cover
Contact Name
Eggy Fajar Andalas
Contact Email
andalaseggy@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
andalaseggy@gmail.com
Editorial Address
Institute of Culture, University of Muhammadiyah Malang Jl. Raya Tlogomas No. 246 Malang
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial
ISSN : 25808567     EISSN : 2580443x     DOI : 10.22219
Core Subject : Humanities, Art,
Satwika (Kajian Budaya dan Perubahan Sosial) publishes scientific papers on the results of studies/research and reviews of the literature in the fields of cultural studies and social change. The journal is oriented towards research on cultural phenomena and the current social changes. With the aim of dialogue in contemporary socio-cultural conditions, journals encourage cultural analysis and social change that challenge ideological modes and share inequitable justice, contribute to broad theoretical debates, and help stimulate new and progressive social involvement.
Arjuna Subject : -
Articles 367 Documents
Wedangan as a local public space: Social identity and cultural adaptation to modernity Wicaksono, Ridlo Febi; Wijaya, Mahendra; Zuber, Ahmad
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 10 No. 1 (2026): April (On Progress)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v10i1.42758

Abstract

The phenomenon of wedangan in Surakarta represents an informal public space that has a significant role in shaping social interaction and collective identity in Javanese urban society. Beyond its function as a food and beverage stall, wedangan operates as a local public sphere where cross-class encounters, everyday communication, and social negotiations take place. This study aims to analyze how wedangan functions as an informal public space and how social identity is produced and negotiated amid the processes of modernization and globalization. Employing a descriptive qualitative approach, this research draws on observations, in-depth interviews, and documentation conducted in three types of wedangan: Wedangan Pak Djaiman (traditional), Wedangan Gerobak (mobile and grassroots), and Wedangan Nala Gareng (semi-modern adaptation). The findings demonstrate that wedangan sustains egalitarian values, guyub (togetherness), and social cohesion, while simultaneously accommodating selective elements of modernity. Rather than being eroded by modern lifestyles, wedangan actively negotiates modern influences through cultural adaptation and everyday practices. This study contributes theoretically to the discussion of non-Western public spheres by illustrating that public space in urban Indonesia is not solely formal, institutionalized, or rational in the Habermasian sense, but also embedded in informal, cultural, and relational practices. Furthermore, the findings reconceptualize social identity not as a fixed entity, but as a situational and dynamic process shaped through everyday interactions in informal urban spaces. Empirically, this research enriches cultural and urban sociology by positioning wedangan as an active agent of social change that mediates tradition and modernity within contemporary Javanese society.   Fenomena wedangan di Kota Surakarta merepresentasikan ruang publik informal yang memiliki peran signifikan dalam membentuk interaksi sosial dan identitas kolektif dalam masyarakat perkotaan Jawa. Lebih dari sekadar tempat penjualan makanan dan minuman, wedangan berfungsi sebagai ruang publik lokal tempat terjadinya perjumpaan lintas kelas, komunikasi keseharian, serta negosiasi sosial. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana wedangan berfungsi sebagai ruang publik informal serta bagaimana identitas sosial diproduksi dan dinegosiasikan di tengah proses modernisasi dan globalisasi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi yang dilakukan pada tiga tipe wedangan, yaitu Wedangan Pak Djaiman (tradisional), Wedangan Gerobak (bersifat mobile dan berbasis akar rumput), serta Wedangan Nala Gareng (adaptasi semi-modern). Hasil penelitian menunjukkan bahwa wedangan mampu mempertahankan nilai-nilai egalitarian, guyub (kebersamaan), dan kohesi sosial, sekaligus mengakomodasi unsur-unsur modernitas secara selektif. Alih-alih tergerus oleh gaya hidup modern, wedangan justru secara aktif menegosiasikan pengaruh modern melalui adaptasi budaya dan praktik keseharian. Secara teoretis, penelitian ini berkontribusi pada diskursus mengenai ruanpublik non-Barat dengan menunjukkan bahwa ruang publik di perkotaan Indonesia tidak semata-mata bersifat formal, terinstitusionalisasi, atau rasional dalam pengertian Habermasian, melainkan juga tertanam dalam praktik-praktik informal, kultural, dan relasional. Lebih lanjut, temuan penelitian ini merekonseptualisasi identitas sosial bukan sebagai entitas yang bersifat tetap, melainkan sebagai proses yang situasional dan dinamis, yang dibentuk melalui interaksi sehari-hari di ruang-ruang publik informal. Secara empiris, penelitian ini memperkaya kajian sosiologi budaya dan perkotaan dengan menempatkan wedangan sebagai agen aktif perubahan sosial yang memediasi antara tradisi dan modernitas dalam masyarakat Jawa kontemporer. 
The dynamics and livelihood strategies of Dayak Basap people in resettlement site Bengalon Lavraia, Haekal; Wiyanti, Dede Tresna; Hermawati, Rina
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 10 No. 1 (2026): April (On Progress)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v10i1.42765

Abstract

The livelihood system is a widely discussed issue, one of which is the relationship between livelihoods with mining and resettlement. The Mining industry is known to alter the surrounding landscape, this alteration, whether by direct mining operation or indirect through related programs could lead to changes in people’s livelihoods system, these activities can be seen as a form of power interaction. The dynamics that emerge as a form of power interactions are important because they are related to livelihood conditions in society. Therefore this topic is important to study in order to produce better and holistic policies on sustainable natural resource management. The purpose of this research is to examine livelihoods of Dayak Basap people and the dynamics that occur within them. The concepts of livelihoods and power will be used to obtain a comprehensive picture of this issue. Qualitative methods with an ethnographic approach were used to conduct the research. Data collection was carried out through in-depth interviews and participatory observation. This research was conducted in RT 02, Keraitan Village, Bengalon Sub-district, which is the resettlement location of the Dayak Basap people. The results show that residents’ main livelihood sources are ecological, the dynamics within livelihood system could be seen in resource changes, as well as how residents utilize their resources through access and strategies. In this study, power negotiations could be seen in the resettlement program that initiated by mining companies and followed by the local communities.   Sistem penghidupan merupakan isu yang kerap dibicarakan, salah satunya soal kaitan penghidupan dengan pertambangan dan permukiman kembali. Pertambangan diketahui dapat mengubah lanskap sekitarnya, perubahan lanskap melalui operasi pertambangan secara langsung maupun tidak langsung dengan program-programnya berpotensi mengubah sistem penghidupan masyarakat, aktivitas tersebut dapat dilihat sebagai bentuk di mana kuasa berinteraksi. Dinamika yang muncul sebagai wujud interaksi kuasa menjadi penting karena berhubungan dengan kondisi penghidupan pada masyarakat. Oleh karena itu, topik ini penting dikaji guna menghasilkan kebijakan yang lebih baik dan holistik perihal pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji penghidupan warga Dayak Basap dan dinamika di dalamnya. Konsep penghidupan dan kuasa digunakan untuk menangkap gambaran yang komprehensif terkait isu ini. Metode kualitatif dengan pendekatan etnografis digunakan untuk melaksanakan penelitian. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam serta observasi partisipatif. Penelitian dilakukan di RT 02, Desa Keraitan, Kecamatan Bengalon yang merupakan lokasi permukiman kembali warga Dayak Basap. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sumber penghidupan yang bersifat ekologis merupakan sumber utama warga, dinamika pun dapat terlihat dalam perubahan sumber, juga bagaimana warga memanfaatkan sumber lewat akses dan strategi yang dilakukannya.  Dalam kajian ini negosiasi kuasa dapat terlihat dalam program resettlement yang diinisiasi perusahaan tambang dan diikuti oleh masyarakat setempat.
Implementation of the legislative oversight function on regional budget execution in Sidoarjo regency Florencia, Serafin; Reviandani, Oktarizka
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 10 No. 1 (2026): April (On Progress)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v10i1.43028

Abstract

This study analyzes the implementation of the legislative oversight function on the regional budget (APBD) in Sidoarjo Regency. It integrates Van Meter and Van Horn’s implementation model with Almond and Verba’s political culture theory to bridge the gap between formal regulations and actual bureaucratic behavior. Utilizing a qualitative interpretive case study design, research involved in-depth interviews with legislative members, regional auditors, and civil society activists. The findings reveal that while the Regional House of Representatives (DPRD) achieved high procedural compliance in policy standards and communication, oversight remains symbolic due to a deeply rooted 'subject' political culture that prioritizes institutional harmony over substantive evaluation. However, the study identifies a significant shift triggered by the rise of a 'participant' culture among the public, driven by digital transparency. This external pressure has evolved legislative disposition from a formal-bureaucratic mindset toward a responsive evaluative orientation, manifesting in increased field inspections and critical budget discussions. The study concludes that effective budget oversight depends not only on technical-administrative standards but is fundamentally determined by the transformation of political culture from an accommodative subject orientation toward a critical participant culture. This shift in social accountability serves as the primary catalyst for challenging elite political accommodation and ensuring the integrity of regional financial governance within a decentralized system.   Penelitian ini menganalisis implementasi fungsi pengawasan DPRD terhadap APBD di Kabupaten Sidoarjo melalui integrasi model Van Meter dan Van Horn dengan teori budaya politik Almond dan Verba. Menggunakan desain studi kasus interpretif kualitatif, penelitian ini melibatkan wawancara mendalam dengan anggota legislatif, auditor daerah, dan aktivis masyarakat sipil. Temuan mengungkapkan bahwa meskipun DPRD mencapai kepatuhan prosedural tinggi, kualitas pengawasan tetap bersifat simbolis akibat dominasi budaya politik 'subjek' yang memprioritaskan harmoni institusional di atas evaluasi substantif. Namun, studi ini mengidentifikasi pergeseran signifikan yang dipicu oleh bangkitnya budaya 'partisipan' masyarakat melalui transparansi digital. Tekanan eksternal ini mendorong evolusi disposisi legislatif dari pola pikir formal-birokratis menuju orientasi evaluatif yang responsif, yang bermanifestasi dalam peningkatan inspeksi lapangan dan pembahasan anggaran yang kritis. Penelitian menyimpulkan bahwa efektivitas pengawasan anggaran tidak hanya bergantung pada standar teknis-administratif, tetapi ditentukan oleh transformasi budaya politik dari orientasi 'subjek' yang akomodatif menuju budaya 'partisipan' yang kritis. Kekuatan mekanisme akuntabilitas sosial menjadi kunci untuk menantang akomodasi politik elit demi menjamin integritas tata kelola keuangan daerah dalam sistem desentralisasi.
Collaborative governance in the child-friendly school program at Krian 1 Junior High School Ramadhani, Mutiara Nabilah; Hertati, Diana
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 10 No. 1 (2026): April (On Progress)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v10i1.43105

Abstract

Kabupaten Sidoarjo, has the highest number of cases of violence against children in East Java. CFS is implemented in collaboration with various actors because the prevention and handling of cases of violence against children requires cooperation with various parties. The purpose of this study is to identify, describe, and analyze the collaboration process in Collaborative Governance in the realization of Child Friendly School at Krian 1 Junior High School Sidoarjo. This is reinforced by the lack of studies on collaborative governance in child-friendly school from a cultural transformation perspective in Kabupaten Sidoarjo.  The collaboration was carried out by DP3AKB Kabupaten Sidoarjo, Krian 1 Junior High School , and PT Karya Bintang Mandiri. The research method used was descriptive qualitative, which described the analysis based on the collaborative governance theory according to Ansell and Gash, namely starting condition, facilitative leadership, institutional design, and collaborative processes. The results obtained from this study indicate that the CFS collaboration process at Krian 1 Junior High School has been running well, although it is not yet ideal according to the four criteria of collaboration according to Ansell and Gash. Obstacles arise from the lack of transparency of other companies in Sidoarjo that have not reported their CSR assistance to the DP3AKB of Kabupaten Sidoarjo. In the process of implementing the collaboration, each actor has carried out their respective roles, enabling the implementation of CFS at Krian 1 Junior High School to proceed in accordance with the initial objectives.   Kabupaten Sidoarjo memiliki jumlah kasus kekerasan terhadap anak tertinggi di Jawa Timur. SRA dilaksanakan bekerja sama dengan berbagai pihak karena pencegahan dan penanganan kasus kekerasan terhadap anak memerlukan kerja sama dengan berbagai pihak. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi, mendeskripsikan, dan menganalisis proses kolaborasi dalam Tata Kelola Kolaboratif dalam implementasi Sekolah Ramah Anak di SMP Negeri 1 Krian Sidoarjo. Hal ini didukung oleh minimnya penelitian tentang tata kelola kolaboratif dalam sekolah ramah anak dari perspektif transformasi budaya di Kabupaten Sidoarjo.  Kolaborasi dilakukan oleh DP3AKB Kabupaten Sidoarjo, SMPN 1 Krian, dan PT Karya Bintang Mandiri. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif, yang menggambarkan analisis berdasarkan teori Collaborative Governance menurut Ansell dan Gash, yaitu kondisi awal, kepemimpinan fasilitatif, desain kelembagaan, dan proses kolaboratif.  Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa proses kolaborasi SRA di SMPN 1 Krian telah berjalan dengan baik, meskipun belum ideal menurut empat kriteria kolaborasi menurut Ansell dan Gash. Hambatan muncul akibat kurangnya transparansi dari perusahaan-perusahaan lain di Sidoarjo yang belum melaporkan bantuan CSR mereka kepada DP3AKB Kabupaten Sidoarjo. Dalam proses implementasi kolaborasi, setiap pihak telah melaksanakan peran masing-masing, sehingga implementasi SRA di SMPN 1 Krian dapat berjalan sesuai dengan tujuan awal.
Transmission of agricultural ethnobiological knowledge to the younger generation through the Ngarot and Durugan traditions in Lelea Village Indramayu Fitriyani, Fitriyani; Wicaksono, Harto
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 10 No. 1 (2026): April (On Progress)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v10i1.43164

Abstract

The regeneration of young farmers remains a critical issue for the sustainability of food security, yet mechanisms for the intergenerational transmission of agricultural knowledge within local cultural contexts have not consistently functioned. This study explores the Ngarot and Durugan traditions in Lelea Village, Indramayu Regency, as arenas for transmitting ethnobiological agricultural knowledge to younger generations. Employing a qualitative case study design with an interpretive ethnographic approach, data were collected through field observations, in-depth interviews with purposively selected traditional leaders, farmers, and young people, as well as primary and secondary documentation. Based on Cavalli-Sforza and Feldman’s theory of cultural transmission, the findings indicate that the Ngarot and Durugan traditions function as mechanisms of agricultural enculturation that are selective, symbolic, and pedagogically unstructured. The study underscores that the sustainability of agricultural knowledge is not automatically ensured through cultural rituals, but depends on the depth of practical engagement, the duration of learning processes, and the involvement of cross-generational actors. The findings suggest that participatory ethnopedagogical approaches may offer a critical framework to support the regeneration of young farmers and local food security.   Regenerasi petani muda menjadi isu krusial dalam keberlanjutan ketahanan pangan. Namun, mekanisme pewarisan pengetahuan pertanian dalam konteks budaya lokal belum selalu berjalan secara konsisten.  Penelitian ini mengkaji tradisi Ngarot dan Durugan di Desa Lelea, Kabupaten Indramayu, sebagai arena pewarisan pengetahuan etnobiologi pertanian kepada generasi muda. Penelitian ini menggunakan desain studi kasus kualitatif dan pendekatan etnografis interpretatif, data dikumpulkan melalui observasi lapangan, wawancara mendalam secara purposif dengan tokoh adat, petani dan generasi muda, serta dokumentasi primer dan sekunder. Berdasarkan teori transmisi budaya Cavalli-Sforza dan Feldman, temuan menunjukkan bahwa tradisi Ngarot dan Durugan berfungsi sebagai mekanisme enkulturasi pertanian yang bersifat selektif, simbolik dan tidak terstruktur secara pedagogis. Studi ini menegaskan bahwa keberlanjutan pengetahuan pertanian tidak secara otomatis dijamin melalui ritual budaya, melainkan bergantung pada kedalaman praktik, durasi pembelajaran, dan keterlibatan aktor lintas generasi. Temuan ini menyarankan bahwa pendekatan etnopedagogi partisipatif dapat menawarkan kerangka kerja kritis untuk mendukung regenerasi petani muda dan ketahanan pangan lokal.
Reflecting on the past: The cultural potential of East Javanese society based on Hindu-Buddhist archaeological objects Basundoro, Purnawan; Kurniawan, Abimardha; Indarto, Ervan Kus; Nugroho, Andri Setyo; Rinawati, Herrukmi Septa; Sasongko, Widodo Djati
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 10 No. 1 (2026): April (On Progress)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v10i1.43224

Abstract

Every five years, the East Java Provincial Government endeavors to document local cultural potential into a Regional Cultural Strategy document, known as Pokok Pikiran Kebudayaan Daerah (PPKD). Nevertheless, several obstacles persist due to weak procedures and a lack of established categories. Consequently, certain cultural elements remain uninventoried because they have either become extinct or were simply overlooked. This article attempts to address these issues through a historical perspective by reviewing the cultural heritage of East Javanese society from the Hindu-Buddhist kingdom period. The methods employed include heuristic (source collection), criticism, and interpretation. Research findings indicate that while some cultural practices can still be found today, many others have vanished. The preservation of culture occurs through intergenerational transmission involving adaptation and interpretation, as well as protection via legal instruments and regulations from the central to the regional levels. The inventorying of regional culture is formally conducted through the drafting of the PPKD. However, field findings also reveal that cultural elements originating from the Hindu-Buddhist era which persist in contemporary East Javanese society have not been fully recorded in the PPKD documents. These findings underscore the importance of more meticulous cultural mapping to prevent the loss of cultural potential with deep historical roots. Furthermore, this study suggests the necessity of revitalizing various cultural elements so they may be passed down to future generations.   Setiap lima tahun sekali Pemerintah Provinsi Jawa Timur berupaya mendokumentasikan potensi kebudayaan lokal ke dalam sebuah dokumen Pokok Pikiran Kebudayaan Daerah (PPKD). Meskipun demikian, ada sejumlah kendala yang terjadi akibat lemahnya prosedur dan belum adanya kategori. Dampaknya, ada unsur-unsur kebudayaan yang tidak terinventaris akibat telah punah atau justru luput dari perhatian. Artikel ini berupaya menjawab permasalahan tersebut melalui perspektif historis dengan cara meninjau potensi kebudayaan warisan masyarakat Jawa Timur periode kerajaan Hindu-Buddha. Metode yang digunakan meliputi pengumpulan sumber, kritik, dan interpretasi. Hasil penelitian menunjukkan sebagian kebudayaan masih dapat dijumpai hingga saat ini, namun tidak sedikit pula yang telah punah. Pemertahanan kebudayaan terjadi karena pewarisan antar generasi melalui adaptasi dan interpretasi, serta perlindungan dengan instrumen hukum dan regulasi di tingkat pusat sampai daerah. Inventarisasi kebudayaan daerah dilakukan dengan penyusunan Pokok Pikiran Kebudayaan Daerah  (PPKD). Temuan lapangan juga menunjukkan bahwa anasir-anasir kebudayaan yang masih berlanjut dan diwarisi masyarakat Jawa Timur pada periode kontemporer belum seluruhnya diinventaris melalui dokumen PPKD. Temuan ini menegaskan pentingnya pemetaan kultural yang lebih cermat untuk menghindari keluputan potensi kebudayaan yang memiliki akar historis panjang. Selain itu, kajian ini menunjukkan perlunya revitalisasi sejumlah unsur kebudayaan agar dapat diwariskan bagi generasi yang akan datang.  
The Existence of the Kyai Upas Spear Ceremony as the Identity of the Local Community of Tulungagung Ramadhanty Putri, Virza; Hudiyanto, R. Reza; Utami, Indah Wahyu Puji; Wahyudi, Deny Yudo
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 10 No. 1 (2026): April (On Progress)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v10i1.43382

Abstract

Tulungagung Regency, East Java is one of the districts that has an interesting tradition that is carried out by residents every year because it is related to the history of Tulungagung in the past when the Kingdom of Mataram was still standing in the land of Java. The Jamasan Pusaka Pusaka Tombak Kyai Upas Traditional Ceremony is a tradition that is routinely carried out every year. The research method used in this study uses the Gray method and participatory observation that focuses on anthropology to study cultural events, documentation collection and life views of the research subjects. The Kyai Upas spear, a historical heirloom of the folklore of Ki Wonoboyo and Baru Klinthing, is believed to protect the community from disasters and maintain peace, becoming the cultural identity of Tulungagung. Based on research, the Jamasan Ceremony, which was held after 10 Sura at the Kepatihan Archives Office, involved carnivals, flushing, greetings, and puppet shows, reflecting the values of mutual cooperation, preservation of Javanese culture, religiosity, and nationalism. This tradition strengthens local identity, shows the connection of humans with nature and history, and is a form of gratitude and respect for the ancestral heritage that continues to live in the Tulungagung community
Dynamics of social relations between Dayak Kenyah ethnic community in Rindang Benua Hamlet, Kaltim Prima Coal Ltd. and Balai Taman Nasional Kutai Saputra, Raybie Ryan; Hermawati, Rina
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 10 No. 1 (2026): April (On Progress)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v10i1.43539

Abstract

This study examines the dynamics of social relations between the Dayak Kenyah ethnic community in Dusun Rindang Benua, the management of Kutai National Park (BTNK), and the CSR team of Kaltim Prima Coal within the conservation area of Kutai National Park. The researcher used an ethnographic method over 56 days, integrating an analytical framework that combines stages of social relations, patterns of social relations, and social capital to analyze the dynamics of the relations that emerge. Empirical evidence shows a distinction between trust and strategic compliance: community participation in conservation policies and CSR programs reflects both a willingness to cooperate and adaptive strategies within a context of power asymmetry. Social capital strengthens interactions between actors, yet it also reinforces existing hierarchies and encourages community dependency on the company. The CSR program contributes to social cohesion, but at the same time it generates community dependence on external assistance. The study concludes that the sustainability of social relations requires mechanisms that can amplify community voice in policy making and address structural dependency within asymmetric power relations between indigenous communities, state authorities, and corporations.   Penelitian ini mengkaji dinamika relasi sosial antara masyarakat etnis Dayak Kenyah di Dusun Rindang Benua, pengelola Taman Nasional Kutai (BTNK), dan tim CSR Kaltim Prima Coal Ltd. dalam kawasan konservasi Taman Nasional Kutai. Peneliti menggunakan metode etnografiselama 56 hari, penelitian mengintegrasikan kerangka analitis yang menggabungkan tahapan relasi sosial , pola relasi sosial, serta modal sosial untuk menganalisa dinamika relasi yang terjadi.Bukti empiris menunjukkan perbedaan antara trust dan upaya: partisipasi masyarakat dalam kebijakan konservasi dan program CSR menunjukkan niat kerja sama maupun strategi adaptif dalam konteks asimetri kekuasaan. Modal sosial memperkuat interaksi antar pihak, namun memperkuat hierarki yang sudah ada dan mendorong sifat ketergantungan masyarakat pada pihak perusahaan. Program CSR menunjukkan hasil pada kohesi sosial, namun program CSR juga menimbulkan ketergantungan masyarakat terhadap bantuan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa keberlanjutan relasi sosial membutuhkan mekanisme yang dapat meningkatkan suara komunitas dalam perumusan kebijakan dan mengatasi ketergantungan struktural dalam relasi kuasa asimetri antara komunitas adat, otoritas negara dan korporat.
A study of cultural heritage and lunar new year cuisine: Preserving the sustainability of the Chinese community Fauziah, Miftahul; Ratnaningsih, Nani; Marwanti, Marwanti
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 10 No. 1 (2026): April (On Progress)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v10i1.43593

Abstract

Indonesians of Chinese descent, scattered across various regions, continue to contribute to the development of the Chinese community while enriching Indonesia’s cultural diversity. In a multicultural society, one of the main challenges faced is the process of acculturation, particularly amid the influence of modernity. This article discusses efforts to preserve the continuity of Chinese community traditions in Indonesia by highlighting the role of Lunar New Year cuisine as a form of cultural expression. Modernity and the acculturation of local cultures have led to variations in Lunar New Year culinary practices across different Chinese communities. This study aims to examine Chinese cuisine as an indicator of the continuity of traditions and community identity. The research method employed is qualitative, utilizing secondary data analysis through a literature review using the Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analysis (PRISMA) approach. The findings indicate that Chinese community traditions have not declined but have instead transformed and blended with local culture. This is reflected in Lunar New Year celebrations in Indonesia, such as the Grebeg Sudiro festival, as well as ritual practices and traditional food offerings. Foods such as kue mangkok, kue keranjang (nian gao), and agar-agar hold symbolic meanings related to hopes for prosperity, happiness, and good fortune. Thus, the Lunar New Year celebration serves not only as a religious tradition but also as a means of cultural preservation and the strengthening of the multicultural identity of Indonesian society.   Warga Indonesia keturunan Tionghoa yang tersebar di berbagai daerah terus berkontribusi terhadap perkembangan komunitas Tionghoa sekaligus memperkaya keragaman budaya Indonesia. Dalam masyarakat multikultural, salah satu tantangan utama yang dihadapi adalah proses akulturasi, terutama di tengah pengaruh modernitas. Artikel ini membahas upaya menjaga keberlanjutan tradisi komunitas Tionghoa di Indonesia dengan menyoroti peran kuliner Imlek sebagai bentuk ekspresi budaya. Modernitas dan akulturasi budaya lokal menyebabkan variasi dalam praktik kuliner Imlek di berbagai komunitas Tionghoa. Penelitian ini bertujuan mengkaji kuliner Tionghoa sebagai penanda keberlanjutan tradisi dan identitas komunitas. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan analisis data sekunder melalui studi literatur menggunakan pendekatan Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analysis (PRISMA). Hasil kajian menunjukkan bahwa tradisi komunitas Tionghoa tidak mengalami kemunduran, melainkan bertransformasi dan melebur dengan budaya lokal. Hal ini tercermin dalam perayaan Imlek di Indonesia, seperti festival Grebeg Sudiro serta praktik ritual dan sajian makanan khas. Makanan seperti kue mangkok, kue keranjang (nian gao), dan agar-agar memiliki makna simbolis terkait harapan akan rezeki, kebahagiaan, dan keberuntungan. Dengan demikian, perayaan Imlek tidak hanya berfungsi sebagai tradisi keagamaan, tetapi juga sebagai sarana pelestarian budaya dan penguatan identitas multikultural masyarakat Indonesia.
Coastal community resilience to flooding and tidal inundation in Semarang city in the context of the COVID-19 Pandemic Putri, Shinta
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 10 No. 1 (2026): April (On Progress)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v10i1.43597

Abstract

This study is motivated by the high vulnerability faced by communities affected by floods and tidal inundation in sustaining their livelihoods during the COVID-19 pandemic. Although numerous studies have examined the impacts of floods or the pandemic separately, research systematically assessing community resilience to multi-hazard events in coastal areas remains very limited. This study aims to evaluate the resilience level of communities affected by floods and tidal inundation in Semarang City in the context of the COVID-19 pandemic. This is a quantitative study, with data collected through questionnaires from 200 respondents who are communities affected by floods and tidal inundation. The sampling technique employed was stratified random sampling based on the drainage system coverage areas in Semarang City. Data were analyzed using scoring analysis and descriptive statistics. The results indicate that the resilience of communities affected by floods and tidal inundation during the COVID-19 pandemic in Semarang City is still moderate, particularly in terms of social, economic, and residential infrastructure resilience. The study implies an increase in vulnerability among Semarang City communities to floods and tidal inundation during the pandemic. Theoretically, this research contributes to the study of multi-hazard community resilience by identifying indicators that determine the adaptive capacity of coastal communities facing hydrometeorological risks concurrently with a health crisis. Practically, the findings can serve as a reference for the Semarang City Government to enhance community resilience based on the suboptimal indicators identified through this study.   Penelitian ini dilatarbelakangi oleh tingginya kerentanan yang dihadapi masyarakat terdampak banjir dan rob dalam bertahan selama pandemi COVID-19. Meskipun banyak penelitian telah menelaah dampak banjir atau pandemi secara terpisah, studi yang secara sistematis menilai ketahanan masyarakat terhadap bencana multi-bahaya di wilayah pesisir masih sangat terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk menilai tingkat ketahanan masyarakat terdampak banjir dan rob di Kota Semarang dalam menghadapi pandemi COVID-19. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif. Data dikumpulkan melalui kuesioner dengan sejumlah 200 responden yang merupakan masyarakat terdampak banjir dan rob. Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah stratified random sampling didasarkan pada masing-masing wilayah cakupan sistem drainase di Kota Semarang. Data kemudian dianalisis menggunakan teknik analisis skoring dan statistik deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketahanan masyarakat terdampak banjir dan rob di Kota Semarang dalam menghadapi pandemi covid-19 masih tergolong sedang. Hasil ini utamanya terlihat pada ketahanan sosial, ekonomi, dan infrastruktur lingkungan tempat tinggal penduduk. Penelitian ini berimplikasi pada kerentanan masyarakat Kota Semarang dalam menghadapi banjir dan rob yang ternyata meningkat dalam menghadapi pandemi covid-19. Secara teoretis, penelitian ini berkontribusi pada studi ketahanan komunitas multi-bahaya dengan mengidentifikasi indikator-indikator yang menentukan kapasitas adaptif masyarakat pesisir terhadap risiko hidrometeorologis yang bersamaan dengan krisis kesehatan. Secara praktis, penelitian ini dapat menjadi acuan bagi Pemerintah Kota Semarang untuk meningkatkan ketahanan masyarakat berdasarkan indikator-indikator yang kurang optimal yang berhasil diidentifikasi melalui penelitian ini.