cover
Contact Name
arief yanto
Contact Email
arief.yanto@unimus.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
suhartini.ismail@fk.undip.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kab. semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Perawat Indonesia
ISSN : -     EISSN : 25487051     DOI : -
Core Subject : Health,
Jurnal Perawat Indonesia (e-ISSN 2548-7051) diterbitkan oleh Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Jawa Tengah. Jurnal Perawat Indonesia atau disingkat JPI ini terbit 2 kali setahun. Jurnal ini mempublikasi artikel-artikel dalam bidang ilmu keperawatan. Jurnal Perawat Indonesia menerima artikel-artikel dalam bidang ilmu keperawatan, meliputi: keperawatan anak; keperawatan maternitas; keperawatan medikal-bedah; keperawatan kritis; keperawatan gawat darurat; keperawatan jiwa; keperawatan komunitas; keperawatan gerontik; keperawatan keluarga; dan kepemimpinan dan manajemen keperawatan.
Arjuna Subject : -
Articles 192 Documents
HUBUNGAN STATUS GIZI DAN PENDAPATAN TERHADAP KEJADIAN TUBERKULOSIS PARU Yuniar, Isma; Lestari, Susi Dwi
Jurnal Perawat Indonesia Vol. 1 No. 1 (2017): May 2017
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Jawa Tengah.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (50.488 KB) | DOI: 10.32584/jpi.v1i1.5

Abstract

AbstractDiperkirakan sekitar 2,7 juta jiwa meninggal karena tuberkolusis paru setiap tahunnya di seluruh dunia. adalah masalah kesehatan dimana Indonesia cukup memberikan kontribusi ke tingkat dunia. Dibuktikan dengan saat ini berada pada peringkat empat dengan beban tuberkolusis tertinggi dunia, yaitu setelah China, India, dan Afrika Selatan. Status gizi adalah salah satu faktor terpenting dalam pertahanan tubuh terhadap infeksi tuberkolusis. Pada keadaan gizi yang buruk, maka reaksi kekebalan tubuh akan melemah sehingga kemampuan dalam mempertahankan diri terhadap infeksi menjadi menurun. faktor lain yang mempengaruhi status gizi seseorang adalah status sosial ekonomi. Pendapatan per kapita pasien Tuberkulosis Paru menjadi salah satu faktor yang berhubungan dengan status gizi pada pasien Tuberkulosis Paru. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui hubungan antara pendapatan, status nutrisi terhadap kejadian tuberkolusis paru. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif yang menggunakan metode survei analitik dengan pendekatan case control. Hasil penelitian menunjukkan hubungan yang bermakna antara status gizi dengan kejadian Tuberkulosis paru dengan nilai OR= 3,484 (CI= 1,246 – 9, 747) yang berarti status gizi kurang beresiko menderita Tuberkulosis paru sebesar 3,4 kali dibandingkan dengan status gizi cukup. Terdapat hubungan yang bermakna antara pendapatan dengan kejadian Tuberkulosis paru dengan nilai OR= 4,421 (CI= 1,638 – 11, 930) yang berarti responden dengan pendapatan rendah beresiko menderita Tuberkulosis paru sebesar 4,4 kali dibandingkan dengan responden yang pendapatannya tinggi. Kata kunci: Status gizi, pendapatan, kejadian TB AbstractThe relationship between income, nutritional status on the incidence of pulmonary tuberculosis. It is estimated that around 2.7 million people die from pulmonary tuberculosis every year throughout the world. is a health problem where Indonesia contributes enough to the world level. It is proven that currently it is ranked fourth with the world's highest tuberculosis burden, namely after China, India and South Africa. Nutritional status is one of the most important factors in the body's defense against tuberculus infections. In poor nutrition, the immune reaction will weaken so that the ability to defend against infection decreases. Other factors that affect a person's nutritional status are socioeconomic status. Per capita income of patients with pulmonary tuberculosis is one of the factors related to nutritional status in patients with pulmonary tuberculosis. The purpose of the study was to determine the relationship between income, nutritional status on the incidence of pulmonary tuberculosis. This research is a quantitative study that uses analytical survey methods with a case control approach. The results showed a significant relationship between nutritional status with the incidence of pulmonary tuberculosis with an OR = 3.484 (CI = 1.246-9,747) which means less nutritional status at risk of suffering from pulmonary tuberculosis by 3.4 times compared to adequate nutritional status. There is a significant relationship between income with the incidence of pulmonary tuberculosis with OR = 4.421 (CI = 1.638 - 11,930) which means that respondents with low income are at risk of suffering from pulmonary tuberculosis by 4.4 times compared to respondents with high income. Keywords: Nutritional status, income, incidence of TB
HUBUNGAN ANTARA DUKUNGAN SOSIAL DENGAN PENERIMAAN ORANG TUA ANAK DOWN SYNDROME Saputra, Hartawan; Wakhid, Abdul; Choiriyyah, Zumrotul
Jurnal Perawat Indonesia Vol. 2 No. 2 (2018): November 2018
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Jawa Tengah.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (55.387 KB) | DOI: 10.32584/jpi.v2i2.41

Abstract

AbstrakAnak down syndrome merupakan kondisi yang amat sangat tidak diharapkan oleh orang tua. Pada umumnya orang tua mengalami sedih, stres, perasaan bersalah, sakit hati tidak dapat menerima kenyataan, dan lain sebagainya. Dukungan sosial sangat diperlukan untuk memberikan dukungan perawatan dan penerimaan diri orang tua. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara dukungan sosial dengan penerimaan orang tua anak down syndrome di SLB Kabupaten Semarang. Jenis penelitian ini adalah deskriptif korelasi dengan pendekatan cross sectional. Populasi penelitian ini adalah orang tua anak down syndrome di SLB Kabupaten Semarang. Sampel sebesar 49 orang dengan teknik total sampling. Instrumen penelitian dukungan sosial dan penerimaan orang tua diukur dengan kuesioner. Analisis data menggunakan chi square (α= 0,05). Gambaran dukungan sosial orang tua anak down syndrome di SLB Kabupaten Semarang dalam kategori baik sebanyak 38 orang (77,6%). Gambaran penerimaan orang tua anak down syndrome di SLB Kabupaten Semarang dalam kategori baik sebanyak 41 orang (83,7%). Ada hubungan antara dukungan sosial dengan penerimaan orang tua anak down syndrome di SLB Kabupaten Semarang (p=0,000). Diharapkan keluarga, teman atau kerabat dan masyarakat memberikan dukungan sosial baik dari dukungan emosional, dukungan instrumental, dukungan informasi, dan dukungan penghargaan untuk orang tua anak down syndrome di SLB Kabupaten Semarang. Kata kunci: Dukungan Sosial, penerimaan diri, down syndrome AbstractThe correlation between social support and parent’s acceptance of down syndrome children. Down syndrome children is a condition that is extremely not expected by the parents. Generally, parents will experience sadness, stress, guilt, hurt can not accept reality, and others. One of the factors that affect the acceptance of parents is social support. This study aimed to analyzed the correlation between social support and parent’s acceptance of down syndrome children at SLB Semarang Regency. This study was descriptive correlation with cross sectional approach. The population in this study were parents of down syndrome children at SLB Semarang Regency. Sample of 49 people with total sampling technique. The research instrument of social support and acceptance of parents were measured with a questionnaire. Data analysis used chi square (α = 0.05). The description of social support of down syndrome children at SLB Semarang Regency is in good category as many as 38 people (77.6%). The description of of parents acceptance of children with down syndrome at SLB Semarang Regency is in good category as many as 41 people (83.7%).  There is a correlation between social support and parent acceptance of children with down syndrome at SLB Semarang. Regency (p = 0.000). It is expected that family, friends or relatives and the community provide social support in from of emotional support, instrumental support, information support, and award support to the parents of children with down syndrome at SLB Semarang Regency. Keywords: Social support, self-acceptance, down syndrome
EFEKTIFITAS HYPNOTHERAPI TERHADAP PENURUNAN NYERI DISMENOREA PADA SISWI SMA Aprilyadi, Nadi; Feri, H. Jhon; Ridawati, Indah Dewi
Jurnal Perawat Indonesia Vol. 2 No. 1 (2018): May 2018
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Jawa Tengah.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (100.37 KB) | DOI: 10.32584/jpi.v2i1.39

Abstract

AbstrakDismenorea sering terjadi pada remaja. Di Indonesia prevalensi dismenore pada usia remaja sebesar 64,25% yang terdiri dari 54,89% dismenore primer dan 9,36% dismenore sekunder (Santoso, 2008). Secara farmakologi, penatalaksanaan adalah dengan pemberian obat-obat analgetik seperti golongan obat Nonsteroidal Antiinflammatory Drugs (NSAID) dapat meredakan nyeri. Salah satu pengobatan non farmakologi adalah dengan hipnoterapi yang merupakan aplikasi hipnosis dalam menyembuhkan masalah mental dan fisik (psikosomatis) seperti halnya nyeri, kecemasan, dll. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh hipnoterapi terhadap nyeri dismenore pada siswi SMA PGRI I Lubuk Linggau. Penelitian ini merupakan penelitian pra eksperimen, dengan rancangan kuasi eksperimen one group pre and post test without control. Teknik sampel yang digunakan pada penelitian ini adalah Total Sampling sebanyak 17 responden. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan quesioner penilaian nyeri Visual Analog Scale (VAS) dengan skala Numeric Rating Scale (NRS). Analisa univariat mayoritas siswi yang mengalami penurunan intensitas nyeri dismenore berusia 16- 17 tahun dan 100% responden mengalami penurunan intensitas nyeri dismenore setelah mendapatkan hipnoterapi, analisis bivariat dengan uji t-test didapatkan pengaruh yang signifikan Hipnoterapi terhadap penurunan intensitas nyeri dismenore (ƥ value 0,000). Hipnoterapi disarankan untuk digunakan dalam penerapan asuhan keperawatan nyeri khususnya guna mengurangi intensitas nyeri dismenore. Kata Kunci : Hipnoterapi, Dismenore Abstract The Effectiveness Of Hypnotherapy On Disease Of Diseases Of Dismenore In Female StudentSenior High School PGRI I Lubuklinggau.Dysmenorrhoea often occurs in adolescents. In Indonesia the prevalence of dysmenorrhea in adolescence is 64,25% consisting of 54,89% primary dysmenorrhea and 9,36% secondary dysmenorrhea (Santoso, 2008). Pharmacologically management is by administering analgesic drugs such as the Nonsteroidal Anti Inflammatory Drugs (NSAID) group to relieve pain. One of the non-pharmacological treatments is hypnotherapy which is the application of hypnosis in curing mental and physical problems (psychosomatic) as well as pain, anxiety, etc.The purpose of this study was to determine the effect of hypnotherapy on dysmenorrhea pain in high school students PGRI I LubukLinggau. This is a pre experimental study, with a quasi-experimental one group pre and post test without control design. The sample technique used in this study is Total Sampling of 17 respondents. The instrument used in this study used Visual Analog Scale (VAS) visual pain assessment quesioner with Numeric Rating Scale scale (NRS). Univariate analysis of the majority of students who experienced decreased intensity of dysmenorrhea pain aged 16-17 years and 100% of respondents experienced decreased intensity of dysmenorrhea pain after obtaining hypothotherapy, bivariate analysis with t-test test showed significant effect Hypnotherapy to decrease intensity of dysmenorrhea pain (ƥ value 0,000) .Hypnotherapy is recommended for use in the application of pain nursing care especially to reduce the intensity of dysmenorrhea pain. Keywords: Hypnotherapy, Dysmenorrhea
HUBUNGAN KARAKTERISTIK DENGAN TINGKAT ANSIETAS PADA SISWA-SISWI SMA Ardiyanti, Yulia; PH, Livana; Ayuwatini, Sih
Jurnal Perawat Indonesia Vol. 1 No. 2 (2017): November 2017
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Jawa Tengah.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (33.055 KB) | DOI: 10.32584/jpi.v1i2.46

Abstract

AbstrakUjian Nasional merupakan keharusan yang harus dilakukan peserta didik sebagai syarat kelulusan sehingga menjadikan berbagai reaksi pada siswa salah satunya adalah ansietas. Penelitian bertujuan mengetahui hubungan karakteristik dengan tingkat ansieas pada siswa-siswi SMA. Penelitian menggunakan metode kuantitatif menggunakan desain Study Deskripsi Korelasi dengan pendekatan Cross Sectional. Sampel sebanyak 60 orang. Data dianalisis menggunakan Spearman Correlation. Hasil penelitian menunjukkan tidak ada hubungan antara usia dengan tingkat ansietas dan ada hubungan ntara jenis kelamin dengan tingkat ansietas. Perlu upaya untuk mengatasi ansietas agar siswa dapat menjalankan ujian nasional dengan lancar Kata Kunci: ansietas, siswa-siswi, SMA AbstractNational Examination is a necessity that must be done by students as a graduation requirement so as to make various reactions to students one of which is anxiety. The study aims to determine the relationship characteristic with ansieas level at high school students. The study used a quantitative method using the design of Study Description Correlation with the Cross Sectional approach. A sample of 60 people. Data were analyzed using Spearman Correlation. The results showed no relationship between age and level of anxiety and there was a relationship between sex and anxiety levels. Efforts are needed to overcome anxiety so students can run national exams smoothly Keywords: anxiety, students, high school
EFEKTIFITAS LOGOTERAPI DALAM MENINGKATKAN KONSEP DIRI DAN KEMAMPUAN MEMAKNAI HIDUP PADA LANSIA Rahcmawati, Dwi Heppy; Febriana, Betie
Jurnal Perawat Indonesia Vol. 1 No. 1 (2017): May 2017
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Jawa Tengah.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (54.775 KB) | DOI: 10.32584/jpi.v1i1.6

Abstract

AbstrakProses hidup lansia telah menghadapi berbagai masalah yang dapat mempengaruhi perkembangan psikologi lansia. Studi terdahulu menemukan bahwa konsep diri dan makna hidup merupakan hal yang paling terpengaruh pada usia lanjut. Jika tidak diatasi, hal ini akan memicu depresi pada lansia. Oleh karena itu, dibutuhkan terapi untuk meningkatkan konsep diri dan kemampuan memaknai hidup lansia. Penelitian ini bertujuan melihat efektifitas logoterapi terhadap peningkatan konsep diri dan kemampuan memaknai hidup lansia di panti. Desain pada penelitian ini adalah kuantitatif dengan Quasi Experimental Pre-Post Test Without Control Group Design. Jumlah sampel sebanyak 30 responden dengan teknik simple random sampling. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perbedaan secara bermakna pada konsep diri (nilai p= 0,000) dan makna hidup (nilai p=0,000) lansia sebelum dan sesudah terapi. Logoterapi merupakan salah satu intervensi yang dapat digunakan pada lansia atau masalah psikososial. Pemberian logoterapi pada lansia berdampak pada peningkatan harga diri lansia dari rendah ke tinggi yaitu sebesar 22 responden artinya73% terjadi peningkatan harga diri-konsep diri dan ini merupakan angka yang cukup tinggi dan bermakna. Kesimpulan logoterapi efektif untuk meningkatkan konsep diri dan makna hidup lansia di Panti Pelayanan lansia di Panti pelayanan sosial pucang gading Semarang. Kata kunci: konsep diri, makna hidup, logoterapi, lansia AbstractThe effectiveness of logotherapy on improving self-concept and the ability to interpret the life of the elderly. The life process of the elderly has faced various problems that can affect the psychological development of the elderly. Previous studies have found that self-concept and the meaning of life are the most affected in old age. If not overcome, this will trigger depression in the elderly. Therefore, therapy is needed to improve self-concept and the ability to interpret the life of the elderly. This study aims to see the effectiveness of logotherapy on improving self-concept and the ability to interpret the life of the elderly in the institution. The design in this study is quantitative with Quasi Experimental Pre-Post Test Without Control Group Design. The number of samples was 30 respondents with simple random sampling technique. The results of this study indicate that there are significant differences in self-concept (p value = 0,000) and the meaning of life (p value = 0,000) the elderly before and after therapy. Logotherapy is one intervention that can be used in the elderly or psychosocial problems. The provision of logotherapy in the elderly has an impact on increasing the self-esteem of the elderly from low to high, which is 22 respondents, meaning that 73% of the increase in the price of self-concept is self and this is a fairly high and meaningful number. Conclusion Effective logotherapy to improve self-concept and the meaning of elderly life in Panti Elderly services at the social service center of Semarang ivory. Keywords: self-concept, meaning of life, logotherapy, elderly
PENGALAMAN PERAWAT TENTANG CARING BERBASIS TEKNOLOGI PADA PASIEN KRITIS DI INTENSIVE CARE UNIT Anggraeni, Lina; Ismail, Suhartini
Jurnal Perawat Indonesia Vol. 2 No. 2 (2018): November 2018
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Jawa Tengah.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (62.781 KB) | DOI: 10.32584/jpi.v2i2.68

Abstract

AbstrakICU merupakan suatu unit dengan pasien yang menerima perawatan intensif dan monitoring yang ketat. Untuk itu, diperlukan perawat yang terlatih secara khusus dengan menggunakan teknik yang canggih dan dapat memenuhi kebutuhan dasar dari pasien. Dengan membangun keseimbangan antara aspek perawatan pasien dan teknologi, perawat akan dapat memberikan perawatan yang lebih efisien dengan kualitas yang lebih tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pengalaman perawat tentang caring berbasis teknologi pada pasien kritis di intensive care unit. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif fenomenologi. Penelitian dilakukan di Himpunan Perawat Critical Care Jawa Tengah. Partisipan penelitian sebanyak 10 perawat yang ditentukan dengan metode purpose sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam kepada partisipan selama 40-60 menit sesuai dengan pedoman wawancara yang telah disusun sebelum penelitian. Data yang terkumpul dianalisa menggunakan metode Colaizzi. Hasil penelitian menghasilkan tiga tema yaitu kompetensi penggunaan teknologi menjadi bagian dari caring yang harus dimiliki perawat, keseimbangan perilaku caring dan kompetensi teknologi perawat di ruang pelayanan kritis, serta maleficient dan beneficient. Perawat ICU harus berperilaku caring yang ditunjukkan dengan memiliki kompetensi yang tinggi pada penggunaan teknologi agar terciptanya perawatan yang lebih baik untuk pasien kritis. Kata kunci: Caring berbasis teknologi, perawat ICU, pasien kritis, intensive care unit AbstractThe nurses’ experiences of technology-based caring in critical patients in the intensive care unit. Intensive Care Unit (ICU) is a unit in which patients receive intensive care and strict monitoring. For this reason, nurses who are specifically trained to use sophisticated techniques and able to meet the basic needs of patients are needed. By developing a balance between the aspects of patient care and technology, nurses will be able to provide more efficient care with higher quality. This study aimed to describe the nurses’ experiences of technology-based caring in critical patients in the intensive care unit. This study was qualitative research with a descriptive phenomenological approach conducted at the Critical Care Nurse Association of Central Java. The participants were ten nurses selected by using purposive sampling technique. The data were collected through in-depth interviews with the participants for 40-60 minutes based on the prepared interview guidelines. The collected data were analyzed using the Colaizzi method.  The results showed three themes that technological competence to be part of the caring that nurses must have, the balance between nurses’ caring behaviors and technological competence in the critical area, then, maleficient and beneficient. Nurses should behave caring which is shown by having high competence using of technology to provide better care for critical patients. Keywords: Caring based on technology, critical nurse, critical patient, intensive care unit
GAMBARAN TINGKAT STRES PASIEN DIABETES MELLITUS PH, Livana; Sari, Indah Permata; Hermanto, Hermanto
Jurnal Perawat Indonesia Vol. 2 No. 1 (2018): May 2018
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Jawa Tengah.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (60.716 KB) | DOI: 10.32584/jpi.v2i1.40

Abstract

AbstrakDiabetes Mellitus merupakan kelainan metabolik yang ditandai dengan kenaikan kadar gula darah, akibat adanya kelainan sekresi insulin, kerja insulin atau keduanya.  Pasien Diabetes Mellitus harus melakukan terapi pengelolaan sepanjang hidupnya baik secara farmakologis maupun non farmakologis untuk mencegah terjadinya komplikasi dan mengontrol kestabilan kadar gula darahnya. Terapi tersebut dapat menimbulkan suatu dampak tertentu, baik secara fisik maupun secara psikologis.  Salah satu dampak psikologis yang dapat dirasakan oleh pasien Diabetes Mellitus adalah stres.  Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran tingkat stres pada pasien Diabetes Mellitus di wilayah dokter keluarga Djazariyah Kabupaten Kendal.  Metode deskriptif kuantitatif. Alat ukur yang digunakan berupa kuesioner Depression Anxiety Stres Scale yang terdiri dari 42 pertanyaan.  Sampel berjumlah 37 responden.  Sebagian besar pasien Diabetes Mellitus mengalami stres ringan.  Peneliti memberikan saran bagi peneliti selanjutnya untuk menggunakan kuesioner Depression Anxiety Stres Scale yang telah dimodifikasi disetiap pertanyaannya, agar mempermudah responden dalam menjawab. Kata kunci: Stres pada pasien Diabetes Mellitus. AbstractThe description of stress levels in Diabetes Mellitus patients. Diabetes Mellitus is a metabolic abnormality characterized by elevated blood sugar levels, due to an abnormality of insulin secretion, insulin work or both. Diabetes Mellitus patients should take life-long management therapy both pharmacologically and nonpharmacologically to prevent complications and control the stability of their blood sugar levels. The therapy can have a certain impact, both physically and psychologically. One of the psychological effects that can be felt by Diabetes Mellitus patients is stress. This study aims to determine the description of stress levels in Diabetes Mellitus patients in the area of Djazariyah family doctor Kendal District. Quantitative descriptive method. The measuring tool used is a questionnaire of Depression Anxiety Stress Scale consisting of 42 questions. The sample was 37 respondents. Most Diabetes Mellitus patients experience mild stress. Researchers provide suggestions for further researchers to use the questionnaire of Depression Anxiety Stress Scale that has been modified in each question, in order to facilitate respondents in answering. Keywords: Stress in Diabetes Mellitus clients
FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEKAMBUHAN ORANG DENGAN GANGGUAN JIWA Puspitasari, Emilia
Jurnal Perawat Indonesia Vol. 1 No. 2 (2017): November 2017
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Jawa Tengah.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (33.822 KB) | DOI: 10.32584/jpi.v1i2.47

Abstract

AbstrakKekambuhan merupakan salah satu  permasalah an yang sering terjadi pada pasien gangguan jiwa, Kekambuhan yang dialami pasien gangguan jiwa. pasien skizofrenia mengalami kekambuhan berulang.. banyak faktor yang memperngaruhi atau menyebabkan kekambuhan, seperti pola asuh, kepatuhan minum obat dan faktor sosial ekonomi pasien. Penelitian  bertujuan untuk mengetahui faktor – faktor yang mempengaruhi kekambuhan pasien.  Analisis dilakukan  pada 13 klien. Hasil didapatkan  mayotitas penyebab kambuh dikarenakan putus obat, kepribadian tertutup, dan kegagalan. penelitian ini merekomendasikan perlu upaya mengatasi faktor –faktor yang dapat mengakibatkan kekambuhan. Kata Kunci: Pola Asuh, Ekspresi Emosi Keluarga, Kekambuhan, Skizofrenia AbstractRecurrence is one of the problems that often occurs in patients with mental disorders, recurrences experienced by psychiatric patients. Schizophrenic patients experience recurrent recurrence .. many factors affect or cause recurrence, such as parenting, medication adherence and socioeconomic factors of the patient. The study aims to determine the factors that influence patient recurrence. Analysis was carried out on 13 clients. The results showed that the major causes of relapse were due to drug withdrawal, closed personality, and failure. this study recommends the need to overcome factors that can cause recurrence. Keywords: Parenting Pattern, Expression of Family Emotion, Recurrence, Schizophrenia
HEALTH BEHAVIOUR PADA PEREMPUAN USIA SUBUR DALAM MENJAGA KESEHATAN REPRODUKSI Widiasih, Restuning; Setyawati, Anita
Jurnal Perawat Indonesia Vol. 2 No. 1 (2018): May 2018
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Jawa Tengah.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (56.622 KB) | DOI: 10.32584/jpi.v2i1.17

Abstract

AbstrakIndonesia masih tertinggal dalam banyak aspek kesehatan reproduksi khususnya pada perempuan. Upaya-upaya promosi dan prevensi kesehatan perempuan pada kelompok perempuan sehat sangat dibutuhkan untuk meningkatkan kondisi kesejahteraan perempuan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui upaya promosi kesehatan dan prevensi timbulnya penyakit pada kesehatan reproduksi perempuan usia subur. Metode penelitian adalah deskriptif kuantitatif, jumlah sampel 51 perempuan di Wilayah Cikutra, instrument penelitian berupa kuesioner tentang aktivitas perempuan dalam menjaga kesehatan reproduksi. Cara pengumpulan data dilakukan langsung pada responden, data dianalisa dengan menggunakan distribusi frekuensi. Hasil penelitian menunjukan upaya perempuan menjaga kesehatan reproduksi bervariasi yaitu seluruh responden mengikuti program keluarga berencana, menjaga kesetiaan pada pasangan dan upaya untuk mencegah kekerasan dalam rumah tangga dilakukan oleh sebagian besar responden. Disisi lain sedikit perempuan melakukan upaya pencegahan penyakit infeksi sistem reproduksi, dan upaya pencegahan penyakit kanker payudara dan kanker cerviks. Kesimpulan, upaya perempuan menjaga kesehatan reproduksi belum maksimal, perlu perhatian yang lebih dari pemerintah untuk lebih memfasilitasi perempuan dalam meningkatkan kesehatan dan pencegah penyakit reproduksi. Kata kunci; Promosi kesehatan; Pencegahan penyakit; Kesehatan reproduksi perempuan Abstract Please Reproductive Health Behaviour amongst Women of Reproductive Age. Women’s reproductive health in Indonesia is still under expectation. Women’s health promotion and illness prevention programmes are significant to improve women’s wealthiness, in particular, their reproductive health. The objective of this study was to determine women’s health behavior related to health promotion and illness prevention in reproductive diseases and issues. this study applied the descriptive qualitative approach that involved 51 women from sub-district Cikutra, Bandung. Respondents filled in a questioner about women’s health behavior in health promotion and illness prevention related to reproductive health. The data were analyzed using distribution frequency. This study found that all respondents participated in the family planning programmes (100%), the majority of respondents were faithful to their partner (92%), and they understood how to deal with domestic violence (75%). While less of women did illness prevention or screening related to infection of the reproductive system (31%), and breast and cervical cancer (35% and 39%, respectively). Women’s reproductive health behavior is not maximum yet. the Indonesian government needs to provide more attention, facilities, and programmes to enhance women’s health behavior in women’s reproductive health promotion and illness prevention. Keywords: health promotion, illness prevention, women’s reproductive health 
DUKUNGAN KELUARGA DAN MASYARAKAT TERHADAP KONSEP DIRI SISWA TUNAGRAHITA Kelen, Magdalena Praharani; Pasaribu, Jesika
Jurnal Perawat Indonesia Vol. 2 No. 2 (2018): November 2018
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Jawa Tengah.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (378.659 KB) | DOI: 10.32584/jpi.v2i2.49

Abstract

AbstrakKeluarga dan masyarakat belum paham mengenai kecacatan yang dialami oleh siswa tunagrahita sehingga terdapat stigma bahwa siswa tunagrahita sebagai orang cacat yang tidak bisa mandiri dan memiliki kemampuan intelektual rendah. Stigma tersebut dapat mempengaruhi persepsi siswa tunagrahita terhadap  konsep diri mereka sehingga cenderung negatif. Penelitian kuantitatif non-eksperimental dengan desain deskriptif korelasi bertujuan untuk mengetahui adanya hubungan dukungan keluarga dan masyarakat terhadap konsep diri siswa tunagrahita di SLBN Kupang. Populasi pada penelitian ini adalah seluruh siswa tunagrahita di SLBN Kupang.  Sampel diperoleh secara accidental sampling sebanyak 84 responden. Pengambilan data dilakukan melalui pengisian kuesioner konsep diri, dukungan keluarga  dan dukungan masyarakat. Hasil penelitian ditemukan terdapat konsep diri positif 52,4%, dukungan keluarga 52,4%  dan dukungan masyarakat (53,6 ). Hipotesis di uji menggunakan uji Chi-square; sbb: tidak ada hubungan yang bermakna antara dukungan orang tua terhadap konsep diri (p value = 0,197) dan tidak ada hubungan bermana antara dukungan masyarakat terhadap konsep diri (p value = 0,389). Hasil penelitian menunjukkan perlunya dukungan keluarga dan masyarakat agar penyandang tunagrahita tetap memiliki konsep diri yang positif. Kata kunci: Tunagrahita, konsep diri, dukungan keluarga, dukungan masyarakat AbstractThe relationship of Family and Sosial Support with self-concept of intellectual disability students’s. In common, families and communities do not understand well the disability experienced by intellectual disability students. This arises a stigma that intellectual disability students are disabled people who cannot be independent and have low intellectual abilities. This stigma may affect the perception of intellectual disability students on their self-concept that tend to be negative.The purpose of this study was  to determine  the relationship of Family and Sosial Support with self-concept of intellectual disability students’s in SLBN Kupang NTT 2016. This research method was non-experimental quantitative research with descriptive correlation design. The population in this study were all intellectual disability students in SLBN Kupang. The sample was obtained by accidental sampling of 84 respondents. Data collection is done through filling out self-concept questionnaires, family support and community support. The results of the study found 52.4% positive self-concept, 52.4% family support and social support (53.6). The hypothesis was tested using the Chi-square test: there is no significant relationship between parental support for self-concept (p value = 0.197) and no significant relationship between community support for self-concept (p value = 0.389). The results of the study indicate the need for family and social support to improve  positive self-concept of intellectual disability students . Keywords: Intellectual disability, self-concept, family support, social support

Page 2 of 20 | Total Record : 192