edi Susilo
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 9 No. 2 (2025): October
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v9i2.42311

Abstract

Village tourism serves as a community-based development strategy that plays a vital role in driving social, cultural, and economic transformation. This study aims to analyze digital communication strategies and creative entrepreneurship in strengthening the branding of Rama Agung Village as “Mini Bali.” Using a qualitative case study design conducted between July and September 2025, data were collected through in-depth interviews, participatory observation, and documentation review. The results reveal that digital communication through social media, websites, and documentary films effectively shapes destination image and increases youth participation. Creative entrepreneurship through local MSMEs such as MP Jewellery, Sabunne Chris, and traditional handicrafts further strengthens cultural identity and economic independence. Collaboration between students, lecturers, the Papida Rama Agung Tourism Awareness Group, and the village government produces innovative branding rooted in local wisdom, religiosity, and economic creativity. The study concludes that the synergy between digital communication and creative entrepreneurship enhances community empowerment and boosts the competitiveness of rural tourism in the digital era.   Pariwisata berbasis desa merupakan salah satu strategi pembangunan partisipatif yang mampu mendorong perubahan sosial, budaya, dan ekonomi masyarakat lokal. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji strategi komunikasi digital dan kewirausahaan kreatif dalam proses branding Desa Rama Agung sebagai “Mini Bali”. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus, dilaksanakan pada periode Juli hingga September 2025. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam dengan kepala desa, ketua Pokdarwis Papida Rama Agung, serta pelaku UMKM seperti MP Jewelry dan Sabun Eco-Enzyme Chris, disertai observasi partisipatif dan telaah dokumentasi.Temuan penelitian menunjukkan bahwa kegiatan pendampingan oleh mahasiswa dan dosen Ilmu Komunikasi Universitas Dehasen Bengkulu berhasil meningkatkan kemampuan komunikasi digital masyarakat. Pemanfaatan berbagai platform digital seperti media sosial, situs web, dan video kreatif terbukti efektif dalam membangun citra destinasi wisata yang mencerminkan nilai-nilai budaya dan spiritual lokal. Sementara itu, penguatan kewirausahaan kreatif berbasis produk lokal turut mendukung pembentukan identitas budaya sekaligus meningkatkan kesejahteraan pelaku UMKM.Sinergi antara pemerintah desa, komunitas, dan akademisi menghasilkan model branding desa wisata yang berkelanjutan dan berbasis pada narasi digital yang autentik, kolaboratif, serta berorientasi pada daya saing. Kesimpulannya, integrasi strategi komunikasi digital dan kewirausahaan kreatif menjadi faktor kunci dalam pemberdayaan masyarakat serta peningkatan daya saing desa wisata di era digital.
Gurindam: Local wisdom literature to cultivate life motivation in Millennials and Generation Z Fathiyyah Azizah; Amanah Belinda; Yanuarita Nur Hanifa
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 9 No. 2 (2025): October
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v9i2.42349

Abstract

This study is motivated by the declining attention of Millennials and Generation Z toward local wisdom, particularly gurindam, which embodies moral, religious, and motivational values. The research aims to analyze the role of gurindam in the millennial era as a form of digital local wisdom-based literature in fostering life motivation among young people. The study was conducted at SMPIP Daarul Jannah and several public senior high schools in Cibinong District, Bogor Regency, West Java Province. Using a qualitative approach through interviews, observations, and document analysis, the data were systematically processed to gain a deep understanding of the phenomenon. The findings reveal that adapting gurindam through social media platforms such as Instagram effectively increases young people’s reading interest and appreciation of its moral messages. Moreover, the values of local wisdom contained within gurindam are perceived as relevant sources of life motivation in the modern context. The novelty of this research lies in its exploration of gurindam as a medium of cultural revitalization in the digital era, demonstrating how traditional literature can be transformed into a motivational tool through contemporary digital platforms. Thus, gurindam in the millennial era not only serves as a means of cultural preservation but also as a motivational instrument that supports character formation and the psychological well-being of young generations.   Penelitian ini dilatarbelakangi oleh fenomena menurunnya perhatian generasi milenial dan generasi Z terhadap kearifan lokal, khususnya gurindam, yang sejatinya mengandung nilai-nilai moral, religius, dan motivasional. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis peran gurindam pada era milenial sebagai literatur digital berbasis kearifan lokal dalam menumbuhkan motivasi hidup generasi muda. Penelitian ini dilaksanakan di SMPIP Daarul Jannah dan beberapa SMA Negeri di Kecamatan Cibinong, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan teknik wawancara, observasi, dan analisis dokumen, yang diolah secara sistematis untuk memperoleh pemahaman mendalam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa modifikasi gurindam melalui media sosial Instagram mampu meningkatkan minat baca dan apresiasi generasi milenial terhadap nilai dan makna yang terkandung di dalamnya. Selain itu, nilai-nilai kearifan lokal dalam gurindam dipahami sebagai sumber motivasi hidup yang relevan dengan konteks kehidupan modern. Kebaruan penelitian ini terletak pada upayanya mengkaji gurindam sebagai media revitalisasi budaya di era digital, dengan menekankan transformasi sastra tradisional menjadi instrumen motivasional melalui platform digital modern. Dengan demikian, gurindam era milenial tidak hanya berfungsi sebagai sarana pelestarian budaya, tetapi juga sebagai media motivasional yang mendukung pembentukan karakter dan kesejahteraan psikologis generasi muda.