cover
Contact Name
Eggy Fajar Andalas
Contact Email
andalaseggy@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
andalaseggy@gmail.com
Editorial Address
Institute of Culture, University of Muhammadiyah Malang Jl. Raya Tlogomas No. 246 Malang
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial
ISSN : 25808567     EISSN : 2580443x     DOI : 10.22219
Core Subject : Humanities, Art,
Satwika (Kajian Budaya dan Perubahan Sosial) publishes scientific papers on the results of studies/research and reviews of the literature in the fields of cultural studies and social change. The journal is oriented towards research on cultural phenomena and the current social changes. With the aim of dialogue in contemporary socio-cultural conditions, journals encourage cultural analysis and social change that challenge ideological modes and share inequitable justice, contribute to broad theoretical debates, and help stimulate new and progressive social involvement.
Arjuna Subject : -
Articles 367 Documents
The existence of Tanah Liek Batik in the development of creative industries in Padang City Rosalena Aprizia; Agusti Efi
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 9 No. 2 (2025): October
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v9i2.42390

Abstract

Tanah Liek Batik is a distinctive Minangkabau textile that uses natural clay-based dyes and holds deep historical and philosophical meaning. This study examines the existence and sustainability of Tanah Liek Batik within Padang's creative sector and evaluates the government’s role in supporting its development. Using a descriptive qualitative approach, data were collected through interviews, observation, and documentation, and analyzed using Miles and Huberman’s interactive model, encompassing data reduction, display, and conclusion drawing. The findings introduce a new perspective by positioning Tanah Liek Batik not only as a traditional craft but also as an adaptive cultural industry that integrates heritage preservation with modern entrepreneurial strategies. The findings reveal that Tanah Liek Batik serves as both a marker of Minangkabau cultural identity and an economic commodity that contributes to employment, local income, and tourism. Entrepreneurs maintain their relevance through motif innovation, product diversification, and digital marketing. The novelty of this research lies in identifying the dynamic transformation of Tanah Liek Batik from a local cultural product into a creative economic asset through digital adaptation and intergenerational collaboration. However, challenges persist, including limited market access, high production costs, scarcity of raw materials, competition from printed batik, and low interest among youth. Government agencies have supported artisans through training, funding, equipment provision, and promotion, though constrained by limited budgets and weak regeneration. The study highlights the need for culture-based innovation and stronger youth involvement to ensure the sustainability of this traditional Minangkabau craft.   Batik Tanah Liek merupakan tekstil khas Minangkabau yang menggunakan pewarna alami berbasis tanah liat serta memiliki makna historis dan filosofis yang mendalam. Penelitian ini menganalisis eksistensi dan keberlanjutan Batik Tanah Liek dalam sektor industri kreatif di Kota Padang serta mengevaluasi peran pemerintah dalam mendukung pengembangannya. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan model interaktif Miles dan Huberman yang mencakup reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Temuan penelitian ini memperkenalkan perspektif baru dengan memposisikan Batik Tanah Liek tidak hanya sebagai kerajinan tradisional, tetapi juga sebagai industri budaya adaptif yang mengintegrasikan pelestarian warisan dengan strategi kewirausahaan modern. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Batik Tanah Liek berperan sebagai penanda identitas budaya Minangkabau sekaligus sebagai komoditas ekonomi yang berkontribusi terhadap lapangan kerja, pendapatan daerah, dan pariwisata. Para pelaku usaha menjaga relevansinya melalui inovasi motif, diversifikasi produk, dan pemasaran digital. Kebaruan penelitian ini terletak pada identifikasi perubahan Batik Tanah Liek dari produk budaya lokal menjadi aset ekonomi kreatif melalui adaptasi digital dan kolaborasi antar generasi. Namun, tantangan tetap ada, seperti keterbatasan akses pasar, tingginya biaya produksi, kelangkaan bahan baku, persaingan dengan batik cap, serta rendahnya minat generasi muda. Pemerintah telah memberikan dukungan kepada para perajin melalui pelatihan, pendanaan, bantuan peralatan, dan promosi, meskipun masih terkendala oleh keterbatasan anggaran dan lemahnya regenerasi. Penelitian ini menegaskan pentingnya inovasi berbasis budaya dan keterlibatan generasi muda untuk menjaga keberlanjutan kerajinan tradisional Minangkabau ini.
Analysis of terms in the sasak nyunat tradition and their pedagogical implications Ahmad Supriadi Guna Putra; Mahsun Mahsun; Burhanuddin Burhanuddin; Aswandikari Aswandikari; Saharudin Saharudin
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 9 No. 2 (2025): October
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v9i2.42432

Abstract

This study examines the linguistic forms and cultural meanings embedded in the nyunat (circumcision) tradition of the Sasak community from the perspective of anthropological linguistics. It addresses a research gap in which circumcision traditions in Indonesia have mostly been explored from anthropological and health perspectives. The study aims to document, classify, and interpret ritual lexicons as cultural markers that embody identity, social roles, and spiritual values. Through qualitative methods involving observation, interviews, and document analysis, supported by audio–video recordings, the research constructs a taxonomy of ritual lexicons categorized into three semantic domains—berjap ‘getting ready’, begawe ‘holding a celebration’, and perebaq jengkis ‘ending the ceremony’. This taxonomy demonstrates how ritual language organizes cultural knowledge and encodes social order. Theoretically, the study advances the field of anthropological linguistics by showing how ritual lexicons function as systems that preserve and negotiate cultural meaning across generations. Pedagogically, the findings highlight the potential integration of local ritual lexicons into heritage-based education, cultural literacy, and digital storytelling programs to promote linguistic awareness and cultural sustainability.   Penelitian ini mengkaji bentuk-bentuk linguistik dan makna budaya yang tertanam dalam tradisi nyunat (khitan) masyarakat Sasak dari perspektif linguistik antropologi. Kajian ini menanggapi kesenjangan penelitian, di mana tradisi khitan di Indonesia sebagian besar telah diteliti dari sudut pandang antropologis dan kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk mendokumentasikan, mengklasifikasikan, dan menafsirkan leksikon-leksikon ritual sebagai penanda budaya yang merepresentasikan identitas, peran sosial, dan nilai-nilai spiritual. Melalui metode kualitatif yang melibatkan observasi, wawancara, dan analisis dokumen yang didukung oleh rekaman audio–video, penelitian ini membangun taksonomi leksikon ritual yang dikategorikan ke dalam tiga domain semantik, yaitu berjap (‘bersiap’), begawe (‘mengadakan perayaan’), dan perebaq jengkis (‘menutup upacara’). Taksonomi ini menunjukkan bagaimana bahasa ritual mengorganisasi pengetahuan budaya dan mengodekan tatanan sosial. Secara teoretis, penelitian ini memperluas bidang linguistik antropologi dengan menunjukkan bagaimana leksikon ritual berfungsi sebagai sistem yang mempertahankan dan menegosiasikan makna budaya lintas generasi. Secara pedagogis, temuan penelitian ini menyoroti potensi integrasi leksikon ritual lokal ke dalam pendidikan berbasis warisan budaya, literasi budaya, dan program penceritaan digital untuk meningkatkan kesadaran linguistik dan keberlanjutan budaya.
Lack of neutrality among village officials in conflict resolution and law enforcement in Lebong Regency Mike Jayanti; Heni Nopianti; Ika Pasca Himawati
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 9 No. 2 (2025): October
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v9i2.42494

Abstract

Law Number 6 of 2014 concerning Villages provides a legal basis for village officials in exercise their authority. However, in practice, there are still gaps, especially in the neutrality of village officials in handling conflicts in rural areas, which are often biased. Such impartiality certainly has an impact on the sense of trust in local officials and the social cohesion of the village community. This study analyzes the lack of neutrality of village officials in resolving conflicts in Suka Negeri Village, Lebong Regency. The aim is to describe how this lack of neutrality is not only an administrative issue but also a manifestation of power relations and social legitimacy that shape how law and justice are enforced. This study uses a qualitative case study approach. Research data was collected through semi-structured interviews and observations to gain an understanding of the conflicts that occurred and the resolution of cases by village officials. The theoretical framework uses Ralf Dahrendorf's conflict analysis to review the dynamics of pseudo-groups, interest groups, and conflict groups in the village social structure. This study fills a gap in research that tends to focus only on administrative governance in villages, without examining socio-cultural biases in conflict resolution. The findings show that village officials have not played a fair role in conflict resolution due to partiality and patronage that favor those with kinship ties to them, thereby fostering resistance and a crisis of trust.   Adanya Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa memberikan landasan hukum bagi perangkat desa dalam menjalankan kewenangannya. Namun dalam praktik masih terdapat kesenjangan, terutama pada netralitas perangkat desa dalam menangani konflik di pedesaan yang sering kali bias. Ketidaknetralan semacam itu tentunya berdampak pada rasa kepercayaan terhadap pejabat lokal dan kohesi sosial masyarakat desa. Penelitian ini menganalisis ketidaknetralan perangkat desa dalam penyelesaian konflik di Desa Suka Negeri, Kabupaten Lebong. Guna mendeskripsikan bahwa ketidaknetralan tersebut bukan hanya persoalan administratif, tetapi merupakan manifestasi relasi kuasa dan legitimasi sosial yang memengaruhi cara hukum dan keaadilan ditegakkan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif  dengan pendekatan studi kasus, data penelitian dikumpulkan melalui wawancara semi struktur dan observasi untuk memperoleh pemahaman mengenai konflik yang terjadi dan penyelesaian kasus oleh perangkat desa. Kerangka teoritis menggunakan analisis konflik Ralf Dahrendorf untuk mengulas dinamika kelompok semu, kelompok kepentingan dan kelompok konflik dalam struktur sosial desa. Studi ini mengisi celah penelitian yang cenderung menyoroti tata kelola administratif desa saja tanpa menelaah bias sosial-budaya dalam resolusi konflik. Temuan menunjukkan bahwa perangkat desa belum menjalankan peran secara adil dalam penyelesaian konflik karena keberpihakan dan patronase yang memberi keuntungan bagi pihak yang memiliki hubungan kekerabatan ke pejabat desa sehingga memunculkan resistensi dan krisis kepercayaan.
Unveiling cultural values and pedagogical insights through the terminologies of the Sasak Kepaten tradition Saadilah Husni; Mahsun Mahsun; Burhanudin Burhanudin; Aswandikari Aswandikari; Saharudin Saharudin
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 9 No. 2 (2025): October
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v9i2.42529

Abstract

This study explores the ritual language system in the kepaten tradition of the Sasak community from the perspective of anthropological linguistics. It aims to identify the linguistic forms, cultural meanings, and value systems embedded in death ritual expressions. Language in this context is viewed not merely as a communicative tool but as a symbolic mechanism that structures social, spiritual, and moral behavior. Employing a qualitative–descriptive method through observation, interviews, and documentation, the research collected ritual lexicons analyzed using HBB, HBS, and HBSP techniques to construct taxonomies and semantic domains across three main stages: nyiepan ‘pre-burial’, nguburan ‘burial’, and suwahan ‘post-burial’. The findings reveal that each linguistic form conveys not only lexical meaning but also a triadic value system connecting human–human, human–nature, and human–God relationships. These values form the foundation of what this study terms language as moral ecology—a linguistic system that regulates ethical conduct and sustains communal harmony. From a pedagogical standpoint, the kepaten lexicons provide culturally grounded learning materials that can nurture solidarity, spirituality, and ecological care in character education. Overall, the study enriches anthropological linguistics by positioning ritual discourse as both a moral–ecological practice and a model for heritage-based pedagogy rooted in Sasak cultural wisdom.   Penelitian ini mengkaji sistem bahasa ritual dalam tradisi kepaten masyarakat Sasak melalui perspektif linguistik antropologis. Tujuannya adalah untuk mengidentifikasi bentuk-bentuk lingual, makna budaya, dan sistem nilai yang terkandung dalam tuturan ritual kematian. Bahasa dalam konteks ini tidak dipandang semata sebagai alat komunikasi, melainkan sebagai mekanisme simbolik yang menstrukturkan perilaku sosial, spiritual, dan moral masyarakat. Dengan menggunakan metode kualitatif-deskriptif melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi, penelitian ini menghimpun leksikon ritual yang dianalisis menggunakan teknik HBB, HBS, dan HBSP untuk membangun taksonomi dan domain semantik pada tiga tahap utama: nyiepan ‘pra-pemakaman’, nguburan ‘pemakaman’, dan suwahan ‘pasca-pemakaman’. Temuan penelitian menunjukkan bahwa setiap bentuk lingual tidak hanya memuat makna leksikal, tetapi juga merepresentasikan sistem nilai triadik yang menghubungkan relasi manusia dengan sesama, manusia dengan alam, dan manusia dengan Tuhan. Nilai-nilai ini menjadi dasar dari konsep bahasa sebagai ekologi moral (language as moral ecology), yaitu sistem linguistik yang menata perilaku etis dan menjaga keharmonisan sosial. Dari sudut pandang pedagogis, leksikon kepaten dapat dijadikan sumber pembelajaran berbasis budaya yang menumbuhkan solidaritas, religiusitas, dan kepedulian ekologis dalam pendidikan karakter. Secara keseluruhan, penelitian ini memperkaya kajian linguistik antropologis dengan menempatkan wacana ritual sebagai praktik moral-ekologis sekaligus model pedagogi berbasis kearifan lokal masyarakat Sasak.
Communication and culture: Exploring the impact of modernization and social change in Subulussalam city through Dampeng dance Fathayatul Husna; Siti Derhana; Ainal Fitri; Lilis Sariyanti; Futri Syam
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 9 No. 2 (2025): October
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v9i2.42536

Abstract

This article examines the traditional art of Dampeng Dance in Subulussalam City. Dampeng Dance is one of the distinctive traditional art forms of Subulussam, carrying deep social and cultural significance for the local community. Over time, the Dampeng Dance has undergone several transformations, including changes in the composition of dancers, performance duration, and customsThe purpose of this study is to find out how does the presence of the Dampeng dance bring about social change and communication within the community of Subulussalam city through modernization? This is inseparable from the influence of internal and external factors of the dance. This research uses the theory of social change by Soekanto, which is based on two factors: external and internal. The research employs a qualitative method with a descriptive-qualitative approach. Informants were selected through purposive sampling, focusing on individuals with substantial knowledge and understanding of Dampeng Dance tradition in Subulussalam. Data were collected through interviews, observations, and documentations, then analyzed using Reflexive Thematic Analysis. The results of this study are predominantly influenced by internal factors, such as demographic growth, the emergence of new cultural innovations, and internal social conflicts. Meanwhile, external factors such as physical environmental conditions and warfare had little impact, although cross-cultural interactions significantly influence the dance’s style and presentation. These transformations also reflect broader social changes within the community, including of Dampeng Dance is not merely an aesthetic adaptation to modernity but a representation of the complex processes of social change in the life of Subulussalam society.   Artikel ini mengkaji terkait seni tradisional Tari Dampeng di Kota Subulussalam. Tari Dampeng merupakan salah satu bentuk kesenian tradisional khas Kota Subulussan yang memiliki nilai sosial dan budaya tinggi bagi masyarakat. Seiring berjalannya waktu, Tari Dampeng telah mengalami beberapa transformasi, termasuk perubahan komposisi penari, durasi pertunjukan, dan adat istiadat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana kehadiran Tari Dampeng membawa perubahan sosial dan komunikasi dalam masyarakat Kota Subulussalam melalui modernisasi? Hal ini tidak terlepas dari pengaruh faktor internal dan eksternal tarian tersebut. Penelitian ini menggunakan teori perubahan sosial Soekanto, yang didasarkan pada dua faktor: eksternal dan internal. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif-kualitatif. Teknik penentuan informan dilakukan dengan cara purposive sampling, yaitu dengan cara menentukan informan yang memiliki pengetahuan dan pemahaman lebih terkait Tari Dampeng di Kota Subulussalam. Sedangkan data diperoleh melalui wawancara, observasi dan dokumentasi, serta dilakukan analisis data dengan menggunakan Reflexive Thematic Analysis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perubahan Tari Dampeng lebih dipengaruhi oleh faktor internal yang meliputi pertumbuhan penduduk demografis, munculnya inovasi budaya baru, serta konflik sosial internal. Sementara itu, faktor eksternal berupa kondisi lingkungan fisik dan peperangan tidak memiliki dampak yang berarti, meskipun interaksi budaya lain terbukti memberikan pengaruh kuat terhadap gaya dan bentuk penyajian tari. Transformasi ini turut membawa perubahan sosial dalam masyarakat, seperti pergeseran pola pikir, perilaku dan budaya material. Dengan demikian, perubahan Tari Dampeng bukan sekedar adaptasi estetik terhadap modernitas, melainkan juga representasi dari proses perubahan sosial yang kompleks dalam kehidupan masyarakat Subulussam.
The loss and damage fund as a site of global resistance: Power asymmetries and normative disruption in climate governance Abdul Halim; Sari Mutiara Aisyah; Erlisa Saraswaty; Roy Setiawan; Sri Mulya Pratiwi; Athira Nisrina; Wahyu Saputra
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 9 No. 2 (2025): October
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v9i2.42599

Abstract

The issue of loss and damage has long been sidelined in global climate governance, despite its increasing urgency for climate-vulnerable countries. This study examines the political, moral, and cultural dimensions of climate justice that shaped the negotiation and institutionalization of the Loss and Damage Fund (LDF) under the UNFCCC framework. Politically, the fund reflects enduring power asymmetries between developed and developing countries; morally, it embodies contested claims of historical responsibility; and culturally, it signals a shift in global norms toward reparative justice and transnational solidarity. Using a qualitative-descriptive approach, the research draws on official UNFCCC documents, COP decisions, and academic literature to trace the institutional dynamics and strategic negotiations that enabled the fund’s creation. The findings show that Global South actors, despite internal asymmetries, strategically reframed loss and damage from a technical concern into a moral and political demand. Indonesia’s diplomatic role within the G77 coalition at COP27 illustrates how procedural resistance and discursive realignment contributed to political recognition of irreversible climate harm. This study addresses a gap in the literature by moving beyond normative appeals to examine the institutional mechanisms and strategic agency that transformed a marginalized agenda into formal policy. Its academic contribution lies in synthesizing historical institutionalism and Global South dependency theory, while connecting institutional change to broader shifts in values, norms, and global solidarity. The Loss and Damage Fund is not merely a financial instrument; it is a contested site of political struggle and symbolic transformation in the architecture of global climate governance.   Isu kerugian dan kerusakan telah lama terpinggirkan dalam tata kelola iklim global, meskipun urgensinya semakin meningkat bagi negara-negara yang rentan terhadap dampak iklim. Studi ini menelusuri dimensi politik, moral, dan kultural dari keadilan iklim yang membentuk proses negosiasi dan pelembagaan Dana Kerugian dan Kerusakan (Loss and Damage Fund/LDF) di bawah kerangka UNFCCC. Secara politik, LDF mencerminkan ketimpangan kekuasaan antara negara maju dan berkembang; secara moral, ia memuat klaim tanggung jawab historis yang diperdebatkan; dan secara kultural, ia menandai pergeseran norma global menuju keadilan reparatif dan solidaritas transnasional. Dengan pendekatan kualitatif-deskriptif, penelitian ini mengandalkan analisis dokumen resmi UNFCCC, keputusan COP, dan literatur akademik untuk menelusuri dinamika institusional dan strategi negosiasi yang memungkinkan pembentukan LDF. Temuan menunjukkan bahwa aktor-aktor Global South, meskipun memiliki asimetri internal. secara strategis mereformulasi isu kerugian dan kerusakan dari persoalan teknis menjadi tuntutan moral dan politik. Peran diplomatik Indonesia dalam koalisi G77 pada COP27 menjadi contoh bagaimana resistensi prosedural dan pergeseran wacana berhasil mendorong pengakuan politik atas kerugian iklim yang tidak dapat diadaptasi. Studi ini mengisi celah dalam literatur yang selama ini cenderung menekankan aspek normatif tanpa mengkaji mekanisme institusional dan strategi politik yang memungkinkan agenda terpinggirkan menjadi kebijakan global. Kontribusi akademik penelitian ini terletak pada sintesis teoritis antara institusionalisme historis dan teori ketergantungan Global South, serta analisis transformasi nilai dan solidaritas global. LDF bukan sekadar instrumen finansial, melainkan arena perjuangan politik dan simbol transisi kelembagaan dalam arsitektur tata kelola iklim dunia.
Front Matter Volume 9 No 2 October 2025 Eggy Fajar Andalas
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 9 No. 2 (2025): October
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Santri social mobility in the formation of identity: A bildungsroman analysis of Ahmad Fuadi’s Negeri 5 Menara Trilogy Amin, Muhammad Al; Adji, Muhamad; Hidayatullah, Moch. Irfan
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 10 No. 1 (2026): April (On Progress)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v10i1.41569

Abstract

This study looks at how social mobility shapes the protagonist’s identity in Ahmad Fuadi’s ‘Negeri 5 Menara’ trilogy. Most earlier studies on these novels focus on moral values or educational motivation. But few have asked how the protagonist’s social mobility relates to his identity formation. But identity matters more than ever in today’s changing Indonesia. Educational mobility is growing. People interact across cultures more often. And globalization keeps shaping who young people become. Within this broader landscape of global educational mobility, literary works such as the Negeri 5 Menara trilogy portray the identity formation of Indonesian Muslim youth who experience both class and cultural mobility. This research aims to reveal the construction of a santri identity through the representation of social mobility experienced by the protagonist by employing a Bildungsroman analytical framework. The study applies a qualitative descriptive method with an objective approach to literary texts as conceptualized by M. H. Abrams. The unit of analysis consists of narrative events that represent the protagonist’s social mobility. The primary data source is the Negeri 5 Menara trilogy, which is examined through critical reading of the protagonist’s developmental trajectory across three stages of identity formation: the initial crisis phase, the phase of conflict and educational formation, and the stage of maturity. The findings indicate that Alif’s social mobility extends beyond geographical movement and also encompasses cultural mobility shaped by educational experiences, cross-cultural interactions, and engagement within global networks. These experiences contribute to the formation of a dynamic and cosmopolitan santri identity, tell us about cosmopolitan Muslim literacy on Alif’s experiences moving for school, living as an intellectual away from home, show that being a santri doesn’t have to mean being closed off. It can become more open and adaptive. These findings contribute to literary studies, identity studies, and cultural studies by offering a deeper understanding of how the identities of Muslim youth are shaped within the context of contemporary society.   Penelitian ini mengkaji representasi mobilitas sosial dalam pembentukan identitas tokoh utama pada trilogi novel ‘Negeri 5 Menara’ karya Ahmad Fuadi. Selama ini karya tersebut lebih sering dikaji dari perspektif nilai moral dan pendidikan, sementara relasi antara mobilitas sosial tokoh dan proses pembentukan identitas diri masih jarang mendapat perhatian. Padahal isu identitas menjadi penting dalam konteks perubahan sosial Indonesia yang ditandai oleh meningkatnya mobilitas pendidikan, interaksi lintas budaya, serta dinamika globalisasi yang memengaruhi pembentukan identitas generasi muda. Di tengah dinamika pendidikan global tersebut, karya sastra seperti trilogi Negeri 5 Menara menampilkan proses pembentukan identitas generasi muda Muslim Indonesia yang mengalami mobilitas kelas dan budaya. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap konstruksi identitas santri melalui representasi mobilitas sosial tokoh utama dengan menggunakan pendekatan analisis Bildungsroman. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan objektif terhadap teks sastra sebagaimana dikemukakan oleh M. H. Abrams. Unit analisis penelitian berupa peristiwa naratif yang merepresentasikan mobilitas sosial tokoh utama. Sumber data primer berupa teks trilogi Negeri 5 Menara yang dianalisis melalui teknik pembacaan kritis terhadap perkembangan tokoh dalam tiga tahap pembentukan identitas, yaitu fase krisis awal, fase konflik dan proses pendidikan, serta fase kedewasaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mobilitas sosial tokoh Alif tidak hanya berupa perpindahan geografis, tetapi juga mencakup mobilitas kultural melalui pengalaman pendidikan, interaksi lintas budaya, dan keterlibatan dalam jejaring global. Proses tersebut membentuk identitas santri yang dinamis dan kosmopolitan. Dalam konteks wacana literasi Muslim kosmopolitan, pengalaman mobilitas pendidikan dan diaspora intelektual yang dialami tokoh memperlihatkan bahwa identitas santri dapat berkembang menjadi lebih terbuka dan adaptif. Temuan ini memberikan kontribusi bagi kajian sastra, identitas, dan studi budaya dalam memahami pembentukan identitas generasi muda Muslim dalam masyarakat modern.
Childism through the feminist-fantastic lens in the Kita Pergi Hari Ini by Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie Syifaurrahman, Muhammad; Rahayu , Lina Meilinawati; Sachmadi, Ida Farida
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 10 No. 1 (2026): April (On Progress)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v10i1.41827

Abstract

This study examines how Kita Pergi Hari Ini by Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie represents and constructs childism through the feminist fantastic narrative strategy. The central research problem concerns how adult–child power relations are articulated not merely as a thematic concern, but as an ideological mechanism embedded within the text. This study aims to identify both negative and positive forms of childism and to elucidate the role of the feminist fantastic in deconstructing dominant ideology. The methodology employs qualitative analysis within a narratological and feminist literary criticism framework, with particular focus on narrative structure, focalization, and the fantastic elements embedded in the text. The findings reveal that negative childism is manifested through the normalization of obedience, surveillance, and the restriction of children's expression, while positive childism emerges through children's agency, imagination, and solidarity. The fantastic operates as a critical device that destabilizes the boundary between reality and imagination, opening a space for ideological negotiation and enabling the deconstruction of adult-centric norms. The study concludes that the novel not only represents the subordination of children but also articulates alternative possibilities in which children appear as autonomous and reflective subjects. The implications suggest that literary texts can function as critical media for examining power relations and fostering more inclusive perspectives, while also opening interdisciplinary avenues linking narratology, feminism, and childism within the context of contemporary literary studies.   Penelitian ini mengkaji bagaimana Kita Pergi Hari Ini karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie merepresentasikan dan mengonstruksi anakisme melalui strategi naratif fantastis. Permasalahan utama penelitian adalah bagaimana relasi kuasa dewasa–anak dihadirkan tidak hanya sebagai tema, tetapi sebagai mekanisme ideologis yang bekerja dalam teks. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi bentuk anakisme negatif dan positif serta menjelaskan peran feminist fantastis sebagai strategi dekonstruksi ideologi. Metode yang digunakan adalah analisis kualitatif dengan pendekatan naratologi dan kritik sastra feminis, dengan fokus pada struktur naratif, fokalisasi, serta unsur fantastis dalam teks. Hasil penelitian menunjukkan bahwa anakisme negatif dimanifestasikan melalui normalisasi kepatuhan, pengawasan, dan pembatasan ekspresi anak, sementara anakisme positif muncul melalui agensi, imajinasi, dan solidaritas antar-anak. Unsur fantastis berfungsi sebagai perangkat kritis yang mengaburkan batas realitas dan membuka ruang negosiasi makna, sehingga memungkinkan dekonstruksi terhadap norma dewasa-sentris. Simpulan penelitian ini menegaskan bahwa novel tersebut tidak hanya merepresentasikan subordinasi anak, tetapi juga menghadirkan kemungkinan alternatif di mana anak tampil sebagai subjek yang otonom dan reflektif. Implikasi penelitian ini menunjukkan bahwa teks sastra dapat dimanfaatkan sebagai medium kritis untuk membaca relasi kuasa dan membangun perspektif yang lebih inklusif, sekaligus membuka peluang kajian interdisipliner yang menghubungkan naratologi, feminisme, dan childism dalam konteks kajian sastra kontemporer.
Inclusive security for women with disabilities in South Sumatra: Intersectionality and community-based advocacy Supli, Nur Aslamiah; Nuaba, I Kadek Andre; Lamato, Ramdan; Fadhlia, Maudy Noor; Setiawan, Roy
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 10 No. 1 (2026): April (On Progress)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v10i1.42604

Abstract

Inclusive safety for women with disabilities in South Sumatra is a pressing issue, given the high levels of violence faced by this group. Therefore, this research focuses on protection strategies that can be implemented for women with disabilities residing in marginal areas of South Sumatra. The study aims to explore institutional and participatory dynamics and to identify community initiatives that can enhance their safety and participation in society. The methodology employed is a qualitative approach based on in-depth interviews with community organizations and local government agencies. The research indicates that violence against women with disabilities stems not only from individuals but also from institutional systems that are non-inclusive and non-responsive to their specific needs. The findings reveal that community-based initiatives such as peer support groups and grassroots forums prove effective in creating safe spaces and increasing the participation of women with disabilities. This study emphasizes the importance of institutional reform to create a sustainable protection system, including more inclusive and coordinated public policies. Proposed policy recommendations include engaging disability organizations as strategic partners and implementing inclusion standards in public services, which are expected to strengthen the protection and participation of women with disabilities in a broader context.   Keamanan inklusif bagi perempuan disabilitas di Sumatera Selatan merupakan masalah yang mendesak, mengingat tingginya tingkat kekerasan yang dihadapi oleh kelompok ini. Maka dari itu, penelitian ini fokus pada strategi perlindungan yang dapat diimplementasikan untuk perempuan disabilitas yang tinggal di daerah marginal Sumatera Selatan. Tujuan dari penelitian ini ialah untuk mengeksplorasi dinamika kelembagaan dan partisipatif serta untuk mengidentifikasi inisiatif komunitas yang dapat meningkatkan keselamatan dan partisipasi mereka dalam masyarakat. Metodologi yang digunakan adalah pendekatan kualitatif berbasis wawancara mendalam dengan organisasi komunitas dan lembaga pemerintah daerah. Penelitian menunjukkan bahwa kekerasan terhadap perempuan disabilitas tidak hanya bersumber dari individu, tetapi juga sistem kelembagaan yang tidak inklusif dan tidak responsif terhadap kebutuhan spesifik mereka. Hasil penelitian menemukan bahwa inisiatif berbasis komunitas seperti kelompok dampingan dan forum akar rumput terbukti efektif dalam menciptakan ruang aman dan meningkatkan partisipasi perempuan disabilitas. Penelitian ini menekankan pentingnya reformasi kelembagaan untuk menciptakan sistem perlindungan yang berkelanjutan, termasuk kebijakan publik yang lebih inklusif dan terkoordinasi. Rekomendasi kebijakan yang diusulkan meliputi pelibatan organisasi disabilitas sebagai mitra strategis dan penerapan standar inklusi dalam layanan publik, yang diharapkan dapat memperkuat perlindungan dan partisipasi perempuan disabilitas dalam konteks yang lebih luas.