cover
Contact Name
Eggy Fajar Andalas
Contact Email
andalaseggy@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
andalaseggy@gmail.com
Editorial Address
Institute of Culture, University of Muhammadiyah Malang Jl. Raya Tlogomas No. 246 Malang
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial
ISSN : 25808567     EISSN : 2580443x     DOI : 10.22219
Core Subject : Humanities, Art,
Satwika (Kajian Budaya dan Perubahan Sosial) publishes scientific papers on the results of studies/research and reviews of the literature in the fields of cultural studies and social change. The journal is oriented towards research on cultural phenomena and the current social changes. With the aim of dialogue in contemporary socio-cultural conditions, journals encourage cultural analysis and social change that challenge ideological modes and share inequitable justice, contribute to broad theoretical debates, and help stimulate new and progressive social involvement.
Arjuna Subject : -
Articles 366 Documents
The art of Bangkong Reang in the social cultural perspective of Bandung city modern era Azizah, Fathiyyah
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 10 No. 1 (2026): April (On Progress)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v10i1.43732

Abstract

Bangkong Reang art is one of the traditional cultural expressions of Bandung City people that reflects social and cultural dynamics amid the flow of modernization and urbanization. The development of popular culture and the changing consumption patterns of public entertainment have influenced the way art is understood, practiced, and preserved. This research aims to analyze Bangkong Reang art from a sociocultural perspective as a medium for cultural communication and representation of local community identity. The research employs a qualitative approach using a library study method to examine a range of relevant academic sources. The results show that Bangkong Reang not only serves as a means of entertainment but also functions as a medium for transmitting cultural values, strengthening social cohesion, and providing a space for negotiation between tradition and modernity. This study identifies four key mechanisms that sustain the art form, namely informal community-based reproduction, selective symbolic reinterpretation, participatory audience engagement, and adaptive legitimation. These findings challenge essentialist views of intangible cultural heritage by demonstrating that cultural continuity depends on reinterpretation and contextual adaptation rather than preservation in fixed form. Methodologically, these insights are derived from textual and discourse-based analysis, reflecting how Bangkong Reang is represented in academic literature rather than direct community experience. Ultimately, Bangkong Reang endures not by resisting change but by strategically adapting to it, and its continued relevance will depend on sustained community agency and thoughtful navigation of the tensions between preservation and innovation.   Kesenian Bangkong Reang merupakan salah satu ekspresi budaya tradisional masyarakat Kota Bandung yang merefleksikan dinamika sosial dan kultural di tengah arus modernisasi dan urbanisasi. Kesenian Bangkong Reang merupakan salah satu bentuk ekspresi budaya tradisional masyarakat Kota Bandung yang mencerminkan dinamika sosial dan budaya di tengah arus modernisasi dan urbanisasi. Perkembangan budaya populer serta perubahan pola konsumsi hiburan masyarakat memengaruhi cara kesenian ini dipahami, dipraktikkan, dan dilestarikan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kesenian Bangkong Reang dalam perspektif sosiokultural sebagai media komunikasi budaya dan representasi identitas masyarakat lokal. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi pustaka terhadap berbagai sumber akademik yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Bangkong Reang tidak hanya berfungsi sebagai sarana hiburan, tetapi juga sebagai media pewarisan nilai budaya, penguatan kohesi sosial, serta ruang negosiasi antara tradisi dan modernitas. Penelitian ini mengidentifikasi empat mekanisme utama yang menopang kelestarian kesenian ini, yaitu reproduksi berbasis komunitas informal, reinterpretasi simbolik secara selektif, komunikasi partisipatoris, dan legitimasi adaptif. Temuan ini menantang pandangan esensialis tentang warisan budaya tak benda dengan menunjukkan bahwa kesinambungan budaya bergantung pada reinterpretasi dan adaptasi kontekstual. Secara metodologis, wawasan ini diperoleh dari analisis berbasis teks dan wacana, sehingga mencerminkan representasi Bangkong Reang dalam literatur akademik. Pada akhirnya, Bangkong Reang bertahan bukan dengan menolak perubahan, melainkan dengan beradaptasi secara strategis, dan relevansinya sebagai praktik budaya yang hidup akan bergantung pada peran aktif masyarakat serta kemampuan menavigasi ketegangan antara pelestarian dan inovasi.
Ritual as lived ethics: A phenomenological study of symbolic meaning in Javanese Water Ritual Murdianti, Rena; Subiyantoro, Slamet
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 10 No. 1 (2026): April (On Progress)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v10i1.43755

Abstract

Phenomenological ritual studies tend to prioritize symbolic interpretation over participants' lived experience. This research explores: How do Dawuhan ritual participants experience symbolic elements as ethical formation? Through in-depth interviews with 12 participants and three-month participant observation in Gangging Hamlet, Sidomulyo Village, this study employs Husserlian phenomenological reduction and Schutzian thematic analysis to identify structures of collective consciousness. Three key themes emerged: first, water is understood not as abstract symbol but as lived experience of ecological reciprocity generating moral responsibility; second, communal eating functions as embodied solidarity through somatic and emotional engagement; third, while core values are widely shared, tensions emerged around spiritual authority and offering interpretations, revealing ritual ethics as ongoing intersubjective negotiation rather than static consensus. These findings extend Schutz's lifeworld theory by demonstrating ethical values emerge through embodied ritual practice rather than cognitive interpretation alone. Methodologically, this study operationalizes epoché and bracketing in ritual studies, capturing lived ambiguity beyond symbolic coherence. This provides the first phenomenological account of Javanese water rituals centering participant voice, revealing previously undocumented ethical contestations within communal harmony. The research contributes empirically by documenting how individual phenomenological encounters converge into collective ecological consciousness while maintaining interpretive plurality. Limitations include reliance on participant narratives and potential researcher interpretation bias.   Studi fenomenologi ritual cenderung memprioritaskan interpretasi simbolik di atas pengalaman hidup partisipan. Penelitian ini mengeksplorasi pertanyaan: Bagaimana partisipan ritual Dawuhan mengalami elemen simbolik sebagai pembentukan nilai etis? Melalui wawancara mendalam dengan 12 partisipan dan observasi partisipan selama tiga bulan di Dusun Gangging, Desa Sidomulyo, penelitian ini menggunakan reduksi fenomenologis Husserl dan analisis tematik Schutzian untuk mengidentifikasi struktur kesadaran kolektif masyarakat. Tiga tema kunci muncul: pertama, air dipahami bukan sebagai simbol abstrak melainkan sebagai pengalaman hidup tentang timbal balik ekologis yang menghasilkan tanggung jawab moral; kedua, makan bersama berfungsi sebagai solidaritas yang diwujudkan melalui keterlibatan somatik dan emosional; ketiga, meskipun nilai-nilai inti dibagikan secara luas, ketegangan muncul seputar otoritas spiritual dan interpretasi sesaji, mengungkapkan bahwa etika ritual bukanlah konsensus statis tetapi negosiasi intersubjektif yang berkelanjutan. Temuan ini memperluas teori lifeworld Schutz dengan menunjukkan bahwa nilai-nilai etis muncul melalui praktik ritual yang diwujudkan daripada interpretasi kognitif semata. Secara metodologis, penelitian ini mengoperasionalkan epoché dan bracketing dalam studi ritual, menangkap ambiguitas yang hidup di luar koherensi simbolik. Keterbatasan mencakup ketergantungan pada narasi partisipan dan potensi bias interpretasi peneliti.
Social action dialectic and social integration: An analysis of value rationality in the Grebeg Suro Giri Kusuma Tradition Supriyanto, Agung; Falaq, Yusuf
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 10 No. 1 (2026): April (On Progress)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v10i1.43805

Abstract

This study examines the persistence of the Grebeg Suro Giri Kusuma tradition in Demak Regency as a sociological phenomenon within the context of modernization. The main issue addressed lies in the tension between the dominance of modern rationality and the continuity of traditional ritual practices, which are often perceived as obsolete. This research aims to analyze how the interaction of various types of social action contributes to the formation of social integration and the maintenance of social cohesion within the community. The study employs a descriptive qualitative approach using Max Weber’s theory of social action. Data were collected through participant observation, in-depth interviews, and documentation. The findings reveal that Grebeg Suro functions not merely as a form of cultural preservation, but also as a social arena where multiple orientations of action intersect. Value-oriented rational actions rooted in religious teachings interact with traditional and affective actions in shaping collective practices. Ritual elements such as the heirloom procession, tirto wening water, and the distribution of agricultural offerings serve as symbolic media for articulating spiritual identity while reinforcing social solidarity. Theoretically, this study contributes to cultural and social change discourse by demonstrating that social integration in transitional societies is not solely structurally determined but is constructed through the collective interpretation of social actions. The novelty of this research lies in its interpretation of ritual as a dynamic mechanism for sustaining social stability. Therefore, the Grebeg Suro tradition transforms individual values into collective forces that support the continuity of the local social structure.   Penelitian ini menganalisis keberlanjutan tradisi Grebeg Suro Giri Kusuma di Kabupaten Demak sebagai fenomena sosiologis dalam konteks modernisasi. Fokus permasalahan terletak pada ketegangan antara dominasi rasionalitas modern dan keberlangsungan praktik ritual tradisional yang kerap dipandang tidak relevan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana interaksi berbagai tipe tindakan sosial berkontribusi dalam membentuk integrasi dan mempertahankan kohesi sosial masyarakat. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan kerangka teori tindakan sosial Max Weber. Data diperoleh melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Grebeg Suro tidak hanya berfungsi sebagai praktik pelestarian budaya, tetapi juga sebagai arena interaksi sosial yang mempertemukan berbagai orientasi tindakan. Tindakan rasional berorientasi nilai yang berakar pada ajaran religius berkelindan dengan tindakan tradisional dan afektif dalam membentuk praktik kolektif masyarakat. Unsur ritual seperti kirab pusaka, tirto wening, dan perebutan gunungan berperan sebagai medium simbolik dalam mengartikulasikan identitas spiritual sekaligus memperkuat solidaritas sosial. Secara teoretis, penelitian ini berkontribusi pada kajian budaya dan perubahan sosial dengan menunjukkan bahwa integrasi sosial dalam masyarakat transisional tidak semata bersifat struktural, melainkan dibentuk melalui pemaknaan kolektif atas tindakan sosial. Kebaruan penelitian ini terletak pada pemahaman ritual sebagai mekanisme dinamis dalam menjaga stabilitas sosial. Dengan demikian, tradisi Grebeg Suro mampu mentransformasikan nilai individual menjadi kekuatan kolektif yang menopang keberlanjutan struktur sosial masyarakat lokal.
Adaptive legisign formation in the cross-media transformation of Riau Malay Songket into Batik Widayanti, Eka; Muhajirin, Muhajirin
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 10 No. 1 (2026): April (On Progress)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v10i1.43823

Abstract

This study examines the transformation of Riau Malay songket ornaments into batik design as a semiotic process that generates adaptive legisigns within contemporary cultural practice. Previous scholarship has largely emphasized the historical and symbolic meanings of songket within its original woven medium, leaving limited discussion on how these culturally institutionalized signs operate when transferred across material forms. Focusing on three principal motifs, Pucuk Rebung, Tampuk Manggis, and Pucuk Bersusun. This research employs an interpretive ethnographic approach combined with Peircean semiotic analysis to investigate shifts in qualisign, sinsign, and legisign functions during cross-media adaptation. Data were collected through field observations, in-depth interviews, and visual documentation in Riau. The findings reveal that adaptation does not occur as visual replication, but as a process of aesthetic reinterpretation involving simplification of form, redistribution of composition, and chromatic adjustment in accordance with batik techniques. Despite material reconfiguration, symbolic continuity is maintained through communal validation by artisans and cultural authorities. The study proposes an analytical model of adaptive legisign formation to explain how traditional visual sign retain cultural legitimacy while participating in contemporary design contexts. This research contributes to cultural semiotics by demonstrating that institutionalized signs are not bound to a single medium, but can be re-stabilized through socially regulated processes of reinterpretation.   Penelitian ini mengkaji transformasi ornamen songket Melayu Riau ke dalam desain batik sebagai proses semiotik yang menghasilkan legisign adaptif dalam praktik budaya kontemporer. Kajian sebelumnya lebih banyak menekankan makna historis dan simbolis songket dalam medium tenun aslinya, sehingga pembahasan mengenai bagaimana tanda-tanda budaya yang terinstitusionalisasi tersebut beroperasi ketika berpindah medium masih terbatas. Berfokus pada tiga motif utama Pucuk Rebung, Tampuk Manggis, dan Pucuk Bersusun penelitian ini menggunakan pendekatan etnografi interpretatif yang dipadukan dengan analisis semiotik Peirce untuk menelaah pergeseran fungsi qualisign, sinsign, dan legisign dalam proses adaptasi lintas media. Data yang diperoleh melalui observasi lapangan, wawancara mendalam, dokumentasi visual di Riau. Hasil penelitian menunjukkan bahwa adaptasi tidak berlangsung sebagai reproduksi visual semata, melainkan sebagai reinterpretasi estetis melalui penyederhanaan bentuk, redistribusi komposisi, dan penyesuaian warna sesuai karakter teknik batik. Meskipun terjadi rekonfigurasi material, kesinambungan makna tetap terjaga melalui validasi komunal oleh perajin dan otoritas budaya. Penelitian ini menawarkan model analitis pembentukan legisign adaptif untuk menjelaskan bagaimana tanda visual tradisional mempertahankan legitimasi budaya sekaligus berpatisipasi dalam konteks desain kontemporer. Temuan ini berkontribusi pada kajian semiotika budaya dengan menunjukkan bahwa tanda yang terinstitusionalisasi tidak terikat pada satu medium, melainkan dapat distabilisasi kembali proses reinterpretasi yang diatur secara social.
Women informal workers’ domestic decision- making: A Longwe framework analysis Hidayanti, Alifvia Ridzky; Arsi, Antari Ayuning
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 10 No. 1 (2026): April (On Progress)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v10i1.43834

Abstract

This study examines the limitations of Longwe's Women Empowerment Framework, which assumes a linear progression and conceptualizes control as the final stage of women's empowerment. The study focuses on domestic decision-making among women informal workers across generations and explores whether this linear assumption remains relevant within patriarchal contexts. The research conducted in Tanjung Priok, North Jakarta, with Generations X, Y, and Z positioned as descriptive contexts rather than comparative variables. A qualitative approach was employed, involving nine informants selected through purposive sampling. Data collected through in-depth interviews and observations, and analyzed using Longwe's framework, extended by Lukes perspective on power relations and Kandiyoti's concept of the patriarchal bargain. The findings identify three patterns of domestic decision-making: decision-making without negotiation, limited negotiation, and independent negotiation shaped by socio-cultural norms, children, economic conditions, and educational background. The study concludes that domestic decision-making among women informal workers is highly contextual and cannot be adequately understood through a linear empowerment framework. This research contributes to the literature by demonstrating that control in domestic decision-making is fragmented and domain-specific within the lived realities of women's informal workers in urban settings.   Penelitian ini memperluas keterbatasan dalam Kerangka Pemberdayaan Perempuan Longwe yang memiliki asumsi linearitas dan memandang kontrol merupakan tahap akhir dalam mencapai pemberdayaan perempuan. Fokus penelitian ini menganalisis pengambilan keputusan domestik perempuan pekerja informal lintas generasi dan meneliti apakah linearitas masih relevan dalam konteks patriarki. Penelitian dilakukan di Tanjung Priok, Jakarta Utara dengan generasi X, Y dan Z sebagai konteks deskriptif. Menggunakan pendekatan kualitatif dengan total sembilan informan yang dipilih menggunakan sampel bertujuan. Data dikumpulkan melalui wawancara dan observasi mendalam lalu dianalisis menggunakan Kerangka Longwe yang diperluas dengan perspektif relasi kuasa oleh Lukes dan konsep Patriarchal Bargain oleh Kandiyoti. Ditemukan terdapat tiga variasi pola pengambilan keputusan, yaitu keputusan tanpa negosiaasi, negosiasi terbatas, dan negosiasi mandiri. Pola tersebut terbentuk dari faktor-faktor yang dipengaruhi oleh norma sosial kultural, anak, ekonomi, dan pendidikan.  Penelitian ini menyimpulkan bahwa pengambilan keputusan domestik perempuan pekerja informal bersifat kontekstual dan tidak dapat dipahami menggunakan kerangka pemberdayaan yang linear. Penelitian ini memberikan kontribusi bahwa kontrol pada pengambilan keputusan sifatnya terfragmentasi dan ranah-spesifik dalam konteks perempuan pekerja informal di wilayah urban.
Trauma representation in A Space for the Unbound video game Alfaini, Sana; Adji, Muhamad; Hidayatullah, Mochamad Irfan
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 10 No. 1 (2026): April (On Progress)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v10i1.43841

Abstract

This study examines how trauma is represented through the integration of narrative and gameplay in A Space for the Unbound. While video games increasingly function as complex storytelling media, the mechanisms by which interactive systems convey psychological trauma remain underexplored. The aim of this research is to identify and explain strategies for trauma representation through spatial disruption, restrictions on player agency, memory fragmentation, and temporal structures characterized by repetition and belatedness. Employing a qualitative multimodal approach, the study treats the video game as an interactive text, analyzing selected gameplay segments through purposive sampling. Data consisting of gameplay recordings and screenshots were examined using ludonarrative analysis, supported by Cathy Caruth's trauma theory and narratology. The results reveal four main findings regarding trauma representation: (1) spatial disorientation within the environment, (2) restrictions on player control, (3) memory fragmentation in a liminal analeptic space, and (4) patterns of repetition and delayed trauma. The study concludes that trauma in narrative-driven video games operates as an experiential structure produced through player interaction, where storytelling, mechanics, and spatial design collectively construct trauma as both a narrative theme and an interactive process.   Studi ini meneliti bagaimana trauma direpresentasikan melalui integrasi narasi dan gameplay dalam A Space for the Unbound. Meskipun video game semakin berfungsi sebagai media bercerita yang kompleks, mekanisme bagaimana sistem interaktif menyampaikan trauma psikologis masih kurang dieksplorasi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi dan menjelaskan strategi representasi trauma melalui gangguan spasial, pembatasan pada agensi pemain, fragmentasi memori, dan struktur temporal yang ditandai dengan pengulangan dan keterlambatan. Dengan menggunakan pendekatan multimodal kualitatif, studi ini memperlakukan video game sebagai teks interaktif, menganalisis segmen gameplay terpilih melalui pengambilan sampel bertujuan. Data yang terdiri dari rekaman gameplay dan tangkapan layar diperiksa menggunakan analisis ludonaratif, yang didukung oleh teori trauma dan naratologi Cathy Caruth. Hasilnya mengungkapkan empat temuan utama mengenai representasi trauma: (1) disorientasi spasial dalam lingkungan, (2) pembatasan pada kontrol pemain, (3) fragmentasi memori dalam ruang analeptik liminal, dan (4) pola pengulangan dan trauma tertunda. Studi ini menyimpulkan bahwa trauma dalam gim video berbasis narasi beroperasi sebagai struktur pengalaman yang dihasilkan melalui interaksi pemain, di mana penceritaan, mekanisme, dan desain spasial secara kolektif membangun trauma sebagai tema naratif dan proses interaktif.
Symbolic negotiation and resignification of Banten’s Debus Art as cultural mediation between local tradition and the digital era Azizah, Fathiyyah
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 10 No. 1 (2026): April (On Progress)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v10i1.43844

Abstract

This study examines the symbolic meaning of Debus, a traditional martial art performance from Banten, as a representation of local cultural identity in the modern era. Debus is understood not only as an extreme physical performance, but as a form of cultural communication that embodies spiritual symbols, social values, and philosophical worldviews of the Banten’s community. Employing a qualitative descriptive approach grounded in cultural communication and semiotic perspectives, this research analyzes ritual practices, bodily expressions, and historical narratives as symbolic media of meaning. Data were collected through in-depth interviews with senior practitioners (jawara), ritual masters (pawang), and younger audience members. Fieldwork was conducted over approximately three months across multiple Debus performance and transmission sites in Banten Province. The findings reveal three main functions of Debus. It acts as a symbol of cultural resilience, especially emphasized by elder practitioners in response to socio-political marginalization. In addition, Debus functions as a mechanism for constructing communal identity, shaped by tensions between maintaining ritual authenticity and adapting to tourism and digital media. These results challenge common assumptions that position traditional performance as either static heritage or fully commodified spectacle. The study suggests that symbolic communication in contemporary society is increasingly fluid and influenced by mediation, where cultural resilience involves not only preservation but also reinterpretation and transformation. This study contributes to cultural communication scholarship by emphasizing the enduring relevance of traditional arts as symbolic communication systems in modern societies and offers practical implications for cultural preservation through education and sustainable cultural policy.   Penelitian ini menggunakan makna simbolis seni Debus khas Banten sebagai representasi identitas budaya lokal di era modern. Debus dipahami tidak hanya sebagai pertunjukan fisik yang ekstrem, tetapi sebagai bentuk komunikasi budaya yang mengandung simbol-simbol spiritual, nilai-nilai sosial, dan pandangan hidup masyarakat Banten. Dengan menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif yang berlandaskan perspektif komunikasi budaya dan semiotika, penelitian ini menganalisis praktik ritual, ekspresi tubuh, serta narasi historis sebagai media simbolik pembentuk makna. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan praktisi senior (jawara), pawang (master ritual), dan anggota audiens muda. Penelitian lapangan dilakukan selama kurang lebih tiga bulan di berbagai lokasi pertunjukan dan transmisi Debus di Provinsi Banten. Temuan penelitian mengungkap tiga fungsi utama Debus. Debus berfungsi sebagai simbol ketahanan budaya, yang terutama ditekankan oleh praktisi senior dalam merespons marginalisasi sosial-politik. Selain itu, Debus berfungsi sebagai mekanisme pembentukan identitas komunal yang dipengaruhi oleh ketegangan antara menjaga keaslian ritual dan menyesuaikan diri dengan tuntutan pariwisata serta media digital. Temuan ini menantang asumsi umum yang memposisikan pertunjukan tradisional sebagai warisan statis atau sekadar tontonan yang terkomodifikasi sepenuhnya. Penelitian ini menunjukkan bahwa komunikasi simbolik dalam masyarakat kontemporer semakin bersifat cair dan dipengaruhi oleh mediasi, sehingga ketahanan budaya tidak hanya mencakup pelestarian, tetapi juga reinterpretasi dan transformasi. Penelitian ini berkontribusi pada kajian komunikasi budaya dengan menegaskan relevansi berkelanjutan seni tradisional sebagai sistem komunikasi simbolik dalam masyarakat modern, serta memberikan implikasi praktis bagi pelestarian budaya melalui pendidikan dan kebijakan budaya yang berkelanjutan.
Effectiveness of the Digital-Based Gunung Peramas Program: Implementation of the SIDATOKKU Application for Death Reporting in North Kayong Regency Novya, Mya; Redjo , Samugyo Ibnu; Yuningsih, Neneng Yani
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 10 No. 1 (2026): April (On Progress)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v10i1.43879

Abstract

Digital transformation in population administration services has become a crucial agenda in strengthening regional governance, particularly in death recording. North Kayong Regency developed the SIDATOKKU Application integrated with the Gunung Peramas Program to accelerate and regulate death reporting, especially in coastal and archipelagic areas with limited access. This study aims to evaluate the effectiveness of SIDATOKKU implementation in improving the quality and accuracy of death reporting data. Using a qualitative approach with case study methods, data were collected through interviews, observations, and document and regulatory analysis, then analyzed using thematic coding. The results show that SIDATOKKU contributes to accelerating and regulating death reporting under specific conditions, particularly when supported by adequate village official capacity and digital infrastructure. However, the application has not entirely transformed death reporting practices comprehensively, considering that death certificate ownership achievement was already relatively high before SIDATOKKU implementation. SIDATOKKU's effectiveness is more evident in improving initial reporting processes through strengthening the role of village officials, enhancing coordination, and simplifying service workflows, rather than in improving final administrative outputs. This study affirms that e-government effectiveness at the local level is contextual and adaptive, significantly influenced by geographical conditions, official capacity, and established administrative practices.   Transformasi digital dalam administrasi kependudukan tidak hanya melibatkan adopsi teknologi tetapi juga perubahan dalam praktik administrasi dan hubungan sosial dalam pelaporan peristiwa penting. Di Kabupaten Kayong Utara, aplikasi SIDATOKKU diperkenalkan sebagai bagian dari Program Gunung Peramas untuk mendukung pelaporan kematian, khususnya di daerah pesisir dan kepulauan dengan akses terbatas terhadap layanan publik. Studi ini berfokus pada modifikasi proses, integrasi kelembagaan, dan adaptasi kontekstual untuk menilai efektivitas SIDATOKKU dari sudut pandang pencapaian tujuan. Pendekatan studi kasus kualitatif digunakan, melibatkan 16 partisipan yang terdiri dari pejabat Disdukcapil, operator desa, dan anggota masyarakat. Wawancara mendalam, observasi, dan analisis dokumen digunakan untuk mengumpulkan data, yang kemudian dianalisis secara tematik. Hasil menunjukkan bahwa SIDATOKKU tidak secara signifikan mengubah output administrasi, karena kepemilikan akta kematian telah mencapai tingkat tinggi sebelum implementasi. Namun, partisipan melaporkan perubahan yang terlihat dalam praktik pelaporan, khususnya dalam peningkatan peran pejabat desa sebagai pelapor awal dan penataan alur kerja pelaporan awal. Ketepatan waktu pelaporan masih tidak merata di berbagai wilayah, terutama di daerah dengan konektivitas internet terbatas, di mana pelaporan digital sering dikombinasikan dengan praktik pencatatan manual. Temuan ini mengungkapkan ketegangan utama antara digitalisasi proses dan hasil administrasi yang stabil (modernisasi prosedural tanpa transformasi hasil). Selain itu, implementasi SIDATOKKU mencerminkan pergeseran tanggung jawab pelaporan dari rumah tangga ke aktor tingkat desa, yang menunjukkan perubahan dalam praktik administrasi lokal dan pengaturan sosial. Studi ini menyoroti bahwa efektivitas e-government dalam konteks lokal dibentuk tidak hanya oleh sistem teknologi tetapi juga oleh kondisi infrastruktur, kapasitas aktor, dan praktik sosial-administratif yang ada. 
The transformation of the sacred meaning of Sepilar Temple Malang through symbolic interaction between generations Syafi’uddin, Syafi’uddin; Tualeka, Muhammad Nur Wahid; Anam, Khoirul
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 10 No. 1 (2026): April (On Progress)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v10i1.43885

Abstract

The transformation of sacred meaning is shaped not only by technological developments but also by processes of interpretation that occur through social interaction. This article examines how the sacred meaning of Candi Sepilar in East Java is constructed and negotiated across generations within the context of digital representation. The study employs a qualitative approach with an interpretive paradigm and draws on the framework of symbolic interactionism to understand how social actors interpret symbols, spaces, and practices associated with sacredness. Data were collected through field observations, in-depth interviews with traditional custodians and members of Generation Z, and an analysis of fourteen TikTok posts representing Candi Sepilar. The data were analyzed using a thematic-interpretive approach to explore the processes through which meanings are produced and negotiated in everyday social practices. The findings indicate that the older generation interprets Candi Sepilar as a spiritual space connected to cosmological relationships between humans, ancestors, and nature, maintained through ethical norms and ritual practices. In contrast, the younger generation tends to interpret the site through reflective experiences, historical value, and visual representations mediated by social media. Interaction between the two generations does not result in a conflict of meanings but instead generates processes of symbolic negotiation that allow multiple interpretations of sacredness to coexist. These findings reveal a form of sacredness that can be understood as hybrid sacredness, a configuration of sacred meaning that is preserved through ethical norms and local cultural memory while simultaneously being represented through digital media within intergenerational interaction.   Transformasi makna sakral tidak hanya dipengaruhi oleh perkembangan teknologi, tetapi juga oleh proses interpretasi makna yang berlangsung melalui interaksi sosial. Artikel ini menganalisis bagaimana makna kesakralan Candi Sepilar di Jawa Timur dikonstruksi dan dinegosiasikan lintas generasi dalam konteks representasi digital. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan paradigma interpretatif dan kerangka interaksionisme simbolik untuk memahami bagaimana aktor sosial memaknai simbol, ruang, dan praktik yang terkait dengan kesakralan. Data diperoleh melalui observasi lapangan, wawancara mendalam dengan penjaga tradisi dan generasi muda (Gen Z), serta analisis terhadap empat belas unggahan TikTok yang merepresentasikan Candi Sepilar. Analisis dilakukan secara tematik-interpretatif untuk menelusuri proses produksi dan negosiasi makna dalam praktik sosial sehari-hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa generasi tua memaknai Candi Sepilar sebagai ruang spiritual yang terkait dengan relasi kosmologis antara manusia, leluhur, dan alam yang dipertahankan melalui norma etika dan praktik ritual. Sebaliknya, generasi muda cenderung memaknai ruang tersebut melalui pengalaman reflektif, nilai sejarah, dan representasi visual yang dimediasi oleh media sosial. Interaksi antara kedua generasi tidak menghasilkan konflik makna, tetapi membentuk proses negosiasi simbolik yang memungkinkan berbagai interpretasi kesakralan hidup berdampingan. Temuan ini menunjukkan bentuk kesakralan yang dapat dipahami sebagai sakralitas hibrid, yaitu konfigurasi makna sakral yang dipertahankan melalui norma etika dan memori budaya lokal sekaligus direpresentasikan melalui medium digital dalam interaksi lintas generasi.
Belian Sasak as a life practice: The concept of sickness–health and the cosmology of healing Sibawaihi, Muhammad; Lailaturrahmah, Etika
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 10 No. 1 (2026): April (On Progress)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v10i1.43923

Abstract

Every society develops its own understanding of the body, illness, and healing, shaped by historical, cosmological, social, and cultural constructions that are experienced and transmitted across generations. Within the biomedical paradigm, illness is understood as a dysfunction of bodily organs, whereas in traditional societies it is interpreted as social imbalance, moral transgression, or spiritual disturbance. Departing from this ontological divergence, this study examines how the healing practices of the Belian Sasak in Lombok construct, articulate, and reaffirm the realities of illness and healing.  This study adopts a qualitative research approach grounded in ethnography and supported by a review of relevant literature. Data were collected through participant observation and in-depth interviews, and were analyzed using narrative analysis of ritual healing practices.  The findings reveal that the belian functions as an ontological actor who, through ritual acts, speech, and symbolic mediation, reactivates and sustains the local cosmology. The efficacy of healing does not rest solely on individual intention, but on the repetition of socially recognized practices that shape a shared horizon of belief. Healing within the Belian practice thus constitutes a relational event that reorders the relationships among the body, community, nature, ancestors, and God.These findings suggest that traditional medicine cannot be reduced merely to a therapeutic technique; rather, it must be understood as a practice that produces and stabilizes the social reality of healing itself. This study contributes to the development of the ontology of medicine and expands our understanding of how healing practices operate within the local cosmology of the Sasak community.   Setiap masyarakat memiliki cara pandang sendiri tentang tubuh, penyakit, dan penyembuhan yang terbentuk dari konstruksi historis, kosmologis, sosial, dan kultural yang mereka alami dan warisi. Dalam masyarakat biomedis, sakit dianggap sebagai gangguan fungsi organ, sementara dalam masyarakat tradisional sakit dimaknai sebagai ketidakseimbangan sosial, pelanggaran moral, atau gangguan spiritual. Berangkat dari perbedaan ontologis tersebut, penelitian ini mengkaji bagaimana praktik belian Sasak di Lombok membentuk, mengartikulasikan, dan meneguhkan realitas sakit dan kesembuhan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode etnografi, melalui observasi partisipan, wawancara mendalam, dan analisis naratif atas praktik ritual penyembuhan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa belian berperan sebagai aktor ontologis yang melalui ritual, tutur, dan simbol mengaktifkan kembali kosmologi lokal. Daya kerja penyembuhan tidak terletak semata pada intensi individu, melainkan pada pengulangan praktik yang diakui secara sosial dan membentuk horizon keyakinan kolektif. Dengan demikian, kesembuhan dalam praktik belian merupakan peristiwa relasional yang menata ulang hubungan antara tubuh, komunitas, alam, leluhur, dan Tuhan. Temuan ini menunjukkan bahwa pengobatan tradisional tidak dapat direduksi menjadi teknik terapeutik saja, melainkan harus dipahami sebagai praktik yang memproduksi dan menstabilkan realitas sosial tentang pengobatan itu sendiri. Penelitian ini berkontribusi pada pengembangan kajian ontologi pengobatan dan memperluas pemahaman tentang bagaimana praktik penyembuhan bekerja dalam konteks kosmologi lokal masyarakat Sasak.